"Ada apa, Rey?" tanya Devan pada sekertaris pribadinya yang bernama Reyhan. Saat Reyhan menghentikan mobilnya secara mendadak.
Devan Adiwiya Tama baru saja bertemu dengan klien, ia naik mobil hitam dan disopiri oleh sekertaris pribadinya. Mereka lewat jalanan yang sangat sepi. Tiba-tiba dari persimpangan jalan sepi itu, datang seorang gadis yang berlari tanpa memperhatikan jalan.
Suara rem dan benturan terdengar secara bersamaan. Karena tepat saat itu, tubuh gadis itu terserempet mobil yang Reyhan kendarai. Gadis itu tak lain adalah Sania Pertiwi.
Karena duduknya di bagian belakang. Jadi, Devan tidak melihat apa yang terjadi di depan sana.
"Maaf Tuan, ada yang lewat tiba-tiba," jelas Reyhan, yang langsung mematikan kendaraan yang dikemudikannya.
"Terus kamu tabrak?" tanya Devan dengan mata melebar.
"Saya tidak sengaja, Tuan!" kilah Reyhan membela diri.
"Astaga, Rey! Cepat keluar dan lihat!"
Reyhan mengangguk dan segera keluar dari dalam mobil.
"Bisa-bisanya dia menabrak orang. Matanya itu dimana? Apa di dengkul. Seharusnya dia itu waspada saat berkendara. Ini malah orang lewat ditabrak."
Devan menggerutu sendiri di dalam mobil. Tubuhnya sangat lelah, dia ingin segera pulang dan istirahat. Tapi apa, di perjalanan malah menabrak orang.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya Reyhan yang sudah berada di sisi Sania.
Wanita itu menunduk sambil meringis merasakan nyeri. Bagian sikunya berdarah tak hanya itu, kakinya juga sakit.
"Aku tidak apa-apa," ucap Sania pelan.
"Apa Anda bisa berdiri?" tanya Reyhan.
"Mm," wanita itu mengangguk. Lantas mencoba untuk bangkit. Namun, belum juga bisa berdiri dengan sempurna.
Tiba-tiba ....
"Itu dia!" seru seseorang dari arah datangnya Sania tadi. Kedatangan orang-orang itu, seketika saja membuat Sania panik.
Reyhan menoleh ke arah sumber suara. Tiga pria berpakaian hitam sedang berjalan ke arah mereka. Jika dilihat dari pakaiannya. Mereka seperti bodyguard.
"Tuan, tolong aku! Mereka orang-orang jahat. Mereka mau menculik ku."
Sania mendekati Reyhan dan meminta perlindungan. Wajahnya terlihat ketakutan, Reyhan bisa melihatnya dengan jelas.
"Hei! Serahkan wanita itu pada kami!" seru salah satu dari ketiga orang itu dengan nada garang.
Reyhan menatap ketiga orang itu dengan wajah datar. Terkesan tidak peduli dan acuh.
"Siapa kalian? Kenapa aku harus menyerahkan wanita ini pada kalian?" tanya Reyhan dengan dingin.
"Siapa kami, itu bukan urusan kalian. Wanita itu sumber uang kami. Jadi, serahkan wanita itu kepada kami. Sekarang juga!"
Lelaki itu bicara dengan nada arogan, menyuruh Reyhan untuk menyerahkan Sania kepada mereka. Namun, Reyhan tidak mengindahkannya sama sekali.
"Rey! Ada apa lagi? Kenapa kau lama sekali? Dan itu ... siapa mereka?"
Tiba-tiba Devan keluar dan bertanya pada Reyhan. Lelaki itu sudah berdiri dengan berkacak pinggang di pinggir mobil. Karena merasa kesal menunggu Reyhan yang tak kunjung kembali. Ditambah ada beberapa pria tak dikenal menghampiri.
Tak hanya itu, Devan juga melihat wanita yang bersembunyi di belakang Reyhan, sedang ketakutan. Wajahnya terlihat pucat pasi. Pakaiannya terlihat lusuh.
"Mereka sepertinya penculik gadis untuk rumah mucikari, Tuan."
"Apa?"
Mendengar penjelasan Reyhan, Devan terlihat terkejut. Mulutnya sampai terbuka lebar tanpa sadar. Saking terkejutnya. Sementara ketiga orang yang menginginkan Sania, nampak saling lirik dengan temannya.
"Jadi, wanita itu lari dari mereka bertiga?" tanya Devan.
"Iya, Tuan. Mereka ingin menjual saya," sela Sania dengan suara terbata.
Devan sangat geram mendengar jawaban Sania. Lelaki itu lantas menatap garang ke arah ketiga laki-laki yang mengejar Sania.
"Kalian bertiga, cepat pergi dari sini. Jika tidak, aku akan menghubungi polisi. Untuk membekuk kalian bertiga!" ancam Devan dengan tegas.
Mendengar kata polisi, ketiganya terlihat gusar. Tak ingin berurusan dengan hukum, akhirnya mereka bertiga memilih pergi dari sana. Sania merasa lega melihat kepergian ketiga orang itu.
"Terimakasih atas bantuannya, Tuan," ucap Sania dengan tulus.
"Sama-sama, Nona."
Sania tersenyum sekilas, setelah itu tiba-tiba Sania merasa pandangan matanya buram. Kepalanya juga terasa pening. Dan setelah itu semua terasa gelap. Sania limbung, Reyhan segera menangkap tubuhnya.
"Tuan, dia pingsan. Ini bagaimana?" seru Reyhan.
"Ck, menyusahkan orang saja. Bawa dia ke mobil," titah Devan.
***
Pertemuannya yang tak sengaja dengan Sania, Devan gunakan untuk menjerat Sania dalam sebuah perjanjian dan memanfaatkan Sania untuk kepentingannya.
Sementara Sania yang tak tahu harus kemana. Pekerjaan pun tak punya, terpaksa menerima perjanjian yang Devan tawarkan.
Pernikahan, sesuatu yang sakral dilakukan oleh pasangan. Harus Sania perankan bersama dengan Devan. Laki-laki yang menolongnya dari kejaran para penculik, yang ingin menculiknya.
Singkat cerita, Sania dan Devan pun menikah. Setelah acara janji suci pernikahan selesai. Devan menyuruh Reyhan untuk mengantarkan Sania ke sebuah hotel lebih dulu. Sementara Devan sedang ada sedikit urusan.
"Nona, gunakanlah pakaian dinas yang sudah disediakan untuk menyenangkan Tuan Devan malam ini," ucap Reyhan. Mereka kini sudah sampai di hotel. Reyhan mengantarkan Sania sampai di unit kamar yang sudah di reservasi.
"Pakaian dinas?" ulang Sania dengan heran.
"Iya. Sudah kami sediakan di dalam. Selamat beristirahat."
Setelah berucap seperti itu, Reyhan langsung pergi begitu saja. Tidak membiarkan Sania untuk kembali bertanya. Dan betapa terkejutnya Sania, ketika gadis itu melihat ke arah ranjang king size di dalam kamar hotel tersebut.
"Apa ini?" pekik Sania saat matanya melihat sebuah gaun malam transparan, terbentang rapi di atas ranjang tersebut.
"Apa ini pakaian dinas yang orang tadi maksud?"
Sania terperangah memandangi pakaian itu. Tangannya tergerak untuk mengambilnya. Sania mengambil hanger yang digunakan untuk menggantung pakaian itu dengan hati-hati.
"Ya Tuhan! Ini bukan pakaian. Ini lebih mirip dengan saringan tahu."
Sania mengangkat tinggi-tinggi pakaian itu dan menerawangnya. Sangat tipis dan benar-benar transparan. Belum menggunakannya saja, Sania sudah bergidik ngeri.
"Kainnya emang lembut dan halus. Tapi, ini tuh tipis sekali. Mana bisa aku memakainya," ucap Sania bermonolog sendiri.
Gadis itu menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Sama saja tidak memakai baju. Tubuhku bisa kelihatan kalau memakai pakaian seperti ini," ucapnya lagi, terlihat enggan untuk berganti dengan pakaian di tangannya.
Tidak ingin Devan melihat pakaian dinas itu, Sania membawa pakaian itu ke dalam kamar mandi dan menggantungnya di sana. Setelahnya, Sania keluar lagi dari kamar mandi. Bertepatan dengan Devan yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Kau belum berganti pakaian?" tanya Devan dengan mata memicing.
"I-itu, Tuan."
"Aku tidak mau mendengar alasanmu. Cepatlah ganti pakaianmu. Aku ingin kau melayaniku malam ini." Devan berucap dengan nada dingin. Lelaki itu berjalan menuju jendela kaca yang mengarah ke balkon.
"Tapi, Tuan. Aku tidak bisa melayani mu untuk malam ini." Sania mencoba menolak dengan halus.
"Aku tidak menerima penolakan. Suka atau tidak, malam ini kau harus melayaniku," ucap Devan dengan tegas. Tanpa membalikkan tubuhnya.
"A-aku tidak bisa. Tolong jangan memintaku melakukannya." Sania bicara dengan suara terbata.
"Kau lupa jika sudah menandatangani perjanjian itu?" tanya Devan.
"A-aku ...."
Sania tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Gadis itu sibuk memilin ujung gaun pengantinnya. Sania merasa gugup.
"Apa kamu lupa dengan isi perjanjian itu?" tanya Devan dengan nada dingin.
"Aku ingat. Tapi bagaimana mungkin aku ...," Sania tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Susah sekali untuk keluar.
"Ingat Nona Sania, setiap poin dalam perjanjian itu harus kamu laksanakan. Jika tidak ... aku tidak segan-segan untuk menyerahkan mu pada orang yang waktu itu mengejar mu!" ancam Devan dengan tegas.
"Jangan!"
Sania dengan cepat menyahut. Gadis itu benar-benar panik.
"Beri aku waktu. Aku akan menuruti semua keinginanmu," pinta Sania.
"Lima menit. Waktumu hanya lima menit dari sekarang!" tegas Devan.
***
Tanpa banyak bicara ataupun bernegosiasi lagi. Sania segera melangkah menuju kamar mandi. Gadis itu hendak berganti pakaian. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Bagaimana aku melakukannya?" gumamnya pelan.
Pandangan mata Sania tertuju pada pakaian yang tergantung pada gantungan baju. Sudah berusaha menyembunyikannya. Pada akhirnya, Sania tetap saja terpaksa harus mengenakan pakaian dinas itu.
"Apa aku harus mengenakannya?" tanyanya pada diri sendiri. Masih ada keraguan di dalam hatinya. Sania juga merasa malu jika harus mengenakan pakaian itu. Tapi, peringatan Devan yang tidak suka dibantah. Itu membuat Sania membulatkan tekad.
"Hah! Sudahlah. Buat apa aku mengeluh. Pada akhirnya aku tetap harus memakainya. Suka ataupun tidak, tetap saja. Bukankah Tuan Devan sudah mengatakan. Dia tidak suka penolakan!
"Kamu pasti bisa, Sania! Ayo semangat!"
Sania berusaha menyemangati dirinya sendiri sebelum akhirnya berganti pakaian.
***
"Baiklah. Lakukan yang terbaik. Ingat Ray, jangan sampai mereka curiga dengan pernikahanku. Bagaimanapun caranya, kamu harus bisa menutupi semuanya dengan rapi."
Saat ini Devan sedang bicara dengan Rayhan melalui telepon. Sembari menunggu Sania yang sedang berganti pakaian. Pria bertubuh atletis dengan paras rupawan itu, memberi peringatan tegas kepada sekretarisnya. Apalagi jika bukan tentang pernikahannya dengan Sania.
"Baik, Tuan. Saya mengerti. Apa ada lagi yang harus saya lakukan, Tuan?"
"Aku rasa cukup itu saja. Ingat, jangan sampai bocor."
"Baik, Tuan."
Setelah mendapatkan jawaban dari Reyhan. Devan segera memutuskan sambungan telponnya. Tepat saat itu pintu kamar mandi terbuka.
Devan segera membalikkan tubuhnya yang tadi menghadap balkon. Pandangan matanya langsung tertuju pada sosok yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kau ...."
Devan terperangah melihat penampilan Sania.
"Apa yang kau pakai itu?" tanya Devan seraya menuding Sania.
***
Bersambung ....
"Ka-kau, ce-cepat tutupi tubuhmu. Astaga!"
Deven terhuyung kebelakang sampai berpegangan pada bingkai jendela. Wajahnya memerah dengan napas yang kian memburu.
"Tuan! Tuan kenapa?" tanya Sania panik dan berjalan mendekat. Mengabaikan perintah Devan yang menyuruhnya untuk menutupi tubuhnya.
"Jangan mendekat!" seru Devan menghentikan langkah Sania, yang kini sudah berjarak beberapa Senti saja.
"Tapi, Tuan. Anda kenapa? Apa Anda sakit? Biarkan aku membantumu." Sania mencoba menawarkan bantuan.
"A-aku tidak apa-apa. Menjauh 'lah!" tuding Devan. Mengusir Sania dengan melayangkan tatapan tajam.
Devan merasa jantungnya berdebar tak karuan ketika Sania hendak mendekatinya. Wajahnya yang memerah kini mulai dialiri oleh keringat dingin. Tubuhnya bahkan bergetar hebat. Sania dapat melihatnya dengan jelas.
"Tuan, Anda berkeringat. Izinkan aku membantumu. Aku akan memapahmu ke tempat tidur. Anda harus segera istirahat dan minum obat."
Begitu yakin Sania akan pemikirannya kali ini. Berharap Devan mau menerima bantuannya. Wanita itu melangkah mendekat ke arah Devan. Dan langsung menyentuh lengannya.
Saat itulah Devan merasa seperti disengat aliran listrik. Reflek tubuhnya terjingkat dan mendorong tubuh Sania. Sehingga Sania terhuyung menjauh. Untung Sania tidak terjerembab ke lantai. Gadis itu masih bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan baik.
"Sudah aku katakan, jangan mendekatiku. Tapi kau malah menyentuhku!" Devan berteriak dengan suara lantang. Membuat Sania bergetar.
"A-aku hanya ingin membantumu. Itu saja. Apa salah?" cicit Sania.
"Dengan berpakaian seperti itu. Kau ingin membantuku? Bukankah aku sudah menyuruhmu, untuk segera menutupi tubuhmu itu?"
Mendengar rentetan kalimat yang Devan ucapkan. Sania langsung teringat pada penampilannya. Gadis itu lantas memindai tubuhnya sendiri. Sejurus kemudian wajahnya langsung memerah, karena malu.
Sementara itu, Devan masih berusaha untuk menormalkan detak jantungnya. Dadanya terlihat naik turun tak beraturan. Dia bahkan memilih untuk memalingkan wajahnya. Tidak ingin melihat Sania yang nampak jelas kemolekannya.
***
'Ya Tuhan! Kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini. Apa aku kena serangan jantung?' batin Devan tak karuan.
"A-apa kau ti-tidak punya pakaian lain? Selain saringan santan itu!" tanya Devan terbata. Devan bersuara setelah bisa mengontrol diri.
Namun Devan berubah jadi pria gagap. Tapi, meskipun begitu tatapannya tetap terlihat mengerikan. Ini menurut pandangan Sania saat ini.
"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya tidak membawa baju ganti. Dan ini ... hanya ada pakaian ini tadi," tutur Sania menundukkan kepalanya.
"Ck, yang benar saja. Apa kau berkata jujur? Kau tidak sedang berbohong atau berniat menggodaku 'kan?"
Devan berkata dengan pandangan dingin. Pandangan matanya sampai membuat tubuh Sania, yang sempat meliriknya menggigil karena takut.
"Saya tidak bohong, Tuan. Sekertaris Anda tadi mengatakan, kalau saya harus memakai pakaian dinas yang sudah disediakan. Untuk ... untuk menyenangkan Tuan Devan malam ini," cicit Sania kembali menundukkan wajahnya.
"Apa?"
Devan benar-benar terperangah mendengar ucapan Sania. 'Bagaimana mungkin Reyhan menyediakan pakaian seperti itu?' batin Devan.
"Pakaian dinas katamu? Pakaian dinas macam apa seperti ini!"
"Bukan saya, Tuan. Tapi sekertaris Anda yang bilang."
Sania segera menyangkal ucapan Devan.
"Dan kamu mau mengenakannya begitu saja?"
Sania tidak menjawab, wanita itu sangat malu untuk sekedar melihat ke arah Devan. Yang mungkin saja sedang meneliti penampilannya.
"Dasar bodoh! Apa kamu tidak merasa malu? Lihatlah penampilanmu saat ini. Kau sudah sangat mirip dengan wanita penggoda." Devan mencemooh.
"Bukankah Tuan yang mengatakan, bahwa aku harus melayani Tuan malam ini. Tuan juga yang mengatakan, bahwa Tuan tidak menerima penolakan. Apa yang bisa kulakukan selain menurut.
"Apalagi sekertaris mu itu tidak menyediakan pakaian lain. Selain pakaian ini," Sania memberanikan diri untuk menatap wajah Devan.
"Dan sekarang Tuan marah, karena saya memakainya. Terus saya harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan?" tanya Sania dengan suara bergetar.
Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Dalam satu kedipan saja, sudah pasti kristal bening itu akan jatuh. Menggelinding di pipi mulusnya.
"Ya Tuhan! Aku bisa khilaf kalau seperti ini," gumam Devan pelan.
"Apa Tuan? Saya tidak dengar. Apa Tuan bicara sesuatu?"
Devan gelagapan mendengar pertanyaan Sania. Padahal Devan hanya bergumam, ternyata suaranya masih bisa didengar oleh Sania.
"Tidak. Aku tidak sedang bicara denganmu." Devan berucap ketus.
'Ck, dasar Tuan aneh. Sudah jelas-jelas aku mendengarnya bicara sesuatu. Apa tadi katanya? Dia bisa khilaf? Dasar Tuan muda mesum yang sok dingin,' batin Sania mencemooh pria yang berdiri dihadapannya.
"Aku akan menghubungi Reyhan untuk membawakan pakaian untukmu."
Dengan rasa percaya diri, Devan hendak menghubungi sekretarisnya itu. Sementara Sania hanya diam saja. Masih dengan posisi yang sama. Berdiri seperti patung.
'Apa dia tidak berniat menyuruhku duduk?' gumam Sania dalam hati.
Wanita itu merasa kakinya pegal, karena belum sempat duduk ataupun mengistirahatkan diri, sedari tadi.
***
Devan nampak gusar karena teleponnya sedari tadi tidak diangkat oleh Reyhan.
"Brengsek! Dimana Reyhan sebenarnya? Kenapa teleponku tidak diangkat olehnya?"
Devan mengumpat dan menggerutu meluapkan kekesalannya. Karena Reyhan mengabaikan panggilannya. Sania yang melihatnya hanya meringis.
"Tuan, mungkin Tuan Reyhan sudah istirahat. Ini 'kan sudah larut malam. Jadi, mungkin saja dia sudah tidur."
Sania memberanikan diri untuk bicara. Mendengar ucapan gadis di hadapannya. Devan langsung mengecek jam yang ada di layar ponselnya. Ternyata benar, jam sudah di angka 23.45. Hampir tengah malam.
Devan hanya bisa menghembuskan napas frustasi. Dia benar-benar kesal.
"Mungkin Reyhan benar-benar sudah tidur. Seperti ucapanmu. Kalau begitu, kau juga ... tidurlah!" titah Devan pada Sania.
Tapi, Sania terlihat bingung. Gadis itu juga nampak gelisah. Devan yang tak sengaja melihatnya, jadi memicing.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Mm, saya tidur dimana, Tuan?"
Kembali Devan menghela napasnya. Memandang ke arah Sania yang masih berdiri di hadapannya. Bukannya memberikan jawaban. Tapi, Devan malah asyik memperhatikan penampilan Sania.
'Dia seksi sekali.' Pikiran Devan memuji keindahan yang terlihat samar. Pandangan matanya meneliti tubuh Sania, yang berada dibalik pakaian dinas. Yang kata Devan saringan santan.
Semua tindakan Devan tertangkap oleh mata Sania. Gadis itu nampak risih dibuatnya.
'Tapi, bukankah dia suamiku sekarang. Akan sangat berdosa bila aku menolak untuk dilihat.' Sania bermonolog dalam hati.
Dia ingin melayangkan protes saat Devan terus menatapnya. Tapi, ingat seperti apa hubungan mereka sekarang. Sania jadi mengurungkan niatnya.
"Tuan, saya tidur dimana?"
"Hah! Apa?"
Devan gelagapan saat Sania kembali mengajukan pertanyaan, perihal tidur.
"Saya harus tidur dimana, Tuan Devan? Apa ... kita tidur satu ranjang?" tanya Sania hati-hati.
Devan beralih menatap ke arah tempat tidur. Ranjangnya sangat luas, rasanya tidak mungkin jika Devan menyuruh Sania tidur di tempat lain. Meskipun di dalam kamar ada sofa panjang. Ya, Sania memang bisa tidur di sana. Jika Devan ingin tidur terpisah.
Tapi, mereka 'kan sudah sah menjadi suami istri. Kenapa harus tidur terpisah. Tidak masalah 'kan, jika mereka tidur satu ranjang. Hanya tidur, bukan melakukan hal lainnya.
'Tapi, aku dan dia sudah menikah. Mau melakukan apapun. Itu tidak masalah 'kan. Sah-sah saja. Aish, apa yang aku pikirkan.'
Devan menggelengkan kepalanya, untuk menghalau pikirannya yang tiba-tiba liar.
"Tuan Devan kenapa? Tuan sakit?" Sania bertanya dengan wajah heran. Karena melihat tingkah Devan.
"Ah, ti-tidak. Aku tidak apa-apa." Devan menjawab dengan gugup.
"Benarkah?"
"Ah, lupakan saja. Kau bisa tidur di ranjang."
"Lalu, Tuan bagaimana?"
"Aku bisa tidur di ... di ... sofa. Ya, aku bisa tidur di sofa."
Devan bicara dengan penuh keyakinan.
"Baiklah kalau begitu. Selamat malam, Tuan. Selamat beristirahat," ucap Sania.
"Hm."
***
Detik telah berganti menit Sania sudah terlelap di bawah selimut. Sedangkan Devan, pria itu masih terjaga. Dia sendiri yang memutuskan untuk tidur di sofa. Dia juga yang kelimpungan.
"Kenapa tidak nyaman sekali." Devan menggerutu.
Pria itu beberapa kali membalikkan badannya. Tapi, masih saja tidak bisa memejamkan mata. Itu karena sofa yang digunakan untuk tidur, panjangnya tidak sesuai dengan tubuhnya.
Posisi yang tak nyaman membuat Devan merasakan nyeri di bagian tengkuk. Lelaki memijat tengkuknya yang terasa pegal.
"Ya Tuhan! Bagaimana aku bisa tidur jika seperti ini?" keluh Devan frustasi.
Devan melirik ke arah ranjang dan melihat Sania yang sudah terlelap.
"Lihatlah dia. Betapa nyenyak tidurnya. Sementara aku ... diriku tersiksa berbaring diatas sofa sialan ini." Devan menggerutu.
"Tunggu ... Dia sudah tidur 'kan? Itu berarti aku bisa pindah dan tidur di sana. Lagian ranjang itu sangat luas. Kenapa aku membiarkan dia menguasainya sendirian.
"Bukankah disini aku Tuannya? Kenapa aku harus terasingkan seperti ini. Apa-apaan aku ini. Sungguh bodoh!"
Berkali-kali Devan merutuki dirinya sendiri. Betapa tidak, bukankah Devan menikahi Sania untuk kepentingannya. Kenapa Devan malah bersikap seperti ini. Bisa-bisa Devan membuat Sania besar kepala.
Tidak-tidak, itu semua tidak boleh terjadi. Akhirnya Devan berjalan menuju ranjangnya. Dia juga lelah dan ingin tidur dengan nyenyak.
"Persetan dengannya. Aku lelah. Aku yang menyewa kamar ini. Bukan dirinya, jadi buat apa aku memikirkan perasaannya. Toh, kami juga sudah menikah 'kan?"
Tak ingin peduli dengan keberadaan Sania. Devan memilih untuk segera membaringkan tubuhnya. Pria itu mulai memejamkan mata.
Satu menit
Dua menit
Satu jam telah berlalu. Devan sudah terlelap dan pergi ke alam mimpi. Dalam keadaan tidak sadar, baik Devan maupun Sania tidur dengan posisi seenaknya.
Satu kaki Sania bahkan sudah bertengger di pinggang Devan. Keduanya tidur saling berhadapan. Wajah keduanya begitu dekat. Sejuknya udara karena mesin pendingin ruangan, membuat dua insan itu saling merengkuh. Mencari kehangatan dan kenyamanan. Hingga sinar mentari pagi terbit dari persembunyiannya. Dua insan itu masih asik terlelap.
***
Bersambung ....
"Siapa pagi-pagi menghubungiku? Berisik sekali. Aku masih ngantuk, tidak bisakah nanti saja menelponnya?"
Suara berisik dari benda pipih, yang berada di atas meja dekat tempat tidur, mengganggu tidur lelap Devan. Padahal Devan masih mengantuk. Rasanya tak rela melepaskan dekapan hangatnya, pada guling yang saat ini dipeluknya.
Devan menggerutu tanpa berniat untuk mengangkat telepon genggamnya. Berniat untuk mengabaikannya dan tidak memperdulikan. Tapi, baru beberapa detik benda itu diam. Benda pipih itu kembali bergetar, diiringi dengan suara yang cukup nyaring.
"Ya Tuhan! Benar-benar menyebalkan!"
Akhirnya dengan malas Devan meraih telepon genggamnya. Tangannya meraba-raba meja dan mendapatkan benda menyebalkan yang mengganggu tidurnya.
Tanpa membuka matanya Devan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Hm," gumam Devan menanggapi sapaan seseorang.
"Tuan, maaf saya mengganggu istirahat Anda. Saya hanya ingin menanyakan, apakah hari ini Tuan akan ke kantor atau ingin mengambil libur?" tanya seseorang diseberang sana.
"Memangnya ini jam berapa, Rey? Aku masih mengantuk. Kau ini mengganggu tidurku. Apa tidak bisa kau menghubungiku nanti-nanti. Setidaknya biarkan aku tidur barang sebentar saja," tutur Devan dengan suara malas. Matanya bahkan masih terasa lengket. Seperti direkatkan dengan lem. Sulit sekali untuk terbuka.
"Ini sudah jam setengah tujuh, Tuan."
"Apa? Setengah tujuh?"
Mata yang tadinya lengket langsung terbuka dengan sempurna. Ketika orang diseberang sana memberitahunya, sudah jam setengah tujuh.
"Kenapa kau baru menghubungiku sekarang, Reyhan! Akan sampai kantor jam berapa aku nanti?"
Devan benar-benar panik dan kesal dalam waktu bersamaan.
"Ck, siapa sih pagi-pagi bicara keras sekali. Sangat berisik, mengganggu orang tidur saja."
Suara serak seorang wanita mengalihkan perhatian Devan. Pria itu lantas mencari sumber suara tersebut. Yang ternyata ... itu adalah suara Sania yang sedang memeluk erat tubuhnya.
'Ya Tuhan! Apa yang sedang dilakukan gadis bodoh ini?' pekik Devan dalam hati.
Tubuhnya menegang saat itu juga. Debaran jantungnya kian mencepat, saat merasakan lingkaran tangan Sania memeluknya dengan erat. Belum lagi wajah Sania yang mendusel di bagian dadanya.
Itu sukses membuat Devan menahan nafas. Wajah pria itu sudah memerah, seiring bertambah cepatnya aliran darah yang memompa jantungnya. Darahnya berdesir hebat.
Tak hanya itu sesuatu dibawah sana tiba-tiba mengembang. Semakin Sania merapatkan tubuhnya dengan tubuh Devan. Itu semakin membuat pusaka yang tersembunyi milik Devan bereaksi.
"Apa terasa sangat nyaman?" Devan bertanya pelan pada Sania.
Lelaki itu sudah mematikan sambungan telponnya secara sepihak. Saat ini fokusnya terpusat pada Sania.
"Mm, ini sangat nyaman sekali. Dan juga hangat," gumam Sania memberikan jawaban.
Devan masih berusaha menahan napasnya. Untuk menekan gejolak dalam dirinya. Entah mengapa ada sesuatu yang aneh Devan rasakan saat ini. Sensasi asing yang membuatnya gelisah.
"Tapi, aku yang tidak nyaman. Kau memelukku begitu erat. Apa kau menganggap ku seperti guling? Guling hidup yang sangat nyaman dipeluk?" bisik Devan tepat di telinga Sania.
Merasakan napas hangat menerpa kulitnya. Sania seketika itu juga membuka matanya. Betapa terkejutnya dia, ketika mendapati dirinya sedang memeluk tubuh seseorang. Yang sudah pasti Sania bisa menebak pemilik tubuh itu siapa. Tuan Devan, pria yang kini menjadi suaminya.
"Aaaaaaaaa!" jerit Sania sambil melepaskan pelukannya. "Apa yang sudah Tuan lakukan? Bukankah semalam Tuan tidur di sofa? Kenapa bisa di sini, dan ... dan kenapa aku bisa memelukmu!"
Devan menutup telinganya yang terasa bising. Karena suara Sania yang sangat berisik.
"Cerewet sekali," gumam Devan.
"Oh aku tahu. Pasti Tuan mencari kesempatan 'kan. Supaya bisa melecehkanku saat aku sudah tidur!" Tuding Sania melontarkan tuduhan.
Devan yang tak terima pun melebarkan matanya. Menatap tajam pada Sania yang seenak jidat menuduhnya.
"Ck, ternyata selain bodoh kau ini juga amnesia. Dasar gadis tidak tahu malu." Devan mencibir dengan sinis.
"Apa katamu? Kau bilang aku tidak tahu malu? Hei Tuan ... siapa yang tidak tahu malu. Anda atau aku? Bukankah Anda bilang akan tidur di sofa dan menyuruhku tidur di ranjang. Lalu kenapa Anda sekarang berada di sini?"
Sania bicara dengan nada berapi-api. Devan membiarkannya begitu saja. Hanya mendengarkan Sania meluapkan kekesalannya.
"Tunggu ... jangan-jangan semalam, Anda sudah melakukan sesuatu padaku."
Sania panik seketika lantas memeriksa bagian tubuhnya. Namun, tidak ada yang aneh pada dirinya. Pakaiannya masih rapi dan tidak berubah sama sekali. Masih melekat sempurna pada tubuhnya.
"Apa kau sudah puas? Apa ada yang hilang dari tubuhmu? Tubuhmu ada yang lecet atau terluka? Tidak 'kan?"
Malu, itulah yang Sania rasakan saat ini. Sudah bicara panjang lebar dengan melontarkan kalimat tuduhan. Tapi, ternyata tidak ada yang terjadi pada dirinya.
"Kau sendiri yang memelukku. Kau juga yang menuduhku. Dasar wanita," sinis Devan mencibir.
Sania yang mengingat kejadian pada waktu membuka matanya tadi. Membuat semburat merah muncul di wajahnya. Sungguh Sania malu sekali.
"Kau tahu Nona Sania, aku terpaksa tidur satu ranjang denganmu. Kenapa ... itu karena aku tidak bisa tidur di sofa sana. Disana sangat tidak nyaman. Leherku bahkan terasa sakit karena berbantal pinggiran sofa."
Mendengar ucapan Devan membuat Sania merasa tidak enak. Timbul rasa bersalah dalam hatinya karena sudah bicara kasar. Bahkan sempat memberikan tuduhan yang tidak-tidak pada Devan.
"Semalam aku sudah memberi pembatas. Supaya kita tidur dengan jarak aman. Tapi entah kemana perginya guling yang kujadikan pembatas."
Mata Sania langsung beredar mencari keberadaan guling yang dimaksud Devan.
'Ya Tuhan! Itu gulingnya,' seru Sania dalam hati, saat menemukan guling yang tergeletak di lantai. Tepat di samping ranjang.
Sementara itu Devan masih berusaha mencari guling, yang semalam dijadikan pembatas olehnya. Karena guling itu jatuhnya di sisi tempat Sania tidur. Jadi, Devan tidak bisa melihatnya.
"Maafkan saya, Tuan. Saya yang salah," cicit Sania berinisiatif meminta maaf lebih dulu.
Devan melihat ke arah Sania dengan wajah yang sulit ditebak.
"Kau yakin meminta maaf padaku?" tanya Devan memicingkan matanya. Sania mengangguk pelan untuk meyakinkan Devan.
"Kenapa kau meminta maaf padaku? Apa kamu merasa bersalah?" Kali ini Devan bertanya dengan nada sinis.
"Tentu saja," jawab Sania pelan.
"Baguslah kalau kamu sadar, sudah berbuat salah. Aku tidak perlu repot-repot untuk membuatmu menyadari kesalahanmu."
Sania hanya bisa diam saja, mendengar setiap ucapan yang terlontar dari bibir Devan. Karena memang dirinya yang salah paham.
"Tapi, meskipun begitu. Aku tetap akan memberimu hukuman."
Ucapan Devan kali ini mampu membuat Sania menegakkan wajahnya.
"Hu-hukuman?" Sania terbata-bata saat mengulangi ucapan Devan.
"Ya. Aku akan memberikanmu hukuman." Tegas Devan dengan tatapan tajam. Tatapan yang mampu membuat tubuh Sanai menggigil.
Bagaimana tidak, hanya karena kesalahpahamannya. Devan akan memberikan hukuman?
'Ya Tuhan! Tolong selamatkan aku!' Sania hanya bisa merintih dalam hati. Meminta pertolongan pada Tuhan. Entah, Tuhan bisa mendengarnya atau tidak. Sania hanya bisa berdoa dan berharap ada keajaiban.
***
Dua orang wanita berbeda usia nampak duduk di ruang tamu. Dua cangkir teh hijau tersaji di atas meja, menemani obrolan keduanya. Nyonya Hartati namanya, berparas cantik meski usianya sudah tak lagi muda.
"Jelita, Ibu harap kamu bisa dekat dengan Devan dan membuatnya jatuh cinta. Hanya kamu satu-satunya wanita, yang Ibu harapkan menjadi menantu di keluarga ini. Tidak ada yang lain."
Nyonya Hartati berbicara dengan serius kepada wanita yang duduk di sampingnya. Wanita yang memiliki nama lengkap Jelita Amoria itu, tersenyum dengan begitu manis.
"Aku akan berusaha sebisa mungkin. Ibu jangan khawatir," ucap Jelita dengan percaya diri.
Jelita nampak begitu yakin bisa mendapatkan hati Devan. Karena menurutnya, tidak ada laki-laki yang bisa menolak pesonanya. Termasuk Devan.
"Kalian sudah saling mengenal sejak kecil. Meskipun pernah berpisah beberapa tahun. Ibu yakin, semua itu tidak menjadi masalah untuk hubungan kalian."
"Ah, tentu saja, Bu. Aku masih sama dengan Jelita beberapa tahun yang lalu. Aku masih menyayangi Devan seperti dulu."
Jelita bicara dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Wanita yang kini berusia dua puluh satu tahun itu, terlihat begitu cantik dan anggun. Beberapa tahun hidup di negeri seberang untuk menuntut pendidikan, membuat Jelita terlihat berbeda. Lebih dewasa dan terlihat lebih modis.
Hal ini membuat Nyonya Hartati semakin menaruh harapan besar padanya. Untuk membuat Devan dan Jelita bersatu, dalam sebuah hubungan yang sakral. Lebih tepatnya, Nyonya Hartati ingin keduanya menikah.
"Oh iya, Bu. Dimana Devan? Kenapa aku tidak melihatnya sedari tadi?"
Jelita nampak memindai ke sana kemari, mencari keberadaan Devan.
"Hah! Entahlah. Ibu juga tidak tahu kemana dia."
Jelita mengerutkan keningnya mendengar ucapan Nyonya Hartati.
"Maksud Ibu ... apa Devan tidak ada di rumah?"
Nyonya Hartati mengangguk, membenarkan tebakan Jelita.
"Lalu kemana Devan, Bu? Apa dia sedang keluar kota?"
Nyonya Hartati tak langsung memberikan jawaban. Wanita itu justru meraih ponselnya.
"Sebentar, Ibu akan coba untuk menghubunginya dan menyuruhnya pulang. Semoga saja dia mau mendengar ucapan ibu kali ini."
***
Bersambung ....