Bab 1

Naila sedang berjalan di jalanan umum di dekat rumahnya. Namun, dia menundukan wajahnya setiap berpapasan dengan seorang laki-laki yang bukan mahramnya, sehingga tanpa sengaja, dirinya menyenggol tas ransel seorang lelaki hingga terjatuh.

"Maaf." Segera, Naila berkata dengan panik seiring membantu mengambil tas di atas tanah. 

"Iya, tidak apa," ucap Raihan--si pemilik tas. 

Naila dan Raihan saling memandang sekejap, tetapi Naila kembali menundukkan kepalanya. Dengan santun dan sesal, Naila berkata, "Sekali lagi, saya minta maaf." 

"Tidak apa." Raihan memaafkan dengan enteng. 

"Kalau begitu, saya permisi," pamit Naila. 

"Eu, tunggu!" cegah Raihan, "saya sedang mencari alamat, kamu bisa bantu? Kebetulan saya mahasiswa pindahan yang akan kuliah di kampus dekat sini. Saya tidak tahu jalan," kekeh Raihan. 

Naila memutuskan membantu laki-laki di hadapannya sebagai permohonan maafnya. "Memangnya kamu mau ke mana?" Sekali lagi, Naila dan Raihan beradu tatapan sekejap karena Naila segera menundukan wajahnya lagi, menatap tanah di bawahnya. 

"Mau ke rumah tante saya," jawab Raihan seiring mencoba mencari tahu wajah si gadis.

"Iya sudah, saya akan antar. Coba lihat alamatnya," pinta Naila tanpa menatap wajah laki-laki di hadapannya, dirinya hanya menatap secarik kertas di dalam genggaman Raihan.

Raihan menyodorkan cacatan kecil itu. Naila mengenali alamat yang tertulis di atas permukaan kertas. "Oh, ini sih tidak jauh dari sini. Ini rumah Tante Rumi yang buka toko roti kan?" tanya Naila untuk memastikan seiring menatap ke arah Raihan.

"Iya, Tante Rumi adiknya mama saya," jawab Raihan bersama tatapan kagum pada gadis berhijab rumahan di hadapannya.

"Saya akan mengantar kamu, mari," ajak Naila yang mulai berjalan di hadapan Raihan.

Selama dalam perjalanan, laki-laki jangkung ini memerhatikan cara berjalan Naila yang sedikit pincang seperti pernah menginjak sesuatu yang menyakiti telapak kakinya.

Tidak ada obrolan di antara Raihan dan Naila hingga gadis ini berhenti di salah satu ruko. "Ini rumah Tante Rumi." 

Raihan segera menyebarkan tatapan ke arah rumah mewah itu dengan toko roti di pinggirnya, kemudian memicingkan tatapan kala melihat wanita yang sedang mengemas beberapa roti ke dalam kotak. "Eh iya, itu tante saya," riang Raihan, "thank ya, mampir yuk," ajaknya pada Naila. 

"Tidak usah, terimakasih. Sebenarnya saya mau ke warung," tolak halus Naila. 

"Oh, iya sudah. Maaf ya, kamu jadi antar saya," sesal Raihan. Seandainya dia tahu lebih awal maka dirinya tidak akan meminta diantar atau hanya sekedar menanyakan alamat. 

"Tidak apa. Kalau begitu saya permisi." Naila berlalu sebelum sempat saling memperkenalkan diri. 

Raihan menatap sekejap kepergian Naila, kemudian menemui Rumi. "Siang, tante." 

"Eh, Raihan. Kapan kamu datang?" sambut hangat Rumi. 

"Barusanlah, tante," kekeh Raihan, "tadi Raihan diantar cewek, tapi belum sempat kenalan, padahal cantik," sesalnya. 

"Bagaimana ciri-cirinya, siapa tahu tante mengenalnya karena kalau anak-anak sini tante tahu," tutur santai Rumi seiring membantu karyawannya melayani pembeli. 

"Eu ... cantik, tapi sedikit pincang, mungkin telapak kakinya terluka." 

Rumi segera membidik tatapannya pada Raihan. "Mungkin itu Naila, tante dengar kakinya terkena pecahan gelas." 

"Hah, kasihan sekali. Sudah diobati, kan?" cemas Raihan pada seseorang yang baru saja ditemuinya. 

"Iya mungkin sudah, tapi tante tidak tahu." Rumi menggendikan bahunya, kemudian berpesan, "kalau kamu bertemu Naila lagi, lebih baik cukup menyapa karena Naila baru saja satu minggu menikah."

"Eu, iya tante." Ada nada kecewa dalam suara Raihan karena sebenarnya dirinya ingin memiliki kesempatan kedua bertemu Naila. 

Sementara, Naila baru saja pulang ke rumah setelah membeli perban baru untuk kakinya yang dibalut sepatu dan kaos kaki agar tidak terkena polusi udara. "Aw," rintih gadis ini kala kaos kaki itu menempel di area luka. 

Naila mulai membalut perban pada kakinya setelah dibersihkan menggunakan alkohol. "Semoga saja tidak ada pecahan kaca yang tertinggal," harapnya seiring mengingat penyebab luka di kaki kanannya yang terjadi dua hari yang lalu. 

"Kamu kemana saja sih, jam segini baru pulang?" tanya ketus Daffa-suaminya Naila. Mereka menikah hasil dari perjodohan. 

"Maaf, saya banyak tugas di kampus," jawab santun Naila, sikapnya sangat jauh dengan sikap yang ditunjukan Daffa.  

"Alasan. Sekarang juga sediakan kopi buat saya. Saya haus, lapar, saya kuliah sambil bekerja harusnya kamu lebih pengertian dong!" teguran Daffa yang seakan semua kesalahan ada pada Naila. 

"Iya, sebentar." Naila bergegas menyimpan tas dan buku-bukunya ke kamar, kemudian segera menyeduh kopi untuk Daffa. Namun, karena airnya terlalu panas dan di dalam gelasnya tidak tersedia sendok. Maka, gelas itu pecah hingga percikan air panas menyapa rok dan tangan Naila, sedangkan kakinya terkena tumpahan air panas serta pecahan gelas. "Kya!!!" jeritnya. 

Daffa segera menghampiri Naila ke dapur. "Ada apa sih, ribut sekali?" kesalnya. 

Kaki Naila kepanasan sekaligus kesakitan hingga darah mengucur. Daffa menyaksikannya, tapi tidak memiliki belas kasihan. "Begitu saja tidak becus!" Laki-laki ini segera berlalu menuju rumah orangtuanya, sedangkan Naila dibiarkan sendiri bersama denyutan brutal di area kaki dan hati teriris. 

Sampai saat ini Naila masih harus merasakan sakit itu, hingga tanpa sadar sebuah tetesan bening mengucur, kemudian tangan kanannya segera menyapu jejak basah dengan kasar. "Saya tidak boleh menangis. Saya menikah dengan Daffa karena saya ikhlas." 

Naila adalah seorang anak petani. Orangruanya terlilit hutang belasan juta, sedangkan Daffa anak orang berada yang telah meminjamkan uang pada orangtuanya Naila. 

Namun, Daffa terkenal tidak baik di daerah ini. Atittudenya sangat rendah, dia juga seorang anak motor. Maka, untuk mengubah Daffa menjadi lebih baik orangtuanya memutuskan menikahkannya dengan Naila seorang gadis baik-baik dan shalehah. 

Naila adalah sosok menantu impian Haris dan Farida. Maka, mereka segera melamar Naila untuk Daffa berharap putranya menjadi lebih baik setelah dinikahkan. Lalu, soal hutang piutang semua dianggap lunas. 

Awalnya Heru dan Mia tidak setuju karena masa depan Naila sangat panjang, apalagi putrinya dilamar untuk Daffa tentu saja mereka tidak memiliki minat sedikitpun.

Namun, karena Haris dan Farida telah membantu Heru dan Mia dimasa sulit. Maka, akhirnya Naila dinikahkan dengan Daffa. Pernikahan mereka terjadi satu minggu yang lalu dengan acara besar-besaran. Haris dan Farida juga sangat menyayangi Naila layaknya anak mereka sendiri, tapi kasih sayang kedua orang itu sangat berkebalikan dengan Daffa yang justru sama sekali tidak menginginkan Naila. 

Maka semenjak malam pertama, Daffa memperlakukan Naila dengan cara tidak baik. Kata-kata kasar sering keluar dari mulutnya bahkan saat Naila ketakutan, Daffa semakin menjadi. Dia semakin brutal di malam pertama mereka. 

Perbedaan usia Daffa dan Naila satu tahun saja. Sekarang, Daffa sudah mulai bekerja di perusahaan ayahnya karena harus menafkahi Naila, tapi tentu saja nafkah lahir itu tidak akan pernah sampai pada istrinya. 

Kini, Daffa baru saja menunjukan batang hidungnya kala Naila meringis kesakitan di area kakinya. "Ngapain kamu, sudah masak belum? Jangan pemalas jadi istri!" hardik Daffa. 

Bersambung ....

Bab 2

Naila segera berusaha berdiri seiring menahan sakit. Jadi, gadis ini berjinjit kala meraih punggung tangan Daffa untuk dikecup santun. "Saya sudah menggoreng telur dan membuat sayur sop," jawab Naila seiring menatap takut ke arah Daffa karena setiap malam dirinya harus merasakan sakit di sekujur tubuh terlebih kalimat kasar Daffa selalu menjadi musik mengerikan. 

"Masa cuma sayur sop sama telur doang. Mama saya saja masakannya sangat enak dan beragam!" protes Daffa seiring menarik tangan kanannya yang masih digenggam Naila. 

"Karena saya belum bisa memasak banyak. Maaf," aku Naila seiring memohon pengampunan. 

"Ck!" Daffa menjatuhkan dirinya di sofa dengan wajah kecut, kemudian memandangi Naila dari bawah hingga ke atas, "layani saya saja!" tegasnya, kemudian menggendong Naila sampai ke kamar. 

Daffa segera melucuti hijab dan semua pakaian Naila hingga tidak tersisa sehelai benang pun. Debaran jantungnya tidak karuan, kemudian pakaiannya juga segera ditanggalkan dan mulai melakukan hubungan suami dan istri penuh gairah. 

Usia Daffa saat ini dua puluh dua tahun, sedangkan usia Naila dua puluh satu tahun. Daffa sangat agresif di usia produktifnya ini karena memang di usia ini sulit menahan gejolak nafsu yang ada. Dewa jalang itu selalu menggerogoti sisi warasnya. 

Namun, setiap kali melakukannya hanya Daffa yang menikmati, sedangkan Naila selalu merasa tersiksa akibat gerakan kasar Daffa. Naila mendesah, tapi bukan menikmati melainkan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. 

Daffa sampai pada puncaknya, tapi tidak berniat membuat Naila hamil, maka cairan kehidupan itu dibuang begitu saja. Hanya seperti ini hubungan antara mereka, Daffa hanya memanfaatkan kehadiran Naila sebagai pemuas nafsunya. 

"Jangan bilang tentang pecahan gelas itu pada orangtua saya, apalagi mengadu pada orangtua kamu kalau kamu tidak mau lukanya tambah parah!" ancaman Daffa seiring mengelus telapak kaki Naila bersama seringai menyeramkan. 

"Iya," patuh Naila beserta rasa takut berlebihan. 

Daffa meninggalkan Naila yang terbaring lemas di atas ranjang, sedangkan dirinya beremdam dalam bathtub.

Naila tidak segera bangkit akibat rasa sakit, gadis ini hanya merintih seiring berusaha menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal yang dibawa Daffa saat menikah.

Setiap malam, Daffa tidak di rumah karena asik balapan motor dengan kawan-kawannya. Maka, Naila selalu sendiri seiring menunggu kepulangan Daffa yang selalu kembali lewat tengah malam. 

Rumah orangtuanya Naila dan orangtuanya Daffa masih di daerah yang sama, tapi semenjak menikah gadis cantik nan mungil ini tidak pernah mengunjungi orangtua maupun mertuanya karena lebih banyak menghabiskan waktu di kampus. Apalagi sekarang kakinya terluka, Naila tidak ingin mereka mengetahuinya. 

***

"Nai, kalau pincang begini lebih baik tidak usah kuliah deh," ucap Alia. 

Ciara melanjutkan, "Iya, lebih baik kamu istirahat saja di rumah." 

"Tidak apa-apa kok, lagian tidak terlalu sakit, saya tidak mau ketinggalan materi." Senyuman menggemaskan Naila. 

Fani berkata, "Kalau sakit bilang saja Nai, jangan ditutup-tutupi. Makannya kamu berjalan pincang. Iya pasti karena sakit!" 

Naila tersenyum cerah guna menggambarkan bahkan keadaannya baik-baik saja walau hanya kepalsuan. "Serius, saya baik-baik saja kok!" 

Ciara, Alia dan Fani mencoba percaya walau ucapan Naila sulit untuk dipercaya. Ketiga gadis ini satu angkatan dan satu jurusan dengan Naila. Maka, mereka menjalin persahabatan. Ciara berkata, "Oh iya, hari ini kakak saya akan kuliah di sini." 

"Kamu punya kakak?" heran Alia.

"Punya, tapi tinggal lama di luar kota karena tinggal sama nenek dan sekolah di sana, tapi sekarang kakak saya tinggal di kota ini dan kuliah di sini," riang Ciara. 

"Terus, sekarang kakak kamu di mana?" tanya Fani. 

"Entahlah, mungkin bangun kesiangan karena tante gagal membangunkannya. Wkwk," terka Ciara yang terdengar seenaknya. 

Naila berkata, "Pasti enak punya kakak laki-laki." 

"Enak sekali, Kak Raihan sangat melindungi saya. Siapapun yang mengganggu maka kakak yang siap jadi serdadu sekaligus pagar betis," kekeh Ciara.

"Kamu bilang kakak kamu tinggal lama di luar kota!" heran Alia lagi.

"Iya ..., tapi saat SMA dan kuliah beberapa semester saja, sebelumnya iya di rumah, tapi sekarang tinggal di rumah tante. Entahlah kakak saya memang aneh, dia itu hidupnya suka berkelana tidak mau diam di rumah!" Ciara menggendikan bahu tidak peduli. 

Naila, Alia dan Fani manggut-manggut menyimak. Keempat gadis ini sedang berada di dalam kelas, menunggu dosen. Ciara melanjutkan ceritanya, "Oh iya, rumah tante saya di daerah rumah kamu. Kamu kenal Tante Rumi kan, pemilik toko roti?" Tatapan gadis ini tertuju pada Naila. 

"Iya, tahu. Rumah kita tidak terlalu jauh, terkadang saya juga beli roti di Tante Rumi karena rotinya dadakan dan beragam." Cerita ceria Naila. 

"Iya dong ... Tante Rumi ma the best." Bangga Ciara. 

Naila mulai mengingat pemuda yang kemarin menanyakan alamat Rumi. "Apa kakak kamu tinggi?" 

"Yups. Dia tiang listrik!" 

"Apa mungkin yang kemarin ya, soalnya kemarin ada pemuda yang menanyakan alamat rumah Tante Rumi," tutur Naila seiring menerka-nerka. 

"Bisa jadi itu Kak Raihan yang matanya memesona dengan tulang alis tegas," kekeh kegelian Ciara. 

Fani segera memerotes, "Kamu jangan menyebutkan ciri-ciri seperti itu pada Naila. Mana mungkin Naila memerhatikan laki-laki sedetail itu, kan sudah menikah." 

"Oh iya, lupa," kekeh manis Ciara, sedangkan Naila tersenyum hambar. Gadis ini memang sudah menikah, sudah memiliki suami, tetapi hati laki-laki itu tidak menyisakan ruang untuknya, pun hati dirinya sendiri, tidak ada sedikitpun ruangan yang diisi dengan cinta pada lawan jenis karena Daffa bukanlah cintanya. 

Dosen tiba, jadi topik pembahasan keempat gadis ini berakhir digantikan dengan memfokuskan diri pada materi. 

Setelah materi pertama selesai, Naila bermaksud ke toilet karena meraskan sebuah tetesan tidak asing di celana dalamnya. Namun, karena langkahnya terlalu lamban akibat rasa sakit di telapak kaki. Maka, darah haid segera mengotori celana bahan yang berwarna mocca. 

Segera, sebuah jaket melilit di pinggang Naila. "Saya tahu kamu butuh," kekeh Raihan yang juga bermaksud menuju toilet. 

Naila mengerjap sering memandangi laki-laki ramah di sisinya. "Tidak usah." 

"Tidak apa, pakai saja." Masih ramah nan hangat Raihan, "oh iya, kamu ada teman tidak. Biar saya bantu panggilkan." 

"Eu ... teman-teman saya menunggu di kantin. Tidak apa, saya bisa sendiri," jawab Naila disertai senyuman kecil karena malu, periode haidnya ketahuan oleh seorang laki-laki dan mungkin darah haidnya sudah rembes sejak tadi hingga menjadi tontonan warga kampus di sepanjang jalan. 

"Eu ...." Raihan menggaruk kepalanya karena bingung, "saya punya adik perempuan dan saya tahu kalian butuh ...." Raihan mengecilkan suaranya, "pembalut. Kamu punya? Kalau tidak, biar saya belikan ke kantin." 

Kadar malu Naila semakin bertambah. "Tidak usah, terimakasih."

"Tidak apa, saya belikan ya. Kamu tunggu di sini!" Raihan segera berlari sebelum sempat Naila menolak kebaikannya.

Bersambung ....

#Hi, maaf ya kalau ada typo dan lain sebagainya, tapi semoga nggak bikin kakak" pusing ^^ 

Aku udah mengusahakan biar tulisannya rapih, tapi mungkin masih ada yang kelewat. Mohon dimengerti ya penulis juga manusia. Tapi di balik kekurangan tulisanku ini, aku masih selalu mencoba menulis lebih baik lagi. Selamat membaca .... 

Salam hangat ^^

Bab 3

Setibanya di kantin, Raihan bertemu Ciara. "Siang adik," sapanya dengan senyuman cukup lebar. 

"Hah, kenapa kakak beli pembalut!" heboh Ciara kala melihat isi kresek Raihan. 

"Buat cewek yang lagi haid, kasian udah rembes. Kamu juga pernah seperti itu di haid pertama kamu, kakak yang selamatkan. Sekarang kakak mau jadi hero buat cewek itu. Sudah dulu ya, kasihan ceweknya nunggu lama!" Raihan melesat. 

"Ish, siapa cewek yang dimaksud? Masa iya Kak Raihan langsung punya cewek anak kampus ini, kan ini hari pertama Kak Raihan di sini," bingung Ciara. 

Fani menghampiri Ciara yang tidak kunjung memesan makanan padahal dirinya dan Alia sudah memilih bangku dan menunggu. "Kok ngelamun sih, kita kan sudah lapar," protes kecilnya lebih banyak mengeluh. 

"Sorry, tadi ada kakak aku. Kamu lihat tidak?" 

"Oh, yang barusan?" 

"Iya, itu kakak aku." 

"Iya ampun ... tinggi sekali." 

"Iya, kan sudah aku bilang Kak Raihan tiang listrik," kekeh Ciara. 

Di sisi lain, Raihan sudah sampai di tempat Naila menunggu. "Ini, pakai ya. Terus jaketnya jangan dilepas." Senyuman teduh Reihan. 

"Tapi kan ini jaket kamu." 

"Tidak apa, kita tetangga kan, nama kamu Naila kan?" Kemarin saya bertanya sama Tante Rumi." Masih senyuman teduh Raihan.

"Iya, saya juga ingat kamu. Ngomong-ngomong, terimakasih banyak." 

"Iya." Raihan senang membantu Naila karena kemarin gadis ini juga membantunya. Tangan kanannya mengulur, "nama saya Raihan." 

Naila juga mengulurkan tangan kanannya. Maka, telapak tangan keduanya bertautan. "Naila." 

Kini, Raihan dan Naila sudah berpisah. Gadis ini sudah memakai pembalutnya, jaket laki-laki itu juga tetap melingkar di pinggangnya. 

"Kalau saya ke rumah pakai jaket ini pasti Daffa tahu dan marah, tapi mau bagaimana lagi, celana saya sudah kotor terkena darah." Naila kebingungan, tapi andai dirinya bisa berkunjung sebentar ke rumah orangtuanya maka jaket milik Raihan akan dititipkan di sana. 

Cukup lama Naila menyusul ke kantin karena langkah patah-patahnya. 

Ciara segera mengenali jaket yang melingkar di pinggang Naila. "Kok, seperti jaketnya Kak Raihan." 

"Tadi emang ada laki-laki yang pinjamkan jaketnya, namanya Raihan." 

"Wah, tidak salah. Pasti Kak Raihan. Kakak bilang mau tolong cewek yang rembes. Jadi itu kamu, Nai?" 

"Iya." Anggukan Naila yang tidak menduga pada hal kebetulan ini.

"Bagus deh, saya kira Kak Raihan tolong cewek tidak jelas," kekeh Ciara.

Fani membantu memesankan makanan untuk Naila karena iba dengan langkah kaki kawannya. Jadi, sekarang keempat gadis itu makan bersama. 

Daffa juga sedang kuliah, tapi di universitas berbeda dan tentu saja tempat itu lebih terkenal dari tempat Naila menimba ilmu karena laki-laki ini berasal dari keluarga berada. 

Daffa adalah mahasiswa populer karena ketampanannya, dia seorang idol kampus. Banyak gadis tergila-gila padanya, tapi tidak satupun yang membuat ketertarikannya mencuat. Semua gadis-gadis itu hanya dianggap pemuas saja sama seperti Naila walau hanya Naila yang pernah dia sentuh. 

Daffa dan kelima kawannya baru saja menyelesaikan materi. Di kampus ini hanya kelima kawannya yang tahu setatus barunya yang adalah seorang suami.

"Bagaimana rasanya menikah?" goda Gavin. 

"Biasa saja," jawab datar Daffa. 

"Masa sih, bukannya enak," goda Gavin lagi. 

"Enak di ranjang saja, tapi saya malas kasih makan Naila!" aku Daffa. 

Rico memerotes kecil, "Dosa tahu, istri harus dapat nafkah lahir, bukan cuma batin saja, jangan lupa uang belanjanya." 

"Tidak peduli!" Datar Daffa. 

Kelima kawannya hanya saling memandang, tapi tidak lagi membahas pernikahan Daffa karena mereka tahu pernikahan itu atas dasar perjodohan. 

Seusai kuliah, Daffa tidak lantas pulang karena harus segera berkerja di perusahaan Haris. "Pa, boleh tidak Daffa tidak usah bekerja? Enak sekali Naila cuma kuliah, sedangkan Daffa banting tulang," adunya seiring menggerutu. 

"Sudah kewajiban laki-laki mencari nafkah untuk istrinya dan suatu hari untuk anak dan istri," tutur santai Haris tanpa menggubris kalimat Daffa. 

"Tapi pa, itu tidak adil!"

"Adil, Naila melayani kamu dengan tulus siang dan malam. Maka, kamu harus nafkahi Naila sesuai haknya." Kini Haris berkata tegas. Maka, Daffa tidak bisa membantah atau mengeluh, apalagi memerotes seperti yang baru saja dilakukannya. 

Sementara, Naila baru saja keluar dari bus. Dirinya harus berjalan sekitar dua puluh meter untuk mencapai lokasi tempatnya bernaung. 

Raihan menghentikan motornya kala melihat Naila sedang berjalan pincang menyusuri jalanan daerah. "Mau naik," tawaran ramahnya. 

Naila segera menoleh ke arah Raihan. "Tidak usah, terimakasih." 

"Yakin, memangnya tidak sakit berjalan pincang begitu?" 

"Tidak kok." Naila memberikan jawaban yang sama seperti pada kawan-kawannya. 

Raihan mengingat status Naila yang adalah seorang istri maka dirinya mengerti jika Naila sedang menjaga fitnah tetangga. "Iya sudah, tapi hati-hati." Senyuman tulusnya. 

"Iya. Eu-bagaiman jaket kamu?" 

"Pakai saja dulu," tawaran tulus laki-laki dengan perawakan sixpack. 

"Maaf ya, mungkin kamu harus menunggu jaketnya kering karena harus saya cuci dulu." 

"Iya, tidak apa. Pakai saja selama kamu butuh." Senyuman tulus Raihan masih memancar, "iya sudah, saya duluan," pamitnya karena beberapa tetangga mulai memandangi dirinya dan Naila. Laki-laki ini tidak ingin Naila dicap tidak baik sebagai seorang istri. 

Raihan berlalu terlebih dahulu, sedangkan Naila masih harus berjalan pincang dan terhuyung-huyung hingga tiba di rumah. Jaket milik Raihan segera dicuci memakai mesin supaya cepat kering. Naila juga menitipkan jemurannya di halaman tetangga dengan alasan tambang jemurannya penuh. Semua itu dilakukan agar Daffa tidak marah karena jaket milik laki-laki lain. 

Sore harinya Daffa pulang, tapi sejak kemarin dirinya tidak menyantap masakan Naila. Sama halnya dengan sore ini walau istrinya sudah menawarkan dengan santun. 

"Saya akan makan di luar, kamu makan saja sendiri," tolak Daffa kala Naila baru saja selesai memasak telur balado.

"Uang sisa amplop tinggal sedikit lagi, nanti saya mau minta uang buat masak," ucap santun Naila. 

"Minta saja sama orangtua toh mereka yang menikahkan kita." Santai Daffa seiring menghisap rokok. 

"Mana bisa seperti itu." Suara pelan dan hati-hati Naila agar tidak menyinggung Daffa. 

"Saya imam kamu, turuti perintah saya!" tegas Daffa, kemudian bergegas mandi. 

Namun, baru saja sampai di ruangan lembab itu. Daffa melihat celana berdarah milik Naila yang masih menggantung. "Ck, baru saja seminggu menikah sudah datang bulan. Kalau begini saya semakin tidak betah di rumah!"

Daffa segera menyelesaikan mandinya kemudian menemui Naila yang masih sibuk di dapur karena semua urusan rumah menjadi tanggung jawabnya. "Malam ini saya tidak akan pulang. Jangan hubungi saya!" 

"Tapi, bagaimana kalau orangtua kita tiba-tiba datang dan menanyakan kamu?" 

"Think smart girl, kamu bisa buat alasan masuk logika, kan!" Daffa segera berlalu, dia memacu motornya entah kemana. Naila tidak pernah tahu.

Saat hendak keluar daerah, Daffa berpapasan dengan Raihan yang sedang berkumpul dengan beberapa pemuda. Para pemuda menyapa Daffa sebagaimana pada seorang kawan. Lalu, salah satu pemuda berkata setelah Daffa berlalu, "Beruntung sekali Daffa dapat Naila, salah satu cewek paling cantik di daerah sini." 

Jadi, itu suaminya Naila. Hati Raihan. 

Bersambung ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED