“Ingat ya, kita hanya menikah sampai warisan kakekku jatuh ke tanganku! Setelah itu, kita sudahi pernikahan ini, dan kamu jangan pernah muncul di hadapanku!” tegas Daza, suami Lavendra yang baru saja diresmikan kurang dari 2 jam yang lalu.
Tatapan melekik tajam tersebut benar-benar membuat Lavendra tidak senang. Meski dirinya tahu kalau pernikahan ini adalah permintaan terakhir dari kakek Daza, supaya warisan tersebut bisa diserahkan kepada Daza. Rasanya menyedihkan sekali. Impian untuk menikah dengan bahagia hanya angan-angan saja saat ini.
Dirinya tidak menjawab, dan itu membuat Daza merasa geram. Dia segera menarik dagu Lavendra dan membuatnya menatap mata Daza yang sangat menyeramkan itu.
“Jawab! Dan aku tegaskan padamu, jangan pernah sedikit pun menyentuhku! Karena aku tidak akan sudi sama sekali!” tegasnya.
Langsung dihempaskannya wajah Lavendra tersebut. Termenung dirinya saat tahu bahwa ini semua hanya lah sandiwara belaka. Padahal, keluarga Daza cukup menyukai dirinya, dan juga membuat dirinya yakin bahwa Daza mungkin bisa menerimanya kedepannya.
“Aku anggap iya,” ucap Daza.
Pria tersebut beranjak dari tempatnya, dan menuju ke pintu masuk. Lavendra mendengar ada suara bel rumah yang ditekan dari luar. Dirinya melirik ke arah sana. Siapa yang datang bahkan di saat seharusnya sekarang adalah malam pertama mereka sebagai pengantin?
Begitu pintu dibuka, muncul seorang wanita dengan perawakan cukup seksi dan juga sangat cantik sekali. Dilihat dari penampilan saja, Lavedra sudah kalah jauh sekali. Wanita itu masuk dengan senyum lebar, langsung memeluk dan mengecup pipi Daza.
“Sayang…., apa kabar?” sapanya.
Deg. Apa? Sayang? Lavendra tidak salah dengar? Ia segera menaikkan kepala dan melihat ke arah wanita tersebut. Dua orang tersebut juga melihat ke arahnya. Wanita itu justru kelihatan senang Lavendra melihat mereka. Dia, sekali lagi mengecup wajah sang pria yang kini suaminya.
Gemetar tangan Lavendra saat melihatnya. Ia sama sekali tidak tahu kalau ternyata Daza sudah memiliki pacar. Bahkan keluarga Daza sendiri mengatakan bahwa Daza itu single dari lama, makanya Lavendra mau menerimanya! Bagaimana ini…, dirinya benar-benar gemetar.
Wanita itu mendekat ke arah Lavendra. Dia menatap dirinya dengan sangat angkuh sembari memberikan senyuman kemenangan.
“Dengar ya, jangan kamu anggap dirimu di sini sebagai seorang istri! Kamu dinikahi hanya karena syarat dari kakek Daza. Jangan berani-berani kamu menyetuh, apalagi sampai tidur dengannya. Aku bisa membunuhmu kalau kamu berani melakukannya,” peringat wanita tersebut.
Entah kenapa, rasanya gemetar mendengar ucapan barusan. Lavendra sadar, mereka pasti benar-benar mengincar warisan yang bernilai cukup besar tersebut, sampai-sampai si wanita ini rela Daza menikah dengan dirinya. Harga diri Lavendra hancur.
“Oh, satu lagi, aku Lora. Aku akan menggantikanmu, setelah nantinya warisan itu jatuh di tangan Daza,” sambungnya.
Wanita yang bernama Lora tersebut segera berbalik badan dan menghampiri Daza. Mereka keluar, menghilang dari balik pintu tersebut. Rasanya angan-angan bahwa dirinya akan menjadi satu-satunya wanita yang berharga sudah hilang sekejap mata.
Akal sehat Lavendra tidak bisa menerimanya. Rasanya masih seperti mimpi yang tidak seharusnya datang di hari ini. kenyataan ini menampar akal sehatnya. Runtuh sudah.
Lavendra bersimpuh tak bisa menahan kakinya. Ia menangis tersedu, dadanya terasa sesak dan juga pandangannya terasa hancur. Bahkan. Lavendra berteriak sekencang yang ia bisa di dalam rumah milik Daza ini. Ia benar-benar hancur.
“Kenapa!! Kenapa aku harus mendapatkan semua ini! Aku tidak pernah berbuat salah ya Tuhan!! Cobaan macam apa yang kamu berikan kepadaku yang sudah menurut kepadamu selama ini!” teriak Lavendra.
Apa dirinya jahat selama ini? Apa dirinya kurang berbagi? Apa dirinya kurang berbakti? Lalu kenapa Tuhan seolah tutup mata sehingga memberikannya pernikahan yang jauh dari kata bahagia? Rasanya…, Lavendra seperti menjadi istri simpanan.
Malam tersebut terasa kalbu. Lavendra hanya bisa menangis di atas sofa sambil beberapa kali menyesali keputusannya menerima Daza. Pria yang datang dengan tulus kepada orang tuanya, kini malah menjadi pisau bermata dua bagi dirinya. Dia bukan pelindung, melainkan penghancur.
‘Bagaimana kalau ayah dan ibu tahu anaknya hanya dipermainkan seperti ini? padahal mereka sangat bahagia saat melepaskanku untuk menikah,’ batin dari Lavendra.
Hingga ia tidak sadar, sampai tertidur di atas sofa dengan mata sembab dan juga baju yang belum ia ganti. Ia terlalu sakit hati untuk menggerakkan tubuhnya menuju kamar atau pun untuk sekedar mandi sekali pun. Dunianya sudah tidak sama lagi.
Esok harinya, dengan wajah yang masih sembab, Lavendra mendnegar suara pintu bel rumah yang berbunyi. Segera dirinya bangun dan menuju ke arah pintu. Berkali-kali bel berbunyi, membuat Lavendra terburu-buru dan secara tak sengaja langsung membuka pintu.
Betapa terkejut dirinya, saat di depan matanya, Lavendra melihat papa Daza juga dengan sang kakek Daza! Wajahnya yang masih kucel belum sempat ke kamar mandi ini dilihat oleh mertuanya yang datang mengunjunginya.
“Lavendra…, dimana Daza?” tanya papa.
“Anu.., anu.., itu pa…,” gugup dan juga bingung Lavendra. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjawab apa yang ditanyakan oleh sang papa mertua.
Helaan napas masih terdengar sangat ringan sekali dari sang kakek. Dia masuk, lalu mengajak Lavendra sambil memegang pundak Lavendra. Tentu saja dirinya bingung. Mereka menuju ke ruang tamu. Rasanya mau menyiapkan sedikit minuman saja Lavendra tidak bisa sama sekali saat ini.
“Daza pergi bersama wanita lagi?” tanya kakek.
Terkejut dirinya mendengar apa yang dikatakan oleh kakek. Bola matanya sudah bergetar. Pikirannya sudah campur aduk. Jangan-jangan…, mereka juga tahu? Tapi walau mereka tahu, kenapa mereka tetap menikahkan dirinya dengan Daza?
Meski sebenarnya Lavendra bisa saja berbohong demi menjaga martabat suaminya, Lavendra merasa itu tidak perlu sama sekali. Karena tampaknya, mereka sendiri sudah tahu kalau Daza memiliki wanita lain. Jadi, Lavendra menganggukkan kepalanya.
Kekecewaan oleh dua pria paruh baya terlihat jelas di wajahnya. Namun, kakek dibumbui dengan kemarahan yang sangat kuat sekali. Sekarang, dia benar-benar kelihatan seperti orang yang tidak biasa.
“Anak itu…, bisa-bisanya dia setuju menikah dan malah masih berhubungan dengan wanita murahan itu! Andai tahu begini, kakek pasti tidak akan membiarkan kamu menikah dengan Daza!” tegas sang kakek.
Hati Lavendra yang sempat terasa sakit dan hancur mendadak terasa sangat ringan sekali. Ada seseorang yang seolah berada di pihaknya untuk saat ini. penyesalan ini sudah terlalu besar sekali untuk bisa dikembalikan. Suasana jadi hening kembali karena hal itu.
Kakek melihat ke arah Lavendra, tatapannya yang meyakinkan hendak memberitahukan sesuatu kepada dirinya. Lavendra yang setelah mendengar kalimat tersebut merasa kaget, juga sebenarnya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran kakek sampai bisa mengatakan hal itu kepada dirinya.
“Lavendra, besok, kamu datang ke perusahaan. Bekerjalah di sana. Kakek ingin lihat, seberapa gigih dia mau warisan itu.”
Lavendra tidak bisa menyetujui begitu saja apa yang dikatakan oleh sang kakek. Memang apa untungnya dirinya masuk ke sana? Malahan, yang ada Lavendra mungkin akan dibuat makin tidak nyaman dengan perilaku dari Daza yang tidak senang dirinya berada di sekitarnya.
Lavendra dengan segera menggelengkan kepala, tidak bisa menyetujui apa yang dikatakan olehnya, “Maaf kek, tapi, aku tidak mau mengacaukan perusahaan hanya karena itu.”
Kakek seolah tidak menerima penolakan dari Lavendra yang sudah berusaha secara halus berkata kepadanya. Dia malah benar-benar tidak senang kalau apa yang barusan dikatakan olehnya itu terungkap begitu saja. Lavendra makin takut mengangkat kepalanya.
“Ini perintah! Kalau kamu mengacau, tidak apa, kakek tidak akan menyalahkanmu. Kakek yang akan bertanggungjawab atas semua yang terjadi oleh kamu dan padamu nantinya!” tegasnya.
Benar-benar tertekan. Lavendra hanya bisa memegang tangannya sendiri untuk bisa lebih kuat menghadapi ini semua. Mau tidak mau, Lavendra menerima perintah dari kakek meski sebenarnya dirinya ini merasa tidak enak hati harus menerimanya.
Kakek dan papa pulang, setelah mereka berunding tanpa mengajak Lavendra. Mereka dengan kesepakatan berdua saja, memilih memasang cctv di bagian ruang tamu, dapur serta meja makan, dan juga daerah lantai 2 yang memperlihatkan seluruh lantai 1.
Lavendra secara tidak langsung merasa tidak nyaman dengan semua kamera yang terpasang. Langkahnya terasa diawasi dan juga seperti dibuat tidak mampu berkutik kemana pun. Papa memberikan pesan singkat kepadanya, yang membuat Lavendra tidak tahu harus bertindak seperti apa.
“Buat dia jatuh hati padamu, atau buat dia tidak bisa mendapatkan warisan ini. pilihannya ada di tanganmu, Nak,” kalimat tersebut seolah terngiang di kepalanya. Ia tidak tahu kenapa bisa sampai papa mertuanya berkata demikian.
Lavendra membersihkan dirinya dengan segera, dan juga berdanda secantik mungkin. Rasanya, setelah bertemu dengan mertuanya, Lavendra seperti mendapatkan kekuatan untuk melawan Daza. Ada orang yang melindungi dirinya dibalik ini semua, jadi, harusnya Lavendra bisa lebih kuat.
Dari arah bawah, terdengar pintu dibuka. Lavendra keluar dari kamar, dan mendapati sang suami baru saja pulang. Ia hanya datang seorang diri, tanpa adanya wanita kemarin. Dari raut wajahnya, entah kenapa Daza sepertinya sangat senang sekali.
Segeralah Lavendra turun menuju lantai satu untuk menyambut sang suami. Mencoba bertindak seolah tidak ada apa-apa, membuat Lavendra tidak takut sedikit pun. Ekspresi Daza seketika berubah ketika melihat Lavendra turun dari tangga.
“Apa lagi maumu?” tanyanya dengan ketus.
“Tentu saja menyambut suamiku. Kemana kamu semalam? Kenapa baru pulang sekarang?” tanya Lavendra.
Sambil membuang muka merasa kesal mendengar semua pertanyaan tersebut, Daza membalas dengan ketus, “Bukan urusanmu. Lagipula, hubungan kita juga tidak akan bertahan lama,” ucap dari Daza.
Padahal Lavendra sudah mencoba menguatkan diri, hanya saja, ia masih merasa sakit tiap kali Daza berkata dengan makna tersirat bahwa pernikahan ini bukan pernikahan yang dia inginkan. Tapi, Lavendra mencoba untuk tidak menangis langsung. Ia menahan dirinya.
“Tapi, untuk sekarang kita ini suami istri. Apa salahnya aku menyambut suamiku sendiri?” celetuk dari Lavendra.
Tapi, entah kenapa, Daza langsung melayangkan tamparan ke wajah dari Lavendra. PLAKKKH. Dengan sangat keras dan juga terasa kebas. Lavendra kaget menerima tamparan mendadak tersebut. Ia jadi makin merasa takut.
“Tutup mulut sampahmu itu! Berani kamu berkata bahwa aku suamimu, aku tidak akan segan membuat kamu tersiksa di sini!”
Tutup mulut seketika Lavendra pada saat itu. Ia tidak tahu kalau Daza bisa melakukan kekerasan fisik kepadanya juga. Bahkan tidak diduga sama sekali. Rasanya Lavendra mau menghilang saja setelah menerima tamparan barusan di pipinya itu.
Daza beranjak pergi meninggalkannya. Naik ke lantai 2 menuju ke kamarnya. Sementara itu, Lavendra masih tertunduk merasa takut. Tak disangka bahwa Daza adalah orang dengan sikap sekasar ini. benar-benar tidak ia duga sama sekali.
“KENAPA KAMU MASUK KAMARKU!!” teriak Daza.
Sontak Lavendra langsung membalikkan badan, dan matanya tertuju pada sebuah pintu yang menunjukkan kamar yang sempat ia masuki. Dari dalam sana, terlempar tas, baju, serta seluruh make up miliknya dengan sangat cepat. Terburu-buru Lavendra langsung menuju ke kamar tersebut. Ia merasa makin deg-degan sekali.
Baru saja sampai di lantai 2, ia melihat Daza dengan wajah yang dingin menatap kepada dirinya. Berjalan menuju ke arahnya, Daza bahkan dengan tega menginjak seluruh barang milik Lavendra yang ada di lantai. Berhenti tepat di depan Lavendra, tangannya menarik dagu Lavendra.
“Aku tak bilang kamu boleh masuk ke kamarku. Bahkan berani-beraninya kamu menaruh semuah barangmu? Pindah ke bawah! Di bawah tangga sana ada kamar. Tidur di sana! Siapa kamu berani tidur satu kamar denganku!” perintahnya sambil menepiskan wajah Lavendra.
BrAKHH. Daza membanting dengan keras pintu kamarnya sendiri. Benar-benar pilu sekali nasib Lavendra yang baru saja menikah ini. Lavendra hanya bisa bungkam. Segera ia memungut sedikit demi sedikit barangnya, dan membawanya ke tempat yang dikatakan oleh Daza.
Bukan kamar yang dilihat oleh dirinya ini. Melainkan sebuah gudang kecil yang kebetulan ada kasur di dalamnya. Tidak banyak protes dirinya. Lavendra tetap meletakkan semua barangnya di sana. Ia juga masih sempat membersihkan semuanya supaya dirinya bisa tidur dengan nyaman nantinya.
Hari mulai sore, Lavendra menghentikan aktivitasnya. Ia keluar dari sana, hendak memasak untuk makan malam. Tapi, saat ia keluar, Lavendra sudah mendapati bahwa ada Daza, juga dengan Lora yang sedang duduk merangkul di ruang tamu sambil menonton tv. Membeku mendadak tubuhnya saat melihat pemandangan tersebut.
Dua orang tersebut sedang tertawa kecil sambil menunjuk ke arah layar lebar yang sedang menyala. Namun, Lora yang sempat melirik, menyadari keberadaannya yang muncul. Dengan segera ia mengecup bibir Daza, seolah menunjukkan kepada dirinya bahwa Daza adalah miliknya.
‘Tahan…, tahan Lavendra, bersikaplah sewajarnya,’ batinnya.
Ia pasang senyum dengan lebar, dan berusaha mengabaikan jantungnya yang berdegup kencang, “Aku mau buat makan malam, kalian mau dibuatkan sekalian?” tawar Lavendra.
Mereka berdua menoleh melihat ke arah dari Lavendra dengan wajah yang dingin dan juga sangat kosong sekali. Sesekali mereka berdua bertukar pandang, lalu kembali melihat ke arah Lavendra dengan wajah yang masih tanpa ekspresi.
“Awas kalau tidak enak. Akan kulempar kamu keluar!” gertak dari Daza.
“Hahaha, enak ya, jadi ada babu di rumah ini,” sambung dari Lora.
Lavendra hanya bisa mengelus dada mendengar apa yang dikatakan dua orang tersebut. Sabar.., pernikahan ini bahkan belum lewat seminggu, tidak lucu kalau sampai pernikahan ini berakhir begitu saja. Lavendra mencoba menghargai kakek yang membujuknya dengan sangag baik.
Akhirnya dirinya memasak. Setelah selesai, ia memanggil dua orang itu dan mengajaknya makan. Mereka seolah sengaja duduk lebih jauh di meja makan dari tempat Lavendra duduk. Dimakannya masakan dari Lavendra tersebut.
“Cuih!!” Belum apa-apa, Lora sudah melepehkan makanan tersebut ke lantai, “Gila ya?! Ini mah bukan makanan! Ini sampah!” pekik dari Lora. Dia kemudian menoleh ke arah Daza, “Kamu jan-“
Tampak Daza sudah duluan melahap masakan dari Lavendra. Dua wanita tersebut tampak terdiam. Daza belum memperlihatkan reaksi seperti Lora yang sudah duluan marah-marah seperti tadi.
“Mmmm, enak kok,” ucap Daza.
Mendengar ucapan dari Daza, sontak membuat Lora terbakar api cemburu. Ia benar-benar tidak terima bahwa baru saja Daza memuji masakan milik Lavendra dengan suara yang tidak tinggi seperti sebelum-sebelumnya. Lora dengan cepat mencoba menepiskan piring berisi makanan yang ada di depan Daza.
GRABBB. Tangan Lora langsung ditahan oleh Daza, sebelum sempat memegang piringnya tersebut. Lavendra tidak tahu harus memberikan respon seperti apa lagi. Jadi dia hanya diam dan menonton, sembari sedikit demi sedikit memakan makanan yang telah ia buat.
Lora melihat ke arah dari Daza dengan wajah yang pastinya kaget sekali, “Apa yan-“
“Berani kamu mengusik makananku, kamu yang aku lempar keluar!” gertak Daza.
Lora langsung ciut di kala tersebut. Dia langsung duduk kalem dan tidak berani berbicara apa-apa. Dia benar-benar kalah dan tentunya sudah tidak bisa menang lagi. Lavendra yang tidak tahan melihat kejadian barusan, tanpa sengaja hampir menertawakannya.
“Pffftt,” tawanya nyaris keluar.
Sadar akan dirinya yang hendak tertawa, Lora langsung melihat ke arahnya dengan wajah yang cukup sinis dan juga pandangan yang tentu saja tidak senang. Tangannya yang tengah memegang garpu tersebut dikepalkan dengan sangat kuat sekali.
Karena makin kesal, Lora memilih meninggalkan meja makan. Bukan, bukan ke salah satu ruangan lagi perginya wanita tersebut, melainkan keluar dari dalam rumah sana. Dia pasti sangat tidak terima akan ucapan Daza yang bisa terbilang cukup kasar.
Sangat disayangkan. Tapi Lavendra berusaha abai. Dirinya melihat ke arah sang suami, dia sedang makan dengan tenang. Sepertinya tidak ada yang salah dengan masakannya. Lalu kenapa orang itu malah mengatakan makanan Lavendra seperti sampah?
“Lain kali, buatkan aku sarapan,” celetuk dari Daza.
“Ha? Apa?” bingung Lavendra.
Daza yang sudah selesai makan, melihat ke arah dari Lavendra. Amarahnya yang dari kemarin mendadak saja terlihat redup. Dan sekarag dia bisa berbicara dengan halus kepada dirinya ini.
“Buatkan aku sarapan atau makan malam untuk lain waktu. Ternyata masakanmu tidak buruk juga,” sahut Daza.
Ishh, katakan saja kalau makanan Lavendra itu rasanya enak, apa susahnya? Apa dia terlalu gengsi untuk mengatakan hal tersebut kepada dirinya ini, ha?
Tidak dijawab dengan suara oleh Lavendra, namun ia menganggukkan kepala. Daza segera pergi meninggalkannya. Sementara Lavendra segera membereskan meja makan dan sisa perabot yang telah dirinya gunakan. Baru dirinya mandi, dan kembali mengurung diri di kamarnya yang kecil.
Saat itu, Lavendra mencoba memikirkan kembali kata-kata dari para mertuanya yang sempat berkunjung. Sepertinya, tidak ada salahnya mencoba membuat Daza jatuh hati kepadanya, kan? Dilihat dari gaya bicaranya tadi, sebenarnya Daza orangnya cukup baik, bahkan dia bisa menghargai. Apa jangan-jangan, Daza seperti itu karena wanita itu, ya?
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Segera Lavendra melihatnya. Nomor tidak dikenal. Namun, isi pesannya sudah langsung menjelaskan siapa pengirim dari pesan tersebut.
(Besok langsung saja datang ke perusahaan StarryB. Tunjukkan foto ini pada orang yang di depan nantinya.) Bunyi pesan tersebut, dibarengi dengan adanya sebuah foto dari kartu nama beserta tanda tangan dan juga pesannya.
Huhh, sepertinya dirinya benar-benar harus bekerja esok. Tapi, mau bagaimana pun, Lavendra sudah memutuskan. Ia akan mencoba membuat Daza jatuh hati kepadanya! Dia sudah terlanjur menikah dengan Daza, jadi, setidaknya Lavendra ingin membuat Daza menjadi orang yang lebih baik.
***
Huhhh, Lavendra sudah berdiri di depan perusahaan tersebut. Dia membawa sebuah kotak kecil, beserta dengan perlengkapan kantor yang dirinya miliki. Untung saja dirinya dulu pernah bekerja begini, kalau tidak, mungkin dirinya akan percuma masuk ke sana.
Dia menunjukkan foto tersebut, dan langsung di arahkan ke ruang kerjanya tersebut. Ia diberitahukan dimana tempat duduknya, dan juga sudah diberitahukan apa saja nantinya pekerjaan yang pantas dia lakukan di sana.
“Halo…, kamu karyawan baru, ya?” sapa orang yang ada di sampingnya.
Diberikannya senyum yang tulus dan juga dirinya memberikan tatapan yang ramah kepada orang tersebut. “Halo juga. Iya, namaku Lavendra,” jawab dirinya.
“Aku Rosa. Kalau butuh apa-apa, nanti beritahu aku, ya?” ucapnya.
Lavendra menganggukkan kepala. Dan benar saja, dirinya belum apa-apa sudah mendapatkan pekerjaan yang bukan terbilang normal lagi untuk karyawan baru. Tapi, untungnya dirinya bisa mengerjakan.
Pintu lift terbuka, Lavendra yang tidak menoleh ke sana, tidak tahu siapa yang barusan datang. Nyatanya, ternyata yang datang adalah Daza. Dirinya yang tidak sadar, tak tahu kalau ternyata Daza kaget melihat dirinya tengah duduk di dalam kumpulan karyawan yang bekerja.
Namun, anehnya dirinya tidak dipanggil sama sekali. Lavendra baru tahu ketika Rosa memanggilnya.
“Hei, gila, belum apa-apa, sepertinya bos sudah menandaimu,” ucap dari Rosa.
Lavendra menoleh melihat ke arah dari Rosa, “Oh, begitu ya? Bagus lah, mungkin kinerjaku di hari pertama bagus, kan?” jawabnya sambil cengengesan.
Tapi, entah kenapa setelah itu malah Lavendra dipanggil oleh manajer. Katanya dipanggil bos? Wah, ada masalah apa sampai dirinya dipanggil. Tapi, berhubung jam makan siang sudah datang, Lavendra sekalian menggandeng tas makannya tersebut sambil berjalan menuju ke ruangan bos.
Tidak ada rasa takut sama sekali, karena Lavendra tidak merasa melakukan kesalahan, dan juga tidak ada hal berat yang dirinya lakukan. Jadi, untuk apa merasa takut, kan? Lavendra justru merasa sangat dan amat berani untuk saat ini. dia masuk ke ruangan dari bosnya.
Baru saja masuk, Lavendra melihat Daza duduk di sana. Ternyata bos yang tadi berkunjung adalah Daza. Tidak mengapa, lagipula dirinya tidak mengacau, jadi tidak ada masalah seharusnya, kan? Lavendra mendekat sambil membawa kotak bekal yang sudah dirinya buat.
“Hai, aku bawa bekal, mau minta?” Lavendra secara tidak langsung menawarkan makanan dengan tidak sopan.
Daza meliriknya dengan tatapan yang sangat tajam sekali. Dia melihat Lavendra seolah dirinya ini adalah ulat yang tidak layak ada di sana pastinya. Dirinya ini tidak bergeming sama sekali. Memang apa salah dirinya kan?
“Ka-“
“Ssshhhtt. Sudah jam makan siang, sebaiknya kita makan. Mau?” ajak dari Lavendra yang menyela. Ia segera menuju ke kursi sofa yang ada di ruangan Daza. Dikeluarkannya semua makanan yang ia bawa ke atas meja, “har ini aku membuat ayam pop saos bbq,” ujar dari Lavendra.
Tampak penasaran, Daza datang mendekat meski wajahnya masih masam dan sangat tidak senang sama sekali. Namun, ketika dia melihat makanan yang dibawa oleh Lavendra, wajahnya berbeda daripada sebelumnya. Karena merasa penasaran, akhirnya Daza ikut duduk.
Meski tahu bahwa suaminya ini masih tidak senang dengan keberadaannya, Lavendra langsung menyiapkan piring kecil yang ia bawa. Diberikannya setiap potong ayam pop kepada Daza. Awalnya memang tatapan sang suami seperti ogah-ogahan memakan makanan Lavendra. Namun, karena baunya yang cukup kuat dan pastinya sangat enak, Daza mulai mencoba.
Di suapan pertama saja sudah kelihatan jelas, kalau dia langsung terbelalak merasakan bagaimana makanan yang dimasak oleh Lavendra. Bahkan, tanpa pikir panjang sekali pun, Daza mengambil nasi yang sudah dirinya bawa. Lavendra merasa senang, dia pun ikut makan.
Tetapi, di tengah ke tentraman dimana mereka sedang makan tersebut, mendadak saja hawa di sekitar mereka terasa tidak nyaman. Dan, beberapa saat kemudian, pintu terbuka, dan datangnya seseorang dengan wajah sumringah.
“Sayang…., aku belikan ayam untukmu…,” seru dari wanita bernama Lora, dengan wajah bahagia.