Chandani itu seperti berlian. Dia kuat, cantik dan berharga. Cantik tak hanya paras. Ketangguhan dalam menghadapi masalah pun membuatnya tampak mempesona. Itulah yang disebut kecantikan abadi. Kecantikan yang sesungguhnya, kecantikan hati, kecantikan yang tak termakan usia.
***
Ketika kegelapan menjadi satu-satunya cahaya
Sanggupkah dia menerimanya?
_
Chandani tengah berdiri di dekat sebuah kamar pas di dalam sebuah butik. Meski tirainya hanya terbuka sedikit tetapi, dia dapat melihat dengan jelas ke dalam. Matanya nyalang dengan tubuh gemetar. Chandani mengepalkan tangannya kuat hingga buku jarinya memutih. 'Astagfirullahaladzim, Ma.' Hatinya dengan gigi gemeretak. Dia mengumpat pasangan yang tengah berbuat mesum di hadapannya dalam hati.
Hatinya terasa dicabik dan ditarik paksa dari uluhati kala melihat sang ibu yang selama ini dia banggakan tengah bermesraan dengan seorang pemuda. "Kenapa mama tega ngelakuin ini ke papa?" gumamnya meracau.
Chandani Adiratna Bahuraksa dua puluh dua tahun. Gadis muslimah yang berparas cantik pemilik; mata berlian, hidung lurus mancung, dan bibir tebal mirip "Angelina Jolie". Tinggi badan seratus enam puluh sentimeter dengan berat empat puluh tiga kilogram. Wanita bertubuh tinggi kurus itu, baik nun lemah lembut terlihat biasa tetapi, tegar dan tegas dalam menjalani kerasnya kehidupan membuat Chandani tampak mengagumkan.
Chandani bukanlah seorang wanita kuat tetapi, tidak juga lemah. Banyak hal yang telah dia lalui sehingga kehidupan menempa gadis itu menjadi pribadinya saat ini. Berat memang. Masa lalu yang gelap kerap menghantui perjalanan hidupnya, seolah tak rela jika dia lupakan. Bermula dari kejadian pahit di masa silam, kemudian ayahnya sakit keras, dan kini ibunya berselingkuh. Entah cobaan macam apalagi yang menunggunya di depan. Yang bisa Chandani lakukan hanya ikhlas dan tawakal, percaya di setiap cobaan pasti ada hikmahnya.
***
Gadis berhijab itu berjalan terhuyung-huyung meninggalkan mereka yang tengah asik bercinta. Kakinya terasa lemas, terasa ada beban berat yang menggelayut di betis. Chandani tak menyangka ibunya akan melakukan hal sekeji ini. Ibunya yang pendiam ternyata memiliki rahasia yang menjijikan. Apa yang harus Chandani lakukan sekarang? Apakah dia harus melaporkan semuanya kepada ayahnya?
Entahlah ....
Mana tega Chandani melakukan itu. Jika dia sampai memberitahu ayahnya pasal hal yang baru diketahuinya ini, sama saja dia ingin membunuhnya. Sang ayah tengah sakit keras, tentu Chandani takut akan memperburuk kondisi Darma-ayahnya jika sampai dia mengatakan kenyataan pahit ini.
"Assalamualaikum." Chandani memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Alia. "Teteh udah pulang? Katanya bakal pulang malam, kok masih sore udah pulang?"
Alia Kanaya Bahuraksa, lima belas tahun. Adik satu-satunya Chandani. Gadis remaja yang bersurai panjang itu memiliki kontur wajah tak jauh berbeda dari sang kakak. Alia cantik dengan bentuk wajah oval, mata monolid, hidung lurus, dan bibir tebal. Tinggi badan seratus lima puluh empat sentimeter dengan berat empat puluh dua kilogram, tubuh Alia agak berisi.
"Iya, Dek. Kebetulan kerjaan Teteh selesai cepet tadi. Alhamdulillah, Teteh, bisa pulang cepat. Gimana keadaan papa?"
"Papa habis makan tadi, sekarang sudah tidur."
"Syukurlah." Chandani memalsukan senyuman.
"Teteh, kenapa?" Alia menatap Chandani penuh selidik. Dia melihat mata kakaknya yang sedikit sembab. "Teteh, abis nangis yah?"
Chandani cepat menggeleng. "Nggak, Teteh, nggak nangis, kok." Mulutnya melengkung membentuk senyuman.
"Bohong!" tukas Alia. "Teteh, pasti abis nangis kan?" Sekali lagi Alia menatap kakaknya dengan penuh rasa penasaran.
"Sudahlah. Itu nggak penting. Mending kamu istirahat, gih. Kamu pasti cape habis jagain papa seharian." Tangan Chandani membelai lembut pipi adik semata wayangnya tersebut.
"Hoam." Alia menguap lalu merenggangkan tubuhnya. Benar yang dikatakan kakaknya. Dia memang lelah setelah seharian menjaga ayahnya yang lumpuh. "Teteh bener. Lebih baik aku istirahat sekarang. Aku ke kamar dulu, yah?"
"Hmm." Chandani mengangguk. "Nanti kalo makan malam sudah siap, Teteh bangunin kamu, yah?"
"Sipp." Alia tersenyum seraya mengacungkan kedua jempolnya lalu pergi memasuki kamar.
Chandani duduk di sofa. Dia menyandarkan punggungnya malas ke punggung sofa. Wajah Chandani menengadah, menatap kosong ke langit-langit rumah. Yang dia lihat di butik tadi sungguh mengejutkan. Chandani merasa sangat syok dan kecewa. 'Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?' Hatinya.
Bendungan di pelupuk yang coba dia tahan pun akhirnya jebol. Chandani terisak.. Dia membekap mulutnya dengan bantal sofa agar dapat meredam suara, supaya ayah dan adiknya tak dapat mendengar tangis lirihnya kini.
Chandani menggigit bibirnya dengan tangan mencengkram kuat kulit sofa. Ingin rasanya dia memukuli seseorang untuk melampiaskan kemarahan.
Kabut kelabu semakin tampak gelap menyelimuti kehidupan Chandani. Seolah takkan ada cahaya terang. Seolah hidupnya ditakdirkan gelap seumur hidup. "Ya Allah, kuatkan hambaMu yang payah ini."
***
Pagi menyapa dengan hangat. Sinar kuning keemasan menerangi setiap sudut rumah melalui celah jendela yang dibuka. Embun bening bak berlian tampak berkilauan kala terpapar sinar sang surya. Tak luput pula kabut putih yang mengambang di udara membuat dingin suasana pagi terasa merasuk ciri khas di kota Kembang. Di tengah kesejukan pagi, Chandani dan Alia tampak sibuk berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk keluarga tercintanya.
"Pagi, Sayang," sapa Miranda. Dia mengecup kening kedua putrinya bergantian.
"Pagi, Ma." Alia tersenyum manis kepada sang ibu.
"Pagi." Chandani berusaha bersikap biasa saja meski bayangan pengkhianatan ibunya terus saja menari-nari dalam ingatan.
Mereka bertiga pun duduk mengitari sebuah meja bundar dan mulai menikmati sarapan.
"Sayang, hari ini, Mama, pulang malam lagi. Akan ada investor penting datang ke butik." Miranda melemparkan senyuman manis ke arah kedua putrinya.
"Hmm." Chandani memanggukan kepala. Dia merasa curiga. 'Investor kok datangnya malam-malam?' Batinnya.
"Dek, tolong jagain papa lagi, yah," kata Miranda.
"Siap, Ma!" Alia mematuhi perintah ibunya.
Chandani segera bangkit dari duduk dengan kasar. "Maaf, aku harus berangkat sekarang. Assalamualaikum." Dia menyandang tas selempangnya lalu beranjak pergi.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," balas keduanya bersamaan.
"Teteh kenapa?" tanya Miranda kepada Alia.
"Nggak tau." Alia mengangkat sebelah bahunya sambil memonyongkan bibir.
Miranda hanya menggeleng, dia tak menanggapi dengan serius sikap putri sulungnya itu. Mereka pun kembali fokus menikmati menu sarapannya.
"Canda, Kuy." Alisia yang menyadarkannya Chandani dari lamunan.
"Em? Apa?" Chandani mendongak menatapnya yang duduk di depan meja kerja.
"Lo napa sih? Pagi ini gue perhatiin ngelamun terus. Lo lagi sakit?" Alisia.
"Nggak, kok." Chandani tersenyum lalu sepersekian detik kemudian wajahnya menampakan keraguan. "Aku cuma lagi mikirin presentasi nanti. Aku kuatir investor kita nggak suka." Air muka Chandani tampak gundah.
"Eeleh … kirain ada apa." Alisia menyeringai lega. "Santai saja kali, Sis. Fokus. Karena kalo lo gugup, sebagus apa pun proposal yang lo presentasikan, pasti bakalan jadi buruk. So, kuncinya hanya satu, lo harus rileks." Dia menasihati.
"Kamu benar, Lis. Aku harus rileks. Jangan sampai gugup. Makasih ya, Lis, udah ingetin aku. Semoga presentasi nanti berjalan lancar dan kita bisa menandatangani kontrak kerjasama dengan KPG. Amin."
"Amin." Alisia menelungkupkan kedua telapak tangannya ke muka.
Chandani pun menghela nafas panjang, lalu kembali pusat membaca lembar demi lembar map di hadapannya.
"Jangan lupa nanti ngucap Bismillah ye, Sis." Alisia.
"Pasti. Insyaallah." Chandani.
"Semangat, Sistah!" Alisia tersenyum puas kala berhasil mendokterin Chandani.
Tak berapa lama, terdengar suara pintu diketuk lalu Mirna pun masuk.
"Kak Canda, para tamu kita udah datang, tuh," lapor Mirna.
"Oke." Chandani segera bangkit dari duduknya. "Aku ke ruang rapat dulu, Lis."
"Sip." Alisia mengacungkan jempolnya. "Awas! jangan gugup ye, Sis." Alisia mengingatnya.
"Hmm." Chandani mengangguk dengan tegas lalu dia pun beranjak pergi.
Dikarenakan ayahnya sakit. Maka Chandani lah yang kini mengambil alih perusahaan tekstil yang dipimpin sang ayah. Hari ini merupakan hari penting bagi wanita muda itu. Karena hari ini dia akan kedatangan seorang investor besar sekaligus pemilik perusahaan multinasional raksasa di negerinya.
"Selamat pagi semuanya," sapa Chandani dengan senyum ramah untuk kesopanan.
"Pagi." Tampak satu orang pria dan dua orang perempuan yang berada di ruangan tersebut membalas sapaan Chandani bersamaan.
Lalu seorang pria bernama Andy pun gegas berdiri. "Bu Chandani, mohon maaf, Tuan Aldebaran nggak bisa mengikuti rapat lagi. Beliau ada pertemuan penting dengan Pak Menteri. Tapi sebelum saya berangkat tadi, beliau mengatakan akan menyaksikan via virtual."
"Oh silakan, Pak. Mau lewat sambungan apa, Gmeet atau Zmeet? Biar saya sediakan." Chandani.
"Nggak usah, Bu. Gapapa lewat ponsel saya saja."
"Oh ya sudah kalo gitu." Chandani paham. "Baiklah, kita akan mulai presentasinya."
Andy pun menyalakan Zmeet pada ponselnya. Namun, si pendengar di sisi lain menyetel camera off. Sehingga hanya visual Chandani yang akan tampak di sana.
"Saya yakin semuanya sudah membaca proposal yang saya berikan dua hari yang lalu." Chandani.
Semuanya mengangguk mengiyakan.
Chandani pun mulai menjelaskan.
Proposal itu menyangkut tentang perencanaan pengembangan dan pemasaran produk. Selama ini Istana Tekstil yang dipimpin Chandani hanya mencukupi kebutuhan kain di dalam negeri. Namun, kali ini Direktur Utama Muda itu ingin memasarkan produk kain dari perusahaannya ke luar negeri. Chandani merasa kualitas kain produksi dari perusahaannya cukup baik dan memenuhi syarat sebagai barang untuk ekspor. Target pemasaran produk Istana tekstil meliputi negara-negara di Asia Tenggara dan untuk customer-nya, dia menargetkan perusahaan-perusahaan garment. Mengingat pertumbuhan perusahaan garment kini yang semakin hari kian bertambah banyak.
"Biaya proyek dan laba ruginya sudah tercantum dengan jelas di dalam proposal yang kalian pegang. Prospek investasi ini akan menguntungkan jika semuanya berjalan sesuai rencana. Saya akan mengawasi semua prosesnya dengan ketat. Saya nggak akan mengecewakan kalian, Insyaallah."
Mata ketiga pendengar itu terlihat berbinar. Bekerjasama dengan Istana Tekstil sungguh menjanjikan. Ditambah lagi Direktur Utamanya yang cerdas lagi santun. Seketika membuat mereka langsung mempercayai Chandani dan tertarik untuk berinvestasi.
Zmeet pada ponsel Andy sudah terputus dan beberapa saat kemudian, dia pun menerima pesan singkat dari sang bos.
"Tuan Aldebaran baru saja mengirimkan pesan singkat. Beliau mengatakan semakin tertarik untuk menjalin kerjasama dengan Istana Tekstil."
"Benarkah?" Wajah Chandani tampak cerah. Dia tak menyangka kalau seorang pebisnis besar seperti Aldebaran akan tertarik berinvestasi di perusahaan kecilnya. Entah ini keberuntungan atau apa? Namun, Chandani amat bersyukur untuk itu.
"Tuan memimta saya untuk segera membawakan formulir kerjasama kita."
"Masyaallah." Mimik wajah Chandani langsung menampakan kegembiraan. "Baik, Pak. Setelah ini saya akan mempersiapkan segalanya lalu mengirimkan langsung ke kantor KPG," tuturnya dengan pasti.
"Baik, Bu."
'Alhamdulillah.' Batin Chandani berbunga-bunga.
Setelah mengantarkan para tamunya keluar, Chandani pun segera kembali ke ruangan. Dia berjalan sembari terus tersenyum dan mengucap syukur setiap kali teringat presentasinya tadi. 'Aku berhasil ya Allah.' Monolognya.
Inilah buah dari usaha Chandani selama ini. Dia merasa ini pertanda baik bagi keberlangsungan karir dan hidupnya. Chandani kerap kali menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Hingga tak ayal dia akan pulang larut malam hampir setiap hari. 'Alhamdulillah.' Chandani tak kuasa menahan luapan kegembiraan
Sepertinya Chandani mulai menyukai pekerjaan ini. Karena sebab pekerjaan inilah insomnianya sembuh. Chandani tidak lagi kesulitan tidur atau memerlukan obat tidur setiap malam, sebab dia selalu pulang dalam keadaan kelelahan.
Sesampainya di ruangan, Chandani langsung disambut pertanyaan penasaran para temannya.
"Canda, gimana?" Alisia.
"Gimana, Kak?" Mirna.
Mimik wajah keduanya tampak tegang.
Chandani mendongak menatap Mirna dan Alisia dengan tatapan serius lalu seulas senyum perlahan tersungging di kedua sisi bibir cantiknya. "Berhasil!" serunya memecahkan keheningan.
Alisia dan Mirna sontak saling menatap keheranan lalu beberapa detik kemudian terkinjat kegirangan.
"Benarkah?!" tanya Alisia dengan roman wajah sumringah.
"Hmm." Chandani menganggukan kepala dengan tak melepaskan senyumannya. Hingga sepersekian detik seterusnya dia pun ikut melompat-lompat kegirangan bersama Alisia dan Mirna.
"Yee!!" seru ketiganya bersamaan.
***
"Presentasi tadi sungguh mengagumkan. Dia benar-benar fasih dan luwes dalam menyampaikan isi proposalnya," puji seorang pria yang tengah duduk di kursi keagungannya-Muhammad Aldebaran Prawiro, dua puluh empat tahun. Dia adalah pemilik King's Palace Group serta hati para karyawatinya. Bagaimana Aldebaran tidak akan menjadi idaman para kaum hawa, saat kesempurnaan fisik dan akhlak yang nyaris sempurna, dia miliki.
Pria keturunan bule itu terlihat tampan dengan bentuk wajah oval, hidung flesly, up-turned eyes, dan bibir tipis. Tinggi badannya seratus delapan puluh lima sentimeter dengan berat delapan puluh delapan kilogram. Para pegawai wanitanya yang semula berpakaian minim, kini satu persatu mulai menutup aurat. Semua itu tak lepas dari daya tarik Aldebaran yang begitu memikat. Pesonanya mampu memberikan perubahan besar pada sebagian besar karyawati di kantornya.
"Tuan benar. Selain cantik dan santun, Nona Chandani juga cerdas." Andy.
"Dia memang wanita yang sempurna." Aldebaran tersenyum simpul kepada lawan bicaranya.
"Kenapa, Tuan, nggak menghadiri sendiri rapat tadi? Padahal jadwal pertemuan dengan Pak Menteri nggak berbenturan dengan rapat proyek Istana Tekstil?" tanya Andy. Pria yang lebih tua tujuh tahun dari Aldebaran itu tampak penasaran.
Sebelumnya Andy merasa penasaran kepada sang majikan. Sebab tuannya itu bersikeras ingin membeli sejumlah saham dari Istana Tekstil. Padahal IT tidaklah memberikan keuntungan berarti, bahkan perusahaan itu juga sedang tidak stabil. Istana Tekstil hanyalah sebuah perusahaan tekstil kecil yang baru memiliki dua cabang di negara ini dan hampir bangkrut pada tujuh bulan yang lalu. Sangat berbeda jauh dengan KPG yang merupakan salah satu perusahaan multinasional besar dan kuat.
Namun, setelah Andy bertemu langsung dengan Direktur Utama dari perusahaan itu, dia mulai berasumsi. Mungkin tujuan sang tuan besar ingin menjalin kerjasama dengan IT bukan sebab untung rugi, tetapi karena jatuh cinta. Namun, segera Andy menepis pikiran itu. Tuannya bukanlah tipe pria sederhana yang akan rela menjadi seorang bucin "budak cinta" karena itu sangat bertolak belakang dengan kepribadian Aldebaran.
"Masih belum saatnya." Aldebaran tersenyum ramah.
Aldebaran sudah menyukai Chandani sejak dia masih duduk di bangku kelas enam SD. Gadis itu merupakan adik kelasnya. Namun, karena sikap egois dan kebodohannya dulu. Dia malah melakukan suatu kesalahan yang takkan termaafkan oleh gadis pujaannya tersebut.
Dulu usia Aldebaran masih belasan dan dia masih terlalu impulsif dalam mengambil keputusan. Dia mengira dengan melakukan hal bodoh itu, Chandani akan menjadi miliknya seutuhnya.
Namun, siapa sangka? Hal itu justru membuat Aldebaran kehilangan kesempatan bahkan hanya untuk sekedar mendekatinya. Beruntung keluarga Bahuraksa tidak melaporkannya ke polisi kala itu. Semuanya menggantung begitu saja.
Sudah lima tahun lamanya Aldebaran memendam rasa bersalah terhadap Chandani. Dia merasa menjadi laki-laki terbodoh di dunia, karena perempuan yang seharusnya dia lindungi, justru malah dia sakiti. Pria macam apa dia?
Aldebar mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang. [Assalamualaikum] Terdengar suara Daniel-ayahnya, dari sambungan telepon.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Aldebaran. "Dad, aku rasa malam ini waktu yang tepat untuk kita datang ke sana."
[Apa kamu yakin?]
"Iya, Dad, Insyaallah aku sudah siap menerima segala kemungkinan buruknya." Nada bicara Aldebaran penuh keyakinan.
Daniel menghela napas lelah. [Baiklah] Dia merasa tak habis pikir dengan apa yang diinginkan anak semata wayangnya itu.
"Terima kasih, Dad." Aldebatan tersenyum puas saat mendengar persetujuan dari sang ayah.
[Hmm, pulanglah ke rumah hari ini, kita berangkat ke sana bersama-sama nanti]
"Baik."
[Daddy tunggu, Assalamualaikum]
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Aldebaran lekas menutup sambungan telepon.
Kemudian Aldebaran menyandar malas sembari menengadah menatap langit-langit kantornya dengan seulas senyum mengembang di wajah. Dia merasa sangat bahagia karena hari yang selalu dia tunggu pun akhirnya tiba. Malam nanti Aldebaran akan berjumpa dengan Chandani-gadis pujaan. Dia akan melamarnya dan menjadikan Chandani pendamping hidup dunia akhirat, Insyaallah.
***
Kring! Dering ponsel Chandani.
"Assalamualaikum, Dek."
[Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Teh. Ini Papa pengin ngomong] Suara Alia dari sambungan teleponnya.
[Hallo, Teh] Suara Darma-ayahnya, dari sambungan telepon.
"Iya, Pa, ada apa?"
[Kamu pulang jam berapa?]
"Emmm." Chandani mengangkat tangannya sedada untuk melihat jam di pergelangan tangan. "Pukul lima, Pa. Kebetulan kerajaan aku nggak banyak hari ini."
[Baiklah]
"Memangnya ada apa, Pa?"
[Ada yang ingin bertemu denganmu]
Chandani mengerutkan kening. "Siapa?"
[Nanti juga kamu akan tau]
"Laki-laki?" tanya Chandani memastikan.
Ayahnya tak menjawab.
Sudahlah, yang ingin bertemu dengannya pasti seorang laki-laki. Chandani menghela napas lelah. Dia sudah malas menghadapi setiap pria yang melamarnya. Tidak bisakah para pria itu mengerti, kalau Chandani tidak ingin menikah? "Pa, Teteh kan, udah pernah bilang. Teteh nggak mau nikah, Pa," ucapnya lemas.
[Huss ... kamu itu ngomongnya jangan ke mana saja] ujar ayahnya memperingatkan dari sambungan telepon.
"Papa kan, tau sendiri alasannya." Chandani menyandarkan punggungnya malas di sofa.
"Teteh, hidup Papa mungkin nggak akan lama lagi. Papa, udah sakit-sakitan sekarang. Papa hanya ingin, saat Papa meninggalkanmu dan Alia nanti, kamu sudah memiliki seseorang yang bisa melindungi kalian, melindungimu dan adikmu," tutur Darma lirih dengan suara bergetar. Dia selalu merasa sedih setiap kali mendengar ucapan putrinya tersebut. Rasa bersalah kian menggerayangi. Sikap Chandani kini tak lepas dari kesalahannya dahulu.
"Papa ngomongnya jangan ke mana saja. Papa itu mau hidup sampai aku tua. Kita akan meninggalkan dunia ini bersama, Pa." Perlahan cairan bening mulai menggenang di telaga mata Chandani. Hanya membutuhkan sekali kedutan saja, maka benih bening itu akan meluncur.
Hati Chandani terasa nyeri saat mendengar kata-kata putus asa dari sang ayah. Dia belum siap untuk kehilangannya. Chandani sangat menyayangi Darma, dunia terasa gelap setiap kali dia membayangkan hari itu tiba. Dia takkan sanggup, dia tak mau jika harus kehilangan ayahnya, Chandani sangat mencintainya.
***
Chandani tengah membereskan meja kerjanya. Dia merasa malas untuk pulang. Namun, sebagai seorang anak yang baik, dia tidak boleh mempermalukan ayahnya. Dia takkan sanggup melihat wajah sedih kecewa sang ayah.
Entah anak siapa lagi yang akan ayahnya perkenalkan kali ini. Sudahlah, seperti biasa, Chandani hanya cukup menemui pria itu lalu semua keputusan ada di tangannya. Entah sudah berapa lamaran yang ditolaknya. Bukan Chandani sombong atau mempunyai selera tinggi terhadap laki-laki. Chandani hanya belum memiliki niatan untuk menikah. Dia masih ingin menikmati hidupnya yang sudah dirasa sempurna. Chandani merasa belum membutuhkan pendamping.
Chandani tahu kalau menikah merupakan salah satu sunnah para Rasul yang dianjurkan. Namun, menikah juga bukan hal mudah baginya. Karena setelah Chandani menikah, dia takkan bisa tinggal bersama ayahnya, dan takkan bisa lagi mengurusinya. Belum lagi trauma Chandani dulu yang membuatnya kesulitan menerima sosok orang baru di dalam hidupnya, terlebih laki-laki.
"Canda, lo kenapa?" Alisia heran kala melihat temannya menggeleng-gelengkan kepala seperti orang ayan.
"Nggak, aku gapapa," jawab Chandani singkat padat dan jelas.
"Hati-hati kesambet, lo. Gue perhatiin dari pagi lo ngelamun terus."
"Ya nggak lah." Chandani terkekeh pelan.
Alisia tersenyum sambil menggelengkan kepala lalu bertanya, "Em lo mau balik? Balik bareng, yuk? Tenang, gue anterin sampe rumah kok, Sistah."
"Emang nggak ngerepotin?"
"Ya elah, nggak kali. Masa nganterin lo doang ngerepotin, sih?"
"Ya udah deh, aku mau." Chandani setuju.
Alisia dan Chandani pun pulang bersama. Alisia merupakan salah satu karyawan di kantor ayahnya yang kebetulan seumuran dengan Chandani. Mereka baru saling mengenal sekitar enam bulan lamanya. Namun, karena Alisia yang mudah bergaul serta rendah hati, Chandani pun bisa dengan mudah akrab dengannya.
"Gimana kabar, Tuan Darma? Apa dia sudah membaik?" tanya Alisia dengan mata yang masih fokus melihat ke depan karena tengah menyetir.
"Alhamdulillah, kondisi papa sudah lebih baik sekarang.".
"Syukurlah. Kejadian waktu itu sungguh membuat semua orang kantor terkejut. Kami semua selalu mendoakan untuk kesehatan Tuan Darma, dia boss yang baik. Kami berharap, dia akan sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala."
"Amin! Terima kasih untuk kepeduliannya. Papa pasti senang kalau tau para karyawannya nggak pernah melupakannya, bahkan peduli dengan kesehatannya."
Alisia menoleh lalu tersenyum. "Canda, lo tuh perempuan yang baik, kenapa lo masih belum married? Jangan bilang kalo nggak ada yang mau sama lo, that's impossible." Dia kembali fokus menatap ke depan.
Chandani tersenyum ramah. "Mungkin belum sampai jodohnya, Lis."
Alisia hanya tersenyum lalu mengangguk.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan gerbang rumah Chandani. Wanita cantik itu pun turun dari mobil dengan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Alisia. Chandani berjalan sekitar dua menit sebelum sampai di depan pintu rumahnya. Pelataran tempat tinggalnya kini cukup luas dengan dihiasi berbagai macam jenis bunga dan dua pohon cemara kecil.
Saat memasuki rumah, Chandani mendapati ayahnya tengah menonton tv sebari duduk di kursi roda. "Papa, udah berseka?" tanya Chandani kepada sang ayah.
"Sudah tadi sama, Alia."
"Kalo makan?"
"Sudah tadi sama, Alia."
Chandani mengecup tangan dan pipi sang ayah. "Maaf, yah, Pa. Teteh nggak bisa lagi jagain, Papa."
"Gapapa, Teh. Papa ngerti. Teteh sekarang sibuk ngurusin perusahaan. Papa yang harusnya minta maaf sama Teteh dan Alia. Papa sudah banyak ngerepotin kalian."
"Ish Papa, jangan ngomong gitu, ah. Sudah kewajiban bagi seorang untuk ngurusin orang tuanya, apalagi kalo sakit."
Darma hanya tersenyum saat mendengar ucapan anaknya. "Teh."
"Ya, Pa." Mata Chandani menatap langsung sang ayah sambil tersenyum lebar.
"Sudah merupakan kewajiban juga bagi setiap manusia yang berakal untuk saling memaafkan dan menjalin silaturahmi yang baik dengan sesama umat Nabi. Papa mau Teteh untuk selalu menjaga hubungan baik dengan sesama dan memaafkan kesalahan mereka sekalipun yang mereka perbuat sangat buruk terhadapmu."
"Iya, Pa. Teteh paham. Insyaallah aku akan selalu mengingat nasihat Papa ini." Chandani tersenyum dengan riang.
"Alhamdulillah." Darma mengucap syukur. Dia pun mengelus lembut kepala anak kesayangannya. "Papa sayang sama Teteh. Papa ingin kelak yang menjadi pendampingmu seorang pria yang baik dan bertanggung jawab."
Chandani menggapai tangan Darma lalu mengecupnya. "Teteh juga sayang sama Papa. Papa, cepet sembuh, yah." Dia tersenyum manis kepada sang ayah.
"Insyaallah."
Bakda Maghrib, Chandani, Miranda, dan Alia pun sibuk memasak di dapur untuk acara makan malam nanti. Entah siapa yang akan datang. Ini tidak seperti tamu biasanya. Kali ini Darma meminta keluarganya untuk memasak makan malam lebih banyak. Mungkinkah dia ingin mengundang para tamu nanti untuk ikut makan malam bersama?
'Hmm ... Akan ada banyak orang sepertinya di makan malam nanti. Kenapa papa nggak bersikap seperti biasanya? Siapa mereka?' Chandani membatin.
Selesai memasak, Chandani berdiri di sisi ruangan dekat jendela. Kepalanya sedikit melenggak melihat ke arah langit. Suasana malam begitu sejuk dan cerah. Chandani pun menghela napas panjang. Jujur, hatinya terasa amat lelah. Chandani merasa cukup untuk kehidupannya saat ini. Sebenarnya Chandani merasa jemu setiap kali Darma mencoba menjodohkan-jodohkannya.
Meski fobia Chandani terhadap laki-laki kini sudah sembuh, tetapi bukan berarti dia bisa menerima kehadiran mereka dengan mudah. Itu masihlah hal terberat baginya. Bagaimanapun hidup tanpa keberadaan mereka adalah yang ternyaman bagi Chandani kecuali, dua orang lelaki yang namanya senantiasa dia lantunkan dalam doa untuk kebaikan dunia akhirat.
"Pa, siapa lagi kali ini?"
"Nanti juga, Teteh, akan tau," jawab sang ayah seraya tersenyum simpul.
"Ih Papa, bikin aku penasaran saja." Chandani memeluk ayahnya yang duduk di kursi roda dengan gemas. Kemudian dia melonggarkan rengkuhan. Matanya menelisik pakaian sang ayah. "Papa, kenapa pake bajunya rapi banget? Kaya mau nikah saja," candanya dengan mulut melengkung membentuk senyuman.
Darma pun terkekeh. "Teteh, bisa saja. Memangnya, Papa, ganteng, yah, pake koko gini?"
"Ganteng banget, Pa. Tp markotop, deh." Chandani mengacungkan kedua jempolnya seraya tertawa renyah bersama sang ayah.
Ramai tawa mereka menghangatkan suasana rumah. Chandani sangat bahagia karena bisa melihat kembali tawa ayahnya yang sempat lenyap. Semenjak musibah naas itu menimpanya, ayahnya memang belum pernah lagi menampakan tawa sebahagia ini. Baru malam ini.
Entah kenapa Darma terlihat riang gembira? Ada apakah gerangan? Mungkinkah karena tamu yang akan datang hari ini? Entahlah tetapi, Chandani sangat bersyukur bisa melihatnya seceria ini. Semoga ini pertanda baik untuk kesehatan sang ayah.
"Teteh, pake baju ini, yah." Tangan Miranda memegangi gaun muslimah yang panjang menjuntai. Gaun berwarna salem muda yang indah dengan renda-renda di bagian roknya dan ban pita melingkar di bagian pinggang itu tampak cantik.
"Wow … cantiknya." Ada binar-binar di mata Chandani. Tampak dia mengagumi keindahan gaun itu di wajahnya. Namun, Chandani segera kembali ke akal sehatnya. "Tunggu … tunggu … kok nggak kaya biasanya, sih? Kali ini pake disediakan gaun segala. Ada apa ini? Papa dan Mama nggak akan menikahkanku malam ini 'kan?" tanyanya panar dengan tatapan menyelidik.
Miranda tertawa geli. "Ya nggak lah, Teh. Mama dan Papa bakal menikahkan, Teteh, kalo nanti, Teteh, udah beneran siap.".
Darma hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Chandani tersipu malu karena merasa sudah suuzon kepada kedua orang tuanya. "Maaf, Ma, Pa." Dia menyengir kuda..
"Iya, gapapa, sekarang mending Teteh ganti baju, gih. Nih, gaunnya." Miranda menyerahkan gaunnya pada Chandani.
"Iya, Ma." Chandani mengangguk patuh lalu dia mengamit gaun itu dan masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi.
"Itu pasti mereka, Ma." Darma.
"Mama, bukain pintu dulu ya, Pa." Gegas Miranda beranjak menuju pintu.
Miranda pun membukakan pintu. Dia tersenyum ramah kepada tiga orang yang ditunggu. Di luar sudah berdiri sepasang suami istri yang kira-kira sebaya dengan suaminya. Istrinya mengenakan gamis syar'i berwarna cream yang indah dan terlihat elegan sedangkan, suaminya mengenakan kemeja panjang berwarna senada dengan gaun istrinya lengkap dengan celana bahan berwarna hitam dan sepatu kulit.
Lalu di samping istrinya berdiri seorang pria muda yang memakai kemeja kasual berwarna putih dengan celana jeans berwarna cream, pria itu sudah pasti adalah putra tunggal dari sepasang suami istri di hadapannya. Kemudian Miranda pun mempersilakan mereka masuk dan duduk
"Assalamualaikum." Daniel sekeluarga mengucap salam yang segera dibalas Waalaikumussalam oleh Miranda dan Darma bersamaan.
Aldebaran menyalami kedua orang tua Chandani dengan penuh rasa hormat. "Gimana kesehatan, Om? Apa sudah membaik?"
"Ya, beginilah. Mamanya juga udah tua, James." Darma tersenyum ramah.
Miranda menyambut dengan suka cita kedatangan mereka. Ruangan bergaya victorian elegan itu seolah menjadi saksi bisu untuk kedatangan Aldebaran dan keluarga malam ini.
Mereka semua pun berbincang dengan hangat. Tak ayal gurauan akan terlontar di tengah obrolan yang seketika membuat suasana menjadi lebih hidup.
Daniel dan Aisyah adalah sahabat Darma dari sejak lama. Mereka telah bersahabat sudah lebih dari dua puluh tahun, sampai pada kepergian Darma pada lima tahun yang lalu. Hal itu memutuskan tali silaturahmi ketiga sekawan tersebut. Miranda dan Darma telah memaafkan James. Mereka telah melihat ketulusan pemuda itu kala meminta maaf, James telah sangat menyesali perbuatannya.
Sudah merupakan kewajiban bagi setiap umat Nabi untuk saling memaafkan sekalipun, yang orang lain lakukan amat menyakitkan. Kalimat itulah yang senantiasa diingat Darma. Kalimat yang selalu berhasil menenangkan dirinya.
"Kamu pasti Alia." Aldebaran menunjuk dengan sopan seraya gadis remaja di hadapan.
Alia membalas dengan senyuman lalu mengangguk. "Iya, Kak."
"Kamu udah besar, yah? Terakhir kali, Om, melihatmu itu lima tahun yang lalu. Kamu masih kecil saat itu." Daniel beramah tamah.
Alia hanya membalasnya dengan senyuman. Dia sama sekali tidak mengenali ketiga orang ini. Wajar saja, karena saat itu Alia masih kecil dan masih tak acuh kepada siapapun di sekitarnya.
"Waktu itu usianya masih sepuluh tahun saat kita memutuskan tali silaturahmi." Deg. Dada Darma seketika bergemuruh. Penyesalan segera menerpanya. "Maaf, Dan, aku telah egois saat itu." Dia tersenyum kaku.
"Gapapa, aku mengerti. Aku juga patis akan melakukan hal yang sama jika hal itu menimpa keluargaku." Daniel terus menunjukan senyuman bersahabat.
Darma tak mampu membalas. Dia hanya bisa menatap mata sahabatnya dengan tersenyum simpul. "Kamu masih sahabatku."
Daniel beranjak dari duduknya, lalu berpindah ke dekat kursi roda Darma. Dia merangkul pria paruh baya yang lumpuh itu dengan bersahabat. "Tentu saja. Kita sahabat sampai kehendak Allah yang memisahkan."
"Hus! Dad, ngomong apa, sih?" tegur Aisyah-istri Daniel yang segera dibalas tawa keras kedua pria paruh baya itu.
Aldebaran hanya mampu menyulam senyum sederhana kala melihat kedekatan dua sahabat sejati itu. Mereka berdua beruntung masih bisa saling memiliki. Darma dan Daniel tidak pernah berselisih dan satu-satunya penyebab mereka berpisah dulu, adalah ulah Aldebaran.
Miranda datang membawa nampan berisi teh manis dan kue untuk disuguhkan kepada tamu-tamunya. "Mangga dileueut, kue dan tehnya," ujarnya sambil memanggutkan kepalanya sebagai kesopanan.
"Terima kasih, Dek. Aduh jadi ngerepotin ini." Aisyah bersopan santun.
"Akh bisa saja. Nggak ngerepotin atuh tibang kaya gini, mah." Miranda tertawa kecil.
Aisyah membalasnya dengan senyuman lalu meminum teh yang disuguhkan sang tuan rumah. "Ditampi yah, Dek."
"Oh, mangga-mangga, Teh, mangga," sahut Miranda. "Bang, James, silakan kue dan tehnya." Dia mempersilakan Daniel dan Aldebaran untuk ikut serta menikmati suguhannya.
***
Chandani masih di dalam kamar. Dia tengah duduk di depan meja riasnya. Chandani begitu cantik dengan alis yang sedikit dia hitamkan, eyeliner tipis mempertegas bagian kelopak mata serta eyeshadow berwarna cokelat tetapi, agak muda dia ulaskan. Rona merah tipis pun tak lupa dia taburkan di tulang pipinya dengan bibir berwarna merah natural. Sayup dia mendengar renyah tawa ayah, ibu dan para tamunya dari luar sana.
Selesai bersolek, Chandani tak langsung keluar dari kamar. Dia duduk seraya menatap pantulannya pada cermin, lalu seulas senyuman dia tampakan. Kemudian Chandani mencubit lembut pipinya. "Wow … kamu cantik, Canda." Senyum puas mengembang dari wajah cantiknya. Dia mendekatkan diri untuk melihat pantulan wajahnya dengan jelas di cermin.
Pori-pori kulit yang tipis dan halus, terlihat begitu terawat. Lalu dia mengedut-ngedutkan kedua belah alisnya, menatap puas wajah cantiknya. Namun, dia segera kembali ke akal sehatnya. "Astaghfirullahaladzim." Dia mengelus dadanya. Rupanya setan elah menelusup ke dalam pikirannya tanpa dia sadari. "Ya Allah maafkan aku, jauhkan aku dari sifat ujub." Kemudian sekali lagi dia mengucap Istigfar sebagai bentuk penyesalan.
Tiba saat terdengar suara pintu diketuk yang seketika membuat tubuhnya agak tersentak. "Ma-masuk, Ma!" seru Chandani.
Pintu terbuka dan Miranda pun masuk. "Teh, keluar, yuk? Tamu kita udah pada nunggu, tuh." Miranda tersenyum kagum kala melihat putri sulungnya yang sudah tampil cantik di hadapan.
Chandani mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Dia berjalan dengan anggun seraya meremas buku jarinya agak gugup. Chandani melakukan ini bukan untuk pertama kalinya tetapi, entah kenapa dia selalu saja merasa gugup.
Mungkin karena rasa bersalahnya juga yang turut menyertai. Entah sampai kapan Chandani akan berhenti melakukan ini. Belum ada yang mampu mengetuk pintu hatinya atau mungkin takkan pernah ada yang bisa.
Chandani sama sekali tidak ingin menikah karena traumanya terhadap laki-laki. Dia tak masalah jika seumur hidup harus dihabiskan seorang diri tanpa memiliki pendamping. Chandani sudah merasa sempurna dengan kehidupannya saat ini. Sudah lebih dari cukup, menurutnya.
Miranda pun menggandeng Chandani keluar dari kamarnya. Wanita itu tampak sangat anggun malam ini. Dia terlihat begitu cantik dengan riasan make up natural dan gaun salem yang dikenakan menjuntai panjang hingga menutupi mata kakinya.
Chandani digandeng sang ibu menuju ruang tamu.
"Assalamualaikum." Chandani mengucapkan salam dengan sopan kepada para tamu. Mata teduhnya masih tertunduk.
"Waalla … ikumus … salam." Aldebaran terpegan sesaat kala melihat keindahan Chandani, hingga matanya tak kuasa berkedip. Tidak ada yang berkurang. Perempuan itu masih terlihat cantik seperti dulu, hanya bertambah aura dewasa yang menjadikannya lebih sempurna. Namun, Aldebaran segera kembali ke akal sehatnya. Gegas dia menunduk kepala. Bukan mahram, dilarang untuk melihat terlalu lama.
"Waallaikumussalam, Canda. Wah ... Cantiknya anak, Bunda," balas Aisyah sambil tersenyum. Wajahnya tampak kagum kala melihat kecantikan Chandani. Dia-anak gadis yang sudah Aisyah anggap seperti anak kandungnya sendiri itu kini sudah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa nan anggun.
Chandani sedikit keheranan saat mendengar suara-suara yang familiar, dia pun memangukan kepalanya. Seketika dia terpegan kala melihat siapa tamunya itu. 'Bunda? Ayah?' gumamnya dalam hati.
Chandani mulai gugup dan takut lalu dengan ragu matanya melirik ke arah pria yang berdiri di samping Daniel. Di sana dia melihat seorang pria tengah memandanginya dengan senyuman di bibir. 'James?' Hatinya. Mata mendelik saat melihat sosok itu.
Dada Chandani seketika bergaung nyeri sesak dengan debar jantung yang tiba-tiba terpacu. Dia pun mundur beberapa langkah dengan tergesa-gesa sembari mengepalkan kedua tangannya.
Marah dan takut seketika menyeruak membakar jiwa Chandani. Lantas dia segera berbalik dan melangkah dengan tegas meninggalkan ruang tamu tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Teh! Teteh!" panggil Miranda dan Darma bersamaan lalu segera sang ibu mengejar Chandani.
Alia terlihat heran, dia tak mengerti apa-apa. Dia hanya terus melihat kakaknya sembari mengerutkan kening. 'Teteh, kenapa?' Pikirnya bingung.
"Dan, Ais, maafkan anakku." Darma merasa tak enak hati kepada kedua sahabatnya.
"Gapapa, kami mengerti." Daniel sambil memalsukan senyumannya, terlihat jelas ada gurat kekecewaan di wajahnya.
Aisyah hanya menatap nanap ke arah Chandani dengan tatapan sendu. Dia sudah lama ingin bersua dengan anak gadisnya itu, tetapi kini disaat Chandani berada di hadapannya, Aisyah justru tak dapat melakukan apa-apa. Aisyah sangat menyesalkan sikap Chandani. Namun, dia juga tak dapat menyalahkannya karena memang kesalahan terletak padanya. Gadis cantik yang dahulu selalu bergelayut manja padanya itu, sekarang tampak ketakutan saat berjumpa dengannya. 'Canda.' Kalbunya bagai mantra. Terbersit kesedihan di wajah Aisyah.