Bab 1

Athena Salindri.

Perempuan berusia 21 tahun itu tak pernah sekalipun bahagia dalam pernikahannya dengan Bima. Satu tahun mereka menikah, tapi tak sehari pun Athena bisa hidup tenang.

"Gak guna!" Athena tersungkur di lantai rumahnya yang masih berupa tanah berdebu, sementara Bima mengamuk karena Athena tak bisa memberinya uang untuk berjudi.

Sebuah pukulan keras dari kayu rotan itu menodai betis Athena yang putih mulus seputih susu. Luka dari pukulan itu meninggalkan guratan merah dengan rasa perih yang menyiksa, walau rasa sakitnya sangat menyengsarakan, tapi Athena enggan menangis.

Padahal dulu Bima tak seperti ini. Bima tak pernah sekasar ini. Dulu Bima hanyalah pria baik dan cukup tampan dimata Athena, sehingga Athena berani jatuh hati padanya.

Namun, Bima berubah setelah mereka dijodohkan. Setelah mereka menikah, Bima jadi terjerumus pada perjudian dan bahkan jadi pemabuk.

Bima jadi selalu menyalahkan Athena atas kehidupannya yang sengsara dan menganggap Athena sebagai penyebab dari putusnya hubungan dia dengan Ayu— perempuan yang kala itu menjadi kekasih hatinya.

"Gak ada, mas. Aku gak punya uang lagi... beneran, aku gak bohong."

"Halah! pasti diumpetin kan duitnya? Ngaku! Kerja keras jadi buruh cuci dari rumah ke rumah, masa gak dapet duit!"

Athena tersentak tiap kali mendapat pukulan demi pukulan itu. Ia bahkan tak sanggup untuk sekadar berteriak kesakitan karena jika ia melakukannya, pukulan itu akan semakin membabibuta.

"Uangnya aku pake buat beli minyak sama beras, mas. Udah abis, telur saja gak kebeli-" ucapnya tertahan.

Athena tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, ketika tangan besar nan kasar itu meraih lehernya dan menekannya keras untuk sekadar-

"Kalung lo gue ambil, buat bayar hutang judi."

Bima membuka kalung emas yang dikenakan oleh Athena itu dengan hati-hati, sementara Athena sudah tidak punya kekuatan lagi untuk mencegahnya.

"Itu kalung buat biaya lahiran anak kita, mas... jangan diambil." Suara Athena lemah.

Namun apa pernah Bima jadi pria baik yang punya nurani?

Hahah! tentu saja tidak pernah.

"Bodoamat," cetus Bima tak acuh.

Dengan tidak tahu malunya, Bima mengantongi kalung itu, mendorong kasar bahu Athena sampai punggung Athena terantuk kayu penyangga dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu.

Rasa sakit luar biasa langsung menjalari punggung Athena, membuatnya mematung merasakan rasa sakit itu sendirian.

Kemudian, Bima bergegas pergi begitu saja keluar rumah meninggalkan Athena yang tak berdaya di tempatnya.

Isak tangis yang terdengar pilu itu keluar dari bibir Athena yang gemetar. Athena memandang nelangsa kepergian Bima, bukan karena ia bersedih atas ketidakberadaan Bima, bukan itu.

Athena menangis karena satu-satunya harapan biaya untuk melahirkan anaknya telah raib, ditambah dengan fakta bahwa dirinya tidak pernah seberharga itu di mata suaminya sendiri.

“Sakit,” gumam Athena dengan suara tercekik. Detik itu juga ia memeluk perut buncitnya yang tiba-tiba terasa sakit seperti tengah diurut dengan sangat keras.

Sakit… sangat sakit.

Athena meringkuk, memeluk perutnya sambil terus meringis kesakitan. Sampai kemudian darah segar mengalir deras dari paha atasnya, diiringi sensasi sesuatu yang keluar dari dalam dirinya-

Athena keguguran.

***

“Sialan!” umpat Bima menendang kaleng soda itu dengan kesal.

Ia menyugar rambutnya dan mengusap kasar wajahnya, mulai mengutuk dirinya sendiri karena kalah dalam berjudi.

"Tolol, emang. Udah berharap bisa menang banyak setelah jadiin kalungnya jaminan, eh malah kalah. Padahal, niatnya buat bayar hutang."

Lagi, Bima menyugar rambutnya. Ia merasa frustasi... benar-benar frustasi. Sesekali ia mendengus jengkel lalu meludah sembarangan sambil terus merutuki ketidakberuntungannya.

Baru saja Bima berniat melangkahkan kakinya untuk pulang menuju rumahnya, ketika sebuah mobil Jeep berhenti di depannya.

Seseorang kemudian keluar dari sana, dan menghampiri Bima dengan aura yang membuat Bima menelan ludahnya dengan susah payah.

"Hutangmu, Bima. Lagi-lagi kamu ingkar janji dan tidak membayar hutangmu," ucap pria setengah baya dengan suara bariton yang membuat Bima sontak menatap lawan bicaranya itu dengan ketakutan besar yang tercipta jelas diwajahnya.

"B-Bukan gitu, Pak Mandor. Saya mau bayar kok. Tadinya saya mau bayar pake uang hasil judi, cuma gimana, ya, hari ini saya kalah judi. Janji deh Pak Mandor, nanti saya akan bayar." Alibinya.

"Banyak alasan," desis pria setengah baya yang dijuluki sebagai Pak Mandor itu. Kemudian ia melirik ke arah dua orang pria berbadan kekar disisi kiri dan kanannya. "Bawa dia. Tuan Brian memintaku untuk membuat pertemuan dengan si Bima Bima ini," lanjutnya.

Tanpa menunggu lama, kedua pria kekar itu langsung menyergap Bima dan menyeretnya masuk ke dalam mobil. Sekalipun Bima meronta-ronta, kedua pria kekar itu tetap bisa membuat Bima masuk ke dalam mobil tanpa bisa berkutik lagi.

Di dalam mobil, Bima diapit oleh kedua pria kekar itu, dimana tiap kali ia memberontak, yang dirasakannya kemudian adalah sensasi dari tulang bahunya yang terasa hampir remuk.

Tak butuh memakan waktu lama. Ketika akhirnya mereka sampai di rumah megah nan mewah itu, buru-buru para pria besar itu membawa Bima ke dalam rumah.

Dengan kasar, tubuh Bima diseret ke ruang bawah tanah, lalu dilemparkan tepat dibawah kaki pria lumpuh yang duduk di kursi rodanya.

Walau dalam keremangan cahaya yang minim, tapi Bima bisa melihat dengan jelas dan memastikan bahwa pria yang ada dihadapannya itu punya dagu yang bengkok.

Seperti orang stroke.

"Tuan... Maaf tuan, ini cuma salah paham. Hutangnya pasti saya bayar!" mohon Bima dengan panik, lalu memeluk erat kaki pria di hadapannya itu.

Pak Mandor yang melihat itu, hanya berdecak dan mendelik muak.

"Percuma berbicara dengan tuanku karena dia hanya bisa melihatmu tanpa bisa mendengarkan suaramu– tuanku tuli. Lagipula jangan berbicara omong kosong. Aku tahu kalau dirimu hanya berbohong, kamu gak akan bisa bayar hutangmu,Bima."

"Bisa, pak... Saya bisa bayar hutangnya!" Bantah Bima cepat. Kemudian, ia beringsut mundur dan bersimpuh di kaki sang mandor.

"Mau bayar pake apa? Kamu miskin, Bima," cibirnya meremehkan semua janji Bima yang terdengar seperti omong kosong baginya.

"Saya punya barang berharga. Saya akan jual itu ke tuan Brian. Mungkin bisa melunasi hutang saya," katanya.

"Barang apa?"

"Istri saya."

Pria setengah baya yang dijuluki sebagai Pak Mandor itu pun diam sejenak lalu kemudian melirik ke arah Brian untuk sekadar berbicara dengan bahasa isyarat. Membicarakan hal yang diucapkan Bima itu kepada Brian.

(Bawa perempuan itu kehadapanku, Ismail. Biar aku sendiri yang memastikan apa barangnya layak beli atau tidak,) ucap Brian dengan bahasa isyaratnya.

Pak Mandor yang bernama Ismail itu pun lalu mengangguk mengerti lalu kemudian mengalihkan pandangannya pada Bima.

"Bawa istrimu kehadapan tuanku. Biar tuanku sendiri yang memastikan apakah istrimu layak untuk dibeli atau tidak," pungkas Ismail dingin.

***

"Ikut gue,” tukas Bima seraya menarik tangan Athena untuk mengikutinya.

Padahal Bima baru saja pulang,tapi tanpa nurani, ia langsung menarik Athena secara kasar. Ia bahkan tak bertanya terlebih dahulu tentang kondisi Athena, padahal saat ini Athena belum pulih pasca keguguran.

“Ke mana? Aku sakit, mas. Aku baru keguguran, apa kamu gak akan ngerasa sedih sama sekali?”

“Syukur deh kalo keguguran. Beban hidup gue berkurang satu,” pungkasnya dingin dan masih terus menarik tangan Athena untuk keluar dari rumah dan bergegas mengajaknya masuk ke dalam mobil Jeep yang dikendarai oleh salah satu anak buah Brian.

“Kita mau ke mana?” ulang Athena yang mulai panik ketika mobil itu melaju pergi.

Namun, Bima tak menggubrisnya. Ia tetap diam seribu bahasa, memilih fokus ke jalanan desa yang mereka lalui, sampai tak lama kemudian akhirnya mereka pun sampai di kediaman Brian.

Rumah dua tingkat dengan gaya arsitektur Mediterania itu tampak berdiri dengan kokohnya, begitu kontras dengan rumah-rumah di desa yang umumnya hanya berupa rumah bedeng dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu.

Sekitar 50 orang penjaga berdiri di setiap sudutnya, menjaga keamanan rumah atau yang lebih tepatnya adalah menjaga keamanan Brian si sang empunya rumah yang tidak berdaya sama sekali di atas kursi rodanya.

"Ayo turun," perintah Bima yang lagi-lagi menarik kasar tangan Athena untuk masuk ke dalam rumah itu.

Bagian dalam rumah jauh lebih megah, membuat Athena sempat tersihir dengan keindahannya, sebelum akhirnya keberadaan dua orang yang datang membuatnya kembali tersadar bahwa ia berada di tempat asing.

Athen membeku.

Tatapannya terpaku pada seorang pria yang duduk di atas kursi roda, dengan kondisi yang membuat Athena buru-buru menundukan kepalanya karena tak sanggup melihatnya.

Pria itu cacat.

Walaupun punya wajah yang sangat tampan, tapi ketampanan itu bahkan tertutupi oleh rahang yang bengkok dan juga kondisinya yang duduk di atas kursi roda.

"Saya datang dengan istri saya, pak. Gimana?" ujar Bima terlihat begitu ceria, sementara Athena bahkan tidak nyaman sekali karena di tatap lekat-lekat oleh pria disabilitas itu.

"Ayo Athena perkenalkan dirimu," tambah Bima seraya menyenggol lengan Athena.

Athena mengerjapkan matanya beberapa kali, sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk mendongak dan dengan ragu mengulurkan tangannya.

"Nama saya Athena Salindri," kata Athena memperkenalkan diri.

Perlahan, Brian mengulurkan tangannya dan menyambut uluran tangan Athena, tetapi ia tak bicara.

"Tuanku bernama Brian Atmaja. Beliau tidak bisa mendengarmu dan tidak bisa bicara, karena beliau tuli dan bisu." Suara Ismail mewakili Brian, membuat Athena jadi semakin merasa tak nyaman.

Athena bahkan bergerak gelisah karena Brian tak juga melepaskan genggaman tangannya. Ia takut... sangat takut pada Brian, entah itu karena kondisi fisiknya atau mungkin karena aura tak baik yang melingkupi pria itu, yang jelas Athena takut pada Brian.

Kemudian, Ismail menoleh sejenak pada tuannya-

(Bagaimana tuan, apa anda suka?) tanyanya dengan bahasa isyarat.

Sengaja, karena tak ingin Athena tahu bahwa dirinya yang dijadikan sebagai objek tawar menawar.

(Lumayan. Kau bayar saja, Ismail. Perempuan ini harus jadi milikku.)

Bab 2

"Antarkan nona ini pulang dulu," kata Ismail seraya menoleh ke arah salah satu pria tinggi besar yang sebelumnya menjemput Athena dan Bima.

"Baik, pak. Ayo nona ikuti aku," sahut pria asing itu lalu kemudian meraih bahu Athena dan menggiringnya pergi.

Namun Athena menepisnya. Ia menatap penuh protes ke arah Bima-

"Mas, ini ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba kayak gini?"

Helaan napas berat terdengar dari Bima. Ia kemudian tersenyum hangat dan menghampiri Athena, seraya mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala Athena.

Ini pertama kalinya Bima bersikap selembut ini, dan hal ini membuat Athena sempat membeku dan tersihir untuk beberapa saat.

"Kamu pulang duluan aja, ya? Aku ada urusan pekerjaan yang harus dibicarain sama pak Mandor dulu," jawabnya berbohong.

"Pekerjaan apa?" tanya Athena bingung. Sebab, ia bahkan tak mengerti dengan sikap Bima.

Tadi dia menyeretnya kasar, lalu tiba-tiba jadi bersikap selembut ini. Bima bahkan mengubah panggilannya jadi 'Aku-kamu'... sangat aneh.

"Eng... ini rahasia, tapi nanti aku ceritain semuanya ke kamu, aku janji. Sekarang kamu pulang duluan aja, ya? Kamu kan katanya kurang sehat."

Bima merangkul pundak Athena lalu menuntun dan meyakinkannya untuk ikut pria asing itu dan segera pulang.

"Hati-hati di jalan... aku pulang setelah selesai," seru Bima melambaikan tangannya mengiringi Athena yang pergi di antarkan oleh mobil itu.

Di detik berikutnya, ekspresi wajah Bima berubah. Ia kembali memasang wajah datar, lalu kemudian bergegas masuk ke dalam rumah.

"Gimana, pak Mandor? Perempuan tadi itu namanya Athena... Athena Salindri. Dia cantik, kulitnya putih, badannya juga bagus. Kalo tuan Brian membelinya, tuan Brian bisa ngejual dia lagi ke tempat pelacuran. Dia pasti bakal laku dengan harga yang lebih mahal dan-"

Bima tak menyelesaikan kalimatnya, ketika Ismail meliriknya tajam.

"Tuan Brian akan membayar 3 Milyar, sesuai dengan jumlah total hutangmu."

"4... saya mau 4 Milyar, karena saya juga mau diuntungkan. Saya butuh uang untuk kebutuhan hidup dan lainnya," cetus Bima bernegosiasi.

"Kau ini diberi hati malah minta jantung," desis Ismail marah.

Ia mendelik tajam, lalu kemudian melirik kembali ke arah Brian untuk sekadar menemukan tuannya itu berbicara padanya menggunakan bahasa isyaratnya-

(Berikan saja uang sesuai harga yanng dia minta. Perempuam itu harus jadi miliku, Ismail.)

Mengerti semua kalimat itu, Ismail pun menganggukan kepalanya.

"Oke, Bima. Karena tuanku menyukai barang yang kau tawarkan, jadi tuanku akan membayar dengan harga yang sesuai dengan yang kau minta. Dalam waktu dekat aku akan menjemputnya, jadi kau pastikan barang yang kau jual itu dalam kondisi bagus, dan kau tidak boleh menyentuhnya ataupun menyetubuhinya. Kalau itu terjadi, kau harus membayar mahal."

"Iya, terserah. Pokoknya jadi 4 Milyar, kan? Deal?" Seru Bima dan dengan begitu bersemangat mengulurkan tangannya.

"Deal," sahut Ismail seraya menerima uluran tangan itu.

***

Suara derit pintu rumah yang reyot itu membuat Athena berjingkat bangun dari pembaringannya, dan dengan tertatih-tatih segera keluar dari kamarnya.

"Mas... kamu pulang?" suara Athena langsung menyapa begitu ia mendapati Bima baru saja selesai menutup pintu.

Athena melirik jam dinding yang menunjukan pukul 7 malam, membuatnya jadi semakin mengerutkan kening menatap penuh tanya ke arah Bima.

"Kamu lama banget di rumah orang kaya itu, sebenarnya ada apa? Pekerjaan apa yang kamu bilang itu? "

"Hei... tenang dulu. Ayo duduk dulu, biar aku jelasin."

Dengan lembut, Bima meraih tangan Athena dan mengajaknya untuk duduk di sebuah kursi bambu yang ada di salah satu sudut ruangan.

"Dengar, kamu tahu kan aku punya banyak hutang?"

Athena mengangguk.

"Nah, sebenarnya aku menemui tuan Brian dan pak Mandor itu buat bicara soal hutang. Tuan Brian mau aku kerja di rumahnya, makanya aku ajak kamu ke sana karena tuan Brian dan pak Mandor katanya harus tahu siapa aja anggota keluarga yang harus aku tanggung." Bima memaparkan panjang lebar.

Walaupun awalnya terlihat ragu, tetapi pada akhirnya Athena pun menghilangkan keraguannya.

"Hutangnya berapa? Apa uang yamg selalu kamu ambil dari aku itu masih gak cukup? Apa tetep gak cukup buat ngelunasin hutangnya?"

"Gaji kamu cuma 20 ribu sehari mana cukup? Buat judi aja aku harus pinjem duit ke si Brian itu, sampe akhirnya hutangnya membengkak. Mana mungkin bisa dilunasi kalo ngandelin uang kamu aja," pungkas Bima sedikit emosi.

Beberapa kali ia menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan untuk sekadar menekan emosinya agar tidak meledak-ledak. Sebab, Bima takut rencananya hancur jika ia hilang kendali.

Sudah sejauh ini, tidak mungkin ia mengacaukannya hanya karena emosi sesaat.

"Hutangnya berapa juta? Kalo kamu kerja sama tuan Brian, apa hutangnya bakal lunas? Atau-"

Cup

Athena menjeda kalimatnya saat tiba-tiba Bima mengecup bibirnya singkat.

"Jangan banyak tanya, ya? Aku pusing," ujar Bima tenang.

Kemudian ia meraih dagu Athena, dan kembali mengecup bibir itu. Hanya kecupan ringan, tapi lambat-laun, kecupan singkat itu mulai berubah jadi ciuman panas.

Bima menyapu lembut bibir Athena. Melumat dan memagut bibir itu dengan rakus, seperti orang yang begitu kehausan.

"M-Mas," cicit Athena di sela-sela ciuman Bima padanya.

Kemudian, Athena mengerang saat tangan Bima menyelusup masuk ke dalam dasternya dan perlahan meraba perutnya.

Tangan Bima terus meraba, dan mulai bergerak meraba ke atas, sampai-

"Mas!" Athena mengerang dan tersentak saat tangan Bima menangkup dadanya.

Seolah tak peduli, Bima tetap menggerayangi tubuh Athena. Ia terus melumat bibir Athena dengan penuh nafsu.

Tubuhnya membara.

"Kita pindah ke kamar," kata Bima setelah menyudahi ciuman panasnya.

Napas keduanya terengah-engah, sama-sama kehabisan napas.

Athena menarik napas dalam-dalam, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, lalu kemudian menghembuskan napasnya pelan.

"Aku gak bisa, mas. Aku gak bisa berhubungan sama kamu dulu," tolak Athena dengan takut-takut karena khawatir Bima akan kembali mengamuk dan menyiksanya lagi.

"Kenapa?" tanya Bima seraya menundukan kepalanya untuk beralih menelusuri leher jenjang Athena dan meninggalkan bekas merah di sana.

"Aku... baru keguguran...." Athena menjawab dengan tersenggal-senggal, disela-sela erangannya karena kegiatan Bima yang masih menciumi lehernya.

Mendengar itu, Bima pun seketika mematung di tempatnya untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia tersadar dan menjauhkan dirinya dari Athena.

"O-Oh, iya. Aku lupa, sori."

Bima tersenyum simpul, lalu bangkit berdiri dan melenggang pergi begitu saja meninggalkan Athena yang termangu di tempatnya.

Sepeninggalnya Bima, Athena menghembuskan napas kasar dan menyandarkan punggungnya pada dinding rumahnya yang berupa anyaman bambu itu untuk sekadar kembali meratapi nasibnya.

"Harusnya lima bulan kedepan aku bisa melahirkan, tapi Tuhan mala mengambil bayinya," gumam Athena nelangsa.

Dadanya kembali berdenyut, mengingatkan Athena kalau janin yang selama 4 bulan ini dikandungnya sudah tiada dan bahkan tak bisa ia makamkan dengan layak.

Bab 3

Bima babak belur. Tulang pipinya bengkak dan membiru akibat bogem mentah dari pria kekar dengan badan penuh tato sampai ke area lehernya itu. Sudut bibirnya Bima lebam dengan sisa-sisa darah yang mengering di sana.

Ya, pagi-pagi sekali Bima dijemput paksa oleh Ismail dan beberapa anak buah Brian dengan alasan yang tidak diketahui oleh Bima.

"Tuan... Ampun, tuan. Saya teh gak bohong. Saya cuma cium Athena, itu pun terpaksa karena saya panik Athena banyak tanya soal apa yang saya lakukan di rumah tuan. Jadi, demi buat dia bungkam, saya cium dia. Sumpah, saya gak nyentuh dia lebih daripada itu."

Dengan bertelanjang dada dan kedua tangan yang diikat ke belakang, ia bersimpuh dan menatap penuh permohonan pada pria yang berada di hadapannya.

Brian Atmaja.

Dengan air wajahnya yang tanpa ekspresi dan tatapan mata yang dingin itu, dia duduk di kursi rodanya. Rahangnya terlihat bengkok ke samping seperti orang yang terkena stroke. Ia mengangkat tangannya dan membuat gerakan yang tidak bisa dimengerti oleh Bima.

Bahasa isyarat.

"Andri, tuan memberi perintah padamu. Katanya, cambuk orang itu dan gak boleh berhenti sebelum dia pingsan." Suara sang mandor menerjemahkan bahasa isyarat itu. Ia menatap pada pria jangkung, besar,dan berbadan kekar dengan wajah yang sangat menyeramkan itu.

"Tuan, ampun! Jangan dicambuk, tuan, jangan... Saya bisa mati!" teriak Bima kalang kabut.

Senyuman miring itu terbit di wajah Ismail.

"Bima, Bima. Harusnya kamu pikirkan dulu konsekuensinya. Sudah aku bilang untuk jangan pernah menyentuh barang milik tuan Brian. Kamu udah nyentuh perempuan yang sudah akan dibeli oleh tuanku, jadi kamu harus membayar mahal."

Setelah senyuman meremehkan itu, sang mandor pun berdiri di belakang kursi roda Brian dan bergerak mendorong pelan kursi roda itu untuk menjauh dari ruang bawah tanah di mana Bima akan disiksa sampai setengah mati.

"Cambuk dia, Andri!" teriaknya dengan wajah yang datar dan tanpa ekspresi.

"Baik, tuan."

Pria tinggi besar itu berjalan maju, menggulung cambuk itu di tangannya lalu untuk beberapa saat kemudian ia mengurainya.

Tangan besarnya yang kuat itu terayun dan-

"Argh! A-Ampun, tuan... Argh!" Teriak Bima kesakitan. Ia tampak sangat tersiksa saat cambukan kasar itu mendera punggungnya yang telanjang.

Namun, Brian tak peduli. Toh ia tidak mendengar suara apapun, walau ekspresi kesakitan Bima itu terlihat oleh matanya.

Suara nyaring dari cambuk yang memecut punggung telanjang milik Bima itu terus terdengar, dan Bima akan terus dicambuk sampai Brian sendiri yang meminta Andri– pria sangar itu untuk menghentikannya.

***

Brian Atmaja adalah pria berusia 30 tahun dan merupakan anak tertua dari Adnan Atmaja sang konglomerat terkaya di Indonesia. Ia puny segalanya. Rumah mewah, 3 mobil mewah dan beberapa Vila. Namun, sayangnya ia lumpuh, tuli dan bisu.

Dibalik semua itu, Brian terkenal kejam. Dia tak segan menghabisi siapapun yang berurusan dengannya, terutama perihal hutang yang tak pernah dibayar.

Ia membuat gerakan tangan atau bahasa isyarat yang kira-kira jika diterjemahkan berbunyi -

(Ismail, antarkan aku ke kamar. Setelah itu kau pastikan pria bernama Bima itu sudah mendapatkan hukumannya sampai selesai.)

"Baik, tuan." Dengan menggunakan bahasa isyarat, sang mandor yang ternyata bernama Ismail itu menyahut.

Ia mendorong pelan kursi roda itu melewati tiap lorong dari rumah mewah yang temaram karena pencahayaan yang minim, walaupun sebenarnya hari masih terang benderang di luar sana. Tak ada setitik pun sinar matahari yang masuk ke dalam rumah, Brian sendiri yang tidak memperbolehkannya.

Semua tirai selalu menjuntai menutup tiap jendela sepanjang harinya. Bukan tanpa sebab, Brian hanya tak ingin fisiknya yang tak sempurna itu ditonton banyak orang atau bahkan para buruh pemetik teh yang lalu lalang melewati rumahnya.

Dalam keheningan keduanya, Ismail bergegas membawa Brian masuk ke dalam kamar pribadi pria itu dan menggendongnya untuk direbahkan di atas tempat tidur lembut berukuran king size itu.

"Apa ingin saya selimuti juga?" tanyanya menggunakan ucapan verbal juga menggunakan bahasa isyarat.

Brian terlihat menggeleng cepat lalu membuat gerakan tangan menghalau, meminta Ismail untuk keluar dari dalam kamarnya.

"Baiklah. Selamat beristirahat, tuan– saya undur diri." Ismail berjalan mundur menjauhi Brian dengan tubuhnya yang sedikit membungkuk hormat, lalu kemudian ia pun berbalik dan melenggang pergi keluar dari kamar Brian meninggalkan pintu yang terayun dan tertutup rapat.

Setelah kepergian Ismail, Brian hanya menghela napas berat lalu menarik selimutnya sampai sebatas dada. Ia menatap nanar langit-langit kamarnya, saat sekelebat memori kelam itu kembali diputar di kepalanya seperti kaset kusut.

Tepatnya 10 tahun yang lalu, saat ia baru berusia 20 tahun, ia harus menyaksikan bagaimana Jihan– Ibu kandungnya hancur dan harus berakhir di rumah sakit jiwa karena depresi berat ketika Adnan Atmaja– Ayahnya Brian membawa seorang wanita yang lebih muda dari Jihan dengan seorang perempuan seusia Brian yang terlihat sangat cantik.

Mereka adalah Fani dan Sandra– Istri yang diam-diam dinikahi oleh Adnan, dan juga anak hasil dari pernikahan itu.

Adnan berselingkuh selama ini, itulah fakta yang paling menyakiti Jihan dan membuatnya sampai depresi berat.

"Mama apa kabar? Apa surganya Tuhan itu indah, sampe Mama gak pernah berkunjung sekalipun cuma dalam mimpi aku?" gumam Brian berdialog sendiri dengan begitu lancar.

Ya, Brian bisa bicara. Ia tak bisu, tak lumpuh ataupun tuli. Selama ini ia hanya bersandiwara menjadi pria cacat demi mengelabui semua orang termasuk Ayahnya dan terutama Ibu tirinya yang tamak ingin menguasai semua harta warisannya.

"Mama, nanti aku bakal balas dendam buat Mama. Aku gak bakal membiarkan Sandra menikmati hasil dari jerih payah Mama," gumam Brian lagi.

Ah, Brian merindukan mamanya, sampai-sampai air mata menetes dari ujung matanya ketika ia mengingat tentang Jihan. Menyakitkan rasanya, ketika ia ingat bagaimana Jihan meregang nyawa tanpa seorang pun yang mendapinginya.

Dengan nelangsa, Brian mengusap kasar wajahnya.

Di pedesaan ini, Brian bahkan hidup sebatang kara, ia dibuang oleh Adnan dan ibu tirinya karena cacat pasca kecelakaan maut yang dialaminya saat berusia 21 tahun. Mereka hanya menyediakan rumah dan uang seadanya untuk membiayai kehidupannya saat itu. Selama seumur hidupnya Brian tinggal di pedesaan ini, tak pernah sekalipun Adnan mengunjunginya.

Namun, walau fisiknya memiliki keterbatasan, Brian tak tinggal diam. Ia mencairkan semua uang tabungan peninggalan Mamanya untuk membeli satu hektar lahan pertanian, yang sampai sekarang sudah jadi berpuluh-puluh hektar, bahkan sudah hampir setara dengan setengah lahan tanah seluruh pedesaan itu.

Brian jadi pria sukses yang kaya raya. Ia punya pabrik pengolahan tehnya sendiri dengan kualitas premium yang selalu diekspor ke luar negeri, semakin menambah deretan angka kekayaannya.

Maka dari itu, saat sudah sembuh dari segala keterbatasan fisiknya itu, Brian tetap saja bersandiwara dengan menjadi saudagar cacat, demi membuat situasi tetap terkendali. Sebab, jika ibu tirinya tahu Brian sudah sehat dan bisa beraktivitas normal, dia pasti akan mencelakai Brian untuk yang kesekian kalinya.

***

Malam hari terasa begitu sunyi, walaupun beberapa kali suara jangkrik dan cicak itu memecah sedikit keheningan.

"Maaf, mas. Kalo boleh aku tanya, hutang kamu emangnya berapa?" tanya Athena takut-takut.

Di sela-sela kegiatannya mengoles salep di permukaan luka di punggung Bima, Athena berusaha mencari tahu dengan hati-hati.

Untuk sejenak, Bima terdiam. Ia membuat Athena jadi menyesali pertanyaannya. Athena jadi berpikir bahwa Bima merasa tersinggung dan akan marah padanya.

"Maaf, mas. Aku kelewatan ya?" ulang Athena.

Bima menggeleng pelan.

"Enggak kok. Kalo kamu emang pengen tahu, hutang aku itu jumlahnya 3 milyar. Itu udah total sama bunganya," ucap Bima memaparkan.

Suaranya terdengar tenang, membuat Athena sedikit merasa lega sekaligus terperangah.

Apa ini masih mimpi? tanya Athena di dalam hatinya.

"Oh... begitu," sahut Athena sekenanya.

Ia bingung harus menjawab apa. Ia tidak punya uang sepeserpun untuk bisa membantu melunasi hutang sebanyak itu. Harta satu-satunya hanya sebuah kalung emas, dan kalung itu pun sudah diambil oleh Bima secara paksa.

"Kenapa cuma diam? Kamu pasti bingung ya? Maaf karena aku membuatmu terbebani, tapi kamu tenang aja Athena, secepatnya aku akan melunasi hutang itu. Besok atau mungkin lusa," kata Bima.

Athena mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan pernyataan Bima. Walaupun beberapa hari ini ia dan Bima bisa saling bicara dengan intens, tapi tetap saja Athena merasa ragu untuk menanyakan maksud dari ucapan pria itu.

"Aku masih punya benda berharga yang bisa dijual dan harganya bisa saja melebihi hutangku itu. Hutangku lunas dan mungkin, setelah aku menjual barang itu aku bisa hidup enak dari hasil penjualannya." Suara Bima menjelaskan, seolah bisa membaca isi pikiran Athena.

Bima terkekeh, seolah-olah apa yang diucapkannya itu adalah hal yang sangat menyenangkan dan benar-benar akan terjadi.

"B-Barang apa emangnya? T-Terus kerjaan kamu di rumah orang kaya itu gimana?" tanya Athena dengan terbata.

Terlalu sering dikasari oleh Bima, membuat Athena tetap merasa takut luar biasa sekalipun pria itu sudah sedikit berbeda dari sebelum-sebelumnya.

"Ada. Pokoknya itu barang rahasia yang harganya bisa mahal banget. Mungkin 4-5 Milyar juga laku. Selain kerja sama dia, aku udah janji sama tuan Brian untuk menjual barang itu sebagai anggunan atas hutang-hutangku," ungkapnya masih penuh misteri. "Jadi, setelah hutangnya lunas, aku bisa punya kerjaan tetap."

Seingat Athena, Bima tidak punya barang berharga apapun, tapi entahlah. Mungkin saja Bima diam-diam menyimpan barang berharga itu tanpa sepengetahuannya. Toh seharusnya Athena juga bersyukur, karena akhirnya Bima akan punya pekerjaan.

"Syukurlah kalo emang udah ketemu jalan keluarnya, semoga masalahnya cepet selesai," seru Athena menimpali.

"Pasti, Athena. Masalah hutang ini bakalan selesai kok dalam waktu secepatnya, kita tunggu aja." Bima terkekeh senang. Ia bergitu optimis sekali dengan ucapannya itu.

"Semoga kamu bahagia, mas. Semoga nanti kamu bisa hidup tenang tanpa berurusan sama tuan Brian kalo hutang kamu udah lunas."

"Pasti, Athena. Hutang-hutangku itu bakal lunas kok. Aku pernah nunjukin barangnya sama tuan Brian, dan dia langsung setuju. Dia akan mengambil barangnya dalam beberapa hari lagi, mungkin kamu harus mempersiapkan diri."

"Mempersiapkan diri buat apa?"

"Buat ngerayain pencapaian aku lah. Aku bakal terbebas dari hutang, dan mungkin aja sisa uang penjualannya bakalan bikin aku kaya raya."

Athena tersenyum tipis. "Aku turut bahagia," ungkapnya, walaupun tidak tahu kebenaran dari ucapan Bima.

"Memang harus begitu sepantasnya. Kamu harus ikut bahagia, Athena. Karena setelah barang itu aku jual, hidupku bakal lebih bahagia. Barang itu cuma beban aja," paparnya dengan terkekeh. "Kamu cinta aku gak?" lanjut Bima bertanya.

Athena gelagapan, tak menyangka jika ternyata Bima akan menanyakan hal itu. Namun, bukankah sudah tampak sangat jelas sekali? dari awal pernikahan, kan hanya Athena yang jatuh cinta.

"I-Iya, aku cinta kamu, mas." Suara Athena seraya menunduk malu.

Bima terkekeh lalu perlahan membalikkan tubuhnya agar menghadap ke arah Athena. Untuk sesaat, Bima mengagumi keindahan wajah cantik Athena.

"Darah campuran pribumi dan Belanda memang selalu luar biasa, kamu cantik banget Athena. Aku ke mana aja, ya? kenapa baru sadar sekarang kalo istriku itu cantik luarbiasa," pujinya dengan tatapan mata yang meneliti tiap inci di wajah Athena.

Rona merah itu langsung bersemu di pipi Athena. Dia malu dan gugup karena pertama kali dipuji cantik oleh Bima.

Perlahan, Bima mengulurkan tangannya lalu meraih dagu Athena. Diusapnya bibir ranum berwarna merah muda milik Athena, lalu ditatapnya dengan penuh minat.

Selain karena saat ini ia mulai bergairah, Bima juga ingin membalas dendam pada Brian. Sebab ia sudah dicambuk hanya karena mencium Athena, jadi karena sudah terlanjur terluka, ia pun berpikir untuk sekalian saja menyetubuhi Athena.

"Boleh, kan?" tanya Bima meminta izin. Kemudian, ia mengalihkan tatapannya pada mata Athena.

Athena tidak buta. Ia dengan pasti melihat ada gairah yang berkobar dimata Bima.

"I-Iya," jawab Athena gugup.

Merasa sudah mengantongi izin, tanpa ragu Bima pun mulai menipiskan jarak di antara dirinya dan Athena. Hembusan napas hangat itu menerpa wajah mereka masing-masing. Kemudian, Bima memiringkan kepalanya dan-

Cup

Bibir mereka menempel.

Lumatan-lumatan kecil Bima lakukan untuk Athena, yang pelan tapi pasti berubah jadi pagutan yang rakus dan menuntut lebih.

Walaupun sudah beberapa hari berlalu. Luka-luka pria itu yang belum mengering dan masih membengkak merah, tanda bahwa peradangan masih terjadi di sana, membuat siapapun juga tahu bahwa pria itu hanya memaksakan dirinya.

Namun, sepertinya Bima tidak peduli. Ia tetap dengan stamina yang prima, mulai menggauli Athena. Napasnya terengah-engah, bahkan terkadang melenguh ketika melakukan kegiatan panasnya itu.

Sementara itu, Athena hanya diam. Ia tidak bersuara sama sekali, selain hanya mencengkeram sprei lusuh itu dengan sekuat tenaga dengan mata yang terpejam.

"Buka matamu, Athena...." Bima mendesah, membuat Athena semakin mengeratkan cengkraman tangannya pada sprei lusuh itu.

Athena tahu betul bahwa dirinya bukanlah seorang perawan, tapi tetap saja ia masih belum terbiasa. Semuanya terlalu aneh dan... kurang nyaman.

"Buka matamu, Athena. Jangan buat aku ngerasa lagi bersetubuh dengan patung," desis Bima sedikit menunjukkan ketidak sukaannya dengan sikap Athena.

Bima merasa tidak dihargai.

Karena takut Bima akan murka, maka Athena pun perlahan membuka matanya untuk sekadar mendapati pemandangan yang membuat wajahnya jadi bersemu merah.

Di sana, wajah begitu dekat dengannya, sampai-sampai hembusan napas hangat pria itu menerpa wajahnya.

"Nah, gitu dong," katanya. Kemudian, kembali menggerakkan tubuhnya di atas Athena.

Athena memperhatikan Bima dalam diam, dan sesekali harus mengigit bibir bawahnya, menahan suaranya agar tidak keluar begitu saja.

Bima terengah-engah, begitu juga dengan dirinya. Menatap Bima dengan jarak sedekat ini membuat jantung Athena berdebar kencang. Athena sangat mencintai Bima, ia bahkan lupa berapa puluh kali dirinya terpesona pada pria itu.

Bima tampan, dengan kulit sawo matang dan bibir yang tipis. Hidung bangirnya hampir menyamai hidung Athena, membuat Athena berpikir kalau saja anak mereka sempat lahir, apa dia akan terlihat sangat sempurna?

Ah... andai Athena tidak pernah keguguran.

"Athena!" teriak Bima membuat Athena tersentak dan segera sadar dari lamunannya.

Bima menarik dirinya menjauh dari Athena, lalu terkulai lemas di sisi kiri Athena dengan dada yang naik turun karena kelelahan.

Malam mereka berakhir.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED