Bab 1

Sebuah pesan masuk ke ponsel Stella Russell, menampilkan serangkaian foto. Pakaian yang berserakan di lantai, dua tubuh yang saling terjerat, seprai kusut, dan bayangan samar di cermin yang berembun ....

Stella sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Ini bukan hal baru baginya.

Hanya melihat sekilas pada tangan besar yang mencengkeram pergelangan tangan wanita di foto itu, Stella langsung mengetahui bahwa itu adalah tangan Marc Walsh, suaminya, pria yang telah menikahinya selama 4 tahun.

Matanya menangkap tanggal di foto-foto itu dan perutnya seketika terasa mual. Tanggal itu adalah hari ulang tahun pernikahan mereka.

Marc berjanji akan merayakan hari yang istimewa itu dengan menghabiskan malam bersamanya, tapi pria itu malah menghilang selama 3 hari. Stella hanya menerima pesan dari asisten Marc yang mengatakan bahwa suaminya tiba-tiba ada urusan mendesak.

"Urusan mendesak?" ucap Stella sambil tertawa sinis. Urusan mendesak itu ternyata berada di atas ranjang wanita lain. Dia menutup pesan itu, lalu menelepon seseorang dari daftar kontaknya.

Panggilan telepon itu langsung terhubung.

"Stella," sapa sebuah suara di seberang.

"Aku sudah membuat keputusan tentang proyek penelitian rahasia itu," ucap Stella dengan tenang.

"Siapa kandidatnya?" tanya orang itu.

"Aku sendiri."

Keheningan yang mencekam menggantung di ujung telepon sebelum terdengar suara yang tajam dan tegas, "Jangan bercanda, Stella. Kamu tahu apa artinya ini! Begitu kamu terlibat dalam proyek penelitian rahasia itu, tidak ada jalan untuk kembali. Tidak ada lagi kontak dengan dunia luar, tidak ada lagi hubungan pribadi. Begitu kamu menjadi bagian dari tim proyek, kamu akan dinyatakan hilang dan semua masa lalumu akan dihapus. Kamu akan mendapatkan identitas baru. Jadi, pikirkan baik-baik, apa kamu benar-benar siap meninggalkan keluargamu? Meninggalkan Marc?"

Pandangan Stella jatuh pada bingkai foto pernikahan mereka yang tergantung di dekatnya.

Setiap kali melihat senyum yang merekah di foto itu, kehangatan memenuhi hatinya, tapi sekarang, itu hanya menyisakan rasa nyeri di hatinya.

Janji-janji Marc, yang dulu terdengar begitu manis, kini terasa dingin dan hampa.

Dia berkata dengan yakin, "Keputusanku sudah bulat. Besok aku akan datang untuk mengisi formulirnya."

Dia langsung menutup panggilan telepon sebelum orang di seberang sempat bersuara lagi. Dia tidak mau mendengar lebih banyak. Tekadnya sudah bulat.

Tepat pada saat ini, suara rem yang berderit terdengar dari lantai bawah. Tidak lama kemudian, Marc melangkah masuk. Pria bertubuh tinggi dan tegap itu melepas jasnya dan menggantungnya di gantungan dengan santai sebelum melonggarkan dasi hitamnya dan bergegas menuju kamar mandi.

Jas itu masih menyisakan aroma parfum FIRE2, parfum wanita terbaru dari Vlexoot yang memiliki aroma yang berani dan menggoda. Hal ini berbeda dengan Stella, yang biasa-biasa saja dan tidak menarik.

Beberapa menit kemudian, Marc keluar dari kamar mandi dalam balutan jubah handuk berwarna abu-abu, bulir-bulir air masih menempel di sekujur kulitnya.

Jubah itu terpasang longgar, memperlihatkan dada dan perutnya yang bidang. Rambutnya yang masih basah menutupi sebagian wajahnya dan uap air memperdalam intensitas di matanya yang dingin.

Sebagai pewaris Keluarga Walsh yang berkuasa, Marc memiliki segalanya, dari penampilan, status, dan kekayaan.

Dulu, semua hal itu berhasil meluluhkan hati Stella. Sekarang, semua itu hanya membuatnya muak.

"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Marc sambil terkekeh sebelum melingkarkan lengannya di pinggang Stella. Suaranya terdengar rendah dan menggoda saat dia melanjutkan, "Apa kamu merindukanku, sayang?"

Tangannya mulai menjelajahi sisi tubuh Stella, tapi sentuhannya justru membuat kulit wanita itu merinding dan buru-buru menarik diri.

Tangan Marc membeku di udara, alisnya sedikit berkerut saat dia bertanya, "Kenapa? Apa kamu marah padaku?"

Berusaha menenangkan diri, Stella menarik napas dalam-dalam. Dia tidak mau membuang tenaga untuk bertengkar.

Sambil menahan rasa sakit di hatinya, dia membungkuk dan mengambil sebuah kotak terkunci dari laci, lalu menyerahkannya pada Marc sambil berkata, "Ini hadiah untukmu."

Di dalam kotak itu terdapat surat cerai yang sudah dia tanda tangani. Itu merupakan hadiah terakhir darinya untuk Marc. "Kamu harus menebak kata sandinya untuk membukanya," ucapnya dengan nada datar.

Mengira ini hanyalah salah satu permainan aneh Stella, Marc meliriknya sekilas sebelum melempar kotak itu ke atas meja. Kemudian, dia menarik Stella lagi dan menyandarkan dagunya di bahu wanita itu sambil berkata, "Kamulah satu-satunya hadiah yang aku inginkan."

Tubuh Stella menegang tanpa sadar. Menyadari hal ini, Marc tertawa kecil.

"Apa kamu masih marah karena aku melewatkan hari ulang tahun pernikahan kita? Pekerjaanku menumpuk, jadi aku tidak bisa merayakannya bersamamu," ucapnya sambil mendaratkan kecupan di pipi Stella.

Kemudian, dia melepaskan pelukannya, mengambil sebuah kotak kecil dari saku mantelnya, dan menyodorkannya di hadapan Stella.

"Apa kamu menyukainya?"

Di dalam kotak tersebut ada sebuah jepit rambut berlapis emas yang elegan dan memiliki detil yang rumit.

"Aku membuatnya khusus untukmu. Kamu selalu menyukai hal-hal semacam ini, kan? Coba kenakan dan lihatlah apakah ini cocok untukmu."

Suaranya terdengar sedikit arogan, tapi diwarnai dengan sentuhan kasih sayang yang lembut.

Nada bicaranya selalu berhasil meluluhkan semua pertahanan Stella.

Semua orang di Kota Koria percaya bahwa Marc sangat memanjakan istrinya.

Dulu, Stella juga memercayai hal ini.

Kalau bukan karena foto-foto di ponselnya, mungkin Stella akan benar-benar tersentuh oleh hadiah itu.

Gadis di foto itu berusia dua puluhan, memiliki paras yang cantik dan percaya diri, dengan sorot mata genit serta rambut panjang bergelombang. Rambutnya disanggul longgar dengan jepit yang sama persis seperti yang kini ada di hadapannya. Gaya rambut acak-acakan itu memperlihatkan lehernya yang jenjang dan penuh dengan bekas ciuman.

"Jepitan ini hanya ada satu di dunia. Kamu menyukainya, kan?" tanya Marc sambil mengangkat rambut Stella dengan lembut, jari-jarinya yang kasar menyentuh kulit leher wanita itu dengan cara yang terasa akrab sekaligus terlalu intim.

Kesabaran Stella sudah habis sampai dia nyaris ingin menusukkan jepitan itu ke dada Marc.

Dia menatap pria itu dengan sorot mata yang lebih dingin dari biasanya dan bertanya, "Satu-satunya di dunia?"

Marc bisa merasakan ada yang tidak beres dari Stella. Namun, begitu Stella tersenyum, kelembutan yang tidak asing itu kembali, dan keraguan Marc sirna.

"Kalau memang ini benar-benar satu-satunya di dunia, aku tentu saja menyukainya," ucap Stella sambil menutup kotak itu dengan tenang. "Aku ada pekerjaan malam ini. Kamu tidur duluan saja."

Dia melepaskan diri dari pelukan Marc, menggenggam kotak itu erat-erat, lalu melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Angin dingin menyelinap ke dalam jubah Marc yang terbuka, dan entah kenapa, ini membuatnya merasa hampa.

Malam ini, Stella tampak jauh lebih dingin dari biasanya.

Dia melirik kotak yang terkunci di atas meja, dan perasaan tenang yang aneh kembali menyelimutinya.

Bagaimanapun, tidak ada yang lebih memahami perasaan Stella selain dirinya. Wanita itu mencintainya, begitu dalam sampai apa pun yang dia lakukan, Stella tidak akan pernah benar-benar beranjak dari sisinya.

Tidak sekarang, dan tidak akan pernah di kemudian hari.

Ponselnya bergetar terus-menerus di saku jubahnya.

Ketika dia akhirnya mengeluarkan ponselnya, pesan-pesan genit dan berani bermunculan di layar, membuat tenggorokannya tercekat.

Dia membalas pesan-pesan itu dengan singkat, menghapus semuanya, lalu melempar ponselnya ke atas nakas sebelum merebahkan diri di atas ranjang.

Aroma lembut yang tidak asing di permukaan seprai menenangkan sarafnya, sehingga tidak lama kemudian, dia tertidur lelap.

Sementara itu, di ruang kerja, Stella diam-diam memotret jepit rambut itu dan mengirimkannya ke sebuah butik barang mewah bekas. "Jual jepit rambut ini secepatnya."

Kemudian, dia melampirkan nomor rekening bank. "Kirim uangnya ke sini."

Itu adalah rekening resmi institut.

Bahkan barang yang sudah ternoda pun masih ada gunanya.

....

Keesokan paginya, saat Marc membuka mata, Stella sudah berpakaian rapi.

Dia bangkit dengan bertumpu pada sikunya dan memberi isyarat agar Stella mendekat.

Suaranya serak dan lembut, khas orang baru bangun tidur. "Kemari. Peluk aku".

Jari-jari Stella berhenti sejenak di kancing blusnya sebelum dia menarik napas dalam-dalam. Sorot matanya jernih dan tenang saat dia berkata, "Ada urusan mendesak di institut. Aku harus berangkat sekarang. Aku belum sempat menyiapkan sarapan, jadi kamu harus menyiapkan sarapanmu sendiri."

Stella mengambil tasnya dan berjalan keluar, sama seperti semalam sebelumnya, tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Tangan Marc berhenti di udara, perasaan hampa kembali menyelinap di dadanya. Dia perlahan memijat pelipisnya, mencoba mengusir perasaan aneh tersebut.

Sesibuk apa pun jadwalnya, Stella tidak pernah melewatkan pagi mereka. Dia selalu memastikan sarapan siap tepat waktu. Lalu, dia akan membangunkan Marc dengan lembut, meminta pelukan, dan memberi pria itu ciuman pagi sambil tersenyum manis.

Namun, tidak hari ini.

"Stella."

Saat membuka pintu, Stella mendengar suara Marc dari belakangnya. Rasanya seperti ada sesuatu yang merobek dadanya dengan tajam dan dalam.

Dia berbalik perlahan dengan sorot mata yang tenang dan bertanya, "Ya?"

Marc mengamati Stella cukup lama dan tidak menemukan hal yang janggal. Mungkin itu hanya perasaannya saja. "Ingatlah untuk makan meskipun kamu sibuk, dan jangan begadang. Proyek Marina Horizon sedang macet, jadi aku akan lembur minggu ini. Jangan menungguku."

"Oke," ucap Stella dengan senyum mengembang di wajahnya.

Dengan sinar matahari yang menerpa wajahnya, senyum hangat dan mata berbinar itu mengingatkan Marc pada gadis yang dulu pernah membuatnya terpana.

Sebuah getaran lembut menyentuh hati Marc, membuat suaranya semakin lembut saat dia berkata, "Begitu pekerjaan ini selesai, aku akan mengajakmu ke Pulau Midstream untuk mengganti bulan madu kita yang tertunda."

Hati Stella, yang sudah telanjur sakit, kini terasa hancur berkeping-keping.

Dulu, saat merencanakan pernikahan, dia dengan cermat merencanakan berbagai tempat yang akan mereka kunjungi bersama. Dia membuat perjanjian dengan Marc bahwa pada setiap ulang tahun pernikahan, mereka akan mengunjungi kembali salah satu destinasi bulan madu mereka. Dia percaya mereka akan saling mencintai selamanya.

Namun tahun ini, Marc justru membawa wanita lain ke tempat itu. Foto-foto mereka berdua masih tersimpan di ponselnya.

Stella menunduk dan menjawab dengan suara pelan, "Oke, setelah pekerjaanku selesai."

Setelah itu, dia berbalik dan beranjak pergi.

Tidak ada sedikit pun kehangatan yang tersisa di matanya.

Dan sayangnya bagi Marc, kesempatan itu tidak akan pernah datang.

Bab 2

Stella mengemudikan Volkswagen hitamnya yang sederhana, melintasi gerbang Institut Penelitian Hookwood.

Begitu melangkahkan kaki ke gedung kantor utama, Lainey Lewis, seniornya, bergegas menghampiri dan langsung menyambar pergelangan tangannya sambil berkata, "Apa kamu serius ingin mendaftarkan dirimu dalam proyek itu? Ada yang terjadi, Stella? Kamu bahkan tidak repot-repot menjelaskan saat aku mengirim pesan padamu. Ini bukan masalah sepele. Kamu tidak boleh membuat keputusan sepenting ini dengan gegabah. Proyek ini bukan sekadar eksperimen biasa, jadi setidaknya kamu harus membicarakannya dulu dengan Marc."

Rasa nyeri yang tajam menusuk dada Stella, tapi dia hanya diam.

Alih-alih menjawab, dia membuka kunci ponselnya, menggulir ke sebuah percakapan WhatsApp, lalu menyodorkannya ke hadapan Lainey.

Puluhan pesan provokatif dan gambar-gambar sensual, yang dikirim berulang kali, terpampang di layar. Salah satu foto itu terlihat sangat vulgar dan tanpa sensor sedikit pun.

Lainey melirik sekilas ke layar ponsel, lalu buru-buru mendorongnya kembali ke tangan Stella. Amarah berkilat di matanya saat dia memaki, "Bajingan! Kalau bukan karena patenmu, perusahaannya tidak akan pernah sebesar ini. Dan sekarang dia selingkuh? Ayo, kita pulang sekarang. Aku akan membuatnya berlutut dan memohon ampun padamu!"

Stella buru-buru menahan lengan Lainey dan berkata, "Tidak perlu."

"Apa maksudmu tidak perlu? Setelah semua yang dia lakukan, kamu mau diam saja dan melepaskannya begitu saja?" tanya Lainey dengan suara bergetar saking marahnya.

Nada bicara Stella terdengar dingin dan tanpa emosi saat dia berkata, "Melepaskannya? Tidak akan pernah."

Dia memasukkan kembali ponselnya ke saku mantel. Sorot matanya dingin dan setajam pisau saat dia melanjutkan, "Menghadapinya secara langsung akan terlalu mudah baginya. Aku ingin dia menderita. sampai dia benar-benar menyesali perbuatannya."

Lainey tidak berkomentar lebih jauh, dia tahu betul bagaimana sifat Stella.

Seorang jenius dalam laboratorium, tapi dia terlalu jujur sampai terkadang naif. Namun, kalau seseorang memperlakukannya dengan semena-mena, dia tidak akan tinggal diam. Dia akan membalas di saat yang paling tidak terduga, dengan presisi dan kekuatan yang mematikan.

Mereka berjalan menuju kantor administrasi bersama-sama, dan proses pengisian formulir berjalan dengan lancar. Hanya butuh beberapa langkah dan stempel, semuanya hampir selesai dan tinggal menunggu persetujuan akhir.

Sebelum pergi, Stella menawarkan diri untuk mewakili institut dalam sebuah seminar akademik sekaligus mengambil materi yang diperlukan.

Pukul setengah empat sore, acara di Hotel Grace telah berakhir. Sambil mendekap map di dada, Stella melangkah keluar dari lobi menuju tempat parkir ketika tawa rendah yang tidak asing terdengar di telinganya.

"Sudah, jangan merajuk begitu."

Tubuh Stella seketika menegang. Begitu mengenali suara itu, dia perlahan berbalik. Perasaan dikhianati menghantamnya begitu keras, seolah tanah tempatnya berpijak retak seketika.

Marc sedang merangkul pinggang seorang wanita ramping berambut panjang dan menuntunnya masuk ke dalam hotel. Wanita itu terus menempel pada Marc dengan mesra sambil berkata dengan suara manis dan manja, "Aku merindukanmu, sangat merindukanmu."

Bibirnya menelusuri cuping telinga sampai leher Marc, meninggalkan noda lipstik merah di kulit pria itu.

Marc tertawa rendah, suaranya lembut dan penuh kasih sayang saat dia menarik wanita itu lebih dekat. dan telapak tangannya menekan lekuk pinggang wanita itu dengan erat.

Pandangan Stella sempat kabur dan dadanya terasa sesak.

Ternyata, wanita itu mengikuti Marc ke sini. Mereka bahkan tidak bisa menunggu sampai malam untuk memadu kasih.

Melalui kaca pintu putar yang bergerak pelan, mata mereka bertemu.

Sorot mata Marc yang gelap dan penuh gairah beradu dengan mata Stella yang tenang dan dingin, diwarnai dengan sedikit ejekan.

Udara di antara mereka seketika terasa berat.

Wanita itu juga melihat Stella. Namun, alih-alih terkejut, dia hanya tersenyum angkuh, lalu berbalik dan mencium Marc lagi, kali ini lebih dalam dan provokatif, seolah-olah sedang menandai teritorinya.

Rasa pahit naik ke tenggorokan Stella, membuat perutnya mual seketika. Tidak sudi menyaksikan pemandangan itu lebih lama, dia buru-buru berbalik.

Dia bergegas meraih gagang pintu mobilnya, tapi sebelum dia sempat masuk ke dalam mobil, sebuah tangan menahannya dari belakang. Marc menyusulnya dengan napas terengah-engah. Aroma parfum wanita itu yang menyengat masih melekat di tubuhnya, cukup kuat untuk membuat Stella mual.

"Lepaskan!" bentak Stella sambil berusaha menarik tangannya, tapi cengkeraman Marc terlalu kuat.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Marc meraih pinggang Stella dan mendorongnya ke kursi belakang sebelum menyusul masuk ke dalam mobil. Wajahnya yang tegas tampak tegang, matanya berkilat dengan rasa cemas dan tidak sabar. "Stella, tolong dengarkan dulu penjelasanku."

Dalam keadaan terjepit, Stella hanya bisa bergeser menjauh dan berkata dengan suara dingin, "Hapus dulu noda lipstik di bibirmu sebelum bicara."

Raut wajah Marc langsung berubah. Tanpa sadar, tangannya terangkat ke bibir, matanya menyiratkan kepanikan saat dia berkata, "Proyek Marina Horizon sedang bermasalah. Aku stres karena masalah pendanaan, jadi aku menghubungi Nova Holdings. Haley Smith adalah putri salah satu dewan direksi di sana. Dia tidak begitu lancar bahasa kita dan tadi sempat minum. Aku hanya ingin memastikan dia sampai di hotel dengan selamat."

Dia mendekat seperti yang biasa dia lakukan saat ingin membujuk Stella dan berkata dengan suara yang semakin lembut, "Dia dari Negara Achury. Kamu tahu betapa terbukanya pikiran orang-orang di sana. Aku janji akan lebih berhati-hati. Tolong jangan marah, oke? Aku berjanji akan menebus kesalahanku."

Stella menatap Marc lekat-lekat dengan sorot mata yang dingin dan tajam sambil bertanya, "Jadi begitu caramu mendapatkan investasi? Dengan menjadi gigolo putri direksinya?"

Tidak ada teriakan, tidak ada air mata.

Stella berbicara dengan ketenangan yang membekukan, terlalu tenang untuk disebut marah. Kata-katanya yang lirih menelanjangi semua alasan Marc, membuatnya terdengar konyol dan tidak berarti.

Perasaan hampa yang menyesakkan kembali menghantam Marc. Merasa frustrasi, dia melonggarkan dasinya, seolah-olah berusaha mencari udara segar. "Stella, ayolah. Ini demi pekerjaan. Bisakah kamu tidak membesar-besarkan masalah?"

Stella nyaris tertawa.

Dia bahkan belum menaikkan nada bicaranya.

Apa Marc ingin dia melemparkan foto-foto yang memalukan itu ke wajahnya agar pria ini mengerti bahwa ini masalah serius?

Cinta yang selama ini dia pertahankan kini terasa seperti bilah pisau panas yang membakar dadanya.

"Marc, kalau kamu memang sudah bosan denganku, katakan saja terus terang. Aku tidak akan menahanmu, aku akan memberikan perceraian yang kamu inginkan."

Mengapa March harus memperlakukannya seperti orang bodoh dan menipunya?

Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Stella, Marc mencengkeram bahunya dengan kencang.

Sorot matanya sedingin es saat dia berkata, "Jangan pernah katakan itu. Kita sudah berjanji, apa pun yang terjadi, kita akan menyelesaikannya secara baik-baik. Cerai bukanlah pilihan. Jangan pernah menyebut kata itu lagi."

Menyelesaikannya secara baik-baik?

Marc sudah tidur dengan wanita lain. Apa lagi yang bisa diperbaiki sekarang?

Dia merasa seolah-olah terperangkap dalam jaring berduri, setiap tarikan napas dan gerakan hanya akan semakin melukainya.

Tiba-tiba, ponsel Marc berdering. Begitu melirik ponselnya, dia mengerutkan kening dan segera menolak panggilan telepon itu.

Namun, Stella sempat melihat nama yang terpampang di layar, yaitu 'Kucing Liar Manis'.

Sebelum Marc sempat menyimpan ponselnya, ponsel itu menyala lagi. Kali ini, notifikasi WhatsApp bermunculan dari kontak bernama 'Bayi Pemarah'.

"Sayang, aku sakit ...."

"Aku membutuhkanmu. Cepat ke sini."

"Aku berdarah ... apa aku akan mati?"

Tiga pesan itu muncul satu per satu di layar, semuanya dalam bahasa Achure.

Bab 3

Mengira Stella sama sekali tidak mengerti bahasa Achure, Marc tidak repot-repot menutupi layar ponselnya saat dia mengetik, "Aku sedang menuju ke sana sekarang", sebelum buru-buru mengunci ponselnya.

"Stella, aku ada urusan mendadak. Kalau kamu tidak bisa membantu, setidaknya jangan menghalangiku. Jadilah wanita yang penurut, oke?" ucapnya dengan lembut sambil mengelus rambut Stella seolah-olah wanita itu anak kecil.

Setelah itu, Marc berbalik dan pergi begitu saja, tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Stella hanya duduk termangu, membiarkan suaminya pergi.

Sesuatu di dalam dirinya terasa hancur berkeping-keping, meninggalkan rasa sakit yang begitu menusuk sampai dia mati rasa.

Setelah menyerahkan materi konferensi ke bagian arsip, dia pulang dalam kebisuan.

Marc tidak pulang selama 3 hari dan dia juga sama sekali tidak menghubungi pria itu.

Tidak sekali pun. Memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara mereka.

Sambil menunggu persetujuan akhir, Stella menyibukkan diri dengan membereskan barang-barang mereka, sekadar untuk menjaga kewarasannya.

Gudang mereka sudah seperti museum kecil yang menyimpan kenangan kebersamaan mereka, dari surat cinta pertama, tembikar penyok yang mereka buat bersama saat kencan pertama, batu kecil berbentuk hati dari malam yang mereka habiskan di pegunungan, dan deretan bingkai foto yang dikelompokkan berdasarkan tahun. Bahkan sejumlah kamera polaroid milik mereka tersusun rapi dari model tertua sampai yang terbaru.

Stella memang selalu sentimentil. Dia menyimpan semua benda itu dengan harapan suatu hari nanti ketika mereka berdua sudah tua, mereka bisa menertawakan kenangan masa lalu bersama.

Namun kini, semua ini terasa seperti sebuah ironi yang menyakitkan. Tanpa ragu, dia melemparkan semua benda kenangan itu ke dalam perapian dan menyaksikan semuanya hangus menjadi abu.

Untuk hadiah-hadiah mahal seperti berlian, jam tangan mewah, kalung-kalung cantik, bahkan cincin pernikahan mereka, dia menatanya dengan rapi sebelum memotretnya dan mengirimkan foto-foto itu ke sebuah butik barang mewah untuk dijual.

Saat menatap kotak perhiasan yang sekarang sudah kosong, barulah dia menyadari bahwa cinta, seindah apa pun, menjadi tidak berharga begitu dinodai dengan pengkhianatan.

Dua hari kemudian, Stella menerima kabar bahwa pengajuannya untuk bergabung dengan proyek penelitian tertutup telah disetujui.

Dia memiliki masa tenang 10 hari sebelum proyek dimulai.

Berniat membeli beberapa kebutuhan, dia berganti pakaian dan pergi ke mal. Namun, pada saat turun dari eskalator dengan beberapa kantong belanjaan di tangan, matanya terpaku pada sebuah pemandangan yang membuatnya berhenti melangkah.

Di sana, berdiri Jazlyn Payne, ibu mertuanya yang selalu sinis. Wanita itu menggandeng lengan Haley dengan wajah berseri-seri layaknya teman akrab. Kehangatan di wajah Jazlyn terasa begitu menohok bagi Stella.

Di samping mereka, berdiri Marc, suaminya yang telah menghilang berhari-hari. Pria itu dengan telaten memasangkan gelang berlian ke pergelangan tangan Haley dengan kelembutan yang dulu hanya ditujukan untuknya.

Mereka tampak begitu sempurna seperti keluarga yang ideal. Sebuah keluarga di mana tidak tersedia tempat untuknya.

Saat Haley mengangguk gembira, Jazlyn memuji selera wanita itu dengan mata berbinar, lalu dengan santai menyerahkan sebuah kartu hitam untuk membayar gelang tersebut.

Namun bagi Stella, momen itu terasa sangat ironis.

Kartu hitam itu miliknya. Uang yang dipakai untuk membayar belanjaan itu adalah uangnya.

Berkat persahabatannya dengan direktur merek tersebut, dia mendapatkan hak istimewa, dari diskon besar sampai kesempatan awal untuk memiliki koleksi baru.

Usahanya yang tulus untuk mengambil hati Jazlyn, sekarang malah digunakan untuk memanjakan selingkuhan Marc.

Tanpa basa-basi, Stella melangkah ke depan kasir, lalu merebut kartu itu dari tangan kasir yang kebingungan, dan berkata dengan tenang, "Maaf, kartu ini sudah tidak berlaku."

Kasir itu mengedipkan mata dengan bingung dan berkata, "Nyonya, ini adalah kartu level tertinggi. Kartu ini tidak memiliki tanggal kedaluwarsa dan tidak bisa dibatalkan ...."

"Oh, begitu?" Stella mematahkan kartu itu menjadi dua di depan mata mereka, lalu melemparkannya ke tempat sampah terdekat tanpa mengedipkan mata sedikit pun. "Sekarang sudah tidak berlaku lagi."

Amarah Jazlyn meledak. Dia menampar pipi Stella dengan kencang dan membentak, "Apa kamu sudah gila! Apa kamu tidak punya sopan santun?"

Keluarga Walsh memiliki reputasi yang sempurna, dan Marc selalu dipuji sebagai seorang jenius di dunia keuangan.

Sejak awal Stella berpacaran dengan Marc, Jazlyn sudah bersikap dingin padanya. Setelah mereka menikah, sikap dingin itu justru semakin menjadi-jadi. Tidak peduli seberapa keras dia berusaha mengambil hati Jazlyn, dia tidak pernah mendapatkan senyuman hangat seperti yang diberikan wanita itu pada Haley.

Tidak ingin membuat Marc berada di posisi yang sulit, Stella memutuskan untuk menelan rasa sakit hati itu.

Namun, kesabaran yang dibangun di atas fondasi cinta itu akhirnya runtuh juga.

Dia tidak memiliki alasan lagi untuk menahan diri.

Tiba-tiba, dua tamparan keras mendarat telak di wajah Marc.

Suara tamparan itu membungkam semua orang di sekitar mereka.

Marc, pria yang dipuja-puja di dunia keuangan, kini dia berdiri di sana dengan pipi memerah karena ditampar di depan umum pada siang bolong.

"Stella!" teriak Jazlyn dengan murka. Dia menyingsingkan lengan bajunya seolah-olah siap maju untuk membalas Stella.

Namun, Stella berdiri tegak dengan dagu terangkat menantang sambil berkata, "Kalau kamu berani memukuliku, aku akan menamparnya dua kali lebih kencang. Mau coba?"

"Kamu! Kamu ...." Saking marahnya, Jazlyn sampai harus memegangi dadanya agar bisa bernapas. "Marc! Lihat kelakuannya! Kenapa kamu membiarkannya bertingkah seperti wanita murahan?!" bentaknya.

Stella menatap Marc dan tersenyum dingin padanya sambil berkata, "Katakan, Marc, bukankah aku punya alasan untuk menamparmu?"

Raut wajah Marc menjadi suram dan rahangnya menegang. Dia melangkah maju, lalu mencengkeram pergelangan tangan Stella sambil bergumam pelan, "Stella, cukup. Tenangkan dirimu. Jangan membuat keributan lagi."

Tiba-tiba, Haley berlari ke dalam pelukan Marc, lalu menarik tangan pria itu ke pinggangnya sambil merengek dalam bahasa Achure, mengeluhkan betapa keterlaluannya sikap Stella.

Dia menempel pada Marc seperti tanaman rambat, sambil memanggilnya 'sayang' berulang kali, seolah ingin menyatu dengan tubuh pria itu.

Berusaha menghibur Haley, Marc membisikkan kata-kata yang menenangkan dalam bahasa Achure ke telinganya.

Melihat betapa mesranya mereka, Stella tertawa tak percaya.

Kemudian, di luar dugaan, Stella angkat bicara, kali ini dalam bahasa Achure yang fasih dengan nada setajam silet.

"Kalau berani menjadi selingkuhan, setidaknya kamu punya sedikit rasa malu dan jangan berpura-pura bersikap seolah-olah dirimu korban. Kamu sudah tidur dengan suami orang, tapi masih berani menyangkal? Kalau bahasa Achure tidak cukup, kita bisa membicarakannya dengan bahasa lain. Aku menguasai 16 bahasa. Pilih saja ingin menggunakan bahasa mana, aku akan meladenimu. Jika argumenku lemah, aku akan mengaku kalah."

Wajah Haley langsung memerah.

Dia tidak pernah menyangka Stella bisa berbahasa Achure dengan begitu lancar. Bukankah Marc bilang istrinya hanyalah seorang pegawai kantoran biasa?

Raut wajah Marc berubah suram, nada bicaranya menjadi kaku saat dia bertanya, "Stella, sejak kapan kamu belajar bahasa Achure?"

Momen itu terasa seperti pisau yang diputar di dalam lukanya yang menganga.

Bibir Stella melengkung membentuk senyum pahit.

Kemudian, dia berkata dengan nada sinis, "Marc, kamu benar-benar sangat 'mencintaiku'. Silakan, lanjutkan acara belanja kalian. Aku tidak akan mengganggu lagi."

Setelah itu, dia berbalik dan melangkah pergi.

Marc langsung bergerak untuk mengejar Stella, tapi Jazlyn dan Haley masing-masing menahan satu lengannya untuk menghentikannya.

"Marc, ceraikan saja wanita tidak tahu malu itu! Berani-beraninya dia menamparmu!" bentak Jazlyn.

Jazlyn sudah sering mengucapkan kata-kata itu sebelumnya, tapi Marc selalu mengabaikannya. Namun entah kenapa, kali ini terasa berbeda. Kata-kata itu terasa sangat menyakitkan baginya.

"Ini urusanku dengan Stella," gumam Marc sebelum menepis cengkeraman mereka dan bergegas menyusul Stella.

Untungnya, dia masih sempat bertemu dengan Stella tepat pada saat wanita itu hendak masuk ke dalam mobil. "Stella."

Begitu jemari Marc menyentuh pergelangan tangannya, rasa mual seketika menjalari Stella. Dia langsung menepis tangan pria itu dengan jijik dan berkata dengan sinis, "Ada apa, Pak Marc? Sudah selesai bermain rumah-rumahan dengan simpananmu?"

Wajah Marc menegang karena frustrasi saat dia menjelaskan, "Haley itu hanya teman. Kenapa kamu harus secemburu ini? Tidak bisakah kamu bersikap lebih dewasa? Apa kamu harus mempermalukan kami di depan umum seperti ini?"

Stella tertawa dengan hambar dan tidak percaya.

Benar saja, pada akhirnya, semua selalu menjadi kesalahannya. Benar-benar luar biasa.

Dia berkata dengan tajam, "Biar kuperjelas. Bahkan meski aku memergokimu tidur dengan selingkuhanmu, aku harus tersenyum, menutup gorden untuk kalian, dan berjaga di luar pintu demi menjaga nama baik keluarga, apa begitu?"

Cengkeraman Marc di pergelangan tangan Stella semakin erat saat matanya berkobar penuh amarah. "Sudah berapa kali harus kukatakan? Dia itu hanya teman!"

"Teman?" tanya Stella dengan nada sinis sambil menatap Marc dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Kemudian, tatapannya berubah menggoda, tapi dengan sesuatu yang lebih tajam di baliknya, campuran antara rayuan dan dendam.

"Baiklah, kalau begitu aku juga akan mencari 'teman'. Aku akan memastikan kami melakukan semua yang kamu dan Haley lakukan, semuanya, tanpa terkecuali." Dia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke Marc, bisikannya terdengar begitu berbisa saat dia melanjutkan, "Suamiku tersayang, jangan cemburu, oke? Ini baru adil, kan?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED