Bab 2

7 tahun berselang,

"Serius lo mau pindah ke Jakarta, Mel?" itu respon dari Kak Elvin saat pertama kali mendengar kabar tentang kepindahanku ke ibu kota.

Aku sih hanya mengangguk sekilas tanpa menatap sepasang manik matanya yang mengerjap penasaran.

"Woo … ya jelas dong," jawabku sambil mengerling pada akhirnya.

"Alasannya?"

Ternyata perempuan cantik yang baru tiga minggu melahirkan ini tetap saja mengejarku dengan pertanyaan senada. Elvin Eleanor, atau yang biasa aku panggil Kak Vin, adalah salah satu penulis novel ternama yang beberapa bukunya meledak di pasaran. Enam dari delapan novel cetak karyanya aku yang menjadi editornya saat itu. Lambat laun kami jadi sangat dekat, apalagi setelah tahu kalau Kak Vin ini seniorku di kampus yang sama.

"Nggak usah pura-pura nggak tau alasannya deh, Kak," gurauku meninju pelan lengan atasnya.

"Bayu?"

Aku menaikkan kedua alisku bersamaan. Nama itu memang menjadi salah satu alasan kepindahanku ke Jakarta. Pria yang sempat aku sayangi sepenuh hati namun ternyata sangat tega membohongi dengan begitu keji. Makhluk bangsat memang!!

"Ada alasan lain sih sebenernya," seruku lagi lantas duduk di sebelah Kak Vin.

"Alasan apa?"

"Gue dapet promosi dong, jadi managing editor di kantor pusat Gayatri," sambungku sambil menaikturunkan alis bersamaan.

"Whooaah ngeri, ngeri, ngeri," respon Kak Vin berlebihan. "Tapi itu artinya elo bakalan pindah permanen dong di sana, jarang ketemuan lagi dong kita." Ibu dua anak itu langsung memeluk erat tubuhku dan manyun berlagak sedih.

"Diih, lebay. Ini cuma ke Jakarta kali, bukan ke Zimbabwe yang jauhnya nggak ngotak."

"Ya tetep aja, nggak bisa ketemu sering-sering kayak gini lagi," keluh Kak Vin lagi. Berlebihan sih, tapi ya memang seperti itu perangainya. Aku sudah hapal luar dalam sejak menjadi sahabatnya bertahun-tahun lalu.

"Kalau lagi liburan kan tetep bisa ketemu, Kak," sanggahku menepis kekhawatiran sahabat terbaikku ini.

“Terus nyokap lo?"

"Nyokap ya nggak gimana-gimana, tetap di sini sama Mbak Merry." Mbak Merry itu kakakku satu-satunya. Sudah berumah tangga dan sekarang sedang sibuk mengajar di salah satu perguruan tinggi ternama di Surabaya.

"Maksud gue, emang sekarang elo nggak dikekepin lagi sama Tante Nisa? dari dulu kan tante selalu berat ngelepas elo jauh-jauh setelah hampir jadi korban gempa yang dulu itu."

Mendengar kalimat panjang Kak Vin, sontak membuatku tergelak. Apalagi karena ia masih mengingat tentang kejadian dimana aku hampir menjadi korban bencana alam saat awal-awal menjadi jurnalis tujuh tahun silam. Masa-masa gemilang yang mengawali karirku saat ini di Gayatri Publishing, sekaligus masa yang ingin aku kubur dalam-dalam jika mengingat sekelumit romansa yang sempat membuat hatiku patah berkali-kali.

"Nggak lah, nyokap oke-oke aja kok. Gue udah bukan ABG labil lagi Kak, nggak akan bolak balik ke perantauan demi cowok lagi kayak jaman firaun dulu," sahutku masih tergelak. Sepertinya menertawakan diri sendiri memang bisa jadi obat mujarab untuk mengurangi patah hati.

"Nasib percintaan kita kayaknya nggak jauh-jauh amat ya ngenesnya, Mel." Kali ini Kak Vin terkekeh. Ibu mudah itu sampai meletakkan bayi kecilnya di kasur sebelahnya agar tak ikut terguncang setiap kali sang ibu tertawa. "Dulu gue terjebak lama sama Ervan sebelum Mas Rega datang berkali-kali dan bikin gue melek mata dan hati. Sedangkan elo ... susah banget move on dari Bang Fino, eh begitu ketemu sama Bayu ternyata lebih bangsat lagi perangainya."

Eehh... Bang Fino?

Kenapa nama itu kembali membuat dadaku berdesir?

Ckk, Kak Vin nggak lihat sikon banget deh, kembali nyebut tuh nama sakral.

"Sssttt ... mulut lo Kak, ada di dekat bayi malah ngomong bangsat-bangsat," decihku mengalihkan perhatian.

Kak Vin buru-buru menepuk bibir beberapa kali seolah baru tersadar dengan kalimat kasarnya. "Laah, mulut lo juga, asem lo emang!"

"Eh, tapi emang bener sih ya? nasib percintaan kita gak ada yang beres. Elo mah enak, sekarang udah ajeg, tenang, tentram, damai, harmonis plus romantis abis sama Mas Rega. Lah gue? punya mantan suami bangsat kuadrat amat cuma jadiin gue tambang emas!"

"Ya udah kalau mantan suami bangciat, balik aja ke si Abang cinta pertama lo itu?"

"Cinta pertama gue udah jadi suami orang kali." Bibirku mencebik masam. Tapi dalam hati aku sempat mempertanyakan bagaimana kabar pria si cinta pertamaku itu?

"Eh iya ya? jangan deh, jangan sampe tragedi kebegoan gue dulu terulang di elo, Mel." raut wajah Kak Vin berubah sedikit lebih serius. Aku yang sudah mengenal Kak Vin luar dalam, paham betul apa maksud kalimatnya. Beberapa tahun silam drama rumah tangganya memang mencengangkan dan membuatku ikut pusing karena menjadi saksinya. Beruntung, drama pilu itu sudah berakhir manis. Sebaliknya, sekarang aku yang baru saja memulai drama lainnya.

"Sayang, Barra udah tidur kan? Bagas haus nih?" suara familiar Mas Rega-- suami Kak Vin, membuat kami kompak menoleh ke arah pintu.

"Sudah Mas, sini gantian Bagas yang aku susuin." Kak Vin mengulurkan tangannya hendak menggendong bayi mungil dari tangan sang suami.

Informasi saja, Kak Vin ini baru saja melahirkan bayi kembar laki-laki. Bayi mungil yang tengah tertidur di sebelahnya bernama Barra. Sedangkan bayi mungil yang baru saja dibawa masuk Mas Rega bernama Bagas, kembarannya. Bukan itu saja, keluarga mereka juga lengkap dengan adanya putri sulung mereka yang bernama Malika. Melihat bagaimana bahagianya Kak Vin saat ini membuatku ikut merasa lega. Namun juga ada sejumput rasa iri menyayat hati karena kisahku berkebalikan dengan kebahagiaan keluarga Kak Vin.

"Meli senyam senyum terus dari tadi, pengen gendong juga ya?" pertanyaan Mas Rega memecah gelembung lamunku. Pria itu duduk di sebelah Kak Vin di sisi yang lain karena akan menggendong bayinya yang satu lagi.

"Pengen sih, tapi masih takut, Mas. Kecil banget itu bayinya."

Bayi kembar Kak Vin memang begitu tampan menggemaskan, namun jujur, aku masih takut jika harus menggendong salah satu di antara mereka. Tubuhnya sangat kecil, aku yang tak ada pengalaman dengan bayi baru lahir tentu saja khawatir jika nanti salah posisi dan mengakibatkan tulang mereka patah. Berlebihan mungkin, tapi memang itu yang aku takutkan.

"Ajaib kalau baru lahir langsung gede, Mel." Tiba-tiba jemari usil Kak Vin mencubit lenganku.

"Ya makanya, aku baru berani gendong mereka nanti aja kalau udah gedean dikit," kilahku sambil mencebik kesal padanya.

"Belajar, Mel. Nanti kalau udah punya bayi sendiri biar semakin luwes," ujar Kak Vin memasang senyum lebar.

"Hadeeeh, calon bapaknya aja belum ada hilal, Kak. Gimana bisa bikin bayi? ngadi-ngadi lo ya!"

"Ya ... kali aja nanti di Jakarta dapet cowok oke yang nggak bangciat lagi, Mel."

"Loh, Meli mau pindah ke Jakarta?" Mas Rega menoleh cepat ke arahku. Alis tebalnya terangkat satu, membuat wajah tampannya terlihat lucu saat penasaran seperti ini.

"Yoi, Mas. Makanya aku ke sini nengokin baby sekalian mau pamitan sama kalian berdua."

"Pindah kerja?" imbuh suami Kak Vin itu lagi.

"Masih di Gayatri, cuma dipindah ke kantor pusatnya aja," jelasku membuatnya manggut-manggut.

"Naik jabatan dia, Mas. Makanya langsung sikat aja pas diminta pindah ke ibu kota. Eeh... sekalian ngelupain Bayu sih katanya," sambung Kak Vin memperjelas.

"Eeh, sorry ya, gue udah lupain si Bayu kok. Laki modelan berang-berang gitu mah gampang lupainnya," selaku cepat-cepat.

Seperti aku yang mengikuti perjalanan cinta Kak Vin dan Mas Rega, seperti itu pula mereka berdua paham dengan kisahku dan Bayu di masa lalu. Jadi tanpa sungkan aku bebas mencemooh mantan tak tahu aturan itu di depan mereka.

"Halah... sok ngatain berang-berang, tapi pernah cinta juga," goda Kak Vin sambil terkikik. Ternyata meskipun sudah menjadi ibu tak menyurutkan sifatnya yang suka mencibirku.

"Sekarang udah nggak bersisa, Kak. Gue mah gampang move on kalau berhadapan sama cowok karbitan kayak dia. Sial aja dulu cepat percaya sama tuh mulut comberan."

Bayu memang baik saat kami pertama kali kenal dan menjalin kedekatan. Kenapa aku bilang sial? karena aku terlalu percaya di awal, tapi kebusukannya baru terbongkar setelah kami menikah beberapa bulan. Sial kuadrat kan?

"Berarti kalau sama si abang yang satunya gak gampang move on ya?"

"Abang siapa? yang di Medan itu bukan?" Mas Rega ikut menimpali. Bapak-bapak masa kini ternyata kepo juga ya?

"Sstt ... nggak usah bahas dia lagi deh, kalau jantung gue kembali bergetar kalian mau tanggung jawab?" protesku membuat sepasang suami istri itu tergelak bersamaan. Dasar kampretlah mereka ini, kompak banget kalau soal merundung sahabatnya sendiri.

"Kalau elo masih jengkel dan ketar-ketir sama dia, berarti elo belum move on dari tuh cinta pertama lo, Meli!!"

Aku melengos enggan menjawab. Karena kalau boleh jujur, seorang Arfino Hesta memang tak pernah pergi dari sudut hatiku. Pria jangkung itu seolah punya tempat tersendiri yang tak akan terganti oleh pria manapun. Sekarang hingga selamanya.

"Iya kan?" lanjut Kak Vin lantas menaikturunkan kedua alisnya usil.

Aakhhh ... Kak Vin asemm!!

Jengkelin banget hari ini malah bahas si Bang Pinpin lagi. Kan sama saja seperti mengorek cinta lama yang terpaksa berpisah karena tak mendapat restu semesta!

***

Bab 3

Sial, sial, sial..!!

Bukan aku mendadak terngiang-ngiang lagu populer yang dibawakan penyanyi cantik Mahalini. Bukan. Namun, ini karena aku baru menyadari perasaanku pada Bang Fino tak pernah usai bahkan hingga bertahun lamanya kami terpisah.

Terbelenggu pada perasaan yang sama selama bertahun-tahun ternyata sangat menyiksa dan semenyesakkan ini ya? Sekuat apapun aku mencoba menyangkal, kenapa semua rasa tetap tertuju pada satu nama itu. Ckk, lagi-lagi sial kan?! Padahal beberapa kali aku pernah menjalin kedekatan dengan pria berbeda sejak kenyataan pahit yang aku dapatkan dari kisah kami berdua. Aku dan Bang Pino maksudnya. Kalau dia, entah bagaimana kelanjutan hidupnya, yang aku tahu hanya ... Bang Pino mengingkari janjinya padaku sejak ia menikahi perempuan lain. Selebihnya, aku memilih tak tahu dari pada harus mengulang perihnya luka karena terbakar cemburu.

Dan ini semua karena obrolan dengan Kak Vin dan Mas Rega beberapa hari lalu. Pasangan itu sengaja menyebut nama Bang Fino di pertemuan kami. Salah satu hal yang menjadi pemicu aku akhirnya membuka folder tersembunyi di laptop yang berisi foto-foto lawas kami berdua. Semua masih tersimpan rapi di sana, mulai dari foto kami berdua pertama kali ketika singgah di Pantai Panjang hingga gambar-gambar lain yang menunjukkan betapa dekatnya kami saat itu.

Bukan hanya satu atau dua gambar, tapi ratusan pose yang ambil ambil di beberapa tempat yang berbeda. Saat itu memang kami sangat senang bepergian dari satu tempat ke tempat lain, terutama jika tempat tersebut masih berkaitan dengan pantai. Kami, aku, Bang Fino juga beberapa kawan yang lain selalu meluangkan waktu setidaknya sekali dalam dua minggu untuk berkumpul dan merencanakan perjalanan itu.

"Heh, ngelamun aja!" Tahu-tahu mama menepuk pundakku. Ternyata aku melamun terlalu lama. “Taksinya udah deket itu, ayo siap-siap. Mana aja tasmu?”

Mama memaksa ikut mengantarku ke Jakarta hari ini. Padahal ya, aku kan bukan anak kecil lagi. Aku perempuan dewasa yang bahkan pernah menikah (meskipun itu gagal), ya kali kemana-mana masih dikawal orang tuanya. Tapi ya, begitulah seorang ibu, sedewasa apapun anaknya akan tetap dianggap anak kecil yang harus mereka lindungi kapanpun.

“Iya, Ma, iya. Astaga … semangat banget sih, Mama. Ngalah-ngalahin aku yang mau pindah ke sana,” cibirku mengundang gelak kecil di sudut bibirnya.

“Ya harus semangat dong,” ujar Mama sambil mengangkat travel bag berukuran sedang berisi beberapa helai pakaiannya. “Mau nganter anaknya buka lembaran baru masa nggak semangat sih?”

Aku berdecak memiringkan senyum. Membuka lembaran baru ceunah!

“Mama ada-ada aja. Aku cuma mutasi kerja, Ma. Bukan menempuh hidup.”

“Ya kali aja nanti di Jakarta kamu ketemu sama jodohmu yang beneran. Nggak kaleng-kaleng kayak sebelumnya.” Mama enteng sekali membahas masalah jodoh seolah aku ini harus banget cepet-cepet ketemu pasangan baru dan menikah. Lagi. Padahal, belum ada satu tahun aku menyandang status janda setelah terlepas dari mantan biadab itu.

“Hadeeh, Mama, ih. Ujung-ujungnya nggak nyambung deh,” decakku manyun.

“Lho, Mama ini cuma doain yang baik-baik. Kok dibilang nggak nyambung.”

“Ya wes terserah Mama deh, itu taksinya udah dateng, Ma.” Aku mengendikkan dagu ke arah pagar, dimana mobil berwarna putih berhenti di halaman rumah kami yang tak seberapa luas.

Kami masuk ke dalam mobil dan mulai membicarakan hal lain, aku yang sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Salah satu ciri perempuan lah yaa, gampang banget belok dari satu topik ke topik lainnya. Pokoknya nggak lagi bahas mantan atau desakan untuk membuka hati pada orang baru, aku sih nyaman-nyaman saja.

Bukannya apa, mamaku ini tanpa sadar kadang gemar sekali membujukku agar segera memiliki pasangan baru. Bukan karena dikejar usia, usia dua puluh tujuh masih aman kok menurutku. Melainkan karena banyak sepupuku yang sepantaran denganku, atau bahkan usianya di bawaku, akan segera melepas masa lajang. Jadi di setiap acara keluarga, pastilah mama menjadi sasaran empuk yang selalu ditanya perihal menantu dariku.

"Kamu udah hubungi Anya?" tanya Mama ketika kami sudah masuk ke gerbong kereta api. Iya, kami berdua naik kereta api menuju Jakarta. Meskipun ada mobil peninggalan papa, kereta api masih menjadi alat transportasi favoritku dan mama sejak aku kecil.

“Udah dong, Ma. Semalam aku udah hubungi ulang kok. Nanti begitu nyampe Jakarta, dia maksa akan ngirim supir buat jemput."

"Heh, kok sampe repot-repot gitu?" Mama tampak terkejut karena spontan saja menepuk punggung tanganku.

"Aku nggak pernah minta, Ma. Udah aku tolak berkali-kali juga. Tapi Mama tau sendirilah gimana loyalnya Anya kalau udah sama temen sendiri." Aku mengeluarkan muffin yang tadi aku beli di food court. Kue kesukaanku ini selalu menjadi teman perjalanan terbaik selama aku bepergian.

"Ya pokoknya jangan banyak ngerepotin orang aja nanti di sana. Kemaren soal apartmen udah dibantuin Anya, sekarang masalah jemputan juga dibantu dia juga. Pokoknya jangan sampai kamu dianggap dompleng sama dia ya, tau dirilah pokoknya."

Ngomong-ngomong soal Anya, dia ini teman dekatku sejak masa SMA dan kuliah. Meski hubungan kami sempat renggang sejak semester enam, karena dia terlalu asyik bekerja di salah satu WO dan punya pekerjaan sambilan lainnya. Akan tetapi meskipun jarang bertemu secara langsung, kami tetap rutin bertukar kabar lewat pesan singkat atau telepon. Aku bahkan datang saat pesta resepsinya dengan Senopati Rajata tiga tahun silam. Gelaran pesta yang sukses bikin melongo juga sih, karena Anya yang terkenal dingin, ketus, tomboy dan ratunya cuek sejak lama, ternyata sekarang jadi menantu dari keluarga Dwisastro, konglomerat yang namanya udah bikin keder aja kalau mendengarnya.

"Mama ih, dompleng-dompleng apaan. Aku juga ngerti situasi kali, lagian aku sama Anya deket nggak setahun dua tahun aja, Ma. Kami udah kayak luar dalem kok," sanggahku setelah gelak tawaku reda. Mamaku ini memang overthinking-nya nggak ada lawan deh.

"Jadi, besok begitu kita nyampe stasiun pasar senen udah ada yang jemput gitu?"

"Ya begitulah, Nyonya, supir Anya bakalan standby nungguin kita. Setelah itu langsung ke apartmennya sekalian."

Sejak pertama tahu perihal kepindahanku ke Jakarta, Anya langsung antusias hingga tiba-tiba menawarkan apartmen miliknya yang sudah lama kosong karena penyewanya pindah ke luar negeri. Daripada terlalu lama tak berpenghuni, ibu muda itu menawarkan padaku agar bersedia tinggal di sana. Aku langsung menyetujui dengan syarat ia mau menerima uang sewa dariku, karena awalnya dia menolak tegas ide tersebut. Bisnis tetap bisnis kan, jadi ya ... aku memaksa tetap membayar sewa apartemen tersebut.

Keesokan harinya pukul setengah sembilan pagi, aku dan mama sudah sampai di Stasiun Pasar Senen Jakarta, dan benar saja, ketika kami keluar ternyata sudah ada seorang pria paruh baya yang memegang selembar kertas bertuliskan namaku. Beliau adalah supir yang dikirim Anya untuk menjemput kami berdua, yang belakangan aku ketahui bernama Pak Heri. Selain ramah, Pak Heri juga sangat tanggap membantuku dan mama memindahkan dua koper besar milikku dan travel bag milik mama.

Tak sampai satu jam kemudian aku dan mama sudah sampai di gedung apartment milik Anya. Apartment yang akan aku jadikan tempat tinggal selama menetap di Jakarta, namun aku langsung menyesali keputusan unutk menerima tawaran Anya saat aku tahu apartmen versiku dan apartmen versi Anya sangat jauh berbeda.

“Anya, lo gila, sumpah gila!!” pekikku saat Anya mengangkat panggilan telepon video dariku di seberang sana.

“Heh, kambing kampret!! pake ucap salam dulu kek, ini baru ngomong malah ngatain gue gila,” jawab Anya di ujung sana. Meskipun sudah berubah status menjadi seorang ibu dari seorang putri ternyata tak bisa begitu saja menghilangkan umpatan dan sumpah serapah yang sangat fasih keluar dari mulut seorang Revanya.

“Kemaren elo bilang apartmennya tipe biasa, tapi in—” aku kehilangan kata-kata saat kembali mengamati unit apartmen mewah—ralat, super duper mewah yang ia sewakan padaku. “Ini apartmen yang gila banget mewahnya, Anya. Harga yang gue bayar kemaren tuh nggak ada sepertiga sewanya kali,” lanjutku menggerutu saat berjalan ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan padatnya ibukota dari ketinggian lantai delapan belas.

Tak jauh berbeda dariku, sejak masuk unit, Mama langsung melongo. Dan sekarang beliau sedang mengitari seluruh ruangan mewah di unit ini. Dua kamar tidur berukuran besar, dua kamar mandi, dapur bersih, ruang makan, ruang tengah yang sangat elegan, bahkan ada kamar untuk asisten rumah tangga. Benar-benar unit apartmen yang diluar bayanganku semula.

“Oh, elo udah nyampe apartment? udah ketemu Hanif kan? yang nganterin elo ke unit.” Anya ternyata tak menanggapi kalimatku, malah menanyakan hal lain.

“Iya, iya … gue udah ketemu sama asisten pribadi laki lo tadi di lobby, udah diantar naik juga sampe unit yang kata lo, biasa banget ini. Astaga Anya … gue cancel aja deh ya nyewa di sini, harganya bikin rekening gue keder.”

Terdengar gelak tawa khas dari sahabatku itu. “Bisa aja lo kampret! nggak bisa pokoknya nggak bisa! Elo kan udah bayar, nggak bisa gitu aja refund dong!”

“Tapi, An, gue beneran nggak bisa tinggal di apartmen mewah kayak gini.”

“Heleeh, Meli, nggak usah lebay deh, pokoknya udah deal, elo tinggal di sana selama stay di Jakarta, atau … elo mau gue ngambek seumur hidup?” dari layar ponsel aku bisa membaca raut wajahnya yang berubah manyun saat mengibaskan telapak tangannya.

“Ckk, ratu drama,” keluhku karena rasanya akan sangat sulit memenangkan perdebatan dengan Anya.

“Hadeeh, berisik!! pokoknya gue nggak mau tau gimana caranya elo tetep tinggal di apartmen itu. Udah dulu ya, gue lagi riweh ini, lagi ikut Mas Seno ke pembukaan restoran punya temennya.”

Dari apa yang terlihat di layar video menampilkan suasana ramai di suatu tempat makan yang cukup luas. Pantas saja suara Anya terdengar tak begitu jelas karena banyak orang juga di sekitarnya.

“An, dicari Seno tuh di sebelah, Mika nangis katanya habis nyungsep. Dasar si Seno bapak kurang akhlak, anak cantik dibiarin nyungsep gitu aja!” suara pria yang tak begitu asing di telingaku terdengar. Sepertinya dari salah satu teman Anya, karena sosoknya hanya terlihat sebagian lantaran ada di samping Anya. Tapi suara itu benar-benar menggangguku, karena…

“Eh, Mika ya? thank you ya, Bang Hes.” Anya terdengar menimpali dan mengangguk cepat.

“Siapa An?”

“Eh, Mel, gue tutup dulu ya? di cari Mika nih,”

“Yang barusan siapa?” kejarku tak mau dihantui rasa penasaran.

“Oh itu tadi Bang Hesta, temennya Mas Seno, dia yang punya restoran ini. Udah dulu ya, nanti gue telpon balik, Bye, muah-muah, salam buat Tante Nisa,” pungkas Anya tergesa-gesa hingga tak memberiku kesempatan balik bertanya karena mendadak saja layar ponselku sudah berubah lantaran panggilan sudah terputus.

Hesta… Hesta…

Suara itu … jangan sampai Hesta yang dimaksud Anya barusan adalah Hesta yang aku kenal bertahun-tahun silam.

Arfino Hesta.

****

Eaaa, emang nama Hesta pasaran banget ya Mel, bikin hati ketar-ketir aja? 😆😆

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED