"Lho, Mas. Mas Nathan!!"
Melihat sang suami berlari begitu saja meninggalkan acara yang belum selesai, Elsa bergegas mengejarnya sampai pria itu masuk ke dalam kamar.
"Aaaarrggghhh!!"
Nathan tiba-tiba mengerang, membuat Elsa terkejut. Dia berlari menghampiri, lalu mendekapnya dari belakang.
"Mas kenapa? Ada apa, Mas?"
Hembusan napas Nathan terdengar berat, dia lantas mengusap kasar wajahnya. "Masih bisa kamu tanya aku kenapa? Apa kamu udah puas sekarang?"
"Puas bagaimana sih, Mas? Ini 'kan untuk kebahagiaan kita." Elsa melepaskan dekapannya, lalu menarik sang suami ke kasur untuk duduk bersama. "Kan kedua orang tua Mas yang mendesak kita untuk punya anak. Apa Mas lupa?"
"Tapi kenapa harus Silla, Yang? Apakah nggak ada perempuan lain di dunia ini selain dia, yang bisa jadi madumu?"
Meskipun pada akhirnya Nathan bisa luluh, atas permintaan paksa dari sang istri, tapi nyatanya dia seolah belum bisa terima jika Silla lah yang akan menjadi istri keduanya.
Nathan sangat membencinya, dan tentunya ada alasan tersendiri, yakni karena dulu Silla pernah menolak cintanya.
Mereka berdua, bahkan bertiga dengan Elsa, pernah satu sekolah saat SMA. Nathan menjadi Kakak kelas tertua mereka, dan bisa dibilang, Nathan cinta pada pandangan pertama kepada Silla. Dimasa-masa MOS dulu.
Mereka juga sempat dekat, sampai akhirnya Nathan memberanikan diri untuk mengirimkan surat cinta dan bunga kepada Silla.
Namun, Nathan justru mendapatkan penolakan yang sangat menyakitkan. Dia bahkan masih ingat dengan jelas isi surat balasan itu sampai sekarang, yang membuatnya membencinya selama bertahun-tahun.
[Kakak nggak usah sok kegantengan. Kita dekat bukan berarti aku suka atau mau jadi pacar Kakak. Muka Kakak ini standar, dan Kakak bukan tipeku.]
Semenjak mendapatkan surat balasan itu, Nathan mulai menjauhi Silla dan membencinya. Dan satu bulan setelah kejadian itu, Nathan mendapatkan surat cinta dari Elsa.
Dia mengatakan bahwa selama ini memendam rasa, hanya saja malu mengungkapkannya, apalagi Nathan begitu dekat dengan Silla.
Merasa tidak tega untuk menolak, karena Nathan sendiri tahu bagaimana rasanya ditolak, akhirnya tanpa berpikir panjang dia langsung menerima cinta itu. Dan siapa sangka, rupanya mereka berjodoh sampai sekarang dengan usia pernikahan yang menginjak 7 tahun.
"Karena hanya Silla yang nggak suka sama kamu, Mas. Jadi otomatis ... dia nggak akan merebutmu dariku," jawab Elsa dengan yakin. Dia kembali memeluk tubuh suaminya, menyandarkan kepala ke dadanya. "Dan aku juga tau ... Mas sangat membenci Silla. Jadi hubungan kalian nggak akan ada cinta, dan nggak akan ada resikonya untuk rumah tangga kita."
"Tapi dengan aku menikahi Silla, aku jadi tambah membencinya, Yang."
"Ya enggak apa-apa. Malah itu bagus."
"Bagus bagaimana? Bukankah yang kita inginkan adalah anak? Bagaimana bisa aku menyentuhnya, kalau aku membencinya? Bahkan menatap wajahnya saja aku merasa nggak sudi, Yang."
"Soal itu gampang, Mas. Aku sudah punya cara. Sekarang kita keluar dulu, kita selesaikan acara ini karena aku nggak enak sama yang lain. Kasihan Silla juga."
"Beritahu aku dulu caranya, apa itu?" desak Nathan penasaran.
"Nanti aku beritahu. Sekarang kita keluar saja dulu." Elsa berdiri, lalu menarik paksa Nathan untuk ikut bersamanya keluar dari kamar.
Mau tidak mau, Nathan mengikutinya. Menuruti semua keinginannya meskipun itu sangatlah berat.
*
*
Setelah proses ijab kabul itu selesai, Elsa membawa Nathan dan Silla pergi menggunakan mobil yang dia kemudikan.
Silla sendiri bertanya-tanya dalam hati, mereka akan pergi ke mana. Namun, karena posisi ada Nathan yang duduk di sebelah Elsa, Silla jadi canggung untuk bertanya secara langsung.
"Kita sebenarnya mau ke mana sih, Yang?" tanya Nathan penasaran.
"Ke mana lagi kalau bukan ke hotel, Mas," jawab Elsa senang, menatap sebentar suaminya dengan senyuman hangat.
"Mau ngapain ke hotel?"
"Ya mau menginap. Mas ini ada-ada saja, ya, pertanyaannya." Elsa terkekeh, merasa lucu dengan pertanyaan sang suami.
"Ya maksudku kenapa kita harus menginap di hotel? Kita 'kan punya rumah, Yang." Nathan benar-benar tak mengerti maksud istrinya.
"Ini 'kan hari pernikahan Mas dengan Silla, berarti nanti malam adalah malam pengantin buat kalian. Jadi ya kalian harus menginap di hotel dong, biar suasananya enak."
"Ih enggak! Aku nggak mau!" tegas Nathan, menggeleng kepala menolaknya secara cepat.
"Harus mau lah, Mas. Mas ini gimana, sih?"
"Padahal nggak perlu ke hotel juga nggak apa-apa, Elsa," kata Silla tiba-tiba. Memberanikan diri untuk ikut bicara. Melihat Nathan menolak, dia jadi merasa tidak enak. Pasti pria itu sangat terbebani. "Kita mending pulang lagi aja."
"Udah nggak apa-apa, Silla sayang ...." Elsa memutar kepalanya sebentar, memerhatikan sang sahabat sambil tersenyum. "Pokoknya kalian harus menginap di hotel, dan segeralah bercocok tanam."
"Yang, kamu ini ngomong apa, sih?" Nathan mendengkus, tidak suka dengan kalimat akhir yang diucapkan sang istri. Dan bisa-bisanya tak ada sedikitpun rona kesedihan, atau kecemburuan pada diri Elsa. Malah dia sendiri lah yang memintanya.
Terbuat dari apakah hati Elsa? Itulah yang terbesit dalam benak Nathan. Dia memang istri yang sangat baik dan sempurna, baginya, Nathan sangat beruntung bisa memiliki Elsa.
"Ngomong apa apanya sih, Mas? Kan apa yang aku omongin itu bener. Kalian menikah 'kan memang untuk memiliki keturunan, apa lagi?"
"Ya belum tentu dia subur. Kamu jangan terlalu percaya diri, Yang."
Sekilas Silla melihat, Nathan menatapnya sinis dari pantulan cermin depan.
"Mas nggak boleh ngomong kayak gitu. Silla pasti subur, aku yakin itu. Cukup aku aja yang nggak subur," kata Elsa dengan mata berkaca-kaca. Melihat kesedihan diwajah istrinya, membuat Nathan langsung merangkul dan mencium lembut keningnya.
"Kamu juga subur, Yang. Kedua orang tuaku saja yang nggak sabaran, padahal aku yakin kamu masih bisa hamil anakku. Maafin mereka, ya?" Berulang kali Nathan menciumi Elsa, tampak jelas pria itu sangat menyayangi dan mencintai istrinya.
Di sisi lain, Silla yang sedari tadi diam-diam memerhatikan merasa ikut senang. Dia juga akan menepis jauh-jauh perasaannya terhadap Nathan selama ini, karena memang tak seharusnya dia masih memendam rasa kepada suami sahabatnya, meskipun sekarang menjadi suaminya juga.
'Kasihan Elsa dan Kak Nathan. Mereka memang pasangan yang serasi. Aku harap meskipun sekarang ada aku ... mereka masih bisa tetap harmonis dan bahagia.'
'Aku akan menepati janjiku, Elsa. Aku hanya akan mengandung dan melahirkan anak Kak Nathan. Dan nggak akan pernah merebutnya darimu.' Silla membatin dengan tekad yang kuat.
Sesampainya di sana, Elsa dengan penuh keceriaan mengantar mereka ke salah satu kamar yang sudah dia pesan khusus untuk keduanya. Dia dengan teliti mempersiapkan segala hal demi membuat Nathan merasa nyaman dan segera dapat memiliki anak.
"Semoga kamu suka dengan kamarnya, Sil. Begitu pun dengan Mas Nathan," ucap Elsa dengan penuh harap dan kehangatan dalam suaranya, sambil tersenyum lembut membukakan pintu untuk mereka masuk.
Kamar hotel khusus untuk pengantin baru itu terlihat begitu indah dan romantis. Silla merasakan getaran kebahagiaan dan haru melihat dekorasinya yang menakjubkan. Dia bisa merasakan betapa Elsa telah berusaha keras untuk menciptakan momen untuknya, supaya segera memberikannya anak.
Tempat tidur yang besar dan nyaman, dekorasi dengan bunga-bunga segar, lukisan-lukisan indah, dan balkon pribadi menghadap pemandangan kota. Semua detail dirancang dengan cermat untuk menciptakan pengalaman yang aman dan nyaman.
"Kita keluar dulu sebentar yuk, Mas," ajak Elsa menarik suaminya untuk keluar dari kamar, membiarkan Silla mencermati ruangan itu sendirian. "Ambil ini dan jangan lupa diminum sebelum mandi. Mas pasti habis ini mau mandi, kan?"
"Apa ini, Sayang?" Nathan mengambil sebuah botol obat polosan berwarna putih, yang baru saja diberikan Elsa. Terlihat dia bingung karena memang tidak tahu apa itu.
"Ini cara yang aku katakan itu lho, Mas. Mas harus minum ini, satu kapsul saja. Biar nanti Mas bisa menyentuh Silla tanpa rasa benci."
"Jangan bilang ini obat per*ngsang, Yang?" tebak Nathan, lalu menggeleng cepat. "Ah enggak, Yang! Aku nggak mau minum obat beginian!" tolaknya cepat dan memberikan benda itu kembali ke tangan Elsa. Tetapi, perempuan itu menolak.
"Dih, Mas. Cuma cara ini lho yang bisa membuat kamu menyentuh Silla. Kan katanya kamu nggak sudi menyentuhnya."
"Iya, aku memang nggak sudi, Yang. Tapi ya nggak perlu pakai cara ini juga kali. Aku nggak mau!"
Degh!
Silla tak sengaja mendengar percakapan mereka, dan dia merasakan dadanya sesak. Kata-kata itu terdengar menyakitkan, tapi seharusnya, Silla tak perlu merasa sesakit ini.
'Wajar juga kalau Kak Nathan nggak mau menyentuhku, karena dia pasti sangat mencintai dan menghargai Elsa. Tapi memangnya harus, ya, sampai dengan kata nggak sudi seperti itu?' batin Silla penuh tanya. Sampai detik ini, pertanyaan dalam benaknya tentang Nathan tetap sama, yakni. 'Sebenarnya apa sih yang membuat Kak Nathan membenciku selama ini?'
"Nggak ada cara lain, Mas. Cuma ini." Elsa terdengar berusaha untuk merayu suaminya, bahkan kini memberikannya sebuah kecupan mesra dibibir demi bisa meluluhkan hatinya. "Kalau kamu sudah menyentuh Silla, peluang untuk kita segera punya anak akan cepat terlaksana. Dan kamu juga bisa segera bercerai dengannya."
"Tapi—"
"Sstttt ...." Jari telunjuk Elsa mendarat ke bibir Nathan. Menghalanginya untuk bicara. "Mas nurut aja sama aku. Ini buat kebaikan bersama. Mas mencintaiku, kan?"
Nathan mengangguk, lalu menarik tangan Elsa dari bibirnya lalu kecupan bibir itu kembali terjadi. "Tentu saja, aku mencintaimu. Bahkan sangat mencintaimu."
"Ya udah, mangkanya nurut. Sekarang aku pulang ya, Mas. Kamu masuk, baju ganti untuk kalian biar kukirim nyusul."
"Lho, kok kamu pulang? Kenapa nggak ikut menginap juga?" Nathan menarik tangan Elsa, menghalanginya yang hendak melangkah pergi. Ada perasaan berat ditinggalkan, Nathan tak ingin jauh darinya.
"Mas ini gimana? Masa iya aku ikut menginap bareng kalian? Yang ada ganggu dong." Elsa tertawa.
"Enggak lah. Mana ada kamu ganggu." Nathan mengeratkan tangannya, tak ingin membiarkan perempuan itu pergi.
"Tetap saja aku nggak mau, Mas." Elsa menggeleng, lalu perlahan menarik tangan sang suami. "Nggak etis juga kali, Mas. Ya udah, ya, aku pamit pulang. Assalamualaikum." Kembali Elsa mengecup bibir Nathan, selanjutnya dia melangkah cepat pergi darinya.
"Akh kamu ini!!" kesal Nathan, tapi segera dia lambaian tangan, menatap sang istri yang sudah masuk ke dalam lift. "Hati-hati dijalan, Sayang!"
Walau begitu berat, tapi pada akhirnya Nathan harus rela ditinggal Elsa.
Setelah pintu lift itu tertutup, dia menghela napasnya dengan panjang dan berat. Nathan juga menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Meskipun istrinya terus menampilkan wajah senang dan penuh kebahagiaan, tapi Nathan yakin—jika dihati perempuan itu tersimpan banyak sekali luka yang mendalam.
'Aku akan terus mencintaimu sampai kapan pun. Dan nggak akan ada perempuan mana pun yang bisa menggantikan posisimu, Elsa,' batin Nathan penuh tekad.
Cukup lama dia berdiri di sana, sampai akhirnya dengan langkah berat dia masuk ke dalam kamar hotel yang sedari tadi pintunya terbuka, lalu menutup pintu.
Terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi, dan tak lama setelah mati pintunya pun perlahan dibuka.
Silla keluar dari kamar mandi itu dengan menggenakan handuk kimono dan menatap sang suami. Rambutnya terlihat basah dan berantakan.
Sesegera mungkin Nathan mengalihkan pandangan. Membuang muka ke arah lain.
"Maaf, Kak. Tapi tadi Elsa sempat menitipkan baju ganti nggak, ya? Soalnya aku lupa nggak bawa baju ganti," tanya Silla dengan lembut dan hati-hati.
Namun, bukannya menjawab, pria itu justru berlalu begitu saja dengan wajah dingin, masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa handuk yang dia ambil dalam lemari.
Brak!!
Sebuah pintu langsung dia tutup secara paksa, hingga suara sontak mengagetkan Silla. Perempuan itu sampai terjingkat dan menyentuh dada.
"Astaghfirullah ... apa aku salah bicara? Kenapa dia justru terlihat marah?" gumam Silla, dan tak lama kemudian terdengar suara bel yang kembali mengagetkannya.
Ting, Tong!
Ting, Tong!
"Oh ya, tunggu sebentar!!" seru Silla, lalu cepat-cepat membuka pintu kamar.
Seorang petugas hotel berdiri di depan pintu, sembari memegang sebuah koper besar di tangannya. "Selamat malam, Nona. Saya diminta oleh Nona Elsa untuk mengirimkan koper ini."
"Oh, selamat malam juga, Pak. Terima kasih, ya?" Silla langsung menarik benda itu kepadanya.
"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya permisi."
"Iya." Silla mengangguk, lalu menutup pintu dan mendorong koper itu membawanya masuk. Silla berpikir bahwa koper itu pasti berisi baju ganti untuknya dan Nathan, jadi segera dia membukanya.
Ternyata benar, itu baju ganti untuk dan Nathan. Hanya saja yang membuat Silla heran, mengapa tak ada baju tidur untuknya. Tapi banyak sekali lingerie.
"Apa-apaan ini Elsa? Kenapa dia mengirimku baju ganti sama semua dan kurang bahan? Apa dia sengaja?"
Ingin rasanya Silla bertanya kepada Elsa, tapi sayang dia lupa tak membawa ponsel. Alhasil, mau tidak mau Silla memakai salah satunya dan segera naik ke atas kasur menyelimuti tubuh lantaran malu sendiri.
Tak lama kemudian, Nathan keluar dari kamar mandi dengan menggenakan handuk kimono. Seluruh wajahnya dan rambutnya tampak basah.
"Kak, itu baju gantinya dikoper. Tadi Elsa mengirimkannya menyuruh petugas hotel," ucap Silla memberitahu, meski pria itu tak bertanya. Sebab terlihat dia seperti orang kebingungan.
Tanpa menjawab lagi, Nathan langsung menuju koper yang Silla tunjukkan lalu mengambil baju ganti untuknya dan menggantinya di dalam kamar mandi.
*
*
Sampai larut malam, Nathan sama sekali tak berbicara. Dia sejak selesai mandi langsung duduk di sofa dan bermain ponsel.
Ruangan itu terasa sunyi meskipun ada dua orang di dalamnya. Silla merasa canggung untuk mengajaknya berbicara, khawatir bahwa tidak akan ada tanggapan.
"Eemm, Kak. Aku tidur duluan deh kalau begitu. Maaf kalau aku ada salah. Selamat malam." Silla mencoba mencairkan suasana dengan mengajukan permintaan maaf dan memberikan salam selamat malam. Dia merasa lebih baik tidur daripada menunggu Nathan untuk memulai percakapan yang mungkin tidak akan terjadi.
"CK!" Nathan menghela nafas dengan sinis, masih terpaku pada layar ponselnya. 'Tidur tinggal tidur, ngapain pakai izin segala. Nggak penting banget!' batinnya sebal.
Namun, beberapa saat kemudian, Nathan teringat dengan obat yang Elsa berikan. Tanpa ragu, dia mengambil obat tersebut dari kantong celananya.
'Apa aku harus meminumnya sekarang? Lalu menyentuh Silla?' pikir Nathan penuh tanda tanya. Dia melihat ke arah Silla yang sudah terlelap di tempat tidur.