Denting alat medis yang berada di ruangan putih ini semakin membuat telinga berdengung. Apalagi di ranjang tersebut tengah terbaring tubuh lemah seorang wanita muda. Peluh keringat terus membasahi pelipis seorang Dokter cantik yang bertugas di sana, bola mata hitam itu menatap layar yang menunjukkan denyut jantung yang tidak beraturan. Dalam hatinya, ia terus berdoa agar keajaiban segera datang.
"Ayolah, Kartika. Austin dan Adolf masih kecil, dia masih butuh kamu," ucapnya pelan.
Sekuat mungkin kelopak mata itu menahan luapan cairan bening yang hampir menetes, juga hatinya yang terus menjerit memanggil nama Kartika, sahabatnya.
"Dokter, tekanan darahnya naik!" seru salah satu perawat.
'Gawat! Ini bisa berakibat fatal pada jantungnya. Oh, Tuhan ... tolong selamatkan sahabatku,' batin Dokter muda tersebut.
Ia terus beradu dengan banyak alat dan suntikan obat, hingga beberapa menit kemudian keajaiban berkenan memihak kepadanya. Perlahan , layar monitor itu menunjukkan perubahan. Hingga lambat laun Kartika mulai meraih kesadaran.
"Azriya ...."
"Iya, Ka. Ada yang sakit? Atau kamu mau bertemu suamimu? Aku akan memanggilkan nya."
Kartika hanya mengangguk, sehingga Azriya lantas beranjak keluar.
Ceklek!
"Kartika gimana, Riya?!" tanya Gavriel, suami Kartika.
Sorot matanya memandang penuh harap kepada gadis berwajah cantik dengan setelan jas putih tersebut. Beberapa kali Azriya juga tampak menghela napas kasar.
"Aunty Azriya, Mommy ku mana? Kata Daddy, Mommy lagi di dalam sama Tante, kok Tante keluar sendiri? Nggak sama Mommy?" tanya Austin.
Putra pertama Kartika itu sangat pintar, bocah berusia enam tahun tersebut begitu lucu dan polos. Ah, hampir saja Azriya mengeluarkan air mata kala menatap wajah yang sangat mirip dengan sahabatnya itu.
"Syukurlah, Kartika sudah sadar. Dia berhasil melewati masa kritisnya, dan dia ingin bertemu dengan Anda, Pak," ucapnya sembari menatap Gavriel.
Lelaki tampan itu langsung mencium kening putranya, dengan suara pelan ia mengatakan akan menemui sang Mommy di dalam. Baru setelahnya Gavriel mengekor di belakang Azriya memasuki ruangan berbau obat itu.
"Sayang, gimana keadaan kamu? Apa yang kamu rasakan?" tanyanya sembari menggenggam erat jemari lentik istrinya.
"Dad ... maaf."
"Nggak, kamu jangan minta maaf. Kamu juga jangan memikirkan apa-apa dulu, aku cuma mau kamu sembuh. Sudah, itu saja."
Azriya melihatnya sambil sesekali mengecek detak jantung Kartika, beruntung semuanya normal. Namun, saat ia meletakkan telapak tangan pada kaki sahabatnya tersebut, entah kenapa rasanya sangat dingin. Bahkan dirinya sudah tidak menghiraukan pembicaraan antar dua kekasih tersebut.
Dengan perlahan, Azriya menaikkan telapak tangan hingga sampai pada betis. Sungguh! Bahkan ini rasanya lebih dingin dari pada es. Gegas ia menekan tombol yang berada tepat di sisi ranjang Kartika, hingga beberapa saat kemudian Dokter Andreas kembali masuk.
"Tuan, maaf. Tapi kami harus melakukan pengecekan lagi kepada pasien," ucap Andreas.
"Ada apa memangnya, Dokter?"
Andres mengalihkan pandangannya kepada Kartika yang sudah mendongak ke atas, pupil mata itu hampir tenggelam, dan terdengar suara dengkuran lirih dari mulutnya. Gavriel juga menyaksikan hal itu, tetapi ia hanya bisa menggeleng seolah menolak kejadian di depannya.
"Kami tidak bisa menjelaskan sekarang, Tuan. Tapi ini genting sekali!"
Alhasil Gavriel beranjak keluar, setelahnya Azriya membantu Andreas melakukan penanganan kepada Kartika. Raut tegang itu bersamaan dengan tubuh Kartika yang semakin mengejang.
Hingga sudah hampir satu jam, keadaan Kartika semakin parah. Wanita berwajah pucat itu antara sadar dan tidak, tetapi mulutnya terus memanggil-manggil suaminya.
"Panggilkan saja suaminya, Dokter!" ucap Andreas.
"Baik," sahut Azriya.
Dokter muda itu berlari ke arah luar dan meminta Gavriel masuk. Entah sebuah kebetulan atau bukan, tetapi Kartika langsung meraih kesadarannya. Mungkin, inilah yang dinamakan kekuatan cinta.
"Dad ... a-aku, aku punya permintaan," ucap Kartika dengan suara lirih.
"Apa, Sayang? Kamu mau apa, hem?"
"Waktuku sudah tidak banyak lagi, kasihan Austin dan Adolf. Aku ... aku juga nggak tega meninggalkan kamu sendirian."
"Kamu bicara apa, Ka?! Waktu apa? Kamu itu akan sembuh. Kalau kamu kasihan sama kami, berarti kamu harus sembuh!"
Kartika menggeleng, ia lantas menggenggam erat tangan suaminya.
"Carilah Mommy baru untuk Austin dan Adolf, Dad. Aku nggak bisa menemani anak-anakku, setidaknya mereka jangan sampai kehilangan kasih sayang."
"Kamu bicara apa, Kartika!"
Semua mata lantas mengalihkan pandangannya melihat pemandangan pilu tersebut. Bagaimana bisa ada wanita setulus ini? Bahkan di akhir hayatnya yang ia pikirkan adalah kebahagiaan orang lain.
"To-Tolong ...."
Gavriel terus menggelengkan kepala dengan air mata yang tiada henti menetes. Beberapa detik kemudian, Kartika mengalihkan pandangannya kepada Azriya. Tangan lemah itu berusaha menggapai jemari sahabatnya, hingga membuat Azriya tersentak.
"Tolong jaga anak-anakku, Azriya. A-Aku nggak bisa mempercayai orang lain selain kamu. Tolong ...."
"Kamu akan menjaga mereka sendiri. Kamu akan sembuh, Ka."
"Aku sudah nggak kuat. Tolong jaga anakku, a-aku titip Austin dan Adolf."
Hanya itu yang terus Kartika gumamkan, ia terus meminta Azriya menjaga kedua putranya. Hingga akhirnya Azriya mengangguk lantaran tidak tega.
"Menikahlah dengan Azriya, Dad. Dia gadis yang baik, dia akan menjaga anak-anakku dari marabahaya," pinta Kartika untuk yang kesekian kalinya.
"Kamu ngomong apa, Ka?! Nggak! Aku nggak mungkin mengkhianati kamu!" pekik Gavriel.
"Bukan, ini bukan pengkhianatan. Ini adalah permintaan terakhirku, Dad. Tolong ...."
"Jangan siksa aku, Ka ...."
"Tolong, Dad!" ucap Kartika dengan penuh penekanan.
Hingga hampir lima menit Gavriel meraung pilu dalam tangisnya, akhirnya lelaki itu mengangguk pasrah. Kartika yang melihat suaminya menganggukkan kepala lantas tersenyum senang, dan meminta ijab qabul dilaksanakan sekarang juga di hadapannya.
Andreas yang merupakan Kakak kandung Azriya, langsung mengambil alih menjadi wali adik semata wayangnya tersebut. Dokter tampan itu langsung menjabat tangan Gavriel dan melantunkan ijab qabul, hingga keduanya sah secara agama dengan mahar sebuah cincin pemberian Kartika.
"Argh ...!"
Kartika memekik hebat dengan napas yang semakin tersendat. Monitor detak jantung tersebut semakin menunjukkan grafik tidak beraturan. Sampai pada akhirnya alat canggih itu hanya menunjukkan garis lurus.
"Tidak ... ini nggak mungkin!" pekik Azriya.
"Ada apa?!" tanya Gavriel yang tidak dihiraukan oleh siapapun.
"Dokter! Tolong Kartika!" teriaknya kepada Andreas.
Andreas langsung mengambil alat kejut jantung dan mengoperasikannya. Bibirnya terus bergumam mengumandangkan doa untuk kesembuhan pasiennya, tetapi takdir berkata lain. Tubuh Andreas sontak melemas, ia menggelengkan kepala menatap sendu kepada Azriya.
"Maaf ... Tuan Gavriel, Nona Kartika dinyatakan meninggal pada pukul sepuluh pagi waktu Indonesia bagian barat, setelah mengalami gagal jantung."
Deg!
Gavriel luruh ke lantai dengan tangis yang langsung pecah. Raungannya terdengar pilu, bahkan sangat menyayat. Ia terus mengguncang tubuh kaku istirnya, tetapi mata indah itu tetap enggan terbuka.
***
Sore hari.
Rintik hujan membasahi area pemakaman, tetapi Gavriel tetap enggan beranjak dari pusara sang istri. Ia terus memeluk nisan bertuliskan nama Kartika itu dengan luapan air mata yang kian deras.
"Hujannya semakin deras. Kamu tidak mau pulang?" tanya Azriya.
Hening! Sama sekali tidak ada jawaban dari lelaki itu.
"Gav, Austin dan Adolf sudah menunggu di mobil."
"Andaikan kau tidak menyetujui permintaan Kartika, pasti dia masih hidup! Pergilah ... aku tidak butuh kau menungguku."
Deg!
Mansion Erlando
"Daddy ...!" pekik Austin.
"Halo, Boy. Kenapa mukamu begitu?" tanya Gavriel saat melihat raut putranya sembab.
"Kata orang-orang Mommy akan pulang, tapi kenapa aku tidak melihatnya?"
Glek!
Gavriel tersentak dan tak ayal kesusahan menelan salivanya.
"Sayang, eum ... nanti kita bicarakan ini lagi, ya. Lebih baik sekarang kamu bermain dengan Adolf. Ngomong-ngomong, ke mana dia?"
"Adolf sedang ada di kamarnya. Dia bilang rindu dengan Mommy, Dad. Baiklah, kalau begitu aku akan ke kamar saja."
Gavriel mengangguk dan lantas menurunkan tubuh mungil itu dari gendongannya. Tanpa ia sadari, sedari tadi Azriya turut memperhatikan semua interaksi tersebut. Ada perasaan tidak nyaman di hatinya, terlebih saat mengingat mendiang Kartika.
Tiba-tiba bayangan beberapa jam lalu terputar kembali di dalam benak Azriya, sebuah pesan terakhir dari mendiang sahabatnya tersebut.
"Ada yang tidak menginginkan keberadaan anak-anakku di rumah itu, Azriya. Tolong kamu lindungi Austin dan Adolf, dan kamu cari tahu siapa orangnya. Karena ... karena aku curiga dia juga yang sudah berniat membunuhku," ucap Kartika di detik terakhir hidupnya.
'Siapa kira-kira?' batin Azriya.
Gavriel sudah menuju ruang tengah, sehingga Azriya pun turut mengekor ke sana. Ternyata di ruangan yang sangat luas mirip seperti ballroom itu sudah ada banyak orang yang duduk di sebuah kursi melingkar dengan meja besar di tengahnya.
"Jadi kamu?! Kamu Dokter yang tidak becus dan sudah menyebabkan menantuku meninggal?!" teriak seorang wanita paruh baya.
Azriya hanya menatap heran. Sungguh! Ia bahkan tidak mengenal wanita itu.
"Mom, sudahlah. Percuma saja kita memarahinya. Kartika tidak akan kembali meskipun Mommy marah-marah."
"Jadi kamu membelanya, Gavriel?! Atau memang ada hubungan spesial diantara kalian?"
"Hubungan apa, sih, Mom? Sudahlah ... aku lelah. Aku mau ke kamar dulu."
"Gavriel ...!"
Sosok yang baru diketahui Azriya sebagai Mertuanya itu terus saja berteriak walaupun Gavriel tidak menghiraukan. Hingga akhirnya mata keriputnya mengalihkan pandangan kepada Azriya. Perlahan, wanita paruh baya itu berjalan mendekati Azriya yang masih berdiri mematung.
"Puas kamu sudah membunuh menantuku?" ucapnya dengan suara lirih.
Sedangkan wanita cantik itu hanya diam dan tidak bergeming. Sementara wanita paruh baya tersebut mulai mendekatkan bibirnya pada daun telinga menantu barunya itu.
"Selanjutnya giliranmu!"
Deg!
Jantungnya seakan melompat keluar bersamaan dengan perginya sang Mommy Mertua. Apakah mungkin pelukannya wanita itu? Tapi, apa alasannya? Kepalanya mendadak pening dan ia lantas menuju kamar Gavriel. Dirinya berpikir, mungkin bisa menemukan teka-teki di kamar mendiang sahabatnya.
'Huh ... dia benar-benar mengerikan dan penuh keanehan. Kasihan sekali sahabatku punya mertua seperti itu,' batin Azriya.
•
Ceklek!
Deg!
Bola mata hitamnya langsung beradu pandang dengan Gavriel. Azriya langsung merasakan suasana yang mencekam di sekitarnya lantaran tatapan Gavriel yang langsung menghunus tajam ke dalam manik indahnya.
"Mau apa kau ke sini?"
"A-Aku ...?"
"Apa kau pikir setelah kejadian tadi kau berhak menjadi istriku?! Bahkan aku jijik melihat wajah polos mu itu!"
Azriya tidak menjawab. Wanita cantik itu hanya menatap sosok laki-laki di depannya ini dengan pandangan datar.
"Masih tidak paham?! Kau tidak paham dengan bahasaku, hah?!"
"Kau bicara bahasa manusia 'kan? Tentu saja aku paham," jawab Azriya dengan suara tenang.
Azriya mengambil kursi dan mendudukkan dirinya di sana.
"Pelankan nada bicaramu, Gav ...! Ingatlah bahwa aku menikah denganmu karena wasiat dari mendiang istrimu! Di sini bukan hanya kau yang tidak sudi menikahi ku, tapi aku juga tidak sudi menikah denganmu!"
Gavriel masih tidak bergeming.
"Andaikan kau tahu apa yang dikatakan Kartika di akhir hayatnya, kau malah akan berterima kasih kepadaku, Gav! Huh ... sayang sekali, Kartika harus mendapat suami bodoh sepertimu!"
"Kau—"
Azriya bangkit dan langsung keluar dari kamar. Niatnya berembuk tentang apa yang disampaikan Kartika ternyata tidak mendapat sambutan baik dari Gavriel.
"Dasar laki-laki bodoh! Istrinya tersiksa di rumah ini malah dia tidak tahu apa-apa," gumamnya.
Azriya terus menyusuri sudut rumah ini. Bangunan mewah bergaya klasik tersebut penuh dengan lampu kristal dan bunga hias, juga ada banyak lukisan yang terpajang di dindingnya.
"Kamu jangan dekat-dekat dengan Aunty Riya, Austin. Mereka bilang, Aunty Riya yang sudah membunuh Mommy," ucap seorang anak laki-laki dari balik kamar.
Azriya sontak mengehentikan langkah kakinya. Wanita cantik itu dengan hati-hati mulai menempelkan telinganya pada pintu kayu jati di sampingnya.
"Tapi, Adolf. Aunty Riya 'kan temannya Mommy, terus dia juga sering main sama kita dan Mommy dulu," jawab anak laki-laki yang Azriya kenal sebagai suara Austin.
"Ya sudah terserah, pokoknya aku sudah peringatkan, ya. Aunty Riya itu akan menguasai Daddy dan rumah ini, lalu dia akan membunuh kita seperti dia membunuh Mommy."
"Hah?! Nggak mungkin, Adolf!"
"Terserah kamu saja, Austin. Sudah, aku mau tidur dulu. Kamu kalau masih mau dekat sama Aunty Riya juga terserah, tapi aku nggak mau bantuin kalau ada apa-apa."
Deg!
'Apa ini? Siapa yang menghasut otak polos anak berusia lima tahun?' batin Azriya.
Wanita cantik itu gegas beranjak menuju kamar tamu yang terletak di lantai bawah. Di sepanjang jalan, ia terus memikirkan siapa yang sudah menyebabkan semua kekacauan ini. Dari kematian Kartika yang begitu mendadak, sikap Gavriel yang tidak tahu-menahu, dan Adolf yang berubah.
"Argh! Bisa-bisanya Kartika meninggalkanku dengan semua teka-teki ini. Seharusnya dia meninggalkan petunjuk kalau memang ingin aku bantu!" gerutunya.
Hingga tidak terasa Azriya sudah sampai di lantai bawah yang sudah sangat gelap. Semua lampu utama sudah mati, hanya ada beberapa lampu kecil yang diletakkan di beberapa sudut.
Saat hendak membuka pintu kamar tamu, Azriya tidak sengaja menatap pada siluet seseorang yang berjalan cepat menuju pintu dan langsung keluar rumah. Azriya sontak saja terkejut. Siapa yang keluar rumah malam-malam? Pikirnya.
Ia hendak mengikuti siluet tersebut, tetapi getaran ponsel pada saku celananya langsung mengehentikan langkahnya.
"Aduh! Siapa, sih?" gerutunya lagi.
Azriya mengambil benda pipih itu dan membawanya ke depan muka, ternyata Kakaknya yang sedang menelpon. Gegas saja Ibu jarinya menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel tersebut ke daun telinga.
"Halo, Kak. Ada apa?"
"Kakak menemukan ada infeksi virus di tubuh Kartika."
Deg!
"Ja-Jadi? Bukan hanya karena keracunan makanan?"
"Riya, apa kamu nggak merasa aneh? Apa mungkin kalau hanya keracunan makanan bisa meninggal secepat itu?"
Azriya semakin membelalakkan mata. Kenapa saat itu ia tidak menyadari hal ini? Sekarang, jasad sahabatnya sudah dimakamkan, dan tidak bisa dilakukan penyidikan lebih dalam lagi.
"Kak, kalau ada perkembangan lagi tolong hubungi aku. Aku akan segera cari tahu kebenarannya."
"Yeah."
TUT!
Sambungan telepon tersebut sudah terputus, selanjutnya Azriya memilih masuk ke dalam kamar tamu tersebut. Pikirannya kacau menelaah kejadian yang menurutnya sangat memusingkan ini.
"Apa aku perlu ceritakan semuanya kepada Gavriel? Tapi dia saja menolak kehadiranku. Padahal niatku hanya membantu," gumamnya.
Banyak sekali mister di rumah ini. Belum sempat wanita cantik itu menjalankan wasiat mendiang sahabatnya, juga tentang siapa yang menghasut Adolf. Sekarang harus dihadapkan dengan fakta baru tentang kematian Kartika.
'Siapa yang sudah membencimu di rumah ini, Ka?' batinnya.
Pagi hari.
Azriya sudah siap dengan setelan baju kerjanya, ia memang belum bekerja penuh waktu, dan akan datang saat Kakaknya membutuhkan bantuan. Kebetulan pagi ini wanita cantik itu sendiri yang berniat datang untuk melihat jenis infeksi yang ditemukan oleh Kakaknya.
Saat ini semua anggota keluarga tengah berkumpul di meja makan. Semuanya diam penuh keheningan, bahkan Austin dan Adolf pun turut mengunci rapat mulutnya.
"Sebagai pengantin baru kalian perlu didoakan, dan ini sudah adatnya. Terlepas bagaimana terjadinya pernikahan kalian, tapi kau sudah membawa wanita masuk ke dalam rumah ini, Gavriel. Apalagi statusnya adalah istrimu."
"Aku rasa ini tidak perlu, Mom. Aku menikahinya juga karena paksaan dari Kartika, jadi aku tidak menganggapnya sebagai istri," sahut Gavriel.
"Mommy juga tidak menganggapnya sebagai menantu, tapi ini adalah adat yang harus ditaati!"
Azriya hanya menyimak perdebatan itu, bahkan sampai sekarang ia masih belum mengetahui siapa nama Ibu Mertuanya tersebut. Namun, semua itu bukan masalah, toh tujuannya di sini adalah memecah misteri. Lalu setelahnya, ia akan segera keluar dari neraka berkedok mansion mewah ini.
"Satu minggu lagi pernikahan kalian akan di umumkan, ini kita lakukan untuk mencegah adanya kabar miring. Jadi, kamu jangan merasa di atas angin, Azriya! Kami melakukan hal ini bukan untukmu, melainkan untuk nama baik kami sendiri."
Hening! Azriya masih mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Bukannya tidak bisa menjawab cemoohan barusan, tetapi ia malas membuang tenaganya.
Setelah acara sarapan selesai, Gavriel langsung beranjak mengantarkan Azriya ke rumah sakit. Semua orang memandang kepergian keduanya biasa saja, tetapi tanpa ada yang tahu, Gavriel sudah menyiapkan sebuah rencana. Hingga sampailah saat masih di tengah jalan, lelaki itu tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya.
"Apa maksudmu kemarin?" tanyanya.
"Maksud apa?"
"Wasiat Kartika."
Azriya menghela napas lirih. Kemudian ia meminta Gavriel melajukan lagi mobil dengan alasan enggan terlambat ke rumah sakit.
"Cepat katakan!" ucapnya lagi seraya kakinya kembali menekan pedal gas.
"Kau sungguh tidak mengetahuinya?"
Bukannya menjawab, Gavriel malah melemparkan tatapan tajamnya kepada Azriya. Namun, wnaita cantik itu sama sekali tidak merasa ketakutan.
"Aku bukannya tidak ingin mengatakan, tapi apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Azriya dengan tanpa melihat sedikitpun ke arah Gavriel.
"Apa maksudmu?"
Azriya kembali terkekeh.
"Jawab saja, apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Azriya dengan pertanyaan yang sama.
"Tentu saja bisa. Kartika itu istriku, dan apa kau lupa bagaimana aku terluka karena kehilangan dia?"
Wanita cantik itu mengangguk, setelah beberapa menit ia memikirkan semuanya, akhirnya ia menceritakan semua yang disampaikan Kartika tempo hari. Azriya berharap Gavriel bisa membantunya mengusut semua ini.
Ciiiit!
Lelaki itu sontak menginjak rem mendadak saat Azriya berbicara permintaan terakhir mendiang Kartika. Raut muka Gavriel langsung memerah bersamaan dengan deru napasnya yang naik turun, tangannya mencengkram erat setir mobil hingga urat-uratnya nampak menonjol.
"Kartika bicara seperti itu?"
Azriya hanya menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Pantas saja beberapa Minggu lalu tingkahnya berubah. Dia seperti ketakutan dan gelisah, beberapa kali juga melarang ku pergi, dan selalu minta ditemani. Tapi, saat itu aku tidak terlalu memusingkannya," ujar Gavriel dengan suara lirih.
Azriya masih tidak bergeming. Namun, tangannya turut mengepal seperti tengah menahan kekesalan.
"Tapi Kartika tidak pernah menyinggung siapapun di rumah itu. Dan puncaknya saat tiga hari sebelum dia masuk rumah sakit."
"Ada apa?" tanya Azriya.
"Kartika bilang dia ingin pergi dari rumah itu dengan membawa Austin dan Adolf, tapi sayangnya Adolf nggak mau. Dan itu semakin membuatnya menjadi pendiam."
'Adolf ...?' batin Azriya.
Azriya menatap dalam sosok laki-laki yang baru pertama kali berbicara panjang lebar dengannya tersebut. Ataukah Gavriel mulai merasakan ada keganjilan dari kematian istrinya? Pikir Azriya.
"Ada hal aneh lainnya?"
"Besoknya Kartika sudah nggak nafsu makan, bahkan ia enggan bertemu dengan orang lain, termasuk aku dan anaknya. Kartika lebih senang menyendiri di dalam kamar, dia tidak pernah keluar. Sekalinya dia keluar adalah saat acara makan malam dengan keluarga besar, dan di acara itu juga dia keracunan makanan," ujar Gavriel, panjang lebar.
Azriya melepas gelak tawanya. Ia sungguh tidak habis pikir dengan kepolososan lelaki di sebelahnya ini. Bagiamana bisa saat kematian istrinya ia lah yang paling menangis histeris, tetapi saat istrinya sedang dalam bahaya ia malah tidak tahu apa-apa.
"Kenapa?! Kau ingin menghina ku?"
"Aku tidak seburuk yang kau pikirkan, Gav. Lagi pula, bagaimana bisa kau berbicara banyak hal, sedangkan di meja makan tadi kau terang-terangan menolak ku."
"Aku memang menolakmu sebagai istriku, ini pun aku lakukan agar misteri kematian Kartika segera terungkap. Jadi, kau jangan salah paham," jawabnya.
Meskipun sebenarnya lelaki itu tidak mengerti kenapa ia bisa berbicara banyak hal. Seakan ada dorongan untuk membagi semua bebannya kepada Azriya, juga perasaan nyaman saat bertukar pikiran dengan wanita di sebelahnya ini.
Gavriel sekuat mungkin mengelak perasaan nyaman yang tiba-tiba timbul. Ia masih tidak ingin mengkhianati mendiang Kartika.
'Tidak! Ini semua aku lakukan demi Kartika, dan aku sama sekali tidak ada perasaan dengan Azriya,' batinnya.
Mobil mewah tersebut kembali melaju meninggalkan jalanan itu. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil tersebut sudah berhenti di parkiran rumah sakit. Azriya hendak membuka pintu, tetapi gerakan tangannya terhenti saat Gavriel kembali membuka suara.
"Kita akan menjadi rekan demi mengusut tuntas kasus ini, Riya."
"Kau yakin?"
"Yeah. Aku yakin Kartika tidak akan memintaku menikahi mu tanpa suatu alasan yang jelas. Meskipun dia tidak mengatakan apa-apa, tapi pasti ada sebuah hal besar di balik semua ini."
Azriya lantas mengangguk. Hatinya sedikit lega saat Gavriel tersadar bahwa keduanya sengaja disatukan oleh Kartika untuk suatu misi.
"Baiklah. Tapi sepertinya ini akan sulit, mengingat sama sekali tidak ada petunjuk yang ditinggalkan oleh Kartika," ucap Azriya.
"Iya, aku tahu."
Azriya kembali mengangguk dan ia lantas turun dari mobil. Tanpa disadari, Gavriel masih belum mengalihkan pandangannya dari Azriya, bahkan saat wanita cantik itu sudah hilang di balik pintu masuk.
Seutas senyum tipis tersemat di bibir lelaki tampan itu, "dia mirip sekali denganmu, Ka," gumam Gavriel.
***
Di sisi lain, Azriya yang baru saja masuk ke ruangan Andreas langsung menagih hasil laporan yang didapatkan oleh Kakaknya tersebut.
"Bacalah baik-baik!" ucap Andreas seraya mengulurkan sebuah amplop putih.
Azriya lantas tersenyum manis dan meraih amplop tersebut. Gerakan tangannya dengan cepat membuka segelnya, hingga beberapa saat kemudian keningnya tampak mengerut.
"Ini bukannya cairan yang digunakan untuk melemahkan sistem saraf?"
"Benar. Di dalamnya ditambahkan beberapa zat sehingga bisa semakin mempersempit pembuluh darah, sampai akhirnya menyebabkan gagal jantung."
Deg!
Azriya sontak memegang dengan air mata yang hendak merembes keluar. Ia sudah biasa bertemu dengan kasus kematian, tapi ini adalah sahabatnya. Tentu saja rasanya berbeda.
"Pantas saja Kartika bisa meninggal secepat itu, Kak. Aku pun sudah curiga kalau penyebabnya bukan hanya keracunan," ucap Azriya dengan suara yang sangat pelan.
Azriya kembali memandang kertas yang berada di tangannya tersebut dengan pandangan berkabut. Sungguh! Hatinya begitu sakit mendapat kenyataan sahabatnya benar-benar dibunuh.
'Apa jangan-jangan dalangnya juga ada di mansion itu?' batinnya.