Bab 2

Rayyen membuang nafas kasar. Ia mengusap kilas wajahnya. Permintaan Albar terasa begitu berat baginya. Bagaimana mungkin, apakah aku bisa memilih? Terjebak dalam situasi sulit seperti ini. Mengiyakan rasanya tidak mungkin. Tapi melihat kondisimu seperti ini, rasanya juga tidak tega untuk menolak.

Rayyen hanya bermonolog dalam hatinya. Tatapannya nanar. Satu patah kata pun berat untuk di ucapkannya.

"Bagaimana Rayy, mengapa kamu tidak menjawabku?" Albar kembali merengek seperti anak kecil.

"Akku ..." sahut Rayyen kaku.

"Aku apa Rayy, Kamu pasti mau bukan? Aku yakin kamu mau dan setuju untuk menggantikan posisiku menikahi Aliffa," ujar Albar dengan wajah yang sudah sangat begitu sembab.

Rayyen menghela nafas dan menghembuskannya cepat, untuk mengurangi sesak yang ada di dalam dadanya. "Aku ... aku tidak bisa Al."

Albar menatap Rayyen kecewa, "mengapa, mengapa tidak bisa? Bukankah kamu sahabat baikku. Sahabat karibku sejak dulu. Bukankah kamu berjanji akan melakukan apapun demi keutuhan persahabatan kita!" Albar sedikit memberontak. Ia mencengkram kuat kerah kemeja Rayyen. Dan menariknya berulang hingga tubuh Rayyen ikut terguncang. Rayyen pasrah dengan perlakuan Albar padanya. Tanpa memberikan perlawanan sedikitpun. Ia tahu betapa marah dan pilunya perasan Albar. Hingga ia membiarkan dan memaklumi Albar untuk meluapkan semua amarahnya. Albar pun sebenarnya tidak ingin bersikap kasar pada Rayyen. Namun ia terpaksa karena keinginannya di tolak. Hingga rasa kesalnya membuncah.

"Al, kumohon bersabarlah! Dengar penjelasanku ..." Rayyen memelas dan mencoba memberikan pengertian. Albar yang merasa begitu terpukul dan tidak di tanggapi mendorong kuat tubuh Rayyen. Hingga Rayyen jatuh terjembab. "Auww!" Rayyen meringis karena sikunya terluka, akibat menopang tubuhnya yang jatuh.

"Kamu jahat Rayy! Aku kira persahabatan kita begitu berarti. Setelah sekian tahun lamanya. Tapi apa ..." kecam Albar tersedan. Dengan tatapannya yang nyalang. Rayyen berusaha berdiri sembari memegangi sikutnya yang terasa nyeri dan menghampiri Albar dengan tertatih. "Bukan seperti itu Al", elaknya cepat. "Aku tidak bisa, karena aku sudah bertunangan", sambung Rayyen lagi.

"Bertunangan?" sahut Albar tersentak.

"Setahuku kamu tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Bahkan ada beberapa wanita yang mengejarmu, tapi kamu selalu menolak mereka. Atau jangan - jangan ini hanya alasanmu!" tuding Albar mulai merasa muak. Albar pikir Rayyen hanya mencari - cari pembelaan untuk menolak permohonannya.

"Tidak Al! Aku berkata jujur. Semuanya terjadi begitu cepat. Ibuku menjodohkanku dengan Zeanna anak dari sahabat karibnya dulu. Dan aku tak punya alasan untuk menolaknya."

"Benarkah seperti itu, lalu apa kamu mencintainya?" tanya Albar meragukan.

Rayyen menggeleng dan melemparkan pandangan ke arah lain. Rasanya terlalu naif, untuk mengakui kalau ia jatuh cinta pada Zeanna yang memang bukan tipenya. Albar menarik bibir tertawa sinis. Melihat tingkah Rayyen seperti itu. Ia tahu kalau Rayyen tidak pernah mencintai wanita itu. Dan Albar juga tahu Rayyen hampir tidak pernah berbohong.

"Dari tatapanmu aku tahu, Rayy! Kamu tidak pernah mencintai wanita itu bukan? Kamu terpaksa," cibir Albar telak.

"Mau bagaimana lagi Al, aku tidak kuasa menolak keinginan ibuku. Hanya ibuku orang yang satu - satunya ku miliki saat ini. Lagi pula dia orang tua ku. Tak mungkin aku menolak keinginannya," Rayyen terus berusaha meminta pengertian Albar. Karena memang selama ini Rayyen adalah anak yang patuh. Dia pemuda yang penurut. Apalagi jika itu menyangkut orang tuanya. SELAMA ITU BAIK. Albar menggeleng dan menundukkan wajahnya. Kentara sekali, Albar begitu terpuruk. Rasanya pupus sudah harapannya untuk menitipkan wanita belahan hatinya pada Rayyen sahabatnya.

"Sia - sia aku datang kemari, untuk menemuimu Rayy ..."

Rayyen melangkah menghampiri Albar dengan jarak lebih dekat. Ia menepuk dan mengusap bahu sahabatnya. "Bersabarlah Al, aku yakin ada jalan dari semua ini. Jangan berputus asa seperti ini," ujar Rayyen mencoba menasihati.

"Aku bukan berputus asa Rayy, tapi memang ini faktanya sekarang. Karena baru kali ini aku benar-benar merasa jatuh cinta pada seorang perempuan. Sudah banyak wanita yang singgah dalam hidupku. Hanya dia yang menggetarkan hatiku. Hanya Aliffa yang mampu ..." jelas Albar sungguh - sungguh. Sembari terduduk lesu.

"Andai saja aku belum bertunangan Al, mungkin aku akan pertimbangkan permohonanmu," sahut Rayyen menyayangkan. Ia kini ikut duduk di samping sahabatnya itu.

"Bagaimana kalau kamu batalkan saja pertunanganmu itu?" paksa Albar lagi. Terdengar konyol, di telinga Rayyen namun ada sedikit rasa gembira di hatinya. Sifat asli Albar mulai terlihat. Kadang bar - bar dan cenderung suka memaksa. "Dasar bodoh!" ejek Rayyen sambil menyapu pelan rambut Albar. "Kamu sudah tahu bukan bagaimana sifat ibuku?" sambung Rayyen lagi.

Albar tertawa kecil mengingat kejudesan wanita yang melahirkan Rayyen itu. "Ya aku ingat."

"Walau begitu aku sangat menyayanginya," ucap Rayyen membela.

"Ya kamu memang beruntung Rayy ..." puji Albar iri.

"Lalu kapan kamu akan menikah?" tanya Albar ingin tahu.

"Aku tidak tahu Al, pihak Zeanna sengaja mengulur waktu. Zeanna sangat sibuk dengan karirnya sebagai modeling. Katanya dia ingin sukses dulu mengejar mimpinya. Barulah ia memikirkan untuk menikah," jelas Rayyen tak bersemangat. Ia memang setengah hati dengan wanita itu.

Albar kembali menarik bibirnya dan tersenyum smirk. "Syukurlah kalau begitu! Masih ada waktu bagimu, untuk mengenal Aliffa. Aku yakin kamu pun juga akan jatuh cinta padanya."

"Entahlah!" Rayyen tak yakin.

Albar membuka ranselnya. Dan mengeluarkan sesuatu dari situ. Sebuah buku dengan sampul warna coklat. Benda persegi panjang itu, tampak tidak terlalu besar. Namun juga tidak terlalu kecil.

"Ini untukmu Rayy," Albar meraih tangan Rayyen dan meletakkan buku tersebut.

Rayyen mengernyit, "apa ini Al?"

Wajah Albar sedikit tersipu, sedari tadi ia menyudahi tangisnya. "Ini buku harian Aliffa. Aku sengaja mencurinya saat aku berkunjung ke rumahnya. Untuk membicarakan persiapan pernikahan kami."

"Apa maksudmu, untuk apa kamu memberikannya padaku?" Rayyen heran.

"Semua ini sudah ku rencanakan dari jauh hari Rayy, aku tak ingin semua pengorbanankun percuma, terbuang begitu saja. Simpan buku harian itu! Kamu bisa membacanya untuk mengenal Aliffa lebih dalam", tegas Albar penuh penekanan.

"Tapi ... aku rasa ini tidak patut Al!" sanggah Rayyen merasa tidak nyaman kalau harus mengetahui kepribadian seseorang dengan cara yang salah. Apalagi Albar mengambil buku itu tanpa sepengetahuan Aliffa.

"Sudahlah Rayy! Aku tahu aku salah, tapi aku terpaksa. Karena waktuku tak banyak. Dan dari awal memang semua ini menjadi rahasia. Rahasia kita berdua. Anggap saja sekarang dirimu di hadapkan dengan 2 pilihan wanita. Yaitu Zeanna dan Aliffa. Aku yakin setelah mengenalnya kamu akan lebih memilih Aliffa," ucap Albar tanpa kecuali.

"Baiklah Al, kalau itu maumu. Aku akan simpan buku harian ini. Tapi aku tidak janji, kalau aku akan menemuinya," Rayyen pasrah sembari memegang buku tersebut.

"Buka saja Rayy, beri dirimu sedikit ruang untuk membacanya. Ini pesan terakhirku kumohon... jangan tolak permintaanku lagi!"Albar meminta belas kasih.

Rayyen membuang nafas kasar. "Oke! Seperti katamu aku akan anggap hidupku sekarang di hadapkan dengan 2 pilihan."

Mendengarnya Albar tersenyum lebar. Masih ada secercah harapan untuk mempersatukan wanita pujaanku Aliffa dengan Rayyen sahabatku. Di mataku kalian mempunyai kepribadian yang sangat mirip. Hingga di akhir hidupku nanti, aku ingin melihat sesuatu yang pantas. Aku ingin bahagia melihat keduanya bersama.

Albar pamit dan keduanya saling berangkulan. Pertemuan hari itu, memang mengalami penolakan. Namun masih ada KESEMPATAN.

Bab 3

Semenjak pertemuannya dengan Albar hari itu. Rayyen begitu sering mendapatkan teror dari Al. Yang terus mendesaknya untuk menemui Aliffa. Kadang dia menelpon, kadang mengirim pesan. Atau sesekali Albar berkunjung ke tempat kerjanya. Albar memutuskan untuk tidak lagi, kembali ke Indonesia. Orang tuanya memilih membawanya kembali ke luar negeri. Untuk menjalani pengobatan dan perawatan yang lebih intensif. Mereka berdua sangat berupaya untuk kesembuhan putra bungsunya. Dan hal ini tidak diketahui oleh pihak Aliffa. Semuanya sangat di rahasiakan. Yang mereka tahu Albar dan keluarganya kini masih berada di kota yang sama. Dan turut sibuk mempersiapkan pernikahan putranya. Albar memiliki saudara perempuan. Kakak tertuanya bernama Nadia Matthew, ia telah berkeluarga dan juga menetap tinggal di luar negara.

Satu bulan menjelang pernikahannya dengan Aliffa. Albar semakin intens dan brutal, untuk terus menghubungi Rayyen.

Namun sebisanya, Rayyen beralasan dan terus menghindar dari kehendak sahabat karibnya itu. Albar juga terus berkirim pesan dan selalu menghubungi Aliffa calon istrinya. Ia juga terus bersandiwara. Kalau seluruh keluarganya antusias untuk mempersiapkan pernikahan mereka.

Sesekali Albar menangis saat ia berbicara di telepon dengan Aliffa. Sebisa mungkin ia menyembunyikan perihal kesedihannya. Ia ingin Aliffa tetap baik - baik saja. Dan bahagia hingga hari sakral itu tiba.

Dua minggu lebih menjelang pernikahan Albar dan Aliffa. Sang kakak Nadia menghubungi Rayyen. Ia menuruti keinginan Albar. Perihal apa yang di inginkannya pada Rayyen. Albar juga sudah memberitahu Nadia, dan meminta restu pada kakanya itu. "Anggap saja ini keinginan terakhirku Kak!" ucap Albar manja Nadia mengingat.

"Halo Rayy! Bisakah kamu ke rumah sakit sekarang! Adikku Albar ingin bertemu denganmu. Kondisinya saat ini semakin memburuk ..." Nadia terisak berbicara pada Rayyen.

Mendengarnya hati Rayyen rasanya bergemuruh. Ia juga ikut tertekan, perihal apa yang menimpa Albar. Tanpa pikir panjang Rayyen segera menemui Albar di rumah sakit. Semuanya berkumpul di sana. Ada daddy, momy, Nadia, dan dua anak yang masih balita Mario dan Keyren. Ialah keponakan Albar. Mereka tengah menunggu Albar melakukan kemoterapi.

Raut wajah semuanya terlihat sangat muram. Tak ada canda tawa di sana. Hanya suasana pilu mendalam.

"Hai kalian apa kabar?" sapa Rayyen pada dua bocah itu.

"Aa, ai Oo- om layyen. Cami bayyik," sahut Keyren yang memang masih belum terlalu fasih berbicara. Usianya baru 2 setengah tahun. Rayyen tertawa kecil mendengarnya. Lalu mengusap - ngusap rambutnya. Hanya 2 balita itu kini, penyemangat hidup daddy dan momy Albar. Rayyen menghampiri kedua orang tua itu. "Bagaimana kabar Om?" sapa Rayyen santun.

Om Matthew membuang nafas kasar. Ia tertunduk tak bersemangat. "Seperti yang kamu lihat Rayy, kami di sini tengah berduka," sahutnya datar.

"Sabar Om ..." timpal Rayyen bijak. Ia berusaha mencairkan suasana hati om Matthew yang terlihat sangat terpukul.

"Andai saja waktu dulu Om lebih memperhatikan Albar. Mungkin anak itu tidak akan seperti ini. Semuanya tidak akan terjadi, semua ini salah Om!" ujarnya menyesali diri. Om Matthew begitu merasa bersalah atas tindakannya dulu. Ia terlalu sibuk dengan bisnisnya. Hingga ia melupakan kewajibannya sebagai figur seorang ayah, yang harus ada memperhatikan tumbuh kembang putranya.

"Mungkin semuanya belum terlambat Om," Rayyen mencoba menengahi agar om Matthew tidak berputus asa.

"Percuma Rayy! Om rasa semuanya sudah terlambat. Albar sakit keras. Dan 2 minggu lagi dia akan menikah. Tapi keadaanya semakin tidak memungkinkan seperti sekarang," jelas om Matthew dengan tatapan berkaca - kaca.

"Aku tahu ini semua mungkin terasa sangat berat Om! Kita berdo'a saja semoga ada keajaiban," harap Rayyen menatap lelaki tua itu nanar.

"Ya, kami semua tidak berhenti berharap. Andai harus ikhlas, mungkin Om harus mengikhlaskannya. Tapi yang paling membuat Om sedih, Om merasa tidak bisa memberikan kebahagiaan yang pantas pada Albar, hingga di penghujung hidupnya." Om Matthew tertunduk, air mata yang sedari tadi di tahannya, kini mengalir deras di wajahnya yang penuh guratan.

Dokter datang menghampiri mereka. Kebetulan sang Dokter masih berasal dari Indonesia. Dan masih mempunyai hubungan kerabat dengan keluarga Albar.

"Syukur kalian semua berada di sini," jelas Dokter dengan menatap semua prihatin.

"Kami sudah melakukan kemo, pada pasien. Dan kini pasien sudah sadar. Tapi dia harus butuh banyak istirahat. Tadi dia berpesan, ingin menemui Rayyen sahabatnya. Adakah yang bernama Rayyen di antara kalian?" jabar sang Dokter lagi sekaligus bertanya.

"Saya Dok!" jawab Rayyen lantang.

Dokter mengalihkan pandangannya pada Rayyen. "Kamu bisa menemuinya sekarang! Dari tadi pasien sangat gelisah. Ingin bertemu dengan anda. Saya harap setelah bertemu denganmu dia akan sedikit lebih tenang," timpal Dokter lagi. Rayyen menatap mommy dan om Matthew seolah meminta izin. Sang mommy hanya menganggukkan kepalanya pada Rayyen sambil terus menangis. Pertanda ia mengizinkan.

Rayyen membuka pintu ruangan itu perlahan. Tampak sang sahabat terbaring lemah di penuhi dengan selang, di beberapa bagian anggota tubuhnya. Dan juga selang oksigen yang menempel di kedua lubang hidungnya. Sehelai rambutnya pun, kini sudah tak terlihat lagi. Tatapan matanya tampak sangat sayu. Ia menyunggingkan senyum ceria, ke arah Rayyen yang melangkah gontai untuk menghampirinya.

"Aku sudah menduganya. Kamu akan datang Rayy ..." sapa Albar lemah. Rayyen tertunduk, menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada di samping pembaringan Albar. Ia tak sanggup kalau harus lama - lama memandangi Albar dalam kondisi sekarang. Berulangkali Rayyen menahan salivanya. Lidahnya kelu untuk berkata.

"Bagaimana, apa kamu sudah membuka buku yang ku berikan untukmu?" tanya Albar ingin tahu.

Rayyen mengernyit dan menggeleng, "belum sama sekali."

Raut wajah Albar kecewa mendengarnya. Ia pikir Rayyen akan membaca buku itu di sela - sela kesibukannya.

"Maaf!" sambung Rayyen singkat.

Albar tersenyum smirk, "kamu tidak perlu minta maaf Rayy! Aku tahu kamu sibuk. Mungkin juga tidak terlalu penting bagimu bukan?!"

"Aku hanya..." sahut Albar terputus. "Aku hanya belum siap Al!"

"Ya! Memang begitu faktanya. Orang gila mana yang mau menikahi calon istri sahabatnya, sedangkan ia tidak pernah sama sekali mengenalnya," Albar insecure.

Rayyen mendongak menatap Albar, "ku mohon mengertilah Al! Aku, aku masih butuh waktu."

Albar menarik nafas, "entah sampai kapan Al? Pernikahanku tinggal menghitung hari. Tidak bisakah kamu mengerti betapa pentingnya ini bagi hidupku?! Tidak bisakah kamu menghargai persahabatan kita yang telah bertahun-tahun lamanya? Anggap saja ini pengorbanan terakhirmu untukku, cintai dia, nikahi dia! Hanya kamu lelaki yang pantas untuknya. Aku sudah sangat - sangat mengenalmu Rayy, kamu lelaki terbaik. Kamu sahabat baikku."

Rayyen membuang nafas kasar. Ia menatap Albar lebih dalam. Sungguh sangat berat bagiku semua ini. Tapi melihat keadaanmu seperti ini. Semakin hari semakin melemah saja rasanya aku...

"Please Rayy ... biarkan aku pergi dengan tenang. Setelah ini aku janji takkan mengganggu hidupmu lagi," Albar terus berupaya memelas.

"Tapi, apa kamu benar - benar ikhlas menyerahkan Aliffa padaku?" tanya Rayyen sungguh - sungguh.

Albar mengangguk penuh harap.

"Oke! Baiklah kalau begitu, aku akan maju. Kamu tahu bukan, kalau tekadku sudah bulat, aku takkan mundur lagi," tegas Rayyen serius. Ia akhirnya menyetujui untuk menikahi Aliffa.

"Janji?" Albar meragukan.

Rayyen mengangguk cepat, "janji Al!"

"Kalau kamu menolaknya lagi, maka ketika aku tiada aku akan mengahabtuimu," guyon Albar bercanda.

Seketika gelak tawa pecah dari keduanya menggema di ruangan itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED