Bab 1

Seorang wanita muda yang hanya memakai daster pendek tanpa lengan, kini tengah duduk memandang bulan yang sedang mengintip malu-malu dari balik awan malam. Udara dingin begitu terasa menusuk di setiap inci kulitnya, apalagi saat ini pakaiannya begitu terbuka. Namun tidak membuatnya beranjak dari kursi plastik di depan kamar kosnya.

Rokok yang baru saja dua isapan ia nikmati, kini ia lemparkan ke jalanan sepi. Tidak! semenjak mengetahui dirinya hamil tanpa tahu siapa lelaki yang menanam benih di rahimnya. Ia sudah memutuskan untuk tidak merokok. Meskipun ia tidak bisa dengan mudah keluar dari kehidupan malam, namun untuk merokok rasanya sudah tidak bisa lagi. Lidahnya terasa pahit jika menyesap rokok, bahkan bagai mati rasa.

Bintang-bintang bertaburan seperti membentuk lambang huruf 'L'. Wanita itu mendongak menikmati gugusan bintang yang begitu indah. Menghiasi malam yang tampak benderang dengan sinar malu rembulan.

"Kamu menjadi tabungan Ibu di akhirat ya, Nak. Tunggu ibu di sana," ujarnya lirih. Air matanya meluncur bebas membasahi kedua pipinya. Ia terisak, namun tetap mencoba mengusap air mata yang tidak kunjung berhenti.

"Vio ... kamu nangis?" tanya seorang lelaki kemayu yang merupakan teman kos Viona.

"Bukan, gue lagi mancing!" ketus Viona sambil melotot ke arah Yudi.

"Ha ha ha ... " Yudi terbahak mendengar sahutan Viona.

"Jangan marah dong, Jeng. Gue kan cuma berjanda," ujar Yudi sambil terkekeh kemudian berlalu dari hadapan Viona. Lelaki kemayu itu memilih masuk ke dalam kamarnya yang hanya berjarak dua ratus meter dari kamar kos Viona.

"Dasar belok! Ngajak berjanda tidak lihat sikon," gerutu Viona kesal sambil masuk ke dalam kamarnya.

Rasa sepi saat masuk ke dalam kamar, membuatnya menyalakan televisi. Memencet remot mencari acara yang kiranya bisa menghibur kesedihan dan kesepian dirinya. Lagi-lagi hanya acara membosankan yang ditampilkan di sana.

"Bosen banget! pengen udahan aja deh cutinya," gumam Viona sambil mengambil ponsel dari atas nakas. Ia memencet kontak seseorang.

[Hallo Kojek,ini gue Viona"]

[Hai Viona. Sudah lama nih,apa kabar lo?]

[Gue udah sehat kok. Mmmm... besok gue udah mulai kerja lagi bolehkan, Jek?]

[Yakin lo udah bisa mulai?]

[Iyaa, udah lama gue libur nih, udah kehabisan duit, tapi gue di bar yaakk? ga pake ngelayanin tamu. Pliss]

[Apalagi kakek-kakek.]

[Hahahaha...emang kenapa kalau kakek?]

[Cape gue banguninnya, lama!]

[Ha ha ha ...]

[Okelah, besok lu di bar aja. Gue tunggu]

[Maaciihh Jeek, bye]

****

Selama setahun Viona bekerja sebagai wanita penghibur di bar Kojek, temannya. Namun, kesalahan terjadi sehingga Viona hamil, dia tidak menggugurkan kandungannya dia bertahan sampai kandungannya berusia 7 bulan.

Suatu hari, Viona terpeleset di kamar mandi sehingga ia kehilangan bayinya. Hatinya sangat sedih dan jiwanya cukup terguncang, karena dia sangat mencintai bayinya. Meskipun ia tidak pernah tahu, pelanggan mana yang sudah menanamkan benih di rahimnya.

Hari ini, tepat tiga minggu setelah ia kehilangan bayinya, masih dalam keadaan berduka. Namun dia harus tetap bekerja demi kelangsungan hidupnya dan ibu serta adiknya di kampung.

"Ros, itu tetek lu masih keluar asi ya?" tanya Daren temen kosnya Viona. (oh ya nama asli Viona adalah Rosmala namun panggilan di club, Viona). Daren baru tiba dari minimarket dan langsung menuju kamar Viona.

"Ah ... Iya nih, aku heran masih ada aja ASI-nya. Coba bayiku ada, pasti dia sangat senang karena asiku banyak," jawab Viona sedih.

"Sudahlah Ros, itu yang terbaik untuk lu dan dia. Oh iya, apakah lu sempat memotretnya sebelum dimakamkan waktu itu?" tanya Daren sambil menatap wajah Ros dengan serius.

"Oh iya ada," jawab Ros antusias sambil membuka galeri ponselnya. Wajahnya berbinar saat memperhatikan foto buah hatinya. "Ini, putriku cantik sekali." Viona menunjukkan foto bayinya dengan mata tertutup sebelum memakai kain kafan.

"Naakk, sedang apa? Ibu rindu," isak Viona sambil mengelus ponselnya.

"Ya ampun Ros, lucu banget ya. Lu yang sabar yaa." Daren memeluk Ros sambil berusaha menenangkannya.

"Ini yang terbaik buat kalian berdua, kasian juga dia kalau lahir dan tahu pekerjaan ibunya melayani lelaki hidung belang. Anggap aja tabungan lu di akhirat," ujar Daren lagi, menguatkan sahabatnya.

"Lu ngomong tumben bener, Ren! ha ha ha..."

"Ba****k lu, Ros!" keduanya terbahak.

****

Di lain tempat, Riswan sudah tiga hari tidak masuk kantor sejak bayinya di rawat di sebuah rumah sakit. Bayi itu baru berumur sebulan dan sangat ringkih, ibunya meninggal saat melahirkan Melati anaknya.

"Dok, apakah hari ini bayi saya sudah bisa pulang?" tanya Riswan khawatir.

"Kondisi bayi bapak sudah stabil, insya allah hari ini boleh pulang. Oh iya, untuk keperluan ASI, Bapak bisa mengonfirmasi ke bank ASI ya, Pak, kontaknya sudah saya kasih," jelas Dokter Fatma.

"Baik Dok, terimakasih banyak," ucap Riswan sambil tersenyum kecil.

"Pak Riswan semoga Bapak dan bayi Bapak bisa melewati ini semua, yang kuat ya Pak," ujar Dokter Fatma menguatkan. Ia iba pada bayi Melati yang kehilangan ibunya saat berjuang melahirkannya.

Bayi Melati sangat sensitif terutama dalam pemberian asi. Melati tidak bisa minum sufor, kulitnya kemerahan dan ia menangis seharian jika diberikan sufor. Apapun itu merknya tetap tidak cocok. Sehingga Riswan sering bolak balik ke bank asi untuk mendapatkan asi bagi Melati.

Riswan berjanji pada almarhumah istrinya akan menjaga anak mereka dan memberikan yang terbaik bagi Melati.

"Ooeekk..ooeekk..." bayi Melati menangis kembali sesaat setelah tiba di rumah. Bik Momo pembantu di rumah Riswan yang berusia hampir paruh baya itu segera menggendong Melati penuh sayang.

"Cup..cup..sayang, haus ya, Nak?" tanya Bik Momo menenangkan.

"Pak, stok ASI di kulkas sudah mau habis, Pak. Sebaiknya bapak segera ke bank ASI hari ini."

"Ya allah iya, Bik. Saya hampir lupa, tapi saya ada meeting jam dua ini. Semoga keburu deh, Bik. Saya titip Melati ya, saya langsung ke kantor," ucap Riswan bergegas tak lupa mencium Melati dengan lembut.

****

Jam menunjukkan pukul lima sore, Rosmala atau biasa dipanggil Viona bersiap-siap hendak berangkat ke club. Dirinya sudah berdandan yang rapi, cantik, dan juga seksi.

Iya mengambil empat kantong asi yang sudah ia tampung sedari malam. Seperti biasa, ia akan membawanya ke bank asi. Memberikan asinya dengan penuh suka cita kepada bayi-bayi yang membutuhkan.

"Hallo, iya Jek gua mau ke situ sekarang, gua ada keperluan sebentar jadi mampir dulu ke tempat teman," ucap Viona terburu-buru keluar dari bank asi sambil menelpon Kojek.

Brraaakk

Ponsel Viona jatuh.

"Aduuhh!" Viona terpekik kaget sambil meringis.

"Maaf Mbak, maaf. Saya tidak sengaja, saya terburu-buru, apa Mbak terluka?" tanya Riswan panik.

"Tak apa, its oke, saya juga tidak hati-hati. Permisi saya duluan,"  kata Rosmala sambil mengambil ponselnya yang jatuh seraya merapikan rambutnya. Tanpa menoleh lagi pada Riswan, kakinya melangkah menuju parkiran. Riswan memperhatikan kepergian Viona, wanita yang berpakaian sedikit menerawang itu. Riswan hanya bisa menggelengkan kepala.

****

"Ris, bagaimana kabar Melati?" tanya suara lembut di ujung telepon sana. Saat Riswan sedang menggendong Melati, mencoba menidurkannya malam itu.

"Alhamdulillah baik, Bu," jawab Riswan masih sambil menimang Melati.

"Ibu dan Papa sehat?" tanya Riswan kepada ibunya.

"Sehat, cuma ya Bapak belum bisa ditinggal, Ris. Maaf ya, Nak. Ibu belum sempat ke sana lagi," ucapnya lirih.

"Iya Bu, tidak apa-apa. Ada Bik Momo yang membantu Riswan," balas Riswan menenangkan ibunya.

"Ris, apakah kamu tidak mencari istri saja untuk menjadi ibu Melati?" tanya ibu Riswan dengan suara ragu.

"Ya ampun Ibu, tanah kuburan Nisa saja masih basah Bu, kenapa bicara seperti ini?" lirih Riswan sedih mengingat istrinya.

"Mmmm...ibu'kan hanya bertanya, maaf yaa, sudah dulu bapakmu manggil tuh," balas ibu Riswan kemudian menutup teleponnya.

****

Beeenggg...beeenng...

Alunan musik club sangat nyaring terdengar, membuat jantung ikut berdenyut. Viona yang sedang menjadi bartender malam ini. Sedari tadi berusaha tersenyum ramah kepada pelanggan club serta melayaninya dengan baik. Tidak semua orang-orang yang ada di dalamnya adalah orang jahat.

Ada yang sekedar nongkrong dengan teman-teman menikmati malam. Ada juga yang "jajan". Club Ferrari kepunyaan Kojek cukup besar dan lengkap. Di club Kojek tidak hanya menyediakan minuman keras tetapi juga kopi dan jus. Ruang khusus untuk ngopi juga terpisah dari club party.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tamu sudah banyak berdatangan, karena kebetulan sekali ini malam sabtu.

Kojek menghampiri Vio yang tengah sibuk menata di rak gelas.

"Vio, itu!" tunjuk Kojek kaget ke dada Vio.

Mata Viona turun melihat ke dadanya, benar saja asinya keluar lagi.

"Ya, namanya juga ibu menyusui, Jek. Pasti keluar ASI, masa iya keluar lahar panas," sahut Viona sambil terkekeh.

****

Jangan lupa follow akun saya ya.

Bab 2

Rosmala atau biasa dipanggil Viona pamit ke kamar mandi.

"Sorry Jek, gua ke belakang dulu y," katanya sambil berpura-pura menutup dadanya yang basah oleh asi dengan tissu.

Kojek mengganguk sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah teman semasa putih abu-abunya itu.

****

Di lain tempat di sebuah minimalis seorang bayi masih dengan sedihnya menangis kencang, "oeekk...ooeekk..," bayi Melati menangis kencang hingga wajahnya memerah. Riswan dengan sigap bangun dari tidurnya begitu juga dengan Bik Momo.

"Ya Allah nak, kenapa?" tanya Riswan kebingungan sambil mengangkat bayi Melati dari boxnya.

Bik Momo dengan sigap menghangatkan asi yang disimpan di freezer lalu memberikannya kepada Riswan. Tidak lama berselang, bayi Melati pun tertidur pulas di pangkuan ayahnya.

"Bik, tidur aja deh biar saya yang menjaga Melati," kata Riswan

"Bener Pak, ga papa?" tanya Bik Momo ragu.

"Iya saya ga papa, Melati juga sudah tidur," jawab Riswan sambil memperhatikan wajah Melati yang sangat mirip dengan ibunya.

Mata Riswan kembali berkaca-kaca. Lintasan kisah semasa almarhum istrinya masih ada, mengisi ruang kosong pikirannya. Ah, betapa ia merindukan Annisa, almarhum istrinya. Sambil meletakkan Melati berbaring terlungkup di dadanya. Riswan pun ikut memejamkan mata. Mencoba menikmati takdir yang sudah Allah gariskan padanya.

****

Sabtu pagi, Bik Momo asik memandikan bayi Melati di dalam bak mandi bayi bewarna merah muda. Sedangkan Riswan tengah menikmati nasi goreng dan secangkir teh hangat ditemani gadgetnya.

Trriiing...trriing...

Suara panggilan dari ponsel Riswan berbunyi. Lelaki itu menyipitkan kedua matanya untuk melihat siapakah yang sudah meneleponnya pagi-pagi seperti ini.

Cello

"Hallo bro, wahh pa kabar nih? tumben kontak gue."

"Sehat dong gue, makanya gue telpon lu."

"Nanti malam ngopi yuk, di club Ferrari yang waktu itu."

"Wah, sorry bro bayi gue ga bisa ditinggal."

"Ah payah lo! sebentar doang, kita bukan ke area party kok, kita ngopi-ngopi aja di coffeshopnya"

"Gak bakalan dah, gue sodorin lu ke ciwi-ciwi seksi di sana. Hehehehe..."

Riswan diam sejenak, "Hhmm... sepertinya aku memang perlu refreshing sedikit ngumpul sama teman," bisik Riswan dalam hati.

"Oke deh tapi ga lama ya bro, bayi gua masih suka nangis tengah malam."

"Iyaa gua janji dah jam 12 udah selesai. "

Hari sabtu seperti ini Riswan main dengan bayi Melati, karena waktu bangunnya lebih banyak di malam hari dari pada siang hari. Bayi Melati sering tidur di siang sampai sore hari, bahkan sampai magrib tiba.

****

"Yaahh...lumayan deh tiga kantong," gumam Viona sambil merapikan kancing kemejanya. Asi yang sudah ia tampung, ia masukkan ke dalam plastik hitam. Lalu mengambil tas selempang berukuran sedang miliknya, memasukkan kantong tersebut ke dalamnya.

Seperti biasa, sebelum sampai di Ferrari, Viona menyempatkan mengantar asinya ke Bank asi. Viona sangat senang karena bisa sedikit memberi manfaat bagi orang lain. Membayangkan asinya diminum bayi orang lain saja dia sudah sangat senang. Paling tidak, jika ia saat ini kotor, tetapi masih bisa melakukan hal baik untuk orang lain. Senyum sumringah Viona terbit begitu keluar dari bank asi. Kembali ia masuk ke dalam taksi untuk membawanya ke klub Ferrari.

"Vio!" panggil Kojek setengah berteriak dari depan pintu masuk. Karena masih sore, keadaan klub jadi masih sepi. Hanya satu dua orang saja yang menikmati minuman di dalamnya.

"Iya, ada apa?" sahut Vio tanpa menoleh. Ia masih asik mengelap gelas-gelas bir lalu menyimpannya kembali ke etalase.

"Selama Daren cuti ke kampung, lo aja yang gantiin dia di coffeshop ya?" pinta Kojek yang sudah duduk di depan Viona.

"Seriuus nih, beneran boleh?" tanya Viona kegirangan dengan wajah berbinar. Sudah lama sebenarnya ia ingin berada di balik kasir coffeshop. Akhirnya kesampaian.

"Kapan?" tanya Viona tak sabar. Bahkan tangannya menggoyangkan tubuh Kojek tak sabar.

"Ntar, lebaran haji. Iya sekarang dong Rosmalaaa..."

"Hihihihi..." Viona terkekeh.

"Iyaa, udah cepat sana coffeshop lagi rame," ujar Kojek sambil berlalu.

Viona masuk ke coffeshop langsung berdiri di bagian kasir. Dia sangat senang berada di sini karena suasananya beda dari club party. Di sini suasana lebih rileks. Ada suara gemericik air kolam ikan di samping mini bar, dengan alunan musik slow.

"Ahh..benar-benar nyaman," gumam Viona sambil menikmati pemandangan para tamu yang sedang asik berbincang.

Riswan dan Cello masuk ke dalam coffeshop, lalu memesan beberapa minuman. Mereka banyak bertukar cerita. Terutama Riswan yang menceritakan kegundahan mengurus anak semata wayangnya semenjak istrinya meninggal.

"Saran gue sih kenapa ga lo kawin lagi aja bro," kata Cello.

"Ah payah lu, kayak ibu gue juga, nyuruh kawin mulu," Riswan bersungut kesal.

"Ya, dari pada lu pusing sendiri. Selain lu ibadah,  anak lu juga ada yang ngurusin. Nah, lu sendiri kan enak, malam-malam ada yang dipeluk, " seloroh Cello sambil berkedip ke arah Riswan.

Mereka tertawa lepas sambil terus ngobrol. Tanpa menyadari bahwa dari arah kasir,  Viona kini tengah memperhatikan Cello dan juga Riswan.

"Lelaki baik-baik mah keliatan dari senyumnya juga, bagai melihat surga. Nah, kalau lelaki bre****k senyumnya aja bagaikan pintu neraka yang baru saja terbuka. Hihihihi..." Viona terus saja bergumam sambil menahan senyum.

Tanpa terasa air susu Viona kembali merembes pada kemeja ketat yang Viona kenakan. Dan di saat bersamaan pula, Riswan hendak menanyakan bill minuman mereka.

Mata Riswan dan Viona bertemu. Viona tersenyum ramah.

"Meja berapa Om?" tanya Viona masih memperlihatkan senyum manisnya pada Riswan. Sedangkan lelaki iti kini sudah menunduk malu.

"Eh...anu..., itu meja sebelas," jawab Riswan sedikit gugup. Apalagi pemandanhan dada basah di sana membuat kepala Riswan sedikit berkunang-kunang. Lelaki itu seperti pernah melihat Viona sebelumnya. Tapi di mana?

"Seratus ribu rupiah, pas," kata Viona memberitahu jumlah tagihan yang harus dibayar Riswan.

Saat  mengambil uang seratus ribuan dari dalam dompetnya. Mata Riswan kembali  menatap dada Vio yang basah, baik kanan dan kirinya,  Riswan pura-pura membuang pandangan lalu menunduk kembali sambil menelan salivanya. Wajahnya pun kini merah tak berani melihat.

Sadar akan mata lelaki di depannya uang salah tingkah karena kemeja coklatnya yang basah di bagian dada, spontan Viona nyengir kuda ke arah Riswan.

"Hayo...matanya lihat apa, Om? "Viona menggoda Riswan.

"Saya sedang menyusui, Om. Makanya basah dadanya," terang Vioa sambil nyengir kuda. Sedangkan Riswan sudah salah tingkah sendiri.

"Ohh, iyaa Mbak. Maaf saya lancang," ucap Riswan sambil memberikam senyum tipisnya.

"Its oke, terimakasih sudah mampir di coffe shop kami, ditunggu kedatangan selanjutnya," ucap Viona ramah sambil meyerahkan struk pembayaran kepada Riswan.

"Ahh..., iya sama-sama," sahut Riswan sambil berlalu, namun baru tiga langkah dia berbalik ke arah Viona lagi.

"Kita pernah ketemu di Bank asi'kan?" selidik Riswan sambil memperhatikan wanita di depannya ini.

"Mmmhh saya tak yakin, mungkin om salah orang," jawab Viona yang ikut memperhatikan Riswan dengan tegas.

"Ohh gitu yaa, maaf deh kalau gitu, terimakasih," ucap Riswan sambil keluar dari coffe shop. Kakinya melangkah menuju parkiran, di mana Cello sudah menunggu di dalam mobilnya.

Dalam perjalanan pulang, Riswan menceritakan perihal Viona yang tadi dia temui kepada Cello. Dia sangat yakin Viona wanita yang sama dengan yang ia temui saat di bank asi.

"Sebentar kita cari info, gue kenal baik sama Kojek yang punya Ferrari. Gue telpon dia sekarang," ucap Cello antusias

"Hallo bro, Cello nih." 

"Mau tanya kasir lu yang namanya Viona bisa dibooking ngobrol ga?"

"Kalau ngobrol mah bisa bro, kalau buat nginep ga bisa sorry. Baru lahiran dia, tetapi bayinya meninngal. So...jadi dia tidak bisa melayani zomblo akut kayak lo hahahaha..."

"Hahahaha...jujur bener lu, Jek. Ya udah gue tunggu kabar lo yaa, temen gue butuh temen ngobrol doang sih, sukur-sukur dilamar jadi istri."

"Gimana?" tanya Riswan tak sabar.

"Dia rupanya baru lahiran bro, cuma bayinya meninggal itu sih kata Kojek," terang Cello.

"Oh...pantesan asinya keluar terus, karena tidak ada bayinya ya," gumam Riswan dengan polosnya.

"Bisa jadi," sahut Cello.

"Trus maksud lo, lo mau jadi bayinya gitu? Hahahaha..."

Bbuuggh!

Riswan meninju lengan Cello yang sudah asal bicara.

"Aaau... sakit, Ris." sebelah tangan Cello memegang kemudi, sebelahnya lagi mengusap pundaknya yang sakit.

"Belom apa-apa udah dapat rezeki nomplok nih," colek Cello, menggoda Riswan yang kini memutar bola mata malasnya.

"Siapa yang suruh pesen dia buat nemenin gua ngobrol?" tanya Riswan sedikit kesal.

"Lha, gue inisiatiflah,"  jawab Cello polos sambil nyengir.

"Kali aja dia mau jadi ibu susu buat bayi lu, ngobrol-ngobrollah dikit. Jadi dia kerja sama lo, tapi buat nyusui anak lo. Bukan nyusuin lo," ucap Cello kembali menggoda Riswan.

Sepanjang perjalanan pulang, Riswan banyak terdiam memikirkan perkataan Cello, hingga tidak terasa sampailah mereka di halaman depan rumah Riswan.

Oek..oeekk..

Suara bayi Melati menangis dengan kencang. Sampai terdengar ke depan. Bergegas Riswan  turun dari mobil Cello sambil mengucapkan terimakasih.

"Bro...!" teriak Cello, sebelum Riswan masuk ke dalam pagar rumahnya. Riswan berbalik memperhatikan Cello. "Ada apa?"

"Udah gue kirim nomor kontak Viona ya," ucap Cello sambil mengedipkan sebelah matanya pada Riswan.

****

Bab 3

Lama Riswan memandangi nomor ponsel Viona yang baru saja dikirimkan oleh Cello. Maju mundur jarinya untuk menekan nomor tersebut .

"Tak ada salahnya mencoba, toh aku bukan menikahinya, hanya meminta bantuan dan aku pun memberikan imbalan. Mudah-mudahan wanita seperti Viona mau menolong. Ya... kalau tidak mau, berarti belum rezeki Melati," gumam Riswan dalam hati.

Riswan memberanikan diri menghubungi kontak Viona. Tentu saja dengan perasaan gugup dan salah tingkah.

Hallo, pagi Mba?

Pagi juga, Om. Siapa ya?

Saya yang tadi malam di cafe.

Pelanggan kemarin banyak Om. Yang mana ya? Maaf saya lupa. Hehehehe...

Mmhh..itu anu..saya yang bertanya apakah kita pernah bertemu di bank asi.

Ohh.. Iya yaa saya ingat, ada apa ya om?"

Mmhh anu..

Anunya siapa, Om? Hahahaha... malu ya Om. Santai aja kalau sama saya mah.

Begini, Mba. Sore ini kita bisa bertemu di cafe Ferrari tidak? Ada yang perlu saya bicarakan.

Bisa kalau hanya ngobrol. Tarif saya dua ratus lima puluh ribu untuk satu jam. Tidak pakai pegang tangan apalagi elus paha.

Huuukk...huuk...

Uhuuk... oke, jam lima sore ini di cafe Ferrari ya.

Viona menutup teleponnya sambil terkekeh. Sangat lucu rasanya mendengar suara batuk-batuk lelaki di seberang sana. Keningnya nampak berkerut memikirkan lelaki yang baru saja berbicara padanya.

"Wahh, waahh... gue kirain lelaki alim. Ternyata butuh temen ngobrol juga kayak gue." Viona menggelengkan kepalanya.

"Jangan mudah menilai seseorang dari penampilan luarnya saja," gumam Viona lagi.

****

Sore itu viona memakai dress berwarna maroon motif bunga lili yang sedikit terbuka bagian dadanya. Viona datang lebih awal karena memang jam kerjanya dimulai pukul empat sore hingga pukul dua belas malam. Untungnya hari ini dia masih bertugas di cafe menggantikan Daren. Hingga lebih santai menunggu tamunya, sambil mengecek laporan kas yang ada di layar komputer.

"Titip bentar ya, gue ada tamu," ujar Viona pada Sari yang bertugas sebagai pelayan di sana. Sambil tersenyum, kaki Viona melangkah menuju meja nomor sebelas. Diliriknya jam tangan, lima menit lagi pukul lima. Mata Viona menjelajah isi cafe yang masih sepi. Ia memutuskan membuka ponselnya untuk melihat ada pesan atau tidak dari Riswan.

"Hallo Mba," sapa Riswan sedikit gugup. Ia mengambil kursi tepat di depan Viona.

"Eh iyaa hallo, Om," jawab Viona sambil mengulurkan tangannya bersalaman.

Riswan duduk di depan Viona dengan gugup karena memperhatikan baju Viona yang tidak terkancing dengan sempurna.

"Maaf Mbak, kancing bajunya terbuka," ujar Riswan memberitahu Viona dengan suara canggung.

"Apaa?" ucap Viona setengah kaget sambil memperhatikan belahan dadanya yang sedikit terekspose.

"Lha, justru saya yang sengaja buka, Mas. Ha ha ha ..." Viona terbahak. Benar-benar polos lelaki di depannya saat ini. Sedangkan Riswan hanya bisa menyeringai kuda sambil berusaha menelan salivanya.

"Biasanya om-om yang ngobrol sama gue senang jika baju gue seperti ini, malah ada yang minta buka semuanya. Ha ha ha ...," jelas Viona lagi sambil terbahak lagi. Hingga Sari memperhatikan Viona dari kejauhan.

"Oh, gitu ya."

"Mmhhh...panggil saya Riswan saja ya, jangan Om. saya belum empat puluh tahun kok. Baru tiga puluh tujuh tahun," terang Riswan sambil menunduk. Ia belum pernah berhadapan dengan wanita seperti Viona sebelumnya. Sehingga masih merasa sedikit risih dan kaku.

"Okelah kalau begitu. Ada yang bisa saya bantu ?" tanya Viona langsung tanpa berbasa-basi.

"Kamu bisa bekerja dengan saya tidak?"

"Maksudnya? kerja dengan Mas? Wah, sorry gue ga bisa Mas Riswan, gue kan masih kerja di sini," jelas Viona

"Bukan gitu, Ini maksudnya...gimana yaa saya ngejelasinnya," ucap Riswan coba menjelaskan maksudnya yang sebenarnya.

Riswan menjelaskan maksud dari ucapannya dengan sangat detail. Mulai dari kehilangan almarhum istrinya, sampai dengan kesusahan memperoleh asi untuk bayinya.

Mata Viona tak beranjak dari menatap Riswan. Mendengarkan dengan seksama, setiap kalimat yang lelaki itu ucapkan.

"Lelaki ini memiliki wajah yang tampan, sayang ditutupi kaca mata. Sepertinya juga orang baik tapi sudah duda kasian," gumam Viona dalam hati setelah mendengar penjelasan Riswan.

"Mmmhh...jadi gue tugasnya hanya menjadi ibu susu anak Mas?gitu?" tanya viona memperjelas.

"Iya," jawab Riswan cepat

"Bayaran gue berapa?" tanya Viona to the point.

"Dua kali lipat gaji kamu di sini," jawab Riswan menawarkan.

"Tiga kali gaji, belum makan, ongkos, dan uang pulsa gue. Gimana?" tawar Viona dengan raut wajah serius.

Riswan berpikir sejenak, dari pada dia harus menikah kembali dengan orang lain, lebih baik dia membayar orang untuk menyusui anaknya. Riswan kembali bermonolog.

"Oke, besok pagi jam tujuh kamu bisa ke rumah saya, ini alamatnya," ujar Riswan sambil memberikan alamat rumahnya pada Viona.

"Bayaran sore ini? dua jam lho," tagih Viona sambil menadahkan tangannya tepat di depan Riswan.

Riswan melihat jam tangannya sudah berputar di angka 7 malam, lalu ia mengeluarkan uang lima ratus ribu dari dalam dompet lalu memberikannya kepada Viona.

"Bill minuman kita ga lu bayar?" tanya Viona sambil nyengir kuda.

"Ohh iyaa yaa...saya kira gratis," sahut Riswan polos sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Viona hanya terkekeh melihat kepolosan Riswan.

Setelah menemui titik kesepakatan, Riswan pun pamit pulang. Sedangkan Viona kembali ke balik meja kasir, melaksanakan pekerjaannya menggantikan Darren.

Tampak Viona tengah memencet ponselnya dengan wajah serius.

Hallo, Jek. Gue dapat tawaran kerja baru. Mulai besok gue off , boleh ya?

Kok lu dadakan, Vio? emang kerja apaan?

Jadi ibu susu. Bayarannya tiga kali gaji gue di sini. Jadi gue cuti lagi ga papa ya. He he he ...

Nyusuin siapa?

Ya bayilah, masa menyusui buaya. Hahahaha...

Oh, gue kira nyusuin bapaknya. Ha ha ha ...

Ya kalau bapaknya mau sih. He he he ...

Ya sudah, kalau Darren malam ini balik, lu besok boleh cuti. Tapi kalau Darren belum balik, lu masih tetap di sini besok.

Oke, terimakasih bosku.

****

Malam ini Riswan tak bisa tertidur, padahal bayi Melati sedang anteng dan tidur pulas di sampingnya. Ia tengah membayangkan semoga keputusan yang ia buat untuk Melati menjadi yang terbaik.

Di lain tempat, Viona sudah kembali ke kosan dan memakai piyamanya bersiap tidur.Dia melihat foto almarhumah bayinya, Viona menangis sesegukan.

"Hai anak ibu, ibu rindu," lirih Viona sambil memandang foto almarhum bayinya di ponsel dengan berderai air mata.

"Ibu sangat rindu, Nak. Maafkan ibu yang tak bisa menjagamu dengan baik, bahkan ibu bodohmu ini belum sempat memberikan nama untukmu," lirih pilu Viona masih terus bicara dengan foto bayinya.

"Besok ibu akan memberikan asi bagianmu pada bayi mungil di sana, boleh ya sayang?"

"Kamu jangan ngambek sama ibu yaa, ibu senang jika bisa menolong bayi di sana."

Dia terus berbicara dengan foto almarhumah bayinya hingga ia tertidur pulas.

****

Pagi pun tiba. Viona sudah rapi dengan tas pakaiannya. Sambil menunggu taksi yang ia pesan, Viona membaca pesan dari Riswan yang menanyakan, apakah pagi ini jadi ke rumah atau tidak? Viona membalas dengan cepat sambil tersenyum.

"Mau kemana, Jeng?" tanya Yudi tiba-tiba saat melewati Viona yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.

"Mau bunuh orang, Nek," sahut Viona cuek sambil berlalu meninggalkan Yudi yang sedang terbahak.

Taksi yang dipesan Viona sudah tiba di depam gerbang kos-kosan Viona. Dengan menenteng tas di tangannya, Viona masuk ke dalam taksi dan memilih untuk duduk di kursi belakang.

Sebenarnya jarak antara kos-kosan Viona dengan rumah Riswan tidaklah terlalu jauh. Hanya butuh waktu satu jam sudah sampai. Namun mengingat bertepatan dengan hari senin, jam anak sekolah dan karyawan kantor masuk. Maka waktu yang diperlukan lebih lama.

"Ini, Pak. Ongkosnya." Viona memberikan selembar uang merah pada supir taksi. Lalu turun dengan hati-hati sambil menenteng tas pakaiannya.

"Mba, kembaliannya!" seru pengemudi taksi pada Viona yang sudah menutup pintu penumpang belakang.

"Buat bapak saja," sahut Viona tersenyum.

Teeng...teng...

Viona menggedor pintu pagar rumah Riswan yang masih tergembok.

"Permisi," seru Viona sambil menyembulkan kepalanya daei luar pagar.

"Iya tunggu," sahut pemilik rumah.

Riswan membuka pintu dan pagar, kemudian mempersilahkan Viona masuk.

"Oeekk...ooekk..."

Baru hendak duduk suara tangisan bayi Melati sudah nyaring terdengar.

Naluri keibuan Viona terpanggil dengan sigap dia berlari ke arah box bayi yang diletakkan dekat ruang tivi. Dengan penuh hati-hati dan

kelembutan, Viona mengangkat bayi Melati dari dalam boxnya. Sungguh ajaib, seketika bayi Melati berhenti menangis dan menatap wajah wanita yang menggendongnya dengan tatapan berbinar.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED