Bab 1

Catalina membelai wajah tampan yang terbaring di ranjangnya. Sepasang mata milik pria itu terpejam. Sementara luka di bagian dada kiri pria itu terus mengalirkan darah. Bukan darah biasa, berwarna hitam pekat.

Ini adalah hari ketiga pria itu ada di kamar rumah Catalina. Pria yang ditemukan oleh pembantunya. terkapar di tepi pantai dekat rumahnya. Entah bagaimana pria itu bisa berada di sana.

Keadaan pria itu menyedihkan. Wajahnya pucat seperti kapas. Dia kehilangan banyak darah. Sementara dia masih juga belum tersadar.

Seorang pelayan Catalina masuk dengan sebuah baskom. Di dalamya ada handuk dan air hangat.

“Sebaiknya kita bawa saja dia ke rumah sakit terdekat.”

“Ini sulit Martha. Kita harus memberikan penjelasan pada polisi nanti.” Catalina menolak usul pelayannya.

“Dia tidak akan bertahan hidup lebih lama. Butuh keajaiban untuk membuatnya tersadar.”

“Semoga keajaiban itu segera datang. Lihatlah, sudah tiga hari dan dia masih bertahan hidup. Dia berjuang untuk tetap hidup.”

“Tapi dia tersiksa, Sayang.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Martha pun bergeser. Dia berdiri di belakang Catalina. Ucapan Martha membuat Catalina bersedih. Selama tiga hari terakhir, pria itu telah menjadi teman baiknya. Catalina selalu datang untuk merawatnya. Dia juga mengajaknya berbicara. Meski pria itu sama sekali tidak bisa menanggapi.

Jika benar apa yang Martha katakan, artinya pria ini akan mati. Butir-butir air mata mulai jatuh di pipi Catalina. Dia menggenggam tangan pria itu, mengecup lembut di sana. Ada ketakutan dalam diri Catalina. Takut kehilangan adalah satu-satunya alasan yang membuat Catalina menangis.

Dia tidak ingin pria itu mati. Air mata Catalina semakin deras mengalir. Catalina mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu. Tanpa dia sadari, satu butir air matanya jatuh tepat di luka yang ada di dada pria itu.

Catalina mengecup lembut bibir pria yang terbaring tak berdaya tersebut. Dia pun kembali ke posisi duduknya. Bersiap untuk merawat luka Sang Pria. Dia ingin melakukan yang terbaik. Hingga saat terakhir pria itu, jika memang dia harus pergi.

Tiba-tiba luka di dada pria iu bersinar. Sebuah cahaya hijau yang menyilaukan muncul di sana. Martha bahkan harus menutup wajahnya. Cahaya itu terlalu terang dan membuat matanya terasa sakit.

“Menjauhlah Catlin! Tutup matamu! Cahaya itu bisa membuatmu buta!” Martha berteriak memperingatkan Catalina.

Anehnya Catalina tidak merasakan apa pun. Dia melihat cahaya itu sebagai hal yang biasa. Matanya bisa melihat cahaya itu dengan baik. Tanpa merasa sakit atau silau. Catalina terus memperhatikan luka di dada pria itu.

Setelah beberapa saat, perlahan cahaya itu meredup. Secara ajaib, luka pria itu tertutup sempurna! Seolah tidak pernah ada luka di sana. Hanya ada jejak darah hitam yang telah mengering. Catalina mengerjapkan mata. Sulit untuk mempercayai apa yang dia lihat.

Pria itu mulai bergerak. Perlahan dia membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Catalina. Wajah cantik khas Eropa dengan hidung mancung. Beberapa helai rambut ikal Catalina terjuntai di wajahnya. Dia memandang Catalina cukup lama. Dua mata coklat gelap milik Catalina bertemu dengan sepasang mata biru pria itu.

“Akhirnya kau datang,” pria itu mengucap lirih.

“Ini rumahku, kau yang sedang bertamu.”

Pria itu tersenyum mendengar ucapan Catalina.

Martha mendekat. Dia berbisik pada Catalina.

“Biarkan dia beristirahat. Orang yang baru terbangun setelah berhari-hari pingsan biasanya merasa bingung.”

Catalina mengangguk setuju. Setidaknya sebelum pergi, dia ingin tahu siapa nama pria itu.

“Siapa namamu?”

“Billy.”

“Baiklah Billy, sebaiknya kau beristirahat. Pembantuku akan mengirim makanan untukmu. Kau bisa membersihkan diri di kamar mandi dengan air hangat. Kita akan bicara lagi nanti.”

Catalina pun bersiap untuk berdiri. Namun tiba-tiba tangan Billy meraih pergelangan tangan Catalina.

“Jangan tinggalkan aku. Aku telah menunggumu lebih dari lima ratus tahun.”

Wajah Catalina tampak kebingungan. Dia bertukar pandang dengan Martha. Sepasang mata biru pria itu memancarkan kesedihan dan kerinduan. Catalina kembali duduk di tepi ranjang.

“Dengar ya, kau telah pingsan selama tiga hari. Sebaiknya kau beristirahat dulu. Mungkin selama tidur panjangmu, beberapa mimpi datang. Jangan kau pikirkan semua itu.”

“Siapa namamu?” tanya Billy.

“Catalina.”

“Catalina, akhirnya kau datang. Kau tidak tahu betapa menderitanya aku. Lebih dari lima ratus tahun aku mencarimu.”

Perkataan Billy mulai membuat Catalina cemas. Tampaknya pria ini mulai berimajinasi. Namun Catalina bahagia melihatnya terbangun.

“Billy, kita akan bicara lagi nanti. Bersihkan dulu dirimu. Aku tidak punya baju pria. Tapi ada beberapa milik kakekku di lemari itu. Untuk sementara kau bisa memakainya.”

Dengan lembut Catalina melepaskan cengkeraman Billy dari pergelangan tangannya. Ketika tangan Billy terlepas, Catalina merasa kehilangan. Dia ingin kembali bersentuhan dengan Billy. Tapi perasaan itu segera ditepisnya.

“Aku menunggumu di meja makan. Setelah selesai mandi, kau bisa turun ke lantai bawah. Tapi kalau kau masih merasa lemah, pembantuku akan mengirim makanan untukmu.”

Selesai mengucapkan kalimatnya, Catalina dan Martha keluar dari kamar yang ditempati Billy. Wajah Catalina menyiratkan kegelisahan. Sepasang mata Billy membuatnya terpesona. Dia merasa telah melihat mata itu sejak lama.

Sesuatu yang mustahil. Catalina baru bertemu Billy tiga hari lalu. Dan semenjak itu, dia sama sekali tidak melihat mata Billy. Pria itu dalam keadaan pingsan dan matanya terpejam.

“Memikirkan sesuatu?” tanya Martha.

“Siapa dia, Martha. Aku merasa punya ikatan dengan Billy.”

“Sudahlah sayang, itu hanya karena kau selalu merawatnya sejak dia di sini.”

“Martha, kenapa luka Billy bisa tiba-tiba sembuh?”

“Itulah yang aku khawatirkan. Mungkinkah dia pria yang sedang dibicarakan seluruh penghuni hutan.”

“Pria yang tinggal di kastil?”

Martha mengangguk sambil meletakkan jarinya di bibir. Dia memberi isyarat agar Catalina tidak membahas hal itu.

“Tidak mungkin. Menurut para penghuni hutan, pria itu sangat menyeramkan. Sementara Billy, lumayan tampan. Bukan begitu, Martha?”

“Jangan bilang kau jatuh cinta padanya ya,”

Martha tersenyum lebar dan bergegas mendahului Catalina ke lantai bawah. Sementara Catalina berjalan perlahan. Sesekali dia menoleh ke arah pintu kamar yang Billy tempati.

Jatuh cinta? Ah, apakah dia masih bisa memiliki perasaan seperti itu? Perceraiannya dengan Derk telah membuat Catalina mati rasa. Luka di hatinya masih belum sembuh. Salah satu alasan yang membuatnya berada di rumah ini.

Martha benar, pasti ini hanyalah sebuah perasaan kedekatan. Karena selama beberapa hari merawatnya perasaan itu datang. Catalina membuang jauh pikiran tentang cinta. Dia pun menuju ke lantai bawah. Sebentar lagi waktunya makan siang.

Seekor burung tiba-tiba masuk ke rumah Catalina. Burung pagi yang selalu bernyanyi untuknya.

“Pria itu hilang! Kekacauan terjadi di hutan bagian selatan. Ada monster yang datang. Dia memangsa makhluk apa pun yang ada di dekatnya.” Burung itu berkicauan. Hanya Catalina yang bisa memahami apa yang burung itu bicarakan.

Bab 2

"Makhluk apa?" tanya Catalina pada burung pagi yang tampak ketakutan.

"Seekor makhluk berbulu. Dia menangkap dan memakan binatang apa pun yang ada di dekatnya."

Burung itu lantas kembali terbang meninggalkan Catalina.

"Sungguh aneh, mungkin itu hanya beruang yang sedang kelaparan."

Catalina melanjutkan langkahnya menuju meja makan. Dia melintasi tangga yang sisi kanan dan kirinya berdinding kaca. Sesekali Catalina masih merasa kagum dengan rumah yang dia tempati. Rumah itu memiliki design minimalis. Semua juga dirancang dengan sangat modern.

Kakeknya tentu adalah seorang yang sangat berpengatahuan luas. Rumah ini dibangun jauh sebelum Catalina lahir. Namun designnya sangat kekinian. Apakah orang-orang kaya di masa itu memang memiliki selera tinggi. Mereka mungkin melihat banyak tempat modern. Rumah ini pasti terinspirasi dari sebuah tempat yang pernah kakeknya datangi.

"Kau sudah melihat berita hari ini?" tanya Martha.

Wanita bertubuh gempal itu sedang sibuk menyiapkan makanan di meja. Catalina menarik sebuah kursi yang ada di meja makan. Meja makan itu berbentuk persegi panjang. Dengan bagian atas kaca dan terdapat enam kursi. Masing-masing tiga buah di bagian kiri dan kanan. Satu kursi ada di setiap kepala meja.

Bagi Catalina, Martha bukan sekedar pelayan. Beberapa bulan tinggal bersama, hubungannya lebih dari sekedar teman. Martha berusia lima belas tahun lebih tua dari Catalina. Kadang kala Catalina merasa Martha seperti ibunya.

"Ada yang penting? Akhir-akhir ini aku sibuk dengan novel terbaruku. Lagi pula berita di portal-portal itu kebanyakan hanya tentang politik juga para artis dengan skandal mereka."

"Sudah lima hari seorang pemilik perusahaan terkenal menghilang. Spekulasi mulai berkembang. Banyak pihak yang mengatakan bahwa pria itu sengaja menghilang. Orang-orang kaya selalu saja melakukan hal-hal aneh."

"Mungkin saja, dunia dan kesibukan kadang begitu menyesakkan."

Aroma roti yang lembut dengan toping daging kepiting dan udang menguar memenuhi seisi ruangan. Martha selalu bisa menyajikan makanan yang membuat Catalina tidak bisa menolaknya. Mata Catalina membulat dan antusias untuk segera memindahkan roti itu ke piringnya.

Sementara Martha duduk di hadapan Catalina dengan sebuah ponsel. Dia sedang berusaha mencari berita yang baru saja mereka bicarakan. Catalina mulai memindahkan roti ke piringnya. Dia memotong rotinya menjadi potongan kecil-kecil. Lalu mulai memasukkan ke dalam mulut.

Hari ini nafsu makannya kembali dengan  sempurna. Setelah dia melihat Billy membuka mata. Luka di dada Billy yang selalu membuatnya khawatir pun telah sepenuhnya hilang. Kejadian yang aneh. Namun Catalina tidak ingin memikirkan lebih jauh. Baginya, Billy sudah selamat dan itu membuatnya bahagia.

"Lihat ini, hari ini mereka akhirnya memberi pernyataan resmi. Ternyata pemilik Howard Company. Salah satu dari lima puluh perusahaan terbaik di Amerika."

Martha terus menggeser ibu jarinya. Mulutnya terus bergumam. Catalina tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Martha katakan. Martha seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Lalu tiba-tiba saja wajah Martha menegang. Matanya membelalak.

Dia menggunakan tangan lain untuk memperbesar tampilan gambar di ponselnya.

"Aku tidak bisa percaya ini. Apakah mataku salah?!" Tiba-tiba Martha terpekik.

Catalina melihat Martha sambil tersenyum. Pembantunya itu memang selalu ekspresif dalam menanggapi sesuatu.

"Wow Catlin, semoga ini tidak menjadi masalah untuk kita."

Martha mengulurkan ponselnya kepada Catalina. Seketika senyum Catalina menghilang.

"Billy,…." Dia mendesis.

Catalina dan Martha saling berpandangan. Ternyata pria yang menghilang itu adalah pria yang tiga hari terakhir ada di rumah mereka.

"Boleh aku bergabung untuk sarapan?" sebuah suara membuyarkan ketegangan keduanya.

Tidak menunggu jawaban Catalina atau pun Martha, Billy langsung duduk di salah satu kursi. Martha memandang Billy dengan mulut ternganga. Sementara Catalina memandang pria itu dengan tatapan curiga.

Billy tidak mempedulikan pandangan kedua wanita itu. Dia mengambil sepotong roti dari piring besar dan langsung memasukkannya ke dalam mulut. Hanya dalam beberapa gigitan, roti itu pun menghilang. Billy mengambil lagi potongan kedua dan seterusnya. Hingga tersisa satu potongan saja di piring besar.

Dia lalu meraih gelas berisi susu di hadapan Catalina. Menegak habis isinya. Wajah Billy tampak bahagia.

"Makanan ini enak sekali. Mungkin karena aku memang sudah berhari-hari tidak makan."

"Jadi kau adalah pemilik Howard Company?" tanya Catalina perlahan.

"Apakah itu penting. Sekarang aku adalah tamu di rumah ini."

"Seluruh Amerika mencarimu. Kau bisa menjadi masalah besar bagiku."

"Kau telah memberiku masalah sejak lima ratus tahun lalu. Sekarang aku telah menemukanmu. Tidak akan kubiarkan kau menjauh dariku."

Catalina menoleh pada Martha. Wanita itu hanya mengangkat bahu. Dia tidak punya jawaban atas kebingungan Catalina.

"Kau ini sedang mengigau ya? Sejak tadi yang kau bicarakan selalu tentang lima ratus tahun lalu."

Billy menggeleng, "Kau akan mengerti nanti. Aku hanya meminta satu hal darimu. Jangan pernah dekat dengan pria lain setelah hari ini."

"Apa?! Kau gila ya? Memangnya kau siapa membatasi hidupku?!" Catalina berteriak histeris.

Perkataan Billy baginya sungguh tidak masuk akal. Mereka berdua tidak punya hubungan apa pun. Permintaan yang sangat konyol.

"Percayalah Catalina, kau telah ditakdirkan untuk hidup selamanya bersamaku. Tanpamu, duniaku akan hancur."

Belum hilang kebingungan Catalina karena perkataan Billy, tiba-tiba burung pagi kembali masuk dan bertengger di meja. Dia mematuk-matuk sisa roti yang ada di piring.

"Meski pun harus mati tapi setidaknya aku mati dalam keadaan kenyang." Burung itu mengoceh tidak karuan.

Martha hanya mendengar kicauan dari burung itu. Seperti manusia biasa kebanyakan yang tidak memahami bahasa binatang. Berbeda dengan Catalina. Dia bisa mendengar dan mengerti apa yang burung itu katakan.

"Kenapa kau ini? Jangan menyebarkan kabar yang membawa ketakutan." Catalina mulai marah dengan tingkah burung kecil yang ada di hadapannya.

"Pagi ini dia telah menangkap seekor harimau. Dalam hitungan menit dia telah memakannya tanpa sisa. Dia sangat mengerikan."

"Siapa dia yang kau maksud?" Billy bertanya pada burung kecil itu.

Sontak Catalina melihat ke arah Billy, "Kau bisa mengerti apa yang dia katakan?"

Billy tidak menanggapi perkataan Catalina. Dia justru kembali melihat ke arah burung itu. Menanti sebuah jawaban.

"Sosok berbulu hitam. Aku belum melihatnya sendiri. Seluruh penduduk hutan di daerah selatan mengatakan itu adalah werewolf yang berbahaya."

"Sial! Lexus mengingkari janjinya!" Billy menggeram.

Sepasang mata biru Billy bersinar. Wajahnya memerah menahan amarah. Jari-jarinya mencengkeram meja. Dia berdiri, dan sedikit terhuyung. Tubuhnya masih lemah. Namun dia harus pergi untuk melindungi para penghuni hutan.

Billy melihat ke arah Catalina. Dia belum terbiasa dengan keberadaan wanita itu. Billy mendekat dan berdiri di samping Catalina. Suasana berubah tegang. Martha dan burung kecil itu terdiam. Mereka menunggu apa yang akan Billy lakukan.

Sementara Catalina duduk ketakutan dan tidak bergeming di kursinya. Dua mata biru billy bersinar indah. Namun menyiratkan sebuah amarah.

Bab 3

Dengan cepat Billy meraih wajah Catalina. Dia mencium bibir Catalina. Sedikit memaksa agar bibir wanita itu terbuka untuknya. Catalina yang tidak siap, gagal mengantisipasi apa yang Billy lakukan. Dia hanya terdiam dan membiarkan Billy melumat bibirnya beberapa saat.

Billy lalu melepaskan wajah Catalina. Kedua matanya menatap mata Catalina. Pandangan keduanya seolah saling menarik satu sama lain. Sekali lagi Billy mengusap bibir Catalina dengan jarinya. Sebelum Catalina sempat bereaksi, tiba-tiba Billy berlari menuju arah keluar.

Pria itu berlari dengan kecepatan tinggi. Hingga yang bisa terlihat di mata semua orang hanyalah sebuah bayangan yang bergerak. Catalina terperangah dengan mata melebar. Sementara Martha menutup mulut dengan telapak tangan.

Burung pagi yang ada di meja makan, terdiam melihat ke arah Blly pergi.

"Martha, apa itu tadi?" tanya Catalina.

"Dia terbang? Atau melesat? Siapa dia sebenarnya?"

Mereka semua tidak memiliki jawaban. Catalina dan Martha tidak tahu siapa Billy sebenarnya.

Sementara Billy berlari menuju hutan Alaska bagian utara. Tempatnya lebih jauh dari posisi pantai tempat rumah Catalina berada. Kecepatan Blly berlari menyebabkan angin di sekitar gerakannya. Hanya dalam hitungan menit, Billy telah tiba di tempat yang dia tuju.

Billy memejamkan mata. Dengan telepati dan kekuatan yang dia miliki, mencoba menemukan sesuatu. Jika benar yang diduganya, maka itu adalah werewolf yang sedang melakukan pemberontakan. Billy menajamkan indera penciumannya.

Sontak dia berbalik ketika telinganya menangkap sebuah suara. Hidungnya menangkap bau anyir darah. Billy pun melesat menembus semak-semak. Di balik sebuah pohon besar, Billy menemukan seekor serigala hitam.

"Lexus!" hardik Billy.

Serigala hitam itu membalikkan badan. Dia menghadap ke arah Billy. Matanya bersinar merah. Di hadapannya tampak seekor macan tutul yang telah terkoyak tidak bernyawa. Melihat kedatangan Billy, serigala hitam itu pun menggeram.

"Grrrrr!!!"

Billy melangkah perlahan. Mendekat ke arah serigala hitam itu. Wajah Billy tampak sangat marah. Mata birunya bersinar terang.

"Berani sekali kau membuat kekacauan di areaku!"

Serigala hitam itu mendonggakan kepalanya. Sesaat dia menggeram dan berubah menjadi seorang pria. Meski telah menjadi sosok manusia, namun mata merahnya tetap sama. Pria itu memiliki wajah serupa Billy. Yang membedakan adalah rambutnya yang ikal dan merah.

Sementara Billy memiliki rambut ikal dan pirang. Namun wajah keduanya memang sama. Perbedaan yang mencolok ada pada warna mata mereka.

Pria bermata merah itu pun tersenyum sinis.

"Aku memang ingin mengacaukan wilayahmu. Untuk melihat bagaimana kau akan menghentikanku."

"Bukankah kita sudah sepakat, bahwa kau dan aku akan berhenti bertempur. Setidaknya sampai satu musim  berikutnya."

"Kau benar, tapi selama itu pula aku ingin semua melihat kelemahanmu. Biarkan mereka menyaksikan kekuatanku. Mereka akan meragukan calon raja alpha mereka."

"Lexus! Tidak ada gunanya memecah belah kawanan. Bersama kita akan menjadi kuat."

"Arrghhh! Kau yang akan dihormati. Sementara aku hanya akan jadi pengawalmu!"

"Tidak! Kita akan bersama menyatukan seluruh werewolf di dunia." Billy berusaha meredam kemarahan Lexus.

Kata-kata yang percuma. Lexus justru semakin marah.

"Aku tidak ingin menjadi sekutumu. Sejak lahir, semua orang telah memperlakukanku dengan tidak adil. Mereka percaya pada dongeng tentang luna-mu yang istimewa. Mate yang sampai sekarang hanya bualan belaka. Dongeng bodoh tentang luna-mu telah membuatku gagal menjadi alpha."

"Aku telah menemukan dia." Billy berkata dengan tenang. Memastikan Lexus mendengar jelas perkataannya.

Suasana hutan tiba-tiba menjadi sunyi. Semua penghuni hutan ingin mendengar perkataan Billy. Lexus yang semula banyak bicara mendadak terdiam. Dia sangat terkejut dengan informasi yang Billy sampaikan.

Darah Lexus tiba-tiba bergejolak. Billy menemukan mate yang telah diramalkan? Artinya dia tidak punya peluang menjadi alpha. Semua usaha yang telah dia lakukan akan percuma.

Dengan sebuah geraman Lexus menerjang ke arah Billy. Menyerangnya dengan sangat buas. Saat melompat Lexus berubah menjadi serigala berbulu hitam. Mata merahnya memancarkan kemarahan.

Secepat kilat Billy melompat ke atas dahan sebuah pohon. Dia pun mengubah sosoknya menjadi serigala berbulu putih. Mata biru Billy semakin terang bercahaya. Billy dengan sosok serigalanya terlihat berwibawa di atas sebuah dahan pohon.

Dia melihat ke arah bawah. Dari tempatnya berdiri, Billy melihat Lexus menggeram penuh kemarahan. Lexus dalam tampilan serigala hitam, mengangkat harimau yang belum lama disantapnya.

Dia melemparkan tubuh harimau tanpa nyawa itu ke arah Billy. Sebuah cahaya berwarna biru dalam bentuk tembakan terpancar dari mata Billy. Tubuh harimau itu hancur menjadi serpihan kecil saat cahaya Billy mengenainya.

Kekuatan yang diberikan oleh Catalina memang luar biasa. Beruntung gadis itu tidak menolak ketika Billy menciumnya. Tanpa Catalina sadari, Billy mendapatkan kekuatan besar dari ciuman yang dia lakukan.

Perlawanan Billy membuat Lexus semakin marah. Dia berusaha terus menyerang. Billy menangkis semua serangan yang Lexus lakukan. Tanpa berusaha menyerang balik.

"Berhenti Lexus! Semua yang kita lakukan ini tidak berguna. Musuh werewolf akan tertawa jika melihat kita saling menyerang." Billy berusaha menenangkan Lexus.

"Aku tidak peduli! Aku hanya ingin kau mati."

"Lexus, aku telah menemukan mate yang diramalkan lima ratus tahun lalu. Kita akan mengakhiri konflik ini. Aku akan segera dinobatkan menjadi raja alpha."

Tiba-tiba Lexus terdiam. Dia teringat isi ramalan itu. Billy akan menjadi raja alpha jika menemukan matenya. Jika dia tidak bisa menghabisi Billy, maka dia bisa menghabisi matenya.

Sebuah rencana muncul di kepala Lexus. Dia akan membuat mate Billy mati. Ramalan itu mengatakan bahwa mate Billy bukanlah wanita biasa. Lexus akan mencari tahu di mana mate yang telah ditakdirkan untuk Billy.

Lexus memutar tubuh. Masih dalam sosok serigala, Lexus melompat ke arah berlawan. Melesat dan menghilang dibalik pepohonan besar. Billy heran dengan gerakan Lexus yang tiba-tiba menjauh.

Dia melompat turun dari batang pohon. Mendarat di tanah dan kembali berubah dalam wujud manusia. Tidak menghiraukan kepergian Lexus, Billy justru teringat Catalina.

Ramalan itu mengatakan bahwa mate yang ditakdirkan untuknya adalah makhluk dari dalam air. Namun yang dia temukan, Catalina hanyalah wanita biasa. Mungkinkah Catalina bukan mate yang dia cari? Tampaknya Billy harus berada di sekitar Catalina untuk tahu siapa wanita itu sebenarnya.

Billy memejamkan mata. Dengan telepati dia menyampaikan pesan kepada kawanannya. Mengabarkan bahwa dirinya telah selamat. Dia akan kembali menemui mereka segera. Billy mengubah sosoknya menjadi serigala berbulu putih. Dengan kecepatan tinggi dia kembali menuju kastil tempat tinggalnya.

Di dalam kastil, seekor serigala tua sudah menanti. Dia bisa melihat semua yang terjadi pada Billy. Waktunya membuka rahasia besar yang belum pernah Billy ketahui selama ini. Seluruh kawanan werewolf yang tinggal di hutan alaska berbahagia karena calon raja alpha mereka telah kembali.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED