Gadis keciiiilll..." Suara lengkingan kak Rika kembali memekakkan sepasang telingaku.
Mau marah? Protes?
Tentu saja tidak, karena memang itulah teriakan yang selalu aku tunggu setiap menjelang malam seperti ini. Teriakan yang menjadi tanda bahwa seorang pria yang setiap akhir pekan kutunggu kedatangannya, sudah datang dan siap mengentaskan rindu bersamaku.
Arfino Hesta namanya, aku biasa memanggilnya Bang Pino, alih-alih Fino seperti yang lain memanggilnya. Iya sih aku baru mengenalnya hampir satu tahun belakangan ini. Belum terbilang lama. Entah kenapa, aku nyaman ketika berdekatan dengan pria jangkung ini. Senyumnya, tatapan hangatnya, suara ramahnya, tutur katanya, sopan santunnya. Semuanya.
Kalau kata Kak Rika aku sedang terserang sindrom cinta pertama. Maka dari itu semua hal yang ada pada Bang Pino selalu aku puja tanpa secuil cela. Entahlah, aku memang masih awam soal cinta, jadi aku iyakan saja pendapat dari Kak Rika.
"Bang Pino ya?" tanyaku memastikan sekali lagi.
"Iya lah, emang siapa lagi kalau bukan si Abang kesayanganmu itu ." Kak Rika terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala. Mungkin perempuan cantik itu tak habis pikir dengan tingkah norakku setiap kali pria itu datang ke tempat tinggal kami.
"Aku udah oke kan?" aku merapikan lagi blouse sewarna biru langit yang baru kali ini aku kenakan. Special, khusus untuk hari ini.
Kak Rika meletakkan spatula yang tadi sibuk ia gerak-gerakkan di atas penggorengan, lantas menoleh ke arahku. Mata bulatnya menelisik penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Udah oke, sip, mantep, cantik kece badai. Udah siap banget buat say bye sama si Abang," komentar Kak Rika sambil mengangkat ibu jarinya ke udara.
Ck, oke sih oke, kece sih kece ... tapi kenapa harus diingatkan lagi tentang perpisahan antara kami berdua malam ini sih?
Aku dan Bang Pino memang berjanji akan bertemu malam ini. Malam terakhir dimana aku bisa menemui pria itu sebelum esok siang aku harus terbang puluhan kilometer untuk kembali ke kota kelahiranku di Jawa Timur. Malam ini malam terakhir, di mana aku bisa menyimpan semua moment kebersamaan kami selama hampir satu tahun saling mengenal, merasa nyaman dan hampir terlena dengan sejuta angan akan masa depan.
Selama merantau di kota ini, aku memang sangat dekat dengan Kak Rika, perempuan cantik yang tengah mengambil pendidikan kedokteran itu. Dia mengenalku dari awal kedatangan hingga detik ini. Jadi, kak Rika juga tahu banyak tentang kedekatan yang terjalin antara Bang Pino dan aku yang masih seumur jagung ini.
"Hai, Lisa," sapa Bang Pino begitu melihatku melangkah mendekatinya yang tengah duduk di kursi panjang yang ada di teras rumah.
"Haii, Bang," balasku dengan senyum lebar yang kupaksakan. Kenapa harus terpaksa? karena sebenarnya jauh di dalam hati, aku sangat ingin menangis tiap kali ingat bahwa ini adalah malam terakhir kami bisa bertemu.
"Happy banget sih kayaknya?" sambung pria itu ketika mengambil alih nampan persegi yang berisi beberapa potong pizza dan minuman bersoda yang sengaja kubawa.
Serius wajahku terlihat happy? Happy dari mana coba?
Oke baik, berarti aku berhasil mengelabuinya. Tak tahu saja dia bahwa di dalam hati, aku sudah ingin menjerit tak terima dengan perpisahan kami esok hari.
"Harus happy dong," sahutku lantas menghempaskan bokong duduk di sebelahnya. "Abang sendiri kan yang bilang, kalau kita harus selalu ngerasa happy apa pun yang terjadi."
Bang Pino mengacak puncak rambutku yang tadi sudah rapi. "Gitu dong," katanya melemparkan senyum tenang. "Kalo kamu happy, Abang juga ikhlas ngelepas kamu pulang," sambungnya lagi dengan raut wajah datar, entah kemana perginya senyum menenangkan yang tadi kulihat.
Aku ini orangnya melankolis dan cengeng sekali. Merasakan telapak tangan Bang Pino yang mengusap rambutku saja sudah hampir membuatku menangis. Beruntung, dengan menggigit bibir bawah, aku bisa meredam keinginan untuk menumpahkan air mata saat ini juga.
"Udah packing?" tanya Bang Pino lagi setelah aku hanya diam menunduk selama beberapa menit.
"Hmm, udah. Tinggal angkut aja," jawabku sembari menekuri kedua telapak tangan yang saling bertaut.
"Oleh-oleh buat orang rumah udah dipacking juga?"
Aku mengangguk lagi. "Udah, Bang."
Padahal aku ini terpaksa pulang ke Jawa Timur. Kenapa pula ya, aku yang repot belanja oleh-oleh untuk keluargaku di sana. Andai saja aku tak terikat janji sialan yang aku buat dengan Pak Hilman, bapakku sendiri yang sangat otoriter itu. Pasti aku akan menerima tawaran Pak Hendra untuk memperpanjang masa kontrak kerja di Starindo.
"Kalau boneka yang kemarin?"
"Hmm, sudah. Sengaja gak aku masukin koper. Biar bisa aku bawa terus selama di perjalanan," jawabku lirih.
Boneka yang dimaksud Bang Pino adalah boneka beruang putih dengan baju berwarna merah muda yang lucu sekali, hadiah pemberiannya kemarin. Kata Bang Pino untuk kenang-kenangan agar aku selalu mengingat sosoknya. Padahal sebenarnya, tanpa boneka beruang itupun aku pasti selalu mengingat segala hal tentangnya.
"Udah siap banget ya?" Bang Pino menarik kedua sudut bibirnya tersenyum lagi.
Senyuman manis yang biasanya bisa membuatku tenang. Namun entah kenapa, kali ini senyumnya terasa ngilu sekali menyiksaku. Senyum yang sepertinya akan bertahan sangat lama dalam ingatanku.
"Raganya aja yang siap Bang, hatinya belum," jawabku sembari menarik senyum miring, kali ini mengamati kedua kakiku yang berayun pelan di bawah kursi yang kami duduki.
"Kenapa hatinya berat, Lisa?" tanya Bang Pino seraya menatapku lekat-lekat. Aah, aku suka sekali saat mendengar suaranya yang memanggil namaku. Lisa... dengan penekanan pada huruf S-nya.
"Ya karena Abang." Akuku jujur saat menatap sekilas ke arah Bang Pino. Sekilas saja, karena aku tak yakin hatiku bisa kuat berlama-lama menatap netranya. Bisa-bisa keputusanku goyah dan kemungkinan batal pulang kalau terperangkap dalam tatapan tajamnya.
Bang Pino menoleh dan tersenyum tipis paham dengan maksudku. Beberapa bulan dekat, sangat dekat malah. Dia pasti paham dengan apa yang sedang aku utarakan. Kalau aku, iya. Aku memang berat karena akan meninggalkan sosoknya yang sudah berhasil memerangkap hatiku. Entah lagi kalau buat pria itu yang bisa saja berkebalikan dengan perasaanku.
Dia pria dewasa, mungkin kedekatan dengan gadis belia seumuranku hanya dianggap angin lalu belaka. Bisa jadi perhatian Bang Pino selama ini hanya karena merasa iba karena aku merantau jauh dan terpisah jarak dengan keluarga kan? Atau bisa jadi karena sekedar ketertarikan sementara saja, karena memang tak ada status yang jelas untuk hubungan kami ini.
"Serius nih berat ninggalin Abang?" ulang Bang Pino meminta kepastian.
Aku hanya memberi satu anggukan kepala sebagai jawaban.
"Iya?" tanya Bang Pino lagi belum yakin.
"Iya," jawabku mantap.
"Kenapa berat?"
Aku menoleh dan memaku tatapan ke arah sepasang netranya. Apa binar sendu di mataku belum terbaca dengan jelas ya? Hingga pria ini tak bisa menebak perasanku padanya.
"Kamu sayang sama Abang?" tebaknya lagi setelah kami diselimuti hening beberapa menit.
"Hmm..." aku mengangguk pelan mengiyakan.
"Serius nih, sayang sama Abang?" ulangnya sampai ikut menunduk demi melihat raut wajahku yang sudah merah padam menahan tangis.
"Lisa?"
"Iya, aku sayang Abang." jawabku dengan air mata yang tiba-tiba saja sudah membanjiri wajah. Biarlah. Toh ini pertemuan terakhir kami. Di lain waktu, dia takkan melihat air mataku lagi.
Lagi-lagi kami saling diam. Terperangkap pikiran masing-masing. Aku dengan pikiran picikku yang ingin membatalkan kepulanganku esok hari. Entah lagi kalau pikiran Bang Pino, tentu saja aku tak bisa membacanya.
Hampir sepuluh menit berlalu, hanya terdengar tangisku yang semakin tergugu. Hingga aku merasakan telapak tangan Bang Pino yang mengusap lengan atasku dengan gerakan teramat pelan.
"Kalau sayang sama Abang jangan nangis-nangis gitu dong," pintanya dengan suara lirih.
Bukannya diam, aku malah semakin bergetar karena air mata. Memalukan memang. Entah bagaimana kacaunya wajahku saat itu, tapi aku setia menunduk. Enggan menengadahkan kepala membalas tatap teduh pria itu.
"Kalau nangis, berarti nggak sayang sama Abang." Kalimat Bang Pino yang satu ini sukses membuatku menghentikan tangis. Apalagi setelah jemari besar Bang Pino terangkat dan mengusap pelan wajahku yang basah karena jejak air mata.
Aku sayang padanya, jadi aku tak boleh menangis, cibir hatiku.
"Naaah gitu dong," ucapnya lagi. "Jelek kalau nangis kayak tadi." Pipiku mendadak hangat saat punggung tangan Bang Pino ikut mengusap di sana.
"Emang jelek," cicitku dengan suara serak.
"Kenapa jadi mellow sedih-sedih gini sih suasananya, padahal tadi udah happy loh." ucapnya tak mengalihkan pembicaraan.
“Ya gimana gak sedih, Bang," ucapku lirih masih tak berani mengangkat wajah. "Ini kan jadi pertemuan terakhir kita. Entah kapan lagi bisa ketemu sama Abang.”
Dari ekor mata, aku tahu Bang Pino melengkungkan senyum samar. Tatapan matanya yang teduh juga masih menaungiku dengan tenangnya.
“Kalau jodoh pasti ketemu."
Aahh iya, benar juga. Kalau jodoh memang tak akan kemana. Tapi kan kemungkinannya sangat kecil. Usia kami berbeda jauh, adat dan budaya kami bertolak belakang, belum lagi jarak puluhan kilo yang memisahkan kami. Teriak batinku tak terima.
"Hmmm, semoga bisa bertemu lagi kalau begitu." Aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Mencoba menerima kenyataan kalau memang kemungkinan kami bertemu dan berjodoh sangat kecil.
"Ramadhan nanti Abang ada dinas di Jawa. Kita bisa ketemu waktu itu?"
"Ramadhan dua minggu lagi?" aku langsung menoleh dengan antusias.
Sayangnya, Bang Pino malah menggelengkan kepala pelan. Membuat gurat kecewaku muncul lagi ke permukaan.
"Jadi, ramadhan kapan maksudnya?" tanyaku lirih tak ingin terlalu tinggi melambungkan angan.
"Tahun depan." Tatapan mata Bang Pino tajam memaku netraku yang kembali berembun air mata. Kenapa mendadak cengeng begini sih?
Aku terpaksa melebarkan senyum. "Kita harus ketemu ya, ramadhan tahun depan."
"Hmm..." Pria itu mengangguk sekali. "Harus ketemu, Abang akan membuktikan kalau kita berjodoh waktu itu. Abang akan temui orang tua kamu ya?"
Gurat bahagia pasti sudah tercetak jelas di wajahku saat itu. Pasti.
"Tunggu Abang tahun depan ya?" pungkasnya membuatku mengangguk dan melengkungkan senyum penuh lega.
***
Namun hingga tahun depan yang dijanjikan, ternyata aku harus menelan pil pahit lantaran tak mendapat kepastian. Aku menunggu kedatangan pria itu dengan setia seperti yang aku ucap sebelumnya. Namun semakin hari Bang Pino semakin sulit untuk kuhubungi. Entah harapanku yang terlalu tinggi atau dia yang sengaja menjauhkan diri.
Ramadhan pertama aku lewati tanpa kepastian juga kabar dari pria yang hingga kini masih belum pergi dari benakku. Dari hatiku. Aku tetap setia menunggu sembari mencari kabar dari rekanku yang lain di kota tempatku merantau sebelumnya. Tak ada kabar pasti tentang keberadaan Bang Pino selain kabar bahwa ia dipindahtugaskan ke kota lain, kota kelahirannya sendiri.
"Beneran gak ada kabar lain dari Bang Pinpin, Kak?" tanyaku di suatu sore saat menghubungi Kak Rika.
"Nggak ada, Meli. Selama elo balik, Bang Pinpin udah jarang mampir ke sini. Lah sekarang malah gak pernah sama sekali."
Kak Rika sama seperti yang lain, memanggilku dengan sebutan Meli. Nama panggilanku sejak kecil. Hanya Bang Pino satu-satunya orang yang memanggilku dengan sebutan 'Lisa'. Aaaah, mengingat panggilan itu tentu saja membuatku mengingat sosok dengan senyum ramah itu. Sebenarnya, kemana perginya pria yang membawa hatiku itu.
"Udahlah Mel, lupain aja. Namanya juga cowok, cepet dapet penggantinya."
"Kak Rika gitu amat deh," dengkusku pelan.
Terdengar kekehan kecil di seberang sana. "Gue cuma mikir logis, Mel. Menurut kami yang udah dewasa malah menjelang tua ini, elo itu masih gadis kecil polos yang mudah diperdaya cinta sama sehingga mudah sekali jatuh hati. Sedangkan Bang Pinpin, dia udah dewasa kemana-mana euyy, bisa jadi elo cuma tempat persinggahan aja kan?"
Aku berdecak sebal dengan kalimat Kak Rika tadi. "Tapi Bang Pino beda Kak, dia udah janji." kilahku masih tak tergoyahkan.
"Dan elo percaya sama janji pria macem buaya kayak gitu?"
"Bang Pino bukan buaya!" belaku terpekik dengan nada kesal. Aku tak terima pujaanku itu disebut buaya.
"Tapi mereka sejenis. Cowok mah dimana-mana gitu, gampang janji, gampang mengingkari. Begitu ketemu cewek lain, janji lagi. Begitu terus siklusnya."
Tapi Bang Pino nggak gitu. Batinku masih setia membela.
"Ya sudahlah, kakak cuma ingetin aja kok. Kita jangan terlalu berharap gitu sama pria yang hanya mampir sekelebatan aja di hidup kita," seru kak Rika pada akhirnya.
“Life must go on, Meli. Kamu masih muda, masa depan cerah, jangan sedih berlarut larut gitu hanya karena janji manis orang asing,” sambung kak Rika dengan nada yang lebih tenang.
Aku mengangguk pelan, sebelum akhirnya kak Rika menutup panggilan kami. Ada benarnya juga sih apa yang dikatakan kak Rika. Bang Pino bukan siapa-siapa yang harus aku gantungkan harapku terlalu tinggi, dia hanya pria asing yang kebetulan sempat hadir untuk mewarnai hidupku.
Aku memutuskan untuk melanjutkan keseharianku seperti semula. Menyibukkan diri dengan banyak kegiatan demi melupakan sosok dengan senyum ramah itu. Melanjutkan kuliah, ikut les masak memasak, ikut kursus menulis demi menyalurkan perasaan yang tak bisa kuutarakan pada siapa pun selain pada goresan sederhana.
Ramadhan tahun kedua hampir tiba. Masa di mana aku merasa terguncang dengan satu kabar yang ingin kutepis jauh-jauh. Kabar tentang Bang Pino akan melabuhkan biduk cintanya pada seorang wanita yang entah siapa.
Lagi-lagi Kak Rika yang menjadi sumber berita. Aku ingin tak percaya, tapi Kak Rika punya selembar bukti kuat untuk menamparku. Aku ingin mengelak dan melanjutkan memupuk rindu, tapi segala kenyataan itu setiap hari makin mengganggu kinerja jantungku.
Ini tak bisa dibiarkan, bertahun-tahun aku menggantungkan harap dengan janji manis pria itu. Segenggam rindu yang sudah lama kusimpan tak bisa dibiarkan lesap dan sia-sia begitu saja. Jadi, aku memutuskan untuk kembali mencarinya. Pria dengan senyum ramah yang hampir setiap hari membuatku menangis menggila karena terombang-ambing dalam ketidakpastian rasa.
Tepat seminggu sebelum akhir tahun, aku kembali ke kota penuh kenangan itu. Selain untuk mengantarkan rindu yang ingin berujung temu, aku ke sana juga untuk menyaksikan dengan kepala sendiri bahwa kabar dari kak Rika hanya sebuah desas-desus belaka.
Sayang seribu sayang, begitu aku sampai di kota kelahiran si pria pujaan, bukan sambutan hangat yang aku terima. Melainkan hunusan belati tak kasat mata yang menghujam jantungku dengan kejamnya. Seiring dengan senyum pria yang kupanggil abang itu pada perempuan di hadapannya. Perempuan cantik yang memakai mahkota cantik di kepalanya. Pertanda bahwa ia tengah menjadi ratu sehari, sedangkan pria pujaanku itulah yang menjadi rajanya.
Aku tidak tau bagaimana keadaanku sekarang. Namun yang pasti dadaku sesak, mataku berembun, sarat dengan luka dan kecewa. Seumur hidup belum pernah aku merasakan sakit seperih ini. Namun sekarang, semesta seolah sedang mengejek dengan kesakitan yang ditorehkan oleh manusia yang padanya kujatuhkan semua mimpi dan harapku.
"Bang," suaraku mengalun parau.
Pria yang senyumnya selalu menghiasi mimpiku itu menoleh. Sepasang netranya membeliak sempurna tatkala bersirobok dengan mataku yang tertutupi embun. Wajahnya pucat pasi tatkala aku melangkah mendekat dengan langkah yang lemah gontai.
Kemana senyum ramahnya?
Kemana tatapan teduhnya?
Kemana suara hangatnya?
Kenapa wajah tampannya memucat di pertemuan kami yang seharusnya penuh rindu ini?
"Melisa!" sahutnya serupa bisik.
"Maaf..." kata kedua yang terjaring sangat pelan di telingaku, sebelum semuanya menjadi ... gelap.
***
7 tahun berselang,
"Serius lo mau pindah ke Jakarta, Mel?" itu respon dari Kak Elvin saat pertama kali mendengar kabar tentang kepindahanku ke ibu kota.
Aku sih hanya mengangguk sekilas tanpa menatap sepasang manik matanya yang mengerjap penasaran.
"Woo … ya jelas dong," jawabku sambil mengerling pada akhirnya.
"Alasannya?"
Ternyata perempuan cantik yang baru tiga minggu melahirkan ini tetap saja mengejarku dengan pertanyaan senada. Elvin Eleanor, atau yang biasa aku panggil Kak Vin, adalah salah satu penulis novel ternama yang beberapa bukunya meledak di pasaran. Enam dari delapan novel cetak karyanya aku yang menjadi editornya saat itu. Lambat laun kami jadi sangat dekat, apalagi setelah tahu kalau Kak Vin ini seniorku di kampus yang sama.
"Nggak usah pura-pura nggak tau alasannya deh, Kak," gurauku meninju pelan lengan atasnya.
"Bayu?"
Aku menaikkan kedua alisku bersamaan. Nama itu memang menjadi salah satu alasan kepindahanku ke Jakarta. Pria yang sempat aku sayangi sepenuh hati namun ternyata sangat tega membohongi dengan begitu keji. Makhluk bangsat memang!!
"Ada alasan lain sih sebenernya," seruku lagi lantas duduk di sebelah Kak Vin.
"Alasan apa?"
"Gue dapet promosi dong, jadi managing editor di kantor pusat Gayatri," sambungku sambil menaikturunkan alis bersamaan.
"Whooaah ngeri, ngeri, ngeri," respon Kak Vin berlebihan. "Tapi itu artinya elo bakalan pindah permanen dong di sana, jarang ketemuan lagi dong kita." Ibu dua anak itu langsung memeluk erat tubuhku dan manyun berlagak sedih.
"Diih, lebay. Ini cuma ke Jakarta kali, bukan ke Zimbabwe yang jauhnya nggak ngotak."
"Ya tetep aja, nggak bisa ketemu sering-sering kayak gini lagi," keluh Kak Vin lagi. Berlebihan sih, tapi ya memang seperti itu perangainya. Aku sudah hapal luar dalam sejak menjadi sahabatnya bertahun-tahun lalu.
"Kalau lagi liburan kan tetep bisa ketemu, Kak," sanggahku menepis kekhawatiran sahabat terbaikku ini.
“Terus nyokap lo?"
"Nyokap ya nggak gimana-gimana, tetap di sini sama Mbak Merry." Mbak Merry itu kakakku satu-satunya. Sudah berumah tangga dan sekarang sedang sibuk mengajar di salah satu perguruan tinggi ternama di Surabaya.
"Maksud gue, emang sekarang elo nggak dikekepin lagi sama Tante Nisa? dari dulu kan tante selalu berat ngelepas elo jauh-jauh setelah hampir jadi korban gempa yang dulu itu."
Mendengar kalimat panjang Kak Vin, sontak membuatku tergelak. Apalagi karena ia masih mengingat tentang kejadian dimana aku hampir menjadi korban bencana alam saat awal-awal menjadi jurnalis tujuh tahun silam. Masa-masa gemilang yang mengawali karirku saat ini di Gayatri Publishing, sekaligus masa yang ingin aku kubur dalam-dalam jika mengingat sekelumit romansa yang sempat membuat hatiku patah berkali-kali.
"Nggak lah, nyokap oke-oke aja kok. Gue udah bukan ABG labil lagi Kak, nggak akan bolak balik ke perantauan demi cowok lagi kayak jaman firaun dulu," sahutku masih tergelak. Sepertinya menertawakan diri sendiri memang bisa jadi obat mujarab untuk mengurangi patah hati.
"Nasib percintaan kita kayaknya nggak jauh-jauh amat ya ngenesnya, Mel." Kali ini Kak Vin terkekeh. Ibu mudah itu sampai meletakkan bayi kecilnya di kasur sebelahnya agar tak ikut terguncang setiap kali sang ibu tertawa. "Dulu gue terjebak lama sama Ervan sebelum Mas Rega datang berkali-kali dan bikin gue melek mata dan hati. Sedangkan elo ... susah banget move on dari Bang Fino, eh begitu ketemu sama Bayu ternyata lebih bangsat lagi perangainya."
Eehh... Bang Fino?
Kenapa nama itu kembali membuat dadaku berdesir?
Ckk, Kak Vin nggak lihat sikon banget deh, kembali nyebut tuh nama sakral.
"Sssttt ... mulut lo Kak, ada di dekat bayi malah ngomong bangsat-bangsat," decihku mengalihkan perhatian.
Kak Vin buru-buru menepuk bibir beberapa kali seolah baru tersadar dengan kalimat kasarnya. "Laah, mulut lo juga, asem lo emang!"
"Eh, tapi emang bener sih ya? nasib percintaan kita gak ada yang beres. Elo mah enak, sekarang udah ajeg, tenang, tentram, damai, harmonis plus romantis abis sama Mas Rega. Lah gue? punya mantan suami bangsat kuadrat amat cuma jadiin gue tambang emas!"
"Ya udah kalau mantan suami bangciat, balik aja ke si Abang cinta pertama lo itu?"
"Cinta pertama gue udah jadi suami orang kali." Bibirku mencebik masam. Tapi dalam hati aku sempat mempertanyakan bagaimana kabar pria si cinta pertamaku itu?
"Eh iya ya? jangan deh, jangan sampe tragedi kebegoan gue dulu terulang di elo, Mel." raut wajah Kak Vin berubah sedikit lebih serius. Aku yang sudah mengenal Kak Vin luar dalam, paham betul apa maksud kalimatnya. Beberapa tahun silam drama rumah tangganya memang mencengangkan dan membuatku ikut pusing karena menjadi saksinya. Beruntung, drama pilu itu sudah berakhir manis. Sebaliknya, sekarang aku yang baru saja memulai drama lainnya.
"Sayang, Barra udah tidur kan? Bagas haus nih?" suara familiar Mas Rega-- suami Kak Vin, membuat kami kompak menoleh ke arah pintu.
"Sudah Mas, sini gantian Bagas yang aku susuin." Kak Vin mengulurkan tangannya hendak menggendong bayi mungil dari tangan sang suami.
Informasi saja, Kak Vin ini baru saja melahirkan bayi kembar laki-laki. Bayi mungil yang tengah tertidur di sebelahnya bernama Barra. Sedangkan bayi mungil yang baru saja dibawa masuk Mas Rega bernama Bagas, kembarannya. Bukan itu saja, keluarga mereka juga lengkap dengan adanya putri sulung mereka yang bernama Malika. Melihat bagaimana bahagianya Kak Vin saat ini membuatku ikut merasa lega. Namun juga ada sejumput rasa iri menyayat hati karena kisahku berkebalikan dengan kebahagiaan keluarga Kak Vin.
"Meli senyam senyum terus dari tadi, pengen gendong juga ya?" pertanyaan Mas Rega memecah gelembung lamunku. Pria itu duduk di sebelah Kak Vin di sisi yang lain karena akan menggendong bayinya yang satu lagi.
"Pengen sih, tapi masih takut, Mas. Kecil banget itu bayinya."
Bayi kembar Kak Vin memang begitu tampan menggemaskan, namun jujur, aku masih takut jika harus menggendong salah satu di antara mereka. Tubuhnya sangat kecil, aku yang tak ada pengalaman dengan bayi baru lahir tentu saja khawatir jika nanti salah posisi dan mengakibatkan tulang mereka patah. Berlebihan mungkin, tapi memang itu yang aku takutkan.
"Ajaib kalau baru lahir langsung gede, Mel." Tiba-tiba jemari usil Kak Vin mencubit lenganku.
"Ya makanya, aku baru berani gendong mereka nanti aja kalau udah gedean dikit," kilahku sambil mencebik kesal padanya.
"Belajar, Mel. Nanti kalau udah punya bayi sendiri biar semakin luwes," ujar Kak Vin memasang senyum lebar.
"Hadeeeh, calon bapaknya aja belum ada hilal, Kak. Gimana bisa bikin bayi? ngadi-ngadi lo ya!"
"Ya ... kali aja nanti di Jakarta dapet cowok oke yang nggak bangciat lagi, Mel."
"Loh, Meli mau pindah ke Jakarta?" Mas Rega menoleh cepat ke arahku. Alis tebalnya terangkat satu, membuat wajah tampannya terlihat lucu saat penasaran seperti ini.
"Yoi, Mas. Makanya aku ke sini nengokin baby sekalian mau pamitan sama kalian berdua."
"Pindah kerja?" imbuh suami Kak Vin itu lagi.
"Masih di Gayatri, cuma dipindah ke kantor pusatnya aja," jelasku membuatnya manggut-manggut.
"Naik jabatan dia, Mas. Makanya langsung sikat aja pas diminta pindah ke ibu kota. Eeh... sekalian ngelupain Bayu sih katanya," sambung Kak Vin memperjelas.
"Eeh, sorry ya, gue udah lupain si Bayu kok. Laki modelan berang-berang gitu mah gampang lupainnya," selaku cepat-cepat.
Seperti aku yang mengikuti perjalanan cinta Kak Vin dan Mas Rega, seperti itu pula mereka berdua paham dengan kisahku dan Bayu di masa lalu. Jadi tanpa sungkan aku bebas mencemooh mantan tak tahu aturan itu di depan mereka.
"Halah... sok ngatain berang-berang, tapi pernah cinta juga," goda Kak Vin sambil terkikik. Ternyata meskipun sudah menjadi ibu tak menyurutkan sifatnya yang suka mencibirku.
"Sekarang udah nggak bersisa, Kak. Gue mah gampang move on kalau berhadapan sama cowok karbitan kayak dia. Sial aja dulu cepat percaya sama tuh mulut comberan."
Bayu memang baik saat kami pertama kali kenal dan menjalin kedekatan. Kenapa aku bilang sial? karena aku terlalu percaya di awal, tapi kebusukannya baru terbongkar setelah kami menikah beberapa bulan. Sial kuadrat kan?
"Berarti kalau sama si abang yang satunya gak gampang move on ya?"
"Abang siapa? yang di Medan itu bukan?" Mas Rega ikut menimpali. Bapak-bapak masa kini ternyata kepo juga ya?
"Sstt ... nggak usah bahas dia lagi deh, kalau jantung gue kembali bergetar kalian mau tanggung jawab?" protesku membuat sepasang suami istri itu tergelak bersamaan. Dasar kampretlah mereka ini, kompak banget kalau soal merundung sahabatnya sendiri.
"Kalau elo masih jengkel dan ketar-ketir sama dia, berarti elo belum move on dari tuh cinta pertama lo, Meli!!"
Aku melengos enggan menjawab. Karena kalau boleh jujur, seorang Arfino Hesta memang tak pernah pergi dari sudut hatiku. Pria jangkung itu seolah punya tempat tersendiri yang tak akan terganti oleh pria manapun. Sekarang hingga selamanya.
"Iya kan?" lanjut Kak Vin lantas menaikturunkan kedua alisnya usil.
Aakhhh ... Kak Vin asemm!!
Jengkelin banget hari ini malah bahas si Bang Pinpin lagi. Kan sama saja seperti mengorek cinta lama yang terpaksa berpisah karena tak mendapat restu semesta!
***
Sial, sial, sial..!!
Bukan aku mendadak terngiang-ngiang lagu populer yang dibawakan penyanyi cantik Mahalini. Bukan. Namun, ini karena aku baru menyadari perasaanku pada Bang Fino tak pernah usai bahkan hingga bertahun lamanya kami terpisah.
Terbelenggu pada perasaan yang sama selama bertahun-tahun ternyata sangat menyiksa dan semenyesakkan ini ya? Sekuat apapun aku mencoba menyangkal, kenapa semua rasa tetap tertuju pada satu nama itu. Ckk, lagi-lagi sial kan?! Padahal beberapa kali aku pernah menjalin kedekatan dengan pria berbeda sejak kenyataan pahit yang aku dapatkan dari kisah kami berdua. Aku dan Bang Pino maksudnya. Kalau dia, entah bagaimana kelanjutan hidupnya, yang aku tahu hanya ... Bang Pino mengingkari janjinya padaku sejak ia menikahi perempuan lain. Selebihnya, aku memilih tak tahu dari pada harus mengulang perihnya luka karena terbakar cemburu.
Dan ini semua karena obrolan dengan Kak Vin dan Mas Rega beberapa hari lalu. Pasangan itu sengaja menyebut nama Bang Fino di pertemuan kami. Salah satu hal yang menjadi pemicu aku akhirnya membuka folder tersembunyi di laptop yang berisi foto-foto lawas kami berdua. Semua masih tersimpan rapi di sana, mulai dari foto kami berdua pertama kali ketika singgah di Pantai Panjang hingga gambar-gambar lain yang menunjukkan betapa dekatnya kami saat itu.
Bukan hanya satu atau dua gambar, tapi ratusan pose yang ambil ambil di beberapa tempat yang berbeda. Saat itu memang kami sangat senang bepergian dari satu tempat ke tempat lain, terutama jika tempat tersebut masih berkaitan dengan pantai. Kami, aku, Bang Fino juga beberapa kawan yang lain selalu meluangkan waktu setidaknya sekali dalam dua minggu untuk berkumpul dan merencanakan perjalanan itu.
"Heh, ngelamun aja!" Tahu-tahu mama menepuk pundakku. Ternyata aku melamun terlalu lama. “Taksinya udah deket itu, ayo siap-siap. Mana aja tasmu?”
Mama memaksa ikut mengantarku ke Jakarta hari ini. Padahal ya, aku kan bukan anak kecil lagi. Aku perempuan dewasa yang bahkan pernah menikah (meskipun itu gagal), ya kali kemana-mana masih dikawal orang tuanya. Tapi ya, begitulah seorang ibu, sedewasa apapun anaknya akan tetap dianggap anak kecil yang harus mereka lindungi kapanpun.
“Iya, Ma, iya. Astaga … semangat banget sih, Mama. Ngalah-ngalahin aku yang mau pindah ke sana,” cibirku mengundang gelak kecil di sudut bibirnya.
“Ya harus semangat dong,” ujar Mama sambil mengangkat travel bag berukuran sedang berisi beberapa helai pakaiannya. “Mau nganter anaknya buka lembaran baru masa nggak semangat sih?”
Aku berdecak memiringkan senyum. Membuka lembaran baru ceunah!
“Mama ada-ada aja. Aku cuma mutasi kerja, Ma. Bukan menempuh hidup.”
“Ya kali aja nanti di Jakarta kamu ketemu sama jodohmu yang beneran. Nggak kaleng-kaleng kayak sebelumnya.” Mama enteng sekali membahas masalah jodoh seolah aku ini harus banget cepet-cepet ketemu pasangan baru dan menikah. Lagi. Padahal, belum ada satu tahun aku menyandang status janda setelah terlepas dari mantan biadab itu.
“Hadeeh, Mama, ih. Ujung-ujungnya nggak nyambung deh,” decakku manyun.
“Lho, Mama ini cuma doain yang baik-baik. Kok dibilang nggak nyambung.”
“Ya wes terserah Mama deh, itu taksinya udah dateng, Ma.” Aku mengendikkan dagu ke arah pagar, dimana mobil berwarna putih berhenti di halaman rumah kami yang tak seberapa luas.
Kami masuk ke dalam mobil dan mulai membicarakan hal lain, aku yang sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Salah satu ciri perempuan lah yaa, gampang banget belok dari satu topik ke topik lainnya. Pokoknya nggak lagi bahas mantan atau desakan untuk membuka hati pada orang baru, aku sih nyaman-nyaman saja.
Bukannya apa, mamaku ini tanpa sadar kadang gemar sekali membujukku agar segera memiliki pasangan baru. Bukan karena dikejar usia, usia dua puluh tujuh masih aman kok menurutku. Melainkan karena banyak sepupuku yang sepantaran denganku, atau bahkan usianya di bawaku, akan segera melepas masa lajang. Jadi di setiap acara keluarga, pastilah mama menjadi sasaran empuk yang selalu ditanya perihal menantu dariku.
"Kamu udah hubungi Anya?" tanya Mama ketika kami sudah masuk ke gerbong kereta api. Iya, kami berdua naik kereta api menuju Jakarta. Meskipun ada mobil peninggalan papa, kereta api masih menjadi alat transportasi favoritku dan mama sejak aku kecil.
“Udah dong, Ma. Semalam aku udah hubungi ulang kok. Nanti begitu nyampe Jakarta, dia maksa akan ngirim supir buat jemput."
"Heh, kok sampe repot-repot gitu?" Mama tampak terkejut karena spontan saja menepuk punggung tanganku.
"Aku nggak pernah minta, Ma. Udah aku tolak berkali-kali juga. Tapi Mama tau sendirilah gimana loyalnya Anya kalau udah sama temen sendiri." Aku mengeluarkan muffin yang tadi aku beli di food court. Kue kesukaanku ini selalu menjadi teman perjalanan terbaik selama aku bepergian.
"Ya pokoknya jangan banyak ngerepotin orang aja nanti di sana. Kemaren soal apartmen udah dibantuin Anya, sekarang masalah jemputan juga dibantu dia juga. Pokoknya jangan sampai kamu dianggap dompleng sama dia ya, tau dirilah pokoknya."
Ngomong-ngomong soal Anya, dia ini teman dekatku sejak masa SMA dan kuliah. Meski hubungan kami sempat renggang sejak semester enam, karena dia terlalu asyik bekerja di salah satu WO dan punya pekerjaan sambilan lainnya. Akan tetapi meskipun jarang bertemu secara langsung, kami tetap rutin bertukar kabar lewat pesan singkat atau telepon. Aku bahkan datang saat pesta resepsinya dengan Senopati Rajata tiga tahun silam. Gelaran pesta yang sukses bikin melongo juga sih, karena Anya yang terkenal dingin, ketus, tomboy dan ratunya cuek sejak lama, ternyata sekarang jadi menantu dari keluarga Dwisastro, konglomerat yang namanya udah bikin keder aja kalau mendengarnya.
"Mama ih, dompleng-dompleng apaan. Aku juga ngerti situasi kali, lagian aku sama Anya deket nggak setahun dua tahun aja, Ma. Kami udah kayak luar dalem kok," sanggahku setelah gelak tawaku reda. Mamaku ini memang overthinking-nya nggak ada lawan deh.
"Jadi, besok begitu kita nyampe stasiun pasar senen udah ada yang jemput gitu?"
"Ya begitulah, Nyonya, supir Anya bakalan standby nungguin kita. Setelah itu langsung ke apartmennya sekalian."
Sejak pertama tahu perihal kepindahanku ke Jakarta, Anya langsung antusias hingga tiba-tiba menawarkan apartmen miliknya yang sudah lama kosong karena penyewanya pindah ke luar negeri. Daripada terlalu lama tak berpenghuni, ibu muda itu menawarkan padaku agar bersedia tinggal di sana. Aku langsung menyetujui dengan syarat ia mau menerima uang sewa dariku, karena awalnya dia menolak tegas ide tersebut. Bisnis tetap bisnis kan, jadi ya ... aku memaksa tetap membayar sewa apartemen tersebut.
Keesokan harinya pukul setengah sembilan pagi, aku dan mama sudah sampai di Stasiun Pasar Senen Jakarta, dan benar saja, ketika kami keluar ternyata sudah ada seorang pria paruh baya yang memegang selembar kertas bertuliskan namaku. Beliau adalah supir yang dikirim Anya untuk menjemput kami berdua, yang belakangan aku ketahui bernama Pak Heri. Selain ramah, Pak Heri juga sangat tanggap membantuku dan mama memindahkan dua koper besar milikku dan travel bag milik mama.
Tak sampai satu jam kemudian aku dan mama sudah sampai di gedung apartment milik Anya. Apartment yang akan aku jadikan tempat tinggal selama menetap di Jakarta, namun aku langsung menyesali keputusan unutk menerima tawaran Anya saat aku tahu apartmen versiku dan apartmen versi Anya sangat jauh berbeda.
“Anya, lo gila, sumpah gila!!” pekikku saat Anya mengangkat panggilan telepon video dariku di seberang sana.
“Heh, kambing kampret!! pake ucap salam dulu kek, ini baru ngomong malah ngatain gue gila,” jawab Anya di ujung sana. Meskipun sudah berubah status menjadi seorang ibu dari seorang putri ternyata tak bisa begitu saja menghilangkan umpatan dan sumpah serapah yang sangat fasih keluar dari mulut seorang Revanya.
“Kemaren elo bilang apartmennya tipe biasa, tapi in—” aku kehilangan kata-kata saat kembali mengamati unit apartmen mewah—ralat, super duper mewah yang ia sewakan padaku. “Ini apartmen yang gila banget mewahnya, Anya. Harga yang gue bayar kemaren tuh nggak ada sepertiga sewanya kali,” lanjutku menggerutu saat berjalan ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan padatnya ibukota dari ketinggian lantai delapan belas.
Tak jauh berbeda dariku, sejak masuk unit, Mama langsung melongo. Dan sekarang beliau sedang mengitari seluruh ruangan mewah di unit ini. Dua kamar tidur berukuran besar, dua kamar mandi, dapur bersih, ruang makan, ruang tengah yang sangat elegan, bahkan ada kamar untuk asisten rumah tangga. Benar-benar unit apartmen yang diluar bayanganku semula.
“Oh, elo udah nyampe apartment? udah ketemu Hanif kan? yang nganterin elo ke unit.” Anya ternyata tak menanggapi kalimatku, malah menanyakan hal lain.
“Iya, iya … gue udah ketemu sama asisten pribadi laki lo tadi di lobby, udah diantar naik juga sampe unit yang kata lo, biasa banget ini. Astaga Anya … gue cancel aja deh ya nyewa di sini, harganya bikin rekening gue keder.”
Terdengar gelak tawa khas dari sahabatku itu. “Bisa aja lo kampret! nggak bisa pokoknya nggak bisa! Elo kan udah bayar, nggak bisa gitu aja refund dong!”
“Tapi, An, gue beneran nggak bisa tinggal di apartmen mewah kayak gini.”
“Heleeh, Meli, nggak usah lebay deh, pokoknya udah deal, elo tinggal di sana selama stay di Jakarta, atau … elo mau gue ngambek seumur hidup?” dari layar ponsel aku bisa membaca raut wajahnya yang berubah manyun saat mengibaskan telapak tangannya.
“Ckk, ratu drama,” keluhku karena rasanya akan sangat sulit memenangkan perdebatan dengan Anya.
“Hadeeh, berisik!! pokoknya gue nggak mau tau gimana caranya elo tetep tinggal di apartmen itu. Udah dulu ya, gue lagi riweh ini, lagi ikut Mas Seno ke pembukaan restoran punya temennya.”
Dari apa yang terlihat di layar video menampilkan suasana ramai di suatu tempat makan yang cukup luas. Pantas saja suara Anya terdengar tak begitu jelas karena banyak orang juga di sekitarnya.
“An, dicari Seno tuh di sebelah, Mika nangis katanya habis nyungsep. Dasar si Seno bapak kurang akhlak, anak cantik dibiarin nyungsep gitu aja!” suara pria yang tak begitu asing di telingaku terdengar. Sepertinya dari salah satu teman Anya, karena sosoknya hanya terlihat sebagian lantaran ada di samping Anya. Tapi suara itu benar-benar menggangguku, karena…
“Eh, Mika ya? thank you ya, Bang Hes.” Anya terdengar menimpali dan mengangguk cepat.
“Siapa An?”
“Eh, Mel, gue tutup dulu ya? di cari Mika nih,”
“Yang barusan siapa?” kejarku tak mau dihantui rasa penasaran.
“Oh itu tadi Bang Hesta, temennya Mas Seno, dia yang punya restoran ini. Udah dulu ya, nanti gue telpon balik, Bye, muah-muah, salam buat Tante Nisa,” pungkas Anya tergesa-gesa hingga tak memberiku kesempatan balik bertanya karena mendadak saja layar ponselku sudah berubah lantaran panggilan sudah terputus.
Hesta… Hesta…
Suara itu … jangan sampai Hesta yang dimaksud Anya barusan adalah Hesta yang aku kenal bertahun-tahun silam.
Arfino Hesta.
****
Eaaa, emang nama Hesta pasaran banget ya Mel, bikin hati ketar-ketir aja? 😆😆