Bab 2

Cass sedikit terhuyung karena gadis yang ia gendong mulai menggerayanginya padahal ia tengah menggendong membawa masuk ke dalam kamar.

“Ugh ... jangan tarik aku!” gerutu Cass menghardik Sophie yang beberapa kali melenguh. Sampai akhirnya Cass berhasil membawa Sophie ke ranjang dan meletakkannya. Namun, karena Sophie terus bergerak Cass agak terpeleset dan jatuh bersama Sophie yang tertindih di bawahnya.

“Uh ...” Cass melenguh sambil menarik lengannya di bawah paha Sophie. Ia sedikit terengah dan ingin bangun tapi Sophie malah bergelayut padanya. Cass kembali menindih gadis itu dan ia pun berhenti. Wajah Sophie sedikit tertutup helai rambut Brunette yang sekilas tercium harum mawar.

Cass mencoba melepaskan rengkuhan lengan Sophie yang melilit pundaknya sambil menoleh ke arah lain. Wajah gadis asing itu sangat cantik dan sensual. Bulir-bulir keringat di garis rambut dan lehernya makin menggoda Cass untuk menyeka helai rambut demi bisa menikmati kulit indahnya.

“Ah, apa yang kupikirkan!” cetus Cass tak sengaja. Ia duduk di pinggir ranjang sementara Sophie sudah terlentang tak berdaya di atas ranjang. Rambut panjang Brunette bergelombangnya beberapa menutupi gundukan yang mencuat sempurna ke depan saat mata Cass sempat menangkap pemandangan itu.

“Huff ...” Cass pun tidak boleh terpancing dan harus netral. Sekarang ia harus bisa mencari identitas wanita itu atau apa pun yang membantunya mengembalikannya ke rumahnya.

“Coba aku lihat kamu bawa identitas atau tidak!” ucap Cass sembari matanya mencari-cari jikalau gadis itu membawa sesuatu bersamanya. Cass tidak berani menggeledah karena pastinya ia akan meraba seluruh lekuk tubuh gadis itu.

Sayangnya tidak terlihat adanya tas atau ponsel di tubuh gadis itu. Ia hanya polos saja tanpa mencantolkan barang apa pun di tubuhnya seperti tas. Cass kembali mengempaskan kedua lengannya ke udara dan berkacak pinggang.

“Lalu bagaimana aku harus menghubungi keluargamu?” tanya Cass pada Sophie yang masih tidur terlentang tak sadarkan diri.

“Apa kamu menyimpan ponsel di dalam bramu?” gumam Cass mencoba memajukan tubuhnya hendak mengintip. Cass tidak punya pilihan selain harus membangunkan gadis itu dan bertanya soal identitasnya.

Ia pun mendekat dan sedikit menggoyang tubuh gadis itu sebisanya. Cass tidak ingin dianggap melecehkan jika ia memegang sembarangan.

“Hei, ayo bangun! Siapa namamu? Aku harus mengantarkan kamu pulang. Di mana alamatmu?” tanya Cass sedikit mendorong tubuh gadis itu agar ia bangun lalu bicara.

Namun ternyata membangunkan orang mabuk itu tidak segampang kelihatannya. Gadis itu malah memiringkan posisi tidurnya dengan membelakangi Cass. Cass pun berdecap kesal. Ia kembali menggoyangkan lagi lengan Sophie.

“Hei, ayo bangun dulu! aku butuh nomor ponsel atau anggota keluargamu. Harus ada yang menjemputmu di sini!” tukas Cass lagi terus mencoba menggoyangkan lengan Sophie. Sophie yang merasa terganggu lalu menghardik kesal dan tiba-tiba bangun. Namun tentu saja ia masih sangat mabuk dan tidak sepenuhnya tahu apa yang terjadi.

“Aahhkkk ... mengganggu saja!” hardik Sophie judes pada Cass. Cass sampai kaget dan keheranan. Gadis itu malah bangun dan berjalan sempoyongan. Ia membuka pump heelsnya dan membuang begitu saja. Ia berjalan lagi ke tengah kamar dan mulai bertingkah aneh.

“Hei, apa yang mau kamu lakukan?” tegur Cass dengan membesarkan suaranya. Tapi Sophie tidak mendengar.

Sophie malah menggesekkan kedua pahanya bersamaan dengan tangannya merogoh bagian dalam dari rok super pendek yang ketat di atas paha.

Di belakangnya, Cass yang masih duduk di sisi ranjang tercengang melihat yang tengah terjadi. Seorang gadis yang tidak ia kenal tengah melorotkan celana dalamnya di depannya.

Mulut Cass makin terbuka lebar kala gadis itu melemparkan dalaman yang terkait pada salah satu kakinya itu, sehingga dalamannya mendarat entah ke mana. Dengan kaki telanjang terhuyung, Sophie berjalan ke kamar mandi lalu masuk lalu duduk di toiletnya.

Cass masih tercengang dan tidak sepenuhnya mengerti yang terjadi. Seumur hidupnya, Cass belum pernah bertemu dengan manusia ajaib seperti gadis ini.

“Apa itu?!” pekiknya keheranan. Lalu terdengar bunyi pintu di buka dan gadis itu pun keluar dari kamar mandi. Sophie berhenti di depan Cass dan telunjuknya terangkat pada Cass. Cass mulai diam memperhatikan, ada apa lagi ini?

“Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu meninggalkanku?” tukas Sophie dengan nada bergetar. Matanya langsung berair dan ia mulai sesenggukan. Perlahan Cass makin mengernyitkan keningnya menatap Sophie yang terlihat begitu sedih. Sophie duduk di sebelah Cass yang masih bingung memandangnya. Lalu ia mendekat dan memeluk Cass.

“Uh ... Nona ...”

“Aku sangat merindukanmu, Sayang. Mengapa kamu meninggalkanku?” lirih Sophie mendekap Cass yang tidak mengerti apa-apa. Ia mendekap erat Cass dan menangis di dadanya. Sementara Cass yang kebingungan sempat diam beberapa saat sebelum mencoba menenangkan.

“Uhm, Nona ... aku rasa kamu salah orang ...”

“Aku memang salah ... aku memang salah sudah mengambil tawaran pekerjaan itu. Harusnya aku tidak bertengkar denganmu dan pergi begitu saja!” balas Sophie merengek dan makin menangis. Cass jadi kebingungan. Jelas ini adalah sebuah kesalahpahaman.

“Nona ... tolong lepaskan aku dulu!” Cass mencoba mendorong pelan gadis yang bergelayut padanya.

“Aku tidak mau! Nanti kamu akan pergi lagi ...”

“Tapi ... tapi aku bukan pria yang kamu maksudkan!” tukas Cass menolak Sophie dan berusaha melepaskan pelukannya itu. Sophie masih terus memeluk erat tidak mau melepaskan sama sekali.

“Aku tidak mau!” sahutnya sambil terus menangis. Cass menghela napas panjang dan mulai kebingungan. Apa yang harus ia lakukan jika seperti ini?

“Begini saja, lepaskan aku dulu lalu kita bicara dan katakan padaku apa yang terjadi? Mungkin aku bisa membantumu.” Cass mencoba bernegosiasi dengan gadis yang tengah memeluknya itu. Sophie masih mabuk dan menangis. Perlahan ia melepaskan pelukannya dan pandangannya terangkat menatap Cass.

Cass terdiam memandang wajah Sophie yang mengira dirinya adalah kekasihnya. Ia tampak kusut tapi tetap cantik. Gadis itu tidak seperti orang biasa, ia seperti gadis kaya dari keluarga terpandang. Entahlah, mungkin itu kesan pertama yang didapatkan oleh Cass.

“Sekarang di mana rumahmu?” tanya Cass langsung menyasar pada tujuannya. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan malah memegang kedua belah pipi Cass. Sontak Cass membesarkan matanya. Wajah gadis itu begitu dekat dengannya.

“Aku masih suci, Sayang. Aku menjaganya untukmu agar hanya kamu yang mendapatkannya yang pertama. Aku bersedia ... ayo kita lakukan sekarang! Aku tidak akan menolak lagi!” ajak Sophie sambil meneteskan air matanya. Cass makin bingung. Apa-apaan ini?

“Aaah ... tunggu dulu! aku rasa kamu salah sangka Nona! Aaahk!” Cass ditarik dan dijatuhkan ke atas ranjang dan gadis itu tiba-tiba menindihnya. Dengan mata terbelalak gadis itu makin mendekat dan mencumbu Cass.

Bab 3

Kecupan itu cukup manis dan dalam diberikan Sophie untuk Cass yang berada di bawah tindihannya. Ia masih mengira jika pria yang ia cumbu adalah kekasihnya yang bernama Collin.

“Uh, maaf ...” Cass melepaskan ciuman itu darinya. Namun, Cass tertegun saat menatap mata indah gadis yang sedang salah sangka padanya. Bola mata coklat itu seakan menarik Cass untuk tetap tinggal sementara waktu. Cass hanya diam saat gadis itu perlahan menidurkan sisi kepalanya di dada Cass dan memejamkan matanya.

“Temani aku malam ini ...” gumamnya pelan dan Cass mendengarnya. Gadis yang tidak ia kenal kini tidur di atas tubuhnya. Ada rasa kasihan yang terbersit di benak Cass kala gadis asing itu menyandarkan dirinya. Cass pun akhirnya hanya diam saja dipeluk Sophie di ranjang.

Setelah beberapa saat dan sepertinya Sophie telah tertidur, Cass pun perlahan menggeserkan posisi tubuhnya. Cass berusaha agar Sophie tidak terbangun sehingga begitu lembut, ia menggeserkan dirinya. Setelah lepas, Cass lalu memperbaiki posisi gadis itu agar ia lebih nyaman beristirahat.

“Huff, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bahkan tidak tahu siapa namanya. Dia tidak bawa identitas apa pun!” keluh Cass berdiri di samping ranjang dan mulai kebingungan. Tangannya beberapa kali mengusap kepala dan matanya sesekali mengarah pada gadis itu lagi.

“Ah, aku tinggalkan saja uang dan nomor telepon! Iya, begitu saja!” sahutnya kala terlintas sebuah ide sebagai solusi. Cass lalu mencari kertas untuk mencatat nomor ponselnya. Ia menempelkan kertas itu pada cap lampu di sebelah ranjang. Setidaknya jika gadis itu bangun nanti maka ia akan bisa menghubungi Cass untuk meminta tolong atau semacamnya.

Cass juga meletakkan sejumlah uang tunai yang bertujuan untuk membayarkan ongkos taksi si gadis jika dia ingin pulang. Terlebih Cass melihat tidak ada tas, dompet atau semacamnya pada sang gadis.

Meskipun sempat ragu tapi Cass harus segera pergi. Ia sudah punya janji dengan temannya yang bernama Divers di klub malam hotel yang sama.

“Ah nanti saja aku pikirkan!” ucap Cass sebelum ia keluar dari kamar meninggalkan Sophie.

Cass separuh berlari ke lift dan turun ke lantai sepuluh tempat di mana ia dan Divers telah berjanji akan bertemu. Divers ternyata sudah menunggu di salah satu sudut dekat klub malam itu cukup lama.

“Maaf ...” ucap Cass sedikit terengah.

“Jangan bilang jika kamu baru saja berkencan!” sungut Divers separuh mengambek. Cass terkekeh kecil dan merangkul sebelah pundak Divers untuk segera mengajaknya masuk ke dalam klub.

Malam berlalu dan pagi pun menjelang. Sophie yang tertidur sangat nyenyak di atas ranjang yang nyaman. Perlahan ia menggeliat beberapa kali sampai akhirnya membuka matanya.

Kepalanya begitu pusing dan berputar-putar. Sophie pun mengerang akibat kepalanya yang begitu pusing.

“Oh Tuhan ...” keluh Sophie memijat kepalanya. Perlahan ia bangun dari ranjang dan matanya mencoba melihat isi kamar meskipun dengan mata memicing.

“Uh, ini di mana?” Sophie masih sangat pusing dan bingung. Dengan kesal dan sikap mengambek, Sophie membuka selimut dan yang kemudian tak sengaja ujungnya mengibaskan lampu di sebelah ranjang. Kertas yang ditempelkan oleh Cass tadi malam lalu melayang jatuh ke dekat ranjang.

Sophie yang tidak menyadari apa-apa lalu berdiri dan berjalan terhuyung sambil memegang kepalanya. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan menarik gaunnya. Ia meraba-raba pakaian dalam hendak membukanya.

“Uh, celana dalamku ke mana?” tanya Sophie mulai kebingungan. Mata Sophie spontan terbelalak dan baru sadar jika celana dalamnya ternyata sudah hilang dan dia berada di dalam kamar hotel entah sejak kapan.

Sophie mulai panik dan langsung keluar kamar. Ia mulai berpikir yang aneh-aneh. Saat melihat sepatunya tergeletak di lantai dalam posisi seperti dilepaskan oleh seseorang lalu tak jauh di dekatnya ada barang yang paling ia cari yaitu celana dalam.

“Oh tidak!” pekik Sophie kaget. Ia berjongkok memungut celana dalamnya dan makin panik.

“Tidak mungkin! Tidak mungkin aku diperkosa! Tidak ...” ucap Sophie makin panik dengan keadaannya. Dengan polosnya, Sophie memeriksa permukaan ranjang dan tidak menemukan ada bercak darah atau bekas cairan tertentu yang mencurigakan.

“Syukurlah ... “ Sophie menarik napas lega dan berdiri dari ranjang. Ia lega karena ternyata dirinya baik-baik saja. Namun ketenangan belum datang menghampirinya. Di depannya tepatnya di atas meja rias, terdapat tumpukan uang tunai. Sophie dengan cepat meraih uang itu dan terperangah.

“500 dolar?” ucap Sophie memegang lima lembar uang seratus dolar yang diletakkan di atas meja tersebut. Sebelah tangan Sophie yang lainnya memegang celana dalam dan uang di sebelahnya.

Raut wajah Sophie langsung berubah horor dan membuang uang tersebut ke lantai karena rasa kagetnya.

“Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Mana mungkin seseorang bisa melakukan hal seperti ini! Aku sudah tidak perawan lagi ... tolong seseorang melecehkanku!” Sophie malah meringis sembari menangis panik tentang apa yang terjadi pada dirinya.

Sophie pun makin bingung dan panik. Ia berkeliling ke seluruh kamar dan tidak ada siapa pun kecuali dirinya. Sophie mengira jika pria yang melecehkannya pasti telah pergi lebih dahulu. Ia pun memakai pakaiannya kembali lalu masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Usai lebih segar dan sadar, Sophie buru-buru memakai sepatunya dan mulai mencari tasnya.

“Ke mana tasku, kenapa tidak ada!” pekiknya makin panik. Rasanya seperti ingin menangis. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa ayahnya akan murka jika mengetahui apa yang dilakukannya semalam.

Dalam kepanikan dan tidak menemukan tas apalagi ponsel, Sophie terpaksa memungut kembali uang 500 dolar yang sebelumnya dibuangnya. Ia keluar buru-buru dan harus mencari tasnya.

Sophie baru ingat jika ia pergi ke klub malam di hotel tersebut untuk minum-minum. Dia pun turun ke lantai sepuluh untuk kembali ke klub tersebut. Sayangnya klub sudah tutup dan tengah dibersihkan.

“Tolong, ada barangku yang tertinggal di dalam!” pinta Sophie pada penjaga yang menghalanginya. Sophie memohon dengan penampilan yang masih seksi tapi agak kusut dari semalam.

“Kalau begitu Anda harus melapor pada manajemen, Nona!” penjaga itu lalu membantu Sophie untuk menemui manajer untuk menjelaskan yang terjadi.

“Oh, jika untuk itu Anda harus menunggu tiga jam lagi setelah klub selesai di bersihkan. Jika ada barang yang tertinggal maka kami akan kembalikan,” ujar manajer itu menjelaskan pada Sophie.

“Apa! Tiga jam?!” sahut Sophie memekik keras dan kaget.

“Benar, Nona. Jadi sekitar pukul dua atau tiga siang. Kami harus memeriksa dulu sebelum dikembalikan!”

“Tapi aku tidak mungkin menunggu selama itu!? Aku sudah terlambat ke kantor!” pekik Sophie masih dengan wajah begitu cemas dan panik.

“Maaf aku tidak bisa membantu, Nona. Untuk saat ini klub tidak boleh dimasuki oleh siapa pun sampai proses pembersihan selesai dilakukan!”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED