Bab 2

"Aku kan selalu cantik seperti mamah" balas dhifa dengan menderetkan giginya

"Pintar anak mamah ayo kita mandi" ajak Hasna kemudian ia pun memandikan anaknya

Setelah memandikan anaknya Hasna pun berjalan menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk anak-anaknya dan juga suaminya baru saja ia sedang masak suaminya datang memarahi Hasna dengan mencengkram tangannya kuat sampai ia meringis kesakitan

"Awhh sakit mas" Hasna merintih kesakitan akibat tangannya dicengkeram oleh suaminya

"Kamu bilang apa saja sama anak saya hah" Reynand menatap tajam ke arah istrinya

"Aaa...aaku gak bilang apa-apa kok" Hasna menundukkan kepalanya ia takut jika melihat wajha suaminya yang sudah marah seperti ini

"Mas lepasin tanganku sakit" Reynad masih tetap mencengkram kuat tangannya membuat Hasna kesakitan

"Ini belum seberapa dibandingkan nanti saya akan membuat hidupmu menderita" apa yang di maksud dengan suaminya berbicara seperti itu apa ia bakal mati ditangannya

"Mas kenapa gak suka sama aku apa salahku" Hasna mencoba mengangkat wajahnya dengan menatap ke arah suaminya

"Salahmu karena saya gak suka kamu jadi istri saya"

"Mas jodoh itu gak ada yang tau mungkin mas memang jodohku"

"Pede sekali kau ini" Reynand menertawakan dirinya

"Jujur saja kamu bilang apa saja sama anak saya hah"

"Aku sudah bilang sama mas aku gak bilang apa-apa smaa dhifa"

"Saya gak percaya sama kamu pasti kamu menjelekkan saya didepan anak saya iya kan"

"Sumpah aku gak bilang apa-apa sama dhifa"

"Kalo gak bilang apa-apa kenapa anak saya bisa benci sama saya hah" bentak Reynand menjatuhkan Hasna ke lantai membuat dia kesakitan

"Aduhh sakit hiks hiks" Hasna memegangi kakinya yang terdampar dilantai

"Dasar cengeng baru segitu saja menangis" ejek Reynand lalu berjongkok menghadap istrinya dengan tatapan tajamnya

"Saya gak akan segan-segan nyakitin kamu" Reynand menangkap dagunya dan mencengkeram kuat membuat Hasna kesakitan

"Jawab pertanyaan saya kamu ngadu apa saja ke anak saya" tangan Reynand menarik jilbabya sampai jilbabnya berantakan

"Aku gak ngadu apa-apa sama dhifa mas"

"Saya pikir kamu perempuan baik-baik ternyata hanya diluar nya saja tertutup rapat" pikir Reynand

"Ada apa ini" tanya anak pertama Reynand yang baru saja datang dari rumah temannya untuk menenangkan dirinya ia tidak terima jika papahnya menikah lagi ia hanya mau mamah maira mamah kandungnya

"Elsa dari mana saja kamu" Reynand bangkit dari jongkoknya lalu menghampiri anaknya dengan membawa kopernya

"Aku dari rumah teman untuk menenangkan diri" ujar Elsa dengan menjawabnya dengan datar

"Kenapa kamu ke rumah teman apa kamu gak anggap saya papahmu lagi" balas Reynand

"Aku gak suka papah menikah lagi apa lagi dengan dia pakaiannya saja kaya orang kampung" sindir Elsa

"Jaga ucapanmu" bentak Reynand membuat Hasna senang mendengarnya karena suaminya membela dirinya

"Kenapa? Kenapa papah malah belain gadis kampung ini" emosi Elsa dengan menatap tajam ke arah Hasna seperti ingin memakannya

"Segera ke kamar bersihkan diri kamu" Reynand pun meninggalkan mereka berdua yang masih didapur

"Lu pelet apa sampai papah gw membela lu hah" Elsa melangkah kan kakinya mendekati Hasna dengan melototkan mata ke arahnya

"Aaa...aaku gak pake pelet" gugup Hasna yang memundurkan tubuhnya sampai mentok ke dinding

"Gw gak percaya sama perempuan munafik kaya lu" Elsa ingin sekali habisi mamah tirinya tapi ia tidak mau membuat papahnya marah besar lagi

"Gw bakal bikin lu gak betah tinggal disini" licik Elsa lalu meninggalkan Hasna yang masih berada didapur

"Hufffttt Alhamdulillah gak terjadi apa-apa" Hasna menghela nafasnya ia bersyukur tidak terjadi apa-apa lagi padanya sudah cukup papahnya bersikap kasar padanya jangan sampai anaknya juga ikutan bersikap kasar padanyaHasna menyiapkan makanan diatas meja makan ia berniat ingin memanggil suaminya untuk makan tapi dia sudah ada disitu yang sedang duduk dan memainkan handphonenya

"Sarapan mas" Hasna manaruh makanannya diatas meja ia menatap suaminya yang sedang memainkan handphonenya

"Saya mau sarapan di kantor saja"

"Kenapa gak sarapan disini saja" tanya Hasna

"Saya gak mau makan masakan kamu" jawab Reynand membuat hatinya sakit padahal dia sudah capek-capek memasak yang banyak tapi suaminya malah makan diluar

"Yasudah jangan lupa makan yah" Hasna berniat ingin memanggil anak-anaknya tapi suaminya memberhentikan langkahnya

"Ambilkan saya kopi" perintah Reynand

"Bentar yah aku panggilkan anak-anak untuk makan dulu" tidak ada jawaban dari suaminya lalu berjalan menuju kamar anak-anaknya

"Dhifa udah rapi belum" tanya Hasna masuk ke kamar anaknya ia melihat anaknya sudah memakai seragam sekolahnya

"Udah mah, mamah kuncirin rambut aku" ujar dhifa

"Mana sini kuncirannya biar mamah kuncirin" balas Hasna yang menghampiri anaknya sudah duduk di kursi riasnya

"Mamah anterin aku berangkat ke sekolah yah aku mau nunjukin ke teman-teman ku kalo aku punya mamah juga"

"Maaf sayang mamah gak bisa"

"Kenapa" wajah dhifa menjadi lesu mamahnya menolak untuk mengantarkan dirinya

"Kamu berangkat bareng papah kan terus juga papah langsung ke kantor kan"

"Eh iya mah"

"Maaf yah sayang mamah gak bisa nganterin kamu mamah mau ngurusin pekerjaan rumah dulu" ujar Hasna

"Iya gapapa kok mah"

"Nanti pulang sekolah mamah jemput deh mau gak" tanya Hasna

"Mau mah" sorak dhifa yang sudah semangat untuk dijemput olehnya

"Ok nah sudah selesai gimana bagus gak" Hasna sudah selesai menguncir rambut anaknya

"Bagus mah aku suka"

"Ayo sekarang kita makan dulu mamah mau ambilkan kopi buat papah dulu kamu duluan aja yah"

"Iya mah" Hasna pun berjalan menuju dapur untuk membuatkan suaminya kopi lalu mengantarkannya ke ruang makan ia taruh kopi diatas meja didepan suaminya tadinya ia ingin memanggil Elsa untuk makan tapi dia sudah datang juga

"Ayo El kita makan" ajak Hasna

"Gw gak Sudi makan masakan lu" Elsa menatap makanan yang begitu enak tapi dirinya tahan karena malu jika ia makan masakannya

"Hargain masakan dia El" ujar Reynand

"Tapi aku gak suka pah" balas El

"Jangan banyak bicara makan saja" perintah Reynand dengan tegas lalu El mencoba memakannya tapi malah dimuntahkan begitu saja

"Kenapa El gak enak yah" tanya Hasna

"Masih nanya enak apa gak? Lu mau ngeracunin gw yah" protes Elsa

"Masakan mamah enak kok kak" dhifa melahap makanan yang dimasak oleh mamahnya

"Enak apanya dek gak enak gini kok"

"Sudah habiskan saja makannya nanti kalian telat berangkat ke sekolahnya"

"Aku mau makan disekolahan aja gak mau makan masakan dia" sindir Elsa lalu meninggalkan meja makan sedangkan mamahnya hanya bisa menundukkan kepalanya ia takut dengan semua ini apa lagi nanti kalo suaminya marah pasti dia lebih ketakutan lagi

"Kenapa sih kakak gak jelas banget" gerutu dhifa

"Sudah habiskan saja makanan kamu papah tunggu disini"

"Pah nanti pulangnya dijemput mamah yah" ujar dhifa

"Iya, Hasna jam 09.30 kamu jemput anak saya" perintah Reynand

"Iya"

"Nanti kamu diantarkan oleh supir"

"Baik mas" mereka melanjutkan makannya setelah selesai dhifa berpamitan untuk berangkat ke sekolah ia mencium tangan anaknya ia berniat ingin mencium tangan suaminya tapi ditolak olehnya

"Hati-hati dijalan ya nak" Hasna mencium puncak kepala anaknya dengan penuh kasih sayang

Bab 3

"Dada mamah" dhifa melambaikan tangannya mobilnya sudah berjalan keluar gerbang rumahnya Hasna pun berjalan masuk dan ia melihat makanan diatas mejanya masih banyak karena hanya dia dan dhifa yang memakannya

"Makanannya masih banyak lagi kan mubazir kalo gak dimakan hmm... Gimana yah? Aku kasih ke pengemis saja yah dia pasti lebih membutuhkannya" Hasna memutuskan untuk berbagi makanannya pada yang lebih membutuhkannyaMalam hari Hasna menunggu suaminya pulang kerja tapi belum saja pulang tengah malam begini angka jam sudah menunjukkan pukul 12 ia menunggu suaminya di ruang tamu tiba saja anaknya memanggilnya dari arah kamarnya yang sudah keluar dari kamar miliknya

"Mamah" panggil dhifa yang baru saja bangun dari tidurnya

"Hey sayang kenapa bangun" tanya Hasna yang menaikan tubuh anaknya di pangkuannya

"Aku gak bisa tidur mah, mamah kenapa belum tidur" ujar dhifa

"Mamah mau nunggu papah kamu pulang dulu sayang" Hasna mengusap rambutnya anaknya dengan lembut

"Aku juga mau nemenin mamah aja nunggu papah" dhifa tersenyum menghadap depan mamahnya

"Jangan yah kamu tidur aja besok kamu harus sekolah" tolak Hasna

"Gak mau" rengek dhifa

"Nanti kamu diomelin papah loh"

"Biarin aja aku mau nemenin mamah aja"

"Yasudah seterah kamu saja" tidak berapa lama Reynand baru saja ulang dari kantornya dengan menenteng tas kantornya menghampiri mereka berdua yang masih belum tidur di ruang tamu dhifa bangkit dari pangkuan mamahnya dan berlari ke arah papahnya

"Hey kenapa belum tidur sayang" tanya Reynand yang sudah menghampiri anaknya dengan mencium keningnya

"Aku belum ngantuk pah"

"Besok kamu sekolah kan" ujar Reynand

"Iya pah tapi aku gak bisa tidur" balas dhifa

"Pergi ke kamar mu langsung tidur yah" perintah Reynand dengan mengusap kepala anaknya

"Aku gak ngantuk pah nanti aja tidur nya yah"

"Tidur sekarang! Jangan buat papah marah"

"Yaudah aku tidur dulu pah, mamah aku tidur dulu yah" dhifa mencium pipi papahnya dengan penuh kasih sayang lalu meminta izin pada mamahnya Hasan pun mengangguk saja

"Selamat malam sayang" Reynand pun mencium kening anaknya dan juga mencium kedua pipinya lalu dhifa meninggalkan mereka berdua untuk pergi ke kamarnya

"Kamu ngajarin anak saya untuk tidak tidur jam segini hah" Reynand memarahi Hasna karena anaknya tidak biasanya belum tidur jam segini ia mendekati Hasna dengan tatapan penuh benci dan tidak suka padanya

"Aku gak tau kalo dhifa belum tidur jam segini" ucap Hasna

"Banyak alasan sekali kamu ini" ujar Reynand dengan tatapan tajam padanya

"Benar mas aku gak bohong" balas Hasna dengan sedikit agak memundurkan tubuhnya sampai mentok ke arah sofa

"Kamu berani sekali melawan saya hah" bentak Reynand dengan mencekik lehernya tanpa ampun membuat Hasna kesakitan

"Mas sakit hiks hiks..." Hasna mencoba melepaskan cekikikannya dari tangan suaminya

"Cengeng sekali kau ini cuih! Kamu harus dikasih pelajaran dulu baru kamu nurut sama saya" Reynand menarik tangan istrinya dengan kasar berjalan dengan cepat tak lupa tangannya mencengkram kuat tangannya

"Mas aku mohon jangan hiks hiks..." berontak Hasna yang mencoba melepaskan cengkraman tangan dari suaminya

"Tempat kamu lebih pantas disini" Reynand menjatuhkan tubuhnya ke lantai kamar mandi lalu menyalakan air showernya

"Mas berhenti aku ke dinginan mas" mohon Hasna dengan memsluk dirinya sembari memeluk kakinya

"Saya tidak perduli mau kamu kedinginan juga" Reynand menjambak jilbabnya dengan tarikan kencang

"Saya ingatkan lagi jangan mencari masalah dengan saya ini belum seberapa liat saja nanti saya bakal buat kamu sengsara lebih lagi" datar Reynand dengan menangkup dagu Hasna ke atas

"Maaf mas hiks hiks... Aku janji gak akan ngulangi lagi" Hasna terus memohon padanya tapi tetap saja ia menghiraukannya

"Saya tidak butuh maaf dari kamu" emosi Reynand

"Mas sakit gak kuat lagi hiks... Hiks" Hasna sudah tidak tahan lagi dengan kesaktiannya kepalanya sudah pusing ditambah dengan suaminya memperlakukan kasar padanya

"Saya tidak percaya dengan kamu! Saya tahu akal licik kamu gimana" Reynand terus menyiksa istrinya dengan memperlakukan kasar padanya

"Aku benaran mas aku kedinginan kepala ku juga pusing" Hasna memegangi kepalanya yang begitu sakit tadi pagi ia sudah kedinginan ditambah lagi suaminya menyiksanya lagi

"Sampai kapanpun saya tidak percaya sama kamu" baru saja Reynand ingin menyiksa lebih pada istrinya tapi Hasna sudah pingsan begitu saja dipelukannya

"Bangun! Jangan ekting saya tahu kamu bohong kan" Reynand menepuk pipi Hasna tapi tidak ada jawaban ia aruh tangannya dididahi Hasna dahinya begitu panas mungkin demam

"Panas sekali? Hey bangun maafkan saya" Reynand terus menepuk pipinya tapi Hasna tidak bangun-bangun langsung saja ia menggendong tubuhnya dan menaruhnya di atas kasur kamarnya

"Gimana ini! Masa iya harus ganti pakaiannya sih gila kali yah" Reynand bingung harus bagaimana pakaian Hasna sudah basah akibat dirinya yang menyiksanya

"Gak ada cara lain lagi saya harus ganti pakaiannya" Reynand berjalan ke arah koper miliknya untuk mengambil pakaian Hasna

Bagaimana dengan kelanjutannya apakah Reynand bisa bertahan dengan tubuh mungil milik istrinya yang cantik dan seksi ini? Apakah ia akan menerkam istrinya atau hanya ingin mengganti pakaiannya saja ... Disaat aku sudah bahagia kamu memperlakukan ku dengan baik tapi kenapa sekarang sudah berubah saja aku pikir kamu sudah melupakannya ternyata tidak

-Hasna

Reynand menggantikan pakaian yang Hasna pakai perlahan-lahan ia membuka jilbabnya rambutnya begitu lembut dan juga sepertinya lurus rambut tali ikatnya pun ia buka benar saja rambutnya wangi bikin menggoda saja.

rambutnya pun juga panjang sungguh badannya bikin menggoda kulit putih bersih alami badannya juga terlihat seksi lelaki mana sih yang tidak tergoda dengan tubuhnya ingin sekali Reynand menerkamnya tapi ia harus tahan dirinya tidak mau mempunyai anak dari pembantu ini tapi ia tidak bisa bertahan dengan nafsunya

Wajah Hasna mirip sekali dengan alam.istrinya jika tidak memakai jilbab harumnya juga sama sepertinya

pakaian Hasna sudah dibuka semua tidak ada sehelai pun yang ia pakai wajah Reynand mendekati wajah Hasna yang begitu putih kulitnya hidungnya bertabrakan dengan hidungnya sekali-kali ia mencicipi bibirnya mungil yang begitu menggoda pada akhirnya ia kelewatan batas lama-lama ia ingat apa yang telah dilakukannya

"Astaga kenapa gw gak bisa tahan sih gila kali yah bersetubuh dengan dia" lalu ia bangkit lagi baru ingat apa yang sudah ia lakukan gila kali yah bersetubuh dengan wanita yang sangat membencinya

"Gak bisa ini benar-benar gila gw gak bisa menahannya lagi" langsung saja Reynand menaiki tubuh Hasna

"Saya rindu kamu mai" Reynanad membayangkan sedang bercinta dengan alam. Istrinya bukan Hasna ia memperlakukannya begitu kasar tanpa ada rasa cinta melakukannya sedangkan Hasna ia masih dalam keadaan pingsan

Pagi hari Hasna terbangun bangkit dari tidurnya melihat pakaiannya yang sudah berserakan dengan milik Reynand keduanya hanya ditutupi dengan selimut

"Astaghfirullah apa yang aku lakukan hiks... Hiks" Hasna tidak percaya dengan semuanya mahkotanya selalu ia jaga tapi malah direbut oleh suaminya ia bukannya tidak mau tapi suaminya pasti memperlakukannya dengan nafsu bukan cinta

"Kenapa kamu nangis?" Tanya Reynand yang sudah terbangun dari tidurnya tubunya ia dudukan bersandar di kepala kasurnya dengan tidak perduli padanya

"Hiks...hiks..." Hasna hanya bisa menangis menundukkan kepalanya ia takut malah Reynand melakukannya lagi

"Jawab! Saya tanya sama kamu" Reynand berbicara dengan nada tinggi ia paling tidak suka jika ada wanita menangis

"Hiks...hiks...." Terus saja hsna menangis menghiraukan perkataan suaminya

"Astaga apa yang gw lakukan" suaminya mendekati Hasna melihat ke arah lantai pakaiannya sudah berserakan dimana-mana

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED