Wanita itu masih berbaring di tempat tidur saat aku keluar dari kamar mandi. Aku menemukannya tergeletak di trotoar dalam perjalanan pulang dari kedai mie ayam milikku. Aku tidak kenal wanita itu sama sekali. Mungkin dia terlalu banyak minum alkohol namun kalau kuperhatikan wajahnya, dia sama sekali tidak terlihat seperti wanita pemabuk atau wanita yang bekerja di klub malam.
Aku tidak bermaksud buruk terhadapnya, hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu wanita itu supaya tidak kedinginan di luar sana saat hujan begini. Bajunya sudah ku ganti dengan yang kering. Meski ukurannya kebesaran, setidaknya dia tidak akan masuk angin karena mengenakan baju yang basah.
Sambil menunggunya bangun, aku menyibukkan diri bermain playstation. Memasang semua kabel penghubung ke smart TV. Logo produsen muncul begitu kutekan tombol pada remote. Selanjutnya, aku menekan tombol untuk menghubungkan ke playstation. Menu game kemudian muncul. Sudah lama sekali aku tidak memainkan playstation yang sudah lama kubeli ini.
“Siapa?”
Terdengar suara parau dari belakang.
“Sudah bangun?” tanyaku tanpa menoleh ke sumber suara karena mataku fokus pada layar dan jariku asik menekan konsol.
“Ke ... kenapa aku di sini?”
Aku tidak langsung menjawab. Suara konsol game terdengar lebih menyenangkan.
“Kamu siapa?” tanyanya lagi.
Aku masih tidak memperdulikannya dan fokus pada permainanku. Lalu tiba-tiba saja layar smart TV berubah jadi gelap.
“Aish! Lagi seru, nih!" umpatku.
Wanita itu mengacungkan remote, seakan-akan benda itu adalah senjata. Rambut hitam panjang sebahu wanita itu terlihat lepek dan kusut. Mata sipitnya melebar.
“Kamu siapa? Kenapa aku di sini?”
Aku meletakkan konsol game di lantai, berdiri dan pelan-pelan mendekat. Tatapan matanya awas. Sembari terus mengarahkan remote seperti mengarahkan pistol, dia mundur selangkah-selangkah seiring dengan langkahku yang maju mendekat.
“Bingung?”
“Apa maksudnya itu? Tentu saja aku bingung. Bangun-bangun ada di rumah orang asing!” nadanya mulai meninggi.
“Justru aku yang bingung. Lagian, kamu ngapain tidur di trotoar malam-malam begini? Apa kamu mabuk?”
Aku mendekatkan wajahku lalu mengendusnya.
“Gak bau alkohol sama sekali.”
Kaki jenjangnya terus melangkah mundur hingga masuk kembali ke kamar.
Aku duduk di tepi tempat tidur sementara, dia tetap waspada, menjaga agar bagian depan badannya tetap berhadapan denganku.
“Aku mau pulang!” rengeknya.
Dengan santai aku meraih gorden, menyibak nya. Menunjuk suasana di luar, begitu gelap di tengah derasnya hujan.
“Masih hujan deras di luar. Sudah larut malam juga.”
“Pokoknya aku mau pulang!”
Degar!
Petir menggelegar di luar sana, bak lampu flash kamera yang memotret objek. Wanita itu merosot ke lantai sambil menutup kedua telinga dengan tangan kurusnya.
“Yakin berani pulang sendiri?” tanyaku sambil menyilangkan kaki.
“Pokoknya aku mau pulang, titik!” bentaknya.
“Oke!”
Aku menarik tangan yang menempel di telinganya, mengantarnya ke pintu kemudian menghempas tubuhnya keluar, mengunci pintu secepat mungkin.
Bukannya bermaksud kasar terhadap wanita tapi, dia sendiri yang merengek ingin pulang.
Degar!
Petir kembali menggelegar di langit dalam waktu sepersekian detik.
“Buka! Buka pintunya!” teriak wanita itu dari luar.
Dia menggedor pintu dengan keras.
"Buka pintunya, woy!"
"Pulang saja sendiri!" teriakku dari dalam.
Bukannya berhenti menggedor pintu, dia malah menggedor semakin keras. Nyaris memecah gendang telinga.
“Berisik! Katanya mau pulang?” bentakku sembari membuka pintu lebar-lebar.
Wanita itu terisak, mengedikkan bahu mendengar bentakanku.
“Masuk!” perintahku.
Dia masuk dengan langkah lunglai, menunduk dan takut. Namun begitu melewatiku yang berdiri memegang pintu, dia berlari ke ruang tamu, duduk di lantai beralaskan karpet berwarna biru muda.
"Merepotkan!" umpatku pada diri sendiri.
Aku melenggang ke belakang konter dapur. Mengambil gelas kaca lalu memenuhinya dengan cairan berwarna bening dari dispenser. Aku membawanya ke hadapan wanita itu.
“Tenang dan minum dulu!”
Gemang, tangan wanita itu merebutnya dengan kasar, nyaris tumpah namun diteguknya juga cairan berumus kimia H2O itu, habis dalam sekali teguk bak seorang kelana dari gurun pasir yang menemukan oasis.
Aku bersila berhadapan dengannya di atas karpet.
"Jangan dekat-dekat!" bentaknya.
Aku mengusap wajah, mengela napas dan mengembuskannya kasar.
"Mau aku keluarkan lagi atau bagaimana?" Kutatap dalam-dalam matanya yang basah.
Lagi-lagi, dia hanya terisak.
“Aku bukan orang jahat, Nona!"
Dia memeluk lutut.
“Kalau lapar, di atas meja makan ada bubur. Mungkin udah sedikit dingin tapi, masih layak makan, kok. Kamu mau pulang pun gak bisa!"
Derau air di luar sana semakin deras, hujan malam ini tidak akan mereda dalam waktu singkat.
"Besok aku harus tunangan, kalau gak pulang malam ini apa kata orang tuaku nanti?" ucapnya lirih.
“Kalau hujannya sederas ini tidak akan segera mereda. Di luar juga bahaya!” Aku mengingatkan.
“Malam ini boleh pakai kamarku, aku tidur di kamar sebelah,” ucapku sembari meninggalkannya yang masih duduk memeluk lutut.
Aku masuk ke dalam selimut putih. Meski mencoba untuk memejamkan mata tetap saja alam bawah sadarku tidak dapat mendorongku untuk masuk ke mimpi. Pikiranku terganggu oleh wajah tirus wanita itu. Dari jendela kamar ini, aku melihat dengan jelas hidung pesek yang mengembang dan mengempis karena menarik napas.
***
Sudah jam setengah dua belas malam, sejak dia merengek ingin pulang aku jadi hanya mengerjap- ngerjapkan mata di atas kasur. Entah sudah berapa posisi yang kucoba untuk memaksa diri ke alam mimpi akan tetapi tetap saja, aku mengkhawatirkannya. Tidak tahan lagi dengan perasan gelisah ini, aku menghampirinya. Posisi duduknya tidak berubah, masih memeluk duduk dan menopang dagunya di atas lengan.
"Kamu kenapa?" tanyaku.
Alih-alih menjawab pertanyaanku dia menangis sejadi-jadinya.
"Eh … Ssssst!" Aku menempelkan jari telunjuk di bibir. Mencoba menenangkannya.
"Ini tengah malam, bisa-bisa suaramu mengganggu tetangga!" bisikku.
Melihat tingkahnya seperti bocah, aku menepuk pipiku. Entah kenapa aku jadi menyesal membawanya ke sini meski niatku baik.
"Nona, tenanglah!" tegasku sekali lagi.
Mataku berkelana mencari sesuatu untuk menenangkannya lalu, terhenti ketika mataku menangkap bungkus teh hijau di atas konter dapur. Otakku bergerak dengan cepat, memerintah untuk menyeduhkannya teh hijau. Aku kembali padanya dengan cangkir yang mengeluarkan uap, duduk bersila di depannya.
"Minumlah!" Kusodorkan cangkir benda di tanganku kepadanya.
"Ini udah malam, setelah ini tidur, ya!" ucapku kepadanya yang sedang menyeruput teh.
Wanita itu mengangkat wajah, memandangku lekat-lekat.
"Kamu gak ngapa-ngapain aku, kan?" tanyanya penuh curiga.
"Ngapa-ngapain gimana?"
Sejurus kemudian dia mengerutkan badan. Menyadari dia sudah salah sangka, aku menepuk pipi.
"Huft. Jangan negatif thinking begitu. Aku pilih-pilih kalau soal wanita. Aku gak selera sama wanita yang tiduran di trotoar!" ucapku.
Mata wanita itu kembali memincing. Aku sudah salah sangka karena menganggapnya menerima niat baikku.
"Tapi, kamu itu laki-laki. Tampangmu mesum!"
Seenaknya saja berkata begitu. Benar-benar wanita tidak tahu diri. Padahal aku sudah menolongnya sampai mengorbankan waktu tidurku.
"Masih bagus tampangku saja yang terlihat mesum. Kalau kamu dipungut oleh pria mesum beneran gimana?" umpatku.
Matanya memandangku lurus-lurus, menutup seluruh bagian depan tubuhnya dengan lutut.
"Kalau gak percaya padaku, kamu cuma punya satu pilihan. Keluar!" ucapku.
Dia malah membulatkan mata, ujung bibirnya melengkung turun.
"Di luar sana bahaya malam-malam begini. Kamu bisa ketemu pria hidung belang, begal atau anjing liar."
Melihat wajahnya memucat, aku menghentikan kata-kataku.
"Besok pagi aku akan mengantarmu pulang. Sekarang tidurlah!"
"Bener?"
"Kenapa harus bohong?"
Aku berdiri, sekali lagi memperingatkannya untuk kembali tidur. Ragu-ragu, dia melangkah pelan ke kamarku. Menutup pintu kemudian, aku tidak tahu lagi kegiatannya di dalam kamar kesayanganku itu.
Aroma hujan semalam bercampur dengan aroma embun. Jalanan yang basah dan daun yang dipaksa gugur karena tertimpa hujan mengotori jalanan.
"Kenapa kamu rapi banget pagi-pagi begini?" Suara parau wanita dari balik pintu.
Rambutnya yang panjang sebahu awut-awutan, setengah mengantuk. Kantung matanya terbentuk efek menangis tadi malam.
“Pagi! Tidurnya nyenyak, ya?” sapaku sembari mengancing pergelangan jas berwarna biru langit.
"Mau kopi?" tawarku.
"Jawab dulu! Mau kemana?"
“Ada acara keluarga,” jawabku.
Air mukanya berubah, dia merangsek kembali ke kamar.
“Dimana baju yang kupakai semalam?” teriaknya dari dalam.
"Aku gantung di balik pintu!" balasku.
Brak!
Pintu dibanting dengan keras hingga membuat bahuku bergidik. Seenaknya saja kasar terhadap fasilitas yang kumiliki.
Kalau tidak salah dengar, semalam dia mengatakan dengan raut muram jika hari ini adalah hari pertunangannya. Bukankah seharusnya dia bahagia? Anehnya, raut bahagia sama sekali tidak tergambar di wajahnya itu.
Beberapa menit kemudian wanita itu keluar dari kamar dengan kemeja lengan panjang. Ujungnya dimasukan rapi ke dalam rok motif bunga-bunga warna hijau. Bajunya masih terlihat lembab, aroma apek sedikit tercium karena digantung di dalam kamar.
“Antar aku!” pintanya.
"Mau kopi? " tawarku sekali lagi.
"Gak usah!"
"Hari ini kamu tunangan, kan? Berbahagialah sedikit, Nona!"
"Bukan urusanmu! Pokoknya cepat antar aku pulang!"
"Oke!"
Bagaimanapun juga, aku harus bertanggung jawab karena semalam telah 'memungut' wanita ini di trotoar.
Tanpa banyak bicara kami masuk ke dalam mobil wagon milikku. Aku duduk di belakang kemudi lalu menyalakan mesin. Sementara wanita itu memasang sabuk pengaman.
“Tolong antar aku ke alamat ini!”
Dia memperlihatkan sebuah alamat pada memo smartphone-nya.
“Jalan Kartini, No. XX Gang XX, Denpasar.” Aku membaca alamat itu perlahan. Alamat yang tidak asing bagiku.
Deru mesin dan suara klakson di jalanan kota yang padat membuatku harus mengemudikan wagon hitamku dengan kecepatan standar.
“Bisa cepat dikit gak?” protesnya.
“Gimana mau cepat? Kamu tahu kan, lalu lintas pagi hari di kota ini padat. Tuh, traffic light di depan aja padat begitu.” Aku menunjuk ke arah traffic light di depan. Kendaraan mengantri menunggu lampu hijau menyala.
Dia memasang wajah kesal. Saat seperti ini, seharusnya aku yang kesal karena dia seenaknya saja memperlakukanku seperti sopir pribadi.
Terdengar nada dering dari smartphone milik wanita yang duduk di sebelahku. Dia kemudian mengeluarkan benda pipih dari dalam tas tangan.
“Iya, Ma. Ini lagi di jalan. Sebentar lagi sampai, kok.”
Setelah menutup panggilan, dia mengeluarkan kekesalannya lagi.
“Kalau aku telat ke acara lamaranku ini semua salahmu, ya!”
Aku menginjak pedal gas perlahan, mengatur laju mobil. Tangan kiriku memegang tuas persneling.
“Loh, Kok jadi aku yang salah? Udah tahu mau tunangan hari ini malah berkeliaran. Tidur di trotoar lagi!" sanggahku tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan padat di depan.
"Cih!"
Wanita itu membuang muka, melipat tangan ke dada.
Kamu pikir kamu saja yang jadi terlambat? batinku.
Hampir tiga puluh menit kami berada di tengah kemacetan. Meski melaju pean, mobil yang kukendarai akhirnya berhasil keluar dari kerumunan benda besi itu. Memasuki jalur yang lenggang.
Aku sudah hafal jalanan di kota ini, menemukan alamat tujuan wanita ini pun jadi sangat mudah.
Mobil wagon ku berhenti tepat di depan sebuah rumah. Pagarnya terbuat dari besi yang dicat hijau. Aku mendongak, melihat ke dalam halaman, dari sini tampak suasana ramai di dalam rumah.
"Ramai juga sambutan untuk calon tunanganmu." Aku berkomentar.
Tanpa berkata apa-apa, tahu-tahu pintu wagon ku sudah terbuka. Dia sudah di luar mobil kemudian menutup pintu. Dari balik jendela, seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan pertanyaan.
Buk!
Pintu wagon ditutup kasar tanpa perasaan.
Sungguh wanita yang tidak sopan, dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih setelah aku memungutnya semalam. Lalu, mengantarnya ke sini demi acara pertunangannya.
Sampai di sini, urusanku dengan wanita itu sudah selesai. Aku mengenakan kacamata hitam kemudian melajukan mobil ke rumah orang tuaku.
***
Begitu aku mematikan mesin , suasana dari luar tampak sedikit krodit di dalam rumah. Aku disambut Ryan, sepupuku yang masih duduk di bangku kelas 6 SD.
"Pras, bandel banget dikasi tahu buat siap-siap hari ini,” ucap mama sambil merapikan dasi yang miring.
“Kayaknya semua udah siap, ya?”
Kusapukan pandangan ke ruang tamu. Suasana di dalam sana ramai oleh keluarga dekat. Parcel dan semua persiapan untuk lamaran sudah siap di atas meja.
Hari ini adalah hari pertunanganku dengan seorang wanita yang sama sekali tidak pernah kutemui. Dua bulan lalu Papa hanya bilang kalau aku akan dijodohkan dengan putri sahabatnya. Membayangkan bagaimana wajah calon tunanganku itu membuatku sedikit was-was.
Berbagai bentuk dan paras wajah terbayang di kepalaku. Pokoknya tidurku hampir tidak bisa nyenyak.
Aku pernah meminta Papa menunjukkan foto calon tunanganku tapi, Papa malah mengatakan kalau wajah calon tunanganku itu cantik, hitam manis.
Semoga saja aku tidak dijodohkan dengan kecap.
“Kamu gugup?” tanya Papa.
“Biasa aja, Pa.”
Meskipun aku menunjukkan ekspresi datar, di dalam dadaku ada sesuatu yang membuat jantungku berdebar. Bahagia dan was-was bercampur di dalam sana.
Aku tidak tahu siapa nama dan bagaimana rupa wanita yang akan jadi calon istriku nanti.
Singkatnya ini pertunangan paksa. Aku ditunangkan dengan anak teman bisnis Papa yang kabarnya sudah seperti keluarga. Mereka berjanji untuk menjodohkan anak-anak mereka sewaktu mulai membangun bisnis puluhan tahun silam.
Hal lain yang kuketahui tentang calon tunanganku adalah, dia berpendidikan tinggi. Pokoknya, calon tunanganku itu adalah wanita sempurna di mata Papa.
Itu berarti aku korban, kan?
Semuanya sudah siap, kami berangkat menuju rumah calon tunangan yang tidak kukenal. Hanya aku, papa dan mama yang berangkat ke rumah calon tunanganku. Tetangga yang membantu mempersiapkan lamaran sudah mulai pulang ke rumah.
Papa yang menyetir.
Aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa masa depanku nanti jika pertunangan kami seperti ini. Tidak mengenal satu sama lain bahkan rupanya saja tidak pernah lihat. Kuharap wanita yang dilamar hari ini menolakku.
Sepuluh menit kemudian kami sampai di tempat yang dituju. Mataku membulat ketika mobil diparkir di depan rumah berpagar hijau.
“Pa, benar ini rumahnya?” tanyaku memperhatikan sekeliling sambil memastikan.
“Iya, emang kenapa? Kamu pernah ke sini?”
Tidak salah lagi, ini adalah rumah wanita yang semalam tidur di trotoar.
“Ayo turun!” ajak Mama.
Aku berjalan di belakang mereka memasuki halaman rumah berpagar hijau.
“Halo, Pak Bos!" Papa menyapa seorang pria yang berdiri di depan pintu. Mereka menjabat tangan lalu berpelukan. Mama juga begitu dengan wanita yang ada di sebelah bapak itu.
Sepertinya mereka sangat akrab dilihat dari cara mereka berbasa basi.
Aku mendongak ke dalam rumah, hanya ada beberapa orang lalu lalang di dalam sana. Beberapa lainnya memperhatikan kami.
“Nah, ini Prastu.” Papa memperkenalkanku.
“Pras, ini Om Jayanta, ayo salim!"
“Halo Om, Tante," sapaku. Aku menjabat kedua tangan pasangan suami istri itu bergantian.
“Wah, gantengnya ya. Hahaha.” Bapak itu memuji sambil mengelus pundakku.
“Ah, anakmu juga cantik.” Papa balik memuji.
“Masuk yuk, ditunggu di dalam!” ajak istri Om Jayanta.
Rumah ini dibilang sederhana dari luar tapi, begitu masuk, kamar tamunya begitu luas. Banyak furniture mewah dan sofa bergaya eropa warna merah marun. Lemari yang berjejer memuat berbagai macam buku dan piagam penghargaan. Pigura terpajang sebagai penghias.
Mataku membulat ketika menangkap salah satu pigura keluarga. Di dalam gambar itu terpampang wajah wanita yang tidur di trotoar. Dia mengenakan dress merah marun, rambutnya tergerai dengan posisi berdiri di belakang kedua orangtuanya. Di sebelahnya, berdiri seorang gadis dengan pose tersenyum sambil memegang pundak ibunya.
“Pras!” Mama membuyarku.
“Aku pun mengambil tempat duduk di tengah kedua orangtuaku, berhadapan dengan Om Jayanta dan istrinya. Di Meja sudah diletakkan segala sesuatu yang kami bawa.
“Sebentar lagi turun kok,” kata Om Jayanta.
Perasaan di dalam dadaku ini semakin berkecamuk, menerka-nerka siapa dari dua orang dalam pigura keluarga itu yang akan bertunangan denganku hari ini.
Tap! Tap! Tap!
Rasanya pagi ini datang begitu cepat. Aku tidak tahu harus memulai pagi dengan bahagia atau biasa saja. Sejak menyalakan mesin wagon kesayanganku, dadaku rasanya kacau. Sambil menunggu mesin panas, aku berpamitan pada orangtuaku. Menyalim tangan mereka. Hanya pesan untuk berhati-hati di jalan saja yang mereka ucapkan untuk melepasku sebelum masuk ke dalam wagon dan duduk di belakang setir.
Kakiku ragu-ragu menginjak pedal gas. Satu-satunya yang terbayang di wajahku adalah reaksi di wajah mungil Erika saat aku menyetor muka ke rumahnya. Membuang keraguanku jauh-jauh, aku menginjak pedal gas.
Selang sepuluh menit, aku sudah sampai di depan rumah Erika. Sebelum menapakkan kakiku ke tanah dari lantai wagon, kutarik napas dalam-dalam. Biar bagaimanapun aku harus memberanikan diri karena aku sudah bilang akan menjemputnya.
Jantungku memompa darah lebih cepat, detak nyaris terdengar di telingaku begitu kaki kananku menginjak halaman depan rumah. Erika dan kedua orangtuanya sudah menungguku di depan pintu.
Erika terlihat sangat berbeda auranya dibanding malam saat aku menemukannya di trotoar. Dia mengenakan dress coklat dengan blazer kantor. Wajahnya menjadi kosong saat mata kami bertemu. Sesekali Erika membetulkan kacamata berframe bulat.
“Pagi Om, pagi Tante!" sapaku sembari menyalim tangan mereka bergantian.
“Ayo, cepat!”
Erika melenggang begitu saja menuju wagon sebelum orangtuanya membalas sapaanku Benar-benar tidak sopan, dia pergi tanpa pamitan.
“Om, Tante, kami pamit dulu, ya.”
“Sarapan dulu!” tawar tante Gita.
“Sudah, Te,“ jawabku sambil mempercepat langkah.
“Ya sudah, titip Erika, ya!” Pesan Om Jayanta.
“Baik.”
Erika sudah duduk di kursi sebelah sopir ketika aku masuk ke wagon. Dia berkali-kali memalingkan muka, menghindari mataku. Tanpa membuang waktu lagi, aku menyalakan mesin kemudian menginjak pedal gas. Wagonku melaju pelan, menjauh dari rumah calon mertuaku.
Seperti biasa kondisi jalanan kota pagi ini padat merayap. Aku pun memelankan wagonku hingga sampai di sebuah traffic light.
“Kenapa aku harus tinggal di rumahmu?” Suara parau Erika memecah kecanggungan di dalam mobil.
“Kan udah aku bilang supaya kita bisa saling kenal.” Mataku sesekali melirik kaca spion.
“Kalau hanya saling kenal kita bisa chat, kan?”
Bisa kurasakan tatapan Erika dari samping, seperti seekor singa betina yang akan menerkamku.
“Aku punya alasan sendiri untuk itu.”
“Tanpa persetujuanku?” Nada Erika meninggi.
Lampu hijau menyala menyelamatkanku dari pertanyaan Erika. Percakapan kami berhenti sampai disitu saja hingga wagonku sampai di garasi.
Rumahku ini tidak begitu luas, ukuran minimalis dengan satu kamar tamu, satu dapur, 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Rumah ini adalah rumah hasil lelang yang berhasil dibeli ayah tiga tahun lalu dan diwariskan padaku.
Begitu pintu terbuka, Erika melenggang tanpa berkata apapun.
“Kamu boleh pakai kamarku yang kamu pakai semalam, Kak.”
Erika menghentikan langkahnya. Seolah mendengar sesuatu yang salah dari mulutku.
“Kak?”
“Kamu lebih tua dariku, tidak sopan kalau aku memanggilmu dengan nama panggilan.”
“Oke.”
“Jadi, apa alasanmu ngajak aku tinggal di sini?”
Kukira dia sudah membuang jauh-jauh rasa penasarannya, akan tetapi dugaanku salah. Rasa penasaran memenuhi wajahnya.
Aku menanggalkan jaketku lalu menggantungnya pada gantungan baju di sebelah pintu masuk.
“Istirahatlah!”
"Itu gak ngejawab pertanyaanku!" teriaknya padaku yang merangsek masuk ke kamar.
Aku benar-benar tidak punya jawaban untuk pertanyaan Erika. Hanya menjalankan apa yang ada di kepalaku kemarin. Otakku kemarin buntu sehingga satu-satunya ide yang muncul adalah ide untuk tinggal bersama sebelum kami resmi menikah, alih-alih ingin saling mengenal lebih dekat satu sama lain.
Sebenarnya ini pertunangan macam apa? tanyaku dalam hati kemudian membekap wajah dengan bantal guling.
***
Dari jendela bintang-bintang terlihat sudah bermunculan di langit. Ayam kecap dan telur dadar sudah terhidang di meja makan untuk menu makan malam kami berdua.
Erika duduk berseberangan denganku. Tidak ada percakapan di meja makan. Hanya suara sendok sesekali beradu dengan permukaan piring saat meraup makanan. Erika mengunyah pelan makannya, dia terlihat menarik dan polos saja saat rahangnya melumatkan makanan di dalam mulut.
Saat aku terpesona dengan caranya mengunyah makanan, dia menelan makanan. Tangan kanannya mengangkat segelas air putih. Dia mendekatkan bibir gelas ke mulut kemudian meneguknya pelan.
Makanan itu belum sepenuhnya sampai ke perut, dia sudah beranjak dari tempat duduknya kemudian meninggalkanku sendirian di meja makan. Makanannya bahkan masih tersisa setengah piring. Sungguh Bu Manager yang tidak sopan dengan tuan rumah.
"Apa aku akan makan malam seperti ini setelah menikah dengannya nanti?" batinku.
Tanpa dibantu Erika, aku membereskan peralatan makan, merapikan meja kemudian membuang sampah. Entah apa yang Erika kerjakan di depan laptopnya, dia terlihat sangat serius. Sesekali, Erika membetulkan kacamata yang melorot kemudian kembali memelototi laptop sambil memainkan jarinya pada keyboard.
"Wanita yang berorientasi pada karir," ucapku.
Hari pertama tinggal serumah dengan Erika tanpa obrolan yang berarti.
***
Sejak kemarin pagi rasanya datang lebih cepat. Hari pertama aku dan Erika tinggal serumah. Rutinitasku seperti biasa membuaat sarapan sebelum ke kedai dan bekal makan siang. Aku juga kadang membawa sedikit lauk makan siang untuk dibagikan ke Yus dan Dita, karyawan kedai.
Kedai yang kurintis baru tiga bulan itu butuh banyak perjuangan. Tidak mudah untuk mendapatkan nama dan pelanggan.
Aku memasak udang bumbu Bali dan telur goreng untuk sarapan kali ini. Setengah porsi udang kumasukan ke dalam kotak makan siang dan setengahnya lagi kuhidangkan di meja, berikut ayam dan nasi. Kuhidangkan untuk Erika dan diriku sendiri.
“Kak, sarapan dulu!” teriakku dari meja makan.
Erika sudah rapi dengan blazer abu-abu dan didalamnya dress formal warna cokelat. Rambutnya yang panjang lurus tapi tipis dibiarkan tergerai. Dia duduk di kursi dan berhadapan dengan menu sarapan.
“Makanlah!” ajakku sambil melepas apron hitam yang kupakai.
Kami sarapan bersama setelah berdoa. Tidak ada percakapan pagi di meja makan, yang ada hanya suara sendok yang beradu dengan piring.
“Aku antar ke kantor, ya,” aku mencoba memecah keheningan.
“Gak usah!” jawabnya tegas dengan suara parau.
Suasana kembali hening. Beberapa saat setelah itu, suara klakson motor beberapa kali terdengar dari luar pagar rumah. Aku merasa sangat terganggu dan mengeceknya dari jendela. Seorang pria dengan jaket kulit dan helm full face biru menatap ke arah rumahku. Ia duduk di atas motor.
“Aku berangkat!” ucap Erika sembari keluar dari kamar menggendong tas punggungnya.
“Hati-hati!" Aku berpesan.
Aku memandangnya naik di belakang pria itu. Begitu duduk di boncengan belakang setelah mengenakan helm, dia memeluk pria itu mesra. Tidak mungkin itu driver ojek online, pasti itu pacar yang meninggalkannya malam itu.
Setelah puas dengan pemandangan itu, aku mendekat ke meja makan. Lagi-lagi sikap buruk manajer terhadap tuan rumah. Bu Manaherer itu, menyisakan makanan yang masih setengah seperti semalam. Aku menghela napas, dia bukan hanya tidak menghargaiku tapi juga makhluk hidup yang merelakan nyawanya untuk mengenyangkan perut. Terpaksa aku membuangnya juga ke tong sampah. Maaf ya, udang, telur dan nasi.