Happy reading....
"Maaf ya Kak, aku lama," ucap Jihan, adiknya Calista.
Calista saat ini sedang berada di cafe, dia ingin bertemu dengan adiknya, sebab ada yang mau Calista utarakan pada wanita berjilbab itu.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Calista dengan wajah yang murung.
Jihan merasa penasaran kenapa kakaknya berwajah sedih seperti itu, kemudian dia menggenggam tangan Calista.
"Ada apa, Kak? Kok wajahnya ditekuk kayak gitu sih?"
"Sebenarnya aku menemui kamu untuk berbicara sesuatu."
"Soal apa itu, Kak?" tanya Jihan.
Calista menatap lekat ke arah adiknya, mereka tumbuh besar bersama. Walaupun mereka bukanlah adik dan kakak kandung, akan tetapi Calista sangat menyayangi Jihan.
Namun kali ini dia benar-benar membutuhkan bantuan adik angkatnya, dan Calista sangat sadar jika pasti permintaannya akan membuat Jihan merasa sangat terkejut.
"Ada apa, Kak?" tanya Jihan kembali saat melihat Calista hanya diam saja.
Sejenak wanita itu menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian dia pun mengatakan perihal masalah rumah tangganya dengan Fadli kepada Jihan.
"Begini Dek ... sebenarnya kakak ingin kamu membantu kakak."
"Membantu apa?"
"Kakak ingin kamu menikah dengan Mas Fadli ..." ujar Calista yang membuat Jihan terhenyak di tempatnya, "Kakak mohon, Jihan ... kamu tau sendiri, kakak tidak bisa memberikan keturunan untuk Mas Fadli, sedangkan keluarga Mas Fadli menyudutkan kami untuk segera memiliki keturunan, dan sudah hampir 10 tahun kami menanti kabar bahagia itu, tapi belum juga ada, Jihan."
"A-apa! Bagaimana mungkin kakak bisa memiliki pikiran seperti ini, Kak?" Jihan yang terkejut itu pun sama sekali tidak menyangka bahwa Kakaknya akan mengatakan hal tersebut kepadanya, dan Jihan hanya bisa mendengkus gusar seraya menatap kakaknya tak percaya.
Namun, seketika Jihan tertawa. Dia pikir bahwa Calista sedang bercanda.
"Kakak tidak sedang bercanda Jihan, kakak serius."
Seketika tawa Jihan berhenti, di ganti dengan raut wajah syok dan tatapan membulat serta mulut sedikit menganga. Dia berharap itu hanya sebuah mimpi. Namun, nyatanya itu sebuat fakta dan kenyataan.
"Tapi kan Kak, kita ini adik kakak. Masa iya aku hamil benihnya Mas Fadli sih? Apa kata orang-orang nanti, Kak? Nggak! Aku nggak mau!" tolak Jihan dengan tegas.
Jihan tidak habis pikir apa yang ada di benak sang kakak, sampai harus memintanya untuk mengandung benih dari suaminya sendiri?
"Tapi Han, kakak--"
"Maaf, aku tidak bisa Kak!" Jihan pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian dia meninggalkan Calista begitu saja.
***********
Saat pikirannya sedang kacau, Calista sampai tidak fokus menyetir, hingga dia tidak melihat jika ada seorang anak kecil yang menyeberang jalan. Kemudian wanita itu pun yang kaget langsung membanting setirnya hingga menabrak pembatas jalan.
CKIIT! BRAAK!
"Aaakh! Aaawh! Perutku!" ringis Calista saat merasakan perutnya terjepit dan terbentur keras, karena tabrakan mobil itu membentur sangat keras, hingga menimbulkan dentuman yang membuat semua orang seketika berlari ke arahnya.
"Ada kecelakaan! Ada kecelakaan!" teriak seorang pejalan kaki sambil menunjuk mobil Calista yang sudah remuk.
.....................
Fadli sampai di rumah sakit, dan dia langsung menuju ruangan UGD, di mana saat ini istrinya tengah diperiksa dan ditangani oleh dokter.
Pria itu berjalan mondar-mandir di depan ruangan tersebut dengan raut wajah yang diliputi rasa cemas tentang keadaan istrinya, bahkan untuk duduk pun rasanya Fadli tidak bisa.
Setelah beberapa jam menunggu, pintu ruangan UGD terbuka, dan keluarlah seorang Dokter. "Apakah Anda keluarga dari pasien?" tanya Dokter tersebut kepada Fadli.
"Iya Dok, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Dia baik-baik aja 'kan?
"Lukanya tidak terlalu parah. Hanya saja, benturan di bagian perutnya mengakibatkan kami harus mengangkat rahimnya, karena sudah rusak akibat kecelakaan itu," jawab Dokter tersebut.
Bagai disambar petir di siang bolong, Fadli terduduk dengan lemas saat mendengar jawaban Dokter jika sang istri rahimnya harus diangkat karena benturan yang amat sangat keras.
Tatapannya seketika kosong, pikirannya semrawut dan tidak tahu harus sedih atau bahagia, karena istrinya selamat tapi rahimnya tidak.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanya Dokter sambil berjongkok di hadapan Fadli.
"Apa tidak bisa jika tidak diangkat, Dok? Kami sudah hampir 10 tahun ingin memiliki anak, tapi kenapa rahimnya harus diangkat, Dok?" Fadli menatap kosong sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Dunianya runtuh seketika saat mendengar kabar buruk itu.
"Jika tidak, itu akan merusak organ tubuh lainnya Pak. Juga akan membahayakan nyawa istri, Bapak. Kami tidak mempunyai pilihan lain," jawab Dokter tersebut.
Rasanya seluruh tulang di tubuh Fadli sudah tak bertenaga. Dia merasa lemas, bahkan tidak bisa berpikir saat menerima kenyataan yang begitu menyakitkan di dalam hidupnya.
Setelah keadaan Calista stabil, dia pun pindahkan ke ruang rawat inap. Di sana Fadli setia menunggu istrinya sambil menggenggam tangan wanita itu.
Jujur saja, Fadli tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Calista saat dia mendengar kenyataan bahwa rahimnya harus diangkat. Karena pasti wanita itu akan hancur.
"Eeeugh!" Suara lenguhan terdengar lirih dari wanita yang saat ini tengah terbaring di hadapan Fadli.
"Sayang, akhirnya kamu sadar juga," ucap Fadli, kemudian dia menekan tombol untuk memanggil Dokter serta Suster.
Setelah keadaan Calista diperiksa dan dinyatakan sudah melewati masa kritisnya, Dokter pun pergi. Dan saat ini tinggallah Calista bersama dengan Fadli.
"Aku ada di mana, Mas?" tanya Calista dengan suara yang lirih.
"Kamu ada di rumah sakit, sayang."
Calista terdiam, dia ingat jika beberapa jam yang lalu wanita itu mengalami kecelakaan karena dia begitu sangat frustasi sebab belum juga hamil.
Calista mencoba untuk bangun, akan tetapi dia merasakan sakit di bagian perutnya yang teramat sangat.
"Aawwh!" ringis Calista.
"Sayang, kamu jangan bangun dulu! Keadaanmu belum pulih, bekas jahitannya masih basah. Jangan bangun terlebih dahulu ya!" cegah Fadli.
Wanita itu menatap ke arah Fadli saat mendengar kata jahitan. "Maksud kamu apa, Mas? Jahitan apa yang kamu maksud?" tanya Calista.
Fadli terdiam, dia menatap teduh ke arah sang istri, di mana pria itu tidak tega jika mengungkapkan tentang kebenarannya. Karena dia tahu pasti Calista akan sangat terpukul.
Melihat keterdiaman suaminya, Calista merasa ada yang janggal. Dia merasakan jika Fadli tengah menyembunyikan sesuatu yang besar darinya.
"Katakan Mas! Apa yang terjadi? Apa yang kamu sembunyikan dariku, Mas?"
"Sayang, sebaiknya kamu istirahat ya! Keadaanmu kan juga belum pulih betul." Fadli mencoba untuk menenangkan sang istri agar tidak bertanya soal apa yang terjadi.
"Tidak Mas. Jawab dulu pertanyaanku! Apa yang dijahit?" desak Calista dengan tatapan memohon.
"Tadi Dokter mengatakan, jika perut kamu mengenai benturan yang sangat keras, hingga ..." Fadli menggantungkan ucapannya membuat Calista semakin penasaran.
"Hingga apa, Mas?" desak Calisa dengan tak sabar.
"Hingga rahim kamu harus diangkat," jawab Fadli pada akhirnya sambil menundukkan kepala.
Mendengar itu tentu saja Calista sangat syok dia menutup mulutnya dengan satu tangan. Air matanya sudah tak terbendung lagi, mengalir begitu saja membasahi pipi.
Dadanya terasa begitu sesak. Sudah hampir 10 tahun dia menantikan seorang anak, dan saat mereka sedang berusaha Allah malah memberikan cobaan yang begitu sangat berat kepadanya.
"Tidak Mas. Tidak mungkin! Rahimku tidak mungkin diangkat, Mas! Bagaimana kita akan mempunyai anak? Tidak. Aku tidak mauuu!" jerit Calista sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Bagaimana kita bisa mempunyai anak Mas, kalau rahimku diangkat? Aku tidak mau, Mas. Bagaimana bisa? Aku tidak ingin kehilangan kamu, Mas. Aku sangat mencintaimu. Pasti mama dan papa akan memintamu untuk menceraikanku," ucap Calista dengan sangat lirih hingga pada akhirnya dia tertidur karena dokter menyuntikan obat bius.
.......................
Tepat jam 22.00 malam, Fadli pulang ke rumah, karena dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya merasa curiga.
Saat pria itu masuk, rumah sudah setengah gelap. Dan dia yakin jika kedua orang tuanya sudah tidur, namun saat melewati ruang tamu, tiba-tiba suara seseorang mengagetkan dirinya.
"Kenapa kamu pulang sendiri? Mana Calista?" tanya seseorang yang tak lain adalah Papa Zahid.
DEGH!
BERSAMBUNG.....
Happy reading ....
Fadli tidak tahu harus berbicara apa, dia seketika langsung memikirkan cara untuk menghindari pertanyaan dari Papahnya. Karena tidak mungkin jika pria itu mengatakan bahwa saat ini Calista sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan, apalagi harus diangkat rahimnya.
"Kenapa kamu diam saja? Di mana Calista?" tanya papa Zahid kembali yang belum mendapatkan jawaban sama sekali dari Fadli.
"Calista sedang healing. Tadi siang dia ke kantor aku untuk meminta izin, dan acaranya dadakan, jadi ya mau tidak mau Calista langsung berangkat."
"Apa! Liburan mendadak? Aneh banget. Biasanya juga nggak sampai mendadak seperti itu?" curiga Papa Zahid.
Dia merasa jawaban dari Fadli sedikit tidak masuk akal, karena biasanya jika Calista ingin liburan bersama teman-temannya atau pergi ke suatu tempat, pasti wanita itu akan siap-siap terlebih dahulu.
"Iya Pah, dia itu lupa bahwa kemarin udah janjian mau pergi. Mungkin karena kami terlalu sibuk sama program hamil, jadinya sampai Calista tidak ingat kalau dia ada janji sama temannya. Mungkin beberapa hari dia di luar kota. Ya sudah, kalau gitu aku naik dulu ke atas ya Pah, capek banget." Fadli pun meninggalkan sang papa.
Dia pergi untuk menghindari pertanyaan Papa Zahid yang akan semakin mendesaknya, karena Fadli tidak mau kedua orang tuanya tahu tentang keadaan Calista.
Sesampainya di kamar, pria itu langsung melepaskan semua pakaiannya masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah air dingin.
'Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Keadaan ini benar-benar membuatku bingung. Kalau Papa dan Mama sampai tahu keadaannya Calista yang sekarang, pasti mereka mendesak untuk menikah lagi atau meninggalkannya. Aku tidak ingin itu terjadi! Cintaku hanya untuk Calista, bagaimana ini Tuhan?' batin Fadli yang merasa frustasi.
..................
Saat ini Calista sudah pulang dari rumah sakit. Dia baru saja menuruni mobil dan masuk ke dalam rumah kedua mertuanya.
Fadli juga sudah menceritakan kepada Calista alasan tentang kepergian wanita itu, agar nanti saat Calista ditanya dia tidak ngelantur kemana-mana, karena itu bisa memicu kecurigaan dari kedua orang tuanya.
"Ya ampun, sayang! Kamu akhirnya pulang juga rumah ini sepi tahu, nggak ada kamu," ucap mama Kirana sambil memeluk tubuh Calista.
"Iya Mah, maaf ya, perginya nggak pamit sama mama. Mama baik kan?" jawab Calista sambil tersenyum manis.
"Alhamdulillah mama baik. Ya udah, gih kamu istirahat! Pasti capek banget kan." Mendengar itu Calista mengangguk, kemudian dia digandeng oleh Fadli menaiki tangga untuk menuju kamar.
Sesampainya di kamar, wanita itu langsung duduk di tepi ranjang sambil senderan. Tatapannya menerawang, kemudian ponselnya berbunyi dan itu adalah telepon dari sang adik.
"Sebentar ya Mas, aku angkat telepon dari adik aku dulu," ujar Calista dan balas anggukan oleh Fadli.
"Iya halo, assalamualaikum dek, kenapa?" tanya Calista saat telepon sudah tersambung.
"Waalaikumsalam Kak. Kak, kakak harus ke rumah sakit sekarang!" terdengar suara Jihan sangat panik di seberang telepon
"Hah? Rumah sakit? Memangnya kenapa, dek? Siapa yang sakit?" tanya Calista dengan alis bertaut heran.
"Ibu, kak. Dia kecelakaan."
"Apa! Ibu kecelakaan? Baik, baik, Kakak kesana sekarang!"
Fadli yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap ke arah sang istri yang sudah selesai menelpon dengan adiknya.
"Itu dari Jihan?" tanya Fadli sambil menggosok rambutnya dengan handuk.
"Iya Mas. Mas, kita harus ke RS sekarang!" pinta Calista dengan wajah paniknya.
"Hah! Ke RS? Ngapain sayang? Kamu sakit lagi?" cemas Fadli.
"Bukan, Mas. Tapi ibu, Mas ... ibu kecelakaan!" panik Jihan.
Fadli yang mendengar itu pun terkejut, kemudian mereka langsung pergi menuju rumah sakit dimana Jihan sudah mengirim alamatnya.
Sesampainya di sana, terlihat Jihan sedang menangis tersedu-sedu di kursi depan IGD. Calista pun langsung menghampiri sang adik.
"Bagaimana keadaan ibu? Dia gak apa-apa kan?" tanya Calista dengan wajah yang sudah di landa ke khawatiran.
Jihan menggelengkan kepalanya. Lalu dia memeluk tubuh Calista.
"Ibu, Kak. Dia ... dia koma," jawab Jihan.
"Apa! Koma?" kaget Calista, dan langsung di balas anggukan oleh Jihan.
Tubuh Calista lemas, dia duduk di kursi sambil memeluk tubuh adiknya. Walau ibu Kulsum bukan ibu kandungnya, namun Calista sangat menyayanginya, sebab ia sudah di rawat dan di besarkan hingga kuliah.
Setelah melewati masa kritis, ibu Kulsum di pindahkan ke ruang rawat inap. Di sana Jihan menunggu ibunya, sementara Calista pulang.
............
Sesampainya di rumah, Calista terduduk di ranjang sambil memikirkan tentang keadaan ibunya. Namun, seketika dia teringat dengan penawarannya pada Jihan beberapa hari yang lalu
"Mas, sebenarnya aku sudah ada cara supaya kita tidak bercerai dan supaya kita masih bisa bersama dan mempunyai anak," ucap Calista.
Sontak Fadli langsung menoleh ke arah istrinya dengan dahi mengkerut heran. Dia berpikir, bagaimana mungkin bisa mereka mempunyai anak sedangkan rahim Calista saja sudah diangkat?
"Apa itu, sayang? Tapi mana mungkin bisa? Kan rahim kamu sudah diangkat?" bingung Fadli sambil duduk di hadapan sang istri.
"Ada Mas. Caranya, kita menyewa rahim seseorang!" jawab Calista dengan antusias dan wajah yang berbinar.
Sementara Fadli terlihat begitu sangat shock saat mendengar ide gila dari sang istri. Dia menatap dengan mata membulat dan mulut sedikit menganga, karena Fadli sama sekali tidak terpikirkan dengan ide yang menurutnya sangat konyol.
"What! Menyewa rahim? Sayang, kamu ini jangan bercanda deh!" protes Fadli yang merasa tidak setuju.
"Emangnya Mas lihat muka aku sedang bercanda? Aku tuh serius, Mas."
Kemudian Calista menjelaskan pada suaminya, jika biaya kuliah Jihan serta biaya perawatan ibunya bisa jadi senjata agar Jihan tak bisa menolak.
Sementara Fadli terdiam, dia benar-benar tidak menyangka dengan ide gila sang istri, di mana Calista memberikan sebuah solusi namun baginya itu sangat konyol dan tidak masuk akal.
"Lalu ..." Fadli masih tidak mengerti dengan arah tujuan Calista.
Akan tetapi, Fadli juga takut nanti kedua orang tuanya mengetahui tentang rencana mereka, sudah pasti mama Kirana dan juga Papa Zahid akan sangat kecewa dan marah besar, dan tak akan memberikan hak waris kepada Fadli.
"Ya jangan sampai mereka tahu dong, Mas. Kita harus pintar memainkan peran. Memangnya kamu mau dipisahkan sama aku? Kalau aku sih nggak mau ya dimadu! Daripada kamu memadu aku, mendingan kamu meninggalkanku, Mas!" Calista merengut.
Melihat istrinya kesal, Fadli segera merengkuh wanita itu dalam dekapannya. "Sudahlah, kita pikirkan nanti ya. Aku juga harus memikirkan semuanya matang-matang. Ini semua membuatku sangat kaget, dan beri aku waktu!"
"Gak bisa. Pokoknya besok siang kita ke RS, buat bicara sama Jihan. Aku yakin kok, dia gak akan nolak. Sebab selama ini kita udah biayain kuliah dia plus ... kita juga biayain biaya rumah sakit ibu," terang Calista.
Fadli hanya diam saja, dia sejujurnya merasa ragu akan rencana sang istri. Namun, jika di pikir-pikir, tak ada jalan lain lagi.
...........
Di rumah sakit.
Calista dan Fadli baru saja sampai di ruang rawat inap bu Kulsum, dan saat ini Jihan baru selesai mengelap tubuh ibunya.
"Jihan, kakak mau bicara sama kamu!"
"Iya Kak, bicara saja," jawab Jihan tanpa menoleh.
"Bagaimana dengan tawaran kaka tempo hari?"
Mendengar hal itu Jihan seketika menatap ke arah sang kakak, namun tatapannya seperti sedang menguliti Calista. Di mana wanita itu tak habis pikir dengan jalan pikiran dari perempuan cantik yang berada di hadapannya saat ini.
Calista dengan sangat enteng dan gampangnya bertanya perihal masalah mereka beberapa waktu yang lalu, padahal saat ini Ibu mereka sedang terbaring, di rumah sakit.
"Kakak masih berani menanyakan hal seperti itu? Apakah kau tidak melihat sekarang kondisi Ibu seperti apa?" tanya Jihan yang sudah kesal.
"I know, tapi itu berbeda," jawab Calista. Kemudian dia menatap ke arah jendela lalu menghela nafasnya dengan kasar.
'Maaf Jihan, jika kakak harus melakukan ini,' batin Calista.
Kemudian dia kembali melihat ke arah Jihan dan juga ibunya, bergantian ke arah Fadli yang sedang duduk di sofa.
"Kamu tahu kan biaya untuk perawatan Ibu di rumah sakit ini tidak murah? Bahkan gajimu di cafe saja tidak akan cukup, ditambah kamu harus membayar kuliahmu." Calista berbicara dengan nada yang cuek. Jika kamu mau ibu tetap di rawat, kamu harus mau mengandung benih Mas Fadli!" tegas Calista.
Mulut Jihan menganga lebar saat mendengar ucapan Calista. Tidak ia sangka, jika kakaknya bisa se tega itu kepadanya dan juga sang ibu.
"Tega kakak melakukan itu padaku dan ibu?"
"Tega kamu bilang? Selama ini kuliah kamu kakak yang bayar. Lupa kamu? Jadi, jika kamu sayang sama ibu, kamu tak ada pilihan lain."
Jihan terdiam, dia menatap Calista dan Fadli bergantian. Lalu Jihan menatap ibunya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Sementara Fadli hanya menampilkan wajah datarnya saja, menatap Jihan tanpa rasa bersalah.
Calista benar. Jihan tak punya pilihan lain. Selama ini kuliah di bayar oleh Fadli, dan sekarang Jihan harus membayarnya.
"Baiklah, aku setuju. Tapi ... aku ada satu syarat."
"Apa itu?" tanya Calista.
"Aku mau Mas Fadli menikahiku! Sebab aku tidak mau berbuat zina!" tegas Jihan
BERSAMBUNG......
Setelah pekerjaannya selesai, Jihan pergi menuju rumah sakit. Namun tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, di mana Calista mengajaknya ketemuan di sebuah Cafe.
Wanita itu pun langsung melaju menaiki ojek online menuju cafe, di mana Calista dan juga Fadli sudah menunggunya. Dan dia sangat tahu jika pasti Calista akan setuju dengan ucapannya.
'Aku tahu mungkin aku seperti wanita rendahan yang menikah dengan kakak iparku sendiri. Tapi aku tidak mempunyai pilihan lain. Daripada Kak Calista mencabut semua dana untuk kesembuhan Ibu, lebih baik aku berkorban. Maafkan Jihan, Bu. Jihan harus melakukan ini demi kesehatan ibu.' batin Jihan sambil menatap jalanan yang ramai.
Sesampainya di cafe, wanita itu langsung masuk berjalan menuju meja, di mana Calista dan Fadli sudah duduk menunggu dirinya.
"Maaf jika aku lama," ucap Jihan sambil duduk di hadapan pasangan suami istri itu.
"Jihan, kami tidak ingin berbasa-basi. Mas Fadli sudah setuju akan menikahi kamu. Tapi ingat satu hal …" Calista menatap tajam ke arah Jihan, "Jangan pernah kamu berharap cinta darinya, karena cintanya Mas Fadli hanya untukku. Dan jangan pernah kamu menggodanya, semoga kamu memahami ini ya, Jihan.” Ucap Calista menegaskan kembali statusnya nanti.
Jihan hanya tersenyum, "Jangan khawatir. Aku tidak akan menggoda Mas Fadli dan aku juga tidak berharap cinta darinya. Sebab aku tahu dia sangat mencintaimu, Kak.” jawab Jihan dengan enteng, karena memang benar adanya, Mas Fadli begitu mencintai Calista, bahkan apa bila Calista meminta Mas Fadli untuk terjun dari atas Gedung pun, Jihan rasa Mas Fadli akan menurutinya.
“Kamu hanya perlu melahirkan satu orang anak, Jihan, setelah itu kamu bisa bebas pergi menjadi dirimu seniri.” Calista masih berusaha untuk membujuk Jihan.
Jihan hanya tersenyum getir, hatinya teriris saat mendengar kata alat. Dia mengganggukan kepalanya beberapa kali. "Baik, Kak, tapi aku mempunyai beberapa syarat."
"Apa itu?" tanya Calista dengan heran.
Kemudian Jihan mengeluarkan selembar kertas putih, di mana di sana terdapat beberapa syarat yang sudah ditulisnya, dan di bawahnya juga sudah ada materai penandatanganan Fadli dan Calista.
"Apa ini?" tanya Fadli.
"Itu syarat dari aku, kalian ingin anak bukan? Aku juga mempunyai beberapa keinginan, karena mencetak anak bukanlah hal yang mudah." jelas Jihan.
Kemudian Fadli meraih kertas putih tersebut dan dia membacanya bersama dengan sang istri. Di mana di sana ada beberapa poin yang sudah dituliskan oleh Jihan, diantaranya adalah harus membayarkan pengobatan Ibu Jihan sampai sembuh. Hanya itu syarat yang diberikan Jihan.
Setelah membaca syarat yang dituliskan oleh Jihan, kedua netra Calista menatap sendu ke arah sang adik. Sedangkan Jihan hanya diam sambil menundukkan wajahnya ke bawah.
Calista berpindah posisi tempat duduknya menjadi sebelah Jihan, “Baik, akan kami penuhi syaratmu ini, Jihan, tentu Kakak juga tidak akan abai dengan Ibumu yang sedang sakit, biar bagaimana pun, kamu adalah adikku, Jihan, walau kita berbeda darah, tapi aku tetap menyayangimu dan Ibumu.” Calista meraih tangan Jihan untuk digenggamnya.
“Terima kasih, Kak, satu hal lagi …” Jihan menggeser sedikit posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Calista, “Aku harap, Kakak dan Mas Fadli tetap menyayangi anak yang aku lahirkan nantinya seperti anak kalian sendiri.” Tak terasa satu tetes air mata jatuh ke tangan Jihan, saat ini pikirannya kacau, harus menikah dengan Kakak Iparnya dan juga memiliki anak, itu bukanlah sesuatu yang mudah.
“Saya dan Calista sudah lama sekali mendambakan seorang anak, tentunya kami akan menyayangi anak tersebut.” Fadli menimpali perkataan Jihan.
Calista masih berusaha menenangkan Jihan, “Tentu, Jihan, kami yang seharusnya berterima kasih karena kamu ingin membantu Kakak dan Mas Fadli.” Calista memeluk Jihan yang masih sesenggukan.
Jihan merasa jika dia sudah masuk ke dalam air, kenapa tidak basah kuyup sekalian? Dia berpikir seperti itu, jadi tidak ada salahnya jika dia meminta prioritas pertama. Karena Jihan sedikit dan banyaknya tahu, wanita hamil pasti ingin selalu dekat dengan suaminya.
'Jika bukan karena ibu, aku tidak ingin merendahkan harga diri ini di hadapan Kak Calista ataupun Mas Fadli. Maafkan Jihan, Bu. Jihan terpaksa demi kesehatan ibu, karena Kak Calista begitu kejam sampai dia mengorbankan kita berdua.' batin Jihan.