Bab 1

"Fredi, pernikahan akan segera dimulai—kamu tidak bisa pergi begitu saja!"

Mengenakan gaun putih bersih, Livia Benhur berpegangan erat pada lengan Fredi Widaya, jari-jarinya gemetar saat kepanikan memenuhi suaranya.

Hari ini seharusnya menjadi hari pernikahan mereka.

Namun, tepat saat upacara hendak dimulai, Fredi telah membaca pesan teks, menoleh ke arah orang banyak, dan menyatakan pernikahan dibatalkan.

Alisnya berkerut, suaranya tegang karena urgensi. "Minggir. Jolin terluka. Dia sendirian di rumah sakit, dan dia pasti ketakutan. Aku harus ada untuknya."

Wajah Livia pucat pasi.

Jolin Sandira adalah kekasih masa kecil Fredi.

Livia mulai berkencan dengan Fredi lima tahun lalu. Dan selama lima tahun, setiap kali dia pergi bersamanya, jika Jolin benar-benar membutuhkannya, Fredi akan meninggalkannya.

Dia selalu bersikeras bahwa dia menganggap Jolin seperti adik perempuannya sendiri dan selalu meminta Livia untuk mengerti.

Demi hubungan mereka selama lima tahun, dia telah menolerir berkali-kali.

Namun, hari ini adalah hari pernikahan mereka.

Memangnya kenapa jika Jolin membutuhkannya? Apakah itu berarti Livia harus ditinggalkan oleh pria yang seharusnya menjadi suaminya?

Suara Livia bergetar saat berbisik, "Tidak, kamu tidak bisa pergi. Pernikahan tidak akan terlaksana tanpamu. Tidak peduli apa pun, kamu harus tetap tinggal hari ini. Kumohon, Fredi … aku mohon padamu."

Namun, kesabaran Fredi habis. "Cukup! Berhentilah bersikap egois dan tidak masuk akal. Kita selalu bisa menjadwal ulang pernikahan. Tapi saat ini, Jolin terluka. Jika aku tidak pergi, bisakah kamu menanggung konsekuensinya? Minggir!"

Sebelum Livia bisa mengatakan sepatah kata pun, pria itu mendorong dan melewatinya.

Livia terhuyung, tumitnya tergelincir di lantai yang mengilap saat dia terjatuh di atasnya. Dari tempatnya duduk, dia tertegun dan hanya bisa menyaksikan Fredi menghilang melalui pintu—tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

Detik berikutnya, ponselnya berdering.

Tanpa berpikir panjang, dia menjawab—hanya untuk disambut dengan suara wanita yang sombong dan terdengar puas di ujung sana.

"Livia, hari ini hari besarmu bersama Fredi, 'kan? Apakah kamu menyukai hadiah kecil yang aku kirimkan kepadamu?"

Seluruh tubuh Livia menjadi kaku saat mengenali siapa yang berada di ujung telepon. Sambil menggertakkan gigi, dia berkata, "Jolin … kamu melakukan ini dengan sengaja. Kamu memancing Fredi pergi, 'kan?"

"Ya, aku melakukannya dengan sengaja. Memangnya kenapa? Apa yang akan kamu lakukan? Aku hanya ingin mengingatkanmu—di hati Fredi, aku akan selalu menjadi yang utama." Nada bicara Jolin dipenuhi dengan kesombongan, setiap kata-katanya mengandung ejekan. "Kamu menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk merencanakan ini, 'kan? Sungguh disayangkan … semua kerja keras, semua impian itu—hilang begitu saja. Jujur saja, aku hampir merasa kasihan padamu."

Livia menatap kain putih bersih gaunnya, dan untuk pertama kalinya, dia melihat lima tahun terakhir sebagai apa adanya—sebuah lelucon.

Sejak dia menjadi yatim piatu, dia sangat menginginkan sebuah keluarga, sebuah cinta yang dapat disebutnya miliknya sendiri.

Namun Fredi … tidak akan pernah memberikannya itu.

Sudah waktunya untuk berhenti mengemis untuk sesuatu yang tidak akan pernah menjadi miliknya.

Tawa tajam dan dingin keluar dari bibirnya. "Jangan terburu-buru, Jolin. Pernikahannya masih berlangsung."

Nada bicara Jolin langsung berubah masam. "Apakah kamu gila? Fredi adalah pengantin prianya. Dia bahkan tidak ada di sana. Bagaimana tepatnya rencanamu untuk melangsungkan pernikahan tanpa dia?"

Bibir Livia melengkung membentuk senyum mengejek yang lambat.

Siapa bilang calon suaminya harus Fredi?

Jika pria tersebut bisa pergi semudah itu, maka dia akan menemukan orang lain—seseorang yang benar-benar pantas untuk berada di sampingnya.

Suaranya berubah tajam dan tak tergoyahkan. "Tolong aku, Jolin—sampaikan pesan pada Fredi. Katakan padanya aku tidak menginginkannya lagi. Dia tidak sepadan sedikit pun dengan waktuku. Dan karena kamu begitu menyukai pria yang tidak kuinginkan, silakan saja. Seorang pria brengsek dan seorang wanita yang tak tahu malu—sungguh pasangan yang sempurna. Semoga kalian bersama selamanya!"

Suara Jolin menajam karena marah. "Livia, aku memperingatkanmu. Jangan coba-coba keberuntunganmu—"

Namun sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Livia menutup panggilan telepon.

Pernikahan akan dimulai dalam tiga puluh menit. Dia perlu menemukan calon pengantin pria pengganti—secepat mungkin.

Sambil mengangkat ujung gaunnya, dia bergegas keluar. Yang mengejutkannya, pintu masuk dipenuhi oleh pria-pria berpakaian hitam. Kehadiran mereka yang mengesankan mengirimkan pesan yang jelas saat mereka menyisir setiap sudut, mencari sesuatu—atau seseorang.

Di tengah mereka, seorang pria yang mengenakan jas pernikahan duduk di kursi roda. Meskipun tidak bergerak, dia memancarkan aura dingin yang hampir tak tersentuh.

Suaranya memerintah saat dia berbicara kepada pengawal di depannya. "Upacara akan segera dimulai. Apakah kamu sudah menemukan Hana?"

Pengawal itu ragu-ragu, ekspresinya tegang. "Pak Kiran, kami sudah mencari di sekitar sini, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Nona Hana. Sepertinya dia sudah melarikan diri .…"

"Melarikan diri?" Suara pria itu dalam dan tenang, tetapi tatapannya berubah setajam silet—dingin dan tak kenal ampun, seperti pemangsa yang sedang mengamati mangsanya. "Jika pernikahan ini tidak terjadi tepat waktu, kamu tahu apa akibatnya."

Livia menangkap setiap kata, dan dalam sekejap, dia mengerti—pria ini telah ditinggalkan di altar, sama seperti dirinya.

Tanpa ragu-ragu, dia mencengkeram gaunnya dan melangkah ke arahnya.

Para pengawal bereaksi seketika, melangkah di depannya dengan ekspresi kaku dan waspada.

"Nona, kamu ingin melakukan apa?"

Pria di kursi roda itu mengalihkan perhatiannya kepadanya, kehadirannya sendiri menekan seperti badai di cakrawala.

Namun Livia tidak gentar. Suaranya terdengar tenang saat dia menatap langsung ke arahnya. "Pak, kudengar istrimu telah melarikan diri. Bagaimana kalau aku menggantikannya? Aku akan menjadi pengantinmu."

Bab 2

Perkataan Livia membuat mata pria itu sedikit menyipit. Suaranya, dibumbui dengan keterkejutan, mengandung nada tajam. "Nona, apakah kamu yakin mengenai hal ini? Aku cacat. Jika kamu menikah denganku, cepat atau lambat kamu akan menyesalinya."

Livia tidak menjawabnya secara langsung. Sebaliknya, tatapannya tidak pernah goyah saat dia bertanya, "Apakah kamu akan meninggalkan istrimu demi wanita lain?"

"Tentu saja tidak," jawabnya tanpa ragu, nada bicaranya tegas.

"Kalau begitu, aku pun tidak akan menyesalinya," ucap Livia dengan tekad yang tak tergoyahkan. "Selama kamu berani menikahiku, aku berani menikah denganmu!"

Melihat ketulusan di matanya, pria itu tidak punya alasan untuk menolak. Dengan anggukan pelan dan hati-hati, dia menjawab, "Baiklah, mari kita menikah."

Dan begitu saja, pernikahan Livia—yang hampir dibatalkan—tetap berjalan sesuai rencana.

Dengan pemuka agama sebagai saksi, mereka mengucapkan ikrar, suara mereka mantap.

Saat mereka keluar dari tempat pernikahan, Livia masih merasa sedikit bingung.

Dia baru saja menikah dengan seorang pria yang, hanya beberapa jam sebelumnya, adalah orang yang sama sekali asing baginya.

Saat mendorong kursi roda suaminya menuruni tangga, dia tiba-tiba menyadari sesuatu. "Ngomong-ngomong, aku bahkan tidak tahu namamu."

"Kiran Rajendra," jawabnya, suaranya terdengar tenang.

Mata Livia membelalak karena terkejut. "Tunggu—kamu Kiran Rajendra? Putra tertua Keluarga Rajendra?"

Kiran melihat ekspresi terkejut di wajahnya dan menyeringai, ada sedikit ejekan dalam senyumannya.

"Ada apa? Sekarang setelah kamu tahu kamu telah menikah dengan seorang pria yang dianggap semua orang sebagai pecundang, kamu menyesalinya?"

Kisah Kiran—putra tertua Keluarga Rajendra yang berkuasa—terkenal di seluruh kota.

Ibunya meninggal saat melahirkan, dan ayahnya menikah lagi.

Kemudian, sebuah kecelakaan mobil membuat Kiran lumpuh, mengubahnya menjadi apa yang dianggap banyak orang sebagai pecundang.

Ketika ibu tirinya melahirkan seorang putra, dia semakin menjadi orang buangan dalam Keluarga Rajendra.

Tanpa neneknya, Irma Randika, yang selalu membela dan melindunginya, Kiran kemungkinan besar sudah lama dibuang, dibiarkan berjuang melawan keadaan yang jauh lebih buruk daripada seseorang yang hidup di jalanan.

Dalam pikiran Kiran, tidak ada wanita waras yang rela menikah dengan pria seperti dia kecuali jika menginginkan uang.

Dia bukan hanya seorang penyandang cacat—dia adalah seorang putra yang terlantar dalam Keluarga Rajendra. Dia sepenuhnya menduga Livia akan kecewa.

Dia siap melihat penyesalan dan kepahitan membayangi wajahnya.

Namun, betapa terkejutnya dia, Livia menatapnya bukan dengan rasa kasihan atau jijik, melainkan dengan pemahaman yang dalam dan tak terucapkan—seolah-olah wanita itu melihatnya sebagaimana adanya—jiwa lain yang ditinggalkan oleh mereka yang seharusnya mencintainya.

Dia mengulurkan tangannya dan memegangnya dengan kekuatan yang lembut. "Aku sudah memberitahumu. Begitu aku telah membuat keputusan, aku tidak akan menyesalinya. Sekarang setelah kita menikah, aku akan memastikan kamu punya keluarga yang sesungguhnya—keluarga yang hangat dan penuh perhatian."

"Benarkah?" Suara Kiran dipenuhi keraguan, skeptisismenya jelas. "Baiklah, mari kita lihat nanti."

Dia tidak memercayainya.

Penasaran, dia bertanya-tanya berapa lama Livia bisa mempertahankan kepura-puraan ini setelah menyadari tidak ada yang bisa diperoleh darinya.

Sebuah mobil berhenti di depan mereka, membuyarkan lamunannya.

"Ayo berangkat," ucap Kiran dengan nada memerintah.

Livia terdiam, ketidakpastian tampak di matanya. "Kamu akan membawaku ke mana?"

"Tentu saja membawamu pulang ke rumah," jawabnya dengan yakin dan tenang."Kita sekarang sudah menikah, jadi wajar saja jika kita akan tinggal bersama."

Membawanya pulang ke rumah?

Kata-kata itu membuat jantung Livia berdebar kencang.

Hal itu mengingatkannya pada rumah yang pernah ditinggalinya bersama Fredi—rumah yang telah dia bangun dengan kerja keras demi masa depan mereka bersama.

Namun sekarang, setelah dia menikah dengan Kiran, dia tahu dia harus memutus ikatan dengan masa lalunya.

Sambil menarik napas dalam-dalam, dia menoleh padanya dan berkata, "Ada beberapa hal yang harus aku urus terlebih dahulu. Bisakah kamu berbagi info kontak dan alamatmu denganku? Aku akan pindah segera setelah selesai."

Kiran mengangkat salah satu alis, tatapannya tajam. "Kamu tidak perlu aku mengantarmu?"

"Tidak, tidak apa-apa," jawabnya, suaranya terdengar tegas tetapi lembut. "Aku bisa mengurusnya sendiri. Aku tidak ingin merepotkanmu."

Kiran tidak membantah. Setelah bertukar rincian kontak, dia masuk ke mobil dan pergi.

Setengah jam kemudian, Livia berdiri di depan apartemen yang pernah dia tinggali bersama Fredi. Kuncinya diputar di lubang kunci, dan pintu berderit terbuka menampakkan ruang penuh kenangan.

Dia melangkah masuk, memperhatikan setiap rincian yang tak asing—taplak meja, tanaman dalam pot—setiap bagian telah dipilih dengan cermat olehnya, membuatnya terasa seperti di rumah.

Namun sekarang, semuanya terasa seperti penjara. Tanpa berpikir dua kali, dia bergerak menuju dekorasi itu, merobohkannya, membuang tanaman-tanamannya, dan membuang semuanya ke tempat sampah.

Dia telah memilih untuk memulai sesuatu yang baru, yang berarti meninggalkan masa lalu, tidak peduli betapa menyakitkannya.

Setelah dia membersihkan sisa-sisa kehidupan lamanya, dia mulai mengemasi barang-barangnya. Karena fokus pada apa yang sedang dilakukannya, dia tidak mendengar suara langkah kaki mendekat.

Fredi, yang melihat pemandangan di dalam apartemen, berdiri di pintu, wajahnya menunjukkan campuran keterkejutan dan ketidakpercayaan. Dia tidak dapat menahannya lebih lama lagi. "Livia, apa yang sedang kamu lakukan?!"

Bab 3

Apartemen itu, yang dulu nyaman dan penuh kehangatan, kini terlihat berantakan, pesonanya telah hilang sama sekali, yang tersisa hanyalah kekacauan.

Livia terus mengemasi barang-barang yang tersisa ke dalam kopernya, gerakannya hati-hati, seolah-olah bertekad untuk menghapus setiap jejak kehidupan yang pernah dibangunnya di sini.

Fredi terdiam sesaat, matanya mengamati sekitarnya, ketidakpercayaan terukir di wajahnya sebelum dia menyerbu ke arahnya.

"Livia, kamu sudah gila?" tuntutnya, suaranya meninggi karena jengkel. "Aku pergi hanya sebentar, dan kamu bersikap seperti ini?"

Dia menarik napas tajam, mencoba mengendalikan emosinya, lalu membentak, "Aku memberimu waktu satu jam. Kembalikan semuanya ke tempatnya!"

Livia, tanpa terpengaruh, menyelesaikan pengemasan barang di tangannya dan perlahan berbalik menghadapnya. Ekspresinya tampak tenang dan cuek—hampir seolah-olah pria itu adalah orang asing.

Senyum tipis mengejek tersungging di bibirnya saat dia menjawab, "Fredi, belumkah kamu menemukan jawabannya? Kadang-kadang, jika sesuatu hilang, maka hilang selamanya. Itu tidak akan pernah ditemukan lagi."

Kerutan di dahi Fredi semakin dalam, ketidaksabaran tampak di matanya. "Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?"

Livia tidak tahu dari mana Fredi mendapat kepercayaan diri untuk menanyainya. Apakah pria itu benar-benar tidak mengerti? Mungkin pria seperti Fredi tidak pernah menganggap dirinya sendiri salah.

Tidak. Bukan itu. Kelembutannya selalu ditujukan kepada satu orang—Jolin, wanita yang sangat dicintainya.

Sorot mata Livia tak tergoyahkan saat dia menatapnya, suaranya terdengar tenang, tetapi setiap kata seolah-olah membawa beban dari semua yang telah dialaminya.

"Pada hari pernikahan kita, kamu meninggalkanku di upacara itu, mengabaikan martabatku maupun permohonanku. Tahukah kamu bagaimana rasanya? Fredi, pernahkah kamu berhenti sejenak untuk memikirkanku? Aku telah dipermalukan sampai sebegitunya, tapi kamu pikir aku hanya mengambek?"

Dia tidak berkedip, matanya terpaku pada pria itu, rasa sakit yang dia pendam dalam-dalam meluap ke permukaan, pandangannya kabur saat air mata mulai mengalir. Dia tidak mengalihkan pandangan, tekadnya sekuat baja.

Melihatnya seperti ini, Fredi merasakan sedikit rasa bersalah, tetapi rasa bersalah itu lenyap secepat datangnya.

Selama bertahun-tahun, dia telah menyakitinya berkali-kali, dan Livia selalu memaafkannya. Dia tidak mengerti kenapa kali ini berbeda.

Dia yakin bahwa dengan sedikit pesona, Livia akan menyerah, seperti yang selalu dilakukan wanita itu. Lagi pula, begitulah yang selalu terjadi di antara mereka.

Dengan pikiran itu, amarahnya sirna, digantikan oleh senyuman yang tenang, hampir tampak sombong.

"Livia, baiklah, aku tahu kamu tidak merasa nyaman di dalam hatimu," mulainya, suaranya terdengar halus dan menggurui. "Tapi kamu tidak seharusnya bertindak seperti ini. Lihat apa yang telah kamu lakukan pada rumah kita."

Senyumnya melembut, dan dia mengulurkan tangannya untuk meletakkan tangannya dengan lembut di bahu wanita itu, sentuhannya berpura-pura penuh kasih sayang saat dia mencoba menenangkannya.

"Lihatlah dirimu. Kamu telah melampiaskan kemarahanmu. Jangan membuat keributan lagi, oke? Bagaimana dengan ini? Kita pilih hari lain, hari yang lebih baik, dan aku berjanji akan memberimu pernikahan yang lebih megah dan mewah. Bagaimana menurutmu?"

Tatapan Livia tertuju pada senyum yang tersungging di bibir Fredi. Kata-katanya manis, tetapi matanya—mata itu—menunjukkan ketidakpedulian yang dingin. Pria itu tampak begitu yakin bahwa dia akan tertipu oleh sandiwaranya.

Tentu saja, bukankah Fredi selalu melakukan ini di masa lalu?

Livia mendengus pelan dan getir. Dia telah memberinya terlalu banyak kesempatan, dan sekarang pria itu yakin tidak perlu memperlakukannya dengan rasa hormat yang sesungguhnya.

Ekspresinya mengeras menjadi sesuatu yang dingin dan cuek, dan tanpa berkata apa-apa, dia menepis tangan Fredi seolah-olah tangan itu tidak lebih dari sekadar beban yang menyusahkan.

"Jangan sentuh aku. Kamu membuatku jijik," ucapnya dengan cuek.

Fredi membeku, matanya terbelalak karena terkejut. Dia belum pernah mendengarnya berbicara kepadanya seperti itu sebelumnya.

Suaranya sedingin es, memecah ketegangan di ruangan itu saat dia melanjutkan, "Fredi, pernikahan itu sudah berakhir. Aku tidak berniat menikah lagi. Aku datang ke sini hari ini untuk pindah."

Fredi, yang masih tertegun oleh penolakannya, mengerutkan kening bingung, pikirannya berusaha keras untuk mengejar ketinggalan. "Pindah?"

Livia mengangguk, wajahnya tampak tegas. "Ya. Aku akan pindah sekarang."

Fredi tertawa hampa, seolah-olah baru saja mendengar lelucon yang paling tidak masuk akal. "Dan menurutmu ke mana kamu akan pergi?"

Dia tahu betul bahwa Livia tidak punya keluarga yang bisa dimintai bantuan, tidak ada jaring pengaman yang bisa menangkapnya. Selain apartemen ini, wanita itu tidak punya tempat lain.

Selama lima tahun terakhir, seluruh dunia Livia terpusat padanya. Dia yakin wanita itu tidak bisa meninggalkannya.

Dia yakin bahwa seluruh sandiwara "pindah" ini tidak lebih dari sekadar caranya untuk mencoba membuatnya menuruti keinginannya.

Sambil menggeleng tak percaya, dia membuka mulut hendak bicara, tetapi dipotong oleh suara dari belakang.

Itu Jolin.

"Fredi, bukankah kamu bilang kamu akan turun sebentar lagi setelah berkemas? Apa yang membuatmu begitu lama?"

Suara Jolin bergema di seluruh ruangan saat dia melangkah masuk. Ketika matanya tertuju pada Livia yang berdiri di seberang Fredi, ekspresinya berubah karena terkejut. "Livia, apa yang kamu lakukan di sini?"

Livia menatap Jolin dengan sorot mata tajam, suaranya terdengar dingin saat dia menjawab, "Ini apartemenku, 'kan? Apakah aku perlu menjelaskan kenapa aku ada di sini? Pertanyaan sebenarnya adalah—apa yang kamu lakukan di sini?"

Jolin menatap ke bawah, berpura-pura antara malu dan tidak bersalah. "Aku tidak sengaja terluka oleh pisau buah, dan Fredi begitu khawatir sehingga dia bersikeras untuk tinggal bersamaku selama beberapa hari."

Matanya kemudian tertuju pada koper di samping Livia, dan dia terkesiap secara dramatis, tangannya menutup mulutnya.

"Livia, apa yang sedang kamu lakukan? Apakah kamu kesal? Bahkan jika kamu kesal, kamu tidak perlu melakukan ini. Kalau kamu terganggu, kamu bisa bicara padaku. Aku akan minta maaf jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Tidak perlu membuat keributan sampai seperti ini."

Bibir Livia melengkung membentuk senyum dingin dan hampir kejam saat dia melangkah perlahan ke arah Jolin. "Apakah kamu benar-benar akan meminta maaf? Apakah kamu serius?"

Jolin, yang sadar Fredi sedang memperhatikan, memainkan perannya, suaranya meneteskan ketulusan palsu saat dia mengangguk. "Tentu saja. Selama kamu bisa tidak marah, aku akan melakukan apa pun."

"Baiklah kalau begitu. Kenapa tidak?" Senyum Livia melebar, tetapi tidak ada kehangatan di matanya, hanya perhitungan yang dingin. "Karena kamu begitu tulus, kurasa aku tidak akan sungkan."

Tanpa peringatan, dia mengangkat tangannya.

Suara tamparan keras memecah ketegangan di ruangan itu saat telapak tangan Livia mendarat di wajah Jolin.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED