Bab 1

Bab 1.

"Kita hendak ke mana Van, kenapa baju Ibu di masukkan semua ke dalam plastik?" tanya Ibu sambil terbata-bata.

"Kita pindah ke kontrakan baru, Bu! Kita sudah di usir dari sini sama menantu Ibu," sahut Ivan.

Sambil terseok-seok Ibuku berjalan di tuntun oleh Ivan. Di luar, sebuah mobil pik-up sudah menunggu untuk membawa Ibu dan barang-barangnya.

"Kau bilang sama suamimu, kalau nanti dia mati, ku ludahi mayatnya. Dasar kalian anak durhaka," bentak adikku.

"Nanti kalau kau berumah tangga pasti merasakan seperti aku ini. Pilih istri atau orangtuamu," ucapku lirih.

Waktu itu hampir Magrib, ketika Ibu dan adikku meninggalkan rumah yang ku tempati ini. Aku terdiam, hatiku terenyuh melihat Ibu sudah duduk di dalam mobil pengangkut barang. Terdengar suara mesin mobil di hidupkan, perlahan mobil itu pun pergi dan menjauh. Aku masuk ke kamar lalu mengunci pintu dan menangis sejadi-jadinya. "Ibuuu ... maafkan akuuu."

🌷🌷🌷

Aku Nayla, seorang ibu rumahtangga beranak tiga. Aku tiga bersaudara, adikku keduanya laki-laki. Otomatis aku anak perempuan satu-satunya harapan Ibu. Tapi aku tak pernah berhasil membahagia kan Ibu. Sejak aku menikah dengan suamiku bernama Beni, Ibu tinggal bersama adikku, dengan mengontrak sebuah rumah kecil. Ivan dan Dery yang bergantian mengurus dan membiayai semua kebutuhan Ibu. Sedangkan aku susah payah menyisihkan sisa uang belanja agar bisa ku tabung. Niatnya untuk meringankan biaya Ibu, biar adikku  bisa menabung untuk masa depannya.

Sudah setahun belakangan ini, Ibuku mulai lemah tubuhnya. Terserang strock ringan. Jalannya pun tertatih-tatih. Matanya mulai rabun efek dari gula darahnya yang tinggi. Kami anaknya sudah berusaha membawanya berobat ke dokter dan meminumkan ramuan yang bisa menetralkan penyakitnya. Karena Ibu mulai sakit-sakitan, ku bujuklah Bang Beni suamiku ini, agar mengizinkan Ibu tinggal bersama kami. Sedangkan adikku tetap tinggal di kontrakkan. Awalnya ia diam saja ku ajak berbicara. Setelah tiga hari menunggu jawabannya, barulah ia mengizinkan Ibu tinggal bersama kami.

Alangkah senangnya hatiku. Sejak menikah, ini yang ku inginkan. Bisa membawa dan mengurus Ibu. Setelah punya anak tiga barulah bisa terwujud. Awalnya semua baik-baik saja. Ibuku merasa senang, rame katanya di rumahku. Bisa lihat aku dan cucunya bermain. 

Biasanya di kontrakkan ia merasa sendiri, sedih tak ada teman ngobrol. Sedangkan adikku bekerja dari pagi hingga malam. Sebulan tinggal bersamaku, kok tubuh Ibu semakin lemah, aku merasa khawatir, apakah Ibu merasa tertekan, atau memikirkan sesuatu. 

Ternyata ia kangen dengan kedua adikku. Tak sanggup bila tak melihat mereka. Setiap sore di tunggunya adikku datang untuk menjenguk. Lalu ku telfon adikku, agar datang ke rumah. Adikku kaget melihat kondisi Ibu yang tambah lemah. Jadi kami anak-anaknya berinisiatif agar besok membawanya ke rumah sakit untuk periksa tensi dan kadar gula darahnya.

🌷🌷🌷 

  Keesokan paginya, adikku Ivan dan Dery datang ke rumah. Kebetulan hari ini mereka libur kerja. Setelah memandikan dan memberi Ibu makan. Ku beritahu ke Ibu kalau ingin membawanya berobat ke rumah sakit, biar sembuh tak lemas seperti ini. Ia pun menyetujuinya. Aku minta izin ke Bang Beni untuk membawa Ibu berobat. Dia diam saja tak menjawab. Aku pun berlalu darihadapannya. Anakku tak ada yang ikut, karena yang sulung sudah bisa menjaga adiknya. Lalu aku memesan taksi online. Kami bertiga pun pergi ke rumah sakit. Di dalam taksi Ibu bertanya.

"Kita hendak ke mana? Pinggang Ibu udah sakit nih, dari tadi tak sampai juga!" tanyanya.

"Bentar lagi sampai Bu, itu belok ke sebelah kanan, sudah nampak dari jauh rumah sakitnya," jawabku menenangkan hatinya.

"Kok tangan Ibu dingin dan gemetar? Ibu tak usah takut, kita cuma periksa saja, bukan di suntik," hiburku 

Ivan pun ikut nyeletuk, "tapi Ibu ingin jalan-jalan lagi. Harus sehatlah jangan lemah seperti ini," ledeknya.

Sesampainya di rumah sakit, adikku meminta kursi roda untuk Ibu. Kemudian memapah Ibu turun dari taksi, lalu mendudukannya di kursi roda. Perawat menyambutnya di depan pintu masuk, lalu membawa Ibu ke ruang UGD. Aku dan adikku pun bingung. Ibuku kan tidak sakit  parah, kenapa di bawa ke ruangan itu. Alasannya wajah Ibu terlihat pucat pasi. Perawat itu khawatir lalu memeriksa tensi Ibu.

"Waduh, tensi Ibu tinggi sekali! seratus delapan puluh per seratus. Tensinya terlalu tinggi untuk orangtua seusia Ibu. Takut pecah pembuluh darahnya, bisa berakibat fatal bagi pasien."  Perawat pun menyarankan agar opname sekarang juga. Kemudian perawat itu memasang selang infus di tangan kiri Ibu.

Kami berdua pun kaget. Tadi sebelum berangkat sehat-sehat saja. Ternyata Ibu baru pertama kali berurusan dengan rumah sakit. Ia merasa cemas dan ketakutan. Dan itu lah penyebab tensinya naik secara tiba-tiba. Akhirnya Ibu pun  harus di opname, bisa pulang kalau tensinya sudah normal. Ivan lah yang menjaganya selama tiga hari.

🌷🌷🌷

  Aku pun pulang sendirian. Sesampainya di rumah, ku beritahu pada Bang Beni kalau Ibu sekarang ada di rumah sakit dan harus di opname. Sungguh jawabannya di luar dugaanku.

"Itu lah sok pandai kalian. Bawa-bawa ke rumah sakit. Siapa yang bayar biaya rumah sakitnya. Nanti kalau mati siapa yang mau mengurusnya," hardiknya sambil menunjuk wajahku.

"Kan Ibu punya kartu jaminan kesehatan dari pemerintah, tak bayar biaya rumah sakit," jelasku.

"Kau tanggung jawabi itu semua, terjadi sesuatu dengan Ibumu, aku tak peduli," makinya dengan suara kasar.

Ya Allah. Ini manusia atau bukan, batinku.

Seperti tak punya hati sama sekali. Ngeri mendengar ucapannya. Aku pun berlalu masuk ke kamar meninggalkan Bang Beni yang masih mengomel. Sungguh sakit sekali hati ini mendengarkan ucapannya. 

Sering timbul penyesalan ku, mengapa dulu tak ku dengar nasihat ibu. Bahwa dia itu bukan lelaki yang baik untukku. Aku malah pergi meninggalkan Ibu. Dan lari bersama lelaki yang sekarang jadi suamiku. Setiap pulang kerja ia mengomel dan memakiku dengan kata-kata kasar. Ibuku yang di opname, kenapa dia yang setres, pikirku. Lagian biaya rumah sakit dan obat semuanya kan gratis.

Sejak Ibu keluar dari rumah sakit, adikku Ivan tinggal bersama kami. Karena Ibu yang meminta. ia lebih dekat dengan Ivan,  sedangkan Dery tinggal sendiri di kontrakan. Lagian anakku pun masih kecil-kecil, masih repot mengurusnya. Biar lah kami  bergantian mengurus Ibu, pikirku kala itu. Setiap malam aku mengantarkan pispot ke kamar Ibu, dan membuatkan teh hangat. Ternyata Bang Beni memperhatikan semua yang ku kerjakan. Tiba-tiba ia berkata.

"Bilang ke adikmu, bayar perbulan kamar yang di pakainya itu! Di sini tak ada yang gratis," ucapnya kasar.

"Gila kau Bang! Itu kan Ibu dan adikku, bukan orang lain. Kenapa harus bayar pula. Lagian kita tinggal di sini pun tak bayar. Hanya menempati rumah pabrik.  Di berikan rumah gratis dan di beri gaji setiap bulannya karena menjaga pabrik ini," jawabku tegas.

"Terserah ... kalau ingin tinggal di sini harus ikut peraturanku. Kalau tak suka silakan pergi dari sini," teriaknya sambil berlalu masuk ke kamar.

Ya Allah cobaan apalagi ini. Tapi aku bingung menyampaikannya ke Ivan. pastilah ia marah dan kecewa terhadapku. Dengan orangtua sendiri pun perhitungan sekali. Pasti seperti itu pikirannya. Dengan berat hati ku sampaikan juga pesan Bang Beni ke Ivan. 

Di sini lah awalnya Ivan marah padaku. Pikirnya aku membela Bang Beni. Apalah dayaku seorang ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan. Kalau ku lawan, tak di beri nya uang belanja, lalu anakku hendak makan apa. Begitu Ivan gajian langsung di bayarnya sewa kamar yang di minta Bang Beni. Dengan rasa bersalah, aku pun menerima uang itu. Lalu memberikannya ke Bang Beni.

Bersambung ....

Bab 2

Bab 2.

Setahun lamanya Ibu dan Ivan tinggal di rumahku. Tapi kondisi Ibu semakin memburuk. Awalnya masih bisa jalan, lama kelamaan harus di papah. Pernah sekali Ibu berjalan tanpa bantuanku, saat hendak buang air. Tiba-tiba ia tersungkur terduduk lemas di lantai. Langsung ku topang tubuhnya untuk berdiri. Ku papah menuju kamar mandi sambil memberikan tongkat yang sudah di belikan oleh adikku.

Ternyata Ibu sering mendengar aku bertengkar dengan Bang Beni. Jadi beban di pikirannya. Itu lah pemicu mengapa Ibu jatuh sakit lalu strock. Beliau hanya mau makan, kalau adikku yang memberinya. Sedangkan Ivan sedang giat menabung untuk biaya pernikahannya. Melihat kondisi Ibuku semakin parah, Bang Beni berkata padaku.

"Suruh adikmu cari rumah kontrakan! Sudah banyak itu tabungannya selama menumpang di sini. Nanti mati pula Ibu mu di sini, jadi kerjaan aku," ucapnya dengan kasar.

Ya Allah, seberapa lah cuma makan Ibuku. Sedang kan adikku menanggung biaya makan sendiri. Agar tak membebani aku.

"Adikmu kan hendak menikah, berarti sudah banyak uangnya. Jadi tunggu apalagi, segera suruh cari kontrakan! Nanti kalau dia sudah menikah, bakalan di tinggalkannya Ibumu di rumah ini. Aku tak mau menanggung itu semua," bentak nya.

Berkali-kali itu saja ucapan Bang Beni padaku. Membuat ku muak dengan sikap kasarnya. Kadang aku menyumpahinya dalam hati. Ternyata Ibu yang sedang rebahan di kamar, mendengar semua ucapan Bang Beni. Lalu beliau memberitahukannya pada Ivan. Sebulan lamanya aku dan Ivan tak bertegur sapa, padahal masih tinggal satu rumah. Setelah mendapatkan kontrakan, Ibu dan Ivan pun pindah dari rumahku.

🌷🌷🌷

Sejak ibu pergi, hancur rasanya hatiku. Setiap hendak tidur aku menangis teringat dengan kondisi ibu yang sedang strock. Ya Allah, betapa durhakanya diriku yang telah menelantarkan Ibu. Setiap salat selalu ku panjatkan doa untuk beliau. Karena Ibu sendiri di kontrakan, adikku membayar pengasuh untuk merawatnya.

Hingga Ivan menikah pun aku tak juga tegur sapa dengannya. Aku tahu ia pesta dari sepupuku. Mereka menelfonku, kenapa tak nampak di pesta adikku. Jelas lah, aku kan tak di undang. Mereka bilang, adikku menangis di atas pelamin, ketika di ingatkan tentang aku yang tak hadir di sana. Memang sudah jalanNya, harus di jalani semua ini. Apapun yang terjadi pasti atas kehendakNya.

Tiga tahun lamanya aku tak tegur sapa. Ibu pun semakin parah sakitnya. Bicara sudah tak lancar lagi, penglihatannya pun semakin kabur. Sejak punya menantu, aku kira Ibu semakin bahagia. Nyata nya tidak, mereka sering cekcok hanya karena masalah sepele. Sekarang adikku baru merasakan, gimana dulu posisinya seperti aku. Yang harus mendengarkan kata Ibu atau istrinya.

Dery adikku yg bungsu, sering menelfon diam-diam tanpa tahu Bang Beni. Dari dia lah aku selalu tahu kabar Ibu. Setiap bulan ku suruh ia ke rumah, untuk ambil sembako, agar di bawanya ke rumah Ibu. Setiap menerima kiriman dari aku, Ibu selalu nangis berlinang air mata. Ia rindu dengan anak dan cucunya. Menantu Ibu pernah menyarankan untuk menelfon aku, tapi Ivan melarang. Karena masih sakit hati dengan Bang Beni.

🌷🌷🌷

Hingga suatu hari menantu Ibu menelfon aku. Ia hendak mengadakan syukuran, acara ulang tahun anaknya yang pertama.

Kami sekeluarga di undangnya untuk datang. Tapi acara di adakan di rumah orangtuanya. Bukan di rumah Ibu. Ku sampaikan kabar ini ke Bang Beni. Awalnya ia diam saja, begitu tiba harinya, kami pun sekeluarga pergi ke acara syukuran itu. Alhamdulillah ... rasa bahagia tak terkira, kami pun berbaikan lagi dengan adikku. Semua ini karena inisiatif adik ipar dan ibunya yang menyarankan untuk memberi kabar ke kami.

Seminggu kemudian aku dan anak-anak menjenguk Ibu ke rumahnya. Setelah mencari alamatnya, kami pun tiba di depan rumah kontrakan yang berjejer tiga pintu. Aku bingung, tak tahu rumahnya yang sebelah mana. Anak sulungku melihat ada pintu rumah yang terbuka. Dan Ia pun berseru.

"Ibu! Itu nenek kan?" ucap Sinta putri sulungku. Ia menunjuk ke arah pintu yang terbuka. Aku menoleh ke arah yang di tunjuknya. 

"Oh iya, bener!" Kami pun langsung menghampirinya dan mengucapkan salam. Terlihat Ibuku menoleh dan menjawab salam kami.

"Ibuuuu ...!" Aku langsung memeluk dan  mencium tangannya. 

"Nayla ... Kau itu Nak?" beliau mengenal suaraku. Sedang kan matanya sudah kabur, tak jelas melihat orang.

Dari dapur keluar seorang wanita, ternyata ia yang merawat Ibu. Beliau mengatakan Kalau Ibu sudah tahu kalau aku hendak datang bersama anak-anak. Karena kemaren aku telah memberi kabar ke Ivan. Ibu minta di mandi kan, lalu di pakaikan baju daster yang baru di beli adikku. Pantesan beliau sudah duduk dan menunggu di depan pintu, sebelum kami datang.

Aku bawakan sembako dan cemilan ke sukaan ibu. Betapa senang hati beliau, mendengar ceritaku dan  canda tawa anak-anak ini.

"Bu, maaf kan Nayla ya. Baru sempat menjenguk ke sini," ucapku lirih.

"Tak apa, Ibu mengerti kok. Yang penting kalian sehat sekeluarga," ucapnya sambil terbata-bata. Lalu ibu bertanya, 

"Mengapa Beni tak ikut ke sini?

"Ia sedang sibuk," jawabku sekenanya. Di izinkan Bang Beni menjenguk Ibu, aku sudah bersyukur sekali, batinku.

Sedangkan Ivan dan istrinya, langsung menghampiriku dan bersalaman. Ku peluk mereka berdua. Hilang lah semua rasa benci dan marah  di antara kami. Mereka memasak makanan kesukaan aku dan Ibu. Ketika hendak makan, ada suara ketukan pintu dari luar.

Ternyata yang datang adalah besan Ibu. Ivan dan istrinya yang mengundang mereka untuk datang. Hati ini terasa mengharu biru, kami pun saling bersalaman dan berkenalan.

Ya Allah, ternyata Engkau mengijabah semua doa-doaku. Aku berharap di sisa umur Ibu, walau pun tak bisa memberikan harta, setidaknya aku bisa melihatnya lagi dan membahagiakan hatinya.

Ternyata selama ini, Ivan sering di nasihati oleh mertuanya. Bersaudara itu biasa sering terjadi selisih faham. Tetapi tak baik saling bermusuhan dalam jangka waktu lama. Apalagi masih ada orangtua. Pasti itu melukai hati Ibu kalian. Itu yang di jelaskan mertua Ivan, saat kami sedang duduk di ruang tamu

Bab 3

Bab 3.

Entah kenapa, sejak tadi sore hatiku teringat Ibu terus. Niat hati hendak menelfon Ibu, terpaksa ku urung kan. Karena sejak pulang kerja, ku lihat wajah Bang Beni kusut terus, seperti baju yang belum di setrika. Terakhir bertemu Ibu, kira-kira enam bulan yang lalu. Terdengar miris memang, padahal jarak rumah kami hanya satu jam perjalanan. 

Selepas makan malam, aku dan Bang Beni duduk di ruang tivi. Kelihatan wajahnya sudah lebih rileks di banding kan tadi sore. Langsung ku ajak berbicara.

"Bang, besok kan hari libur. Kita jenguk Ibu yuk! Aku kangen dengan beliau," ucapku pelan. 

Bang Beni tak bergeming, ku lihat matanya fokus ke acara tivi. Ku ulangi sekali lagi ucapan tadi.

"Ya sudah, besok siang lah kita pergi," jawabnya acuh.

Alhamdulillah ... semoga besok cuaca cerah. Bisa silaturahmi ke rumah Ibu, doaku di hati. Aku pun berlalu dari ruang tivi menuju kamar anak-anak. Ku beritahu kan niat ini. Alangkah senang hati mereka. Sungguh terharu melihatnya, lalu ku peluk mereka satu persatu.

Mungkin begini lah dulu Ibuku mengasuh anak-anaknya. Harta yang paling berharga untuknya, ya anak-anaknya ini. Duh ... bertambah kangen rasanya, tak sabar menunggu esok hari. 

******

"Dek! entar siang kakak ke rumah Ibu bersama anak-anak ya!" Aku memberitahu ke Ivan tadi pagi, melalui telfon.

"Oh, oke," jawab adikku.

Anak-anakku paling senang kalau di bawa jalan-jalan ke rumah neneknya. Karena Ivan, oom nya suka ngajak mereka, beli jajanan di minimarket dekat rumah.

"Horee ... horee, ke rumah nenek," sorak si bungsu, Nina.

Sedang kan Sinta dan Raka, selalu mengingatkanku untuk tak lupa membawa kebutuhan pokok dan cemilan  untuk neneknya. 

Selesai membereskan tugas rumah, gegas ku mandi kan si bungsu. Kakak dan abangnya sudah pandai mengurus diri sendiri. Si sulung Sinta sudah duduk di bangku SMP, sudah bisa di ajak curhat juga. Yang kedua, Raka masih SD kelas enam, sedang kan si bungsu baru berusia tiga tahun.

Selepas Zuhur, aku pun mengajak Bang Beni, untuk menjenguk Ibu. Awalnya Ia mau di ajak. Sekian menit kemudian ia berubah pikiran, tak jadi pergi. Aku sangat kecewa dengan sikapnya. Entah apa yang ada di dalam pikiran. Suka sekali memutuskan tali silaturahmi antar keluarga. Begitu sudah di lihatnya aku dan anak-anak sibuk hendak pergi, dia pun berulah. 

"Ya sudah lah, aku dan anak-anak saja yang pergi, naik taksi online." Ia diam saja mendengar ucapanku. 

Aku sudah lelah menghadapi sikapnya. Lagi malas ribut juga. Kasihan sama anak-anak, karena dari pagi sudah berharap bertemu neneknya. Akhirnya kami berempat saja yang pergi ke rumah Ibu. Sepanjang perjalanan, aku lebih banyak diam. Hanya mendengarkan celoteh mereka, yang bergantian saling meledek. Hmm ... dasar anak-anak comel, bisikku di hati. Mereka ini lah penyemangat hidupku. Di saat hati sedang gundah dan kecewa, begitu lihat mereka, luka hatiku langsung terobati. 

Hampir satu jam menempuh perjalanan, akhirnya taksi yang ku tumpangi sampai di depan gang rumah Ibu. Setelah membayar ongkos taksi, kami pun turun. Hampir saja tertinggal barang bawaan ku, gegara sibuk menurunkan bocil-bocil yang ceriwis ini. Raka dan Nina berlari-lari kecil, kesenangan hati. Sedang kan aku dan si sulung jalan beriringan sambil tersenyum melihat tingkah adiknya.

******

Sesampainya di depan rumah Ibu, terlihat pintu rumahnya tertutup. Biasanya Ibu selalu duduk di ruang tamu, sambil menunggu kedatangan kami. Padahal tadi pagi sudah ku beritahu ke Ivan. Kok perasaan ku jadi tak enak ya. Sambil mengetuk pintu, aku mengucapkan salam. Tak lama pintu pun di buka, tampak pengasuh Ibu tersenyum, sambil mempersilakan kami masuk. Tak sabar aku pun bertanya ke pengasuhnya.

"Ibu di mana kak, kenapa tak kelihatan?," selidikku. 

"Ada di dalam kabar, Nay," jawabnya.

"Ivan mana?" tanyaku.

"Lagi nginap di rumah mertuanya," jawab pengasuh tersebut.

Aku berjalan menuju kamar Ibu.

Terlihat Ibu berbaring sambil matanya menerawang ke atas langit kamar. Lalu ku dekati Ibu sambil berkata.

"Bu, Nayla datang bersama anak-anak nih," ucapku.

Terlihat Ibu menggerakkan kelopak matanya. Sedangkan mulutnya komat- kamit tanpa suara. Betapa terkejutnya aku, Ibu sudah tak bisa  melihat dan berbicara lagi. Matanya sudah rabun, terlihat putih di pupil matanya. Sedangkan lidahnya sudah pendek, tak dapat lagi mengeluarkan suara. Ya Allah ...

maaf kan aku. Sudah lama tak menjenguk Ibu. Hingga tak tahu penyakitnya semakin parah.

Tak lama adikku pulang dari rumah mertuanya. Langsung ku berondong dengan banyak pertanyaan. Ternyata semua faktor pikiran. Alasan adikku, karena istrinya sering ribut dengan Ibu ketika ia sedang bekerja. Jadi istrinya meminta pulang ke rumah orangtuanya. Adikku lebih sering menginap di rumah mertuanya. Ibuku merasa kehilangan, lalu menjadi beban di pikirannya.

Yang lebih parah lagi, Ibuku sudah tak bisa lagi berjalan walau pun menggunakan tongkat. Beliau sudah lumpuh total. Semua aktifitas sehari-hari di lakukan di atas tempat tidur, kecuali mandi. Ibuku sangat sayang dengan Ivan. Sehari saja tak melihat dia, Ibu pasti nanyain terus tanpa henti. Itu info yang ku dapat dari pengasuhnya. Pantesan lah jadi begini, ucapku di hati.

"Kak! Yuk kita mandi kan Ibu!" ajak Ivan. Kami pun menggotong Ibu ke kamar mandi.

Ya Allah, iba rasa hati ini ketika memandikannya. Tak terasa air mata ku meleleh. Karena baru kali ini aku ikut memandikannya. Sepertinya Ibu menggigil , air di bak mandi, terasa dingin di tubuhnya. Kami pun segera menyudahinya. Ivan memakai kan Ibu, daster kesayangannya. Lalu menyisir rambut dan menaburkan bedak di pipi tirus Ibu.

"Sudah tiga hari Ibu tak mau makan," jelas pengasuhnya. Oh ya, aku membawakan bubur ayam kesukaan Ibu. Mudah-mudahan Ibu berselera untuk memakannya. Langsung ku buka rantang yang berisikan bubur tadi. 

"Bu, aku suapi bubur ya! Enak nih, ada campuran bakso dan ayam suwirnya," jelasku. Lalu Ibu menganggukan kepala. Perlahan ku suap kan bubur ke mulutnya. Tampak Ibu menikmati tiap suap yang ku beri kan.

******

Setelah makan, kami pun membawa Ibu duduk di ruang tamu. Pengasuh Ibu berbaik hati meladeni anakku yang sedang aktif nya bermain.

"Dery mana, kok tak kelihatan?" tanyaku pada Ivan. 

"Sekarang ia menjadi supir pribadi di sebuah kantor. Di sedia kan tempat untuk menginap juga. Ia lebih memilih tinggal di sana, ketimbang harus membayar kontrakan setiap bulannya," jelas Ivan.

"Seminggu sekali ia kesini menjenguk Ibu, dan membelikan apa yang di butuhkan Ibu." jelas Ivan padaku.

"Oh iya, ini ada cemilan untuk Ibu. Biasa lah biskuit abon dan martabak manis," ucapku. Ibu memberi isyarat dengan sebelah tangannya, melambai ke arah anakku. Lalu menyodorkan piring yang berisi martabak tadi. 

"Asikkk ... mau Nek! Kata si bungsu Nina." Sambil berlari ke arah neneknya.

"Besok-besok kita ke sini lagi ya Bu!" kali ini Raka yang berbicara.

"Belum lagi pulang, sudah minta datang lagi ke sini," ledekku sambil terkekeh.

"Siapa yang mau jajan es krim?" kali ini Ivan membuat anakku melompat kegirangan. 

"Yee ... yeeee!  Jajan es krim ... es krim!" sorak mereka. Hmm, kalau soal ini, ketiganya takkan menolak.

Aku dan anak-anak, berhasil membuat Ibu tersenyum, bahkan tertawa seharian ini.

Tak terasa hari pun telah sore, aku merasa sedih ketika berpamitan pulang pada Ibu dan Ivan. Aku berjanji, minggu depan kami akan datang lagi ke sini.

Ibu hanya tersenyum mendengar janjiku. Lalu ku cium punggung tangan Ibu serta memeluknya dengan erat. Tak terasa Mataku pun berembun. Tak lama anak-anak pun ikut mencium punggung tangan neneknya secara bergantian. Kami pun melangkah pulang.

Bersambung ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED