Bab 1

"Malam ini terasa sangat panas."

Hani Paulla, gadis cantik bermata bulat—usianya 22 tahun. Ia berdiri di atas balkon kamarnya. Menatap langit yang dipenuhi dengan bintang.

Hani menggunakan piyama yang begitu seksi dan transparan, karena malam ini cukup panas.

"Siapa yang memabukkan pintu?" Hani mendengar suara pintu kamarnya terbuka.

Hani lantas bergegas menuju ke kamarnya. Ia terbelalak saat melihat sang Kakak berdiri di depan pintu kamar yang sudah tertutup.

"Kak Yuan, kau mau ngapain?" tanya Hani.

Yuan tersenyum nakal, perlahan ia berjalan mendekati Hani—gadis seksi yang ternyata adiknya. Hani juga baru bekerja menjadi sekretaris di perusahaan Yuan Andersson.

"Kakak mau ngapain?" Hani semakin panik saat Yuan, sang Kakak, semakin mendekat.

Yuan membuka kancing kemejanya dan melepas kemejanya, kemudian melemparnya.

Hani menelan ludahnya susah payah saat melihat dada bidang sang kakak yang kotak-kotak.

"Kak... " Hani berusaha menghindar, namun Yuan malah semakin dekat dan mendorong tubuh Hani sampai terhempas ke atas ranjang. Yuan berada di atas tubuh Hani.

"Berapa harganya untuk semalam?" tanya Yuan tersenyum nakal.

"Hah?" Hani membulatkan pupil matanya sempurna. "Aku tidak mengerti dengan pertanyaan Kakak," ucap Hani bergetar.

"Jangan pura-pura bodoh, Hani. Bukankah selama kamu tinggal di London, kamu sering melakukannya?" Yuan tersenyum menyeringai.

"Melakukan apa?" tanya Hani panik.

"Jual diri!" Yuan berbisik.

Kemudian, Yuan mengambil ponselnya di saku celananya, ia menunjukkan video ketika Hani menggunakan pakaian seksi jalan dengan pria tua. Ternyata diam-diam Yuan mencari tahu tentang Hani.

"Video ini sudah cukup membuktikan kalau kau bukan cewek baik-baik! Membuktikan bahwa kamu di luar sana bekerja menjadi sugar baby, dan menjual tubuhmu pada pria pria tua kesepian. Bukan, begitu?"

"Kak, itu.... Itu cu— "

Tak mau mendengar penjelasan dari Hani, Yuan langsung mengecup bibir Hani dengan rakus meski tanpa balasan namun Yuan tetap melumat bibir Hani yang menggoda ini.

Kedua tangan Yuan bergerilya menyentuh buah dada milik Hani yang montok dan membuat Yuan tergoda untuk menjadi sosok bayi.

"Ah... " Hani sedikit mendesah ketika tangan Yuan masih menyentuh buah dada miliknya.

Yuan. tersenyum nakal, dia sangat suka dengan suara desahan kecil yang ke luar dari mulut sang adik.

Yuan lantas melumat bibir Hani dengan sangat rakus membuat Hani semakin kesulitan melawan, napasnya terasa sesak sampai ia refleks membuka mulut dan akhirnya ciuman itu semakin dalam hingga terdengar suara decapan.

"Ah!" Suara desah kembali lolos dari mulut Hani ketika lidah Yuan menjelajah jenjang leher Hani yang mulus.

Hani semakin bergairah, begitu juga dengan Yuan. Keduanya kini mulai menikmati permainan panas tersebut.

"Ah, Kak!" rancu Hani ketika lidah sang kakak bergerilya di area perutnya sampai ke daerah sensitif karena kini tubuh keduanya sudah sama-sama polos.

Yuan tersenyum nakal saat milik Hani sudah basah.

"Kau menyukainya?" tanya Yuan berbisik.

Hani merasa malu untuk mengakuinya, ia memilih diam dan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.

Rumah tampak sepi. Orangtuanya lagi pergi ke London mungkin sampai seminggu di sana.

Yuan akan segera memasukkan miliknya ke tubuh Hani.

"Kak, pelan-pelan," pinta Hani ketakutan.

"Pelan-pelan? Bukankah kau sudah terbiasa?" Yuan tersenyum mengejek.

Hani mengigit bibirnya ketika milik Yuan yang perkasa itu akan memasuki miliknya.

"Mengapa sangat sempit?" bisik Yuan sambil menaikan satu alisnya saat dirinya kesulitan memasukan sesuatu kedalam tubuh Hani.

Ssshhtt

Hani menggigit bibirnya, menahan perih yang luar biasa.

"Uummmph saaakiiiiitt, Kak, sakiiiittttt!" Rancu Hani sambil memukul-mukul punggung Yuan.

"Aaaaaa!!!!!" teriaknya lagi sampai meremas kuat rambut Yuan tatkala milik Yuan sudah berhasil masuk.

"Oh, ughh ... " Yuan mendesah karena nikmat.

Di atas ranjang ini, Yuan berhasil merampas apa yang tidak seharusnya ia nikmati.

Dini hari.

Hiks!

Hani menangis membelakangi Yuan. Ia terus menangis karena marah pada dirinya sendiri, marah tidak bisa melawan saat Yuan menikmati tubuhnya.

Tubuh Hani yang polos itu di tutupi oleh selimut tebal.

"Jadi, kau benar-benar masih perawan?" tanya Yuan yang dia kira Hani ini sudah tidak perawan.

Yuan tengah memakai pakaiannya. Ada rasa kebanggaan pada dirinya sendiri karena untuk pertama kalinya ia mendapatkan perawan.

Ya, Yuan ini adalah seorang play boy Ia memanfaatkan kedudukannya sebagai penguasa tampan kaya raya untuk memikat wanita. Tanpa keluar uang, Yuan bisa menikmati tubuh wanita yang menjadi kekasihnya, namun sayangnya belum mendapatkan perawan. Yuan memang hiperseks.

"Keluar, Kak! Aku bilang keluar dari kamarku!" teriak Hani mengusir Yuan dari kamarnya.

"Maaf, Hani. Saya pikir, kamu wanita nakal yang suka tidur dengan pria tua," ucap Yuan santai.

"Keluar, Kak! Aku bilang, keluar, keluar!" bentak Hani.

Yuan pun keluar dari kamar Hani.

"Kamu jahat, Kak, jahat! Kamu jahat! Aaaaaa..... " teriak Hani frustasi.

***

Seorang pria bertubuh kekar usianya sekitar 57 tahun dengan senyum lebar di wajahnya. Pria itu memasuki ruangan sambil menyeret sebuah koper. Sonya-seorang wanita cantik berusia 48 tahun dengan gaun sederhana dan anggun, mengikuti di belakangnya.

"Yuan!" teriak Louis, "kemarilah! Papa ingin memperkenalkan seseorang padamu."

Yuan Andersson, usianya 27 tahun. Ia berjalan menuruni anak tangga.

"Aku sudah mengenalnya. Mengapa papa membawa wanita itu kemari?" tanya Yuan sinis.

"Yuan, papa dan Tante Sonya sudah menikah. Dan sekarang dia adalah ibumu." Louis begitu bangganya memperkenalkan Sonya pada putranya.

Mendengar hal tersebut, wajah Yuan langsung pucat pasi namun masih berusaha menjaga perasaannya. Ia sebenarnya tidak mau ayahnya menikah lagi.

"Oh, Selamat!" ucap Yuan santai.

"Sekarang, kamu boleh panggil Tante ini Mama ya!" ucap Sonya tersenyum kepada Yuan. namun tanggapan Yuan tetap acuh.

"Pah, Yuan pergi dulu, ada urusan!" ucap Yuan yang langsung buru-buru pergi keluar rumah.

Yuan sangat tidak menyukai Sonya, ia yakin wanita itu hanya memanfaatkan uang ayahnya saja.

Yuan keluar dengan tergesa-gesa, dan tak sengaja mempertemukan diri dengan seorang gadis cantik. Mata keduanya saling bertemu, namun pada saat ini mereka belum saling kenal.

"Permisi!" kata gadis itu cepat sebelum masuk ke rumah.

Yuan masih tertegun sejenak. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis cantik itu yang baru saja ditemuinya.

"Siapa dia?" gumam Yuan, ia kembali masuk ke dalam rumah, tak jadi pergi karena penasaran dengan gadis cantik yang sukses mencuri perhatiannya.

Glen melihat gadis cantik itu duduk disebelah Sonya.

"Hani, Papa harap kamu betah ya tinggal di sini," ucap Louis.

Bola mata Alluna terus memutar ke setiap penjuru ruangan.

"Rumah Papa bagus banget! Hani pasti betah," ucap Hani, tak pernah menyangka ternyata Papa tirinya orang kaya.

Yuan masih berdiri mematung memperhatikan gadis cantik yang memiliki bola mata bulat itu.

"Eh, Yuan, kamu tidak jadi pergi?" tanya Louis.

Hani langsung menoleh kearah Yuan, ia kembali tersenyum kepada laki-laki yang akan menjadi kakaknya.

"Pah, dia Kak Yuan? Anak Papa yang sering Papa ceritakan ke Hani?" tanya Hani.

Yuan selama ini tidak tahu bahwa Sonya memiliki anak perempuan. Setiap ada acara penting, Sonya selalu datang sendiri. Sebab Hani tinggal di London, dia kuliah dan baru lulus.

"Iya, Hani, dia Yuan! Dan Yuan, ini adalah Hani, anaknya Mama Sonya, adikmu!" Louis.

Yuan masih diam mematung, adik tirinya ini sukses banget mencuri perhatian Yuan yang terkenal playboy, dan hiperseks.

"Hai, Kak Yuan perkenalkan namaku Hani Paulla," ucapnya sambil mengulurkan sebelah tangannya.

Yuan menerima uluran tangan dari Hani tanpa mengatakan satu kata pun.

Bab 2

Hari ini, suasana sarapan pagi di rumah Louis sangat hangat. Hani duduk di sebelah mamanya, sementara Yuan duduk di seberangnya. Louis sibuk membaca koran sambil menikmati secangkir kopi.

Hani tampak antusias dan semangat menjalani hari pertamanya di perusahaan kakaknya, akan menjadi sekretaris untuk Yuan.

"Kak Yuan, apakah kita akan berangkat bareng?" tanya Hani.

Namun, tidak ada tanggapan dari Yuan membuat Hani jadi kesal.

Meskipun Yuan diam, ia tetap memperhatikan Hani dengan seksama. Tatapan matanya kadang-kadang tertuju pada wajah cantik Hani bahkan penampilan Hani sangat seksi. Seakan ada sesuatu yang membuatnya tertarik pada adiknya itu, meskipun dia tidak mau mengakui.

"Semangat ya, sayang, jangan sampai merepotkan kakakmu," ucap sang mama.

"Pasti, dong Mama! Hani pasti akan terus semangat. Tenang saja, Hani tidak akan sampai membuat Kak Yuan repot," ucap Hani tersenyum pada Yuan.

Yuan masih terpukau dengan pesona Hani, ia tidak banyak bicara. Dia tetap terlihat dingin, meskipun sebenarnya hatinya sedang bergejolak. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda tentang Hani, sesuatu yang membuatnya tertarik, meskipun dia tidak tahu pasti apa itu.

Setelah sarapan, Hani bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan yang di pimpin oleh Yuan.

"Semoga kamu betah ya kerja besama Kakakmu," kata Louis sambil memberikan semangat.

Hani tersenyum dan mengangguk, "Hani pasti betah kok, Papa. Apalagi bossnya ini Kakak-ku," ucap Hani.

Yuan masih diam, tetapi matanya tetap mengikuti langkah Hani saat dia meninggalkan ruangan.

"Kak Yuan, kita berangkat bareng' kan?" tanya Hani.

"Berangkat saja sendiri!" tolak Yuan yang langsung membuka mobilnya, ia masuk ke dalam mobil, "Ingat, kalau di kantor panggil saya, Tuan, jangan Kakak," ucap Yuan mengingatkan.

"Iya, Tuan Yuan," ucap Hani.

Terpaksa Hani berangkat ke kantor di antar oleh kang ojeg online agar lebih cepat sampai di sana. Hari ini hari pertamanya, Hani tidak mau sampai terlambat.

***

Hani tiba di perusahaan dengan penuh semangat, tetapi begitu ia memasuki lobby, dia langsung menjadi pusat perhatian. Banyak mata yang tertuju padanya, para karyawan membicarakan pesona Hani Paulla membuat Hani menjadi risih.

"Apa penampilan aku terlalu berlebihan?" tanya Hani pada hati kecilnya.

Hani dengan percaya diri melangkah masuk ke ruangan Yuan, bos sekaligus kakak tiri yang sekaligus akan menjadi atasannya. Ia berusaha tidak peduli dengan tatapan dan bisikan-bisikan itu.

Dengan langkah gugup, Hani berusaha untuk tenang. Kata Louis, Yuan adalah sosok yang dingin dan menakutkan di perusahaan ini, selain karena keberhasilannya di dunia bisnis, juga karena sifat keras kepala dan ketusnya.

"Selamat pagi, Tuan Yuan," sapa Hani dengan suara yang terbata-bata.

Yuan menoleh ke arah Hani dan lagi-lagi penampilan adik tirinya yang sangat menggoda iman. Belah dada Hani tampak jelas dari balik blus yang dikenakannya, membuat Yuan merasa tergoda, menelan ludahnya susah payan. Namun, ia masih berusaha mengalihkan pandangannya, tetapi matanya seakan terpaku pada pemandangan itu.

"Duduk," perintah Yuan dengan ketus. Hani menurut dan duduk di kursi di depan meja Yuan. "Kamu baru saja mulai bekerja di sini, dan ada banyak hal yang harus kamu pelajari. Aku tidak ingin kamu mengulangi kesalahan yang sama seperti yang pernah dilakukan sekretaris sebelumnya."

Hani mengangguk, menatap kakak tirinya dengan penuh perhatian. "Aku akan berusaha sebaik mungkin, Tuan Yuan."

Yuan menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengusir pikiran-pikiran nakal yang mulai muncul di benaknya. "Baiklah, kita mulai dengan tugas pertama kamu. Aku ingin kamu menyiapkan berkas-berkas yang akan aku bawa ke rapat nanti. Pastikan semuanya lengkap."

Hani segera berdiri dan mengangguk. "Baik, Tuan Yuan." Ia lalu berbalik dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Yuan yang masih terpaku pada belah dada yang telah menghilang dari pandangannya.

Setelah Hani pergi, Yuan mencoba untuk melupakan kejadian barusan dengan mencari informasi tentang Hani saat tinggal di London. Ia ingin tahu apa yang telah terjadi pada adik tirinya itu.

Setelah beberapa lama mencari, Yuan menemukan informasi mengejutkan bahwa Hani pernah menjadi sugar baby selama tinggal di London.

"Tidak disangka, ternyata dia gadis yang nakal," ucap Yuan tersenyum menyeringai.

Kemudian, saat rapat dimulai, Yuan meminta Hani untuk menemaninya. Namun, di tengah rapat, Hani melakukan kesalahan yang membuat rapat menjadi kacau. Semua mata tertuju pada Hani, dan Yuan tidak bisa menahan amarahnya.

"Hani!" bentak Yuan. "Apa yang kamu lakukan? Ini kesalahan besar! Bagaimana kamu bisa seceroboh ini?"

Wajah Hani memerah karena malu. "Maaf, Tuan Yuan. Aku tidak bermaksud," gumamnya dengan suara lirih.

Yuan menghela nafas, mencoba meredakan amarahnya. "Kesalahan ini tidak bisa diabaikan, Hani. Aku harap kamu bisa belajar dari kesalahan ini dan tidak mengulanginya lagi. Kalau kau sampai mengulanginya lagi, kau akan saya pecat, Hani."

Hani menundukkan kepalanya, merasa sangat malu dan menyesal. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan bekerja lebih keras dan tidak akan membuat kesalahan lagi, demi membuktikan pada Yuan bahwa ia pantas bekerja di perusahaan ini.

Sementara itu, di lubuk hati terdalamnya, Yuan berharap ia bisa melupakan hasrat terlarang yang mulai tumbuh di hatinya terhadap adik tirinya itu.

"Meskipun dia telah membuat kesalahan. Tapi aku akui, bahwa aku tidak bisa menahan diri, dia sangat menarik dan menggoda," batin Yuan.

Yuan tidak bisa menahan hasrat, ia keluar dari perusahaan saat jam makan siang. Yuan akan membeli jasa sugar baby yang sudah menjadi pelanggan setianya. Yuan akan terus memakai jasa wanita jika wanita itu berhasil membuat dirinya puas dan lemas.

"Hani, kamu yang sabar ya, Tuan Yuan memang tegas tapi sebenarnya dia sangat baik," ucap Lulu, teman baru Hani di perusahaan ini.

Hani mengangguk kecil kemudian tersenyum pada Lulu.

Hani memutuskan untuk makan siang di kafe milik teman SMA-nya.

Sesampainya di sana, Hani melihat Yuan dengan seorang wanita cantik nan seksi.

"Siapa wanita itu?" tanya Hani pada dirinya sendiri. "Ah, bukan urusanku!"

Saat Hani menarik kursi dan duduk di kursi itu. Yuan menoleh. Tas Hani jatuh, dan Hani mengambilnya terlihat jelas di mata Yuan milik Hani yang kembar itu.

"Maaf, saya ada urusan," ucap Yuan yang langsung beranjak pergi.

Ternyata Yuan menghampiri Hani dan menarik adiknya itu.

"Ikut saya!"

"Kak Yuan, kamu mau membawa aku ke mana?" tanya Hani panik.

Yuan tidak menjawab pertanyaan dari Hani, ia terus menarik lengan Hani sampai masuk ke dalam mobil.

Tubuh Hani sangat gemetar, ia benar-benar ketakutan.

"Kak Yuan, aku lapar. Biarkan aku makan dulu!" Hani merengek manja.

"Diam kamu!" bentak Yuan.

Hani langsung diam, dan mengigit bibirnya semakin membuat Yuan tidak bisa menahan hasrat.

Bab 3

Suasana sarapan pagi di rumah Louis sangat hangat. Hani duduk di sebelah mamanya, sementara Yuan duduk di seberangnya. Louis sibuk membaca koran sambil menikmati secangkir kopi.

Hani tampak antusias dan semangat menjalani hari pertamanya di perusahaan kakaknya, akan menjadi sekretaris untuk Yuan.

"Kak Yuan, apakah kita akan berangkat bareng?" tanya Hani.

Namun, tidak ada tanggapan dari Yuan membuat Hani jadi kesal.

Meskipun Yuan diam, ia tetap memperhatikan Hani dengan seksama. Tatapan matanya kadang-kadang tertuju pada wajah cantik Hani bahkan penampilan Hani sangat seksi. Seakan ada sesuatu yang membuatnya tertarik pada adiknya itu, meskipun dia tidak mau mengakui.

"Semangat ya, sayang, jangan sampai merepotkan kakakmu," ucap sang mama.

"Pasti, dong Mama! Hani pasti akan terus semangat. Tenang saja, Hani tidak akan sampai membuat Kak Yuan repot," ucap Hani tersenyum pada Yuan.

Yuan masih terpukau dengan pesona Hani, ia tidak banyak bicara. Dia tetap terlihat dingin, meskipun sebenarnya hatinya sedang bergejolak. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda tentang Hani, sesuatu yang membuatnya tertarik, meskipun dia tidak tahu pasti apa itu.

Setelah sarapan, Hani bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan yang di pimpin oleh Yuan.

"Semoga kamu betah ya kerja besama Kakakmu," kata Louis sambil memberikan semangat.

Hani tersenyum dan mengangguk, "Hani pasti betah kok, Papa. Apalagi bossnya ini Kakak-ku," ucap Hani.

Yuan masih diam, tetapi matanya tetap mengikuti langkah Hani saat dia meninggalkan ruangan.

"Kak Yuan, kita berangkat bareng' kan?" tanya Hani.

"Berangkat saja sendiri!" tolak Yuan yang langsung membuka mobilnya, ia masuk ke dalam mobil, "Ingat, kalau di kantor panggil saya, Tuan, jangan Kakak," ucap Yuan mengingatkan.

"Iya, Tuan Yuan," ucap Hani.

Terpaksa Hani berangkat ke kantor di antar oleh kang ojeg online agar lebih cepat sampai di sana. Hari ini hari pertamanya, Hani tidak mau sampai terlambat.

***

Hani tiba di perusahaan dengan penuh semangat, tetapi begitu ia memasuki lobby, dia langsung menjadi pusat perhatian. Banyak mata yang tertuju padanya, para karyawan membicarakan pesona Hani Paulla membuat Hani menjadi risih.

"Apa penampilan aku terlalu berlebihan?" tanya Hani pada hati kecilnya.

Hani dengan percaya diri melangkah masuk ke ruangan Yuan, bos sekaligus kakak tiri yang sekaligus akan menjadi atasannya. Ia berusaha tidak peduli dengan tatapan dan bisikan-bisikan itu.

Dengan langkah gugup, Hani berusaha untuk tenang. Kata Louis, Yuan adalah sosok yang dingin dan menakutkan di perusahaan ini, selain karena keberhasilannya di dunia bisnis, juga karena sifat keras kepala dan ketusnya.

"Selamat pagi, Tuan Yuan," sapa Hani dengan suara yang terbata-bata.

Yuan menoleh ke arah Hani dan lagi-lagi penampilan adik tirinya yang sangat menggoda iman. Belah dada Hani tampak jelas dari balik blus yang dikenakannya, membuat Yuan merasa tergoda, menelan ludahnya susah payan. Namun, ia masih berusaha mengalihkan pandangannya, tetapi matanya seakan terpaku pada pemandangan itu.

"Duduk," perintah Yuan dengan ketus. Hani menurut dan duduk di kursi di depan meja Yuan. "Kamu baru saja mulai bekerja di sini, dan ada banyak hal yang harus kamu pelajari. Aku tidak ingin kamu mengulangi kesalahan yang sama seperti yang pernah dilakukan sekretaris sebelumnya."

Hani mengangguk, menatap kakak tirinya dengan penuh perhatian. "Aku akan berusaha sebaik mungkin, Tuan Yuan."

Yuan menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengusir pikiran-pikiran nakal yang mulai muncul di benaknya. "Baiklah, kita mulai dengan tugas pertama kamu. Aku ingin kamu menyiapkan berkas-berkas yang akan aku bawa ke rapat nanti. Pastikan semuanya lengkap."

Hani segera berdiri dan mengangguk. "Baik, Tuan Yuan." Ia lalu berbalik dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Yuan yang masih terpaku pada belah dada yang telah menghilang dari pandangannya.

Setelah Hani pergi, Yuan mencoba untuk melupakan kejadian barusan dengan mencari informasi tentang Hani saat tinggal di London. Ia ingin tahu apa yang telah terjadi pada adik tirinya itu.

Setelah beberapa lama mencari, Yuan menemukan informasi mengejutkan bahwa Hani pernah menjadi sugar baby selama tinggal di London.

"Tidak disangka, ternyata dia gadis yang nakal," ucap Yuan tersenyum menyeringai.

Kemudian, saat rapat dimulai, Yuan meminta Hani untuk menemaninya. Namun, di tengah rapat, Hani melakukan kesalahan yang membuat rapat menjadi kacau. Semua mata tertuju pada Hani, dan Yuan tidak bisa menahan amarahnya.

"Hani!" bentak Yuan. "Apa yang kamu lakukan? Ini kesalahan besar! Bagaimana kamu bisa seceroboh ini?"

Wajah Hani memerah karena malu. "Maaf, Tuan Yuan. Aku tidak bermaksud," gumamnya dengan suara lirih.

Yuan menghela nafas, mencoba meredakan amarahnya. "Kesalahan ini tidak bisa diabaikan, Hani. Aku harap kamu bisa belajar dari kesalahan ini dan tidak mengulanginya lagi. Kalau kau sampai mengulanginya lagi, kau akan saya pecat, Hani."

Hani menundukkan kepalanya, merasa sangat malu dan menyesal. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan bekerja lebih keras dan tidak akan membuat kesalahan lagi, demi membuktikan pada Yuan bahwa ia pantas bekerja di perusahaan ini.

Sementara itu, di lubuk hati terdalamnya, Yuan berharap ia bisa melupakan hasrat terlarang yang mulai tumbuh di hatinya terhadap adik tirinya itu.

"Meskipun dia telah membuat kesalahan. Tapi aku akui, bahwa aku tidak bisa menahan diri, dia sangat menarik dan menggoda," batin Yuan.

Yuan tidak bisa menahan hasrat, ia keluar dari perusahaan saat jam makan siang. Yuan akan membeli jasa sugar baby yang sudah menjadi pelanggan setianya. Yuan akan terus memakai jasa wanita jika wanita itu berhasil membuat dirinya puas dan lemas.

"Hani, kamu yang sabar ya, Tuan Yuan memang tegas tapi sebenarnya dia sangat baik," ucap Lulu, teman baru Hani di perusahaan ini.

Hani mengangguk kecil kemudian tersenyum pada Lulu.

Hani memutuskan untuk makan siang di kafe milik teman SMA-nya.

Sesampainya di sana, Hani melihat Yuan dengan seorang wanita cantik nan seksi.

"Siapa wanita itu?" tanya Hani pada dirinya sendiri. "Ah, bukan urusanku!"

Saat Hani menarik kursi dan duduk di kursi itu. Yuan menoleh. Tas Hani jatuh, dan Hani mengambilnya terlihat jelas di mata Yuan milik Hani yang kembar itu.

"Maaf, saya ada urusan," ucap Yuan yang langsung beranjak pergi.

Ternyata Yuan menghampiri Hani dan menarik adiknya itu.

"Ikut saya!"

"Kak Yuan, kamu mau membawa aku ke mana?" tanya Hani panik.

Yuan tidak menjawab pertanyaan dari Hani, ia terus menarik lengan Hani sampai masuk ke dalam mobil.

Tubuh Hani sangat gemetar, ia benar-benar ketakutan.

"Kak Yuan, aku lapar. Biarkan aku makan dulu!" Hani merengek manja.

"Diam kamu!" bentak Yuan.

Hani langsung diam, dan mengigit bibirnya semakin membuat Yuan tidak bisa menahan hasrat.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED