Bab 1

“Hei, cantik! Kamu sendirian?” sapa salah satu pria mendekati seorang gadis. Si gadis tersenyum menggoda dan mengangguk lalu menggeleng kemudian tertawa. Si pria agak bingung tapi ikut tertawa. Si gadis sepertinya tengah mabuk.

Suara musik hip hop latin terus berdentum bersahutan memanjakan telinga. Seorang DJ yang memang menjadi bintang di klub malam tersebut terus memutar campuran hentak musik yang membuat seluruh pengunjung otomatis menggoyangkan pinggulnya.

“You’re so sexy girl, what does it take to get close to you? Girl I'm loving the things that you do ...” terdengar bunyi lirik lagu yang menjadi tembang utama musik yang tengah diputar. Seorang gadis cantik tengah meliukkan tubuhnya mengikuti irama yang mengiringinya.

“Sebenarnya aku bersama kekasihku tapi dia pergi dengan wanita lain ... ah, pria dimana-mana sama saja, iya kan?” sahut gadis itu dengan tingkah manja namun seksi.

Pakaiannya yang cukup terbuka membuat pemandangan kian sensual. Kulit mulus sedikit kecoklatan terbias sinar cahaya lampu klub malam yang berkerlap-kerlip. Beberapa pria mulai menatap liar ke arah gadis itu. Tarian sensualnya makin banyak mengudang para pria untuk mendekat.

Pria itu mendekat lalu merangkul untuk membawanya ke arah bar. Ia sempat menoleh ke belakang dan memberikan kode pada temannya di belakang.

“Siapa namamu, Cantik?” si pria mulai merayu lagi dengan berbisik padanya. Gadis itu tersenyum sekilas melenguh sambil memesan minuman pada bartender.

“Sophie ...” jawabnya agak genit. Tangan pria itu mulai menjalarkan rengkuhannya di pinggang Sophie. Sophie tampak tak peduli dan mengambil minumannya. Pria itu lantas merebut gelas wiski milik Sophie yang hampir mampir di bibir merah cherry miliknya.

“Tunggu dulu! Kamu sudah mabuk!” ujar pria itu memindahkan gelas itu ke arah samping tubuhnya. Sophie merengek manja dan makin tidak sadar dengan apa yang sedang ia lakukan.

“Berikan minumanku!” rengek Sophie pada pria baru yang bersamanya. Pria itu menyeringai jahat dan menggeserkan kembali gelasnya pada Sophie. Sementara itu seorang pria lain yang tadi mendekat di samping pria yang bersama Sophie berbalik pergi usai membubuhkan obat pada minuman yang digeser sebelumnya.

“Ini minumanmu, Sophie. Aku hanya ingin memastikan bahwa minumannya baik-baik saja,” jawabnya tidak masuk akal. Sophie hanya menyengir saja. Tentu saja dia tidak bisa berpikir lurus saat ini. Sophie sedang mabuk dan seseorang akan mengambil keuntungan darinya malam ini.

“Hmm ... sayang sekali kamu sendirian. Padahal kamu sangat cantik dan seksi ...” rayu pria itu mulai membelai pinggang Sophie sambil mencoba mencari kesempatan untuk menciumnya.

Sophie terkekeh tak jelas dan menggelengkan kepalanya. Ia menghindar dari kemungkinan ciuman kecelakaan yang disengaja oleh pria asing tersebut.

“Aku sudah bilang, aku tidak sendiri!” tegas Sophie dengan suara mulai berat.

“Lalu di mana kekasihmu?” Sophie merengek kesal dan memukul lengan pria itu seperti kesal tengah bercanda.

“Dia menikah dengan wanita lain. Oh, apa kamu tahu betapa hancurnya hatiku? Dia bilang dia akan menungguku, tapi dia malah berselingkuh dan menikah dengan wanita itu!” ujar Sophie panjang lebar malah bercerita tentang kehidupan cintanya.

“Oh ya? Jadi kamu sedang patah hati ya?” Sophie menoleh pada pria itu dan pandangannya kabur lalu kembali dan kabur lagi. Sophie mencoba menggelengkan cepat kepalanya tapi kesadaran itu tidak kembali. Pandangannya makin kabur dan berbayang.

“Aku rasa aku harus pulang ...” Sophie mencoba berbalik untuk pergi tetapi ia limbung dan tubuhnya ditangkap oleh pria yang bersamanya.

“Ayo aku antarkan!” tawar pria itu merangkul lekukan pinggang Sophie untuk merekat padanya. Sophie hampir tidak bisa berjalan lagi karena kepalanya sudah sangat pusing.

Pria itu memberi kode pada dua pria lainnya yang sudah siap di dekat pintu masuk klub. Salah satunya mengikuti Sophie tepat di belakangnya sementara yang satunya lagi agak sedikit menjauh untuk menjaga agar dua temannya bisa aman bergerak.

Mereka keluar dari klub dengan salah satunya memapah Sophie menuju lift yang akan membawa mereka ke hotel.

Setibanya di salah satu lantai, para pria itu memapah Sophie untuk di bawa ke salah satu kamar yang sudah mereka sewa sebelumnya. Sophie yang masih memiliki sedikit kesadaran lalu menolak salah satu pria yang mendekat hendak mencumbunya.

“Pergi! Siapa kamu?!” hardik Sophie dengan kepala makin berputar-putar. Rasanya ia seperti mau pingsan.

“Hei, jangan kasar, Sayang. Aku suka permainan lembut!” sindir si pria itu hendak membelai wajah Sophie. Sophie menepis tangannya dan dia terhuyung. Para pria itu tertawa seolah ada yang lucu.

Sementara di ujung koridor, Cassidy Belgenza keluar dari salah satu kamar dan ingin pergi ke klub di hotel tersebut. Ia tengah menginap satu malam untuk bekerja di kamarnya. Sekarang dia ingin bersenang-senang.

Baru melangkah beberapa langkah, Cass berhenti dan mengernyit heran. Seorang wanita terlihat mabuk dan tiga orang pria mencoba menggerayanginya. Salah satunya bahkan hendak membuka pintu kamar.

“Hei … apa yang kalian lakukan? Lepaskan wanita itu!” hardik Cass dengan sikap santai tidak takut.

“Jangan ikut campur! Dia kekasihku!” sahut pria yang sedang membuka pintu. Sophie sudah hampir pingsan dan akhirnya salah satu pria menangkap tubuhnya.

“Dia sudah pingsan, apa yang kalian lakukan? Apa kalian yang memberikan dia obat?” tuding Cass lagi. Tiga pria tadi mulai cemas dan makin tidak senang dengan kedatangan orang asing yang mengganggu mereka.

“Pergi dari sini! Jangan macam-macam!” tunjuk pria yang memegang Sophie. Cass mendengus kesal dan mendekat. Tangannya hendak meraih Sophie.

“Berikan dia padaku!” Cass menarik tangan Sophie namun sayangnya pria-pria yang memegang Sophie berontak. Mereka mencoba meringsek ke depan untuk memberikan tinju pada pria yang mengganggu mereka.

Cass berkelit dengan cepat dan malah balik memutar lengan pria itu dan menghempaskannya ke arah dinding. Sementara kakinya dengan cepat memberikan satu tendangan T ke arah kanan tepat di perut temannya. Cass memutar lagi dan mendorong pria yang ia cekal ke arah teman-temannya sampai mereka tersungkur ke depan.

Sophie sudah jatuh ke lantai berbaring menyamping dan mengerang pelan. Ia masih belum sadar tentang apa yang terjadi.

“Jika kalian macam-macam, aku akan memanggil Polisi. Kalian kira aku tidak tahu jika kalian ingin melecehkan dia?” tukas Cass menunjuk pada pria-pria itu. mereka mengerang kesakitan dan akhirnya memilih untuk meninggalkan Sophie. Mereka tidak ingin memperoleh masalah gara-gara tuduhan pelecehan.

Ketiganya berlari masuk kembali ke arah lift dan meninggalkan lantai tersebut. Sedangkan Cass kini ditinggalkan masalah baru.

“Uh, dasar sial! Kenapa jadi aku yang harus membereskan ini? aku kan tidak mengenalmu!” gerutu Cass melihat gadis seksi mabuk di depannya. Mau tidak mau Cass lalu menarik untuk memapah namun Sophie begitu mabuk dan tidak mau berjalan. Cass akhirnya menggendongnya dan menghela napas panjang.

Cass menoleh ke kiri dan kanan. Ia tengah berpikir harus seperti apa. Jika ia membawa gadis itu dengan keadaan mabuk digendong ke lobi pasti akan menarik banyak perhatian.

“Ahh ... liburan dan healing time ku kacau!” rutuk Cass yang akhirnya memutuskan kembali ke kamarnya saja.

Susah payah ia menunduk untuk menempelkan kartu di pintu kamarnya. Sementara Sophie malah seperti bergelantungan padanya.

Saat Cass sudah berhasil memasukkan gadis itu ke kamar, Sophie malah bangun dan berjalan sempoyongan. Di tengah kamar, Sophie menggesekkan kedua pahanya bersamaan dengan tangannya merogoh bagian dalam dari rok super pendek yang ketat di atas paha.

Di belakang Cass tercengang melihat yang terjadi. Seorang gadis yang tidak ia kenal tengah melorotkan celana dalamnya di depannya.

Bab 2

Cass sedikit terhuyung karena gadis yang ia gendong mulai menggerayanginya padahal ia tengah menggendong membawa masuk ke dalam kamar.

“Ugh ... jangan tarik aku!” gerutu Cass menghardik Sophie yang beberapa kali melenguh. Sampai akhirnya Cass berhasil membawa Sophie ke ranjang dan meletakkannya. Namun, karena Sophie terus bergerak Cass agak terpeleset dan jatuh bersama Sophie yang tertindih di bawahnya.

“Uh ...” Cass melenguh sambil menarik lengannya di bawah paha Sophie. Ia sedikit terengah dan ingin bangun tapi Sophie malah bergelayut padanya. Cass kembali menindih gadis itu dan ia pun berhenti. Wajah Sophie sedikit tertutup helai rambut Brunette yang sekilas tercium harum mawar.

Cass mencoba melepaskan rengkuhan lengan Sophie yang melilit pundaknya sambil menoleh ke arah lain. Wajah gadis asing itu sangat cantik dan sensual. Bulir-bulir keringat di garis rambut dan lehernya makin menggoda Cass untuk menyeka helai rambut demi bisa menikmati kulit indahnya.

“Ah, apa yang kupikirkan!” cetus Cass tak sengaja. Ia duduk di pinggir ranjang sementara Sophie sudah terlentang tak berdaya di atas ranjang. Rambut panjang Brunette bergelombangnya beberapa menutupi gundukan yang mencuat sempurna ke depan saat mata Cass sempat menangkap pemandangan itu.

“Huff ...” Cass pun tidak boleh terpancing dan harus netral. Sekarang ia harus bisa mencari identitas wanita itu atau apa pun yang membantunya mengembalikannya ke rumahnya.

“Coba aku lihat kamu bawa identitas atau tidak!” ucap Cass sembari matanya mencari-cari jikalau gadis itu membawa sesuatu bersamanya. Cass tidak berani menggeledah karena pastinya ia akan meraba seluruh lekuk tubuh gadis itu.

Sayangnya tidak terlihat adanya tas atau ponsel di tubuh gadis itu. Ia hanya polos saja tanpa mencantolkan barang apa pun di tubuhnya seperti tas. Cass kembali mengempaskan kedua lengannya ke udara dan berkacak pinggang.

“Lalu bagaimana aku harus menghubungi keluargamu?” tanya Cass pada Sophie yang masih tidur terlentang tak sadarkan diri.

“Apa kamu menyimpan ponsel di dalam bramu?” gumam Cass mencoba memajukan tubuhnya hendak mengintip. Cass tidak punya pilihan selain harus membangunkan gadis itu dan bertanya soal identitasnya.

Ia pun mendekat dan sedikit menggoyang tubuh gadis itu sebisanya. Cass tidak ingin dianggap melecehkan jika ia memegang sembarangan.

“Hei, ayo bangun! Siapa namamu? Aku harus mengantarkan kamu pulang. Di mana alamatmu?” tanya Cass sedikit mendorong tubuh gadis itu agar ia bangun lalu bicara.

Namun ternyata membangunkan orang mabuk itu tidak segampang kelihatannya. Gadis itu malah memiringkan posisi tidurnya dengan membelakangi Cass. Cass pun berdecap kesal. Ia kembali menggoyangkan lagi lengan Sophie.

“Hei, ayo bangun dulu! aku butuh nomor ponsel atau anggota keluargamu. Harus ada yang menjemputmu di sini!” tukas Cass lagi terus mencoba menggoyangkan lengan Sophie. Sophie yang merasa terganggu lalu menghardik kesal dan tiba-tiba bangun. Namun tentu saja ia masih sangat mabuk dan tidak sepenuhnya tahu apa yang terjadi.

“Aahhkkk ... mengganggu saja!” hardik Sophie judes pada Cass. Cass sampai kaget dan keheranan. Gadis itu malah bangun dan berjalan sempoyongan. Ia membuka pump heelsnya dan membuang begitu saja. Ia berjalan lagi ke tengah kamar dan mulai bertingkah aneh.

“Hei, apa yang mau kamu lakukan?” tegur Cass dengan membesarkan suaranya. Tapi Sophie tidak mendengar.

Sophie malah menggesekkan kedua pahanya bersamaan dengan tangannya merogoh bagian dalam dari rok super pendek yang ketat di atas paha.

Di belakangnya, Cass yang masih duduk di sisi ranjang tercengang melihat yang tengah terjadi. Seorang gadis yang tidak ia kenal tengah melorotkan celana dalamnya di depannya.

Mulut Cass makin terbuka lebar kala gadis itu melemparkan dalaman yang terkait pada salah satu kakinya itu, sehingga dalamannya mendarat entah ke mana. Dengan kaki telanjang terhuyung, Sophie berjalan ke kamar mandi lalu masuk lalu duduk di toiletnya.

Cass masih tercengang dan tidak sepenuhnya mengerti yang terjadi. Seumur hidupnya, Cass belum pernah bertemu dengan manusia ajaib seperti gadis ini.

“Apa itu?!” pekiknya keheranan. Lalu terdengar bunyi pintu di buka dan gadis itu pun keluar dari kamar mandi. Sophie berhenti di depan Cass dan telunjuknya terangkat pada Cass. Cass mulai diam memperhatikan, ada apa lagi ini?

“Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu meninggalkanku?” tukas Sophie dengan nada bergetar. Matanya langsung berair dan ia mulai sesenggukan. Perlahan Cass makin mengernyitkan keningnya menatap Sophie yang terlihat begitu sedih. Sophie duduk di sebelah Cass yang masih bingung memandangnya. Lalu ia mendekat dan memeluk Cass.

“Uh ... Nona ...”

“Aku sangat merindukanmu, Sayang. Mengapa kamu meninggalkanku?” lirih Sophie mendekap Cass yang tidak mengerti apa-apa. Ia mendekap erat Cass dan menangis di dadanya. Sementara Cass yang kebingungan sempat diam beberapa saat sebelum mencoba menenangkan.

“Uhm, Nona ... aku rasa kamu salah orang ...”

“Aku memang salah ... aku memang salah sudah mengambil tawaran pekerjaan itu. Harusnya aku tidak bertengkar denganmu dan pergi begitu saja!” balas Sophie merengek dan makin menangis. Cass jadi kebingungan. Jelas ini adalah sebuah kesalahpahaman.

“Nona ... tolong lepaskan aku dulu!” Cass mencoba mendorong pelan gadis yang bergelayut padanya.

“Aku tidak mau! Nanti kamu akan pergi lagi ...”

“Tapi ... tapi aku bukan pria yang kamu maksudkan!” tukas Cass menolak Sophie dan berusaha melepaskan pelukannya itu. Sophie masih terus memeluk erat tidak mau melepaskan sama sekali.

“Aku tidak mau!” sahutnya sambil terus menangis. Cass menghela napas panjang dan mulai kebingungan. Apa yang harus ia lakukan jika seperti ini?

“Begini saja, lepaskan aku dulu lalu kita bicara dan katakan padaku apa yang terjadi? Mungkin aku bisa membantumu.” Cass mencoba bernegosiasi dengan gadis yang tengah memeluknya itu. Sophie masih mabuk dan menangis. Perlahan ia melepaskan pelukannya dan pandangannya terangkat menatap Cass.

Cass terdiam memandang wajah Sophie yang mengira dirinya adalah kekasihnya. Ia tampak kusut tapi tetap cantik. Gadis itu tidak seperti orang biasa, ia seperti gadis kaya dari keluarga terpandang. Entahlah, mungkin itu kesan pertama yang didapatkan oleh Cass.

“Sekarang di mana rumahmu?” tanya Cass langsung menyasar pada tujuannya. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan malah memegang kedua belah pipi Cass. Sontak Cass membesarkan matanya. Wajah gadis itu begitu dekat dengannya.

“Aku masih suci, Sayang. Aku menjaganya untukmu agar hanya kamu yang mendapatkannya yang pertama. Aku bersedia ... ayo kita lakukan sekarang! Aku tidak akan menolak lagi!” ajak Sophie sambil meneteskan air matanya. Cass makin bingung. Apa-apaan ini?

“Aaah ... tunggu dulu! aku rasa kamu salah sangka Nona! Aaahk!” Cass ditarik dan dijatuhkan ke atas ranjang dan gadis itu tiba-tiba menindihnya. Dengan mata terbelalak gadis itu makin mendekat dan mencumbu Cass.

Bab 3

Kecupan itu cukup manis dan dalam diberikan Sophie untuk Cass yang berada di bawah tindihannya. Ia masih mengira jika pria yang ia cumbu adalah kekasihnya yang bernama Collin.

“Uh, maaf ...” Cass melepaskan ciuman itu darinya. Namun, Cass tertegun saat menatap mata indah gadis yang sedang salah sangka padanya. Bola mata coklat itu seakan menarik Cass untuk tetap tinggal sementara waktu. Cass hanya diam saat gadis itu perlahan menidurkan sisi kepalanya di dada Cass dan memejamkan matanya.

“Temani aku malam ini ...” gumamnya pelan dan Cass mendengarnya. Gadis yang tidak ia kenal kini tidur di atas tubuhnya. Ada rasa kasihan yang terbersit di benak Cass kala gadis asing itu menyandarkan dirinya. Cass pun akhirnya hanya diam saja dipeluk Sophie di ranjang.

Setelah beberapa saat dan sepertinya Sophie telah tertidur, Cass pun perlahan menggeserkan posisi tubuhnya. Cass berusaha agar Sophie tidak terbangun sehingga begitu lembut, ia menggeserkan dirinya. Setelah lepas, Cass lalu memperbaiki posisi gadis itu agar ia lebih nyaman beristirahat.

“Huff, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bahkan tidak tahu siapa namanya. Dia tidak bawa identitas apa pun!” keluh Cass berdiri di samping ranjang dan mulai kebingungan. Tangannya beberapa kali mengusap kepala dan matanya sesekali mengarah pada gadis itu lagi.

“Ah, aku tinggalkan saja uang dan nomor telepon! Iya, begitu saja!” sahutnya kala terlintas sebuah ide sebagai solusi. Cass lalu mencari kertas untuk mencatat nomor ponselnya. Ia menempelkan kertas itu pada cap lampu di sebelah ranjang. Setidaknya jika gadis itu bangun nanti maka ia akan bisa menghubungi Cass untuk meminta tolong atau semacamnya.

Cass juga meletakkan sejumlah uang tunai yang bertujuan untuk membayarkan ongkos taksi si gadis jika dia ingin pulang. Terlebih Cass melihat tidak ada tas, dompet atau semacamnya pada sang gadis.

Meskipun sempat ragu tapi Cass harus segera pergi. Ia sudah punya janji dengan temannya yang bernama Divers di klub malam hotel yang sama.

“Ah nanti saja aku pikirkan!” ucap Cass sebelum ia keluar dari kamar meninggalkan Sophie.

Cass separuh berlari ke lift dan turun ke lantai sepuluh tempat di mana ia dan Divers telah berjanji akan bertemu. Divers ternyata sudah menunggu di salah satu sudut dekat klub malam itu cukup lama.

“Maaf ...” ucap Cass sedikit terengah.

“Jangan bilang jika kamu baru saja berkencan!” sungut Divers separuh mengambek. Cass terkekeh kecil dan merangkul sebelah pundak Divers untuk segera mengajaknya masuk ke dalam klub.

Malam berlalu dan pagi pun menjelang. Sophie yang tertidur sangat nyenyak di atas ranjang yang nyaman. Perlahan ia menggeliat beberapa kali sampai akhirnya membuka matanya.

Kepalanya begitu pusing dan berputar-putar. Sophie pun mengerang akibat kepalanya yang begitu pusing.

“Oh Tuhan ...” keluh Sophie memijat kepalanya. Perlahan ia bangun dari ranjang dan matanya mencoba melihat isi kamar meskipun dengan mata memicing.

“Uh, ini di mana?” Sophie masih sangat pusing dan bingung. Dengan kesal dan sikap mengambek, Sophie membuka selimut dan yang kemudian tak sengaja ujungnya mengibaskan lampu di sebelah ranjang. Kertas yang ditempelkan oleh Cass tadi malam lalu melayang jatuh ke dekat ranjang.

Sophie yang tidak menyadari apa-apa lalu berdiri dan berjalan terhuyung sambil memegang kepalanya. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan menarik gaunnya. Ia meraba-raba pakaian dalam hendak membukanya.

“Uh, celana dalamku ke mana?” tanya Sophie mulai kebingungan. Mata Sophie spontan terbelalak dan baru sadar jika celana dalamnya ternyata sudah hilang dan dia berada di dalam kamar hotel entah sejak kapan.

Sophie mulai panik dan langsung keluar kamar. Ia mulai berpikir yang aneh-aneh. Saat melihat sepatunya tergeletak di lantai dalam posisi seperti dilepaskan oleh seseorang lalu tak jauh di dekatnya ada barang yang paling ia cari yaitu celana dalam.

“Oh tidak!” pekik Sophie kaget. Ia berjongkok memungut celana dalamnya dan makin panik.

“Tidak mungkin! Tidak mungkin aku diperkosa! Tidak ...” ucap Sophie makin panik dengan keadaannya. Dengan polosnya, Sophie memeriksa permukaan ranjang dan tidak menemukan ada bercak darah atau bekas cairan tertentu yang mencurigakan.

“Syukurlah ... “ Sophie menarik napas lega dan berdiri dari ranjang. Ia lega karena ternyata dirinya baik-baik saja. Namun ketenangan belum datang menghampirinya. Di depannya tepatnya di atas meja rias, terdapat tumpukan uang tunai. Sophie dengan cepat meraih uang itu dan terperangah.

“500 dolar?” ucap Sophie memegang lima lembar uang seratus dolar yang diletakkan di atas meja tersebut. Sebelah tangan Sophie yang lainnya memegang celana dalam dan uang di sebelahnya.

Raut wajah Sophie langsung berubah horor dan membuang uang tersebut ke lantai karena rasa kagetnya.

“Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Mana mungkin seseorang bisa melakukan hal seperti ini! Aku sudah tidak perawan lagi ... tolong seseorang melecehkanku!” Sophie malah meringis sembari menangis panik tentang apa yang terjadi pada dirinya.

Sophie pun makin bingung dan panik. Ia berkeliling ke seluruh kamar dan tidak ada siapa pun kecuali dirinya. Sophie mengira jika pria yang melecehkannya pasti telah pergi lebih dahulu. Ia pun memakai pakaiannya kembali lalu masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Usai lebih segar dan sadar, Sophie buru-buru memakai sepatunya dan mulai mencari tasnya.

“Ke mana tasku, kenapa tidak ada!” pekiknya makin panik. Rasanya seperti ingin menangis. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa ayahnya akan murka jika mengetahui apa yang dilakukannya semalam.

Dalam kepanikan dan tidak menemukan tas apalagi ponsel, Sophie terpaksa memungut kembali uang 500 dolar yang sebelumnya dibuangnya. Ia keluar buru-buru dan harus mencari tasnya.

Sophie baru ingat jika ia pergi ke klub malam di hotel tersebut untuk minum-minum. Dia pun turun ke lantai sepuluh untuk kembali ke klub tersebut. Sayangnya klub sudah tutup dan tengah dibersihkan.

“Tolong, ada barangku yang tertinggal di dalam!” pinta Sophie pada penjaga yang menghalanginya. Sophie memohon dengan penampilan yang masih seksi tapi agak kusut dari semalam.

“Kalau begitu Anda harus melapor pada manajemen, Nona!” penjaga itu lalu membantu Sophie untuk menemui manajer untuk menjelaskan yang terjadi.

“Oh, jika untuk itu Anda harus menunggu tiga jam lagi setelah klub selesai di bersihkan. Jika ada barang yang tertinggal maka kami akan kembalikan,” ujar manajer itu menjelaskan pada Sophie.

“Apa! Tiga jam?!” sahut Sophie memekik keras dan kaget.

“Benar, Nona. Jadi sekitar pukul dua atau tiga siang. Kami harus memeriksa dulu sebelum dikembalikan!”

“Tapi aku tidak mungkin menunggu selama itu!? Aku sudah terlambat ke kantor!” pekik Sophie masih dengan wajah begitu cemas dan panik.

“Maaf aku tidak bisa membantu, Nona. Untuk saat ini klub tidak boleh dimasuki oleh siapa pun sampai proses pembersihan selesai dilakukan!”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED