Terry terpaku. "Kamu bilang apa? Dia memposting di media sosial, bilang hari ini dia akan menikah?" Dia langsung merampas ponsel temannya. Begitu melihat postingan Candice, pikirannya langsung kosong.
Tidak mungkin! Dia akan menikah? Sama siapa?
Saat itu juga, sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Dari dalam mobil, keluar seorang wanita dengan gaun pengantin. Orang itu tak lain adalah Candice.
Melihat Candice, ekspresi Terry seketika berubah. Dia berdiri di tempat dengan gugup dan bertanya, "Candice, kenapa kamu di sini?"
Candice turun dari mobil, menatap pria di depannya dengan senyum sinis di bibirnya. "Aku juga mau tanya, kenapa kamu ada di sini?"
Tatapannya menyapu Vivian yang berdiri di samping Terry. Vivian mengenakan gaun pengantin milik Candice, membawa buket bunga yang seharusnya miliknya, dan berdiri di tempat yang seharusnya menjadi milik Candice.
Melihat Candice, wajah Vivian langsung berubah. Dia sama sekali tidak menyangka Candice akan datang dengan mengenakan gaun pengantin untuk "mengacaukan" pernikahannya.
"Aku ...."
Terry tidak tahu harus berkata apa.
"Candice! Kamu pasti sudah tahu hari ini aku akan menikah sama Terry, jadi kamu mengenakan gaun pengantin untuk datang ke sini. Apa kamu ingin merebut Terry dariku?"
Air mata Vivian langsung mengalir. "Aku mohon, jangan hancurkan pernikahanku, ya? Aku nggak akan hidup lama. Aku akan segera mati. Setelah aku mati, Terry akan sepenuhnya jadi milikmu. Tapi sekarang, tolong, jangan rebut dia dariku!"
Vivian menangis tersedu-sedu. Namun, melihat Candice yang tetap tenang dan tidak terpengaruh, Vivian langsung berlutut di tanah.
Kerumunan yang berkumpul di sekitar mereka mulai berkomentar. Melihat adegan ini, banyak yang mengira Candice adalah orang ketiga. Namun, Candice hanya merasa adegan ini sangat lucu.
"Candice, aku benar-benar mencintai Terry, tapi aku mengidap kanker. Keinginanku yang terakhir adalah menikah sama Terry sebelum aku meninggal. Aku mohon, tolong biarkan aku menikah dengannya."
Terry akhirnya tidak tahan lagi dan membantu Vivian berdiri. "Vivian, jangan begini. Candice itu wanita yang baik hati, dia pasti akan merelakan ini untukmu."
Terry menatap Candice, lalu berjalan mendekatinya dan meraih tangannya.
"Maafkan aku, Candice. Aku nggak bermaksud menyembunyikan ini darimu. Kondisi Vivian semakin parah dan aku nggak bisa mengabaikan keinginannya yang terakhir. Kamu tenang saja, pulang dulu. Setelah aku menyelesaikan pernikahan ini dengannya, aku akan kembali padamu."
Candice melepaskan tangannya dengan dingin. Ekspresinya tetap datar saat berkata, "Terry, apa yang membuatmu berpikir bahwa aku di sini hari ini untukmu?"
"Candice, jangan bertingkah seperti ini. Aku tahu hari ini adalah salahku. Setelah aku pulang, kamu bebas melakukan apa pun yang kamu mau!"
"Benar, Candice." Salah satu teman Terry muncul entah dari mana dan ikut berbicara, "Situasinya sudah seperti ini. Kamu relakan saja Terry untuk menikah sama Vivian."
Semua teman Terry mulai bergantian bicara, mencoba menenangkan Candice.
"Terry tetap mencintaimu. Dia melakukan ini hanya karena rasa tanggung jawab. Candice, kamu orang yang baik hati. Pulanglah, ya."
Candice memandang sekumpulan pria di depannya, lalu tertawa dingin. Mereka sungguh luar biasa murah hati. Begitu murah hati hingga meminta dia menerima bahwa pacarnya menikah dengan wanita lain dan memintanya untuk tersenyum sambil mundur.
Sayangnya, Candice tidak akan melakukan itu.
"Aku ulangi lagi, aku datang ke sini hari ini bukan untukmu."
Setelah berkata demikian, Candice mengangkat kakinya dan berjalan menuju aula pernikahan. Namun, Vivian langsung menghalangi jalannya dan mulai menangis histeris.
"Candice, kamu benar-benar nggak mau membiarkanku menikah, ya? Kamu ingin melihatku mati, 'kan?"
Usai bicara, Vivian memegang gaun pengantinnya dan berlari ke arah tiang di sisi aula dengan nekat.
Semua orang terkejut. Mereka melihat darah di dahi Vivian menodai gaun pengantinnya yang putih bersih.
"Vivian!" Hal ini membuat keraguan dan rasa bersalah Terry sirna. Dia memeluk Vivian, bertanya dengan sedih, "Untuk apa kamu begitu?"
"Terry, kamu tahu harapan terbesarku di kehidupan ini adalah menikah denganmu. Kak Candice nggak merestui hubungan kita, jadi lebih baik aku mati. Tenang saja, aku nggak menyalahkanmu atau Kak Candice. Ini salah nasibku yang terlalu buruk."
Usai berbicara, Vivian bahkan muntah darah. Hal ini membuat tatapan Terry kepada Candice menjadi semakin dingin. "Candice, kamu mau melihatnya bunuh diri? Sejak kapan kamu menjadi sekejam ini?"
Candice merasakan sakit di hatinya mendengar pertanyaan itu. Ternyata di mata Terry, dia adalah orang seperti itu. Namun, tidak masalah lagi karena dia sudah muak dengan permainan ini.
"Terry, upacara pernikahan sudah mau dimulai. Sebaiknya kalian cepat masuk," ujar seseorang. Terry lantas menggendong Vivian, lalu melirik Candice dan pergi tanpa menoleh.
Seseorang maju untuk menasihati Candice, "Candice, Terry bilang Vivian nggak bisa hidup lama lagi. Kamu jangan buat keributan lagi. Pulang saja. Ada banyak yang melihat di sini."
"Sudah kubilang, hari ini aku datang bukan untuk Terry. Hari ini aku nikah di aula di samping Terry. Kalau ada waktu, kalian mampir saja nanti." Usai berbicara, Candice melangkah masuk ke aula.
Semua orang bertatapan, tidak tahu harus bagaimana membujuk Candice. "Terry ini hebat sekali ya. Dua wanita memakai gaun pengantin untuk mendapatkan perhatiannya."
Ketika Candice masuk, kerabat sudah datang, tetapi mempelai prianya belum terlihat. Ibunya pun agak cemas. "Gian pasti datang, 'kan?"
"Jangan bodoh. Keluarga Jaufar saja datang, mana mungkin Gian nggak datang? Dengar-dengar semalam dia sudah dalam perjalanan pulang. Mungkin sebentar lagi sampai."
Orang tua Candice tampak gelisah, tetapi Candice hanya duduk di tempatnya dengan wajah datar. Faktanya, Candice juga cemas. Dia akan menikah dengan pria asing yang tidak pernah ditemuinya. Candice bahkan tidak tahu Gian tampan atau tidak, pendek atau tinggi.
Menyesal tidak? Tentu tidak. Lagian, dia sudah tidak muda lagi dan sudah waktunya menikah. Jika pria itu bukan orang yang dicintainya, menikah dengan siapa pun sama saja.
Di aula samping, terdengar suara pembawa acara. Candice mendongak untuk melihat ke arah itu. Saat ini, Terry berdiri di depan pembawa acara, tetapi tampak tidak fokus. Seluruh pikirannya ada pada Candice. Entah Candice sudah pulang atau belum, entah Candice bisa memaafkannya atau tidak.
"Vivian, apa kamu bersedia menikah dengan Terry? Baik itu kaya, miskin, sehat, atau sakit, kamu akan terus mencintai dan menjaganya?"
Vivian menyahut dengan tidak sabar, "Aku bersedia!"
"Terry, apa kamu bersedia menikahi Vivian? Kamu akan menjaganya seumur hidup dan hanya punya dia di dalam hatimu?"
Terry sedang memikirkan Candice. Karena terlalu fokus, dia tidak mendengar pertanyaan pembawa acara.
"Terry, apa kamu bersedia menikahi Vivian?" tanya pembawa acara sekali lagi, tetapi tidak ada tanggapan dari Terry.
Vivian lantas mengernyit, sementara orang-orang di bawah mulai bergosip.
"Terry!" Vivian menjulurkan tangan untuk menarik pakaian Terry.
"Ada apa?"
"Pembawa acara tanya kamu sesuatu."
"Oh, maaf."
Terry tersadar dari lamunannya. Dia hendak bertanya pertanyaan apa itu, tetapi orang di bawah tiba-tiba berseru, "Ternyata Candice nggak bercanda. Dia benaran nikah hari ini, di aula sebelah!"
"Serius? Kamu nggak bohong?"
"Kita pergi lihat saja. Apa yang dilakukan pasangan ini sih? Mereka pacaran selama 5 tahun, tapi nikahnya malah sama orang yang berbeda. Nggak masuk akal sekali."
Usai berbicara, beberapa orang pun pergi. Entah mengapa, Terry yakin Candice hanya membuat onar, tetapi dia tetap panik.