Hari ini Roy menghadiri acara peresmian cabang restoran Lisa. Lisa adalah istrinya yang sudah empat tahun ini dinikahi oleh Roy. Namun, mungkin Tuhan belum memberikan mereka kesempatan untuk bisa memiliki buah hati, hingga sampai saat ini Lisa tak kunjung hamil juga. Meski demikian, itu tidak membuat Lisa dan Roy menjadi patah semangat. Mereka tentu saja terus berusaha agar mendapatkan keturunan.
Tapi, sepertinya akhir-akhir ini Lisa sudah mulai menyerah dan lelah. Ia jarang sekali mau jika diajak oleh Roy untuk datang menemui dokter kandungan untuk berkonsultasi. Roy yang sabar tidak pernah memakasakan kehendaknya pada Lisa. Berbagai macam usaha melalui pengobatan medis dan tradisional awalnya justru berawal dari desakan Lisa yang ingin terus berusaha agar bisa hamil. Lisa takut jika ia tak bisa juga memberikan keturunan untuk Roy maka Roy akan kecewa dan mungkin meninggalkannya. Meski hal itu selalu dikatakan Roy tidak akan pernah ia lakukan pada Lisa.
“Sayang, sini, dong. Jangan bengong aja di sana sendirian,” panggil Lisa pada suaminya itu saat ia sudah selesai berbincang dengan rekan bisnisnya yang lain.
“Iya, Sayang. Kamu udah selesai bicara sama Miranda?” tanya Roy pada Lisa dan langsung melingkarkan tangannya ke pinggang ramping sang istri.
Semua mata tentu menatap mereka dengan iri. Bagaimana tidak, mereka adalah pasangan pebisnis yang terkenal sangat romantis di mana pun mereka berada. Tidak ada yang tidak akan berdecak kagum pada pasangan itu. apalagi Lisa mempunya paras yang sangat cantik dan tubuh yang ramping serta terkesan bahenol. Roy sendiri adalah pria tampan yang memiliki wajah mirip dengan pria-pria yang berasal dari negara Turki karena memang ada darah Turki yang mengalir di dalam tubuhnya.
“Maaf, ya Roy. Tadi aku lama ngobrolnya sama Miranda. Soalnya dia juga mau nyoba nih bisnis kuliner kaya aku. Jadi aku kasih lah sedikit trik dan saran.” Lisa menjelaskan pada Roy tentang keadaan yang tadi sempat terjadi.
“Oke, Honey. Aku ke toilet sebentar, ya.”
“Kamu mau ngapain?”
“Mau pipis. Kamu mau ikut? Yuk, biar bisa pegangin,” canda Roy pada Lisa dengan senyum menggoda.
“Apaan sih, Roy. Nanti deh di rumah, aku service yang puas kamunya,” jawab Lisa sambil membalas senyuman Roy dengan sebuah kerlingan mata.
Memang seperti itu lah Roy dan Lisa sehari-hari jika berbicara. Roy hanya bersikap dingin dan terkesan seperti sombong pada orang lain, terutama pada wanita. Namun, jika pada Lisa ia akan bersikap sangat manja dan mesum. Ya, tentu saja itu sangat bisa dimaklumi karena memang Lisa adalah istrinya. Jadi, hal itu adalah wajar dan sah-sah saja tentunya.
Lisa memandang suaminya hingga punggung Roy sudah tak terlihat lagi oleh ekor matanya. Kemudian ia melanjutkan berkeliling menyapa para tamu undangannya yang datang pada acara peresmian cabang Restoran yang ia adakan itu. Lisa memang bisa dikatakan suskes sebagai seorang wanita karir yang berkecimpung di dunia perkulineran. Dan Roy memang memberikan Lisa kebebasan untuk melakukan hobby-nya itu. Roy tak ingin Lisa merasa sedih dan terpuruk jika hanya diam di rumah saja karena terlalu fokus memikirkan belum memiliki anak.
Rasa cinta Roy pada Lisa sangat besar dan mungkin Roy tidak akan pernah berpaling dari sisi Lisa sampai kapan pun. Meski mereka tidak akan pernah ditakdirkan memiliki keturunan. Seperti itu lah besar cinta Roy pada istrinya itu. Wanita yang sudah ia kenal dan cintai sejak mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dulu. Roy sudah berjanji akan selalu mencintai Lisa apa pun yang terjadi di kemudian hari, dan berjanji untuk tetap setia pada ikatan cinta dan rumah tangga mereka.
Roy memasuki toilet pria dan segera menuntaskan hajatnya di sana. Sebenarnya, Roy memang tidak terlalu suka menghadiri acara yang seperti ini. Namun, ia tidak bisa mengambil resiko dengan membuat Lisa kecewa dan sedih jika ia tidak datang hari ini. Bagaimana pun juga, Roy selalu berusaha membuat Lisa bahagia bersamanya. Setelah selesai buang air kecil, dan membasuh tangannya di keran menggunakan sabun, Roy menatap wajahnya dari pantulan cermin.
“Apa aku sudah terlalu tua untuk memiliki anak? Tapi, usiaku baru tiga puluh lima tahun,” gumam Roy sendiri di depan cermin itu.
Setelah berkata seperti itu Roy keluar dari toilet dan kembali ke ruangan di mana tadi ia berbincang dengan istrinya. Mata Roy berkeliling mencari di mana keberadaan Lisa dan tidak ia temui di mana pun. Akhirnya Roy memutuskan untuk mengambil sebuah anggur di dalam gelas yang terletak di atas meja hidangan. Ia menyesap sedikit dan kembali mencari keberadaan Lisa. Belum sempat Roy mengetahui di mana keberadaan Lisa, sebuah tangan terasa hangat menyentuh punggungnya. Namun, Roy tahu bahwa itu bukan lah tangan Lisa, istri tercinta yang sedang ia cari. Roy memutar badannya dan melihat ke arah pemilik tangan itu. Seorang wanita muda yang cantik dan berpakaian seksi berdiri tepat di depannya saat ini.
Roy sama sekali tidak tertarik dengan kecantikan dan keseksian wanita itu. Justru ia mengernyitkan keningnya menahan rasa heran karena ia sama sekali tidak mengenal wanita itu.
“Siapa Anda, Nona? Apakah kita saling kenal?” tanya Roy heran.
“Maaf, aku pikir Anda adalah rekanku. Dari belakang kalian terlihat sangat mirip,” jawab wanita itu dengan ekspresi salah tingkahnya.
“Oh. Oke kalau begitu,” ucap Roy kembali bersikap cuek dan dingin seperti biasanya.
Roy memutar lagi tubuhnya dan memutar kedua bola matanya terus menelusuri ruangan. Wanita yang dicari belum juga ia temukan. Entah ke mana Lisa saat ini dan Roy sudah merasa bosan harus berdiri lama-lama seorang diri di sini. Roy rasanya ingin kembali ke kantornya dan mengurus pekerjaan yang ia tinggalkan sejak pagi. Roy memiliki perusahaan yang bergerak dalam dunia perbusanaan. Banyak sekali desaigner terkenal yang merancang busana untuk perusahaannya. Baik itu busana formal, harian, casual, dan bahkan sampai ke bikini juga pakaian dalam wanita dan pria.
“Maaf, siapa namamu?” tanya wanita tadi membuyarkan konsentrasi Roy mencari Lisa di ruangan yang padat oleh para wanita dan beberapa pria itu.
“Apa kamu bertanya padaku?” tanya Roy balik saat memperhatikan tidak ada orang lain di sekitar mereka saat ini. Dan ternyata wanita tadi masih berdiri di belakang Roy tanpa ia sadari, karena memang sibuk mencari keberadaan Lisa.
“Hanya ada kita berdua di sini. Menurutmu?”
“Aku Roy. Suami Lisa, pemilik Restoran ini. Apa mungkin kamu teman istriku?” tanya Roy menebak.
“Kebetulan sekali! Aku adalah sahabat baik Lisa. Perkenalkan namaku Ella. Tapi, Lisa nggak pernah cerita kalau dia punya suami yang tampan seperti kamu,” jawab wanita yang ternyata bernama Ella itu dengan wajah antusias dan kemudian berubah menjadi redup seperti kecewa pada suatu hal.
Roy memperhatikan ekspresi Ella dengan seksama dan mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Ella yang terakhir.
“Tidak pernah cerita punya suami? Sahabat Lisa yang mana wanita ini? Kenapa Lisa nggak pernah cerita sama aku tentang sahabatnya yang ini?” tanya Roy dalam hatinya sambil terus memperhatikan Ella, dan tiba-tiba yang diperhatikan menjadi salah tingkah dan gerogi.
“Sayang, kamu di sini? Aku pikir masih di toilet loh,” sapa Lisa yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Roy.
Sapaan Lisa itu lantas membuat Roy sedikit terkejut karena tidak ingin Lisa salah paham padanya. tentu saja itu karena Roy sedang menatap lekat pada Ella karena memang Roy merasa tidak pernah melihat Ella sebelumnya. Sebagai seorang suami yang sudah empat tahun hidup bersama dan mendampingi Lisa, sudah bisa dipastikan bahwa Roy akan mengenal sebagian besar teman-temannya. Begitu pun dengan Lisa yang biasanya akan selalu memperkenalkan teman dan sahabatnya pada Roy.
“Kamu dari mana aja? Aku dari tadi nyariin kamu juga,” jawab Roy pada akhirnya dan langsung memeluk kembali tubuh ramping sang istri.
“Tadi aku ke dapur, Sayang. Liat system kerja mesin dan alat-alat yang baru datang itu. Oh, ya, kamu udah kenalan belum sama temen aku yang ini?” tanya Lisa seraya mengapit pergelangan tangan Ella dengan sangat intim.
“Udah, Beb. Kamu tenang aja, selama kamu nggak ada tadi, aku yang jagain suami kamu ini,” sela Ella dengan manja dan mengerlingkan sebelah matanya pada Lisa.
“Wah, kamu emang the best. Makasih, Sweety.” Lisa langsung memeluk Ella dan tidak tahu kenapa sepertinya Roy merasa bahwa sikap Lisa tidak seperti biasanya dalam berteman.
Lisa memang seorang yang ramah dan mempunyai banyak teman. Tapi, tidak satu pun di antara temannya itu yang memiliki kedekatan seperti yang saat ini Lisa tunjukkan bersama Ella di depan Roy. Roy ingin sekali bertanya banyak pada Lisa tentang Ella. Namun, sepertinya saat ini bukan lah waktu yang tepat untu Roy membahas masalah itu dengan Lisa. Apalagi, saat ini tamu undangan Lisa masih sangat banyak.
“Sayang, aku baru tau kalau kamu punya teman bernama Ella. Sepertinya, kita belum pernah bertemu bersama seperti ini,” ucap Roy dan langsung membuat raut wajah Ella juga Lisa menjadi berubah. Roy tentu saja menyadari situasi ini.
“Eh … i-iya, Roy. Ini Ella memang biasanya nggak ada di sini. Ella baru datang dari Pekanbaru. Iya kan, La?” Lisa melempar tanya pada Ella.
“I-iya. Maaf kalau kedatangan aku jadi ganggu. Kalau gitu, aku keliling dulu, ya.” Ella terlihat seperti merasa bersalah pada Roy dan Lisa.
“Nggak apa-apa kok, La. Roy emang suka becanda gitu. Roy, aku mau ketemu sama Pak Burhan dulu di ruang kerja aku. Kamu tolong temanin Ella dulu, ya. kasian dia nggak kenal siapa-siapa di sini.” Lisa berkata pada Roy sambil memeluk tubuh suaminya dengan sangay erat lalu menciumi pipi Roy dengan sangat hangat.
Roy tidak ingin melewatkan kesempatan itu dan langsung memegang dagu Lisa, menariknya hingga bibir Lisa berhasil menyentuh bibirnya. Roy melumat kecil bibir Lisa di depan Ella tanpa ada rasa malu dan sungkan pada Ella. Roy memang orang yang selalu berpikir masa bodoh dengan sekelilingnya. Apalagi jika sudah menyangkut dengan Lisa. Maka Roy akan buta dalam segala hal hingga bahkan menganggap tidak ada orang lain di sekitar mereka. Biasanya Lisa juga akan bersikap seperti itu dan membalas ciuman Ro. Namun sepertinya kali ini Lisa sengaja menghindar dari kecupan dan lumatan nikmat yang selalu Roy suguhkan untuk dirinya itu.
“Roy! Nggak enak ih, ada Ella di sini. Ntar dia jadi pengen juga gimana? Emang kamu mau ngasih Ella rasa yang sama seperti itu?” tanya Lisa pada Roy denga nasal.
Namun, pertanyaan Lisa itu justru membuat darah dan jantung Roy berdesir. Tidak biasanya Lisa berkata seperti itu, karena setahu Roy, Lisa adalah perempuan yang sangat cemburuan. Jika Roy menyebut nama seorang wanita saja di depannya, maka keesokan harinya Lisa akan mendapatkan seluruh informasi lengkap tentang wanita yang namanya disebutkan oleh Roy itu. Padahal, biasanya Roy hanya menyebutkan nama-nama karyawan yang bekerja di perusahaannya saja tanpa sengaja di depan Lisa.
“Sayang, aku juga harus kembali ke kantor,” tolak Roy tegas setelah Lisa tidak merespon cumbuannya seperti biasa. Entah mengapa timbul rasa kesal di hati Roy atas sikap Lisa siang ini.
“Trus gimana sama Ella, Roy?”
“Aku nggak tau. Dia kan teman kamu. Kamu dong yang harusnya nemanin dia!’
“Roy!” pekik Lisa tak menyangka kalau Roy akan berkata seperti itu padanya.
Namun, sepertinya Roy memang cukup kesal untuk kali ini. Tentu saja itu terbukti dengan langsungnya Roy mengayunkan langkahnya meninggalkan Lisa dan Ella di tempat mereka berdiri. Roy tidak mengerti apa yang sedang Lisa lakukan dan rencanakan. Namun, yang pasti Roy merasa bahwa Lisa memang sudah merencanakan semua ini dan sengaja mempertemukannya dengan Ella. Semua itu tidak terlihat seperti suatu kebetulan semata.
Roy terus berjalan keluar dari gedung restoran itu dan untuk pertama kalinya ia bersikap tegas dan keras pada Lisa. Selama ini dia selalu mengalah demi kebahagiaan Lisa dan tidak ingin istrinya itu merasa sedih atau pun terpuruk karena belum bisa memberikannya seorang anak. Keturunan yang jujur saja masih sangat dinantikan dan diharapkan kehadirannya oleh Roy sampai saat ini. Hal itu tidak pernah terlalu ia perlihatkan di depan Lisa dan tidak pernah pula ia tekankan pada Lisa karena memang sengaja ingin menjaga perasaan dan hati Lisa.
Dengan perasaan bersalah karena sudah bersikap sedikit kasar pada Lisa, akhirnya Roy melajukan kendaraan roda empatnya itu menuju ke sebuah perusahaan fashion yang cukup ternama di kota itu. Siapa yang tidak mengenal CEO tampan dan dingin seperti Roy di sana. Namun, semua juga sangat tahu bahwa Roy adalah lelaki yang manja serta sangat bucin pada istrinya. Semua bawahannya sudah tahu dan hafal sekali bagaimana sikap Roy pada istrinya dan bagaimana pada orang lain. Jangankan pada orang lain, pada orang tuanya saja Roy masih tetap bersikap dingin dan acuh tak acuh seperti pada orang yang tidak begitu dekat dengannya.
Itu sebabnya, tidak ada satu pun orang yang meragukan besarnya pengaruh dan pesona Lisa pada diri Roy. Sehingga mampu membuat pria itu bertekuk lutut bahkan rela dipandang sebagai suami yang takut pada istri oleh orang-orang di sekitarnya. Itu pula sebabnya, tidak ada yang berani mendekati Roy karena sangat yakin bahwa pandangan Roy tidak akan pernah berpaling dari Lisa. Hatinya tidak akan tersentuh oleh wanita mana pun selain Lisa. Matanya tidak akan ternoda oleh kecantikan dan keseksian wanita lain selain Lisa. Sebesar itu lah pesona dan arti Lisa bagi Roy, dan bahkan semua orang yang dekat dan mengenalnya sudah sangat tahu.
Namun, yang tidak pernah Roy sadari adalah dirinya sudah dekat dengan sebuah pesona wanita yang perlahan mencoba mencuri hatinya dari Lisa. Sengaja atau tidak, tidak akan ada yang bisa menebaknya. Lalu, siapa kah wanita itu dan akan kah Roy sanggup melawan gejolak hatinya? Saat Roy menyadari hati dan pikirannya bergetar saat bersama si wanita yang datang menawarkan segalanya pada Roy, selain harta dan kemewahan yang tentu saja sudah lebih dari cukup dimiliki oleh Roy selama ini.
Roy sedang duduk di kursi kebesarannya dengan sebuah ponsel di tangannya. Pikirannya melayang jauh meninggalkan tubuhnya yang sedang duduk di sana. Roy kembali pada pertemuannya dengan Miranda di lorong toilet saat ia meminta izin pada Lisa untuk ke toilet pada acara peresmian pembukaan cabang restoran baru Lisa tadi. Roy sama sekali tidak menyangka bahwa saat ia keluar dari toilet, Miranda sudah berada di depan pintu dan mendorong tubuhnya ke dalam toilet lagi. Untung saja tidak ada orang lain di dalam toilet laki-laki pada saat itu. Jika tidak, bisa saja hubungannya dengan Lisa berada dalam masalah.
“Roy, aku sudah lama menunggumu ke luar,” ucap Miranda yang mana tubuhnya sudah melekat sempurna pada tubuh Roy saat itu.
“Miranda! Apa yang kau lakukan? Cepat keluar sebelum ada yang masuk dan melihat kita!” titah Roy dengan ekspresi dingin dan suara tegas yang menakutkan.
Namun, Miranda sama sekali tidak gentar mendengar titah Roy itu. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya pada Roy sehingga buah dada Miranda yang sangat besar itu menempel keras pada dada Roy. Belum lagi batang kemaluan Roy yang entah mengapa bisa on saat menempel pada bagian bawah tubuh Miranda itu membuat Roy menjadi sedikit grogi. Miranda menyadari perubahan sikap Roy karena tahu perubahan sudah terjadi di bawah sana, di balik resleting celana yang dikenakan oleh Roy. Dengan penuh kelembutan dan tatapan genit, tangan Miranda meraba keperkasaan Roy dari balik celana.
Tidak pernah sebelumnya Roy merasakan getaran hebat seperti saat Miranda menyentuh aset berharganya itu. Bahkan saat Lisa menyentuh dan memainkannya pun, rasanya tidak sama seperti ini. meski Roy adalah lelaki yang setia dan mencintai istrinya, menghadapi situasi seperti ini pun berhasil membuatnya merasa bimbang dan kalut. Pasalnya, dalam benak Roy ingin sekali mengeluarkan kemaluannya dan meminta Miranda untuk menjilati dan mengulumnya. Atau mungkin Roy bisa memasukkannya ke dalam liang kenikmatan Miranda. Namun, hati kecilnya berkata bahwa itu adalah perbuatan salah.
Apalagi, Miranda adalah sahabat Lisa selama bertahun-tahun yang juga sudah sangat dikenal oleh Roy. Selama ini, Miranda tidak pernah menunjukkan gelagat aneh atau tanda-tanda tertarik pada Roy. Itu sebabnya Roy sedikit syok saat tiba-tiba Miranda bersikap seperti ini padanya.
“Roy … aku sangat menginginkanmu sejak lama. Apa kau tidak berminat untuk mencoba tubuhku? Aku pasti akan melayanimu dengan sangat baik dan memberikanmu kepuasan yang tak pernah kau dapatkan dari Lisa,” ujar Miranda dengan penuh rasa percaya diri.
Kemudian ia mengecup lembut bibir Roy dan herannya Roy sama sekali tidak menghindar dan tidak berusaha untuk menolak. Bahkan, ingin rasanya Roy menyambar bibir basah dan manis milik Miranda itu dan melumatnya dengan buas. Sungguh keinginan yang sangat manusiawi dan pasti terjadi pada laki-laki normal seperti Roy. Namun, lagi-lagi Roy masih berusaha untuk mempertahankan kewarasannya dengan mengalihkan pikirannya pada siapa dirinya dan siapa diri Miranda.
“Pergi lah sebelum aku membuatmu malu di sini. Kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri dengan bersikap seperti ini, Miranda. Aku tidak menyangka kau akan serendah ini!”
“Kau tidak akan pernah tahu, Roy, aku bahkan rela menjadi lebih rendah dari ini asal kau mau mencoba pelayanan yang akan aku berikan.”
“Kau gila, Miranda!”
“Aku memang sudah gila, Roy. Aku gila karna sudah bertahun-tahun berusaha memendam perasaanku padamu. Aku sudah mencoba untuk mengabaikannya, akan tetapi perasaan itu semakin hari semakin kuat dan tak tertahankan. Salahkah aku jika aku mencintai dan menginginkanmu? Kau suami sahabatku dan tentu itu akan sangat salah di mata semua orang. Namun, cinta tentu tak pernah salah dan tak bisa pula disalahkan,” ungkap Miranda dengan mata sayu menatap lekat pada kedua bola mata Roy.
Drrttt … drrttt ….
Suara getaran ponsel yang tadi diletakkan Roy di atas meja membuat kilas balik tentang kejadian dalam bilik toilet itu menjadi buyar. Roy menatap layar ponselnya dan di sana ada nama Miranda yang sedang ingin melakukan video call dengannya. Sejenak Roy ragu untuk menggeser layar untuk mengangkat panggilan itu. Meski sebelumnya mereka sudah biasa melakukan panggilan video seperti itu, tentu saja biasanya ada Lisa bersama mereka. Namun, saat ini hanya aka nada Miranda dan Roy. Terlebih lagi mengingat kejadian yang baru saja terjadi antara mereka tadi.
Roy masih terus mengabaikan panggilan video dari Miranda sampai beberapa kali dan akhirnya ia menyerah. Roy menggeser layar yang memiliki gambar telepon berwarna hijau itu ke atas dan panggilan langsung terhubung. Di seberang sana, terlihat Miranda sedang berbaring di atas ranjang beralaskan seprai berwarna putih. Jika dilihat sekilas, Roy sangat yakin jika saat ini Miranda sedang berada di sebuah kamar hotel. Hidup sendirian tanpa pasangan, tentu saja membuat Miranda bebas melakukan hal apa saja yang diinginkannya. Roy sudah sangat tahu segalanya tentang wanita itu karena Lisa selalu saja bercerita segalanya pada Roy. Tentu saja selain perasaan Miranda padanya yang belum lama ini diutarakan oleh wanita itu.
“Roy, kemari lah. Aku meningingkanmu, Sayang. Kau akan mendapatkan kepuasan yang sudah lama tidak kau dapatkan dari Lisa. Jika kau tidak puas dengan pelayananku, maka aku akan memberitahumu satu rahasia besar tentang Lisa,” ucap Miranda penuh dengan misteri dan membuat kening Roy mengernyit heran.
“Rahasia besar tentang Lisa?” tanya Roy yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya lagi.
“Ya. rahasia yang tidak pernah kau ketahui selama ini, Roy. Dan untuk mendapatkan rahasia itu, kau harus datang ke sini dan bersedia untuk menerima pelayanan terbaik dariku.”
“Apa kau tidak menginginkan yang lain sebagai bayarannya? Aku bisa memberikanmu apa saja selain itu, Mira. Kau tahu, aku sangat mencintai dan menjaga kepercayaan Lisa. Aku tidak ingin mengkhianati istriku!” tolak Roy dengan suara yang sengaja dikecilkan karena tidak ingin ada yang mendengar ucapannya itu.
“Tenang saja, Roy. Lisa tidak akan tahu tentang semua hal ini. Bahkan, jika kau ingin tahu lebih banyak tentang Lisa, aku bisa memberitahumu semuanya. Semuanya, Roy!” Miranda memberikan penawaran yang menurut Roy sangat berat.
Berat karena ia harus mau dilayani dan digerayangi oleh Miranda, yang entah sejak kapan Roy bisa merasakan sedikit bergairah dengan wanita itu. Hanya dengan memandang Miranda dari layar ponsel saja, Roy seperti sudah berangan-angan bisa menunggangi Miranda dan membuat wanita itu mendesah kenikmatan di bawah kendalinya. Roy ingin sekali mendengar erangan penuh kenikmatan dari mulut Miranda yang selama ini ia kenal sebagai sahabat Lisa yang sangat baik, kalem, lembut, dan tidak pernah melakukan hal-hal aneh seperti merokok atau minum minuman keras.
“Roy, kesempatanmu hanya satu kali dan kau tidak akan menerimanya lagi setelah kau menolakku kali ini,” ucap Miranda menegaskan.
“Kirim lokasimu saat ini dan nomor kamarmu!” titah Roy dengan suara bass-nya yang khas.
Di seberang sana, Miranda menyunggingkan senyum penuh kemenangan dan rasa tak percaya yang sangat sulit ia ungkapkan meski sedari tadi ucapan itu sangat ia harapkan keluar dari mulut Roy. “Baik, Sayang. aku akan menunggumu,” ucap Miranda dan langsung mematikan panggilan video itu. Setelahnya, Miranda mengirimkan lokasi terkininya pada Roy lengkap dengan nomor kamar hotel tempatnya berada saat ini. Miranda merasa sangat puas karena akhirnya Roy masuk ke dalam perangkapnya dan tak akan ia biarkan Roy lepas dari genggamannya. Miranda memiliki maksud lain selama ini dan diam-diam sudah merencanakan semua ini di belakang Lisa.