“Mas, aku sudah menemukan calon yang cocok untuk kamu!”
Shara menarik seorang wanita muda berumur dua puluh tahunan ke hadapan suaminya, Rio.
“Via?!” Jelas saja Rio terkejut karena wanita yang dibawa istrinya adalah Slavia, adik iparnya. “Kamu sudah gila, Ra?”
Shara menarik napas keras. “Aku sudah suruh Via buat periksa, Mas! Kandungannya sehat, dia bisa hamil anak kita!”
Rio memegang keningnya. Hanya karena ambisinya untuk memiliki momongan, Shara rela melakukan segala cara.
“Aku memahami keinginan kamu sebagai istri yang ingin menjadi seorang ibu, tapi bukan begini caranya.” Rio berkata penuh wibawa, meskipun ada otot berkedut di punggung tangannya. “Kamu suruh aku menikahi adik iparku sendiri, di mana pikiran kamu?”
“Aku tertekan, Mas! Teman-temanku sudah memiliki momongan semua, paling tidak satu! Aku malu kalau mereka kumpul bawa anak-anaknya!”
“Ya sudah, kalau begitu untuk sementara kamu menghindar saja dan tidak usah ikut nongkrong.”
“Nggak bisa begitu, aku ini ketua perkumpulan ... Tolonglah, Mas—lakukan ini demi aku!”
Sementara pasangan suami istri itu beradu pendapat, Slavia lebih memilih diam. Dia tidak ingin terjebak dalam persoalan rumah tangga kakaknya, tapi kenapa justru sang kakak sendirilah yang membawanya masuk ke ranah pribadi mereka?
“Dokter menyatakan kita berdua sehat, itu artinya kamu Cuma diminta bersabar untuk menunggu.” Rio mencoba memberikan pengertian. “Aku dan keluargaku tidak pernah menuntut soal anak, kenapa malah kamu sendiri yang membuatnya rumit?”
“Sabar sampai kapan, Mas?” sentak Shara dengan kedua bahu naik turun.
“Kamu suruh aku menikahi adik ipar aku sendiri, memangnya siapa yang menjamin kalau Via langsung bisa hamil?”
“Setidaknya kita coba dulu, Mas!”
“Dan kalau ternyata tidak berhasil, kamu mau membuang Via begitu saja? Di mana perasaan kamu?”
Demi apa pun Slavia ingin sekali menyingkir pergi dari hadapan mereka berdua supaya tidak harus mendengarkan perdebatan mereka lebih jauh lagi.
“Ya itu sudah risiko, Via juga sudah setuju—iya kan?”
Rio langsung menoleh ke arah Slavia yang menghindari tatapannya.
“Kan Kakak yang maksa, pakai ngancam-ngancam segala ....”
“Via!” tegur Shara disertai dengan pelototan.
Rio menarik napas. “Aku tetap tidak setuju, kasihan Via—dia juga memiliki masa depan, rencana kamu Cuma akan membuatnya terjebak masalah yang tidak seharusnya.”
“Terus kamu nggak kasihan sama aku, begitu?”
“Mau bagaimana lagi? Dokter sudah bilang kita tidak ada masalah apa pun soal kesuburan, Ra!”
Namun, Shara tidak peduli. Dia sudah merancang rencana cerdas untuk bisa mendapatkan buah hati impiannya dengan memanfaatkan kepolosan Slavia. Setelah keinginannya itu terwujud, dia akan memberikan kompensasi yang besar kepada Slavia untuk biaya hidup di tempat yang terpisah dari anaknya kelak.
Sementara itu, Slavia sangat lega karena Rio menolak ide Shara. Sejak awal, Shara yang selalu menekannya dan mengungkit jasa-jasa yang pernah dia lakukan untuk membantu Slavia meraih pendidikan yang layak sejak usaha toko orang tua mereka mengalami kemunduran.
“Ingat ya Vi, biaya sekolah dan kuliah kamu tuh nggak sedikit! Kamu pikir ongkos transpor dan jajan kamu itu dibayar pakai daun?” gerutu Shara saat itu.
“Aku tahu, Kak. Suatu saat nanti aku pasti akan balas semua kebaikan Kakak sama aku ....”
“Kamu bisa membalasnya sekarang dengan cara menikahi Mas Rio dan jadi istri keduanya untuk sementara.”
“Tapi Kak, itu nggak mungkin! Kak Rio kan kakak ipar aku, kenapa sih Kakak nggak memilih bayi tabung saja?”
“Pikir dong, Vi! Kamu pikir biaya untuk bayi tabung itu nggak mahal?” semprot Shara sambil berkacak pinggang. “Kalau kamu yang hamil kan aku bisa menekan biaya supaya nggak semahal bayi tabung.”
Slavia menghela napas.
“Pokoknya kamu harus mau melahirkan anak untuk aku, setelah lahiran kamu bisa pergi jauh dari sini dengan uang yang sangat besar!”
“Terus aku nggak boleh sama sekali bertemu sama anak aku?” tanya Slavia sambil menatap wajah ambisius kakaknya.
“Ya iyalah, bisa lengket bayi itu kalau dari awal sudah kenal sama ibu kandungnya. Makin susah pisahnya, tahu nggak?”
Slavia mengerjabkan matanya dan tidak menjawab.
“Kamu mau kan bantu kakakmu ini?” tanya Shara dengan intonasi suara yang jauh lebih rendah, seakan sedang memohon. “Aku sangat ingin punya anak, lima tahun pernikahan dan aku belum hamil sampai sekarang ... Sebagai perempuan, kamu pasti tahu gimana rasanya ....”
Melihat Shara memohon seperti itu, demi apa pun Slavia menjadi tidak tega.
“Aku ... cuma kalau Kak Rio bersedia,” kata Slavia akhirnya. “Apa pun alasannya aku nggak mau dianggap sebagai orang ketiga di dalam rumah tangga kakakku sendiri.”
Shara langsung menerbitkan senyum di bibirnya.
“Kamu tenang saja, biar aku yang menjelaskannya ke orang tua kita. Ini semua keinginan aku, jadi kamu sama sekali nggak bisa disalahkan.” Dia memeluk Slavia erat. “Percaya sama aku, Vi. Aku akan menyayangi anakmu seperti darah dagingku sendiri, aku janji.”
Slavia tidak berkata apa-apa, dia bimbang dan juga tertekan.
***
“Mas, kamu kok tega sama aku sih?”
Sore itu Rio baru saja tiba di rumah, dan langsung disambut dengan omelan Shara.
“Tega bagaimana?”
“Kenapa kamu nggak mau menikah sama Via?”
Rio menghentikan langkahnya, kemudian menatap Shara.
“Apa masih kurang jelas? Via itu adik ipar aku,” jawab Rio tegas.
“Tapi Mas, ini demi kebaikan kita bersama! Aku sudah susah payah membujuk Via biar mau menikah sama kamu, tapi kamu malah seperti ini ... Tolong kamu ngertiin aku, Mas.”
Rio membuang napas berat. Pulang kerja dalam kondisi capek, sampai rumah bukannya disambut dengan penuh cinta malah disambut masalah baru.
“Kita terapi saja, bagaimana? Meskipun aku juga nggak tahu apa yang harus diterapi, kata dokter kita ini sehat kok—atau kamu mau cari dokter lain buat second opinion?”
Shara menggeleng tegas. “Kelamaan, Mas. Aku yakin banget kok kalau Via bisa cepat hamil kalau menikah sama kamu ....”
“Sudahlah, aku capek.”
“Mas, aku belum selesai ngomong! Jangan pergi dulu, Mas!”
Rio tidak mendengarkan teriakan istrinya. Dia sudah hapal karakter Shara yang keras. Semakin ditentang, justru wanita itu akan semakin memaksa.
Apa dia pikir Rio juga tidak memiliki keinginan yang sama? Sebagai suami, tentu saja dia juga menginginkan keturunan sebagai pelengkap rumah tangganya.
Namun, apa harus dengan cara mengorbankan adik ipar sendiri?
Sejak pembicaraan sensitif itu, Slavia memilih untuk menyibukkan diri dengan mengelola toko kelontong milik ayah ibunya yang mau tidak mau harus mengalami kemerosotan akibat kalah bersaing dengan toko online yang menjamur.
Toko itu bukannya sepi atau tidak laku lagi, hanya saja omzet penjualan mengalami penurunan yang cukup besar.
“Apa aku cari kerja saja ya, Bu?” celetuk Slavia. “Biar kalau toko ini nggak bisa diharapkan lagi, aku punya pemasukan untuk bantu-bantu kebutuhan kita.”
“Ngapain kamu bingung-bingung, ada kakak kamu yang selama ini kasih uang bulanan yang lebih dari cukup.” Ibu menyahut sembari merapikan stok sabun cuci di etalase.
Bersambung—
Ibu menyahut sembari merapikan stok sabun cuci di etalase. “Tapi kalau kamu mau tetap kerja, minta kerjaan saja sama suami kakakmu. Dia kan punya usaha rumah makan juga ....”
Slavia tidak menjawab. Rencananya untuk menjauhi Shara bisa gagal kalau dia menampakkan diri lagi, sedangkan Slavia tidak ingin berurusan dengan masalah rumah tangga sang kakak.
Satu minggu berlalu dengan penuh kedamaian. Slavia nyaris bisa bernapas lega, karena Shara juga tidak menampakkan batang hidungnya untuk memaksakan kehendak yang mustahil itu.
“Vi, ayah sama ibu mau ke pusat grosir untuk beli barang-barang yang menipis. Lumayan biar toko kita tetap lengkap!” pamit ayah kepada Slavia yang sedang duduk santai di sofa.
“Hati-hati nyetirnya, Yah!” balas Slavia sambil tersenyum.
Dia bersyukur memiliki orang tua yang masih enerjik dan penuh semangat seperti ayah ibunya.
Selang lima belas menit setelah orang tuanya pergi, sebuah mobil putih bersih melambat di depan rumah dan pengemudinya turun buru-buru melintasi halaman.
“Permisi!”
Slavia yang masih asyik bermain ponsel, segera mengalihkan perhatiannya ketika mendengar suara salam.
“Kak Rio?” Slavia heran mendapati wajah kakak iparnya yang tampak gusar. “Cari siapa, Kak? Ayah sama ibu baru saja pergi ....”
“Aku cari kamu,” sela Rio dengan napas pendek-pendek dan tidak teratur.
“Cari aku? Memangnya ada apa, Kak?”
“Shara masuk rumah sakit, Vi.”
Slavia terbelalak, pantas saja beberapa hari ini Shara tidak datang berkunjung ke rumah.
“Memangnya sakit apa dia, Kak?”
Rio terlihat murung, lantas dia bercerita bagaimana Shara berusaha menyakiti diri sendiri karena keinginannya tidak kunjung dipenuhi ....
Malam itu mereka baru saja berdebat lagi, dan Shara kesal bukan main dengan keputusan Rio yang ngotot tidak ingin menikahi adik iparnya.
“Nggak sedikit pun kamu ngerti perasaan aku, Mas! Kalau orang-orang tahu aku nggak kunjung hamil, mereka pasti mikir kalau aku yang bermasalah! Kamu sih enak, nggak akan ada orang yang menghujat pihak suami!”
“Kamu saja yang berlebihan, buat apa sih memikirkan pendapat orang? Pasti kamu kebanyakan main sosial media, jadi suka baca komentar-komentar negatif ....”
“Mas, aku mohon nikahlah ... Setelah Via hamil dan melahirkan, kalian bisa berpisah dan kita yang akan membesarkan bayinya sama-sama.”
“Tidak, Ra.”
“Mas ini kenapa sih egois sekali?”
“Aku egois itu justru untuk menjaga perasaan kamu, Ra! Mana ada sih istri normal yang mau diduakan? Sama adik sendiri pula, aneh kamu.”
Shara cemberut, wajahnya menyiratkan rasa keputusasaan yang teramat sangat.
“Seumur hidup aku, sekali saja ... aku mau menimang bayi ...” rintihnya dengan suara parau. “Aku sudah ke dokter lain, dan sel telur aku ternyata kecil-kecil dan sulit dibuahi ... Bisa-bisanya dokter lain bilang aku sehat, kamu lihat kan, Mas?”
Rio terdiam.
“Jalan satu-satunya adalah dengan kamu menikahi Via!” bujuk Shara dengan nada memaksa. “Ayolah Mas, bahagiakan aku ... Aku kepingin punya bayi, daripada cari ibu pengganti lain kan lebih baik sama adik aku saja.”
Rio mengusap wajahnya dengan kalut. Dia tidak bisa, selain karena dia mencintai Shara, Slavia adalah adik iparnya.
“Aku tidak mau membuat keluarga besar kita salah paham,” tolak Rio logis. “Ide ini adalah ide paling gila, Ra. Aku tidak bisa menikahi Via apa pun alasannya.”
Shara memejamkan matanya, adu gengsi antar sesama teman wanita membuatnya lupa diri dan ingin menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan momongan.
Alih-alih bayi tabung yang membutuhkan waktu yang lama dan uang yang tidak sedikit, Shara lebih memilih cara sederhana dengan meminta adiknya untuk menikah dengan sang suami.
Nantinya setelah bayi itu lahir, Shara akan minta Slavia untuk menyerahkannya dan pergi sejauh mungkin dari kehidupan mereka.
Namun, kenapa Rio sulit sekali untuk diajak bekerja sama?
“Baiklah Mas, kalau kamu nggak ingin aku bahagia ...” Shara mengusap air matanya, kemudian dia pergi meninggalkan Rio yang hanya terduduk lesu di sofa.
Pikiran Rio begitu semrawut, dulu Shara tidak seperti ini. Semua berawal dari satu tahun lalu, sejak Shara sering ikut kumpul bersama teman-teman gengnya.
Rio tidak melarang Shara berkumpul dengan teman-temannya selama tidak melakukan hal-hal yang negatif. Namun, sikap Shara perlahan berubah seiring dengan banyaknya pertanyaan yang ditujukan kepada dirinya.
“Kapan hamil?”
“Ini lho anakku sudah dua!”
“Betah banget sih kamu nunda momongan?”
Dari ceritanya saja, Rio bisa membayangkan seperti apa karakter teman-teman Shara.
Prang!
Mendadak terdengar suara benda yang jatuh ke lantai dengan keras. Rio langsung berdiri tegak dari duduknya dan berlari ke arah sumber suara.
“Shara!”
“Jangan mendekat, Mas!”
Rio menghentikan langkah, perlahan tubuhnya membeku saat mendapati Shara yang sudah menggenggam pisau.
“Kamu mau apa dengan pisau itu, Ra?” tanya Rio baik-baik. “Jangan bertindak bodoh seperti ini, dengarkan aku—tidak ada yang mendesak kamu untuk cepat-cepat punya anak, termasuk aku ....”
“Lima tahun, Mas! Lima tahun kita nunggu!”
Rio mengangkat tangannya dan Shara langsung menempelkan pisau itu di atas nadinya.
“Kamu bukan satu-satunya saja, Ra! Lihat di luaran sana, masih banyak yang menunggu sampai belasan tahun lamanya ... Kalau kita memang ditakdirkan untuk punya anak, kita pasti akan punya anak!”
“Kalau takdirnya aku nggak bisa punya anak gimana, Mas?”
“Tidak masalah, yang penting aku bisa selamanya hidup bersama kamu.”
Jawaban sungguh-sungguh dari Rio ternyata tidak cukup kuat untuk meyakinkan Shara bahwa anak tidak hanya menjadi satu-satunya prioritas mereka.
“Kamu nggak ngerti perasaan aku, Mas! Karena bukan kamu yang ditanya-tanya! Tapi aku? Selalu aku yang dianggap bermasalah karena nikah sudah lima tahun dan tidak hamil-hamil!” jerit Shara histeris.
“Ra, tolong ... Jangan seperti ini. Habis ini kita terapi saja ya, kita berusaha dulu dengan cara ini.”
“Aku maunya kamu nikah sama adik aku!”
“Itu tidak mungkin, apa kata orang-orang nanti kalau aku nikah lagi? Sama adik ipar pula, berikutnya aku yang akan dihujat masyarakat!”
“Lihat kan, kamu cuma memikirkan perasaan kamu sendiri!” Shara meringis dengan hati yang sakit. “Aku benci sama kamu, Mas! Cuma satu permintaan, tapi kamu nggak mau mengabulkannya demi masa depan kita! Aku benciiiii!”
Cratt!
“Shara!” Rio berteriak dan berlari mendekati Shara yang tangannya sudah berlumuran cairan merah beraroma anyir ....
“Astaga, jadi Kak Shara mencoba bunuh diri?”
Rio mengangguk setelah mengakhiri ceritanya.
“Karena itulah aku datang ke sini untuk minta bantuan kamu.”
“Memangnya aku bisa bantu apa, Kak?”
“Menikahlah sama aku, Vi ....”
“Apa?!”
“Sesuai keinginan Shara, dia mengancam akan coba bunuh diri lagi kalau aku tidak mau menikahi kamu.” Rio menjelaskan dengan berat hati.
“Tapi ... adik ipar menikahi kakak iparnya, apakah mungkin?”
Rio mengangkat bahu. Dia sudah berjuang keras untuk menyadarkan Shara supaya tidak melanjutkan ide gilanya itu, tetapi rupanya sama sekali tidak berhasil.
Slavia jadi kebingungan setengah mati, padahal satu minggu ini dia hampir saja bisa merasakan yang namanya hidup tenang. Slavia berpikir bahwa Shara akhirnya membatalkan ide yang tidak masuk akal itu, tapi ternyata ....
Bersambung—
Ketika ayah dan ibu akhirnya kembali, Rio memberanikan diri untuk menceritakan keinginan Shara dan juga perbuatannya yang nyaris menghilangkan nyawa dirinya sendiri.
“Apa, menikah?!”
Ibu memandang bingung Slavia saat Rio memberitahukan soal keinginan Shara yang harus mereka lakukan karena keinginannya menimang anak.
Saat itu hanya ada ayah dan ibu Slavia saja, sementara asisten rumah tangga sedang keluar rumah.
“Betul, Bu. Aku ... sebenarnya aku juga tidak setuju dengan ide Shara,” sahut Rio dengan berat hati.
“Tapi Rio, Via ini adalah adiknya Shara yang berarti dia adik ipar kamu.” Ibu mencoba mencari celah. “Bagaimana mungkin Shara memilih ide seperti itu ... Apa tidak ada cara lain yang bisa kalian lakukan selain menjadikan Via sebagai istri kedua?”
“Masalahnya Shara memaksa, Bu. Dia bahkan rela melukai pergelangan tangannya sendiri karena aku menolak untuk menikahi Via,” jelas Rio putus asa.
Slavia mulai merasa simpati dengan apa yang dialami Rio sebagai suami, dia tahu bahwa kakak iparnya itu adalah orang yang setia.
“Rio, saya ingin bertemu Shara. Siapa tahu saya bisa membujuk dia untuk program bayi tabung saja,” kata ayah.
“Ibu setuju, Shara mungkin sedang dalam keadaan tertekan.”
Rio mengangguk setuju. Bersama-sama mereka berempat pergi menuju rumah sakit tempat Shara dirawat karena perbuatannya melukai diri sendiri.
“Aku tetap mau Via yang hamil, Yah ...” Shara mengungkapkan keinginannya dengan terbata-bata. “Aku nggak mau bayi tabung, terlalu lama ... aku mau anak itu dilahirkan oleh seseorang yang aku kenal dekat, dia adalah Via ....”
Ayah dan ibu saling pandang.
“Shara, jangan seperti ini.” Rio menegur.
“Aku nggak mau bicara sama kamu,” sahut Shara murung. “Kamu nggak pernah tahu perasaan aku, Mas.”
“Shara,” tegur ibu. “Tidak akan ada pernikahan antara Rio dan Via, kami tidak pernah memaksa kamu untuk segera hamil. Jadi kamu jangan merasa tertekan seperti ini.”
Shara yang sejak awal mencetuskan ide ini, hanya melempar pandangan dinginnya kepada Slavia, tapi itu lebih dari cukup untuk membuat Slavia merasa sedang dihakimi.
“Aku nggak peduli, Bu ... Yang jelas aku mau cepat-cepat menggendong bayi!” seru Shara histeris. “Kenapa sih nggak ada yang mau mengerti aku?”
Slavia menarik napas.
“Apa nggak ada ide selain menikah?” katanya heran. “Masa aku harus jadi istri kedua kakak ipar? Kenapa kamu nggak adopsi anak saja, Kak?”
“Aku nggak minta pendapat kamu! Aku ingin dalam dua minggu ini mereka segera diresmikan.”
“Apa? Dua minggu?” seru Rio kaget. “Yang benar saja—Bu, Ayah, ini gimana?”
Astaga, batin Slavia sambil memegang keningnya.
“Makin cepat makin baik,” kata Shara dengan wajah puas. “Turuti permintaan aku atau aku tidak akan mau minum obat sama sekali, silakan kalian pilih.”
“Shara, jangan seperti ini. Keinginan kamu itu mustahil untuk dilakukan, Rio tidak mungkin menikahi Via.”
Shara menundukkan wajahnya.
“Maaf Bu, tapi itu artinya kalian tidak memberikan aku pilihan,” ujar Shara lirih. “Aku mau pulang saja, aku tidak perlu dirawat ...”
Dengan gerakan cepat, Shara melepas infusnya hingga darah memercik ke seprai.
“Shara! Apa yang kamu lakukan?” Ibu menggeleng-gelengkan kepala. “Kok bisa-bisanya kamu ... Ini bagaimana ... Rio, panggilkan suster!”
Rio mengangguk pasrah. Mau bagaimana lagi, Shara sudah sangat sulit untuk dikendalikan lagi.
“Aku nggak mau diperiksa! Biar aku kehilangan banyak darah!” Shara masih menjerit-jerit. “Aku cuma mau Mas Rio menikah sama Via! Setelah dia hamil, mereka boleh bercerai dan aku yang akan merawat anaknya!”
Karena Shara terus histeris dan sulit untuk dibujuk secara baik-baik, akhirnya Rio menyerah dan setuju untuk mengabulkan keinginannya.
“Oke, aku akan menikahi Via sesuai keinginan kamu.”
Slavia membelalakkan matanya. “Kakak serius?”
“Terpaksa, Vi!” tegas Rio. “Kamu lihat sendiri situasinya seperti apa.”
“Kamu serius, Mas?” tanya Shara dengan wajah memelas. “Kamu bersedia menikahi Via demi mewujudkan keinginan aku menggendong bayi?”
Mau tak mau, Rio mengangguk.
“Sekarang aku mohon sama kamu untuk nurut sama dokter,” ujar Rio lambat-lambat. “Aku mau kamu cepat sembuh ...”
“... tentu saja! Aku harus pulih untuk mempersiapkan acara pernikahan kamu!” Shara mendadak bersemangat. “Via akan jadi istri kamu untuk sementara. Jadi aku harus bantu dia mempersiapkan diri juga ... Acaranya sederhana saja dan sebaiknya dilakukan secara tertutup ...”
Ayah dan papa ibu saling pandang, begitu juga dengan Slavia dan juga Rio.
“Boleh kami rundingan dulu, Kak?” tanya Slavia keberatan.
“Silakan.” Shara mengangguk.
Kedua orang tua mereka mendekat ke arah Slavia, sementara Rio tetap di kursinya dengan pasrah.
“Vi, kamu harus nikah sama kakak ipar kamu. Mau, ya?” bisik ibu. “Rio juga setuju, kok. Paling tidak, Shara jadi mau dirawat sampai sembuh.”
“Bu, Kak Rio itu kakak ipar aku...” ujar Slavia berat hati. “Aku belum sanggup jadi istri orang, belum nanti kalau aku betulan hamil, aku takut melahirkan ....”
“Mikirmu kejauhan, Vi,” tukas ayah. “Yang penting masalah Shara selesai dulu. Soal pernikahan kamu dan Rio, ini cuma sementara. Setelah kamu hamil dan melahirkan, kalian bisa bercerai tanpa ada yang tahu.”
“Aku belum siap menikah, Yah ...”
“Cuma sementara saja, nantinya juga kamu akan bercerai dari Rio,” tukas ayah lagi. “Kamu nurut saja, ya? Nikah dulu sama Rio biar masalah kakak kamu cepat berlalu.”
Bener-bener bencana, batin Slavia nelangsa.
Dia harus bersusah-payah menahan tangis di samping Rio sementara ayah dan ibu merundingkan hari dan tanggal pernikahan mereka bersama Shara.
Rio tidak tahu harus menghibur dengan cara apa supaya bisa meredam air mata Slavia yang mulai membanjir. Otaknya terus berpikir bagaimana caranya dia bisa keluar dari situasi sulit seperti pernikahan kedua.
“Sudah, kamu tidak perlu menangis. Pernikahan kita cuma sementara waktu saja,” kata Rio akhirnya.
“Kakak kok tenang-tenang saja, sih?” sahut Slavia sambil mengusap matanya. “Kakak senang ya sama rencana pernikahan ini?”
Rio menarik napas.
“Apa kamu tidak bisa membedakan mana ekspresi senang sama sedih?” komentarnya. “Kalau aku senang, pasti sudah dari awal aku menyetujui ide kakak kamu.”
“Terus gimana, aku kan belum siap menikah ...”
“Sama, kamu pikir aku juga siap punya dua istri?” tukas Rio. “Kamu tidak perlu khawatir, sekali lagi ini cuma sementara saja—daripada Shara mencoba menyakiti dirinya lagi ....”
“Ya sudah, apa boleh buat.” Slavia mengusap matanya yang sembab.
Hari pernikahan tiba, hanya dalam hitungan menit saja Slavia akan mengukir sebuah sejarah baru dalam hidupnya. Sekaligus mengubah status dirinya yang semula masih lajang menjadi seorang pengantin atas dasar paksaan kakaknya sendiri.
Shara memasuki kamar Slavia untuk menjemputnya turun ke bawah.
“Vi, petugasnya sudah datang. Kamu sudah siap kan?” tanya Shara sambil mendekati adiknya yang sedang merapikan baju kebaya.
“Sudah, Kak. Tinggal mempersiapkan mental saja yang rasanya nggak pernah siap,” jawab Slavia mengandung sindiran.
“Kamu tenang saja, asal kamu cepat hamil maka kamu akan semakin cepat terbebas dari pernikahan ini.” Shara berkomentar santai.
Bersambung—