Di seberang telepon, seorang pria berpakaian hitam memancarkan aura seperti bangsawan dan dia memiliki wajah yang sangat tampan.
Dia tampak terkejut ketika mendengar suara seorang wanita di seberang telepon.
Keheningan berlanjut hingga Amelia merasa dia tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Akhirnya, dia berkata, "Maaf, aku sedang impulsif. Abaikan perkataanku barusan ...."
"Masih berlaku."
Kata-kata Amelia terpotong oleh suara rendah pria itu.
Kali ini, giliran Amelia yang terkejut saat mendengar tanggapan tersebut.
Sebenarnya, dia langsung menyesal setelah menyelesaikan perkataannya.
Membatalkan pertunangan dengan Jako bukanlah hal besar, tapi menikahi Sammy Steward terasa seperti bermain api.
Dalam kegelapan, pikiran Amelia melayang kembali ke kejadian setahun yang lalu.
Pada waktu itu, malam sudah larut seperti sekarang, ketika Amelia meninggalkan rumah sakit, dia menemukan Sammy yang hampir tidak sadarkan diri di sebuah gang di sisi barat Kota Cinjang.
Amelia tidak mengetahui identitas Sammy, jadi saat pria itu menawarkan hadiah karena telah menyelamatkan dirinya, dia bercanda dan bertanya apakah pria itu akan mengabulkan semua permintaannya.
Sammy mengangguk sebagai jawaban, lalu Amelia bertanya apakah pria itu bersedia menikah dengannya.
Sebenarnya, Amelia hanya bercanda dan ingin menggoda pria itu. Dia tidak pernah menyangka bahwa Sammy akan setuju.
Namun, pertunangan Amelia dengan Jako telah diatur sebelum ibunya meninggal, jadi dia segera menjelaskan bahwa dia hanya bercanda.
Sammy mengetahui pertunangan Amelia, jadi dia tidak membantah. Dia dengan tenang mengatakan bahwa mereka akan menikah jika Amelia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Jako. Dia mengatakan tawaran ini berlaku selama dua tahun.
Saat ini, tawaran Sammy masih berlaku.
Amelia tidak dapat mengingat bagaimana panggilan telepon itu berakhir.
Dia hanya teringat Sammy memintanya bersiap untuk menikah dalam waktu tiga puluh hari.
Amelia akan menikah dengan seseorang dan orang itu bukanlah Jako.
Lampu kamar dimatikan saat Amelia berbaring di atas tempat tidur, dia merasa lelah tapi tidak dapat tertidur.
Ketika dia hampir tertidur, serbuan notifikasi membuat ponselnya bergetar.
Sejak neneknya dirawat di rumah sakit, Amelia tidak pernah mematikan atau memasang mode senyap di ponselnya.
Dia memeriksa ponsel dan melihat foto potongan-potongan pakaian yang rusak.
Setelah mengamati selama beberapa saat, dia baru menyadari bahwa potongan kain berasal dari setelan yang dia buat untuk Jako dan baru saja dikenakan pria itu.
Sebuah pesan dari Tina menyertai foto tersebut. "Maaf, Kak Amelia. Aku tidak tahu kamu membuat setelan ini untuk Jako. Awalnya, aku pikir jas itu hanya jas biasa dan karena jas ini sangat kotor, aku memotongnya menjadi beberapa bagian untuk membuangnya. Aku harap kamu tidak marah padaku."
Kata-kata Tina terdengar arogan dan penuh percaya diri.
Ketika Amelia tidak segera membalas, Tina segera mengirim pesan lain. "Jako mengatakan dia tidak menyalahkan aku. Jas itu hanyalah sepotong kain yang tidak bernilai apa-apa."
Amelia tahu dia tidak akan bisa tidur jika mengabaikan Tina. Kalau dia tidak memberi balasan, pesan-pesan itu akan terus berdatangan.
Amelia segera mengetik balasan, "Perkataan Jako tidak salah, itu hanyalah sepotong pakaian. Aku tidak marah."
Kemudian, dia memblokir nomor Tina sebelum menyimpan ponselnya.
Amelia tidak berbohong, dia memang tidak marah.
Apalagi, situasi seperti ini sering terjadi selama dua tahun terakhir, sehingga dia sudah terbiasa.
Jika Amelia membiarkan dirinya merasa kesal setiap kali Tina mencari masalah, dia pasti sudah kehilangan akal sehat sejak lama.
Amelia berbaring kembali, tapi mendapati dirinya tidak bisa tertidur.
Sebuah pikiran terlintas di benaknya, 'Apakah Ibu akan menyesal saat melihat hidupku saat ini?'
Tina adalah anak hasil perselingkuhan ayah Amelia dan usianya beberapa bulan lebih muda dari Amelia.
Ketika ibu Amelia, Rara Davis, mengetahui keberadaan Tina, dia segera mengirimnya ke luar negeri.
Namun, beban pekerjaan yang tidak pernah habis dan tekanan emosional membuat kesehatan Rara menurun.
Ketika kesehatan istrinya semakin memburuk, Laman membawa Kiara dan Tina pulang ke rumah keluarga mereka.
Rara mengetahui semua perbuatan suaminya. Dia menyadari bahwa Amelia akan menderita jika hidup bersama ibu tiri, apalagi Laman bukanlah pria yang baik.
Untuk melindungi putrinya, Katrina membuat rencana agar Amelia menikah dengan Jaxton.
Rara berpikir keputusan ini sangat baik karena dia dan ibu Jako telah bersahabat selama puluhan tahun.
Amelia dan Jako tumbuh bersama, sementara Rara berteman baik dengan Laura. Oleh karena itu, Rara yakin Amelia akan hidup bahagia setelah menikah.
Akan tetapi, Rara tidak pernah menyangka seseorang dapat berubah seiring dengan berjalannya waktu.
Tepat sebelum ajal menjemput, Rara memanggil Jako dan mendesaknya berjanji untuk merawat Amelia dengan baik. Akhirnya, Jako berjanji di hadapan Rara dan Laura.
Perkataan Jako sangat meyakinkan, sehingga Amelia juga percaya padanya. Tapi sekarang ....
Amelia tiba-tiba terbangun saat fajar menyingsing.
Saat membuka matanya, dia melihat wajah Jako tampak marah.
Jako mencengkeram pergelangan tangan Amelia erat-erat, sehingga rasa sakit mendorongnya untuk melepaskan diri. "Kamu kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba marah di pagi hari?" tanya Amelia.
"Amelia, apakah kamu merasa pintar? Selain mengadu pada ibuku, apa lagi yang bisa kamu lakukan?" kata Jako.
Tuduhan itu membuat Amelia mengerutkan keningnya.
Video mengenai skandal perselingkuhan telah tersebar secara daring, sehingga Laura tidak mungkin melewatkannya.
Namun begitu Jako mendengar kabar dari ibunya, dia langsung menyimpulkan bahwa Amelia pasti telah mengadu.
Amelia bahkan tidak punya tenaga untuk memberi penjelasan kepada pria itu.
Masalah ini malah memperkuat tekadnya untuk memutuskan pertunangan.
Jako menganggap sikap diam Amelia sebagai sebuah pengakuan. Dia melontarkan ucapan kasar sepanjang perjalanan menuju rumah keluarganya.
Namun, begitu mereka memasuki rumah Keluarga Waritono, Jako segera mengubah sikapnya.
Amelia memutar bola matanya saat melihat sikap Jako berubah dalam hitungan detik. Sebelumnya dia sangat buta, sehingga tidak mampu menyadari bahwa Jako hanyalah seorang pria munafik.
"Amelia, kamu pasti sangat menderita. Aku benar-benar minta maaf."
Saat Amelia berjalan memasuki ruang tamu, Laura mengulurkan tangan untuk meraih tangan Amelia dengan lembut.
Penampilan Laura tampak tidak berubah, meski usianya sudah menginjak lima puluhan, dia terlihat sepuluh tahun lebih muda berkat perawatan yang cermat.
Saat ini, raut wajah Laura yang biasanya tenang dipenuhi dengan rasa khawatir yang tulus.
Selama ini, Laura selalu bersikap baik kepada Amelia. Setiap kali Jako melakukan kesalahan, Laura selalu membela Amelia dan memarahi putranya.
Namun, Laura hanya menegur atau memarahi Jako. Hal itu hampir tidak membuat perbedaan.
Hari ini juga sama saja.
Laura menatap tajam ke arah putranya. "Jako, minta maaf pada Amelia sekarang juga."
Biasanya, Amelia akan mencoba menenangkan situasi dan mengatakan dia tidak marah.
Tapi, kali ini dia merasa lelah dengan sandiwara tersebut. Sebelum Jako sempat membuka mulutnya, Amelia berkata, "Tante Laura, kepalaku agak sakit. Aku akan berbaring di lantai atas."
Laura menatap wajah Amelia yang terlihat pucat. "Tentu saja, cepat istirahat. Aku akan meminta pelayan memberitahumu ketika makan malam sudah siap."
Amelia mengangguk perlahan, lalu berjalan ke lantai atas.
Begitu Amelia menghilang dari pandangan, kesabaran Laura langsung habis. Dia menoleh ke Jako dan berkata, "Apakah kamu sudah gila? Kenapa kamu menjalin hubungan dengan anak haram Laman?"
"Bu, haram atau tidak, dia adalah putri kandung Paman Laman. Lagi pula, Tante Kiara mengenal Paman Laman terlebih dulu. Cinta mereka berdua adalah cinta sejati."
"Kamu ...."
Amarah Laura meledak hingga dia harus menenangkan diri karena kepalanya pusing dan pandangannya berubah menjadi gelap.
Dia menarik napas dalam-dalam untuk memaksa dirinya agar tenang.
Kemudian, dia menatap putranya dengan ekspresi tenang, "Apa pun yang kamu lakukan bersama Tina adalah urusanmu. Tapi, kamu tidak boleh lupa bahwa Amelia adalah tunanganmu. Keluarga kita hanya mengakui dia sebagai istrimu."
Ini bukan pertama kalinya Laura mengatakan hal yang sama. Jako telah mendengarnya berulang kali.
Namun, kali ini dia bertanya, "Bu, apakah Ibu menginginkan Amelia sebagai menantu karena Tante Rara, atau karena dia memiliki saham sebesar enam puluh persen?"
Bagi seorang pengusaha keuntungan selalu menjadi tujuan utama.
Laura juga menganut prinsip yang sama.
Dia menyetujui pertunangan Amelia dengan Jako karena persahabatannya dengan Rara, tapi saham Amelia di perusahaan mereka berperan besar dalam keputusan tersebut.
Rara sendiri yang membangun Grup Famsino. Meski meninggal di usia yang masih muda, dia mewariskan saham perusahaan sebesar 60% kepada Amelia.
Laura berkata, "Karena kamu tahu bahwa Amelia memegang enam puluh persen saham perusahaan, kamu harus memperlakukan dia dengan baik. Jako, aku melakukan semua ini demi kebaikanmu. Pernikahan dengan Amelia akan membantumu meraih kesuksesan. Tina tidak dapat menandingi kemampuan atau penampilan Amelia. Jika kamu melanjutkan hubunganmu dengan Tina, hal itu akan menyakiti Amelia dan membuatnya merasa kecewa padamu. Suatu hari nanti, kamu pasti akan menyesal. Kamu ...."
"Baiklah, Bu. Jangan dilanjutkan lagi. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak mau menikah dengan Amelia." Jako memotong perkataan ibunya dengan kesal, lalu bergegas ke lantai atas.
Di dalam kamarnya di lantai dua, Amelia duduk di sofa dekat jendela, dia dengan tenang mengamati air mancur di taman.
Pada saat itu, ponselnya tiba-tiba bergetar karena menerima pesan.
Matanya terbelalak saat melihat foto di layar ponsel.
Dalam foto itu ada dua cincin kawin perak, modelnya terlihat sederhana tapi elegan, sesuai dengan seleranya.
"Apakah kamu menyukainya?"
Pesan Sammy muncul di bawah foto dan Amelia langsung membalas tanpa membuang waktu, "Apa ini?"
"Apakah kamu menyukainya?" Sammy hanya mengulang pertanyaannya.
Amelia menarik napas ragu-ragu dan akhirnya menjawab, "Ya, aku sangat menyukainya."
Setelah pesan terkirim, tidak ada balasan dari Sammy.
Tanpa sepengetahuan Amelia, senyum tipis tersungging di wajah Sammy saat membaca jawabannya.
Ekspresi yang tidak biasa itu menarik perhatian pria di samping Sammy. "Apakah kamu baru saja tersenyum? Siapa kamu dan apa yang telah kamu lakukan kepada Sammy yang asli?"
Senyum Sammy langsung sirna saat mendengar ejekan temannya.
Perubahan ekspresi Sammy terlalu mendadak, sehingga Ronny hampir mengira dia hanya membayangkan senyumnya.
"Bagaimana kabar Nyonya Misha?"
Sammy bertanya mengenai kondisi nenek Amelia.
Nada bicara Ronny berubah menjadi muram saat dia menjawab, "Tidak ada perubahan. Kinerja jantungnya semakin melemah. Meski aku telah berusaha keras untuk mengobatinya, aku khawatir dia tidak punya banyak waktu."
"Ternyata, kemampuanmu sebagai seorang dokter tidak terlalu terampil."
Para dokter tidak suka mendengar orang lain meragukan kemampuan mereka, apalagi Ronny adalah seorang dokter yang terkenal secara internasional.
Ronny merasa kesal. "Apa maksud perkataanmu? Aku adalah seorang dokter, bukan Tuhan. Karena kita sedang membicarakan Nyonya Misha, ada pertanyaan yang menggangguku hingga saat ini. Kamu memintaku untuk merawatnya, tapi kenapa kamu menyuruhku menyetujui tawaran Keluarga Waritono?"
Pengaturan itu membuat Ronny terlihat seolah-olah dia merawat Misha demi uang.
Sammy tidak menjawab pertanyaan Ronny, dia mengalihkan fokusnya ke serangkaian sketsa yang tersebar di permukaan meja.
Gambar di atas kertas menunjukkan desain satu set cincin kawin yang baru saja dia tunjukkan kepada Amelia.