"Selam--" ucapan wanita ini terpotong saat seorang pria terlebih dahulu menyapanya.
"Selamat pagi, Nona Betha."
Sapaan sopan dan senyuman pria itu mengalihkan pandangan Betha. Seseorang pria tampan bermata cokelat, lengkap dengan seragam putih kebanggan pria tersebut.
Siapa lagi kalau bukan Brian Carlos Pratama, yang kerap disapa dengan sebutan Brian. Pria berumur kurang lebih 28 tahun yang berprofesi sebagai Doktor Spesialis Anak di Hospital West.
Wajahnya sangat tampan, bahkan banyak yang mengaguminya. Dia masih single, banyak wanita yang menginginkannya, tapi Dokter Brian tidak tertarik pada semua wanita yang berada disini. Lagipuula, ia sedang fokus dengan pekerjaannya sekarang dan juga salah satu wanita yang ia kejar.
Betha membalas dengan senyuman ramahnya.
“Selamat pagi Dokter Brian. Tumben datang lebih cepat?" tanya wanita itu dengan sopan.
Fayyana Bethani, atau kerap disapa dengan sebutan Betha ini menjabat sebagai seorang perawat yang bekerja di rumah sakit ini. Wajahnya bisa dibilang sangat muda. Ia masih berumur 26 tahun, sangat anggun, agak cuek, ramah, tapi sayangnya alergi dengan pria yang tidak dikenalinya.
Betha duduk di kursi miliknya. Dan melihat daftar pasiennya.
“Ya, aku ingin bertemu dengan seseorang. Jadi, agak pagian sedikit,” jawab Brian sambil tersenyum manis pada wanita tersebut.
Kening Betha mengkerut sesaat, lalu mengambil tas khusus buat melayani pasien.
“Aku kerja dulu ya, Dok," ucap Betha bangkit dari kursinya, lalu melangkah keluar dari ruangannya.
Brian melirik jam tangan yang berada ditangannya, lalu mengambil peralatan yang akan dipakai.
“Kenapa harus sepagi ini? Padahal baru jam setengah enam. Harusnya nge-check pasien bukannya jam enam?" tanyanya pada diri sendiri, dia mengambil jas lalu mengenakannya.
“Selamat pagi Dokter Brian," sapa Cery, Suster lainnya.
“Pagi juga Suster Cery.”
“Loh, Dok? Bukannya Dokter izin cuti? kenapa masih kesini?” tanya Cery dengan polosnya.
“O-oh ya? Aku tidak pernah mengatakan itu sepertinya,” ucap Brian sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dengan sedikit ringisan kecilnya.
“Emang iyaiya? Yaudah Dok saya minta maaf.” Cery menunduk sopan, lalu melanjutkan jalannya ke dalam.
Brian menghela napasnya, tapi benar yang di katakan Cery barusan, kemarin memang dia ingin izin cuti karena ada acara. Tapi, acaranya tertunda karena ada problem sedikit.
Sedangkan di tempat lain?
“Selamat Pagi Adik, sudah sehatan?” tanya Betha dengan nada lembutnya, sambil meletakkan tas khusus pasien.
“Pagi Suster. Sudah kok,” ucap Adik itu dengan nada pelan.
Betha tersenyum manis. “Sudah makan belum?”
“Belum Suster.”
“Belum dikasih makanan ya? habis ini Suster Cery bawain makanan ke Adik, tunggu ya," ucapnya dengn nada dikecilkan.
“Eh Suster? Mau ganti infusnya ya?” tanya Ibu dari anak kecil itu.
Betha menoleh melihat orangtua anak ini, lalu tersenyum kecil.
"Iya Bu," ucapnya dengan sopan.
"Ah Ibu, tidak mau, sakit ...." rengek Anak itu menoleh ke Ibunya. Betha tersenyum kecil, sempat menghela napasnya karena susah sekali kalau lagi memancingnya agar bisa menyuntiknya.
"Tidak sakit kok Dik, cuma di ganti saja infusnya okey. Tuh kasian darahnya sudah keatas."
"Tidak Ibu, hiks ... Hiks ..." Anak kecil itu menangis samhil sesenggukan.
Betha mengusap rambut Adik itu. "Nama Adik siapa heum? Irfan bukan?"
"Iya Kak," ucap Irfan sambil menganguk pelan, sambil terisak pelan.
"Irfan kan laki-laki, kenapa harus takut sama jarum suntik? Irfan mau sembuh kan?" tanya Betha dengan hati-hati. Dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, dengan pelan dia mencabut selangnya untuk di ganti dengan selang baru.
"Iya, ihh Ibu! Huahhh ...!"
Tangan Irfan tidak bisa diam, alhasil suntikan yang mau di suntik diinfusnya jatuh kelantai.
"Irfan! Tidak boleh begitu sama Suster!" bentak Ibunya, membuat Irfan menunduk ketakutan sambil terisak pelan.
"Eh Bu, tidak apa-apa kok Bu, jangan dimarahi."
"Ada apa ini? Irfan tidak mau disuntik lagi? Padahal disuntik sama Suster cantik. Kalau Dokter sih mau-mau saja soalnya disuntik sama Suster cantik," gurau Brian yang baru saja memasuki ruangan Irfan.
Betha menoleh kearahnya, sungguh dia sangat muak dengan gombalannya. Tapi bagaimana lagi, kalau dilanjutin pasti akan menambah masalah.
"Tuh kan Dokternya saja mau disuntik, masa Irfan Tidak?"
"Tidak mau Ibu ...." rengek Irfan sambil menggoyangkan tangan Ibunya, dia terus mengadu ke Ibunya.
"Lihat, Dokter Brian punya permen." Brian merogoh saku jasnya terdapat permen yang memang sudah disediakan untuk anak kecil, ya untuk berjaga-jaga juga.
"Irfan mau!"
"Eits ... Syaratnya Irfan mau disuntik dulu biar sembuh."
"Yahh ...."
"Nah Suster suntik dulu yah," ucap Betha sambil menyuntik infusnya, terlihat Irfan sedikit meringis kesakitan.
"Nah sudah, Irfan pinter banget." Betha mengusap lembut rambut Irfan.
"Kan Irfan sudah mau disuntik, ini buat Irfan." Brian memberi satu permen ke Irfan.
"Tapi janji jangan makan permen banyak-banyak okey. Habis makan harus sikat gigi."
"Siap Dok!"
Brian tersenyum lebar, lalu melirik Betha yang sedang meringkas obat yang di tas tadi.
Mereka keluar dari ruangan pasien setelah sudah melihat kondisi semuanya.
"Terimakasih Dok," ucapnya sambil menunduk. Tangannya tidak bisa diam.
Brian tersenyum, sekilas melirik Betha. "Tidak masalah, lagian itu sudah kewajibanku."
Betha hanya tersenyum, lalu menganguk pelan.
"Kau sudah makan?"
Betha menggelengkan kepalnya dengan pelan. "Belum Dok, nanti saya akan makan setelah menjenguk keluargaku di sini."
"Jadi, keluargamu ada di sini juga?" tanya Brian dengan antusias.
Betha menganguk kecil. "Iya ponakan kecilku hehehe ...." jawabnya dengan kekehan kecilnya.
"Yaudah, kalau begitu saya antar saja, bagaimana?"
"E-eh ... Ti-tidak usah Dok. Biar saya sendiri."
"Sudahlah tidak papa, sekalian kenalan biar bisa deket sama keluargamu."
Blush. Pipi Betha memerah. Mau tidak mau dia mengiyakan ucapannya.
***
Betha masuk ke dalam ruangan, di dalam sana terdapat Mama Soraya, selaku Mama kandung Betha dan juga ponakan kecilnya yang masih berumur 4 tahun, bernama Rey.
"Kak Betha! Rey mau pulang." Rey berteriak histeris ketika Betha masuk ke dalam ruangannya.
"Loh? Kok mau pulang? Demamnya Rey kan belum turun."
Betha memegang kening Rey dengan lembut.
"Besok saja ya pulangnya."
"Betha, masa dia tidak boleh balik sekarang? Dia sepertinya sudah tidak betah disini."
"Ya, tidak bisa Ma. Kalau dia pulang, pasti demamnya naik lagi. Kasian kan kalau ngeluarin uang lagi nanti. Mamanya di mana?"
"Heumm ... Barusan dia pulang, Mama gantian sama dia."
Betha menganguk mengerti, ia melirik Brian yang sedang bermain tangan dengan Rey. Dari kapan pria itu akrab dengan ponakannya, sekilas ia mendengus kesal.
"Tante sepertinya Rey kurang hiburan. Bagaimana kalau nanti saya ajak dia keluar." Brian angkat bicara.
"Tidak usah Dok, Dokter juga sedang sibuk. Saya tidak mau merepotkan."
"Rey mau jalan-jalan ...." rengeknya.
Soraya menghela napasnya. "Sama Mama saja nanti ya."
"Tidak mau, maunya sama Dokter."
"Rey tidak boleh ganggu Dokter Brian kerja," ucap Betha tidak dengan tatapan tajam, ia melirik Brian sekilas.
"Tidak apa-apa. Nanti saya akan kesini, nanti jangan tidur ya. Dokter bakalan ajak Rey jalan-jalan." Brian mengusap lembut rambut Rey, Rey hanya tersenyum.
"Sekarang istrihat dulu, biar nanti bisa jalan-jalan."
"Siap Dokter!"
***
Dokter Brian kini masih di lobi untuk menunggu Betha. Biasanya dia cepat untuk kembali di meja kerjanya, tapi kenapa sekarang lama? Apa Betha sengaja merencanakan ini untuk menghindarinya?
Pria itu melirik jam jam tangannya, sesekali dia melirik bekal makanan yang sudah disediakan khusus Betha. Ia menghela napasnya sesekali.
"Kenapa dia lama ya?" gumam Brian sambil melirik pintu masuknya.
"Apa dia masih menjenguk keluarganya? Apa aku harus ke sana?" tanyanya pada diri sendiri. Dia menggelengkan kepalanya.
"Ah, tidak nanti aku mengganggunya," gumam Brian, dia memutuskan untuk menunggu di meja kerja Betha.
Dia terus menunggu selama 15 menit, sesekali melirik jam tangan lagi. "Kenapa dia belum datang juga?" dengusnya.
Brian memutuskan untuk mencari Betha sekarang. Dia menelusuri koridor rumah sakit.
Terdapat dua orang saling bicara, sepertinya wanita itu bersama kekasihnya. Ah yang benar saja, masih sempatnya Betha masih berbicara dengan calon Suaminya.
Brian melangkah mendekat kearah mereka.
"Ehm! ... Nona Betha? Apa kau lupa sama jam kerja?" ucapnya sambil menatap Betha, sepasang kekasih itu menoleh menhadap Brian.
"Ah, maaf Dokter Brian, tadi ada urusan sedikit."
"Urusan? Urusan apa heum? Apa kau lupa kau sekarang sedang bekerja?" ucapnya dengan senyum evilnya.
Astaga ... makhluk macam apa Dokter Brian ini. Batin Betha sambil menahan gertakannya.
"Habis ini, aku akan kembali Dok. Cuma minta waktu sebentar," ucap wanita itu dengan sopan.
"Sudahlah Betha. Sepertinya aku harus balik. Nanti saja kalau kau sudah selesai kerja," ucap Robi dengan sangat lembut.
"Tidak apa-apa nih? Aku tidak enak denganmu."
"Tidak apa-apa lanjutin kerjanya oke!"
Betha tersenyum kecil, kekasihnya itu melangkah pergi dari hadapannya.
"Kekasihmu?"
Betha cuma menganguk, lalu melangkah duluan tanpa menggubris dokter Brian.
"Kenapa kau tidak putus saja dengan dia?"
"Tidak usah aneh-aneh Dok. Aku sama dia mau menikah!" ucapnya dengan nada kesal dan juga mempertegas secara langsung.
"Kan bisa dibatalkan sekarang."
Betha tidak merespon, dia berkutik dikomputernya. Brian mengambil kotak nasi untuknya.
"Makanlah, kau pasti lapar."
Betha melirik makanan sekilas, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak nafsu makan."
"Ayolah, apa kau mau aku suapin?"
"Ah tidak Dok, biar aku aja."
Mau tidak mau, Betha mengambil makanannya, dan melahap makanan yang diberikan untuknya. Brian menatap perempuan itu, dia tersenyum lebar.
"Kau sangat cantik, jadilah kekasihku."
Demi apapun, mulut Dokter Brian ini sepertinya ingin dirobek. Sudah berapa kali ia berbicara seperti itu. Kenapa dia bisa menjadi Dokter, kalau pikirannya seperti itu terus.
"Maaf, aku sudah bilang beberapa kali kalau aku sudah mempunyai kekasih," ucap Betha dengan senyuman lembutnya, sedetik pula dia mendatarkan wajahnya.
“Aku bisa menjadi kekasih gelapmu.”
“Aku tidak sebodoh itu Dokter Brian.” Betha menyeruput minumannya sekali tegukan lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat tersebut.
"Susah sekali mengambil hatimu, Betha."
***
***
Kini Brian sedang menelusuri koridor rumah sakit untuk menuju kearah taman. Kebanyakan anak kecil memang suka kalau bermain di taman, maka dari itu Brian mengajak Rey bermain disana.
“Dokter, kita mau ke mana?” tanya Rey yang kini berada di kursi rodanya, sambil medongakan kepada ke atas untuk menatap Dokter Brian.
Dokter Brian tersenyum lebar kearah Rey. "Kita ke taman aja, nanti kalau minta apa-apa bilang ke Dokter Brian ya."
Rey menganguk paham, lalu tersenyum lebar. Ia pernah berpikir, calon suami Betha memang tampan, kaya tapi seenggaknya dia menjenguk ponakannya juga bukan karna Betha saja yang jadi prioritasnya.
"Oh ya? Rey sudah melihat calon suaminya Betha?"
Rey menggelengkan kepalanya. "Pernah Dokter, tapi Rey tidur waktu itu. Omnya cuma nitipin makanan ke Mama."
"Sebelum itu?"
"Tidak pernah Dokter."
Brian mengangukkan kepalanya bertanda mengerti. Ia berhenti di halaman taman yang berada di rumah sakit.
Bisa di bilang halamannya sangat luas di sini. Tapi sayangnya sekarang sudah sepi karena sudah terbatasi, sebab ada Covid di mana-mana. Jadi, tidak sembarangan orang yang bisa memasuki rumah sakit ini.
"Rey harusnya makan ya sekarang?" tanya Brian duduk berjongkok di depan Rey. Ia mengambil makanan yang di bawahnya, memang sudah di siapkan sedari tadi.
Rey menganguk pelan. "Tapi Rey tidak mau makan. Pait." Rey mengatupkan bibirnya tidak mau memakan makanan yang dipegang oleh Brian.
Brian sempat terkekeh melihat tingkah lucu Rey. Pasalnya, ia memang suka sama anak kecil maka dari itu, ia lebih baik menjadi Dokter Anak dari pada lainnya.
"Rey mau sembuh tidak? Kalau mau Rey harus makan secara teratur. Rey pasti mau kan bermain bersama teman Rey lagi?" tanya Brian, sembari menyendokkan makanan, lalu menyodorkan ke mulutnya. "Aa ... Ayo buka mulutnya."
Rey masih menggelengkan kepalanya.
"Rey masih pengen di sini heum?"
Rey menggelengkan kepalanya lagi.
"Rey tidak mau disini, Rey pengen pulang!?"
Brian tersenyum tipis, "Kalau begitu Rey harus makan teratur, dan pastinya minum obat. Ayo aa, Rey ... Pesawatnya akan melandaass wushh ...." Brian memainkan sendoknya, sehingga membuat Rey tertawa lalu ia menerima suapan nasinya.
"Nah itu baru anak Mama." Brian mengusap lembut rambut milik Rey.
Rey hanya tersenyum, dan menerima suapan selanjutnya-minum obat.
"Nah, sudah selesai." Brian melihat arlojinya, masih ada waktu sebentar, ia tidak perlu tergesa-gesa juga.
"Rey Sekolah di mana?"
"Di TK-Mawar Dokter," ucap Rey dengan suara cadelnya.
Brian menganggukan kepalanya, "Di anter sama Suster Betha ya?"
"Kok Dokter tau?" tanya Rey.
Brian terkekeh geli. "Ya taulah, kan Dokter calon suami Suster Betha selanjutnya," ucap Dokter Brian dengan tampang tidak berdosa.
Rey menerjapkan matanya dengan pelan. "Dokter, Kakak sudah ada suami. Masa Dokter mau jadi suami Kakak?" Rey mengerucutkan bibirnya dengan polosnya.
"Suami Kakak Rey selanjutnya."
"Kasian dong Dokternya."
"Lagian Kakak Rey belum nikah kan? Jadi Dokter ada kesempatan buat merebut Kakak Rey."
"Dokter tidak boleh gitu, No!" Rey menggoyangkan jari telunjuk ke kanan-kiri.
"Rey tidak mengizinkan? Tapi Dokter mencintai Kakaknya Rey."
"Apa Dok?"
"Eumm ... Ah ya sudah jam segini, Dokter harus kerja lagi." Brian mengalihkan pembicaraanya lali berdiri tegak. Ia mendorong kursi roda dengan pelan untuk keluar dari area taman.
"Dokter, suka sama Kakak?" tanya Rey.
Brian tersenyum kecil, ia tidak menjawabnya. Ia mau menjawab 'iya' tapi ia mengurungkan niatnya.
Brian memasuki ruangan yang disana sudah ada Betha yang sedang menyiapkan suntikannya, dan juga dengan Mama Betha.
“Rey waktunya untuk disuntik dulu,” ucap Brian membatingkan tubuh Rey dengan pelan diranjang.
“Dokter, apa Rey sudah diperbolehkan untuk pulang?” tanya Soraya ke Brian.
“Ma, nanti kalau Rey kenapa-napa bagaimana? Betha tidak mau dia kenapa-apa. Apalagi Rey sekarang sama Mama. Mama juga kurang sehat hari-hari ini.”
“Tidak apa-apa sayang, lagian Rey tidak nakal di rumah waktu ditinggal Mamanya pergi,” ucap Soraya diselingi dengan senyuman tipisnya.