Mata bulat itu menatap lekat-lekat kertas putih berisi kumpulan soal latihan ujian masuk perguruan tinggi dengan dahi mengkerut. Pupil matanya bergerak lambat mengiringi gumaman otaknya saat membaca tiap kata dan angka-angka yang sudah familiar namun tak kunjung juga ia pahami. Seakan gerakan matanya tidak cukup untuk membuatnya fokus, kini telunjuk kanannya ikut bergerak menuntun fokus matanya agar mencerna baik-baik kalimat yang tertulis di sana.
“Apa masih belum menemukan titik permasalahannya?” , tanya pria di sebelahnya yang sejak tadi menatap gemas ingin mendaratkan sebuah jitakan kecil di atas dahi gadis di hadapannya.
Ia memangku dagu dengan tangan kirinya, mulai bosan menunggu sampai gadis ini menyelesaikan satu soal yang baru saja ia jelaskan untuk kedua kalinya lima menit yang lalu. Ini adalah pertama kalinya ia menghadapi murid yang langsung melupakan hal yang baru saja diajarkan, padahal sebelumnya mengaku sudah mengerti dan bisa mengerjakannya sendiri.
“Kau boleh bertanya.” , katanya lagi sebab tak kunjung mendapatkan balasan dari pertanyaan sebelumnya, sementara waktu mengajarnya hanya tersisa 15 menit lagi.
Gadis itu mengangkat kepalanya dengan ragu memberanikan untuk menatap pria di hadapannya yang sudah terlihat geram menunggu, “Aku hanya akan menanyakan tentang variabel x kuadrat ini. Sungguh! Aku bukannya lupa bagaimana cara menyederhanakannya.. Hanya saja..”
“Hmm?”
Gadis itu mengulum bibirnya dan menatap pria di hadapan nya selama beberapa detik. Ia menurunkan bahunya dan menggeser selembar kertas itu mendekat ke hadapan pria yang merupakan tutor bimbingan belajarnya.
“Ini. Tadi sebelumnya bapak bilang jika ada variabel yang sama maka harus disederhanakan dengan sistem eliminasi. Lalu x kuadrat dengan x itu variabel yang sama atau berbeda? Itu saja.”
Pria dengan kacamata persegi yang menutupi mata coklatnya itu sama sekali tidak menatap kertas soal yang disodorkan. Ia hanya memperhatikan garis wajah gadis di hadapannya dengan tatapan datar, berusaha menutupi keinginannya untuk membuka kepala isi kepala gadis itu dengan otak monyet peliharaan milik pamannya. Rasanya monyet yang biasa dipanggil Otan itu lebih pintar dibandingkan manusia di depannya ini.
“Menurutmu?”
“… sama?” , kata gadis itu ragu.
Tanpa diduga, pria itu mengangkat tangan kanannya yang masih memegang pensil dan mengetukkan pensil tersebut pada dahi gadis itu pelan, “Itu kau sudah tahu. Apa kau tahu apa masalah yang ada pada dirimu? Kau ragu. Kau selalu meragukan dirimu, Hanifa.”
“Tidak selalu,” , elak gadis yang biasa dipanggil Hanifa itu, “Aku hanya begitu dalam matematika saja.” , katanya sambil menarik kembali kertas soalnya dan mulai mengerjakannya.
“Cih.”
Suasana pun kembali tenang. Hanya terdengar suara halus dari pendingin ruangan yang ada di dalam kamar mewah itu. Meskipun barang-barang yang ada di sana bukan berlapis emas ataupun permata, dari bentuk dan warnanya saja sudah bisa terlihat bahwa itu semua bukan barang murahan dan mudah didapatkan. Namun interior kamar maupun rumah ini tidak menarik perhatian pria dengan kemeja abu-abu bergaris tipis lengan pendek itu, seakan-akan ia sudah terbiasa dengan semua hal ini.
Pria itu menarik kepalanya dan melirik jam tua yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktunya sudah hampir habis tetapi Hanifa masih juga belum kunjung selesai mengerjakan sepuluh soal dengan jenis soal yang sama. Hal itu membuatnya merebahkan punggung lelahnya di kursi kayu seraya menghela nafas berat.
“Kau sudah selesai?”
“Sebentar! Hanya tersisa 1 soal lagi!” , tukas Hanifa tidak mengalihkan pandangannya dan juga gerak tangannya yang berusaha menulis secepat yang ia bisa.
“Nah, sudah!” , katanya bersemangat dan langsung meletakan kertas di tangannya tepat ke hadapan tutornya yang dingin itu.
Seringai senyum penuh kemenangan terlukis jelas di wajah Hanifa, “Ingat, kau sudah berjanji akan membelikanku boba jika kali ini jawabanku benar semua.”
“Tsk, kau ini orang kaya, nona, tetapi masih mau memeras orang kecil sepertiku.” , balas sang tutor menggelengkan kepalanya.
“Kau juga orang kaya, pak.” , kata Hanifa ganti ia yang memangku dagunya.
“Apa maksudmu?”
Hanifa menunujukkan sedikit senyumnya,“Terlihat jelas dari jam tangan yang bapak pakai. Itu jam limited edition buatan Belgia, kan? Ayahku juga punya 1 yang seperti itu.”
Ujung bibir pria itu tertarik sedikit membentuk sebuah senyum kecil di wajahnya, “Oh begitu.”
Pria di hadapannya, Saka, adalah tutor bimbingan belajar Hanifa sejak 6 bulan silam, tepatnya setelah seminggu Hanifa ikut tinggal bersama dengan ibunya. Tidak seperti penampilannya yang sederhana dan terlihat kikuk, tutornya itu adalah seorang dosen di salah satu universitas ternama yang tidak pernah diberitahukan olehnya meskipun sudah ratusan kali bertanya.
Terlambat untuk Hanifa bertanya pada ibunya, sebab di awal sebelum keduanya berjabat tangan tanda Saka sepakat untuk menjadi tutor Hanifa, Saka mengajukan persyaratan untuk tidak memberitahukan di universitas mana ia mengajar dan ibu Hanifa sepakat dengan syarat yang sama sekali tidak sulit itu.
Hanifa adalah remaja dewasa yang sudah 2 kali gagal dalam ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Meskipun ia tidak memiliki gen jenius dari keluarganya, tetapi yang dilakukan Hanifa adalah prestasi terburuk yang pernah tercatat dalam sejarah keluarga besarnya. Hal itu pun tak ayal menjadi buah bicara juga candaan saudara-saudaranya yang lain tiap kali ada pertemuan keluarga.
Beruntungnya Hanifa adalah anak yang keras kepala dan sulit untuk mendengarkan perkataan orang lain, sehingga semua cemoohan itu hanya masuk melalui telinga kanannya dan kembali keluar dari telinga kanannya, tidak keluar dari telinga kirinya yang berarti semua perkataan buruk itu sama sekali tidak singgah ataupun melintasi pikirannya.
Sifat keras kepalanya itu ia dapatkan dari ibunya yang merupakan wanita independen. Terbukti, di umurnya yang sudah menginjak kepala empat ini ibunya masih aktif mengurus perusahaan kosmetiknya tanpa bantuan suami karena sudah bercerai sejak Hanifa masih duduk di sekolah menengah pertama tahun akhir. Dari perceraian itu ayahnya mendapatkan hak asuh Hanifa sampai akhirnya 6 bulan yang lalu sang ibu mengambil alih kembali haknya dalam hal mengasuh Hanifa.
Tetapi ibunya mengambil Hanifa bukannya tanpa alasan, ia ingin Hanifa melanjutkan estafet nya dalam memimpin dan mengurus perusahaan miliknya. Itu sebabnya ia bersikukuh ingin Hanifa masuk jurusan akuntansi sebelum benar-benar berkecimpung dalam dunia bisnis yang sesungguhnya. Namun, visi dan realita yang terjadi sedikit bertentangan. Hal itulah yang membuatnya menyewa salah satu tutor termahal yang ada di kota untuk membimbing Hanifa dan menuntut untuk berhasil lolos ujian masuk tahun besok.
Di bulan-bulan awal fokus Hanifa tepat berada di jalur seperti yang ibunya inginkan, tetapi sejak tiga bulan ini perhatian Hanifa sudah terbagi. Performanya sedikit menurun meskipun pada akhirnya Hanifa tetap bisa menyelesaikan semua soal-soal latihan yang diberikan oleh Saka. Sama seperti yang terjadi hari ini. Materi tentang aljabar yang sudah pernah dipelajari dua bulan sebelumnya, masih belum berada di luar kepalanya.
“Kau tahu kita pernah membahas tentang ini dua bulan yang lalu, kan? Tetapi sepertinya kau sudah hampir lupa semuanya, hm?” , komentar Saka mengalihkan perhatiannya dari kertas setelah menorehkan nilai A dan juga tanda tangan serta tanggal hari ini, menatap Hanifa yang masih memangku dagu tepat di hadapannya.
“Sepertinya begitu.” , balas Hanifa tidak berniat untuk mengelak.
“Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini?” , tanya Saka menyatukan kedua tangannya membentuk segitiga di depan mulutnya.
Hanifa merubah posisinya mengikuti Saka, “Apa bapak mau membantu menyingkirkan beban pikiranku jika aku memberitahumu?”
“Tergantung. Jika aku bisa, maka aku akan membantumu.”
Hanifa diam sejenak, “Sebenarnya hanya bapak saja yang bisa membantuku.” , katanya setelah berdebat singkat dengan diri yang lain dalam pikirannya.
Tentu saja pernyataan itu membuat Saka bingung dan satu alisnya terangkat naik,“Bagaimana bisa begitu? Apa aku yang menjadi beban pikiranmu?”
Hanifa tersenyum geli melihat respon tutornya yang benar-benar kaku dan terlihat membosankan baginya itu, “Tidak. Tetapi benar hanya bapak yang bisa membantuku.”
Mendengar kesungguhan murid yang paling menguji kesabarannya itu, Saka memutuskan untuk tinggal beberapa menit lagi untuk mendengarkan meskipun waktu mengajarnya telah usai.
Saka menarik punggungnya menjadi bersandar pada punggung kursi yang ia duduki, “Baiklah, katakan padaku.”
Seakan-akan terhipnotis dengan gerakan Saka, Hanifa pun mengubah posisinya dengan menurunkan kedua tangannya, “Menikahlah denganku, Pak!”
Hening. Selama beberapa detik setelah Hanifa melontarkan sebuah kalimat yang tidak pernah Saka duga sebelumnya. Dua ekor burung gagak yang melintasi langit oranye di luar pun mengeluarkan suara kikuknya menambah kesan canggung di antara mereka.
“Apa?” , tanya Saka tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Siaran ulang. Sejak kecil Hanifa tidak pernah menyukai siaran ulang. Baik itu acara di televisi ataupun saat ia sedang mengatakan sesuatu. Ia benci ketika harus mengulangi perkataan yang baru saja ia katakan, terlebih lagi pembicaraan yang mempertaruhkan harga dirinya ini.
Hanifa mengulum bibirnya dan memejamkan matanya sejenak untuk meredakan rasa kesalnya selama beberapa detik sebelum kembali menunjukan senyum ramah yang ia paksakan.
“Menikahlah denganku. Aku meminta bapak untuk menikah denganku. Aku berjanji tidak akan menjadi istri yang merepotkan. Bagaimana?”
“Kau bercanda?”
“Apa wajahku terlihat seperti seseorang yang sedang melucu?”
“Iya.”
Sial. Gerutu Hanifa dalam hati. Sepintas, terlihat jelas kilatan listrik kekesalan pada wajahnya.
“Aku serius, Pak. Menikahlah denganku. Aku membutuhkanmu!”
“Hmm, bagaimana aku harus mengatakannya padamu, ya..” , balas Saka berpura-pura mempertimbangkan kembali tawaran dari Hanifa.
“Kenapa? Apa aku kurang cantik? Apa aku bukan tipe idealmu?”
Saka menepuk kedua pahanya kompak dengan kedua tangannya dan beranjak berdiri dari kursinya, “Yah, itu salah satunya. Tetapi hal lainnya,”
Gerak mata dan wajah Hanifa pun bergerak perlahan, tidak ingin melepaskan pandangannya dari wajah Saka, menanti jawaban dengan gugup.
Hanifa tidak memperhatikan gerak tangan kanan Saka yang mengusap-usap jari tangan kirinya.
Selanjutnya, Saka pun mengangkat tangan kirinya menampilkan dengan jelas sebuah cincin mengkilap sudah melingkar di jari manisnya, “Aku sudah bertunangan.”
Tiba-tiba saja terdengar petir di luar padahal langit berwarna oranye cerah. Saka sampai bergidik mendengarnya, sementara Hanifa masih mematung di tempatnya, tidak goyah sedikitpun seakan petir itu adalah ulahnya.
“Aku sudah bertunangan.”
Ada hal yang lebih memukul diri Hanifa dibandingkan suara petir dadakan tadi, yaitu penolakan yang baru saja ia terima. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya, Hanifa mengajak seseorang untuk menikah dengannya. Meskipun sudah terpikirkan sebelumnya bahwa ada banyak sekali kemungkinan dirinya akan ditolak dibandingkan kemungkinan dirinya akan diterima, Hanifa yang memang memiliki sifat ambisius sejak dulu, lebih memfokuskan dirinya pada harapan besar yang ia miliki dibandingkan fakta yang ada.
“Maaf ya, aku menolak lamaranmu. Tetapi mau bagaimana lagi. Ah, mungkin jika lamaranmu datang tiga tahun lebih awal, bapak akan mempertimbangkan kembali tawaranmu.” , ujar Saka dengan senyum tanpa dosa, meskipun niat dalam hatinya jelas sekali ingin mengolok-olok Hanifa yang sudah lancang sekali berbicara seperti itu pada gurunya sendiri.
Hanifa mempoutkan bibirnya sebal, “Kalau begitu apa bapak bisa berpura-pura menikah denganku? Aku hanya butuh status menikah dengan bapak, itu saja.” , rengek Hanifa dengan tatapan meminta belas kasihan.
Saka menepuk dahinya begitu mendengar kekonyolan lainnya yang keluar dari mulut Hanifa, “Berapa sih umurmu tahun ini? Bagaimana mungkin menikah hanya untuk mendapatkan status saja, kau ini. Berhentilah berangan-angan, lebih baik belajar dengan giat dan dapatkan nilai sempurna. Apa kau tahu, latihan tadi kau menjawab sepuluh soal saja butuh waktu satu jam lamanya?” , katanya sambil membereskan barang-barangnya, bersiap untuk pulang.
“Apa jika aku belajar dengan giat dan mendapat nilai sempurna, bapak akan mau menikah denganku?” , tanya Hanifa tidak ingin menyerah sampai ia mendapatkan kesepakatan yang diinginkan.
Ini adalah pertama kalinya bagi Saka mempunyai murid yang begitu keras kepala dan berani seperti Hanifa. Tidak dapat terbayangkan olehnya jika ia memiliki lima murid seperti Hanifa, mungkin sudah lama ia pensiun dari profesinya sekarang ini dan mencari pekerjaan lain atau mungkin melanjutkan kembali program studinya ke jenjang yang lebih tinggi.
“Tidak. Itu tidak akan mengubah jawabanku, Hanifa.” , kata Saka menekankan kata-katanya di akhir kalimat, “Aku tetap tidak akan menikah denganmu bahkan jika kau mendapatkan penghargaan Nobel. Karena apa? Karena aku sudah bertunangan. Kau mengerti arti kata bertunangan, kan?”
Hanifa menurunkan bahunya lesu dan tidak menjawab Saka lagi. Ia sadar ini adalah waktu untuknya berhenti memohon.
“Sudah, lupakan pikiran untuk menikah denganku. Lebih baik sekarang kau fokus dengan pelajaranmu. Ingat, waktumu hanya tersisa enam bulan lagi.” , ancam Saka dengan senyum yang dipaksakan.
“Aku pergi dulu. Pastikan kau sudah menguasai materi hari ini. Aku akan datang lagi besok siang.” , katanya lagi sebelum berbalik pergi.
“Tsk, tapi aku harus menikah denganmu.” , keluh Hanifa pelan sambil menatap sebal punggung Saka yang bergerak menjauh darinya.
Tanpa Hanifa ketahui, kalimatnya masih mengiang-ngiang dalam kepala Saka dan membuatnya menggeleng-geleng dengan senyum geli di wajahnya. Hari ini benar-benar berbeda dengan hari-harinya yang lalu sejak pagi tadi di mana ia kejatuhan mangga saat sedang melihat perkembangan tanaman hias yang ia tanam di pekarangan sekolah. Dan siapa yang menyangka, pada sore harinya ia akan mendapatkan lamaran dari salah satu muridnya.
“Kalau begitu bisakah bapak putus dengan tunangan bapak dan menikah denganku saja?!” , ujar Hanifa dengan suara lantang mengejutkan Saka yang baru saja membuka pintu kamar.
Saka menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Hanifa dengan wajah serius, tanda perkataan Hanifa barusan sudah kelewatan.
Hanifa tentu bisa melihat peringatan yang Saka berikan dari kilatan mata yang tengah menatapnya tajam itu. Buru-buru Hanifa bangun dari kursinya, bergegas mendorong Saka keluar dari kamarnya, dan tak lupa memberikan bungkukan hormat sebelum menutup pintu kamarnya.
“Dia ini benar-benar..” , gumam Saka tidak habis pikir dengan anak muridnya yang satu itu.
“Cih, sombong sekali dia ini.” , gerutu Hanifa, “Jika bukan karena keadaan, tidak sudi sekali aku memohon-mohon agar dia mau menikah denganku.”
“Yah benar, aku terlalu sempurna untuk dimiliki siapapun.” , komentarnya lagi. Kepercayaan dirinya sudah kembali.
Baru saja keluar dari rumah yang sudah seperti istana itu, sebuah mobil sedan hitam mengkilap langsung melaju menghalangi jalan Saka. Itu adalah salah satu dari dua supir pribadi yang dimiliki oleh ibunya Hanifa. Supir yang satu ini memang dikhususkan untuk mengantar dan menjemput ke mana pun Hanifa pergi.
Kaca mobil bagian depan yang tepat berada di samping kursi kemudi terbuka perlahan dengan begitu halus menampakkan sosok wajah pria muda yang usianya tidak terpaut jauh dengan Saka.
“Biar saya antar, pak. Nyonya menyuruhku untuk mengantarmu, dan kali ini saya mohon terima saja tawarannya, sebab nyonya mengancam akan menggantiku dengan orang lain jika bapak menolak tawaranku lagi.”, katanya dengan tatapan memohon.
Biasanya Saka memang selalu menolak tawaran itu karena tidak ingin diketahui oleh orang lain ke mana tujuannya pergi setelah dari sini, tetapi mendengar apa yang terjadi, membuat Saka harus mengalah kali ini. Tentu ia tidak ingin orang lain kehilangan mata pencahariannya hanya karena ego sesaatnya.
“Baiklah. Aku akan menerima kebaikanmu kali ini.” , balas Saka, tak lupa diiringi dengan senyum ramah.
Jawaban yang keluar dari mulut Saka benar-benar membuat raut wajah pria muda dengan setelan kemeja hitam itu berseri, “Terima kasih. Aku akan memberikanmu perjalanan yang damai.”, katanya.
“Haha, tidak perlu. Santai saja.”
Sepanjang perjalanan, Saka sibuk membalas pesan-pesan yang belum sempat ia balas saat mengajar Hanifa tadi. Pekerjaan sebagai dosen juga membuatnya sibuk untuk mendampingi beberapa mahasiswa dalam menyusun skripsi. Kesibukan dari tiap mahasiswa yang berbeda-beda, terkadang menuntut Saka untuk bisa konsultasi meskipun pada jam-jam yang tidak masuk akal seperti saat dini hari.
Saka adalah salah satu dosen langka yang mau memikirkan perasaan dan usaha dari para mahasiswa yang berjuang mati-matian untuk membuat dan merevisi skripsi mereka. Tidak seperti beberapa dosen lainnya yang menanggapi mahasiswanya dengan sesuka hati mereka, Saka akan berusaha untuk ‘selalu ada’ kapanpun para mahasiswanya membutuhkan bantuan dirinya.
Supir yang menyetir dengan damai karena jalanan lancar hari ini, mengintip Saka yang duduk di kursi penumpang di belakangnya melalui spion yang tepat berada di atas dashboard mobil. Ia tersenyum melihat bagaimana Saka terlihat begitu serius melihat ponsel di tangannya.
“Sepertinya bapak sibuk sekali hari ini, ya?” , tanya supir itu mencoba untuk membuat suara di dalam mobil.
“Hm? Oh iya. Aku baru sempat membalas pesan dari anak-anak.” , jawab Saka mendengarkan sepenuhnya pertanyaan yang supir itu lontarkan meskipun pandangan dan tangannya tidak beralih dari ponselnya sedikitpun.
“Apa kau sudah menikah?”, tanya pria di kursi kemudi mulai menyelidik saat melihat kilau cahaya yang terpantul dari cincin perak yang dikenakan oleh Saka.
Ini adalah alasan lain mengapa Saka tidak ingin menerima tawaran untuk di antar. Wawancara spontan yang tidak ada kesepakatan sebelumnya, ditambah lagi semua pertanyaan yang sudah bisa diprediksi akan semakin lama akan semakin sensitif.
Saka tersenyum kecil, “Belum, Mas.”
“Ooh, saya kira itu cincin nikah.”
Jari-jari tangan Saka berhenti bergerak dan ia mengangkat sedikit tangan kirinya untuk melihat cincin yang dimaksudkan oleh sang supir, “Tidak. Ini cincin pertunangan kami.”, katanya dengan senyum hangat menatap lekat cincin tersebut.
Setelah 10 menit mereka melaju di jalanan besar, Saka meminta untuk diturunkan di salah satu tempat pemberhentian bus dengan alasan ada tempat yang harus ia kunjungi. Pada awalnya sang supir agak memaksa untuk mengantar sampai tempat tujuan, tetapi dengan sedikit bumbu keras kepala, akhirnya Saka diturunkan di pemberhentian bus.
Tepat setelah sedan hitam itu berlalu pergi, sebuah bus besar berwarna merah terang datang, dan Saka masuk ke dalamnya bersama dengan beberapa orang lainnya. Sepanjang perjalanan di dalam bus, Saka dengan sengaja menyumpal telinganya dengan headset yang ia bawa dan lebih memilih untuk mengisolasikan dirinya pada musik orkestra yang terputar pada ponselnya dibandingkan memperhatikan keadaan sekitarnya.
Setelah kurang lebih empat puluh menit lamanya bus melaju, Saka turun bersama dengan penumpang lainnya. Kemudian ia kembali berjalan kaki untuk meneruskan perjalanannya dan berhenti saat melihat toko bunga. Ia melepas headsetnya dan memutuskan untuk masuk ke dalam. Suara lonceng klasik terdengar saat Saka mendorong pintu kaca tersebut dan tak berselang lama ia sudah membawa satu buket bunga Aster berwarna ungu dan juga merah yang cerah. Saka menatap buket bunga di tangannya sambil tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanannya.
Destinasinya bukanlah rumah atau apartemen tempat tinggalnya, melainkan rumah sakit yang sudah sangat familiar baginya sejak setahun yang lalu. Sampai-sampai perawat-perawat dan juga beberapa dokter yang bekerja di sana sudah mengenal Saka.
“Kali ini bunga Aster, pak guru?” , tanya salah seorang perawat yang bertugas di meja administrasi dengan ramah. Ia menjadi orang pertama yang menyapa Saka setibanya Saka di rumah sakit.
Saka balas tersenyum padanya, “Iya, aku harap yang satu ini tidak akan membuatnya alergi lagi. Apa dia ada di kamarnya?”
Perawat itu mengangguk, “Tentu saja. Memangnya mau di mana lagi? Kkk.”
Saka terkekeh menanggapi jawaban ramah dari perawat yang merupakan perawat tertua di rumah sakit ini. Satu hal yang membuat Saka salut dari perawat tadi adalah sikapnya yang begitu ramah dan hangat, membuat siapapun merasa nyaman dan senang berbicara padanya, padahal umurnya tidak lagi muda seperti perawat-perawat lainnya yang justru terkadang bersikap kaku.
Pintu berwarna krem itu digeser dan langsung menampilkan seorang wanita tengah terduduk di atas tempat tidurnya, menonton televisi dengan suara kecil. Badannya kurus kecil sehingga membuatnya tenggelam dalam baju rumah sakit. Kepalanya mengenakan topi beanie untuk menutupi kepalanya yang kini sudah tidak ada rambut lagi yang tersisa karena kemoterapi yang ia jalani selama satu tahun terakhir ini.
“Hai, sayang~” , sapa Saka ramah dan mendapatkan sambutan senyum hangat dari kekasihnya itu.
Wanita tersebut langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar meminta sebuah pelukan dan Saka langsung menyambutnya dengan senang hati. Ia memeluk kekasihnya itu hati-hati agar tidak menyakitinya dan mengusap-usap punggungnya lembut.
“Bagaimana dengan harimu hari ini?” , tanya sang wanita dengan tak sabar menanti cerita menyenangkan tentang kejadian di sekolah hari ini dari Saka.
Pria berkacamata di hadapannya memberikan buket bunga yang ia beli saat di perjalanan tadi dan menarik tempat duduk yang ada agar lebih dekat pada ranjang tempat tidur pasien.
“Biasa-biasa saja. Bagaimana denganmu, bu Vina? Apa kau memuntahkan makananmu lagi hari ini?” , tanya Saka lebih ingin mengetahui keadaan kekasihnya itu. Lebih tepatnya ia menanti kabar baik dari setiap kabar yang wanita itu katakan padanya.
Wanita yang akrab disapa Vina itu mengangguk dengan ragu. Ia tahu hari ini ia lagi-lagi memberikan jawaban yang kurang menyenangkan, sama seperti beberapa hari yang lalu. Saka berusaha keras untuk tersenyum, meskipun hatinya terluka melihat kondisi kekasihnya yang tengah berjuang keras melawan kanker kelenjar getah bening. Ia mendapatkan penyakit ganas itu dari ayahnya yang sudah lebih dulu kembali pada Yang Maha Kuasa karena penyakit ini. Dan kini ia sendiri yang harus merasakan perjuangan yang sama dengan yang ayahnya lalui dulu.