Bab 1

"Silla, kamu mau 'kan jadi maduku?"

Silla yang tengah mencuci piring di dapur sontak terhenyak, mendapatkan permintaan secara tiba-tiba oleh sahabatnya itu. Bahkan hampir saja, piring yang ada ditangannya jatuh.

"Elsa, apa yang kamu katakan??" Silla menganggap dia salah dengar, atau, perempuan itu hanya bercanda.

"Apa belum jelas, aku memintamu untuk menjadi maduku, Silla." Elsa langsung memeluk Silla dari belakang, kedua matanya tampak berkaca-kaca.

"Jangan bercanda tentang hal seperti ini, Elsa. Nggak lucu."

"Siapa juga yang bercanda? Aku serius, Sil."

Dengan lembut, Elsa mematikan kran air pada wastafel lalu menarik Silla untuk duduk bersamanya di kursi yang letaknya tak jauh dari sana.

"Aku belum selesai mencuci piring tau, Sa."

"Udah biarin aja. Ada yang jauh lebih penting, lihatlah." Elsa menyodorkan selembar kertas ke arah sahabatnya. Perempuan itu langsung mengambilnya dengan raut bingung.

"Ini apa?"

"Itu hasil pemeriksaan dari Dokter, Sil. Dia mengatakan kalau aku nggak subur. Aku mandul." Air mata Elsa tak kuasa berlinang, mengalir pada kedua pipi mulusnya.

"Lalu, apa hubungannya denganku, Sa? Kenapa juga aku harus menjadi madumu?" Silla bertanya dengan hati-hati, sambil menyeka air mata Elsa.

Perempuan itu perlahan meraih tangan Silla, lalu mengenggamnya erat. "Karena aku yakin, kamu subur. Kamu bisa memberikan keturunan kepada Mas Nathan."

Silla yang merasa terkejut langsung menarik tangannya. Lalu menggelengkan kepala. "Enggak! Aku nggak mau, Sa!"

"Kenapa nggak mau? Kamu nggak sayang ya, sama aku?"

"Aku menolak karena aku sayang padamu, aku nggak mau menyakitimu, Sa."

"Kamu sama sekali nggak menyakitiku kok, Sil. Kamu nggak perlu khawatir." Elsa menatap dengan raut memohon. "Ini hanya sementara saja kok, hanya sampai kamu melahirkan anak Mas Nathan. Selanjutnya kamu bisa berpisah dengannya."

"Apa kamu gila??" Silla kembali terkejut mendengar permintaan sahabatnya yang menurutnya konyol. Dan bukankah ini sama saja seperti mempermainkan pernikahan?

"Maksudmu, aku hanya diminta untuk mengandung dan melahirkan, begitu?"

"Iya." Elsa mengangguk cepat. "Keluarga Mas Nathan ingin sekali punya cucu, Sil. Apalagi Mas Nathan itu anak tunggal."

"Tapi kenapa harus menikah lagi? Kenapa nggak coba bayi tabung dulu, Sa?"

"Aku dan Mas Nathan udah mencobanya dua kali, dan itu gagal. Aku selalu keguguran, Sil."

"Kapan itu? Kok aku nggak tau, Sa? Kamu belum pernah cerita padaku."

"Aku malu untuk bercerita, Sil. Bahkan orang tuaku saja tidak tau."

"Ngapain malu, itu 'kan bukan aib. Lagian namanya manusia itu hanya bisa berusaha dan berdoa. Sepenuhnya hanya Allah yang berkehendak, jadi kamu sabar aja. Nanti juga kalau udah waktunya ... pasti dikasih kok, Sa." Silla mencoba menasehati, sembari mencari jalan keluar untuk masalah sahabatnya.

"Enggak, Sil. Aku udah nggak bisa sabar lagi. Usia pernikahanku dan Mas Nathan sudah memasuki 7 tahun, kedua orang tua Mas Nathan pun terus menerus mendesak kami."

"Kalau begitu adopsi anak saja di panti asuhan."

Elsa menggeleng. Usulan dari Silla sama sekali tak ada yang membantu. "Enggak bisa, yang mereka inginkan hanya keturunan dari Mas Nathan. Kamu mengerti maksudku, kan? Jadi ayolah, Silla, aku mohon padamu ... tolong jadilah maduku untuk sebentar saja. Aku benar-benar nggak mau berpisah dengan Mas Nathan, karena bisa saja kedua orang tuanya meminta Mas Nathan untuk menceraikan aku dan menikahi perempuan lain."

"Adduuhh, Sa. Gimana, ya? Aku bingung." Kepala Silla mendadak gatal karena bingung dan pusing dengan permintaan konyol itu.

"Kenapa harus bingung? Apa kamu begitu keberatan? Bukankah selama ini kamu selalu bilang akan melakukan hal apapun untukku, yang penting aku bahagia? Dan yang aku inginkan sekarang hanya itu, Sil."

Ya, Silla memang dulu pernah mengatakan hal itu. Semuanya karena dia merasa sangat berhutang budi kepada Elsa dan kedua orang tuanya.

Silla terlahir dari keluarga miskin, sedari kecil dia ditinggal oleh Papanya yang kabur entah kemana. Sementara Mama Silla, hanya bekerja sebagai pemulung rongsokan.

Dengan keterbatasan ekonomi yang dimiliki, Mama Silla hanya bisa menyekolahkannya sampai SD.

Saat itu, keluarga Elsa menjadi keluarga yang baru pindah ke desanya. Dan menjadi keluarga yang paling kaya dan dermawan.

Karena merasa simpati pada keadaan Silla, Haikal—Papa dari Elsa dengan berbaik hati menyekolahkannya, bersama Elsa yang saat itu juga sudah begitu akrab dengan Silla.

Saat baru dimasukkan sekolah SMP, Mama Silla mengalami kecelakaan hingga dirinya dinyatakan meninggal.

Haikal yang kembali merasa simpati pada keadaan Silla, hidup seorang diri, akhirnya memutuskan untuk membawa Silla ke rumahnya, menganggapnya sebagai anak hingga sekarang.

Silla berhasil sekolah sampai lulus SMA. Haikal sempat menawarkannya untuk melanjutkan kuliah bersama Elsa, hanya saja Silla menolak. Karena baginya, ini semua sudah lebih dari cukup.

"Tapi, bagaimana dengan kedua orang tuamu, Sa? Pasti mereka nggak setuju." Silla kembali mencari celah, supaya Elsa mampu berpikir ulang.

"Soal mereka gampang, Sil. Yang penting kamunya dulu setuju apa enggak."

"Kalau tentang Kak Nathannya sendiri gimana? Kan kamu tau dia sangat membenciku."

"Aku bisa membujuknya, asal kamu setuju dulu."

"Baiklah ...." Meskipun berat, akhirnya Silla setuju. Karena memang sesungguhnya dia tak pernah bisa menolak permintaan dari sahabatnya itu. Silla tak tega. "Tapi kamu harus janji padaku, Sa."

"Janji apa?"

"Jangan pernah cemburu, atau menganggapku sebagai sainganmu. Karena semua yang terjadi karena keinginanmu."

"Iya, aku janji." Elsa mengangguk cepat, lalu mengangkat jari kelingkingnya ke arah sang sahabat. "Tapi kamu juga harus janji padaku."

"Janji apa?" Silla hendak menautkan jarinya ke jari Elsa, tapi terhenti karena dia merasa penasaran dengan ucapan yang belum selesai dari Elsa.

"Jangan pernah merebut Mas Nathan dariku, apalagi kembali mencintainya seperti dulu. Kamu hanya cukup mengandung anaknya saja, lalu melahirkannya. Setuju?"

"Iya, aku setuju." Silla mengangguk dan langsung menautkan jarinya.

"Terima kasih banyak ya, Silla." Elsa langsung berdiri dan memeluk tubuh Silla dengan erat. Mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang. "Aku sangat menyayangimu. Tolong tetaplah menjadi sahabatku."

"Iya, Sa. Aku juga sangat menyayangimu. Semoga keputusanmu sudah benar, ya? Aku sama sekali nggak mau menyakitimu."

"Iya, keputusanku sudah benar kok, Sil."

***

"Saya terima nikah dan kawinnya Asilla Farzana binti Aiman Hamza dengan mas kawin kalung emas 12 gram dibayar tunaaaiii!!"

Sebuah kalimat ijab kabul diucapkan dengan satu tarikan napas, membuat semua mata tertuju pada Nathan.

Elsa, yang duduk tak jauh dari Silla tampak tersenyum bahagia. Karena akhirnya, keinginannya bisa terwujud. Dia bahkan sudah merasa tak sabar ingin segera mengendong bayi yang dilahirkan oleh Silla nanti.

"Bagaimana para saksi?" tanya Pak Penghulu, menatap beberapa orang yang menjadi saksi di sana.

"Sah!" sahut Elsa, kemudian diikuti oleh yang lain.

"Saaaahhhhh!!"

Hari ini, Silla telah resmi menjadi istri kedua Nathan. Setelah seminggu yang lalu Elsa memohon padanya.

Silla tahu, ini adalah keputusan yang sangat berat dalam hidupnya, tapi dia tidak bisa menolak.

Silla juga tahu, pastinya Nathan pun sangat berat menikahinya. Karena terlihat dari ekspresi wajahnya saja, pria itu sama sekali tak terlihat bahagia. Bahkan, ada rasa kebencian yang terlihat dalam matanya.

Proses ijab kabul itu dilakukan secara sederhana di rumah Nathan, dan hanya disaksikan oleh sanak keluarga.

"Mas ... kok diem?" tanya Elsa yang merasa heran dengan suaminya yang diam saja, karena seharusnya dia dan Silla bertukar untuk memasangkan cincin kawin yang sudah ada di atas meja. "Ayok pasangkan cincin kawin untuk Silla."

'Nggak sudi!' Nathan menyeru dalam hati. Dan tanpa mengatakan apa pun, dia langsung berdiri dan berlari meninggalkan acara itu.

Bab 2

"Lho, Mas. Mas Nathan!!"

Melihat sang suami berlari begitu saja meninggalkan acara yang belum selesai, Elsa bergegas mengejarnya sampai pria itu masuk ke dalam kamar.

"Aaaarrggghhh!!"

Nathan tiba-tiba mengerang, membuat Elsa terkejut. Dia berlari menghampiri, lalu mendekapnya dari belakang.

"Mas kenapa? Ada apa, Mas?"

Hembusan napas Nathan terdengar berat, dia lantas mengusap kasar wajahnya. "Masih bisa kamu tanya aku kenapa? Apa kamu udah puas sekarang?"

"Puas bagaimana sih, Mas? Ini 'kan untuk kebahagiaan kita." Elsa melepaskan dekapannya, lalu menarik sang suami ke kasur untuk duduk bersama. "Kan kedua orang tua Mas yang mendesak kita untuk punya anak. Apa Mas lupa?"

"Tapi kenapa harus Silla, Yang? Apakah nggak ada perempuan lain di dunia ini selain dia, yang bisa jadi madumu?"

Meskipun pada akhirnya Nathan bisa luluh, atas permintaan paksa dari sang istri, tapi nyatanya dia seolah belum bisa terima jika Silla lah yang akan menjadi istri keduanya.

Nathan sangat membencinya, dan tentunya ada alasan tersendiri, yakni karena dulu Silla pernah menolak cintanya.

Mereka berdua, bahkan bertiga dengan Elsa, pernah satu sekolah saat SMA. Nathan menjadi Kakak kelas tertua mereka, dan bisa dibilang, Nathan cinta pada pandangan pertama kepada Silla. Dimasa-masa MOS dulu.

Mereka juga sempat dekat, sampai akhirnya Nathan memberanikan diri untuk mengirimkan surat cinta dan bunga kepada Silla.

Namun, Nathan justru mendapatkan penolakan yang sangat menyakitkan. Dia bahkan masih ingat dengan jelas isi surat balasan itu sampai sekarang, yang membuatnya membencinya selama bertahun-tahun.

[Kakak nggak usah sok kegantengan. Kita dekat bukan berarti aku suka atau mau jadi pacar Kakak. Muka Kakak ini standar, dan Kakak bukan tipeku.]

Semenjak mendapatkan surat balasan itu, Nathan mulai menjauhi Silla dan membencinya. Dan satu bulan setelah kejadian itu, Nathan mendapatkan surat cinta dari Elsa.

Dia mengatakan bahwa selama ini memendam rasa, hanya saja malu mengungkapkannya, apalagi Nathan begitu dekat dengan Silla.

Merasa tidak tega untuk menolak, karena Nathan sendiri tahu bagaimana rasanya ditolak, akhirnya tanpa berpikir panjang dia langsung menerima cinta itu. Dan siapa sangka, rupanya mereka berjodoh sampai sekarang dengan usia pernikahan yang menginjak 7 tahun.

"Karena hanya Silla yang nggak suka sama kamu, Mas. Jadi otomatis ... dia nggak akan merebutmu dariku," jawab Elsa dengan yakin. Dia kembali memeluk tubuh suaminya, menyandarkan kepala ke dadanya. "Dan aku juga tau ... Mas sangat membenci Silla. Jadi hubungan kalian nggak akan ada cinta, dan nggak akan ada resikonya untuk rumah tangga kita."

"Tapi dengan aku menikahi Silla, aku jadi tambah membencinya, Yang."

"Ya enggak apa-apa. Malah itu bagus."

"Bagus bagaimana? Bukankah yang kita inginkan adalah anak? Bagaimana bisa aku menyentuhnya, kalau aku membencinya? Bahkan menatap wajahnya saja aku merasa nggak sudi, Yang."

"Soal itu gampang, Mas. Aku sudah punya cara. Sekarang kita keluar dulu, kita selesaikan acara ini karena aku nggak enak sama yang lain. Kasihan Silla juga."

"Beritahu aku dulu caranya, apa itu?" desak Nathan penasaran.

"Nanti aku beritahu. Sekarang kita keluar saja dulu." Elsa berdiri, lalu menarik paksa Nathan untuk ikut bersamanya keluar dari kamar.

Mau tidak mau, Nathan mengikutinya. Menuruti semua keinginannya meskipun itu sangatlah berat.

*

*

Setelah proses ijab kabul itu selesai, Elsa membawa Nathan dan Silla pergi menggunakan mobil yang dia kemudikan.

Silla sendiri bertanya-tanya dalam hati, mereka akan pergi ke mana. Namun, karena posisi ada Nathan yang duduk di sebelah Elsa, Silla jadi canggung untuk bertanya secara langsung.

"Kita sebenarnya mau ke mana sih, Yang?" tanya Nathan penasaran.

"Ke mana lagi kalau bukan ke hotel, Mas," jawab Elsa senang, menatap sebentar suaminya dengan senyuman hangat.

"Mau ngapain ke hotel?"

"Ya mau menginap. Mas ini ada-ada saja, ya, pertanyaannya." Elsa terkekeh, merasa lucu dengan pertanyaan sang suami.

"Ya maksudku kenapa kita harus menginap di hotel? Kita 'kan punya rumah, Yang." Nathan benar-benar tak mengerti maksud istrinya.

"Ini 'kan hari pernikahan Mas dengan Silla, berarti nanti malam adalah malam pengantin buat kalian. Jadi ya kalian harus menginap di hotel dong, biar suasananya enak."

"Ih enggak! Aku nggak mau!" tegas Nathan, menggeleng kepala menolaknya secara cepat.

"Harus mau lah, Mas. Mas ini gimana, sih?"

"Padahal nggak perlu ke hotel juga nggak apa-apa, Elsa," kata Silla tiba-tiba. Memberanikan diri untuk ikut bicara. Melihat Nathan menolak, dia jadi merasa tidak enak. Pasti pria itu sangat terbebani. "Kita mending pulang lagi aja."

"Udah nggak apa-apa, Silla sayang ...." Elsa memutar kepalanya sebentar, memerhatikan sang sahabat sambil tersenyum. "Pokoknya kalian harus menginap di hotel, dan segeralah bercocok tanam."

"Yang, kamu ini ngomong apa, sih?" Nathan mendengkus, tidak suka dengan kalimat akhir yang diucapkan sang istri. Dan bisa-bisanya tak ada sedikitpun rona kesedihan, atau kecemburuan pada diri Elsa. Malah dia sendiri lah yang memintanya.

Terbuat dari apakah hati Elsa? Itulah yang terbesit dalam benak Nathan. Dia memang istri yang sangat baik dan sempurna, baginya, Nathan sangat beruntung bisa memiliki Elsa.

"Ngomong apa apanya sih, Mas? Kan apa yang aku omongin itu bener. Kalian menikah 'kan memang untuk memiliki keturunan, apa lagi?"

"Ya belum tentu dia subur. Kamu jangan terlalu percaya diri, Yang."

Sekilas Silla melihat, Nathan menatapnya sinis dari pantulan cermin depan.

"Mas nggak boleh ngomong kayak gitu. Silla pasti subur, aku yakin itu. Cukup aku aja yang nggak subur," kata Elsa dengan mata berkaca-kaca. Melihat kesedihan diwajah istrinya, membuat Nathan langsung merangkul dan mencium lembut keningnya.

"Kamu juga subur, Yang. Kedua orang tuaku saja yang nggak sabaran, padahal aku yakin kamu masih bisa hamil anakku. Maafin mereka, ya?" Berulang kali Nathan menciumi Elsa, tampak jelas pria itu sangat menyayangi dan mencintai istrinya.

Di sisi lain, Silla yang sedari tadi diam-diam memerhatikan merasa ikut senang. Dia juga akan menepis jauh-jauh perasaannya terhadap Nathan selama ini, karena memang tak seharusnya dia masih memendam rasa kepada suami sahabatnya, meskipun sekarang menjadi suaminya juga.

'Kasihan Elsa dan Kak Nathan. Mereka memang pasangan yang serasi. Aku harap meskipun sekarang ada aku ... mereka masih bisa tetap harmonis dan bahagia.'

'Aku akan menepati janjiku, Elsa. Aku hanya akan mengandung dan melahirkan anak Kak Nathan. Dan nggak akan pernah merebutnya darimu.' Silla membatin dengan tekad yang kuat.

Bab 3

Sesampainya di sana, Elsa dengan penuh keceriaan mengantar mereka ke salah satu kamar yang sudah dia pesan khusus untuk keduanya. Dia dengan teliti mempersiapkan segala hal demi membuat Nathan merasa nyaman dan segera dapat memiliki anak.

"Semoga kamu suka dengan kamarnya, Sil. Begitu pun dengan Mas Nathan," ucap Elsa dengan penuh harap dan kehangatan dalam suaranya, sambil tersenyum lembut membukakan pintu untuk mereka masuk.

Kamar hotel khusus untuk pengantin baru itu terlihat begitu indah dan romantis. Silla merasakan getaran kebahagiaan dan haru melihat dekorasinya yang menakjubkan. Dia bisa merasakan betapa Elsa telah berusaha keras untuk menciptakan momen untuknya, supaya segera memberikannya anak.

Tempat tidur yang besar dan nyaman, dekorasi dengan bunga-bunga segar, lukisan-lukisan indah, dan balkon pribadi menghadap pemandangan kota. Semua detail dirancang dengan cermat untuk menciptakan pengalaman yang aman dan nyaman.

"Kita keluar dulu sebentar yuk, Mas," ajak Elsa menarik suaminya untuk keluar dari kamar, membiarkan Silla mencermati ruangan itu sendirian. "Ambil ini dan jangan lupa diminum sebelum mandi. Mas pasti habis ini mau mandi, kan?"

"Apa ini, Sayang?" Nathan mengambil sebuah botol obat polosan berwarna putih, yang baru saja diberikan Elsa. Terlihat dia bingung karena memang tidak tahu apa itu.

"Ini cara yang aku katakan itu lho, Mas. Mas harus minum ini, satu kapsul saja. Biar nanti Mas bisa menyentuh Silla tanpa rasa benci."

"Jangan bilang ini obat per*ngsang, Yang?" tebak Nathan, lalu menggeleng cepat. "Ah enggak, Yang! Aku nggak mau minum obat beginian!" tolaknya cepat dan memberikan benda itu kembali ke tangan Elsa. Tetapi, perempuan itu menolak.

"Dih, Mas. Cuma cara ini lho yang bisa membuat kamu menyentuh Silla. Kan katanya kamu nggak sudi menyentuhnya."

"Iya, aku memang nggak sudi, Yang. Tapi ya nggak perlu pakai cara ini juga kali. Aku nggak mau!"

Degh!

Silla tak sengaja mendengar percakapan mereka, dan dia merasakan dadanya sesak. Kata-kata itu terdengar menyakitkan, tapi seharusnya, Silla tak perlu merasa sesakit ini.

'Wajar juga kalau Kak Nathan nggak mau menyentuhku, karena dia pasti sangat mencintai dan menghargai Elsa. Tapi memangnya harus, ya, sampai dengan kata nggak sudi seperti itu?' batin Silla penuh tanya. Sampai detik ini, pertanyaan dalam benaknya tentang Nathan tetap sama, yakni. 'Sebenarnya apa sih yang membuat Kak Nathan membenciku selama ini?'

"Nggak ada cara lain, Mas. Cuma ini." Elsa terdengar berusaha untuk merayu suaminya, bahkan kini memberikannya sebuah kecupan mesra dibibir demi bisa meluluhkan hatinya. "Kalau kamu sudah menyentuh Silla, peluang untuk kita segera punya anak akan cepat terlaksana. Dan kamu juga bisa segera bercerai dengannya."

"Tapi—"

"Sstttt ...." Jari telunjuk Elsa mendarat ke bibir Nathan. Menghalanginya untuk bicara. "Mas nurut aja sama aku. Ini buat kebaikan bersama. Mas mencintaiku, kan?"

Nathan mengangguk, lalu menarik tangan Elsa dari bibirnya lalu kecupan bibir itu kembali terjadi. "Tentu saja, aku mencintaimu. Bahkan sangat mencintaimu."

"Ya udah, mangkanya nurut. Sekarang aku pulang ya, Mas. Kamu masuk, baju ganti untuk kalian biar kukirim nyusul."

"Lho, kok kamu pulang? Kenapa nggak ikut menginap juga?" Nathan menarik tangan Elsa, menghalanginya yang hendak melangkah pergi. Ada perasaan berat ditinggalkan, Nathan tak ingin jauh darinya.

"Mas ini gimana? Masa iya aku ikut menginap bareng kalian? Yang ada ganggu dong." Elsa tertawa.

"Enggak lah. Mana ada kamu ganggu." Nathan mengeratkan tangannya, tak ingin membiarkan perempuan itu pergi.

"Tetap saja aku nggak mau, Mas." Elsa menggeleng, lalu perlahan menarik tangan sang suami. "Nggak etis juga kali, Mas. Ya udah, ya, aku pamit pulang. Assalamualaikum." Kembali Elsa mengecup bibir Nathan, selanjutnya dia melangkah cepat pergi darinya.

"Akh kamu ini!!" kesal Nathan, tapi segera dia lambaian tangan, menatap sang istri yang sudah masuk ke dalam lift. "Hati-hati dijalan, Sayang!"

Walau begitu berat, tapi pada akhirnya Nathan harus rela ditinggal Elsa.

Setelah pintu lift itu tertutup, dia menghela napasnya dengan panjang dan berat. Nathan juga menyentuh dadanya yang terasa sesak.

Meskipun istrinya terus menampilkan wajah senang dan penuh kebahagiaan, tapi Nathan yakin—jika dihati perempuan itu tersimpan banyak sekali luka yang mendalam.

'Aku akan terus mencintaimu sampai kapan pun. Dan nggak akan ada perempuan mana pun yang bisa menggantikan posisimu, Elsa,' batin Nathan penuh tekad.

Cukup lama dia berdiri di sana, sampai akhirnya dengan langkah berat dia masuk ke dalam kamar hotel yang sedari tadi pintunya terbuka, lalu menutup pintu.

Terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi, dan tak lama setelah mati pintunya pun perlahan dibuka.

Silla keluar dari kamar mandi itu dengan menggenakan handuk kimono dan menatap sang suami. Rambutnya terlihat basah dan berantakan.

Sesegera mungkin Nathan mengalihkan pandangan. Membuang muka ke arah lain.

"Maaf, Kak. Tapi tadi Elsa sempat menitipkan baju ganti nggak, ya? Soalnya aku lupa nggak bawa baju ganti," tanya Silla dengan lembut dan hati-hati.

Namun, bukannya menjawab, pria itu justru berlalu begitu saja dengan wajah dingin, masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa handuk yang dia ambil dalam lemari.

Brak!!

Sebuah pintu langsung dia tutup secara paksa, hingga suara sontak mengagetkan Silla. Perempuan itu sampai terjingkat dan menyentuh dada.

"Astaghfirullah ... apa aku salah bicara? Kenapa dia justru terlihat marah?" gumam Silla, dan tak lama kemudian terdengar suara bel yang kembali mengagetkannya.

Ting, Tong!

Ting, Tong!

"Oh ya, tunggu sebentar!!" seru Silla, lalu cepat-cepat membuka pintu kamar.

Seorang petugas hotel berdiri di depan pintu, sembari memegang sebuah koper besar di tangannya. "Selamat malam, Nona. Saya diminta oleh Nona Elsa untuk mengirimkan koper ini."

"Oh, selamat malam juga, Pak. Terima kasih, ya?" Silla langsung menarik benda itu kepadanya.

"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya permisi."

"Iya." Silla mengangguk, lalu menutup pintu dan mendorong koper itu membawanya masuk. Silla berpikir bahwa koper itu pasti berisi baju ganti untuknya dan Nathan, jadi segera dia membukanya.

Ternyata benar, itu baju ganti untuk dan Nathan. Hanya saja yang membuat Silla heran, mengapa tak ada baju tidur untuknya. Tapi banyak sekali lingerie.

"Apa-apaan ini Elsa? Kenapa dia mengirimku baju ganti sama semua dan kurang bahan? Apa dia sengaja?"

Ingin rasanya Silla bertanya kepada Elsa, tapi sayang dia lupa tak membawa ponsel. Alhasil, mau tidak mau Silla memakai salah satunya dan segera naik ke atas kasur menyelimuti tubuh lantaran malu sendiri.

Tak lama kemudian, Nathan keluar dari kamar mandi dengan menggenakan handuk kimono. Seluruh wajahnya dan rambutnya tampak basah.

"Kak, itu baju gantinya dikoper. Tadi Elsa mengirimkannya menyuruh petugas hotel," ucap Silla memberitahu, meski pria itu tak bertanya. Sebab terlihat dia seperti orang kebingungan.

Tanpa menjawab lagi, Nathan langsung menuju koper yang Silla tunjukkan lalu mengambil baju ganti untuknya dan menggantinya di dalam kamar mandi.

*

*

Sampai larut malam, Nathan sama sekali tak berbicara. Dia sejak selesai mandi langsung duduk di sofa dan bermain ponsel.

Ruangan itu terasa sunyi meskipun ada dua orang di dalamnya. Silla merasa canggung untuk mengajaknya berbicara, khawatir bahwa tidak akan ada tanggapan.

"Eemm, Kak. Aku tidur duluan deh kalau begitu. Maaf kalau aku ada salah. Selamat malam." Silla mencoba mencairkan suasana dengan mengajukan permintaan maaf dan memberikan salam selamat malam. Dia merasa lebih baik tidur daripada menunggu Nathan untuk memulai percakapan yang mungkin tidak akan terjadi.

"CK!" Nathan menghela nafas dengan sinis, masih terpaku pada layar ponselnya. 'Tidur tinggal tidur, ngapain pakai izin segala. Nggak penting banget!' batinnya sebal.

Namun, beberapa saat kemudian, Nathan teringat dengan obat yang Elsa berikan. Tanpa ragu, dia mengambil obat tersebut dari kantong celananya.

'Apa aku harus meminumnya sekarang? Lalu menyentuh Silla?' pikir Nathan penuh tanda tanya. Dia melihat ke arah Silla yang sudah terlelap di tempat tidur.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED