Mu Tian Rui memandangi dengan tegas dasar sungai bening itu, tombak kecil di tangannya tengah bersiap ditancapkan ke ikan yang melewati pandangan matanya.
Cahaya Matahari pagi, membuat air nampak berkilau. Pantulan kilauan cahaya matahari pagi tersebut seakaan menambah jelas kecantikan Mu Tian Rui.
Kedua mata hitam pekat Mu Tian Rui mengawasi dengan ketat tiap desiran air sungai tersebut.
Mu Tian Rui bergerak dengan cepat melempar tombak di tangannya ketika ikan besar melewatinya.
"Dapat," ujar Mu Tian Rui dengan senyum kemenangan.
"Ayah pasti akan menyukainya," ujar Tian Rui dengan hati senang.
Tian Rui memasukan ikan besar hasil tangkapannya itu kedalam keranjang, "Baiklah saatnya mencari jamur," ujar Tian Rui.
Dalam perjalanan pulang, Tian Rui memetik jamur dan beberapa daun-daunan yang bisa dimakan. Beberapa hari sekali Rui akan pergi ke sungai dan ke hutan untuk mencari makanan. Sering kali Rui keracunan ketika mencoba daun yang akan dijadikan makanannya, karena itu Rui telah pandai menandai mana daun beracun, dan mana daun yang bisa dia masak.
Rui hanya tinggal bersama Ayahnya yang telah lama cacat, karena kecelakaan tanah longsor, ketika akan pergi bekerja sebagai guru di daerah terpencil.
"Ayah! Hari ini kita akan makan besar. Lihatlah aku membawa ikan besar hari ini," ujar Rui.
"Gadis baik," puji Ayah Rui.
"Maafkan ayah!" ujar Mu Tian Feng dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah! tidak ada yang perlu dimaafkan, jika pena langit telah tertulis, maka takdir tak bisa dihindar," ungkap Rui.
Meski Rui tidak pergi ke sekolah, namun Tuan Mu mengajari Rui dengan sangat baik. Petugas kantor pos adalah teman baik Tuan Mu, dia sering mengirimkan Tuan Mu buku-buku pelajaran dan juga majalah-majalah internasional.
Meski tak bersekolah resmi, Rui mengerti menulis, berhitung, membaca dan memahani bahasa inggris, cara membaca dan menulisnya pun sangat baik. Ini semua Karena Tuan Mu yang telah mengajarinya dengan baik.
"Ayah makanlah," ujar Rui.
Rui mencapitkan ikan yang tulangnya sudah dibuangi, lalu menaruh lauk sayur di mangkuk Tuan Mu.
Tuan Mu makan dengan hati senang sekaligus sedih, dengan status ekonomi yang serba kekurangan ini siapa yang akan mau menikahi putrinya ini.
Mu Tian Rui memiliki paras yang cantik, rambut hitam panjang dengan sedikit ikal dibawahnya, bola mata hitam serta bulu mata yang lentik, kulit seputih salju dan pemikiran yang cerdas. Satu-satunya kekurangannya adalah miskin.
Rui membantu Tuan Mu, naik ke ranjang untuk beristirahat. Di rumah mereka yang kecil itu hanya ada satu ranjang. Rui membuka tikar dan menggelarnya di lantai, lalu membuka lemari kayu milik mereka. Didalam lemari tersebut ada selimut dan juga bantal. Rui meletakannya di atas tikar lalu menepuk-nepuk bantalnya dan mulai membaringkan tubuhnya.
Keesokan paginya setelah sarapan, mereka pergi ke balai desa. Rui memaksa agar Ayahnya mau pergi keluar untuk melihat perlombaan perahu dayung.
"Ayah, aku juga sudah berjanji kepada Nyonya Gu jika akan datang ," jelas Rui.
Tuan Mu menolak, karena takut membuat Rui menjadi lelah, karena harus mendorongnya dengan kursi roda ke tempat perlombaan.
Rui pun terdiam karena tak berhasil membujuk Ayahnya untuk pergi. Tuan Mu melihat raut sedih Rui, lalu akhirnya menyetujui permintaan Rui.
"Baik, baiklah kita pergi kesana. Jangan merajuk lagi," ujar Tuan Mu.
Mendengarnya tentu saja Rui merasa senang, Rui segera mengambil jaket terbaik yang dimiliki ayahnya lalu memakaikannya. Rui membantu Ayahnya duduk di kursi rodanya. Lalu Rui pun mendorong kursi roda tersebut keluar rumah. Di Balai Kota, Rui dan Tuan Mu bertemu dengan Tuan Gu, kawan baik Tuan Mu.
"Rui, kau sudah menjadi tinggi sekarang. Melebihi tinggi Paman," ujar Tuan Gu.
"Dan juga cantik," puji Tuan Gu.
"Paman! kau ini selalu menggodaku lho. Jika Nyonya Gu cemburu bagaimana?" tanya Rui setengah bercanda.
"Aiyooo, mana mungkin aku cemburu. Kau sudah seperti putriku sendiri," ujar Nyonya Gu yang baru saja datang.
"Jika saja aku memiliki Putra maka aku akan menikahkannya denganmu," jawab Nyonya Gu sambil tertawa dan mengelus kepala Rui.
"Ayo! pertandingan akan segera dimulai," ajak Nyonya Gu.
Mereka mengambil kursi paling depan, Nyonya Gu membawa bekal dan membukanya.
"Makanlah ini dimsum buatan tangan sendiri," ujar Nyonya Gu.
Rui segera saja melahapnya, "terbaik," puji Rui seraya mengacungkan jempolnya dan mengedipkan matanya.
Nyonya Gu pun tersenyum melihat kedua pipi Rui menjadi gembul ketika memakan dimsum.
"Gadis baik," puji Nyonya Gu seraya mengusap lembut puncak kepala Rui lagi.
Rui adalah salah satu kembang desa, namun karena kemiskinannya selalu saja dipandang rendah, sampai sebesar ini Rui tidak pernah berdekatan dengan pria sebayanya. Jika yang lain sibuk untuk ujian masuk universitas maka Rui akan sibuk keluar masuk hutan untuk mencari makan.
Nonya Gu sering kali meminta Rui datang ke rumahnya untuk mengambil beberapa bahan makanan, namun Rui kerap menolaknya karena keadaan Nyonya Gu tak jauh berbeda dengannya, hanya lebih baik sedikit saja dari dirinya dan ayahnya.
"Ma! lihatlah itu sudah di mulai," ujar Rui menunjuk-nunjuk kepada perahu-perahu yang mulai melaju aaling mendahului.
Tuan Mu, merasa keputusannya sudah tepat pergi melihat lomba perahu ini. Sepadan dengan senyuman yang menghiasi wajah Rui.
"Apa kau senang?" tanya Tuan Mu.
"Sangat-sangat senang," jawab Rui seraya menyandarkan kepalanya di bahu Tuan Mu.
Tuan Mu pun mengusap puncak kepala putrinya itu dan menciumnya. "Kau sama persis seperti ibumu, mudah bahagia dengan hal yang sederhana," gumam Tuan Mu dalam hati.
Suara sorak-sorak gembira membuyarkan lamunan Tuan Mu, pemenang lomba telah didapat, Pendukung Team yang menang bersorak bukan main kerasnya, karena teamnya menang.
Sebelum pulang, Nyonya Gu menarik tangan Rui dan memberikan kotak makan yang lain, berupa lauk-lauk daging. Nyonya Gu tahu bahwa Rui hampir tidak pernah makan daging.
"Ma …" ujar Rui tertegun.
"Ambillah! hanya daging yang tak seberapa, ini tak akan membuat kami jatuh miskin," bujuk Nyonya Gu agar Rui mau membawa bekal buatannya pulang.
"Terima kasih Ma," ujar Rui.
"Kau berhati-hatilah di jalan pulang," pesan Nyonya Gu.
Sebelum Rui dan Tuan Mu pulang, Tuan Gu menarik kursi roda Tuan Mu sedikit menjauh dari Rui.
"Ada apa?" tanya Tuan Mu.
"Rui sudah bertumbuh menjadi wanita yang cantik," jawab Tuan Gu.
"Lalu?" tanya Tuan Gu.
"Bukankah menurutmu sudah saatnya Rui untuk menikah," jawab Tuan Gu.
Tuan Mu, memandangi senyum manis putri satu-satunya itu. Dan memikirkan perkataan kawannya itu ada benarnya juga.
"Kau yang paling tahu keadaan keluarga kami, menurutmu apakah akan ada pria yang melamar putriku dan akan memperlakukan dia dengan baik?" tanya Tuan Gu.
"Jika aku bilang aku akan mencarikannya, apakah kau mengijinkanku?" tanya Tuan Gu.
Tuan Mu "…"
Nampak Tuan Mu menimbang dengan serius. Tuan Mu melihat kedua kakinya yang lumpuh, lalu menatapi Tuan Gu.
"Jika kau bisa melakukannya maka aku akan berterima kasih," ujar Tuan Mu.
"Bagus jika begitu, Rui sangat pantas berbahagia," Ujar Tuan Gu.
Nyonya Gu dan Tuan Gu, tidak memiliki anak. Ketika mereka ingin mengadopsi Rui dan menyekolahkannya, Rui menangis dan menolak, dia tetap ingin bersama Ayahnya, menjaganya. Karena kekerasan kepala Rui akhirnya mereka menuruti Rui.
Tuan Gu dan Nyonya Gu memandangi punggung Rui yang semakin menjauh mendorong kursi roda Tuan Mu.
Sepanjang perjalanan Tuan Mu dan Rui saling melempar canda, sampai akhirnya Tuan Mu memberanikan diri untuk mengungkit soal pernikahan.
"Rui!" panggil Tuan Mu.
"Emmm …" jawab Rui.
"Ayah ingin sekali melihat ada yang bisa menjagamu," ujar Tuan Mu.
Mendengar perkataan Tuan Mu, langkah Rui terhenti. Hal ini adalah sesuatu yang tak ingin Rui ungkit.
"Apakah Ayah ingin mengirimku pergi jauh?" tanya Rui.
"Aiyooo putriku, mengapa kau berpikir seperti itu?" tanya Tuan Mu.
"Ayah sangat menyayangimu," jelas Tuan Mu.
"Lalu mengapa Ayah memintaku menikah dan dibawa jauh pergi darimu?" tanya Rui.
"Dengarkan putriku, Ayah tidak bisa menemanimu selamanya. Akan sangat baik jika kelak Ayah tidak disampingmu akan ada pria baik-baik yang akan menjagamu," jelas Tuan Mu.
"Ayah! jangan katakan itu …" pinta Rui sambil menangis dan memeluk Tuan Mu.
"Haish! Lihatlah kau sudah sebesar ini tapi masih suka menangis," ujar Tuan Mu seraya menghapus air mata di pipi putrinya itu.
"Sudah-sudah Ayah tak akan mengungkit hal itu lagi," ujar Tuan Mu.
Rui pun tersenyum dan menganguk, lalu mulai mendorong kursi roda Tuan Mu seraya bernyanyi sebuah lagu untuk Tuan Mu.
Rui memiliki bakat menyanyi yang diturunkan dari ibu, suara Rui begitu lembut ketika menyanyi. Rui selalu menyanyi untuk menghibur hati Ayahnya ini jika sedang terihat gundah.
Beberapa hari setelah perayaan desa atas kemenangan team lomba dayung perahu mereka, Tuan Gu mendengar ada beberapa orang dari kota besar akan datang ke mereka.
Tuan Gu sedang mengantarkan surat dari rumah ke rumah dan mendengar bahwa seorang Tuan Muda dari Tong City tengah mencari calon istri.
Tuan Gu mencuri-curi dengar percakapan para Nyonya-nyonya kaya di desanya tersebut.
"Tuan Muda dari Tong City," pikir Tuan Gu.
Tuan Gu mendengar nama Mak comblang yang disebut oleh para Nyonya kaya tersebut. Tuan Gu segera menyelesaikan pekerjaannya mengantar surat. Setelah selesai Tuan Gu dengan cepat mengayuhkan sepedanya menuju ke rumahnya, sesampainya di rumah. Tuan Gu segera saja melemparkan sepedanya begitu saja dan mencari Nyonya Gu.
"Istriku!" panggil Tuan Gu.
Tuan Gu mencari Nyonya Gu di dapur, lalu segera mengambil keranjang yang berisi bawang merah yang ada di tangan Nyonya Gu.
"Letakan ini! kita pergi ke rumah Tante Song," ujar Tuan Gu.
"Tante Song?" tanya Nyonya Gu.
"Aku mendengar bahwa seorang Tuan Muda dari Tong City sedang mencari seorang calon istri di desa kita ini," jawab Tuan Gu bersemangat.
"Apakah kau ingin mengikutsertakan Rui?" tanya Nyonya Gu.
"Tentu saja Rui kita sangat cantik dan cerdas, juga pandai memasak sepertimu," puji Tuan Gu.
Meski Nyonya Rui meragu, namun demi kebahagian Rui maka Nyonya Gu memutuskan untuk menemui mak comblang demi kebahagiaan Rui.
Nyonya Gu, memakai cheongsam terbaiknya untuk menemui mak comblang. Sesampainya di rumah Tante Song. Nyonya Gu memandangi sederet mobil bagus terparkir di depan halaman rumah Tante Song.
Tuan Gu menarik tangan Nyonya Gu, "ayo masuk! demi Rui," ujar Tuan Gu.
Nyonya Gu memberanikan dirinya masuk ke rumah Tante Song. Begitu mereka berdua masuk, semua mata memandangi mereka berdua. Semua penduduk desa mengenali Tuan Gu, si tukang pos pengantar surat dan paket. Mereka juga mengetahui jika mereka datang ke rumah Tante Song itu pasti karena ingin mencarikan jodoh untuk Rui.
Para Nyonya kaya tersebut berbisik-bisik, "Bagaimana mungkin mereka begitu percaya diri ingin mencari jodoh untuk Rui seorang pria dari Tong City, sementara pria yang tinggal di desanya saja enggan meminang Rui karena kemiskinannya," pikir para Nyonya tersebut.
Tante Song masuk ke aula sederhana kecil yang ada di rumahnya tersebut. Tante Song memulai seleksi wawancara. Sebelum memutuskan, Tante Song mewawancarai kedua orang tuanya dengan serta membawa foto putri mereka. Jika sudah lulus seleksi pertama maka Tante Song akan melakukan cek fisik para gadis terpilih.
Nyonya Gu dan Tuan Gu adalah pasangan terakhir yang Tante Song wawancarai. Tante Song mengetahui jika mereka tidak memiliki Anak, tapi memiliki anak angkat yang bernama Rui.
Nyonya Gu, perlahan memberika selembar foto Rui kepada Tante Song. Dari melihat fotonya Tante Song melihat Rui, Tante Song jatuh hati dengan wajah malaikat Rui, namun karena mengingat kemiskinanya Tante Song meletakan foto tersebut di meja.
"Tuan, Nyonya," ujar Tante Song.
"Mohon Maaf aku harus menolak," ungkap Tante Song.
"Ini …" Tante Song merasa sedikit tidak enak hati.
"Ini adalah Tuan Muda dari Tong City, Ahli waris utama Keluarga Liu. Jadi aku tidak bisa sembarangan," jelas Tante Song.
Nyonya Gu dan Tuan Gu saling bertatapan dengan mata yang sendu. Mereka berpikir apa yang dikatakan Tante Song sangat benar, jika keluarga pria di desa mereka saja menolak Rui, lalu bagaimana dengan Tuan Muda dari Tong City.
"Maafkan aku!" ujar Tante Song seraya mengantar mereka berdua keluar.
"Jika ada yang cocok dengan Rui, aku pasti akan mengabari kalian," janji Tante Song.
"Baik terima kasih," jawab Nyonya Gu dengan suara lemas.
Mereka berdua kembali pulang dengan tangan dan hati yang hampa karena tidak membawa hasil yang baik.
Keesokan harinya Kakek Liu datang ke desa menemui Tante Song untuk menanyakan hasil seleksinya. Tante Song menunjukan beberapa foto dan biodata hasil dari wawancara Tante Song, dan yang telah lulus seleksi. Kakek Liu mengangguk-angguk pertanda puas.
"Baiklah atur pertemuan dengan mereka semua! siang nanti," perintah Kakek Liu.
Kakek Liu merasa udara di desa sangat sejuk, lalu memutuskan berjalan jalan. Kakek Liu pergi ke Arah sungai, Kakek Liu membetulkan kacamatanya agar bisa melihat lebih jelas gadis yang sedang memegang tombak kecil di tangannya.
Hari ini Rui menangkap ikan lagi untuk menu makan siang dan makan malam untuk dirinya dan ayahnya.
Kakek Liu terperanjat dengan gerakan tangan Rui yang begitu cepat, dan lebih terkagum lagi melihat benaran ada ikan yang tertangkap di ujung tombaknya.
Kakek Liu berjalan menghampiri Rui, "Gadis kecil!" Panggil Kakek Liu.
"Tuan besar!" sapa Rui yang melihat pakaian yang di pakai Kakek Liu begitu bagus.
Mu Tian Rui, menundukan kepalanya memberi hormat kepada Kakek Liu. Meski gadis desa namun Tuan Mu mendidik Mu Tian Rui dengan etika sopan santun yang ketat.
"Gadis ini terlihat polos dan sopan," pikir Kakek Liu.
"Apa kau sedang menangkap ikan?" tanya Kakek Liu.
"Ya, aku akan memasaknya untuk menu makan siang," jawab Rui.
"Siapa namamu?" tanya Kakek Liu.
"Mu Tian Rui?" Jawabnya.
"Ikan itu terlihat sangat segar, bolehkah aku juga mencicipinya!" pinta Kakek Liu.
Demi menghormati yang lebih tua, Rui tidak berani menolak, meski jika Kakek Liu ikut makan siang dengan mereka itu artinya tidak ada lauk untuk makan malam.
"Dengan senang hati, aku Mu Tian Rui mengundang Tuan Besar untuk makan siang di rumahku," jawab sopan Rui.
Kakek Liu memperhatikan etika sopan santun Rui, meski gadis desa namun sikap dan tutur kata kepada yang lebih tua sangat baik.
Kakek Liu memandang kepada Asisten Chen, agar tidak mengikutinya. Asisten Chen puh mengangguk.
"Tunggulah di kediaman Nyonya Song!" Perintah Kakek Liu.
"Baik Tuan," jawab Asisten Chen.
Rui berjalan agak dibelakang Kakek Liu, menjaga jika seandainya Kakek Liu jatuh, maka dia akan segera menangkapnya. Kakek Liu menyadari hal ini lalu mencoba mengujinya dengan berpura-pura akan terjatuh.
Rui dengan cepat melempar semua benda yang dia pegang di tangannya, lalu segera menangkap Kakek Liu.
"Tuan besar, apa baik-baik saja?" tanya Rui.
"Ya aku baik-baik saja," jawab Kakek Liu dengan tersenyum senang.
Sesampainya di rumah, Rui dengan segera membukakan pintu gerbang kayu rumahnya. Rumah Rui berarsitektur rumah tua jaman kuno Tiongkok dengan ukiran kayu yang kental. Meski tidak besar dan rumah tua namum Rui merawatnya dengan baik karena bagi Rui ini seperti melestarikan sebuah budaya.
Kakek Liu sangat menyukai rumah tua Rui ini. Ini seperti kembali ke jaman-jaman kerajaan. Begitu indah dan menenangkan.
"Silahkan masuk Tuan," ujar Rui.
"Ayah, hari ini kita kedatangan tamu istimewa," ujar Rui yang melihat Ayahnya tengah menunggu di depan pintu rumah mereka.
"Ah sungguh suatu kehormatan kami bisa menjamu Tuan Besar," ujar Tuan Mu dengan hati senang.
Sudah sangat-sangat lama tidak ada yang bertamu ke rumah mereka, terkecuali Nyonya dan Tuan Gu yang kerap datang membawakan beras untuk mereka.
"Tuan Besar silahkan masuk, aku akan segera memasak untuk makan siang," ujar Rui.
Kakek Liu pun masuk den melihat diatas meja ada xiangqi, catur tiongkok yang sarat dengan strategi.
Bentuk bidak-bidaknya sederhana. Kayu bulat besar dengan aksara Mandarin. Warna bidaknya serupa. Yang membedakan adalah warna huruf yang terukir di atasnya, hitam dan merah.
"Apakah kau bermain Xiangqi?" tanya Kakek Liu.
"Ya putriku terkadang menemani ku bermain," jawab Tuan Mu.
"Ini sungguh langka, jaman kini sedikit sekali yang berminat pada permainan catur ini," pikir Kakek Liu.
"Apa kau mengetahui tentang sejarah catur ini?" tanya Kakek Liu menguji.
Rui membawa teh yang baru saja diseduhnya dan mendengar pertanyaan Kakek Liu lalu segera saja menjawabnya.
"Penciptanya adalah jenderal dari pasukan Han, Han Xin," jawab Rui.
Kakek Liu tersenyum mendengar jawaban Rui, "Lalu apalagi yang kau ketahui?" tanya Kakek Liu.
"Meski agak sombong, menurut para petinggi dan pasukan saat itu, dia adalah orang cerdas. Terutama dalam strategi perang. Han Xin dikenal mahir dalam perang gerilya," jawan Rui.
"Xiangqi awalnya dibuat menjadi hiburan bagi para tentara ketika sedang menganggur. Namun, karena mengandalkan otak, secara tidak langsung permainan itu membuat tentaranya semakin terlatih dalam menjalankan strategi. Secara tak langsung, xiangqi menjadi alat untuk menyusun strategi perang, "Jelas Rui.
"Dulunya xiangqi ini hanya ada di kalangan tentara dan orang elite. Tapi, kemudian menyebar ke masyarakat luas,” Rui menambahkan penjelasannya.
"Gadis pintar," jawab Kakek Liu.
"Maukah bermain denganku, Tuan Mu?" tanya Kakek Liu.
"Tentu tuan dengan senang hati," jawab Tuan Mu.
Permainan mereka terhenti ketika Rui memanggil mereka untuk makan siang. Rui memhuat makanan tradisional berupa ikan kuah acar. Hidangan berkuah ini berisi ikan dengan sayur sawi asin. Ikan diiris dengan tipis dan di lengkapi dengan irisan cabai merah. Rasanya seperti sup ikan, asam, pedas, gurih.
Kakek Liu terlihat Antusias dengan menu makanan yang Rui masak meski hanya nasi dan satu lauk.
Kakek Liu merasa puas dengan karamah tamahan Rui dan ayahnya, padahal mereka tidak mengetahui siapa sebenarnya dirinya, namun mereka sudah menjamunya dengan sangat baik. Bagi Kakek Liu nilai-nilai kesopanan dan ketulusan seperti ini sungguh sangat langka dimiliki oleh orang-orang jaman kini.
"Tuan aku akan mengantarkan Tuan kembali," ujar Rui.
"Ya itu akan menjadi sangat baik, jawab Kakek Liu dengan senang hati.
Rui menuntun Kakek Liu menuju ke rumah Tante Song. Rui tentu saja mengenali rumah tante Song. Asisten Chen yang melihat Tuan Besarnya telah datang segera menghampiri.
"Tuan, mereka telah menunggu Tuan sedari siang tadi," ujar asisten Chen.
"Itu sudah tidak diperlukan lagi, aku sudah menemukan orangnya," jawab Kakek Liu.
Asisten Chen melihat kearah Rui, "bukankah ini gadis tombak di sungai tadi," pikir asisten Chen.
Kakek Liu mengajak Rui masuk, semua melihat ke arah Rui yang berjalan bersama Kakek Liu masuk ke ruang tamu Tante Song.
Sementara asisten Chen mengatakan kepada Tante Song, bahwa Tuannya sudah menemukan calon menantu untuk keluarga Liu dan memintanya agar para gadis yang hadir disini untuk pulang ke rumah mereka.
Setelah Tante Song memulangkan para gadis yang telah lulus seleksi, Tante Song menuju ruang tamu menemui Kakek Liu.
"Tuan Liu," sapa Tante Song.
Tante Song melihat ke arah Rui, "gadis ini …" gumam Tante Song.
"Tuan aku dengar, Tuan Liu sudah membuat keputusan," ujar Tante Song.
"Ya aku memilih gadis ini," ujar Kakek Liu.
Rui masih belum memahami situasinya. Tante Song memandangi Rui, "bagaimana gadis ini mengenal Tuan Besar Liu," pikir Tante Song.
"Tuan! gadis ini bahkan tidak ikut dalam seleksi," ujar Tante Song.
"Aku sendiri yang menyeleksinya dan dia lulus seleksi," jawab Kakek Liu.
Tante Song "…"
Rui "…"
Kakek Liu berdiri, "Gadis pintar, sampai bertemu lagi nanti," ujar Kakek Liu dan bergegas pergi meninggalkan kediaman Tante Song.
Rui memandangi Tante Song dengan kebingungan, "Ini …. sebenarnya ada apa?" tanya Rui.
"Kau …" Tante Song sedikit meragu.
"Kau baru saja terpilih menjadi menantu keluarga Liu," jawab Tante Song.
Rui sungguh terkejut, hanya membawa seorang Kakek asing ke kediamanmya lalu tiba-tiba dirinya telah dipilih menjadi seorang menantu.
"Tapi …" ujar Rui masih dalam kelimbungan.
"Bersiaplah, keluarga Liu akan datang melamarmu nanti," ujar Tante Song.
Rui "…"