Jennifer Lukito dipanggil kembali ke kediaman Keluarga Lukito dalam keadaan darurat.
Ketika dia melangkah ke ruang tamu, sebuah TV sedang menayangkan laporan mengenai Grup Ganendra. Jennifer berhenti dan melihat ke arah layar LCD berukuran besar itu.
"Pemilihan untuk CEO Grup Ganendra saat ini akan segera dimulai. Saat ini, Jason Ganendra, kepala keluarga Ganendra, belum banyak berbicara mengenai para kandidat. Dilaporkan juga bahwa cucu tertua dari Keluarga Ganendra, Ryan Ganendra, diharapkan bisa menang dalam pemilihan ini. Hasil pemilihan akan segera diketahui setelah proses rapat anggota dewan Grup Ganendra selesai.
Hati Jennifer bergetar ketika nama Ryan disebut.
'Dia...'
"Nona Jennifer, mengapa Anda kembali?" perkataan pelayan tersebut membuyarkan pikiran Jennifer.
Biasanya, di saat seperti ini, dia sedang mengerjakan tugas di kantor.
Jennifer menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada pelayan tersebut, "Di mana Ayahku?"
"Tuan Elliot dan Tuan Ganendra saat ini sedang berada di ruang kerja."
Jennifer sedikit mengernyitkan keningnya, merasa kebingungan, "Siapa yang kamu maksud dengan Tuan Ganendra?"
Tidak banyak orang yang memiliki nama keluarga Ganendra di Kota Feris ini, terutama yang memiliki hubungan dekat dengan Ayahnya. Hanya ada satu orang yang mungkin...
"Orang yang saya maksud adalah Tuan Jacob," jawab pelayan itu.
'Ah! Aku juga berpikir begitu.'
Jacob Ganendra adalah paman Ryan yang kedua.
Perasaan gelisah kembali muncul secara tiba-tiba di hati Jennifer. Ayahnya, Elliot Mahendra, memanggilnya kembali ke sini pasti karena suatu alasan.
"Aku akan naik ke kamarku dan mandi untuk menyegarkan diri," setelah berkata demikian, Jennifer segera naik ke lantai atas.
Ketika melewati ruang kerja, Jennifer menghentikan langkahnya di depan pintu dan mencoba mendengarkan sesuatu dengan seksama.
"Aku dapat menjaminmu apabila kamu mau bergabung denganku, kita berdua pasti dapat mengalahkan Ryan dan mengusirnya keluar dari perusahaan. Bahkan jika Ryan memang mampu, dia tidak akan mungkin bisa bertarung melawan Keluarga Ganendra maupun Keluarga Lukito di saat yang bersamaan. Jika perlu, kita bahkan bisa membuatnya menghilang. Seakan-akan dia tak pernah ada."
Jacob yang mengucapkan kalimat itu.
Jennifer membulatkan matanya, dirinya merasa tak percaya. Dia sangat terkejut. Jacob sangat bertekad mengambil alih Keluarga Ganendra untuk dirinya sendiri, bahkan dia juga berniat untuk membunuh Ryan.
Jennifer tidak bisa hanya diam saja dan menyaksikan Ryan berada dalam bahaya.
Jennifer berjinjit dan melangkah kembali ke kamarnya. Setibanya di dalam kamar, Jennifer segera mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi sebuah nomor. "Bisakah kamu membantuku untuk menghubungi Ryan? Oke, aku akan menunggu kabarmu."
Setelah mengganti pakaiannya, Jennifer menunggu di dalam kamarnya dengan perasaan cemas.
Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering.
"Bagaimana?" tanyanya.
Sebuah suara terdengar dari ujung telepon lainnya. "Tuan Ryan, dia... Saat ini, dia tidak ingin bertemu dengan Anda."
Jennifer tidak merasa kecewa karena hal ini. Jennifer sudah menduganya, tetapi tetap saja dia masih ingin mencobanya lagi.
Bagaimanapun juga, dia harus bisa bertemu dengan Ryan hari ini.
Jennifer tidak akan pernah melupakan adegan berdarah yang terjadi di depan matanya ketika dia masuk ke dalam rumah Keluarga Ganendra. Dia tidak ingin hal tersebut terjadi kepada Ryan.
Tiba-tiba, Jennifer berdiri dan bergegas keluar dari kamar. Dia sudah memutuskan untuk pergi ke rumah Keluarga Ganendra, mencoba mencari Ryan untuk membicarakan apa yang sedang terjadi.
Namun, Jennifer nampak terkejut saat dia bertemu dengan Elliot dan Jacob ketika sedang terburu-buru menuruni anak tangga. Mereka sedang duduk di sofa sambil berbincang-bincang.
"Jen, kamu sudah kembali." Elliot melambaikan tangannya, memberikan isyarat agar Jennifer menghampirinya.
Jennifer menyembunyikan semua emosinya dan dengan patuh berdiri di samping Elliot. "Ayah, Paman Jacob."
"Elliot, kamu sangat beruntung karena memiliki seorang putri yang begitu cantik." Jacob mengamati Jennifer mulai dari atas kepala hingga ke bawah kaki, lalu tersenyum ke arahnya.
Elliot mengangguk, "Jacob, kamulah yang sebenarnya beruntung. Putramu, Franky, adalah pria idaman banyak wanita. Jika ingatanku benar, sepertinya Franky dan Jen lulus dari universitas yang sama. Jen, kalian berteman, 'kan?"
Ketika Jennifer mendengar bahwa topik ini berhubungan dengan Franky Ganendra, dia hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Elliot.
Meskipun Jennfier dan Franky belajar di universitas yang sama, mereka tidak saling mengenal.
Pandangan Elliot terhadap Franky saat ini mungkin saja bisa menjadi salah satu topik selanjutnya yang ingin mereka bicarakan.
Sesuai dengan dugaannya, setelah mendengar perkataan Elliot, Jacob pun menambahkan, "Sepertinya memang begitu. Itu bagus. Jennifer cukup akrab dengan Fran. Hubungan baik yang mereka bangun sebelumnya akan memberikan awalan yang baik bagi keduanya, hal ini juga dapat membantu apabila terjadi suatu masalah yang tidak penting ketika kedua anak itu hidup bersama di masa depan."
"Ya, tentu saja," suara Elliot menggema.
Tiba-tiba saja, Jennifer merasa sangat tidak nyaman. "Ayah, apa yang sedang Ayah bicarakan?"
Jennifer memiliki pemikiran yang sangat mengganggu dirinya, 'Apa mereka ingin menjodohkanku dengan Franky?'
Elliot tersenyum, "Oh, begini masalahnya. Paman Jacob datang kemari karena ingin melamar. Jen, kamu sudah berada di usia yang siap untuk menikah. Ayah berpikir kamu memiliki hubungan yang baik dengan Franky. Jadi, pernikahan ini akan menjadi solusi yang baik untuk semuanya."
Jennifer menatap keduanya seolah-olah mereka berdua sudah gila. Jennifer bahkan nyaris tidak pernah berbicara dengan Franky!
Tentu saja, Jennifer tahu dengan baik bahkan lebih dari siapa pun mengenai alasan sesungguhnya, mengapa Ayahnya ingin sekali menikahkannya dengan Keluarga Ganendra, itu karena dia ingin menggunakan saham yang ditinggalkan oleh Ibunya untuk membantu Jacob berurusan dengan Ryan.
Selama bertahun-tahun, Jennifer sudah berpura-pura menjadi bodoh, tetapi apakah sebenarnya dia benar-benar sebodoh itu?
Jennifer tersenyum tipis, "Aku tidak akan menikah dengannya."
Suara Jennifer cukup pelan dan tegas.
Elliot dan Jacob tidak menyangka Jennifer akan menolaknya. Wajah kedua pria itu langsung terlihat suram.
Elliot mengerutkan kening dan memarahi putrinya dengan suara lantang, "Apa kamu tahu apa yang kamu katakan, Jennifer? Seharusnya ini menjadi kehormatan bagimu karena bisa menikah dengan Franky dan menjadi bagian dalam Keluarga Ganendra. Semua orang tahu reputasimu sekarang di Kota Feris, jadi siapa yang berani untuk menikahimu? Kamu seharusnya tahu diri!"
Perkataan yang keluar dari mulut Elliot terdengar sangat menjijikkan.
Jennifer tertawa dengan sinis, "Ayah, sesuai dengan perkataan Ayah, aku memang memiliki reputasi yang buruk. Jadi, apakah Keluarga Ganendra benar-benar akan mengizinkanku menjadi salah satu bagian dari keluarga mereka?"
Jennfier menatap Jacob dengan tatapan penuh arti, "Paman Jacob, aku pikir Franky juga tidak ingin menikah dengan wanita sepertiku. Jadi kumohon, jangan sakiti putra Paman hanya demi ego Paman sendiri."
Ekspresi wajah Jacob seketika berubah drastis begitu mendengar perkataan Jennifer.
'Dia...'
"Jennifer." Elliot tidak menyangka putrinya bisa bersikap tidak sopan di hadapannya seperti ini. Pria itu memelototinya marah, "Berani sekali kamu? Kamu akan tetap menikah dengan Franky, tidak peduli kamu menginginkannya atau tidak."
Jennifer menatap ke dalam bola mata Ayahnya, "Aku sudah berkata, aku tidak ingin menikah dengannya. Jika Ayah memintaku kembali hari ini hanya karena permasalahan ini, maka sepertinya tidak ada hal lain lagi yang perlu kita bicarakan."
Kemudian, Jennifer berbalik arah dan segera pergi dari sana, berusaha untuk tidak memedulikan perkataan kasar yang diucapkan oleh Ayahnya.
Melihat sosok Jennifer yang semakin menjauh, Elliot masih bisa merasakan amarah yang menyesakkan dadanya. Memikirkan bahwa dirinya sudah dipermalukan oleh putrinya sendiri di depan Jacob, Elliot tidak ingin melakukan apa pun selain memberikan putrinya pelajaran.
Seharusnya makhluk jahat seperti itu tidak usah dilahirkan!
Jacob melirik ke arah Elliot, "Elliot, kurasa kamu sendiri pun tahu betapa pentingnya pernikahan mereka. Kuharap aku bisa mendengar kabar baik sebelum rapat dewan dimulai."
Terkejut, Elliot menatap ke arahnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi Jacob sudah berbalik arah dan pergi.
Elliot ditinggalkan sendirian di ruang tamu. Dia menatap ke arah langit-langit rumahnya, amarah yang membara tampak jelas di matanya. Putrinya akan mendapatkan pelajaran dari penghinaan ini.
Jennifer menjadi sangat tegang setelah meninggalkan keluarga Lukito. Dia perlu segera menemukan Ryan. Dia harus memberitahu pria itu bahwa nyawanya dalam bahaya.
Jennifer mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mencari nomor kontak Ryan.
Namun, Jennifer menjadi ragu-ragu. Meski selama ini dia sudah menyimpan nomor ponsel Ryan tapi dia belum pernah meneleponnya. "Percuma saja," pikir Jennifer. Dia tahu bahwa Ryan tidak akan pernah mengangkat teleponnya.
Setelah berpikir sejenak, Jennifer akhirnya memutuskan sepertinya lebih baik untuk langsung bertemu dengan Ryan.
Lalu, Jennifer berusaha mencari tahu di mana Ryan berada sekarang dan segera mendatanginya.
Rupanya Ryan sedang makan malam bersama kliennya di restoran yang ada di Hotel Golden. Jennifer tidak ingin mengganggu urusan bisnis Ryan. Jennifer memilih untuk duduk di meja lain di mana dia bisa melihat Ryan dan menunggu hingga selesai.
Akhirnya setelah dua jam, klien tersebut pergi.
Ketika Ryan berdiri dan bersiap untuk meninggalkan tempat tersebut, Jennifer segera berdiri, dia bergegas ke arah pria itu dan menghalangi jalannya.
Ryan mengerutkan kening saat melihatnya.
Jennifer bisa melihat kejengkelan di tatapan mata pria itu. Tapi Jennifer tidak peduli. Ada hal lain yang lebih penting.
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" Ryan bertanya dengan dingin.
Mendengar itu, alis Jennifer sedikit terangkat, "Ryan, kita perlu bicara."
Jennifer tahu Ryan tidak ingin berurusan lagi dengannya, tetapi ada hal penting yang harus disampaikannya. Ini mengenai masalah hidup dan mati.
Oleh karena itu, tidak peduli betapa sulitnya itu, Jennifer harus berusaha mencobanya. Tidak mungkin dia hanya berdiam diri dan melihat nyawa Ryan terancam dan meninggal.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita," kata Ryan acuh tak acuh.
Jennifer sudah mempersiapkan mentalnya dan menghela napas dalam-dalam. Kemudian, dia menatap langsung ke mata pria tersebut, "Ryan, ayo menikah."
Jennifer langsung mengatakannya tanpa ragu-ragu.
Ryan sedikit terkejut mendengarnya, "Apa aku tidak salah dengar? Kenapa? Apa para pria kecil milikmu itu sudah tidak bisa memuaskanmu lagi?"
Nada mengejek terdengar jelas di suaranya.
Semua orang di Kota Feris tahu bahwa kehidupan pribadi Nona Jennifer dari Keluarga Lukito sangat berfoya-foya dan bergelimang harta.
Jennifer memiliki kekayaan berlimpah dan dia bisa memiliki semua pria yang diinginkannya.
Wajah Jennifer seketika menjadi pucat. Kemudian, dia menggelengkan kepalanya dan memberi Ryan sebuah senyuman yang menawan, "Aku sudah mencoba terlalu banyak pria yang membosankan. Sekarang aku mencari yang baru. Ryan, aku menginginkanmu!"
Jennifer mendekati Ryan, perlahan-lahan membelai rambut pria itu dengan jari-jarinya yang lembut. Jennifer mendekatkan bibirnya yang berwarna merah ranum di sebelah telinga Ryan, lalu mendaratkan ciuman lembut di daun telinganya.
Saat Jennifer mendekati pria yang dia sukai, jantungnya berdetak liar, sedikit obsesi melintas di matanya.
Namun, mata Ryan yang dalam hanya memancarkan rasa jijik.
Ryan mencoba mendorong Jennifer menjauh darinya, tapi wanita itu malah ternsenyum semakin centil. Jennifer berbisik, "Oh, omong-omong, aku tahu sesuatu tentangmu. Kudengar Ibumu dan..."
Sambil mengatakan itu, tangan kecil Jennifer bergerak perlahan dari leher Ryan turun hingga ke dada pria itu. Dia mencoba merayu pria itu dengan tatapan matanya yang menggoda.
Ryan tidak mengetahui bahwa Jennifer sungguh-sungguh dengan apa yang dia katakan.
Jennifer tahu bahwa dirinya sudah melewati batas, tetapi dia tidak punya pilihan lagi. Bagaimanapun caranya, dia harus menikah dengan Ryan.
Kata-kata Jennifer berhasil memprovokasi Ryan. Mata Ryan penuh dengan keterkejutan dan kemarahan, tatapannya yang dingin seperti pisau yang tajam mengarah lurus ke arah Jennifer.
"Jennifer!" Sambil menggertakkan giginya, Ryan menggenggam tangan Jennifer dengan kuat.
"Jika kamu membutuhkan seorang pria, pergi dan cari orang lain. Ada banyak pria lain di luar sana yang bersedia menemanimu. Jangan sentuh aku. Itu membuatku jijik!"
Jennifer merasakan perih di hatinya. Kata-kata itu sangat menyengat. Namun, Jennifer memaksakan diri untuk tersenyum lebih lebar, "Kenapa? Apa ada yang salah dengan perkataanku? Ryan, selama kita menikah, tidak ada seorang pun yang akan tahu rahasiamu! Dan lagi..."
Setelah terhenti sejenak, Jennifer melanjutkan kalimatnya, "Jika kamu menikah denganku, aku bisa membantumu mengambil alih kendali Keluarga Ganendra. Permintaanku sangat mudah. Aku hanya ingin menjadi istrimu. Kamu tidak akan rugi apa-apa."
Ryan meringis dalam hati mendengar kata-katanya, 'Istriku?'
Ryan mencibir, "Apa tidak ada yang memberitahumu bahwa aku benci pada orang yang mencoba memanipulasiku? Tidak ada yang paling kubenci dibanding orang-orang yang melakukan hal itu. Kamu pikir siapa dirimu? Hah? Menikahi wanita sepertimu hanya akan menghancurkanku dan keluargaku. Kamu bisa membocorkan rahasia ini, Jennifer. Aku ingin melihat seberapa banyak masalah yang bisa kamu buat untukku di Kota Feris."
Tubuh Ryan yang tinggi memancarkan aura dingin. Dia kemudian menghempaskan tangan Jennifer.
Jennifer terhuyung mundur beberapa langkah. Setelah Jennifer bisa berdiri tegak lagi, dia mengangkat kepalanya dan menatap mata Ryan. Meski kata-kata Ryan seperti pisau tajam yang menusuk tepat ke jantungnya, tapi Jennifer tidak mundur.
"Ryan, bagaimanapun juga aku akan tetap menikahimu. Kamu milikku." Jennifer menarik napas dalam-dalam, tekad sudah terpatri dengan jelas di matanya.
Tatapan Ryan tampak semakin dingin, "Kalau begitu, mungkin kamu memiliki masalah pendengaran. Aku tidak akan pernah menikahimu. Sekarang, pergi dari hadapanku! Memandang Keluarga Lukito, kali ini aku akan memaafkan kekonyolanmu. Namun, jika aku melihatmu lagi, kujamin kamu akan menyesal."
Ketegasan di nada suaranya menunjukkan bahwa Ryan tidak sedang bercanda.
Ryan membuka kancing jasnya, melepas dasinya dan membuangnya ke tempat sampah. Matanya dipenuhi dengan rasa jijik.
Pakaiannya telah disentuh Jennifer, yang berarti pakaian itu telah terkontaminasi olehnya. Bagaimana mungkin Ryan bisa tahan untuk memakainya lagi?
Wajah Jennifer menjadi pucat, sedangkan senyum dingin muncul di bibir Ryan. Ryan berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Jennifer hanya berdiri diam dan mengepalkan tangannya erat-erat. Matanya menatap dengan sedih pada sosok Ryan yang menjauh.
Setelah menenangkan diri, Jennifer mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sebuah nomor. "Apa kamu sudah menyelesaikan apa yang kuminta?"
Orang di ujung telepon menjawab, lalu sebuah seringai muncul di bibir Jennifer. Dia menutup telepon dengan raut puas.
'Ryan, aku pasti akan menikahimu!'
Keesokan paginya, saat matahari belum terlalu terik, setelah berdandan dengan cantik, Jennifer mendatangi rumah Keluarga Ganendra.
Setelah tumbuh dewasa, Ryan memutuskan untuk pindah dari rumah itu. Ryan hanya akan kembali ke rumah itu untuk menemani Jason setiap akhir pekan. Tidak heran jika suasana di sana sangat suram, hanya ada Shemar Ganendra dan Jacob yang menempati bangunan sebesar itu selain Jason.
Saat ini, Jennifer sedang duduk dengan tegap sambil tersenyum tipis di depan Jason di ruang tamu yang sangat luas dan megah.
Pria tua itu menatap wanita di depannya dengan pandangan tajam, mencoba mencari tahu apa yang Jennifer inginkan hingga mengganggunya di pagi yang cerah ini. Akhirnya setelah lama larut dalam keheningan, Jason berbicara dengan tegas, "Nona Jennifer, karena kamu datang mengunjungiku secara pribadi dan meminta untuk bertemu, mari kita segera hentikan basa basi dan katakan saja apa tujuanmu kemari. Apa yang ingin kamu bicarakan denganku hingga kamu datang sepagi ini untuk mengganggu waktuku yang berharga?"
Tanpa ragu ragu lagi, Jennifer langsung mengeluarkan setumpuk foto dari dalam tasnya dan meletakkannya dengan perlahan di depan Jason. Sikapnya terlihat sangat elegan dan anggun saat melakukan hal itu. Jennifer berkata, "Tuan Jason, terima kasih karena Anda telah meluangkan waktu Anda yang berharga dengan menemui saya. Baiklah, agar Anda tidak penasaran lagi, maka saya akan langsung ke intinya. Saya ingin hari ini Anda membuat sebuah keputusan. Dan saya yakin ini akan menjadi keputusan terbaik yang pernah Anda buat. Saya ingin Anda membuat Ryan agar dia mau menikah denganku."
Jason langsung tercengang mendengarnya. Dia benar-benar tidak percaya mengenai apa yang dia dengar dari mulut wanita yang ada di depannya ini.
Kalimat yang baru saja dia dengar membuat wajahnya sedikit mengerut, tapi kemudian kembali normal setelah Jason mampu menguasai dirinya. Jason lalu mulai memerhatikan foto-foto yang ada di depannya ini. Dia lalu mengangkat kepalanya dan menatap Jennifer dengan pandangan heran. "Apa maksudmu mengatakan hal itu? Apa hanya dengan foto ini kamu merasa kamu bisa menikahi Ryan?"
Memang Jennifer dan Ryan ada di foto-foto itu. Sepertinya itu adalah foto saat mereka bertemu sebelumnya, dan dalam foto tersebut, mereka terlihat sedang berciuman.
Jennifer berusaha menjelaskan, "Begini Tuan Jason, saya mohon agar Anda jangan marah karena apa yang ada di foto foto ini. Saya tidak menyangka bahwa ada seseorang yang akan sengaja mengambil foto pada saat kejadian itu. Saya kemarin sudah mendatangi Ryan untuk membahas tentang hal ini dan mengusulkan agar kami menikah, tetapi dia menolak," kata Jennifer sambil tersenyum.
Jennifer menceritakan semua yang terjadi pada Jason tanpa ada yang berusaha ditutupi dan berharap ini akan menjadi keuntungan baginya.
Namun bagaimanapun juga, Jason bukanlah anak kemarin sore, jadi dia sangat menyadari apa yang wanita ini ingin lakukan.
Firasatnya memang benar, setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Jennifer, Jason semakin memerhatikan wanita yang duduk di depannya ini. "Kamu ingin menikah dengan Ryan? Koreksi jika aku salah, tapi seingatku, kalian berdua tidak saling mengenal satu sama lain, dan sekarang tiba-tiba kamu ingin menikah dengannya? Bukankah ini sangat aneh? Nona Jennifer, sebagai seorang gadis, kamu seharusnya bisa lebih berikap sopan dan bermartabat, apalagi dengan menyandang nama keluarga di belakang namamu yang cukup terhormat. Orang-orang yang tidak mengenalmu dengan baik bisa saja mendapatkan kesan yang buruk terhadapmu jika kamu melakukan hal-hal seperti ini. Terlebih lagi..."
Jason sengaja berhenti sejenak dan menatap Jennifer dengan penuh arti agar wanita ini mengerti. "Kami memiliki status keluarga yang sangat tinggi dan tidak bisa diremehkan oleh keluarga lain, maka wajar jika tidak semua orang bisa menjadi bagian dari Keluarga Ganendra."
Apa yang sebenarnya ingin Jason katakan adalah bahwa sebetulnya Jennifer ini tidak memiliki kualifikasi yang cukup baik untuk menikah dengan anggota Keluarga Ganendra.
Jennifer mencoba menjawab, "Begini Tuan Jason, jauh sebelum saya datang kepada Anda dengan membawa foto-foto hari ini, saya sudah mengetahui siapa diri saya dan apa kemampuan yang saya miliki. Dan saya selalu mendapatkan apa yang ingin saya miliki, karena saya bisa melakukan segala cara untuk menjadi pemenang. Apa yang saya minta kepada Anda adalah sebuah permohonan yang sebetulnya sama sekali tidak sulit. Saya hanya ingin Ryan menikahi saya, itu saja. Saya pikir itu adalah hal yang wajar bukan? Bahkan meski Anda berpikir bahwa saya tidak memenuhi syarat untuk menikah dengannya dan menjadi anggota Keluarga Ganendra, saya harus menikah dengannya dan saya yakin akan mendapatkannya," kata Jennifer sambil tersenyum acuh tak acuh.
"Tentu saja, jika Anda masih saja bersikeras mempertahankan pendapat Anda, maka saya akan membiarkan masyarakat yang menilai hal ini. Saya yakin mereka akan membela saya. Saya yakin pasti akan ada banyak pihak yang sangat tertarik dengan foto-foto yang ada di tangan saya ini. Saya sudah terbiasa mendapat sorotan dari masyarakat, tetapi saya tidak tahu apakah Keluarga Ganendra akan mampu mengatasi sebuah gosip yang mungkin bisa merusak nama baik keluarga."
Jennifer tahu bahwa dia sudah melewati batas saat ini karena dia sedang mengancam mereka, tetapi dia sudah terlalu jauh untuk mundur.
Jennifer sudah tidak peduli lagi apa yang akan dipikirkan seluruh dunia tentang dirinya nanti. Yang terpenting saat ini adalah misinya harus terlaksana. Misi utamanya adalah menikah dengan Ryan. Jika ini dapat terwujud, maka kehidupannya di masa depan tentu saja akan terjamin.
Jason terperanjat, "Apa? Nona Jennifer, aku sudah mendengar beberapa hal tentangmu dan hari ini aku melihat sendiri bahwa kepercayaan dirimu memang sangat luar biasa. Apa kamu merasa dan benar-benar berpikir bahwa hanya dengan membocorkan foto-foto ini, maka kamu dapat mengancam Keluarga Ganendra? Nona, aku telah melalui hal-hal yang jauh lebih buruk daripada yang dapat kamu bayangkan. Apa kamu merasa hanya dengan hal sekecil ini, aku akan takut dengan ancamanmu?"
Wajah Jason menjadi merah padam seperti kepiting rebus karena dirinya sangat marah, dan Jennifer tahu dia telah membuat Jason kesal.
Jennifer kemudian tersenyum, "Tuan Jason, saya tahu bahwa hal sekecil ini tidak akan membuat Anda menyerah dengan mudah di bawah ancamanku. Saya hanya ingin menikah dengan Ryan. Saya harap Anda dapat membantu saya mewujudkan impian ini."
Jennifer kemudian berhenti sejenak untuk mengambil napas sebelum lanjut berbicara, "Saya tahu Anda ingin menyerahkan kendali Keluarga Ganendra pada Ryan, tetapi Anda pasti juga tahu bahwa ada begitu banyak hal yang sedang menghalangi jalannya. Begini saja, bagaimana jika saya membuat sebuah kesepakatan yang akan menguntungkan Anda?"
Jason berusaha keras menjaga ekspresinya senetral mungkin walau dalam hatinya dia mulai penasaran mengenai cara apa lagi yang akan wanita ini lakukan untuk meyakinkannya. "Sebuah kesepakatan katamu? Kesepakatan seperti apa yang bisa kamu tawarkan pada orang yang sudah memiliki segalanya sepertiku? Aku sudah menyelidikimu, bahkan dalam keluargamu sendiri, kamu tidak memiliki kekuatan atau pengaruh apa pun. Jadi bagaimana bisa kamu dapat membantu Ryan?"
Jennifer akhirnya memilih untuk mengatakan yang sebenarnya dan membuka sebuah rahasia besar pada Jason, "Begini Tuan Jason, menurut informasi yang saya dapatkan dan sejauh yang saya tahu, Tuan. Jacob sangat tertarik untuk menjalin hubungan dengan keluarga kami dengan cara membina sebuah pernikahan. Kemarin, saya melihat dia datang secara pribadi mengunjungi Ayah saya dan meminta agar saya mau menikahi putranya. Akan tetapi, saya..."
Jennifer terdiam sejenak, mencoba mengingat kembali hal-hal yang telah terjadi kemarin. Jennifer kemudian menggelengkan kepalanya dengan tegas dan lanjut berbicara, "Saya merasa jauh lebih tertarik pada Ryan dibanding Franky. Saya menyadari bahwa saya tidak memiliki kekuatan atau pengaruh dalam Keluarga Lukito, tetapi saya punya kepercayaan diri yang tinggi bahwa saya dapat membantu Ryan mendapatkan apa yang dia inginkan. Seperti yang sudah saya katakan, saya akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk menang. Yang saya inginkan hanyalah agar Ryan mau menikahi saya. Sebagai istrinya nanti, bukankah sudah menjadi tugas dan kewajiban saya untuk mendukungnya dan membuatnya menjadi yang terbaik?"
Ketika Jason mendengar berita bahwa Jacob telah lebih dulu mengajukan lamaran pada Keluarga Lukito, dia sangat tercengang. Jason merasakan perih di hatinya, seolah-olah seperti tersayat benda tajam.
Setelah sekian lama, Jacob masih saja memiliki keinginan untuk menyakitinya dan keluarga ini.
"Baiklah Jennifer, jika kamu memang ingin aku mempercayaimu, kamu harus memberiku sebuah alasan untuk mempercayaimu, bukan?" Ekspresi Jason masih saja dingin, tapi nadanya sudah sedikit melunak, tandanya dia sudah mulai tertarik.
Jason tergerak oleh tekad di mata Jennifer, mata yang penuh semangat dan keinginan untuk menang.
Untuk sesaat, Jason sepertinya berpikir bahwa Jennifer ini sangat cerdas.
Setelah semua yang pernah dia alami dalam hidupnya, Jason tahu bagaimana menilai orang dengan tepat hanya dengan melihat ke kedalaman mata mereka. Dan Jason merasa bahwa wanita di depannya ini mungkin tidak seburuk rumor yang beredar di masyarakat.
Mendengar kalimat yang diucapkan Jason, senyum di wajah Jennifer menjadi semakin cerah, wajahnya berbinar dan matanya mulai berkaca kaca.
Tanpa berkata-kata lagi, dia mengeluarkan sebuah dokumen lain yang telah dipersiapkannya dengan baik dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Jason dengan sopan.
Jason mengambil dokumen tersebut dan mulai membaca isinya selama beberapa menit. Jason sangat terkejut ketika selesai membaca apa yang ada di dalam dokumen itu.
Jason mengangkat kepalanya dan menatap Jennifer dengan pandangan tak percaya. "Bagaimana bisa, kamu... Apa kamu benar-benar harus menikah dengan Ryan? Gadis kecil, sekarang tolong katakan padaku dengan jujur. Mengapa kamu bersikeras ingin bersama Ryan? Seolah-olah hanya ada satu pria saja di dunia ini yang kamu inginkan. Kamu bahkan telah memberitahuku rahasia terbesarmu!"
Jennifer menatap tajam ke mata Jason, lalu dia berkata perlahan, "Saya menyukai Ryan."
Ya, Jennifer menyadari bahwa dirinya menyukai Ryan.
Kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Jennifer sangat mengejutkan Jason.
Jason merasakan sebuah ketulusan dari kata-kata Jennifer yang tidak dia temukan dari wanita-wanita lain selama ini. Jennifer sama sekali tidak berbohong tentang perasaannya pada Ryan.
Setelah berpikir sejenak dan menimbang beberapa hal tentang keputusan apa yang harus dia ambil, akhirnya Jason tersenyum dengan lega.