"Nikahi dia demiku Ray ..." Albar terbata mengatakannya pada Rayyen sahabat masa kecilnya, hingga dewasa. Di balik kaca mata itu, dua bola matanya berbinar. Bukan karena ia bahagia. Tetapi menahan tangis kesedihannya. Di sana terlihat Albar yang lemah tak berdaya. Albar yang rapuh. Albar yang tidak mempunyai pendirian lagi. Dan penuh keputus asaan. Padahal dulunya, Albar lelaki yang tangguh, lelaki macho nan maskulin. Bahkan wajahnya yang tampan memesona. Yang dulunya jadi idaman dan dambaan para kaum hawa. Sekarang terlihat semakin tirus dan muram. Tubuhnya tampak ringkih, dan kurus. Aura wajah dan warna kulitnya pucat pasi. Penyakit mematikan yang kian hari menggerogoti tubuhnya, membuatnya kian terpuruk dan kehilangan jati diri.
Sahabat mana, yang tidak iba. Melihat kondisi buruk sahabatnya kini. Tampaknya Albar begitu tertekan. Rayyen terhenyak mendengar keinginan sahabat karibnya itu. Lama tidak bertemu, sekalinya berjumpa Albar malah mengutarakan keinginan sakral pada dirinya. Bukan tanpa alasan, Rayyen menjadi berpikiran aneh pada Albar. Seperti yang ia kenal Albar kerap mempermainkan hati wanita.
Jangan - jangan Albar melakukan hal buruk pada wanita itu. Hingga ia melimpahkan kesalahannya padaku.
"Apa katamu Al, ucapanmu tidak masuk akal. Kamu sedang tidak bercanda kan?" sahut Rayyen tergugu.
"Tidak Ray, dia wanita yang baik. Aku tak ingin kehilangannya. Namun aku juga tidak rela dia di miliki orang lain. Aku ingin kamu yang menggantikan posisiku. Aku percaya padamu Ray, aku sudah sangat mengenalmu," jelas Albar yakin dan mulai tersedu. Pria ini tak dapat lagi menyembunyikan rasa pilunya. Rasanya takdir begitu pahit. Tidak bisa memiliki meski sudah bisa menggapainya.
"Tapi kenapa Al, kenapa harus aku, apa yang membuatmu tidak bisa mendampinginya?" tanya Rayyen berat juga meragukan.
"Aku, aku, ak - ku ..." terisak. Air mata luruh membanjiri wajah lelaki itu. Ia tidak dapat lagi menahannya. Sedangkan hati Rayyen pun ikut hancur menyaksikan Albar yang sesenggukan. Seolah - olah ia tidak mengenal lagi sahabatnya. Entah kemana Albar yang dulu. Albar sekarang sangatlah berbeda. Tadinya ia bimbang dengan permintaan sahabatnya itu. Tapi ia bisa melihat dengan jelas. Sesakit dan seserius itukah perasaan sahabatnya. Sedalam itukah luka hatinya. Dan secinta itukah Albar pada wanita yang tak pernah di kenalkan padanya. Dan kini Albar memintanya untuk menikahinya.
"Kenapa Al, ada apa denganmu, apa yang terjadi padamu?" desak Rayyen sembari menahan salivanya.
'"Aku sakit Ray, aku tidak bisa mendampinginya. Dan umurku hanya tinggal beberapa bulan lagi", sahut Albar dengan tangis yang semakin menjadi. Mendengar pengakuan sahabatnya, hati Rayyen rasanya luluh lantak. Ia tidak percaya kalau Albar sebentar lagi di takdirkan harus, pergi meninggalkan dunia ini. "Bagaimana bisa Al, bagaimana bisa ini terjadi padamu? Tidak! Aku tidak percaya dengan semua ini. Kamu adalah lelaki yang kuat, sahabatku Albar adalah lelaki yang tangguh," Rayyen berusaha mengelak. "Kamu bohong Al ..." tuding Rayyen lagi.
"Ti - tid - tidak! Aku tidak berbohong Ray, percayalah ..." Albar menggenggam kedua tangan Rayyen terisak. "Selama ini aku terus menjalani pengobatan. Aku berusaha untuk sembuh. Demi keluargaku, dan demi wanita yang ku cintai. Tapi ..." jelas Albar terputus sembari menunduk. "Tapi dokter mengatakan tidak ada harapan", sambungnya masih dengan tangis yang menggebu.
Rayyen sebisanya menenangkan sahabatnya. Menepuk dan mengusap - usap pundak Albar. Ia memilih bungkam seribu bahasa. Rayyen tahu ada banyak hal lagi, yang ingin Albar sampaikan padanya.
"Sudah lebih dari setengah tahun yang lalu. Aku menjalin hubungan dengan seorang wanita. Namanya Aliffa. Aliffa adalah adik kelas di kampusku. Aku merasa benar - benar jatuh hati padanya. Dia wanita yang anggun. Wanita shalihah, wanita mahal yang pernah ku kenal dalam hidup ku.Berulangkali aku menyatakan cinta padanya. Namun Aliffa terus menolakku. Katanya tidak ada yang namanya pacaran dalam hidupnya. Aliffa sangat menaati orang tuanya. Ia berbeda dengan wanita lain, yang pernah ku kenal sebelumnya." Mengingat Aliffa membuat Albar sedikit merasa lebih lega, dengan kondisi hatinya yang kini tengah sangat berkecamuk.
"Aku berusaha keras menaklukkan hatinya. Hingga aku lulus kuliah, Aliffa masih tetap pada pendiriannya. Dan pada akhirnya, Aliffa mengajakku ke pesantren milik pamannya," cerita Rayyen mengenangnya. Wajahnya bisa sedikit sumringah mengingat kala - kala itu.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Rayyen menatap Albar penuh perhatian. Ia terus mendengarkan cerita sahabatnya dengan seksama.
Albar menarik bibirnya lebar, "di sana aku menemukan kedamaian. Dan ketentraman jiwa, yang selama ini tidak pernah ku dapatkan di keluargaku. Aku banyak belajar. Sungguh sangat indah. Aku pun semakin takjub, dengan wanita itu. Dia mampu merubah hidupku ke arah yang lebih baik. Seiring berjalannya waktu, aku mau belajar dan menimba ilmu agama di sana. Hingga aku bertekad mau berubah. Dan aku pun akhirnya merubah diriku menjadi lebih baik. Dan sampai pada akhirnya, kedua orang tua Aliffa menyuruh ku untuk melamar putri mereka."
Albar menyeka air matanya.
"Aku bahagia tiada tara. Angan - anganku untuk bisa memiliki seorang Aliffa bukan hanya khayalan semata. Aku pun bertanya pada Aliffa apakah dia mau menjadi istriku. Dan Aliffa menjawab 'iya'. Aku sangat gembira pada saat itu. Bahkan kedua orang tua ku pun sudah merestui hubunganku kami. Dan sedikit lagi perjuangan cintaku hampir saja selesai. Kami akan melenggang ke jenjang pernikahan. Tapi ..." Albar memotong ceritanya dan tangisnya kembali pecah.
"Tiga bulan setelah lamaranku pada Aliffa. Aku merasa kondisiku kurang sehat. Bahkan sakitku, kian hari semakin parah. Awalnya aku mengira aku hanya keletihan. Tapi setelah aku memeriksakan diriku lebih dalam. Dokter memvonis ku menderita kanker paru stadium akhir. Mau tidak mau aku harus terima. Memang dulu pola hidupku sangat tidak sehat. Dan, aku rasa ini hukuman Tuhan untukku," aku Albar pasrah dengan mata yang masih berkaca - kaca
Rayyen masih memilih diam. Ia mencermati dan memahami cerita demi cerita yang di jabarkan Albar padanya. Meski mereka berjauhan berada di negara yang berbeda. Rayyen hafal betul sifat dan tabiat asli sahabatnya itu. Dan kali ini Albar memang sedang tidak bergurau padanya. Tentang permintaan sakralnya. Dan ini menyangkut masa depannya dan wanita itu. Rayyen dan Albar memanglah sangat jauh berbeda. Albar terkenal dengan sifat playboy nya. Hidupnya kerap di kelilingi oleh beberapa wanita. Di penuhi dengan dunia hiburan gemerlap malam. Karena kesibukan sang ayah, dalam mengelola bisnis kerjanya. Albar tumbuh menjadi pribadi yang nakal dan urakan. Albar merasa kurang di perhatikan oleh sang ayah. Hingga ia memutuskan untuk mencari pelampiasan egonya dengan memilih jalan hidup yang salah. Dan ia adalah pemuda blasteran. Lahir dari keturunan Indonesia - Belanda. Namun ibunya memilih menetap di Indonesia. Sedangkan Rayyen berdarah asli Indonesia. Tetapi karena bisnis ayahnya yang begitu maju dan berkembang pesat di luar negara, keluarganya memutuskan untuk tinggal menetap di Swiss. Tak jauh berbeda Rayyen tumbuh dengan keluarga yang lengkap. Namun orang tuanya selalu berusaha memberikan kasih sayang yang pantas pada, putra semata wayangnya di sela - sela kesibukan mereka. Bertolak belakang dengan Albar, Rayyen adalah pemuda cerdas di penuhi dengan segudang prestasi. Ia mampu mengelola bisnis ayahnya di usianya yang sangat muda. Dan kini Rayyen pemegang saham seutuhnya, di perusahaan yang telah lama di kelola sang ayah. Sejak ayahnya tutup usia. Maka dari itulah, Albar mempercayakan Aliffa pada Rayyen. Yang ia yakini, mampu membahagiakan Aliffa dan memberikan hidup layak pada kekasihnya itu. Selain itu juga Rayyen memiliki kepribadian yang santun. Rayyen memiliki hati yang lembut. Bagi Albar, Rayyen sangat cocok di sandingkan dengan Aliffa. Albar telah meyakini, semua takdir yang terjadi padanya. Adalah jalan untuk mempersatukan Rayyen dan Aliffa. Dan ia hanyalah perantara.
"Bagaimana Rayy, apa kamu bersedia menikahi Aliffa untukku?" pertanyaan itu membuat Rayyen terbelenggu.
Rayyen membuang nafas kasar. Ia mengusap kilas wajahnya. Permintaan Albar terasa begitu berat baginya. Bagaimana mungkin, apakah aku bisa memilih? Terjebak dalam situasi sulit seperti ini. Mengiyakan rasanya tidak mungkin. Tapi melihat kondisimu seperti ini, rasanya juga tidak tega untuk menolak.
Rayyen hanya bermonolog dalam hatinya. Tatapannya nanar. Satu patah kata pun berat untuk di ucapkannya.
"Bagaimana Rayy, mengapa kamu tidak menjawabku?" Albar kembali merengek seperti anak kecil.
"Akku ..." sahut Rayyen kaku.
"Aku apa Rayy, Kamu pasti mau bukan? Aku yakin kamu mau dan setuju untuk menggantikan posisiku menikahi Aliffa," ujar Albar dengan wajah yang sudah sangat begitu sembab.
Rayyen menghela nafas dan menghembuskannya cepat, untuk mengurangi sesak yang ada di dalam dadanya. "Aku ... aku tidak bisa Al."
Albar menatap Rayyen kecewa, "mengapa, mengapa tidak bisa? Bukankah kamu sahabat baikku. Sahabat karibku sejak dulu. Bukankah kamu berjanji akan melakukan apapun demi keutuhan persahabatan kita!" Albar sedikit memberontak. Ia mencengkram kuat kerah kemeja Rayyen. Dan menariknya berulang hingga tubuh Rayyen ikut terguncang. Rayyen pasrah dengan perlakuan Albar padanya. Tanpa memberikan perlawanan sedikitpun. Ia tahu betapa marah dan pilunya perasan Albar. Hingga ia membiarkan dan memaklumi Albar untuk meluapkan semua amarahnya. Albar pun sebenarnya tidak ingin bersikap kasar pada Rayyen. Namun ia terpaksa karena keinginannya di tolak. Hingga rasa kesalnya membuncah.
"Al, kumohon bersabarlah! Dengar penjelasanku ..." Rayyen memelas dan mencoba memberikan pengertian. Albar yang merasa begitu terpukul dan tidak di tanggapi mendorong kuat tubuh Rayyen. Hingga Rayyen jatuh terjembab. "Auww!" Rayyen meringis karena sikunya terluka, akibat menopang tubuhnya yang jatuh.
"Kamu jahat Rayy! Aku kira persahabatan kita begitu berarti. Setelah sekian tahun lamanya. Tapi apa ..." kecam Albar tersedan. Dengan tatapannya yang nyalang. Rayyen berusaha berdiri sembari memegangi sikutnya yang terasa nyeri dan menghampiri Albar dengan tertatih. "Bukan seperti itu Al", elaknya cepat. "Aku tidak bisa, karena aku sudah bertunangan", sambung Rayyen lagi.
"Bertunangan?" sahut Albar tersentak.
"Setahuku kamu tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Bahkan ada beberapa wanita yang mengejarmu, tapi kamu selalu menolak mereka. Atau jangan - jangan ini hanya alasanmu!" tuding Albar mulai merasa muak. Albar pikir Rayyen hanya mencari - cari pembelaan untuk menolak permohonannya.
"Tidak Al! Aku berkata jujur. Semuanya terjadi begitu cepat. Ibuku menjodohkanku dengan Zeanna anak dari sahabat karibnya dulu. Dan aku tak punya alasan untuk menolaknya."
"Benarkah seperti itu, lalu apa kamu mencintainya?" tanya Albar meragukan.
Rayyen menggeleng dan melemparkan pandangan ke arah lain. Rasanya terlalu naif, untuk mengakui kalau ia jatuh cinta pada Zeanna yang memang bukan tipenya. Albar menarik bibir tertawa sinis. Melihat tingkah Rayyen seperti itu. Ia tahu kalau Rayyen tidak pernah mencintai wanita itu. Dan Albar juga tahu Rayyen hampir tidak pernah berbohong.
"Dari tatapanmu aku tahu, Rayy! Kamu tidak pernah mencintai wanita itu bukan? Kamu terpaksa," cibir Albar telak.
"Mau bagaimana lagi Al, aku tidak kuasa menolak keinginan ibuku. Hanya ibuku orang yang satu - satunya ku miliki saat ini. Lagi pula dia orang tua ku. Tak mungkin aku menolak keinginannya," Rayyen terus berusaha meminta pengertian Albar. Karena memang selama ini Rayyen adalah anak yang patuh. Dia pemuda yang penurut. Apalagi jika itu menyangkut orang tuanya. SELAMA ITU BAIK. Albar menggeleng dan menundukkan wajahnya. Kentara sekali, Albar begitu terpuruk. Rasanya pupus sudah harapannya untuk menitipkan wanita belahan hatinya pada Rayyen sahabatnya.
"Sia - sia aku datang kemari, untuk menemuimu Rayy ..."
Rayyen melangkah menghampiri Albar dengan jarak lebih dekat. Ia menepuk dan mengusap bahu sahabatnya. "Bersabarlah Al, aku yakin ada jalan dari semua ini. Jangan berputus asa seperti ini," ujar Rayyen mencoba menasihati.
"Aku bukan berputus asa Rayy, tapi memang ini faktanya sekarang. Karena baru kali ini aku benar-benar merasa jatuh cinta pada seorang perempuan. Sudah banyak wanita yang singgah dalam hidupku. Hanya dia yang menggetarkan hatiku. Hanya Aliffa yang mampu ..." jelas Albar sungguh - sungguh. Sembari terduduk lesu.
"Andai saja aku belum bertunangan Al, mungkin aku akan pertimbangkan permohonanmu," sahut Rayyen menyayangkan. Ia kini ikut duduk di samping sahabatnya itu.
"Bagaimana kalau kamu batalkan saja pertunanganmu itu?" paksa Albar lagi. Terdengar konyol, di telinga Rayyen namun ada sedikit rasa gembira di hatinya. Sifat asli Albar mulai terlihat. Kadang bar - bar dan cenderung suka memaksa. "Dasar bodoh!" ejek Rayyen sambil menyapu pelan rambut Albar. "Kamu sudah tahu bukan bagaimana sifat ibuku?" sambung Rayyen lagi.
Albar tertawa kecil mengingat kejudesan wanita yang melahirkan Rayyen itu. "Ya aku ingat."
"Walau begitu aku sangat menyayanginya," ucap Rayyen membela.
"Ya kamu memang beruntung Rayy ..." puji Albar iri.
"Lalu kapan kamu akan menikah?" tanya Albar ingin tahu.
"Aku tidak tahu Al, pihak Zeanna sengaja mengulur waktu. Zeanna sangat sibuk dengan karirnya sebagai modeling. Katanya dia ingin sukses dulu mengejar mimpinya. Barulah ia memikirkan untuk menikah," jelas Rayyen tak bersemangat. Ia memang setengah hati dengan wanita itu.
Albar kembali menarik bibirnya dan tersenyum smirk. "Syukurlah kalau begitu! Masih ada waktu bagimu, untuk mengenal Aliffa. Aku yakin kamu pun juga akan jatuh cinta padanya."
"Entahlah!" Rayyen tak yakin.
Albar membuka ranselnya. Dan mengeluarkan sesuatu dari situ. Sebuah buku dengan sampul warna coklat. Benda persegi panjang itu, tampak tidak terlalu besar. Namun juga tidak terlalu kecil.
"Ini untukmu Rayy," Albar meraih tangan Rayyen dan meletakkan buku tersebut.
Rayyen mengernyit, "apa ini Al?"
Wajah Albar sedikit tersipu, sedari tadi ia menyudahi tangisnya. "Ini buku harian Aliffa. Aku sengaja mencurinya saat aku berkunjung ke rumahnya. Untuk membicarakan persiapan pernikahan kami."
"Apa maksudmu, untuk apa kamu memberikannya padaku?" Rayyen heran.
"Semua ini sudah ku rencanakan dari jauh hari Rayy, aku tak ingin semua pengorbanankun percuma, terbuang begitu saja. Simpan buku harian itu! Kamu bisa membacanya untuk mengenal Aliffa lebih dalam", tegas Albar penuh penekanan.
"Tapi ... aku rasa ini tidak patut Al!" sanggah Rayyen merasa tidak nyaman kalau harus mengetahui kepribadian seseorang dengan cara yang salah. Apalagi Albar mengambil buku itu tanpa sepengetahuan Aliffa.
"Sudahlah Rayy! Aku tahu aku salah, tapi aku terpaksa. Karena waktuku tak banyak. Dan dari awal memang semua ini menjadi rahasia. Rahasia kita berdua. Anggap saja sekarang dirimu di hadapkan dengan 2 pilihan wanita. Yaitu Zeanna dan Aliffa. Aku yakin setelah mengenalnya kamu akan lebih memilih Aliffa," ucap Albar tanpa kecuali.
"Baiklah Al, kalau itu maumu. Aku akan simpan buku harian ini. Tapi aku tidak janji, kalau aku akan menemuinya," Rayyen pasrah sembari memegang buku tersebut.
"Buka saja Rayy, beri dirimu sedikit ruang untuk membacanya. Ini pesan terakhirku kumohon... jangan tolak permintaanku lagi!"Albar meminta belas kasih.
Rayyen membuang nafas kasar. "Oke! Seperti katamu aku akan anggap hidupku sekarang di hadapkan dengan 2 pilihan."
Mendengarnya Albar tersenyum lebar. Masih ada secercah harapan untuk mempersatukan wanita pujaanku Aliffa dengan Rayyen sahabatku. Di mataku kalian mempunyai kepribadian yang sangat mirip. Hingga di akhir hidupku nanti, aku ingin melihat sesuatu yang pantas. Aku ingin bahagia melihat keduanya bersama.
Albar pamit dan keduanya saling berangkulan. Pertemuan hari itu, memang mengalami penolakan. Namun masih ada KESEMPATAN.
Semenjak pertemuannya dengan Albar hari itu. Rayyen begitu sering mendapatkan teror dari Al. Yang terus mendesaknya untuk menemui Aliffa. Kadang dia menelpon, kadang mengirim pesan. Atau sesekali Albar berkunjung ke tempat kerjanya. Albar memutuskan untuk tidak lagi, kembali ke Indonesia. Orang tuanya memilih membawanya kembali ke luar negeri. Untuk menjalani pengobatan dan perawatan yang lebih intensif. Mereka berdua sangat berupaya untuk kesembuhan putra bungsunya. Dan hal ini tidak diketahui oleh pihak Aliffa. Semuanya sangat di rahasiakan. Yang mereka tahu Albar dan keluarganya kini masih berada di kota yang sama. Dan turut sibuk mempersiapkan pernikahan putranya. Albar memiliki saudara perempuan. Kakak tertuanya bernama Nadia Matthew, ia telah berkeluarga dan juga menetap tinggal di luar negara.
Satu bulan menjelang pernikahannya dengan Aliffa. Albar semakin intens dan brutal, untuk terus menghubungi Rayyen.
Namun sebisanya, Rayyen beralasan dan terus menghindar dari kehendak sahabat karibnya itu. Albar juga terus berkirim pesan dan selalu menghubungi Aliffa calon istrinya. Ia juga terus bersandiwara. Kalau seluruh keluarganya antusias untuk mempersiapkan pernikahan mereka.
Sesekali Albar menangis saat ia berbicara di telepon dengan Aliffa. Sebisa mungkin ia menyembunyikan perihal kesedihannya. Ia ingin Aliffa tetap baik - baik saja. Dan bahagia hingga hari sakral itu tiba.
Dua minggu lebih menjelang pernikahan Albar dan Aliffa. Sang kakak Nadia menghubungi Rayyen. Ia menuruti keinginan Albar. Perihal apa yang di inginkannya pada Rayyen. Albar juga sudah memberitahu Nadia, dan meminta restu pada kakanya itu. "Anggap saja ini keinginan terakhirku Kak!" ucap Albar manja Nadia mengingat.
"Halo Rayy! Bisakah kamu ke rumah sakit sekarang! Adikku Albar ingin bertemu denganmu. Kondisinya saat ini semakin memburuk ..." Nadia terisak berbicara pada Rayyen.
Mendengarnya hati Rayyen rasanya bergemuruh. Ia juga ikut tertekan, perihal apa yang menimpa Albar. Tanpa pikir panjang Rayyen segera menemui Albar di rumah sakit. Semuanya berkumpul di sana. Ada daddy, momy, Nadia, dan dua anak yang masih balita Mario dan Keyren. Ialah keponakan Albar. Mereka tengah menunggu Albar melakukan kemoterapi.
Raut wajah semuanya terlihat sangat muram. Tak ada canda tawa di sana. Hanya suasana pilu mendalam.
"Hai kalian apa kabar?" sapa Rayyen pada dua bocah itu.
"Aa, ai Oo- om layyen. Cami bayyik," sahut Keyren yang memang masih belum terlalu fasih berbicara. Usianya baru 2 setengah tahun. Rayyen tertawa kecil mendengarnya. Lalu mengusap - ngusap rambutnya. Hanya 2 balita itu kini, penyemangat hidup daddy dan momy Albar. Rayyen menghampiri kedua orang tua itu. "Bagaimana kabar Om?" sapa Rayyen santun.
Om Matthew membuang nafas kasar. Ia tertunduk tak bersemangat. "Seperti yang kamu lihat Rayy, kami di sini tengah berduka," sahutnya datar.
"Sabar Om ..." timpal Rayyen bijak. Ia berusaha mencairkan suasana hati om Matthew yang terlihat sangat terpukul.
"Andai saja waktu dulu Om lebih memperhatikan Albar. Mungkin anak itu tidak akan seperti ini. Semuanya tidak akan terjadi, semua ini salah Om!" ujarnya menyesali diri. Om Matthew begitu merasa bersalah atas tindakannya dulu. Ia terlalu sibuk dengan bisnisnya. Hingga ia melupakan kewajibannya sebagai figur seorang ayah, yang harus ada memperhatikan tumbuh kembang putranya.
"Mungkin semuanya belum terlambat Om," Rayyen mencoba menengahi agar om Matthew tidak berputus asa.
"Percuma Rayy! Om rasa semuanya sudah terlambat. Albar sakit keras. Dan 2 minggu lagi dia akan menikah. Tapi keadaanya semakin tidak memungkinkan seperti sekarang," jelas om Matthew dengan tatapan berkaca - kaca.
"Aku tahu ini semua mungkin terasa sangat berat Om! Kita berdo'a saja semoga ada keajaiban," harap Rayyen menatap lelaki tua itu nanar.
"Ya, kami semua tidak berhenti berharap. Andai harus ikhlas, mungkin Om harus mengikhlaskannya. Tapi yang paling membuat Om sedih, Om merasa tidak bisa memberikan kebahagiaan yang pantas pada Albar, hingga di penghujung hidupnya." Om Matthew tertunduk, air mata yang sedari tadi di tahannya, kini mengalir deras di wajahnya yang penuh guratan.
Dokter datang menghampiri mereka. Kebetulan sang Dokter masih berasal dari Indonesia. Dan masih mempunyai hubungan kerabat dengan keluarga Albar.
"Syukur kalian semua berada di sini," jelas Dokter dengan menatap semua prihatin.
"Kami sudah melakukan kemo, pada pasien. Dan kini pasien sudah sadar. Tapi dia harus butuh banyak istirahat. Tadi dia berpesan, ingin menemui Rayyen sahabatnya. Adakah yang bernama Rayyen di antara kalian?" jabar sang Dokter lagi sekaligus bertanya.
"Saya Dok!" jawab Rayyen lantang.
Dokter mengalihkan pandangannya pada Rayyen. "Kamu bisa menemuinya sekarang! Dari tadi pasien sangat gelisah. Ingin bertemu dengan anda. Saya harap setelah bertemu denganmu dia akan sedikit lebih tenang," timpal Dokter lagi. Rayyen menatap mommy dan om Matthew seolah meminta izin. Sang mommy hanya menganggukkan kepalanya pada Rayyen sambil terus menangis. Pertanda ia mengizinkan.
Rayyen membuka pintu ruangan itu perlahan. Tampak sang sahabat terbaring lemah di penuhi dengan selang, di beberapa bagian anggota tubuhnya. Dan juga selang oksigen yang menempel di kedua lubang hidungnya. Sehelai rambutnya pun, kini sudah tak terlihat lagi. Tatapan matanya tampak sangat sayu. Ia menyunggingkan senyum ceria, ke arah Rayyen yang melangkah gontai untuk menghampirinya.
"Aku sudah menduganya. Kamu akan datang Rayy ..." sapa Albar lemah. Rayyen tertunduk, menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada di samping pembaringan Albar. Ia tak sanggup kalau harus lama - lama memandangi Albar dalam kondisi sekarang. Berulangkali Rayyen menahan salivanya. Lidahnya kelu untuk berkata.
"Bagaimana, apa kamu sudah membuka buku yang ku berikan untukmu?" tanya Albar ingin tahu.
Rayyen mengernyit dan menggeleng, "belum sama sekali."
Raut wajah Albar kecewa mendengarnya. Ia pikir Rayyen akan membaca buku itu di sela - sela kesibukannya.
"Maaf!" sambung Rayyen singkat.
Albar tersenyum smirk, "kamu tidak perlu minta maaf Rayy! Aku tahu kamu sibuk. Mungkin juga tidak terlalu penting bagimu bukan?!"
"Aku hanya..." sahut Albar terputus. "Aku hanya belum siap Al!"
"Ya! Memang begitu faktanya. Orang gila mana yang mau menikahi calon istri sahabatnya, sedangkan ia tidak pernah sama sekali mengenalnya," Albar insecure.
Rayyen mendongak menatap Albar, "ku mohon mengertilah Al! Aku, aku masih butuh waktu."
Albar menarik nafas, "entah sampai kapan Al? Pernikahanku tinggal menghitung hari. Tidak bisakah kamu mengerti betapa pentingnya ini bagi hidupku?! Tidak bisakah kamu menghargai persahabatan kita yang telah bertahun-tahun lamanya? Anggap saja ini pengorbanan terakhirmu untukku, cintai dia, nikahi dia! Hanya kamu lelaki yang pantas untuknya. Aku sudah sangat - sangat mengenalmu Rayy, kamu lelaki terbaik. Kamu sahabat baikku."
Rayyen membuang nafas kasar. Ia menatap Albar lebih dalam. Sungguh sangat berat bagiku semua ini. Tapi melihat keadaanmu seperti ini. Semakin hari semakin melemah saja rasanya aku...
"Please Rayy ... biarkan aku pergi dengan tenang. Setelah ini aku janji takkan mengganggu hidupmu lagi," Albar terus berupaya memelas.
"Tapi, apa kamu benar - benar ikhlas menyerahkan Aliffa padaku?" tanya Rayyen sungguh - sungguh.
Albar mengangguk penuh harap.
"Oke! Baiklah kalau begitu, aku akan maju. Kamu tahu bukan, kalau tekadku sudah bulat, aku takkan mundur lagi," tegas Rayyen serius. Ia akhirnya menyetujui untuk menikahi Aliffa.
"Janji?" Albar meragukan.
Rayyen mengangguk cepat, "janji Al!"
"Kalau kamu menolaknya lagi, maka ketika aku tiada aku akan mengahabtuimu," guyon Albar bercanda.
Seketika gelak tawa pecah dari keduanya menggema di ruangan itu.