"Tolong-tolong aku." teriak seorang gadis kecil yang terkurung dalam sebuah ruangan yang sangat gelap. Dengan lampu yang mati dan menyala berkali-kali. Tubuhnya begetar dengan napas yang semakin lama semakin sesak. Gadis kecil itu sangat phobia dengan kegelapan. Dadanya terasa sesak saat berada di ruangan gelap.
Ingin sekali ia berteriak lebih keras, namun lehernya seakan terasa berat untuk mengeluarkan suaranya. Bagaikan seribu tangan berlomba untuk mencekiknya.
Gadis itu duduk di pojokan ruangan, memeluk ke dua kakinya yang tak hentinya, menggumam pelan. Dengan ke dua kaki terus gemetar.
dengan mata tertutup rapat. Suara tak asing itu, semakin membuatnya takut. Dia tahu, itu pasti suara tikus dan kecoa yang berkeliaran di sekitarnya. Ia terus menangis tersedu-sedu, dengan ke dua tangan masih memeluk kakakinya semakain erat. Menyembunyikan wajahnya di balik paha kecilnya. Rasa takut dalam dirinya semakin menjadi. Wajahnya mulai pucat.
"Mama! Papa tolong aku" ucap gadis itu lirih, seakan suaranya sangat berat untuk keluar.
Brakkk...
Tiba-tiba seorang laki- laki menendang pintu yang sudah lapuk itu dan membukanya dengan paksa. Suara keras itu membuat kondisi wanita kecil itu terlihat mulai bangkit. Ia menatap ke depan. Mencoba tersenyum.
Gadis itu terdiam, tersenyum tipis menatap ke arahnya. Lalu ia pingsan dalam dekapannya. Ia berjalan masuk dan menuntun gadis itu untuk segera pergi dari ruangan gelap yang membuatnya hampir saja mati ketakutan.
--------
"Maafkan aku! Maaf!" ucapan itu tiba-tiba keluar dari bibirnya. Ia sontak tersadar dari tidurnya. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi wajahnya. Dengan napas terenga-enga, di mencoba mengusap ke dua matanya yang masih terasa amat lengket.
"Hah... itu lagi, mimpi itu lagi" ucap seorang laki-laki yang yang baru terbangun dari tidurnya. Ia mengusap ke dua matanya berkali-kali. Sembari menarik napasnya dalam-dalam, menahannya, lalu mengeluarkan secara perlahan.
Pekerjaan yang melelahkan membuatnya tertidur, dengan tumpukan dokumen di atas meja. Namun yang membuatnya semakin pusing. Kejadian itu membuatnya takut karirnya terancam. Ia telah bersalah mengurung seorang gadis kecil yang tak sengaja menabraknya dengan sepedah kecil miliknya.
Kesalahan yang sangat fatal yang pernah ia lakukan, dan hampir saja membunuh seorang gadis kecil. Kini ia berusaha melupakan kejadian itu, dan orang tua Arga membuat gadis itu benar-benar pergi jauh. Agar tidak ada orang yang menyakan apa yang terjadi lagi. Dan Arga bisa bebas dari hukuman. Bahkan dia jiga tidak tahu siapa sebenarnya gadis itu, dari keluarga mana! Karena kejadiannya sudah lama. Dan dia bahkan sudah lupa wajah gadis itu.
Kini semua berlalu dan Arga Wijaya sudah tumbuh jadi seorang lelaki yang sangat tampan dan sukses. bahkan dia sudah bisa membahagiakan orang tuanya.
Nama : Arga wijaya
Statusnya: Jomblo dari lahir.
Pekerjaan : Seorang ceo di wijaya group
Sifat : posesif, introvet dan berhati dingin, dan juga Arrogan. Dia tidak pernah merasakan jatuh cinta pada wanita.
Hobi: membuat semua orang bertekuk lutut padanya dan mematuhi perintahnya. Dan dia benar-benar gila akan kebersihan. Dan dia juga tidak mau ada orang membantahnya.
Dari biografi singkat yang tercatat jelas.
Tergambar secara tersirat sosok laki-laki berbadan tinggi, tegap, dengan dada bidang dan berwajah sangat tampan, bermata tajam dan bibir tipis, serta di tambah alis tebal membuat tatapannya semakin menajam. Kulit sawo matang miliknya tak mengahalangi wajah tampan dan manisnya, yang sudah ada sejak dia lahir. Wajah khas asia itu mampu membuat para wanita terpikat dengan ketampannya. Tetapi dirinya sama sekali tidak terpikat pada wanita.
Setiap hentakan kakinya dan tatapan matanya menjadi sebuah mala petaka dan momok paling menakutkan bagi semua orang yang lewat di sampingnya jika bertatapan langsung dengannya. Wajahnya yang sangat dingin, terlihat menakutkan!
Dan dia juga sangat gila akan kebersihan. Semua orang di kantornya bahkan harus menjaga kebersihan dalam ruangannya. Tidak boleh ada debu sedikitpun di kantornya debu yang menempel. Karena dia juga alergi dengan debu.
Sifatnya yang berkuasa, membuatnya jadi sewenang-wenang. Tetapi itu tidak menghalangi repurtasinya di dalam bidang bisnis.
Banyak orang yang tidak mau cari masalah dengannya. Sifatnya yang kejam dan dingin memiliki kekuasaan yang bukan main besarnya. Dia suka memerintahkan semua pegawainya bertindak cepat. Sesuai dengan apa yang di katakan, tidak boleh salah sedikitpun. Dan setiap pekerjaan harus selesai dengan tepat waktu. Tidak boleh di tunda-tunda lagi.
di balik wajah yang sangat tampan, banyak gadis yang tergila-gila dengannya, tetapi sifatnya yang dingin dan tatapan tajamnya, membuat para gadis berpikir dua kali jika ingin mendekatinya. Ia juga tidak tertarik sama sekali dengan gadis-gadis yang ada di luaran sana. Hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja. Tidak pernah terpikirkan untuk mencari wanita. Bahkan sampai banyak wanita yang bilang jika dia gay. Dan dia tidak perduli dengan panggilan itu.
Arga juga temasuk lelaki yang sukses di penjuru Asia di usia muda. Dan tepat di usianya yang sudah dua puluh lima tahun. Semenjak ayahnya meninggal empat tahun yang lalu, ia harus menggantikan jabatan ayahnya yang bernama almarhum wijaya, sebagai Ceo di perusahaan Wijaya Group. Di usianya yang tergolong masih muda, dia sudah bisa membawa perusahaannya masuk dalam perusahaa lima besar di Asia Tenggara.
Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun saat ia menjabat. Dan bahkan dia sudah berhasil menguasai pasar Asia dengan jerih payahnya. Kini dia mulai mengembangkan sayap perusahaannya ke Eropa dan negara lainnya di sekitarnya. Lelaki itu tidak mau diam di tempat dia sangat gila kerja otaknya seakan tidak pernah capek terus di peras untuk bekerja.
Sampai lupa yang namanya jatuh cinta apalagi pacaran. Semasa hidupnya selalu ia habiskan untuk bekerja dan bekerja sampai dia lupa yang namanya jatuh cinta.
Tapi semua berbeda, saat bertemu dengan gadis yang sangat misterius dengan kepribadian yang tidak bisa di tebak, banyak misteri dalam kehidupannya, Raysa Regina Putri. Gadis yang bisa di bilang sangat cantik, dengan seribu kepribadian, Gadis itu menganggap Arga sebagai laki-laki dingin yang menarik baginya. Meski Arga yang awalnya tidak suka, semakin lama dia semakin tergila-gila dengan wanita itu. Tetapi dia tidak mau mengungkapkannya dan lebih dominan menunjukan sifat cuek dan acuh padanya.
Nama : Raisya Gradisia Granciska
Umur : 17 tahun
Status: Jomblo baru dua bulan. Sempat pacaran. tapi putus si tengah jalan karena di tinggal menikah muda.
aktivitas : Sekolah sambil bekerja part time di sebuah restauran.
Sifat : Baik, suka menolong. Agak kasar dengan laki-laki yang tidak ia kenal. Dan ia buta hari dan tanggal.
Hobi : Makan snack sebanyak-banyaknya kalau lagi galau. Dan dia juga suka pergi clubbing.
Raisa ragina putri gadis cantik seperti gadis Asia pada umunya. Wajah putih, dan kulit lembutnya. Dengan rambut hitam panjang miliknya. Dan mata hitam dan bulat, serta bibir tipis berwarna pink alami, membuat setiap laki-laki yang melihatnya ingin sekali mengecup bibirnya yang menggemaskan.
Tapi jangan tertipu dengan wajah cantiknya. Meski dia terkenal baik, tapi dia punya seribu sifat yang tidak di ketahui oleh orang lain. Tapi satu yang membuat banyak gadis lain iri padanya.
Banyak laki-laki tampan dan kaya yang selalu mengejar-ngejar dia dari anak sekolahan, kuliah maupun luar sekolahannya. Bahkan om-om juga tertarik padanya. Tapi dia tidak mau pacaran lebih dulu, mungkin gara-gara belum bisa move on dari sang mantan. Emm, Entah apa mantra yang di gunakannya, membuat semua gadis dan laki-laki mengira jika dia memang gadis nakal.
"ARGA KAMU DI DALAM? MAMA MAU MASUK SEKARANG"
Suara teriakan itu terngiang di telinga Arga. Dia tahu siapa yang datang.
Arga yang semula sibuk kembali dengan pekerjaannya. Gara-gara ketiduran hampir 15 menit banyak melupakan berkas yang belum dikerjakan. Dia segera berdiri, menutup semua dokumennya, lalu menutup laptopnya. Tidak lupa dia langsung membereskan semua dokumen yang berserakan di meja. Dengan mata memandang ke depan pintu, yang perlahan sudah mulai terbuka.
Arga terkejut saat melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian stylish seperti ibu-ibu sosialita pada umumnya. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerjanya.
Dengan wajah muram memendam kekesalan dalam hatinya. Dia adalah, Nyonya Maureen , Mama Arga. Seorang wanita yang paling di sayangi oleh Arga saat ini. dia tahu raut wajah ini, sudah hafal apa yang ingin diucapkan mamanya itu.
"Ada apa, ma?" tanya Arga sedikit kesal.
Hanya di depan mamanya, Arga yang semula dingin, kejam dan keras kepala seketika dinding hatinya melunak dan tunduk padanya. Dia tidak berani membantah apa yang dikatakan nyonya Maureen. Arga juga sudah biasa dengan omelan kecil dari mamanya, dan sumpah serapah yang sering diucapkan. Sudah jadi makanan sehari-hari Arga Mamanya itu selalu ngomel-ngomel gak jelas.
"Arga.. sini!"
Mendengar panggilan itu, nyali Arga menciut seketika. dia melangkahkan kakinya perlahan mendekati mamanya. Hembusan napas berat keluar dari mulutnya.
"Kapan kamu mengenalkan calon istri kamu!" Hahh.. Pertanyaan keramat itu lagi yang muncul di bibir mamanya, membuat telinga Arga gerah. Berkali-kali mamanya menyemburkan pertanyaan yang sama kepadanya. Kapan dia gak tanya itu lagi!!
Pertanyaan yang membuat dia harus terdiam seribu bahasa. Tanpa alasan yang jelas menjawabnya.
"Maa!! Arga masih muda, belum mau menikah" mendengar ucapan Arga mata Nyonya Maureen mengobar "Mau sampai kapan kamu sendiri terus, Arga. kamu sudah dua puluh lima tahun! Sudah waktunya kamu merasakan jatuh cinta!" tegas mama Maureen.
Dia juga tidak mau jika anaknya jadi perjaka tua nantinya jika tidak segera menikah.
"EMM-- Eh.. Arga bel---"
Nyonya Maureen melangkah mendekat. Menunjukkan tangannya tepat ke wajahnya, dengan tatapan yang semakin menajam. Membuat Arga terkejut melangkahkan kakinya ke belakang dua langkah.
"Bentar Ma, jangan sentuh aku." Arga menggosok hidungnya, dia merasa tidak suka dengan baju yang banyak bulu. Apalagi terlihat sangat menjijikan di matanya.
"Hachuu.." Arga menggosok-gosok hidungnya yang terasa gatal.
Nyonya Maurent, mundur satu langkah, dan melanjutkan omelannya. tanpa pedulikan Arga yang terus bersin-bersin. "Mama gak mau kamu banyak alasan lagi." tajam nyonya Maurent.
"Mau sampai kapan kamu terus jadi lelaki lajang? Mama tidak pernah sama sekali melihat kamu jalan dengan perempuan. Mama tidak mau kamu jadi perawan tua.."
"Eh… Salah. Maksud mama perjaka tua." lanjutnya.
"Bisa tidak, mama jangan bahas soal pasangan dahulu."
"Mama tidak mau banyak orang menganggap kamu tidak mau dengan wanita. Apa jangan-jangan kamu tertarik pada laki-laki." lanjutnya tanpa memberi sela Arga untuk menjelaskan.
Arga menghela napas berat, alasan apalagi yang akan dia berikan pada wanita paruh baya di depannya itu, sudah beribu alasan dikeluarkan agar mamanya tidak membuat hidupnya semakin tertekan, kini dia hanya bisa berdiam diri mematung tanpa suara, di depan mamanya.
"Mama tidak mau tahu lagi, Arga!! secepatnya kamu kenalkan calon istri ke mama, dalam satu atau dua bulan ke depan! Mama malu Arga, dengan teman-teman mama, kamu sudah dua puluh lima tahun tetapi belum pernah bawa pacar kamu pulang! Bahkan dekat dengan wanita saja tidak pernah" tajam Nyonya Maurent, memegang dadanya, mengatur napasnya yang sedikit ngos-ngosan.
"Ma, Arga itu lagi proses cari calon untuk mama" sahut Arga yang tidak ingin terus di sudutkan.
"Mau sampai kapan kamu cari? Apa kamu mau sampai mama kamu yang sudah tua ini meninggal? Atau sampai kamu disunat dua kali?" Nyonya Maurent mengatur napasnya lagi, dia lelah menghadapi anaknya yang susah banget diatur kalau soal jodoh. Bikin geleng-geleng kepala.
Arga menelan ludahnya hingga melegakan tenggorokan yang semula memang kering. Perkataan mamanya benar-benar menusuk hatinya, ucapannya sangat tajam setajam pisau belati yang baru diasah. Gimana jadinya jika, dia disunat dua kali, lama-lama bisa habis miliknya, pikirnya.
"Mama akan carikan calon untuk kamu jangan menolak dan jangan membantah mama lagi!" kata nyonya Maurent penuh dramatis.
"Ma! Lagian mama sudah sering carikan calon tetapi apa semua gak ada yang beres. Dari deretan wanita cantik yang mama carikan, tidak ada yang Arga suka. Dan tidak ada yang bisa menarik hati Arga" Kata Arga mencoba mencari alasan.
Nyonya Maurent semakin menajamkan pandanganya.
"ARGA! Mama itu malu, mama capai semua teman-teman mama tanya kapan kamu menikah? Bahkan kamu tidak pernah terlibat skandal dengan perempuan! Apa kamu benar-benar suka perempuan atau tidak? Atau kamu sebenarnya gay? Seperti yang dibicarakan orang-orang" bentak nyonya Maureen, menyuarakan unek-unek isi hatinya yang terpendam selama ini.
Nyonya Maurent menghela napasnya, yang sedikit ngos-ngosan, dia terus marah-marah dengan anaknya membuat napasnya tak teratur. dia memandang wajah anaknya, seketika yang semula marah kini hatinya mulai luluh. Nyonya maurent melangkah mendekati anaknya. Menepuk pundak Arga.
"Arga kamu harapan mama satu-satunya! Mama ingin kamu segera menikah! Sebelum mama meninggal nanti, mama ingin mempunyai seorang cucu dan menggendongnya dalam dekapan mama. Tolong pikirkan keinginan mama terakhir ini" tanpa menunggu Arga mengeluarkan suaranya lagi, Nyonya Maurent membalikan badannya melangkahkan kakinya pergi dari ruangan Arga. Menatap Arga membuatnya selalu sedih, dan prihatin dengan nasib anaknya yang satu itu.. hemms.. entah benar apa dia sebenarnya Gay?
---
Melihat mamanya yang sudah pergi menjauh.
Arga duduk bersandar di kursi, memejamkan kedua matanya sejenak, memegang kepalanya yang terasa penat. Kedua tangan mamanya membuat Arga tidak ada Arga dirinya kali ini, di depan mamanya dia tidak punya nyali untuk melawan. Padahal, dia tidak suka berhubungan dengan perempuan. Dia sudah sangat nyaman dengan dunia dan statusnya sekarang. dia ingin memenuhi permintaan terakhir papanya sebelum meninggal. Jika dia ingin Arga memimpin Wijaya group dan membawanya sebagai raksasa di pasar dunia. Hingga dia harus mengubur dalam-dalam keinginannya dahulu untuk menjadi seorang tentara atau melanjutkan sebagai seorang seniman. Arga suka sekali, menggambar dan membuat berbagai kerajinan dari jemari tangannya.
Tetapi, dia harus melupakan apa yang namanya jatuh cinta. Sisa hidupnya bertahun-tahun hanya dihabiskan untuk kerja, dan kerja.
Arga membuka matanya, mendengar ponselnya yang terus berbunyi. Diliriknya ponselnya di atas meja yang terus menyala. dia mengambilnya dan mengangkat panggilan itu.
"Kamu di mana sekarang?"
Arga mengerutkan keningnya, memutar otaknya. Siapa yang berbicara dengannya di seberang sana. Arga sangat tidak asing dengan suara ini. Dan sangat familiar sekali di tangannya, pikirnya.
"Emm Le..leon" Arga menebak, seketika disambut dengan tawa meledak-ledak dari seberang sana.
"Iya ini aku Leon! Kamu di mana sekarang? Jangan bilang kalau kamu masih di Sydney."
"Memangnya, Ada apa? Tumben banget kamu menghubungiku"
"Udah gak usah banyak tanya lagi! Besok aku mau kamu datang ke pesta pertunangan aku jam 3 sore. Aku tunggu kamu! Dan tenang saja pesta aku di jamin bersih, jadi kamu jangan takut, Bye." Leon memutuskan sambungan telepon begitu saja. Arga menatap layar ponselnya bingung, helaan napas berat keluar dari mulutnya.
"Indonesia! Emangnya dia di Indonesia?"
"Dasar Leon!!"
Arga menggelengkan kepalanya, lalu memijat keningnya yang terasa sangat pusing.
~
Arga melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 9.00 pagi. Lima menit lagi akan ada rapat evaluasi perusahaan, yang harus dia pimpin. Sebagai seorang Ceo wijaya grup, dia pantang dengan kata telat, dengan segera Arga bergegas bangkit dari duduknya. Meraih jas hitam di kursinya dan bergegas.
dia berjalan menuju ke pintu, memegang knop, lalu membukanya perlahan. Tubuhnya tersentak kaget, melangkahkan kakinya mundur. Untuk yang kedua kalinya dia dibuat kaget, dengan kedatangan nyonya Maurent di depannya. Dengan tangan bersedekap, tatapan mengobarkan percikan api yang masih belum reda.
Apa yang di rencanakan ibuku? Kenapa dia selalu memaksa aku menikah?
"Kenapa mama masih tetap di sini? Bukannya tadi mama sudah pergi!" tatapan Nyonya Maurent masih sama, penuh dengan percikan api.
"Memangnya mama gak boleh ke sini?" Tanya nyonya Maurent, dengan tangan bersedekap di dadanya.
Arga menghela nafasnya. Ia harus benar-benar bisa sabar menghadapi mamanya, ia tidak bisa mengusirnya begitu saja. Arga memutar otaknya untuk berpikir sejenak, apa alasan selanjutnya yang ingin ia utarakan pada mama kesayangannya itu.
Thingg!
Hanya satu alasan, yaitu rapat yang akan dilakukan sebentar lagi. Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menghindar dari cerocos mamanya yang gak ada hentinya.
"Mama! Arga mau ada rapat evaluasi laporan keuangan, nanti saja bicaranya" Arga mencoba berbicara dengan nada lembutanya. Tetapi Nyonya maureen hanya diam, tiba-tiba saja ia mengulurkan sebuah kunci, yang seketika membuatnya mengerjapkan matanya bingung.
Ia mengernyitkan matanya. "Ini apa ma?" Tanya Arga yang tidak mengerti, tetapi tangannya menerima begitu saja kunci itu.
"Mulai nanti malam kamu tinggal di sebuah apartemen yang mama belikan untuk kamu! Dan tenang saja semua sudah dibersihkan dengan sempurna oleh Mr Jack. Barang-barang kamu juga sudah di pindahkan ke sana. Dan kamu juga akan ditemani dengan manajer Ken untuk mengurus keperluan di tempat baru!"
Mata Arga melebar seketika, tentu saja dia terkejut, ia tidak bisa terima dengan keputusan Nyonya Maureen yang tiba-tiba, tanpa sepengetahuannya. Bahkan mama nya memutuskan semuanya sendiri. Tanpa bernegosiasi lebih dulu dengannya.
"Kenapa mama mendadak menyuruh, anak mama yang tampan ini, pindah? Apa mama mau mengusir Arga?"
Nyonya Maureen, berjalan dua langkah ke depan, menepuk pundak Arga. "Aku ingin kamu tinggal di luar rumah, biar tahu rasanya bisa dekat dengan wanita"
"Tapi Ma! Arga sudah nyaman tinggal di rumah. Lagian Arga sudah punya rumah kenapa mama menyuruh Arga tinggal di apartemen, yang tidak terjamin kebersihannya. Gimana aku bisa hidup di sana?"
Nyonya Maurent semakin geram di buatnya, kali ini Arga tak mau membantahnya lagi.
"Apa kamu mau disunat kedua kalinya?" Ancam mama Maurent, membuat Arga terdiam seketika, menelan ludahnya.
Kepala Arga bergerak, menatap lelaki paruh baya yang berada tak jauh di belakang Nyonya Maureen. Lelaki paruh baya itu menunduk, dengan tangan saling berpegangan dan senyum kaku yang tersembunyi di balik wajahnya.
Mr Jack adalah asisten pribadi Arga, dia yang menyiapkan semua berkas saat meeting maupun rapat di perusahaannya sendiri. Dia membantu semua kebutuhannya. Lelaki paruh baya itu sudah lama . bekerja dengan keluarganya. Dari papanya sebelum meninggal dulu, dan kini dia tetap setia bekerja dengan keluarganya.
Arga menggerakan kepalanya lagi, menatap laki-laki muda yang berdiri tepat di samping Mr Jack. Dia hanya menunduk tidak berani menampakkan wajahnya melihat Arga.
Arga menatap mamanya kembali, yang masih berdiri di depannya. "Ma Arga gak bi---- thing"
"Mama gak mau dengar alasan kamu lagi" potong Nyonya Maurent cepat. "Jangan bantah mama! Mulai nanti pulang kerja kamu langsung pergi ke apartemen baru kamu. Mama sudah chat alamat lengkap, dan nomor apartemen yang kamu tempati. Dan manajer Ken juga akan pergi bersama kamu!"
"Tapi ma ak-----".
"Kalau kamu gak mau menuruti apa kata mama! Mama akan jodohkan kamu dengan anak Nyonya Alexa, dan akan mama nikahkan satu bulan lagi" ancam Nyonya Maurent Tidak main-main dengan perkataannya.
Arga menelan ludahnya, gak habis pikir ia akan menikah satu bulan lagi.
"Nyonya Elisabeth ada gak?" Goda Arga, dengan senyum tipis menyungging di bibirnya.
"ARGAAA MAMA SERIUS JANGAN BERCANDA!" teriak Nyonya Maureen, membuat Arga seketika menutup kedua telinganya. Suara keras mamanya lama-lama membuat gendang telinganya jebol.
"Tapi Ma Arga gak mau---"
"Kalau kamu membantah lagi! Mama akan sunat kamu dua kali, tiga kali sampai empat kali" potong Mama Maurent cepat, ancaman mamanya kini tidak main-main, ia seperti algojo yang ingin menyiksanya. Ancaman itu membuatnya tak bisa berkutik, dari pada miliknya habis di sunat. Lebih baik diam, dan menuruti apa kata mama kesayangannya itu.
"Kamu mau pindah gak?"
Arga menganggukan kepalanya berkali-kali, mengiyakan permintaan mamanya. Ia terpaksa menyetujui permintaan mamanya untuk pindah ke apartemen, daripada ia harus dipaksa menikah dengan perempuan yang tidak ia kenal.
Di tengah umurnya yang semakin hari semakin tua, dia semakin tersiksa dan tertekan, bukan hanya karena pekerjaan yang membuatnya tak punya waktu dengan dunia luar. Tapi entahlah..
apa karena kelakuan mamanya sendiri? yang terus memaksanya untuk segera menikah.
Keinginan yang sangat sulit ia terima, bahkan dekat dengan wanita saja dia tidak pernah. Gimana bisa ia menikah.
Siapa yang mau menikah denganku, lelaki dingin, dan keras kepala sepertiku. Melihat aku saja wanita tertunduk takut. Apalagi mendekat, mungkin akan jadi keberuntungan baginya, jika ada wanita yang berani mendekatinya.
Arga membalikkan badan mamanya, mendorong punggung mamanya untuk segera pergi dari ruangannya. Ia menahan rasa geli akibat baju yang dipakai mamanya penuh dengan bulu yang menjijikkan.
"Sudah sekarang mama pergi dulu! Arga mau rapat sudah telat" Arga melirik jamnya sudah telat lima menit.
"Baiklah! Mama pergi, tapi ingat jangan membantah perkataan mama!" Ancam Mama Maurent, melirik ke belakang dengan telunjuk ke wajah Arga.
"Iya mama!" Ucap Arga, dengan nada malasnya.
Arga menghela napas leganya, saat ia melihat punggung mamanya yang sudah pergi menjauh. Seketika kepalanya bergerak, melirik ke arah Mr Jack, dan Manajer Ken yang masih menunduk.
Mr jack dan Manajer Ken yang menyadari tatapan Arga, mereka menelan ludahnya kompak "Maafkan saya tuan! Nyonya Maurent dari kemarin mengancam saya" Arga berjalan mendekati Mr Jack, dan Manajer Ken menepuk-menepuk pundaknya, mendekatkan mulutnya di telinga mereka, dengan berbisik lirih.
"Kalau sampai aku jadi disunat lagi kedua kalinya, maka akan aku pastikan jika Kalian yang akan disunat ke tiga, ke empat atau bahkan kelima kalinya"
Seketika, Mr jack dan Manajer Ken menegang, tangannya merayap menuju miliknya. "Jangan, Tuan. Bisa habis milik saya. Saya masih punya istri dan anak, Tuan. Gimana nasib mereka nantinya, Tuan."
"Iya, Tuan saya juga belum menikah, gimana nasib saya nantinya, kalau menikah sudah habis duluan" sambung Manajer Ken.
Arga menganggukan kepalanya, beberapa kali.
"Makanya sekarang, tolong pastikan jika wanita cantik itu. Tidak datang lagi ke kantor." Kata Arga, memegang kepalanya yang semakin panas, meledak-ledak.
"Sekarang kita cepat pergi ke ruang rapat. Dan, jangan lupa berkas untuk rapat kita hari ini"
"Baik, Tuan." Jawab Mr Jack yang masih menunduk.
"Dan manajer Ken, siapkan mobil aku, karena sebentar lagi aku akan pergi, setelah rapat. Dan tolong benar-benar bersihkan mobil aku, jangan ada debu sedikitpun"
"Baik, Tuan." jawab Manajer ken, yang masih menunduk.
-------
Arga berjalan masuk ke ruangan rapat. Semua pegawai sudah duduk menunggunya. Susana mulai menegang, tak bisa bersantai lagi, semua mata tertuju pada Arga, yang masih berdiri dengan tatapan tajam dan dinginnya. Aura mencengkam memenuhi seisi ruangan tersebut.
Mr Jack memberikan beberapa berkas keuangan perusahaan yang akan di evaluasi, di dalam rapat kali ini. Semua orang bangkit dari duduknya. Menundukkan kepalanya menyambut kedatangan Arga.
"Tolong bersihkan meja aku lebih dulu, jangan sampai ada debu sedikitpun"
"Baik tuan" Mr Jack menunduk, melakukan perintah Arga membersihkan meja dan kursinya.
"Silahkan tuan" kata Mr Jack yang sudah selesai melakukan perintahnya, dia mengulurkan tangannya mempersilahkan Arga untuk duduk.
Suasana mulai berubah saat Arga mulai duduk, semula yang riuh saling berbincang satu sama lain. Semua terdiam saat menatap, aura mencengkam terlihat jelas dari tubuh Arga.
Arga terdiam, membaca detail laporan keuangan yang diberikan Mr jack, matanya semakin mengobar. Kepalanya semakin meledak-ledak melihat pekerjaan pekerjaan pegawainya yang membuat dia semakin tambah emosi.
Braakkk!!
Berkas itu dilemparkan ke depan mejanya. Membuat semua orang saling menatap bingung. Dengan wajah yang mulai menunduk ketakutan.
"Apa-apaan ini, apa kalian mau makan gaji buta dariku. Laporan keuangan kalian sangat amburadul. Kalian bisa kerja apa gak. kalau kalian gak bisa kerja, silahkan pergi dari kantor aku sekarang" Bentak Arga, mengobarkan api kemarahan. Suasana semakin hening, membuat di dalam ruangan itu semakin mencengkam.
"Kalau kalian gak mau bekerja dengan saya! Sekarang kalian keluarlah! Pergi dari kantor aku, aku tidak mau melihat wajah pecundang-pecundang seperti kalian di kantor aku" Lanjutnya dengan penuh amarah.
Arga, menarik nafasnya dalam-dalam. Dan beranjak berdiri. "Perbaiki kinerja kalian! Aku kasih kesempatan kalian besok untuk menyelesaikan semuanya. Jika tidak selesai juga, maka akan saya pastikan kalian saya paksa tanda tangan surat pengunduran diri kalian." Arga segera mengakhiri rapatnya lebih cepat.
Semua hanya diam di tempat duduknya. Tidak ada yang berani mengangkat kepalanya. Untuk melawan, bahkan menjawab saja rasanya sangat susah, mulut mereka benar-benar terkunci rapat. Saling melirik satu sama lain. Dengan wajah ketakutan melihat ke arah Tuannya yang semakin menggila setiap harinya.
Pikiranku sangat kacau, apa aku bisa menikah secepatnya? Tapi mana mungkin aku bisa segera menikah? Siapa yang mau denganku?