Happy reading ....
Fadli tidak tahu harus berbicara apa, dia seketika langsung memikirkan cara untuk menghindari pertanyaan dari Papahnya. Karena tidak mungkin jika pria itu mengatakan bahwa saat ini Calista sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan, apalagi harus diangkat rahimnya.
"Kenapa kamu diam saja? Di mana Calista?" tanya papa Zahid kembali yang belum mendapatkan jawaban sama sekali dari Fadli.
"Calista sedang healing. Tadi siang dia ke kantor aku untuk meminta izin, dan acaranya dadakan, jadi ya mau tidak mau Calista langsung berangkat."
"Apa! Liburan mendadak? Aneh banget. Biasanya juga nggak sampai mendadak seperti itu?" curiga Papa Zahid.
Dia merasa jawaban dari Fadli sedikit tidak masuk akal, karena biasanya jika Calista ingin liburan bersama teman-temannya atau pergi ke suatu tempat, pasti wanita itu akan siap-siap terlebih dahulu.
"Iya Pah, dia itu lupa bahwa kemarin udah janjian mau pergi. Mungkin karena kami terlalu sibuk sama program hamil, jadinya sampai Calista tidak ingat kalau dia ada janji sama temannya. Mungkin beberapa hari dia di luar kota. Ya sudah, kalau gitu aku naik dulu ke atas ya Pah, capek banget." Fadli pun meninggalkan sang papa.
Dia pergi untuk menghindari pertanyaan Papa Zahid yang akan semakin mendesaknya, karena Fadli tidak mau kedua orang tuanya tahu tentang keadaan Calista.
Sesampainya di kamar, pria itu langsung melepaskan semua pakaiannya masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah air dingin.
'Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Keadaan ini benar-benar membuatku bingung. Kalau Papa dan Mama sampai tahu keadaannya Calista yang sekarang, pasti mereka mendesak untuk menikah lagi atau meninggalkannya. Aku tidak ingin itu terjadi! Cintaku hanya untuk Calista, bagaimana ini Tuhan?' batin Fadli yang merasa frustasi.
..................
Saat ini Calista sudah pulang dari rumah sakit. Dia baru saja menuruni mobil dan masuk ke dalam rumah kedua mertuanya.
Fadli juga sudah menceritakan kepada Calista alasan tentang kepergian wanita itu, agar nanti saat Calista ditanya dia tidak ngelantur kemana-mana, karena itu bisa memicu kecurigaan dari kedua orang tuanya.
"Ya ampun, sayang! Kamu akhirnya pulang juga rumah ini sepi tahu, nggak ada kamu," ucap mama Kirana sambil memeluk tubuh Calista.
"Iya Mah, maaf ya, perginya nggak pamit sama mama. Mama baik kan?" jawab Calista sambil tersenyum manis.
"Alhamdulillah mama baik. Ya udah, gih kamu istirahat! Pasti capek banget kan." Mendengar itu Calista mengangguk, kemudian dia digandeng oleh Fadli menaiki tangga untuk menuju kamar.
Sesampainya di kamar, wanita itu langsung duduk di tepi ranjang sambil senderan. Tatapannya menerawang, kemudian ponselnya berbunyi dan itu adalah telepon dari sang adik.
"Sebentar ya Mas, aku angkat telepon dari adik aku dulu," ujar Calista dan balas anggukan oleh Fadli.
"Iya halo, assalamualaikum dek, kenapa?" tanya Calista saat telepon sudah tersambung.
"Waalaikumsalam Kak. Kak, kakak harus ke rumah sakit sekarang!" terdengar suara Jihan sangat panik di seberang telepon
"Hah? Rumah sakit? Memangnya kenapa, dek? Siapa yang sakit?" tanya Calista dengan alis bertaut heran.
"Ibu, kak. Dia kecelakaan."
"Apa! Ibu kecelakaan? Baik, baik, Kakak kesana sekarang!"
Fadli yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap ke arah sang istri yang sudah selesai menelpon dengan adiknya.
"Itu dari Jihan?" tanya Fadli sambil menggosok rambutnya dengan handuk.
"Iya Mas. Mas, kita harus ke RS sekarang!" pinta Calista dengan wajah paniknya.
"Hah! Ke RS? Ngapain sayang? Kamu sakit lagi?" cemas Fadli.
"Bukan, Mas. Tapi ibu, Mas ... ibu kecelakaan!" panik Jihan.
Fadli yang mendengar itu pun terkejut, kemudian mereka langsung pergi menuju rumah sakit dimana Jihan sudah mengirim alamatnya.
Sesampainya di sana, terlihat Jihan sedang menangis tersedu-sedu di kursi depan IGD. Calista pun langsung menghampiri sang adik.
"Bagaimana keadaan ibu? Dia gak apa-apa kan?" tanya Calista dengan wajah yang sudah di landa ke khawatiran.
Jihan menggelengkan kepalanya. Lalu dia memeluk tubuh Calista.
"Ibu, Kak. Dia ... dia koma," jawab Jihan.
"Apa! Koma?" kaget Calista, dan langsung di balas anggukan oleh Jihan.
Tubuh Calista lemas, dia duduk di kursi sambil memeluk tubuh adiknya. Walau ibu Kulsum bukan ibu kandungnya, namun Calista sangat menyayanginya, sebab ia sudah di rawat dan di besarkan hingga kuliah.
Setelah melewati masa kritis, ibu Kulsum di pindahkan ke ruang rawat inap. Di sana Jihan menunggu ibunya, sementara Calista pulang.
............
Sesampainya di rumah, Calista terduduk di ranjang sambil memikirkan tentang keadaan ibunya. Namun, seketika dia teringat dengan penawarannya pada Jihan beberapa hari yang lalu
"Mas, sebenarnya aku sudah ada cara supaya kita tidak bercerai dan supaya kita masih bisa bersama dan mempunyai anak," ucap Calista.
Sontak Fadli langsung menoleh ke arah istrinya dengan dahi mengkerut heran. Dia berpikir, bagaimana mungkin bisa mereka mempunyai anak sedangkan rahim Calista saja sudah diangkat?
"Apa itu, sayang? Tapi mana mungkin bisa? Kan rahim kamu sudah diangkat?" bingung Fadli sambil duduk di hadapan sang istri.
"Ada Mas. Caranya, kita menyewa rahim seseorang!" jawab Calista dengan antusias dan wajah yang berbinar.
Sementara Fadli terlihat begitu sangat shock saat mendengar ide gila dari sang istri. Dia menatap dengan mata membulat dan mulut sedikit menganga, karena Fadli sama sekali tidak terpikirkan dengan ide yang menurutnya sangat konyol.
"What! Menyewa rahim? Sayang, kamu ini jangan bercanda deh!" protes Fadli yang merasa tidak setuju.
"Emangnya Mas lihat muka aku sedang bercanda? Aku tuh serius, Mas."
Kemudian Calista menjelaskan pada suaminya, jika biaya kuliah Jihan serta biaya perawatan ibunya bisa jadi senjata agar Jihan tak bisa menolak.
Sementara Fadli terdiam, dia benar-benar tidak menyangka dengan ide gila sang istri, di mana Calista memberikan sebuah solusi namun baginya itu sangat konyol dan tidak masuk akal.
"Lalu ..." Fadli masih tidak mengerti dengan arah tujuan Calista.
Akan tetapi, Fadli juga takut nanti kedua orang tuanya mengetahui tentang rencana mereka, sudah pasti mama Kirana dan juga Papa Zahid akan sangat kecewa dan marah besar, dan tak akan memberikan hak waris kepada Fadli.
"Ya jangan sampai mereka tahu dong, Mas. Kita harus pintar memainkan peran. Memangnya kamu mau dipisahkan sama aku? Kalau aku sih nggak mau ya dimadu! Daripada kamu memadu aku, mendingan kamu meninggalkanku, Mas!" Calista merengut.
Melihat istrinya kesal, Fadli segera merengkuh wanita itu dalam dekapannya. "Sudahlah, kita pikirkan nanti ya. Aku juga harus memikirkan semuanya matang-matang. Ini semua membuatku sangat kaget, dan beri aku waktu!"
"Gak bisa. Pokoknya besok siang kita ke RS, buat bicara sama Jihan. Aku yakin kok, dia gak akan nolak. Sebab selama ini kita udah biayain kuliah dia plus ... kita juga biayain biaya rumah sakit ibu," terang Calista.
Fadli hanya diam saja, dia sejujurnya merasa ragu akan rencana sang istri. Namun, jika di pikir-pikir, tak ada jalan lain lagi.
...........
Di rumah sakit.
Calista dan Fadli baru saja sampai di ruang rawat inap bu Kulsum, dan saat ini Jihan baru selesai mengelap tubuh ibunya.
"Jihan, kakak mau bicara sama kamu!"
"Iya Kak, bicara saja," jawab Jihan tanpa menoleh.
"Bagaimana dengan tawaran kaka tempo hari?"
Mendengar hal itu Jihan seketika menatap ke arah sang kakak, namun tatapannya seperti sedang menguliti Calista. Di mana wanita itu tak habis pikir dengan jalan pikiran dari perempuan cantik yang berada di hadapannya saat ini.
Calista dengan sangat enteng dan gampangnya bertanya perihal masalah mereka beberapa waktu yang lalu, padahal saat ini Ibu mereka sedang terbaring, di rumah sakit.
"Kakak masih berani menanyakan hal seperti itu? Apakah kau tidak melihat sekarang kondisi Ibu seperti apa?" tanya Jihan yang sudah kesal.
"I know, tapi itu berbeda," jawab Calista. Kemudian dia menatap ke arah jendela lalu menghela nafasnya dengan kasar.
'Maaf Jihan, jika kakak harus melakukan ini,' batin Calista.
Kemudian dia kembali melihat ke arah Jihan dan juga ibunya, bergantian ke arah Fadli yang sedang duduk di sofa.
"Kamu tahu kan biaya untuk perawatan Ibu di rumah sakit ini tidak murah? Bahkan gajimu di cafe saja tidak akan cukup, ditambah kamu harus membayar kuliahmu." Calista berbicara dengan nada yang cuek. Jika kamu mau ibu tetap di rawat, kamu harus mau mengandung benih Mas Fadli!" tegas Calista.
Mulut Jihan menganga lebar saat mendengar ucapan Calista. Tidak ia sangka, jika kakaknya bisa se tega itu kepadanya dan juga sang ibu.
"Tega kakak melakukan itu padaku dan ibu?"
"Tega kamu bilang? Selama ini kuliah kamu kakak yang bayar. Lupa kamu? Jadi, jika kamu sayang sama ibu, kamu tak ada pilihan lain."
Jihan terdiam, dia menatap Calista dan Fadli bergantian. Lalu Jihan menatap ibunya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Sementara Fadli hanya menampilkan wajah datarnya saja, menatap Jihan tanpa rasa bersalah.
Calista benar. Jihan tak punya pilihan lain. Selama ini kuliah di bayar oleh Fadli, dan sekarang Jihan harus membayarnya.
"Baiklah, aku setuju. Tapi ... aku ada satu syarat."
"Apa itu?" tanya Calista.
"Aku mau Mas Fadli menikahiku! Sebab aku tidak mau berbuat zina!" tegas Jihan
BERSAMBUNG......
Setelah pekerjaannya selesai, Jihan pergi menuju rumah sakit. Namun tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, di mana Calista mengajaknya ketemuan di sebuah Cafe.
Wanita itu pun langsung melaju menaiki ojek online menuju cafe, di mana Calista dan juga Fadli sudah menunggunya. Dan dia sangat tahu jika pasti Calista akan setuju dengan ucapannya.
'Aku tahu mungkin aku seperti wanita rendahan yang menikah dengan kakak iparku sendiri. Tapi aku tidak mempunyai pilihan lain. Daripada Kak Calista mencabut semua dana untuk kesembuhan Ibu, lebih baik aku berkorban. Maafkan Jihan, Bu. Jihan harus melakukan ini demi kesehatan ibu.' batin Jihan sambil menatap jalanan yang ramai.
Sesampainya di cafe, wanita itu langsung masuk berjalan menuju meja, di mana Calista dan Fadli sudah duduk menunggu dirinya.
"Maaf jika aku lama," ucap Jihan sambil duduk di hadapan pasangan suami istri itu.
"Jihan, kami tidak ingin berbasa-basi. Mas Fadli sudah setuju akan menikahi kamu. Tapi ingat satu hal …" Calista menatap tajam ke arah Jihan, "Jangan pernah kamu berharap cinta darinya, karena cintanya Mas Fadli hanya untukku. Dan jangan pernah kamu menggodanya, semoga kamu memahami ini ya, Jihan.” Ucap Calista menegaskan kembali statusnya nanti.
Jihan hanya tersenyum, "Jangan khawatir. Aku tidak akan menggoda Mas Fadli dan aku juga tidak berharap cinta darinya. Sebab aku tahu dia sangat mencintaimu, Kak.” jawab Jihan dengan enteng, karena memang benar adanya, Mas Fadli begitu mencintai Calista, bahkan apa bila Calista meminta Mas Fadli untuk terjun dari atas Gedung pun, Jihan rasa Mas Fadli akan menurutinya.
“Kamu hanya perlu melahirkan satu orang anak, Jihan, setelah itu kamu bisa bebas pergi menjadi dirimu seniri.” Calista masih berusaha untuk membujuk Jihan.
Jihan hanya tersenyum getir, hatinya teriris saat mendengar kata alat. Dia mengganggukan kepalanya beberapa kali. "Baik, Kak, tapi aku mempunyai beberapa syarat."
"Apa itu?" tanya Calista dengan heran.
Kemudian Jihan mengeluarkan selembar kertas putih, di mana di sana terdapat beberapa syarat yang sudah ditulisnya, dan di bawahnya juga sudah ada materai penandatanganan Fadli dan Calista.
"Apa ini?" tanya Fadli.
"Itu syarat dari aku, kalian ingin anak bukan? Aku juga mempunyai beberapa keinginan, karena mencetak anak bukanlah hal yang mudah." jelas Jihan.
Kemudian Fadli meraih kertas putih tersebut dan dia membacanya bersama dengan sang istri. Di mana di sana ada beberapa poin yang sudah dituliskan oleh Jihan, diantaranya adalah harus membayarkan pengobatan Ibu Jihan sampai sembuh. Hanya itu syarat yang diberikan Jihan.
Setelah membaca syarat yang dituliskan oleh Jihan, kedua netra Calista menatap sendu ke arah sang adik. Sedangkan Jihan hanya diam sambil menundukkan wajahnya ke bawah.
Calista berpindah posisi tempat duduknya menjadi sebelah Jihan, “Baik, akan kami penuhi syaratmu ini, Jihan, tentu Kakak juga tidak akan abai dengan Ibumu yang sedang sakit, biar bagaimana pun, kamu adalah adikku, Jihan, walau kita berbeda darah, tapi aku tetap menyayangimu dan Ibumu.” Calista meraih tangan Jihan untuk digenggamnya.
“Terima kasih, Kak, satu hal lagi …” Jihan menggeser sedikit posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Calista, “Aku harap, Kakak dan Mas Fadli tetap menyayangi anak yang aku lahirkan nantinya seperti anak kalian sendiri.” Tak terasa satu tetes air mata jatuh ke tangan Jihan, saat ini pikirannya kacau, harus menikah dengan Kakak Iparnya dan juga memiliki anak, itu bukanlah sesuatu yang mudah.
“Saya dan Calista sudah lama sekali mendambakan seorang anak, tentunya kami akan menyayangi anak tersebut.” Fadli menimpali perkataan Jihan.
Calista masih berusaha menenangkan Jihan, “Tentu, Jihan, kami yang seharusnya berterima kasih karena kamu ingin membantu Kakak dan Mas Fadli.” Calista memeluk Jihan yang masih sesenggukan.
Jihan merasa jika dia sudah masuk ke dalam air, kenapa tidak basah kuyup sekalian? Dia berpikir seperti itu, jadi tidak ada salahnya jika dia meminta prioritas pertama. Karena Jihan sedikit dan banyaknya tahu, wanita hamil pasti ingin selalu dekat dengan suaminya.
'Jika bukan karena ibu, aku tidak ingin merendahkan harga diri ini di hadapan Kak Calista ataupun Mas Fadli. Maafkan Jihan, Bu. Jihan terpaksa demi kesehatan ibu, karena Kak Calista begitu kejam sampai dia mengorbankan kita berdua.' batin Jihan.