Bab 1

Prolog

🔥🔥🔥

"Saya terima nikah dan kawinnya Zavrilly Alka Louise bin Mario Louise almarhum dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Suara qobul dengan lantang baru saja didengar di seluruh penjuru gedung.

Seorang laki-laki berkopyah menatap seluruh pasang mata yang hadir sembari bertanya, "Sah?" detik selanjutnya kata sah saling bersahutan.

Sebuah balroom hotel yang sebelumnya adalah ruang kosong kini berubah seketika. Sentuhan tangan ajaib beberapa orang telah menjadikan tempat ini sebuah pesta nan megah. Karpet merah terbentang panjang dari pintu masuk, lurus ke arah di mana pusat perhatian malam ini berada.

Meja bundar dengan lapisan kain berwarna putih, berhiaskan bunga dengan benang emas berkilau. Dikelilingi kursi dengan jumlah delapan buah, melingkari sebuah tatanan alat makan yang mewah.

Sisi kanan gedung, meja panjang dengan kain putih menjuntai ke bawah, menyimpan segala macam kudapan. Dari yang ringan sampai makanan yang berat. Tak lupa juga jajaran minuman dengan berbagai macam rasa dan merek. Mau yang biasa, berperisai buah, atau yang beralkohol? Semuanya tinggal menunjuk.

Sebuah lampu kristal berukuran raksasa menggantung indah di tengah-tengah gedung, membiaskan cahaya keemasan dari lampu-lampu berukuran kecil, menambah kesan romantis di sebuah pesta.

Tirai putih yang berdampingan dengan warna emas menghiasi dinding gedung, melambai-lambai karena sapuan angin. Bergerak seiring dengan alunan musik yang diputar, seperti mengajak para tamu untuk berdansa.

Memasuki aula, memandang lurus ke depan. Di sana, sejauh mata memandang, berdiri sebuah pelaminan yang begitu cantik akan dekorasi bunga asli. Harum mawar dan melati mendominasi, memanjangkan penciuman para tamu undangan.

Sebuah pesta pernikahan baru saja digelar. Setiap pasang telinga menyaksikan dua orang yang baru saja menyatukan cinta mereka. Mengikat hati dalam janji suci, bersumpah atas nama sang pemberi kehidupan.

Dua orang menggunakan setelan jas putih dan gaun pernikahan dengan warna senada, kini berdiri bersisian menyambut setiap undangan yang datang. Mengucapkan terima kasih akan doa yang disematkan untuk keduanya.

Senyum tidak pernah luntur, tergambar jelas kebahagiaan akan apa yang baru saja mereka dapatkan. Di atas pelaminan sana, berdiri dua sosok nan tampan dan cantik, gagah dan anggun. Sang raja dan ratu semalam.

Merekalah. Xavi Rasya Yarendra dan Zavrilly Alka Louise. Rasya dan Ava. Sepasang anak Adam yang kini menjadi pusat perhatian par tamu. Dua insan yang baru saja mengucapkan janji suci, mengikrarkan cinta, menyatukan dua keluarga.

Menampakkan senyuman manis, mereka menyebarkan kebahagiaan. Membagi dengan para khalayak keluarga. Tak ingin setiap momen yang terlewatkan menjadi sia-sia.

Dua pasangan yang terlihat begitu serasi. Hilir mudik semua orang mendekati, ingin menyampaikan doa dan keinginan terbaik untuk kehidupan nanti.

Namun sayang, di tengah kebahagiaan mereka, terselip seseorang yang menahan gejolak amarah dan sakit dalam hati. Hanya mampu menatap datar ke pelaminan sana. Lebih tepatnya, pada sang mempelai wanita.

Dialah sang lelaki tampan dengan rahang kokoh, mata hitam legam dan pandangan yang tajam. Tubuh tegap memperlihatkan dada bidang yang tersembunyi di balik kemeja hitam yang dikenakan. Lengan berotot tercetak jelas dari balik kain, dan harum musk yang mampu membuat para wanita di sekitarnya terbuai.

Namun, semua yang ia punya, tidak mampu menyemai kisah cintanya. Dialah sang raja patah hati malam ini, Razali Kafka Yarendra. Adik dari Xavi Rasya Yarendra si mempelai laki-laki.

Mata elangnya masih menatap tajam wanita yang saat ini telah berstatus istri sang kakak. Seandainya bisa berbuat, mungkin mata itu akan membawa kakak iparnya menghilang dari acara ini. Membawanya entah ke mana, hanya untuk dirinya.

Tangan yang terkepal kuat ia sembunyikan di balik celana bahan. Gigi yang saling gemeretuk menandakan si pemilik daksa tengah berusaha keras dalam usahanya. "Aku yang mengenalmu lebih dulu. Aku yang mencintaimu lebih dahulu. Tapi kenapa kau memilihnya sebagai pendampingmu?" bisiknya lirih.

Satu tangan yang masih memegang gelas kaca berisikan wine, meremas gelas itu untuk menyalurkan amarah. Entah kekuatan dari mana, gelas itu pecah seketika. Tidak memedulikan tangan yang terluka, ia masih tetap setiap berdiri di sana. Beruntunglah keadaan bising dengan musik membuat hal itu menjadi tersamarkan dengan kegaduhan.

Perih. Perih dan menyakitkan peristiwa yang beberapa waktu lalu ia saksikan. Namun, apa yang bisa ia lakukan?

Sebuah tepukan pada bahu membuat dirinya menoleh, terlihat Ziqry yang saat ini menatapnya iba. Sungguh. Ia tidak menyukai tatapan itu. "Kau oke?" Suara itu penuh akan kekhawatiran.

"Jangan mengasihaniku, Ziq," desisnya lirih. Tanpa kata ia meninggalkan sahabatnya begitu saja.

"Gila. Kalo bukan teman, sudah aku bunuh kau." Tidak sama sekali dipedulikan Ziqry yang menggerutu pada dirinya, Laki-laki dengan setelan kemeja hitam itu tetap melangkah.

Kafka memandang lurus ke arah pelaminan, menguatkan hati untuk tujuannya. Memberi selamat pada sang kakak. Melangkah pasti dengan pesakitan ke arah panggung dua mempelai itu. "Selamat kakak," ucapnya seraya memeluk laki-laki berbalut jas putih.

"Terima kasih." Sang kakak menepuk punggungnya. Tatapan Kafka kini beralih pada gadis cantik di samping Rasya, cukup dalam dan syarat akan kekecewaan. Sendu itu terpancar dari bola matanya.

"Selamat kakak ipar." Kafka mengulurkan tangan kanan. Sedang tangan kirinya yang terluka akibat pecahan gelas tadi ia sembunyikan.

Akan tetapi, bukan sambutan yang ia dapat. Hanya anggukan dan ucapan terima kasih dari Ava. "Terima kasih, Kaf. “

Ava adalah sahabatnya sejak kecil. Kebiasaan bersama membuat mereka begitu dekat hingga tumbuh perasaan di hati Kafka tetapi sepertinya tidak bagi Ava. Mungkin hanya cinta monyet.

Kafka memasang senyum tipis. Sepertinya Ava tidak ingin melihatnya. Tidak ingin berlama-lama di atas pelaminan yang menyesakkan, ia pun segera berlalu dari hadapan mereka setelah meninggalkan kata-kata "Semoga bahagia." Yang jujur saja sangat tidak ingin Kafka ucapkan.

Sakit tanpa darah, perih tanpa luka. Sekuat apa pun ia mencoba menyembunyikannya tetapi segalanya tidak dapat dibohongi. Tubuh bergetar, mata berkaca, air asin yang tertimbun di pelupuk mata kini jatuh membasahi pipi.

Tangan kekar itu segera terangkat untuk membersihkannya. Menghapus jejak yang akan membuat dirinya terlihat lemah. Tidak. Ia tidak ingin seperti itu di acara ini. Biarkan dirinya yang merasakannya sendiri.

"Selamat tinggal, Ava," ucapnya lirih sembari meninggalkan ruangan pesta.

🔥🔥🔥

Ava baru saja memasuki kamar pengantin dengan bantuan Kafka. Sebelumnya mereka tengah menghabiskan waktu dengan berpesta minum-minuman keras, akibatnya perempuan yang telah menjadi ratu semalam itu kini tengah mabuk.

Rasya yang masih ingin menghabiskan waktu dengan yang lain meminta Kafka untuk mengantar Ava ke kamar. Jadilah kini ia membopong tubuh tidak berdaya milik Ava. Meski dirinya juga turut mabuk, tetapi Kafka mencoba untuk tetap sadar.

"Sayang." Ava meracau. Ia membelai rahang Kafka. "Malam ini adalah malam kita."

Kafka hanya menggeleng dengan senyuman melihat kelakuan Ava. Sahabatnya ini tidak pernah mengonsumsi minuman keras, tetapi kenapa malam ini ia nekat meminumnya?

Meletakkan pelan tubuh Ava pada ranjang, tanpa diduga perempuan itu menarik tengkunya secara kasar. Alhasil, wajah mereka kini hanya berjarak begitu dekat.

"Sayang. Ayo kita lakukan," ucap Ava dengan menyatukan bibir mereka.

Kafka menggerang. Sebagai pria tentu saja ia memiliki hasrat. Lalu ... apa yang harus ia lakukan jika perempuan ini menggodanya terlebih dahulu?

Ciuman mereka terlepas. "Kenapa kamu diam saja?" Lalu kembali terpaut.

Napas terengah kala silatan lidah itu berlangsung beberapa menit. Kafka sudah diselimuti kabut gairah. Dalam suara serak ia berucap, "Jangan menyesal jika aku harus menurutimu, Va."

Tanpa menunggu lagi dan tanpa ingin menyiksa miliknya di bawah sana lebih lama, tangan Kafka mulai bergerilya di tubuh Ava membuat wanita itu terlihat semakin bersemangat. Meremas rambut hitam yang ada di dalam genggaman.

"Rasya," Racaunya. Namun, suara Ava menghentikan aksi laki-laki itu. Membuat ia merasa kehilangan. "Ayolah Rasya."

"Tidak, Sayang. Bukan Rasya. Tapi, Kafka." Tanpa bisa menjawab ucapan itu, Ava langsung dibuat berteriak kala sesuatu menyentuh titik sensitifnya.

Dan sejak saat itu, ia memutuskan untuk memperjuangkan cintanya.

🔥🔥🔥

Bab 2

1. After Marriage

***

5 tahun kemudian.

Ava melangkah dengan senyum menghiasi bibir, mendorong pintu hingga menimbulkan denting lonceng pada bagian atas. Sebuah bangunan beraroma kue menyambut kala ia memasukinya lebih dalam.

Ini adalah toko kue miliknya. Toko yang sudah dua tahun ini dikelola, hasil dari merayu sang suami tercinta. Semua pegawai tampak mengangguk sopan ketika melihat perempuan berbaju biru itu datang.

Selain toko kue, Ava juga menjalankan toko bunga di mana tempatnya terletak tepat di samping bangunan ini. Sengaja dibangun bersebelahan untuk memudahkan dirinya dalam mengelola. Semua itu ide dari sang suami yang tidak ingin dirinya merasa kelelahan.

"Rina. Saya ada janji temu dengan kedua teman saya seperti biasa. Saya ada di ruangan jika nanti mereka datang," ucap Ava pada salah satu pegawainya.

Perempuan dengan apron di hadapannya mengangguk dan menjawab, "Baik, Mbak." Langkah kaki membawa Ava pada ruangan pribadi di sebelah kiri kasir.

Menyibukkan diri dengan laptop di hadapannya, memakai kacamata baca Ava mulai merangkum pendapatan dan pengeluaran kedua toko. Tidak membutuhkan waktu lama, cukup satu jam setengah saja selesai.

Suara ketukan pintu membuat Ava mengalihkan pandangan dari laptop. Salah satu pegawainya yang bernama Rina sudah berdiri di ambang pintu. "Ada apa, Rin?" tanyanya.

"Dua teman Mbak Ava sudah datang. Mereka menunggu di meja biasa,” lapornya pada Ava. Kepala sedikit menunduk memberi rasa hormat.

"Baiklah. Buatkan mereka minuman dan berikan beberapa kue."

Perempuan dengan kacamata yang tampak manis dengan lesung pipinya itu mengangguk mendengar perintah Ava. "Baik, Mbak."

Melepaskan kacamata, Ava membereskan laptop dan segera beranjak untuk menemui kedua perempuan yang sudah ia rindukan.

Keluar dari ruangan, pandangan Ava langsung tertuju pada meja di mana kedua temannya sudah duduk. Seorang perempuan dengan perut buncit akibat kehamilan dan seorang perempuan lagi yang masih belum mempunyai ikatan pernikahan.

Ava berjalan cepat mendekati meja yang diduduki teman-temannya. "Hai,” sapanya heboh.

Dua perempuan yang sebelumnya duduk tenang menikmati kudapan itu menoleh, wajah semeringah terbit saat melihat keberadaan dirinya. Berjalan semakin mendekat lalu merangkul keduanya.

“Kangen,” ucapnya. Melepaskan pelukan tatapan Ava tertuju pada wanita yang berperut buncit, mengulurkan tangan untuk dapat menyentuhnya. "Sudah berapa bulan, Res?" Iris hazzle itu kini tertuju pada si pemilik daksa yang bernama Resty.

"Sudah tujuh bulan,” jawabnya. Ava menatap Resty lalu beralih pada perut yang membuncit sembari tersenyum. Pasti perasaannya bahagia sekali.

"Wah, sebentar lagi dong." Resty mengangguk antusias.

"Dan kamu, bagaimana? Sudah isi?" Ava mengalihkan pandangan, menatap Clara yang baru saja bertanya akan dirinya.

Senyum manis Ava kini berubah menjadi getir. Pandangannya menerawang dengan kata seandainya.

Sebuah usapan pada kedua pundak membuat ia menatap Clara dan Resty secara bergantian. Kedua temannya ini pasti turut merasakan kegelisahan dalam dirinya.

"Kamu yang sabar, ya. Doa dan usahanya lebih giat lagi," ucap Resty menenangkan. Ia hanya bisa mengaminkan dalam hati sebanyak-banyaknya agar Tuhan segera menitipkan momongan terhadap dirinya.

Ya. Ava memang belum mempunyai anak meskipun usia pernikahannya sudah menginjak angka lima. Ini merupakan salah satu alasan dirinya menjalankan usah toko kue dan bunga secara bersamaan.

Membawa Ava dalam kesibukan dan menghilangkan rasa sepi saat ia berada di rumah sendirian. Selain itu, ia juga menghindari ibu mertuanya. Tidak jarang Desi—ibu mertua Ava datang mengunjunginya. Bukan karena merindukan menantu, tetapi selalu melontarkan kata-kata pedas untuk Ava.

Ava yang tidak becus jadi istri, atau Ava yang mandul. Wanita mana yang tidak akan merasa sakit jika mendapatkan kata-kata seperti itu? Untunglah ia masih menyadari siapa Desi.

"Kalau kamu, Cla? Kapan menyusul kita?" Sudah ia duga, temannya yang satu ini pasti akan menggeleng. "Kenapa sih Cla? Kamu menunggu apa lagi coba?"

"Aku belum siap," ucap Clara.

"Pacar kamu itu serius sama kamu. Dia itu sudah kaya, tampan, perhatian. Kurang apa lagi coba? Diambil orang baru tahu rasa kamu." Resty mencoba menakut-nakuti Clara, perempuan itu memberikan kerlingan nakal pada Ava.

"Ish. Doa kamu, Res." Ava dan Resty tertawa, lalu mengalihkan pembicaraan.

Tidak ingin lebih dalam membahas Clara yang belum juga mau menikah di usianya yang saat ini bisa di bilang sudah matang. Mereka tahu, alasan di balik semua itu ialah, Clara yang belum juga berhasil sepenuhnya untuk melupakan cinta pertamanya, yang Ava dan Resty tidak tahu siapa sebenarnya orang itu sehingga Clara tidak bisa melupakannya.

***

Suara tumpukan map yang batu saja dibanting di atas meja menggema di ruangan persegi itu. Pelaku yang tidak lain adalah Rasya menatap bawahannya dengan kemarahan. "Apa yang sebenarnya kamu kerjakan dari tadi!!" bentak Rasya.

"Mengerjakan laporan begini saja kamu tidak becus!!" Rasya menunjuk karyawannya, nada suara menandakan kalau ia sedang emosi.

"Kerjakan lagi!!" usir Rasya. Karyawan itu pun segera berlalu dari ruangan bosnya yang sudah terlihat marah besar.

Rasya menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi. Memijit kening akibat kepala yang terasa berdenyut. Laki-laki berpakaian jas rapi itu menghela napas dalam saat melihat tumpukan berkas-berkas ada meja di depannya.

Hari ini begitu banyak masalah yang harus ia kendalikan. Belum lagi salah satu karyawannya yang telah mengerjakan laporan dengan salah. Menambah rasa pusing pada kepala Rasya.

Suara deringan ponsel membuat ia mengalihkan pandangannya. Meraih benda pipih di atas meja itu dan menatap layar yang menampilkan nama sang mama. Segera ia angkat agar bunda ratunya tidak naik darah.

"Ya, Ma." Rasya mendengarkan dengan baik apa yang mamanya ucapkan di seberang sana.

"Iya. Rasya dan Ava besok pasti datang." Rasya mengakhiri panggilan setelah pembicaraan dengan sang mama telah selesai. Kembali berkutat dengan pekerjaan agar ia dapat dengan segera menyelesaikannya.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Hanya menggunakan lingerine tipis Ava memutuskan menunggu kedatangan sang suami di ruang keluarga. Sebuah majalah menjadi bacaan untuk membunuh waktu.

Ava tidak perlu merasa khawatir akan penampilannya saat ini. Karena tidak ada orang lain di rumah ini selain dirinya dan juga satpam yang menjaga di depan rumah. Asisten rumah tangga Ava hanya akan datang saat subuh tiba, dan akan pulang saat menjelang magrib.

Suara mobil yang memasuki pekarangan rumah mengambi alih atensinya. Segeralah Ava bangkit karena ia mengenali suara kuda besi itu adalah milik suaminya.

Saat membuka pintu utama, Ava melihat Rasya yang sudah berjalan ke arahnya. Tentu saja dengan wajah lelah. Baju yang dikenakan tidak serapi saat berangkat. Lengan yang digulung hingga siku. Baju yang keluar dari celana dan dua kancing teratas yang tidak lagi disematkan.

"Capek?" tanya Ava saat sang suami sudah berada di depannya. Tangannya terulur mengambil alih tas kerja dari tangan Rasya.

Rasya mengangguk dan segera meraih pinggang Ava. Mendaratkan satu kecupan sayang di keningnya. "Kamu lapar?" tanya perempuan bermata hazzle itu kemudian.

"Ya."

"Baiklah. Mandilah dulu. Akan aku siapkan makan malam untuk kamu." Saat Ava ingin melepaskan diri dari pelukan sang suami, Rasya malah mengeratkan rangkulan pada pinggangnya.

"Kenapa?" tanya Ava dengan kening yang terlipat.

"Laparku bukan kenyang dengan makan malam, Sayang." Ava menaikkan kedua alisnya. Senyumnya merekah kala sang suami mengikis jarak di antara wajah mereka.

Sebuah kecupan singkat pada bibirnya dan napas hangat juga tatapan sayu itu mampu membuat dirinya meremang. Cukup menjelaskan suatu hal. Oke. Ava mengerti arah pembicaraan ini.

"Mandilah dulu. Aku siapkan susu hangat untukmu,” ucapnya dengan senyum menggoda.

"Tidak," cegah Rasya. "Kopi, Sayang. Buatkan aku kopi." Rasya menyela.

Kening Ava terlipat. "Kopi? Tumben sekali?"

"Ya. Karena aku ingin begadang malam ini." Ava tersenyum dengan menggigit bibir bawahnya. Ia tahu gerakan yang dilakukan adalah sensual. Lihat laki-laki di hadapannya ini yang kini mendesis seolah menahan sesuatu.

Embusan napas berat itu begitu terasa. "Lagian, aku sudah mempunyai dua stok di sini." Rasya berucap dengan suara berat, tidak lupa tangan yang mencolek dada sintal milik Ava.

Segeralah Ava mendorong Rasya agar ia terbebas dari rayuan suaminya. Ia meninggalkan pria yang masih mengenakan setelan jas kantor itu dengan senyuman menggoda.

***

Ava memasuki kamar bertepatan dengan Rasya yang keluar dari kamar mandi. Tubuh suaminya yang hanya dibalut handuk sebatas pinggang menampakkan dada bidang yang menggoda. Belum lagi adanya tetesan air dari rambut pada tubuh menambah kesan seksi bagi dirinya.

Menggunakan tatapan yang intens, Ava menghampiri Rasya dengan segelas kopi di tangan. Senyum menggoda yang terpatri di wajah pria itu semakin membuat dirinya tertantang.

"Kopiku?" tanya Rasya. Ava mengangguk. Ia memberikan cangkir berisi cairan hitam pekat itu dan menatap sang suami yang meneguk minuman itu dengan tatapan yang tidak lepas dari dirinya.

Setelahnya, minuman itu berakhir pada nakas yang ada di samping mereka. Pria di hadapannya ini meletakkan dengan gerakan yang sangat elegan.

Seperti tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Rasya meraih pinggangnya cepat. Membuat tangan Ava mendarat pada bahu sang suami. "Kopinya manis." Tersenyum, ia menikmati pergerakan jari Rasya pada wajahnya dengan menutup mata dan bibir sedikit terbuka.

Tangan Rasya sampai pada bibir. "Tapi aku yakin. Bibir ini jauh lebih manis. Dan bibir ini, adalah milikku.” Suara itu syarat akan sebuah dominan.

“Katakan, Sayang. Katakan. Katakan bahwa bibir ini hanya milikku," ucap Rasya menuntut.

"Yah. Semuanya, milikmu." Rasya menjatuhkan bibirnya pada bibir Ava. Menyatukan dalam tarian indah silat lidah. Memperdalam hingga mereka terbuai.

Handuk dan lingerine telah tercecer di lantai. Meninggalkan dua tubuh hangat di atas pendaratan awan. Memadu inti yang menyatu. Menulis syair lagu nan merdu. Menari dalam tarian indah. Pergerakan dalam ritme yang seirama. Suara-suara lantunan pencapaian kemenangan tercipta. Menghiasi pekatnya malam dalam hawa yang telah berubah menjadi panas.

***

Bab 3

2. Siap Kembali

***

Tubuh tegap dengan rahang kokoh yang ditumbuhi jambang tipis itu setia duduk di kursi kebanggaannya. Mata tajam tidak lepas dari pemandangan kota London dari balik kaca transparan ruang kerjanya.

Ruangan hampa yang menemaninya selama lima tahun terakhir ini. Suara pintu terbuka menandakan adanya seseorang yang datang. Tanpa ingin merepotkan diri, ia tetap menatap lurus apa yang dilihat sedari tadi. "Tuan. Tiket kepulangan Anda sudah ada."

Senyum smirk terbit dari bibirnya.

"Persiapkan semuanya," titahnya tanpa bantahan. Seseorang yang sebelumnya memasuki ruangan kini kembali mengundurkan diri. Mempersiapkan apa yang sudah dititahkan padanya.

Dalam keheningan, pria itu kembali mengembangkan senyumnya. Mendongakkan kepala dan memejamkan mata. Ingatannya kembali terlempar pada kejadian lima tahun yang lalu. Kejadian yang membuat dirinya tidak akan melupakan untuk seumur hidup.

Peristiwa di mana menandakan bahwa dirinya harus berjuang, perjuangan cinta yang selalu tertanam di hatinya. Sebuah peperangan yang tertunda akibat keberangkatannya ke negeri orang.

Malam itu. Di malam acara kebahagiaan dua orang. Di malam kesedihan dan kesakitan dirinya. Ia memutuskan untuk melampiaskannya pada angin malam, berteriak di sebuah taman masih bagian dari hotel. Karena tempat yang disewa sepenuhnya, jangan heran jika menemukan suasana dalam keadaan sepi.

Ia mendongak, mengaku pada langit malam yang gelap bahwa dirinya tengah kesakitan, sebuah hati yang patah meremukkan jiwanya. Ia tumpahkan tangis tanpa peduli jika ada yang melihatnya.

Di malam kebahagiaan sang kakak ia menghabiskan waktu di luar pesta tidak cukup mampu melihat kebahagiaan mereka. Hampir empat jam dirinya berdiam diri dengan tangis. Setelah dirasa cukup, ia berjalan ke arah balroom hotel.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, kini pesta yang ada adalah untuk sang pengantin beserta teman-temannya.

Aroma alkohol memasuki indra penciumannya ketika ia duduk di salah satu meja bundar besar yang memang sudah disediakan untuk hal ini. Ia menatap semua orang yang tampak di memegang gelas berisi cairan merah.

Baiklah. Kali ini ia akan melampiaskan pada minuman itu. Satu, dua, tiga, bahkan kini ia tidak ingat berapa gelas yang sudah dihabiskan. Pandangan pun tidak lagi jelas.

Namun, ia masih bisa melihat mempelai perempuan yang duduknya sedikit kesusahan akibat alkohol yang ditenggaknya. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman akan sikap lucu itu. Tanpa sadar meracau hal yang tidak terduga.

Meski sakit masih menggelayuti hatinya atas apa yang telah terjadi di ruangan ini beberapa waktu lalu, di mana perempuan yang ia perhatikan, sekaligus perempuan yang sangat ia cintai. Kini, telah menjadi kakak iparnya.

Menoleh pada sang kakak, ia berbisik, "Kak. Ava sudah mabuk. Antarlah dia ke kamar."

Sang kakak hanya menoleh sekilas, lalu kembali menatap dirinya. "Kau saja yang mengantar. Aku masih ingin berada di sini."

"Tap—"

"Sudahlah. Sana." Padahal. Kakaknya itu sudah mabuk berat, tetapi anehnya masih ingin berada di pesta ini. Pesta yang katanya diadakan untuk melepas kebebasan Rasya.

Mau tidak mau, Kafka pun bangkit mendekati Ava yang kini kepalanya sudah tergeletak di atas meja. Meraihnya dan membopongnya ke kamar pengantin Ava dan sang kakak.

***

Baru saja ia mencoba melepaskan diri dari Ava akan rayuan perempuan itu. Meski sebelumnya dirinya sempat tergoda, sekuat tenaga untuk mengalahkan sebuah kehendak yang takutnya nanti akan menjadi penyesalan.

Namun, tidak dengan perempuan itu. Sosoknya malah mengejar dirinya sampai ambang pintu, menari kasar hingga bibir keduanya kembali menyatu dengan sempurna. Saling mencecap dan membelit dengan begitu lihai dan intim.

Ah. Persetan. Pikir pria itu. Tidak tinggal diam. Ia segera meraih tubuh wanita di hadapannya. Melingkarkan kaki putih pada pinggang kokohnya. Membawa masuk pada kamar yang pemiliknya kini sedang sibuk dengan aktivitas panas.

Hanya dengan satu kaki, laki-laki itu menutup pintu, tanpa mau repot-repot menguncinya. Tidak peduli jika nanti akan ada seseorang yang melihat kegiatan mereka.

Tubuh sintal dalam dekapan ia baringkan di atas ranjang. Menumpu tubuh agar tidak membebani sosok di bawahnya. Silat lidah yang dilakukan mereka tidak ada tanda-tanda akan berhenti.

Yang ada kini, decapan itu semakin dalam, semakin menggelora dan semakin membawa gelenyar aneh yang meminta untuk dibebaskan.

Udara dingin mulai terasa semakin panas. Sesuatu yang terkungkung ingin terbebas. Tangan kekar itu mulai menjalar. Bergerak lihai di atas tubuh halus bak porselen. Menyusuri setiap lekukan lembut nan halus.

Memberi tarian-tarian penggugah hasrat. Hingga seutas tali kecil didapat, ia turunkan dengan perlahan. Dua tali pada pundak telah terlepas. Membebaskan mereka yang terlihat mencuat. Tautan bibir kini terlepas secara tidak rela.

Mulai mengarah pada sesuatu yang terlihat menunggu. Tatapan tajam itu tak pernah lepas pada gundukan kenyal nan sintal. Menatap takjub akan sesuatu yang ia puja.

"So beautiful," gumam laki-laki itu. Segeralah ia mendekati mereka. Menjulurkan lidah untuk menggapai sesuatu yang mencuat merah muda, memberikan gerakan halus yang memuja.

"Shhh." Desisan itu membuatnya melirik ke atas. Melihat sekilas wajah perempuan yang terlihat tidak berdaya. Menggigit bibirnya seolah menyalurkan apa yang ia rasa.

Laki-laki itu mulai berkarya. Menciptakan lukisan-lukisan dengan warna merah keunguan yang mendominasi. Tarikan yang dilakukan bibirnya lagi-lagi membuat wanita dalam keadaan polos itu mendesis. Dapat dilihat mulut wanita itu yang terbuka.

Sungguh pemandangan yang indah baginya. Sejenak ia menghentikan aktivitas, ingin melihat wajah cantik wanita yang ia puja. Namun, gerakan itu membuat sang wanita merasa kehilangan.

"Ayolah Rasya," racaunya. Membuat pria itu menjadi tidak suka akan ucapan wanita yang ada di kungkungannya.

"Panggil aku Kafka, Sayang." Jangan tanyakan lagi siapa mereka. Tentulah Kafka dan Ava.

Kafka yang dengan rasa cinta butanya tidak peduli status apa yang dimiliki oleh Ava. Rasa penasaran perempuan bermata hazzle itu tidak dapat tertuang. Kata tanya yang ingin diucapkan terkalahkan dengan teriakan yang tiba-tiba menggema.

Sebuah racauan yang tercipta kala ia merasakan elusan pada pusat inti tubuhnya. Ava hanya mampu mengangkat dagu, menggigit bibir bawah untuk menyalurkan perasaan melayang yang baru saja dirasakan.

"Mmm." Hingga sapuan yang ia rasa telah berganti dengan tekanan. Memaksa dan sedikit mendorong. Hingga ia merasakan benda asing yang mulai memasuki inti tubuhnya. Sakit, perih namun tidak bisa ia hentikan.

Rasa pening mulai menyiksanya kala benda itu mulai bergerak. Maju dan mundur teratur, cepat dan pelan. Terasa mengaduk dan mengoyak. Sesak dan penuh. Menarik setiap sendi dalam tubuh untuk berpusat pada titik itu.

Belum lagi rangsangan yang ia rasa pada telinga dan sekitar tulang belikannya. Membuat ia semakin mendongak dan memejamkan mata. Sungguh, perasaan yang menyiksa namun terasa nikmat.

Pergerakan di bawah sana terasa mulai menjadi cepat, sesuatu dalam dirinya seolah mendorong untuk terbebas. Tangan mulai meremas seprei di sisi tubuh. Dadanya turut melengkung ke atas sebagai pelampiasan apa yang dirasakan.

"Yah." Hingga teriakan keras itu ia utarakan. Menandakan sesuatu telah terbebas dari dirinya. Napas yang menderu membuat dadanya naik turun dengan gerakan yang begitu indah.

Kepalanya kembali terasa berdenyut kala ia merasakan Kecupan-kecupan hangat mulai berjalan di atas tubuhnya. Kafka, mulai menjalankan aksinya kembali. Memberi lukisan-lukisan indah pada dada sintal. Berjalan ke bawah hingga pada perut rata. Berhenti sebentar di atas pusar untuk memberikan sapuan angin hangat.

Kecupan singkat dilabuhkan. Laki-laki si pemilik mata tajam itu kembali menjalankan ciumannya menuruni perut. Menuju pada paha dalam. Hingga Ava merasakan angin hangat di depan intinya.

Ava baru saja ingin menarik dirinya. Namun, Kafka menahan kedua kaki dan memanjakan inti tubuh dengan sebuah jilatan yang memabukkan. Lutut terasa lemas, tubuh tidak berdaya. Hanya menerima dan ingin segera dituruti apa yang daksanya butuhkan.

Kafka menekukkan kaki Ava. Menahannya dengan kedua tangan. Lidah terjulur semakin dalam menyentuh dinding luar pusat Ava. Dirasakan daging kenyal itu yang mulai menegang. Namun ia tidak menghentikan pergerakan.

Lidah Kafka mulai bekerja. Menjelajah setiap apa yang bisa dijangkau. Menekan-nekan sedikit untuk memberikan rangsangan pada Ava. Di sela-sela kegiatannya, mata hitam pekat itu melirik perempuan yang tengah memejamkan mata.

Lihatlah wajah cantik itu yang mendongak, bibir terbuka, kentara sekali Jika tengah menikmati apa yang ia berikan.

Tidak lama Kafka merasakan kaki Ava yang mulai menegang. Ibu jari kaki pun mulai tertekuk. Ia semakin menjadi. Memainkan lembah hangat dengan lidahnya. Dinding itu terasa berkedut.

Kafka tahu, Ava akan mendapatkannya kembali. Lidah semakin berani, ditambah dengan dua jari ia membuka lipatan merah muda itu. Memperdalam jelajahnya. Menyentuh setiap titik, memberi pancingan pada setitik biji kacang.

"Iya." Pinggul Ava terangkat. Bebas sudah sesuatu yang memaksa keluar sedari tadi. Masih dengan napas tersengal, Ava mulai kehilangan rasa pening di kepala.

"Manis," ucap Kafka tepat di hadapan wajah Ava.

"Sh." Di saat yang sama pula, Kafka telah memosisikan kepemilikannya pada inti Ava. Menekannya untuk memberi jalan pada tonggaknya.

"Sakit," desis Ava dengan suara lemah. Namun, Kafka masih bisa mendengarnya.

Tangan Kafka membelai wajah Ava. Menikmati keindahan yang ingin ia miliki.

"Sabar, Sayang. Sebentar. Sakitnya hanya sebentar." Ia mendaratkan ciuman pada bibir pink bersamaan pinggulnya yang mengentak dengan keras. Gerakan pemutusan untuk menerobos penghalang satu-satunya.

Gerakan tiba-tiba Kafka membuat Ava memekik, tetapi tertahan oleh ciumannya. Namun, Kafka harus merelakan bibirnya yang tergigit, mengalirkan darah dari sudut bibir.

Sakit? Sakitnya tidak seberapa dengan apa yang dirasakan Ava. Itulah menurut Kafka. Dua aliran darah dari jalan berbeda. Sama-sama mengalir tanda persatuan. Tanda kepemilikan. Mulai saat ini, ia telah memutuskan bahwa perempuan ini adalah miliknya.

Terlepas siapa Ava bagi keluarganya, ia akan memperjuangkannya.

Sayangnya, hal itu harus tertunda dengan kepergiannya ke kota London. Namun, semua itu akan segera berakhir. "Selamat datang, Sayang."

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED