Hasna terbangun dari tidurnya yang menunjukkan pukul 05.00 kakinya pun beranjak dari kasurnya, untuk menjalankan sholat shubuh setelah itu harus bantu-bantu ibunya memasak dan niatnya juga ia ingin mencari pekerjaan lagi. karena sudah lama ia mencari pekerjaan tapi satu pun belum ada yang menerimanya mungkin belum rezekinya sesudah sarapan orang tuanya ingin membicarakan soal penting padanya mengenai perjodohan.
"apa bu dijodohkan?" Hasna tidak percaya jika dirinya akan dijodohkan dia takut jika suaminya om-om yang sudah mempunyai istri dan anak.
"Iya sayang, kami ingin menjodohkan kamu dengan anak sahabat ayah" ujar ibunya.
"Tapi Bu, aku ingin kerja mencari uang untuk membantu kalian membiayai pengobatan ayah"
"Nak kalo kamu menikah dengannya kita bisa hidup enak gak perlu lagi bekerja"
"Tapi Bu...?" Belum sempat Hasna berbicara ibunya memotong pembicaraann jugaya.
"Please bantu ibu untuk membayar pengobatan ayah"
"Yasudah aku mau Bu demi kalian" lirih Hasna ia tidak bisa berkata-kata apa lagi jika sudah begini.
"Terima kasih nak" mereka memeluk anaknya.
Malam hari ini adalah malam perjodohan mereka berdua yang sudah ditentukan kapan menikahnya, sedangkan lelaki duda itu bersikap tidak perduli dengan perjodohannya yang terpenting dia masih bisa bersama anak-anaknya.
"Mamah" panggil anak kecil yang berada dibelakang lalu Hasna menoleh ke belakang yang melihat seorang anak kecil memanggilnya.
"Mamah?" Pikir Hasna yang kaget menyebut dirinya mamahnya.
"Oh iya has kenalin ini anak Tante Reynand Aditya dan ini cucu Tante namanya Nadhifa nandra Aditya, sedangkan yang satu ini namanya Elsabila nandra aditya ayo Salim sama mamah baru kalian" Tante Maya memperkenalkan anaknya dan cucu-cucunya, pada Hasna ia juga menyuruh cucunya untuk bersalaman tapi Elsa menolaknya untuk bersalaman dengan mamah tirinya.
"Aku dhifa mamah" anak kecil bersalaman dengan Hasna dan memperkenalkan dirinya, sedangkan anak pertamanya tidak mau bersalaman dengannya mungkin dia tidak menerima dirinya sebagai mamah barunya.
"Elsa salaman sama mamah kamu" perintah Tante Maya.
"Sampai kapanpun aku gak mau punya mamah baru, mamahku cuma satu hanya Maira Amarissa mamah kandung ku bukan dia" Elsa menatap tajam ke arah Hasna ia juga tidak tau apa salah dirinya membuat Elsa tidak suka padanya.
"Elsa jaga bicara kamu"
"Seterah kalian mau bela dia atau gak sampai kapanpun aku gak punya mamah seperti dia" Elsa pun meninggalkan mereka semua yang masih berada di sini ia berlari menuju kamarnya.
"Maaf yah dia masih belum terima kalo papahnya menikah lagi" Maya jadi malu dengan semua yang berada disini.
"Iya tidak apa-apa Tante" ucap Hasna dengan tersenyum, ia melihat Reynand hanya diam saja apa dia juga sama seperti anaknya tidak mau menganggap dirinya.
"Reynand ajarkan anakmu"
"Hmm" Hanya itu Reynand menjawabnya karena ia tidak mau menambah masalah lagi dengan orang tutuany
"Mamah mamah" panggil anak kecil itu yang menghampiri Hasna lalu duduk dipangkuannya, Reynand heran kenapa dhifa mudah sekali akrab dengannya perasaan yang dia tau dhifa paling tidak suka dengan orang asing yang belum ia mengenalinya.
"Iya sayang ada apa" tanya Hasna padanya dengan membelai rambutnya yang lembut itu
"Nanti mamah tinggal bareng kita kan" ujar dhifa.
"Pasti dong" balas Hasna dengan tersenyum.
"Jadi bagaimana pernikahannya kapan diadakan" tanya ayah Hasna.
"Hmm gimana dua hari lagi" jawab om Aditya.
"Pah apa gak kecepatan" ujar Reynand.
"Tidak cepat lebih baik dari pada menundanya" balas om Aditya ia tidak bisa berkutik apa lagi jika papahnya yang sudah bicara.
Hari ini adalah hari pernikahan Reynand dan Hasna, mereka berdua akan segera halal. Hasna sedang di Make-upi oleh tukang riasnya.
“Masya Allah kamu cantik banget Nak.” Puji Mamah Reynand takjub melihat menantunya lebih cantik setelah di make-up.
“Hehe makasih Mah.” Ucap Hasna malu dipuji mertuanya.
“Pasti Reynand suka lihat kamu.”
“Apa mungkin Mas Reynand akan suka denganku.” Gumam Hasna tidak percaya jika Reynand mengatakan seperti itu.
“Oh, iya Mah. Ijab Qobul dimulainya kapan yah?” tanya Hasna.
“sebentar lagi sayang.” Jawab Mamah Reynand.
“Saudara Reynand Aditya saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Hasna Khairani Syafina dengan mas kawin emas dengan seberat sepuluh gram dibayar tunai” ucap papah Hasna dengan tangan yang menggenggam erat tangan Reynand seakan mempercayai Reynand untuk menyerahkan Hasna seutuhnya. Sedangkan Hasna sedang menunggu Ijab Qabul dilamarnya.
“Saya terima dan kawinnya Raina Adriana Agatha binti Agatha malik dengan maskawin tersebut dibayar tunai”
Reynand mengucap ijab qobul dengan satu tarikan nafas bersaman dengan kelegaan hati yang lelaki itu rasakan, seakan menerima Raina untuk menjadi tanggung jawab seutuhnya.
“Bagaimana para saksi” tanya penghulu
“SAH” Semua yang hadir menyaksikan prosesi ijab qobul pagi itu, tersenyum senang.
“Alhamdulilah” didalam kamarnya menatap cermin tak percaya jika hari ini statusnya sudah berubah menjadi seorang istri
Hasna mengerjai ketika mendapati pantulan tubuh tinggi Reynand yang berada dibelakang, Hasna celingukan mencari keberadaan Ibunya yang sudah tidak terlihat di kamarnya.
Reynand terdiam menatap pantulan wajah Hasna dicermin dihadapan Hasna yang kini menjadi istrinya, Kevin melangkahkan kakinya mendekati Hasna yang masih menatapnya.
Berdiri tept dibelakang Hasna menatap tepa kedua bola mata hitam lewat cermin besar dihadapan keduanya.
Jantung Hasna berdegup kencang. Belum pernah Hasna berada didalam sebuah ruangan bersama lelaki asing selain Ayahnya, namun kin pertama kalinya Hasna berada dalam kamar bersama lelaki.
Hasna sontak berdiri berhadapan dengan lelaki yang jauh lebih tinggi dari Hasna, Hasna menjaga jarak beberapa meter seakan lupa bahwa kami sudah halal.
“Keluar, semua sudah menunggu.” Tegas Reynand tanpa mengucapkan apapun.
“I-iya, Mas.” Hasna pikir setelah menikah suaminya akan lebih romantis ternyata tidak sesuai ekspektasinya.
Setelah pernikahan selesai Hasna akan dibawa oleh suaminya untuk tinggal dirumahnya sendiri, sampai didepan rumahnya Hasna tidak percaya jika rumahnya semewah ini seperti layaknya istana saja.
"Keluar" perintah Reynand padanya yang sudah keluar dari mobilnya.
"Mas boleh tolong bawain koperku gak mas" tanya Hasna yang sudah mengambil kopernya di bagasi mobil milik suaminya.
"Buat apa ada tangan kamu, kalo tidak dimanfaatkan" sindir Reynand membuat Hasna menundukkan kepalanya, baru saja menikah suaminya sudah bersikap seperti ini apalagi nanti lebih baik ia bawa sendiri kopernya dari pada ia tambah marah Hasna menggeret kopernya untuk masuk ke dalam rumahnya sampai didalam dhifa teriak memanggilnya.
"Mamah" teriak dhifa padanya langsung saja ia memeluk mamahnya dengan erat sampai dia kewalahan membawa kopernya dan juga memeluk anaknya, iya Sekarang mereka sudah menjadi anaknya Hasna ia harus bersabar menghadapi sikap anaknya dan juga suaminya.
"Mamah tinggal di rumah ini juga kan"
"Iya dong"
"Horeee sekarang aku punya mamah, aku juga gak bakal di ledekin lagi kalo aku gak punya mamah" lirih dhifa.
"Maafkan papah nak gara-gara papah kamu diledekin teman-temanmu" batin Reynand melihat nya kasihan karena anaknya selalu dikucilkan oleh teman-temannya.
"Memangnya siapa yang ledekin kamu" Hasna mengangkatkan kedua alisnya.
"Teman-teman ku mah, mereka selalu meledekku kalo aku ini gak punya mamah dari kecil" ujar dhifa meneteskan air mata dipipinya.
"Kasihan sekali anak ini, pasti dia tidak pernah diberikan kasih sayang oleh mamahnya" gumam Hasna yang perihatin melihatnya .
"Sekarang kamu sudah ada mamah jadi gak boleh nangis lagi yah" Hasna menghapuskan air mata yang mengalir dipipi dhifa.
"Ehemm" membuat keduanya menoleh ke arahnya.
"Saya antarkan ke kamar kamu" Reynand melangkah menuju kamarnya.
"Sayang mamah mau ke kamar dulu yah" dhifa mengangguk kemudian Hasna pun mengikuti langkah suaminya dibelakangnya, tepat didepan kamarnya mereka pun masuk ke dalam.
Bertengkar
"Kamu tidak boleh menyentuh barang-barang milik pribadi saya" Hasna melihat kamarnya yang begitu luas dan juga mewah.
"Iya mas"
"Kamu juga tidak boleh tidur dikasur bersama saya" membuat Hasna syok mendengarnya, kenapa ia tidak boleh tidur bersama padahal mereka sudah halal baginya.
"Kenapa gak boleh mas kita kan sudah halal"
"Karena kasur itu hanya boleh ditempatkan alm. Istri saya jangan ada yang menidurkannya mengerti" jelas Reynand.
"Mengerti mas" Hasna pun menundukkan kepalanya.
"Lalu saya harus tidur dimana mas" Hasna bingung harus tidur dimana jika dirinya tidak boleh tidur di kasurnya.
"Kamu bisa tidur disofa sana" Reynand menunjukkan sofa yang begitu tidak besar.
"Tapi mas badanku bisa pegel kalau tidur di sofa" Hasna melihat sofa yang begitu kecil tidak muat jika dirinya tidur disitu.
"Mau tidur disofa atau di lantai" ujar Reynand
"Yasudah aku tidur dilantai saja" balas Hasna yang membuka kopernya baru saja ingin memasuki pakaiannya ke dalam lemari, tapi Reynand langsung mencegahnya.
"Kamu tidak boleh pakai lemari disini, karena lemari ini hanya khusus saya dan alm istri saya"
"Sabar Has ini ujian" gumam Hasna rasanya ia ingin menyerah saja, tapi mau gimana lagi ini semua demi pengobatan ayah.
"Terus aku taruh dimana mas" tanya Hasna.
"Tidak usah pakai lemari" jawab Reynand lalu meninggalkan dirinya dikamar sendirian.
"Ya Rabb bukakan hati suami hamba agar bisa menerima hamba disini" batin Hasna tiba saja air matanya mengalir dipipinya.
Pagi hari Hasna melaksanakan sholat shubuh dikamarnya ia berniat ingin membangunkan suaminya untuk sholat shubuh tapi ia takut jika suaminya marah lebih baik ia bangunkan, dari pada suaminya tidak sholat shubuh lebih dosa jika tidak dibangunkan kakinya melangkah ke arah kasur kemudian menepuk bahu suaminya untuk bangun tapi ia malah dimarahinya
"Mas bangun sholat shubuh" perlahan-lahan Hasna menepuk bahu suaminya.
"Enghh kamu ngapain kamu disini hah" dengan nada tinggi berbicaranya.
"Ma..aaaaf mas aku cuma bangunin kamu sholat shubuh aja kok" Hasna takut jika suaminya sudah marah.
"Sini biar saya kasih pelajaran, karena kamu telah membangunkan saya pagi-pagi gini" Reynand menarik tangan Hasna dengan kasar sampai menuju kamar mandi ia menjatuhkan tubuh istrinya ke lantai lalu menyalakan showernya, kemudian menjambak hijabnya yang masih ia pakai ja belum siap untuk membuka hijabnya walaupun itu didepan suaminya.
"Sekali lagi kamu mengganggu tidur saya! Saya gak akan segan-segan menyiksa kamu ngerti"
"Ngerti mas" Hasna merapikan hijabnya kembali yang sudah berantakan tadi, lalu suaminya meninggalkan dirinya di kamar mandi dengan air shower yang masih mengalir.
"Ya Rabb kuatkan hamba untuk mempertahankan pernikahan ini" Hasna menggelemkan wajahnya dengan memeluk kakinya.
"Papah" panggil dhifa yang melihat papahnya ada di dapur untuk mengambil minum dikulkas, hari ini benar-benar kezel dengan istrinya lagi enak-enaknya tidur malah dibangunkannya.
"Hey kamu sudah bangun" tanya Reynand melihat anaknya sudah keluar dari kamarnya.
"Udah pah, mamah kemana pah" ujar dhifa.
"Hmm masih dikamar sayang" balas Reynand dengan mendaratkan tubuhnya di kursi makan.
"Papah kok tumben bangunnya pagi banget"
"Gara-gara mamah kamu tuh bangunin papah" adu Reynand pada anaknya.
"Mamah baik yah bangunin papah pagi-pagi gini" Hasna mendekati papahnya lalu duduk di kursi makan menghadap papahnya.
"Mamah maira lebih baik dari pada dia"
"Papah kenapa sih kaya gak suka sama mamah" tanya dhifa.
"Sudah lah lebih baik kamu mandi sana" perintah Reynand.
"Aku maunya dimandiin mamah"
"Jangan manja dhif" sahut Reynand.
"Emangnya aku gak boleh manja sama mamah, aku pengen dimanjakan mamah, sekali seumur hidup aku belum pernah dimanjain oleh mamah kandung ku sendiri"
"Dhifa jangan bahas itu lagi" bentak Reynand ia paling tidak suka jika alm istrinya disebut namanya.
"Papah gak pernah ngertiin aku sama sekali! Aku benci papah" dhifa meninggalkan ruang makan, kakinya berlari ke arah kamar mamahnya untuk mengadu padanya.
"Mamah" teriak dengan mengeluarkan air matanya yang sudah mengalir.
"Ada apa sayang" tanya Hasna yang sudah berganti pakaian tadi, pakaian tadi basah karena oleh suaminya yang menyiram dirinya dengan air shower yang begitu dingin.
"Mamah papah jahat" dhifa memeluk mamahnya dengan erat.
"Kenapa kamu bicara begitu" ujar Hasna yang mengangkat tubuhnya untuk duduk dipangkuannya, dengan memeluk dirinya.
"Masa aku gak boleh dimandiin sama mamah, aku kan pengen dimandiin sama mamah" dhifa mengadu pada dirinya jika papahnya melarang untuk dimandikan olehnya.
"Papah itu sayang sama kamu kok" Hasna mengusap rambut anaknya menasihati bahawa papahnya sayang pada dirinya.
"Kalo papah sayang sama aku, dia gak bakal bentak aku mah"
"Sudah yah jangan nangis lagi nanti cantiknya hilang loh" Hasna menghapuskan kedua air matanya yang mengalir dipipinya
"Ayo sini mah mandikan mau" tawaran Hasna pada anaknya dengan membelai rambut kepalanya
"Mau mah" sorak gembira dhifa
"Kalo kaya gini kan cantik" ujar Hasna
"Aku kan selalu cantik seperti mamah" balas dhifa dengan menderetkan giginya
"Pintar anak mamah ayo kita mandi" ajak Hasna kemudian ia pun memandikan anaknya
Setelah memandikan anaknya Hasna pun berjalan menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk anak-anaknya dan juga suaminya baru saja ia sedang masak suaminya datang memarahi Hasna dengan mencengkram tangannya kuat sampai ia meringis kesakitan
"Awhh sakit mas" Hasna merintih kesakitan akibat tangannya dicengkeram oleh suaminya
"Kamu bilang apa saja sama anak saya hah" Reynand menatap tajam ke arah istrinya
"Aaa...aaku gak bilang apa-apa kok" Hasna menundukkan kepalanya ia takut jika melihat wajha suaminya yang sudah marah seperti ini
"Mas lepasin tanganku sakit" Reynad masih tetap mencengkram kuat tangannya membuat Hasna kesakitan
"Ini belum seberapa dibandingkan nanti saya akan membuat hidupmu menderita" apa yang di maksud dengan suaminya berbicara seperti itu apa ia bakal mati ditangannya
"Mas kenapa gak suka sama aku apa salahku" Hasna mencoba mengangkat wajahnya dengan menatap ke arah suaminya
"Salahmu karena saya gak suka kamu jadi istri saya"
"Mas jodoh itu gak ada yang tau mungkin mas memang jodohku"
"Pede sekali kau ini" Reynand menertawakan dirinya
"Jujur saja kamu bilang apa saja sama anak saya hah"
"Aku sudah bilang sama mas aku gak bilang apa-apa smaa dhifa"
"Saya gak percaya sama kamu pasti kamu menjelekkan saya didepan anak saya iya kan"
"Sumpah aku gak bilang apa-apa sama dhifa"
"Kalo gak bilang apa-apa kenapa anak saya bisa benci sama saya hah" bentak Reynand menjatuhkan Hasna ke lantai membuat dia kesakitan
"Aduhh sakit hiks hiks" Hasna memegangi kakinya yang terdampar dilantai
"Dasar cengeng baru segitu saja menangis" ejek Reynand lalu berjongkok menghadap istrinya dengan tatapan tajamnya
"Saya gak akan segan-segan nyakitin kamu" Reynand menangkap dagunya dan mencengkeram kuat membuat Hasna kesakitan
"Jawab pertanyaan saya kamu ngadu apa saja ke anak saya" tangan Reynand menarik jilbabya sampai jilbabnya berantakan
"Aku gak ngadu apa-apa sama dhifa mas"
"Saya pikir kamu perempuan baik-baik ternyata hanya diluar nya saja tertutup rapat" pikir Reynand
"Ada apa ini" tanya anak pertama Reynand yang baru saja datang dari rumah temannya untuk menenangkan dirinya ia tidak terima jika papahnya menikah lagi ia hanya mau mamah maira mamah kandungnya
"Elsa dari mana saja kamu" Reynand bangkit dari jongkoknya lalu menghampiri anaknya dengan membawa kopernya
"Aku dari rumah teman untuk menenangkan diri" ujar Elsa dengan menjawabnya dengan datar
"Kenapa kamu ke rumah teman apa kamu gak anggap saya papahmu lagi" balas Reynand
"Aku gak suka papah menikah lagi apa lagi dengan dia pakaiannya saja kaya orang kampung" sindir Elsa
"Jaga ucapanmu" bentak Reynand membuat Hasna senang mendengarnya karena suaminya membela dirinya
"Kenapa? Kenapa papah malah belain gadis kampung ini" emosi Elsa dengan menatap tajam ke arah Hasna seperti ingin memakannya
"Segera ke kamar bersihkan diri kamu" Reynand pun meninggalkan mereka berdua yang masih didapur
"Lu pelet apa sampai papah gw membela lu hah" Elsa melangkah kan kakinya mendekati Hasna dengan melototkan mata ke arahnya
"Aaa...aaku gak pake pelet" gugup Hasna yang memundurkan tubuhnya sampai mentok ke dinding
"Gw gak percaya sama perempuan munafik kaya lu" Elsa ingin sekali habisi mamah tirinya tapi ia tidak mau membuat papahnya marah besar lagi
"Gw bakal bikin lu gak betah tinggal disini" licik Elsa lalu meninggalkan Hasna yang masih berada didapur
"Hufffttt Alhamdulillah gak terjadi apa-apa" Hasna menghela nafasnya ia bersyukur tidak terjadi apa-apa lagi padanya sudah cukup papahnya bersikap kasar padanya jangan sampai anaknya juga ikutan bersikap kasar padanyaHasna menyiapkan makanan diatas meja makan ia berniat ingin memanggil suaminya untuk makan tapi dia sudah ada disitu yang sedang duduk dan memainkan handphonenya
"Sarapan mas" Hasna manaruh makanannya diatas meja ia menatap suaminya yang sedang memainkan handphonenya
"Saya mau sarapan di kantor saja"
"Kenapa gak sarapan disini saja" tanya Hasna
"Saya gak mau makan masakan kamu" jawab Reynand membuat hatinya sakit padahal dia sudah capek-capek memasak yang banyak tapi suaminya malah makan diluar
"Yasudah jangan lupa makan yah" Hasna berniat ingin memanggil anak-anaknya tapi suaminya memberhentikan langkahnya
"Ambilkan saya kopi" perintah Reynand
"Bentar yah aku panggilkan anak-anak untuk makan dulu" tidak ada jawaban dari suaminya lalu berjalan menuju kamar anak-anaknya
"Dhifa udah rapi belum" tanya Hasna masuk ke kamar anaknya ia melihat anaknya sudah memakai seragam sekolahnya
"Udah mah, mamah kuncirin rambut aku" ujar dhifa
"Mana sini kuncirannya biar mamah kuncirin" balas Hasna yang menghampiri anaknya sudah duduk di kursi riasnya
"Mamah anterin aku berangkat ke sekolah yah aku mau nunjukin ke teman-teman ku kalo aku punya mamah juga"
"Maaf sayang mamah gak bisa"
"Kenapa" wajah dhifa menjadi lesu mamahnya menolak untuk mengantarkan dirinya
"Kamu berangkat bareng papah kan terus juga papah langsung ke kantor kan"
"Eh iya mah"
"Maaf yah sayang mamah gak bisa nganterin kamu mamah mau ngurusin pekerjaan rumah dulu" ujar Hasna
"Iya gapapa kok mah"
"Nanti pulang sekolah mamah jemput deh mau gak" tanya Hasna
"Mau mah" sorak dhifa yang sudah semangat untuk dijemput olehnya
"Ok nah sudah selesai gimana bagus gak" Hasna sudah selesai menguncir rambut anaknya
"Bagus mah aku suka"
"Ayo sekarang kita makan dulu mamah mau ambilkan kopi buat papah dulu kamu duluan aja yah"
"Iya mah" Hasna pun berjalan menuju dapur untuk membuatkan suaminya kopi lalu mengantarkannya ke ruang makan ia taruh kopi diatas meja didepan suaminya tadinya ia ingin memanggil Elsa untuk makan tapi dia sudah datang juga
"Ayo El kita makan" ajak Hasna
"Gw gak Sudi makan masakan lu" Elsa menatap makanan yang begitu enak tapi dirinya tahan karena malu jika ia makan masakannya
"Hargain masakan dia El" ujar Reynand
"Tapi aku gak suka pah" balas El
"Jangan banyak bicara makan saja" perintah Reynand dengan tegas lalu El mencoba memakannya tapi malah dimuntahkan begitu saja
"Kenapa El gak enak yah" tanya Hasna
"Masih nanya enak apa gak? Lu mau ngeracunin gw yah" protes Elsa
"Masakan mamah enak kok kak" dhifa melahap makanan yang dimasak oleh mamahnya
"Enak apanya dek gak enak gini kok"
"Sudah habiskan saja makannya nanti kalian telat berangkat ke sekolahnya"
"Aku mau makan disekolahan aja gak mau makan masakan dia" sindir Elsa lalu meninggalkan meja makan sedangkan mamahnya hanya bisa menundukkan kepalanya ia takut dengan semua ini apa lagi nanti kalo suaminya marah pasti dia lebih ketakutan lagi
"Kenapa sih kakak gak jelas banget" gerutu dhifa
"Sudah habiskan saja makanan kamu papah tunggu disini"
"Pah nanti pulangnya dijemput mamah yah" ujar dhifa
"Iya, Hasna jam 09.30 kamu jemput anak saya" perintah Reynand
"Iya"
"Nanti kamu diantarkan oleh supir"
"Baik mas" mereka melanjutkan makannya setelah selesai dhifa berpamitan untuk berangkat ke sekolah ia mencium tangan anaknya ia berniat ingin mencium tangan suaminya tapi ditolak olehnya
"Hati-hati dijalan ya nak" Hasna mencium puncak kepala anaknya dengan penuh kasih sayang
"Dada mamah" dhifa melambaikan tangannya mobilnya sudah berjalan keluar gerbang rumahnya Hasna pun berjalan masuk dan ia melihat makanan diatas mejanya masih banyak karena hanya dia dan dhifa yang memakannya
"Makanannya masih banyak lagi kan mubazir kalo gak dimakan hmm... Gimana yah? Aku kasih ke pengemis saja yah dia pasti lebih membutuhkannya" Hasna memutuskan untuk berbagi makanannya pada yang lebih membutuhkannyaMalam hari Hasna menunggu suaminya pulang kerja tapi belum saja pulang tengah malam begini angka jam sudah menunjukkan pukul 12 ia menunggu suaminya di ruang tamu tiba saja anaknya memanggilnya dari arah kamarnya yang sudah keluar dari kamar miliknya
"Mamah" panggil dhifa yang baru saja bangun dari tidurnya
"Hey sayang kenapa bangun" tanya Hasna yang menaikan tubuh anaknya di pangkuannya
"Aku gak bisa tidur mah, mamah kenapa belum tidur" ujar dhifa
"Mamah mau nunggu papah kamu pulang dulu sayang" Hasna mengusap rambutnya anaknya dengan lembut
"Aku juga mau nemenin mamah aja nunggu papah" dhifa tersenyum menghadap depan mamahnya
"Jangan yah kamu tidur aja besok kamu harus sekolah" tolak Hasna
"Gak mau" rengek dhifa
"Nanti kamu diomelin papah loh"
"Biarin aja aku mau nemenin mamah aja"
"Yasudah seterah kamu saja" tidak berapa lama Reynand baru saja ulang dari kantornya dengan menenteng tas kantornya menghampiri mereka berdua yang masih belum tidur di ruang tamu dhifa bangkit dari pangkuan mamahnya dan berlari ke arah papahnya
"Hey kenapa belum tidur sayang" tanya Reynand yang sudah menghampiri anaknya dengan mencium keningnya
"Aku belum ngantuk pah"
"Besok kamu sekolah kan" ujar Reynand
"Iya pah tapi aku gak bisa tidur" balas dhifa
"Pergi ke kamar mu langsung tidur yah" perintah Reynand dengan mengusap kepala anaknya
"Aku gak ngantuk pah nanti aja tidur nya yah"
"Tidur sekarang! Jangan buat papah marah"
"Yaudah aku tidur dulu pah, mamah aku tidur dulu yah" dhifa mencium pipi papahnya dengan penuh kasih sayang lalu meminta izin pada mamahnya Hasan pun mengangguk saja
"Selamat malam sayang" Reynand pun mencium kening anaknya dan juga mencium kedua pipinya lalu dhifa meninggalkan mereka berdua untuk pergi ke kamarnya
"Kamu ngajarin anak saya untuk tidak tidur jam segini hah" Reynand memarahi Hasna karena anaknya tidak biasanya belum tidur jam segini ia mendekati Hasna dengan tatapan penuh benci dan tidak suka padanya
"Aku gak tau kalo dhifa belum tidur jam segini" ucap Hasna
"Banyak alasan sekali kamu ini" ujar Reynand dengan tatapan tajam padanya
"Benar mas aku gak bohong" balas Hasna dengan sedikit agak memundurkan tubuhnya sampai mentok ke arah sofa
"Kamu berani sekali melawan saya hah" bentak Reynand dengan mencekik lehernya tanpa ampun membuat Hasna kesakitan
"Mas sakit hiks hiks..." Hasna mencoba melepaskan cekikikannya dari tangan suaminya
"Cengeng sekali kau ini cuih! Kamu harus dikasih pelajaran dulu baru kamu nurut sama saya" Reynand menarik tangan istrinya dengan kasar berjalan dengan cepat tak lupa tangannya mencengkram kuat tangannya
"Mas aku mohon jangan hiks hiks..." berontak Hasna yang mencoba melepaskan cengkraman tangan dari suaminya
"Tempat kamu lebih pantas disini" Reynand menjatuhkan tubuhnya ke lantai kamar mandi lalu menyalakan air showernya
"Mas berhenti aku ke dinginan mas" mohon Hasna dengan memsluk dirinya sembari memeluk kakinya
"Saya tidak perduli mau kamu kedinginan juga" Reynand menjambak jilbabnya dengan tarikan kencang
"Saya ingatkan lagi jangan mencari masalah dengan saya ini belum seberapa liat saja nanti saya bakal buat kamu sengsara lebih lagi" datar Reynand dengan menangkup dagu Hasna ke atas
"Maaf mas hiks hiks... Aku janji gak akan ngulangi lagi" Hasna terus memohon padanya tapi tetap saja ia menghiraukannya
"Saya tidak butuh maaf dari kamu" emosi Reynand
"Mas sakit gak kuat lagi hiks... Hiks" Hasna sudah tidak tahan lagi dengan kesaktiannya kepalanya sudah pusing ditambah dengan suaminya memperlakukan kasar padanya
"Saya tidak percaya dengan kamu! Saya tahu akal licik kamu gimana" Reynand terus menyiksa istrinya dengan memperlakukan kasar padanya
"Aku benaran mas aku kedinginan kepala ku juga pusing" Hasna memegangi kepalanya yang begitu sakit tadi pagi ia sudah kedinginan ditambah lagi suaminya menyiksanya lagi
"Sampai kapanpun saya tidak percaya sama kamu" baru saja Reynand ingin menyiksa lebih pada istrinya tapi Hasna sudah pingsan begitu saja dipelukannya
"Bangun! Jangan ekting saya tahu kamu bohong kan" Reynand menepuk pipi Hasna tapi tidak ada jawaban ia aruh tangannya dididahi Hasna dahinya begitu panas mungkin demam
"Panas sekali? Hey bangun maafkan saya" Reynand terus menepuk pipinya tapi Hasna tidak bangun-bangun langsung saja ia menggendong tubuhnya dan menaruhnya di atas kasur kamarnya
"Gimana ini! Masa iya harus ganti pakaiannya sih gila kali yah" Reynand bingung harus bagaimana pakaian Hasna sudah basah akibat dirinya yang menyiksanya
"Gak ada cara lain lagi saya harus ganti pakaiannya" Reynand berjalan ke arah koper miliknya untuk mengambil pakaian Hasna
Bagaimana dengan kelanjutannya apakah Reynand bisa bertahan dengan tubuh mungil milik istrinya yang cantik dan seksi ini? Apakah ia akan menerkam istrinya atau hanya ingin mengganti pakaiannya saja ... Disaat aku sudah bahagia kamu memperlakukan ku dengan baik tapi kenapa sekarang sudah berubah saja aku pikir kamu sudah melupakannya ternyata tidak
-Hasna
Reynand menggantikan pakaian yang Hasna pakai perlahan-lahan ia membuka jilbabnya rambutnya begitu lembut dan juga sepertinya lurus rambut tali ikatnya pun ia buka benar saja rambutnya wangi bikin menggoda saja.
rambutnya pun juga panjang sungguh badannya bikin menggoda kulit putih bersih alami badannya juga terlihat seksi lelaki mana sih yang tidak tergoda dengan tubuhnya ingin sekali Reynand menerkamnya tapi ia harus tahan dirinya tidak mau mempunyai anak dari pembantu ini tapi ia tidak bisa bertahan dengan nafsunya
Wajah Hasna mirip sekali dengan alam.istrinya jika tidak memakai jilbab harumnya juga sama sepertinya
pakaian Hasna sudah dibuka semua tidak ada sehelai pun yang ia pakai wajah Reynand mendekati wajah Hasna yang begitu putih kulitnya hidungnya bertabrakan dengan hidungnya sekali-kali ia mencicipi bibirnya mungil yang begitu menggoda pada akhirnya ia kelewatan batas lama-lama ia ingat apa yang telah dilakukannya
"Astaga kenapa gw gak bisa tahan sih gila kali yah bersetubuh dengan dia" lalu ia bangkit lagi baru ingat apa yang sudah ia lakukan gila kali yah bersetubuh dengan wanita yang sangat membencinya
"Gak bisa ini benar-benar gila gw gak bisa menahannya lagi" langsung saja Reynand menaiki tubuh Hasna
"Saya rindu kamu mai" Reynanad membayangkan sedang bercinta dengan alam. Istrinya bukan Hasna ia memperlakukannya begitu kasar tanpa ada rasa cinta melakukannya sedangkan Hasna ia masih dalam keadaan pingsan
Pagi hari Hasna terbangun bangkit dari tidurnya melihat pakaiannya yang sudah berserakan dengan milik Reynand keduanya hanya ditutupi dengan selimut
"Astaghfirullah apa yang aku lakukan hiks... Hiks" Hasna tidak percaya dengan semuanya mahkotanya selalu ia jaga tapi malah direbut oleh suaminya ia bukannya tidak mau tapi suaminya pasti memperlakukannya dengan nafsu bukan cinta
"Kenapa kamu nangis?" Tanya Reynand yang sudah terbangun dari tidurnya tubunya ia dudukan bersandar di kepala kasurnya dengan tidak perduli padanya
"Hiks...hiks..." Hasna hanya bisa menangis menundukkan kepalanya ia takut malah Reynand melakukannya lagi
"Jawab! Saya tanya sama kamu" Reynand berbicara dengan nada tinggi ia paling tidak suka jika ada wanita menangis
"Hiks...hiks...." Terus saja hsna menangis menghiraukan perkataan suaminya
"Astaga apa yang gw lakukan" suaminya mendekati Hasna melihat ke arah lantai pakaiannya sudah berserakan dimana-mana