Leon berdecak kesal melihat kemeja putihnya yang berubah warna menjadi kecoklatan. Padahal kemeja tersebut hadiah terakhir dari mantan kekasihnya saat dia berulang tahun yang ke dua puluh. Semua karena Aeris, adik mamanya yang sangat ceroboh.
Leon benar-benar tidak habis pikir, padahal umur Aeris hampir kepala tiga, tapi tingkahnya masih seperti gadis berusia belasan. Kekanakan. Sifat Aeris sangat berbeda dengan sang ibu yang begitu lembut dan anggun.
Apa benar Aeris adik kandung mamanya?
Suasana rumah keluarga Yasodana yang begitu ramai membuat Leon merasa kurang nyaman. Si kembar sedari tadi tidak pernah bisa diam. Mereka terus berlarian ke sana ke mari membuat kepalanya terasa pusing. Leon tidak betah berada di tengah keramaian seperti ini.
"Kamu mau pergi ke mana, Sayang?" tanya Aerin yang melihat Leon beranjak.
"Leon ada janji, Ma."
"Tapi acara reuni keluarga kita belum selesai."
"Tapi, Ma ...." Leon menatap Aerin dengan penuh harap. Semoga saja Aerin memberinya izin untuk kabur dari acara reuni yang sangat membosankan ini.
Aerin mengembuskan napas panjang. "Baiklah, hati-hati."
"Terima kasih, Ma." Leon tersenyum senang lantas menuju range rovernya yang terparkir bersebelahan dengan mini cooper Aeris.
***
Hari Minggu waktunya bagi Aeris untuk bermalas-malasan. Gadis itu sedang asyik berbaring di kasurnya yang empuk sambil menonton drama Korea. Bungkus makanan ringan berserakan mengotori lantai kamarnya, mengundang semut dan kecoa untuk berdatangan, tapi Aeris tidak peduli. Dia akan membersihkan kamarnya jika sudah selesai menonton drama Korea.
Ponsel Aeris yang berada di atas meja tiba-tiba saja bergetar. Gadis itu pun segera mengambil ponselnya. Nama Anne terpampang jelas di layar.
"Iya, Ne, ada apa?"
"Aku ada di depan apartemenmu, nih. Bukain pintunya, dong?"
"Kamu nggak mencet bel?" tanya Aeris sambil beranjak membuka pintu.
"Aku udah mencet bel dari tadi, kamunya aja yang nggak denger."
Aeris malah terkekeh. Wajah cemberut Anne seketika menyambut ketika pintu di hadapannya terbuka. "Sorry, aku tadi nggak denger suara bel sama sekali."
Anne segera memutus sambungan teleponnya lalu menerobos masuk ke apartemen Aeris. "Kamu pasti keasyikan nonton drama Korea," sungutnya terdengar kesal.
"Tuh, kamu tahu." Aeris beranjak ke dapur, mengambil beberapa kaleng minuman bersoda dan camilan untuk Anne.
"Astaga, ini kamar apa kamar pecah?" Mulut Anne menganga lebar melihat kamar Aeris yang berantakan.
"Nggak usah kaget gitu, kamu kayak baru pertama kali masuk ke kamarku aja." Aeris meletakkan nampan yang dibawanya di nakas samping tempat tidur.
"Tapi nggak gini juga kali, Aeris. Kamu itu jorok banget."
Aeris memutar bola mata malas. "Tumben sekali kamu datang ke apartemenku. Kamu pasti ada maunya, kan?"
Anne tersenyum. "Kamu memang sahabatku yang paling pengertian."
Aeris menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap Anne dengan alis terangkat sebelah.
"Jadi gini, aku punya kenalan baru. Dia ngajak ketemuan di Aero kelab, aku nggak berani pergi sendirian."
"Kenapa nggak berani, kamu udah biasa pergi ke tempat seperti itu, kan?"
Anne membasahi bibir bawahnya sebelum bicara. "Iya juga sih, tapi malam ini aku lagi malas pergi sendiri."
"Lalu?"
"Kamu mau nggak nemenin aku?"
"Ogah," jawab Aeris langsung. Seumur hidup gadis itu tidak pernah menginjakkan kedua kakinya ke tempat hiburan malam.
"Please, dong, Ai. Temenin aku, malam ini aja."
Aeris menghela napas panjang. "Berhentilah berkencan dengan lelaki yang tidak jelas, Ne. Carilah lelaki yang benar-benar tulus mencintaimu dan mau menerima statusmu saat ini."
Anne menunduk dalam mendengar ucapan Aeris barusan. Pernah gagal menikah dua kali ternyata tidak bisa membuat Anne berhenti dari kebiasaannya yang suka bergonta-ganti pacar. Anne sangat bertolak belakang dengan Aeris yang tidak pernah pacaran. Tetapi ajaibnya mereka bisa bersahabat dari kecil sampai sekarang.
"Kali ini aku serius. Sepertinya dia lelaki baik." Anne berusaha meyakinkan.
"Sungguh?"
Anne mengangguk mantap.
Aeris menarik napas panjang. "Baiklah, aku temani kamu malam ini."
"Asyik!" Anne bersorak senang karena Aeris mau menemaninya pergi ke kelab malam.
"Eits, tapi ada syaratnya."
Bahu Anne seketika merosot. "Apa?"
"Bersihin kamarku dulu."
***
Mini dress tanpa lengan berwarna merah maroon dengan potongan dada yang sedikit rendah membuat Aeris terlihat sangat sexy malam ini. Gadis itu sebenarnya merasa kurang nyaman memakai gaun pilihan Anne karena membuat tubuh bagian atasnya sedikit terlihat. Namun, Anne terus memaksanya agar memakai gaun tersebut.
Aeris tanpa sadar meremas kedua tangannya dengan erat karena tidak sedikit lelaki hidung belang yang menatapnya lapar.
"Anak SMA tidak boleh masuk," ucap penjaga Aero kelab saat melihat Aeris.
Kedua mata Aeris sontak membulat. "SMA?" tanyanya terdengar penuh penekanan.
Anne malah terkikik Tidak heran jika penjaga tersebut menganggap Aeris masih SMA karena gadis itu memiliki postur tubuh yang tidak terlalu tinggi dan wajahnya masih terlihat imut.
"Mana kartu pengenal kamu?"
Aeris pun memberikan kartu pengenalnya. Anne segera menunjukkan kartu pengenal mereka ke penjaga kelab.
"Apa benar umurmu hampir tiga puluh tahun?" tanya penjaga Aero kelab untuk memastikan.
"Benar lah, Pak. Saya tidak mungkin berbohong," jawab Aeris sedikit kesal.
"Baiklah, kalian berdua boleh masuk."
Anne langsung menarik Aeris menuju meja bartender dan memesan minuman. Segelas brandy untuk dirinya sendiri dan segelas jus strowberry untuk Aeris.
"Temanmu mana, Ne?" tanya Aeris sedikit keras karena suaranya teredam musik.
"Aku nggak tahu, mungkin dia sebentar lagi datang." Anne meneguk segelas brandy di tangannya sambil bergoyang menikmati musik yang dimainkan DJ.
Aeris mengedarkan pandang ke sekitar. Banyak lelaki dan perempuan yang sedang menari di atas lantai dansa. Mereka menari seperti orang kehilangan akal. Bahkan di antara mereka ada yang berciuman.
Aeris refleks mengalihkan pandang ke arah lain. Apa mereka tidak malu?
"Ne!"
"Ada apa?"
"Temanmu masih lama?" Aeris meremas kesepuluh jemari tangannya yang terasa dingin karena mulai merasa tidak nyaman. Dia ingin pulang.
Anne melihat benda mungil bertali yang melingkari pergelangan tangan kirinya. "Tunggu sebentar lagi."
Aeris mengembuskan napas panjang. Mau tidak mau dia harus menunggu teman Anne datang karena tidak tahu jalan pulang.
Tidak lama kemudian ada dua orang laki-laki datang menghampiri mereka. Kedua mata Anne seketika berbinar melihat lelaki yang berdiri di depannya.
"Liam?"
"Yes, I'm Liam." Lelaki bernama Liam itu mengulurkan tangan kanannya yang disambut ramah oleh Anne. "Aku membawa seorang teman untuk menemaniku datang ke sini."
"Aku, Daniel." Teman Liam tersebut memperkenalkan diri.
"Who is she?" tanya Liam saat melihat Aeris.
"Dia temanku, Aeris." Anne pun memperkenalkan Aeris pada Liam dan Daniel.
"She is so pretty," puji Liam.
Aeris tersenyum kaku mendengar pujian Liam untuknya.
"And sexy," imbuh Daniel menatap Aeris seperti singa kelaparan yang bertemu dengan mangsanya.
Aeris merasa tidak nyaman karena Daniel menatapnya dengan penuh minat seolah-olah ingin menelanjangi tubuhnya.
"Bagaimana kalau kita berdansa?
"Dengan senang hati." Anne menyambut uluran tangan Liam dan pergi ke lantai dansa. Mereka begitu asyik menikmati musik yang dimainkan DJ. Anne bahkan sampai lupa jika mengajak Aeris ke kelab malam untuk menemaninya.
"Kamu tidak turun?"
"Tidak," jawab Aeris sambil memperhatikan Anne yang sedang berciuman dengan Liam. Sahabatnya itu mudah sekali jatuh cinta.
Daniel menyeringai sambil menelusuri tubuh Aeris dari atas sampai bawah. Dia merasa sangat beruntung bertemu dengan gadis polos seperti Aeris.
"Untukmu." Kening Aeris berkerut dalam menatap segelas minuman berwarna merah yang Daniel ulurkan. Dia takut minuman tersebut mengandung alkohol.
"Minuman ini tidak mengandung alkohol," ucap Daniel saat melihat keraguan di wajah Aeris.
"Sungguh?" tanya Aeris memastikan.
"Iya."
Aeris pun menerimanya dan meminumnya hingga tandas. Tanpa dia sadari Daniel menyeringai penuh kemenangan. Minuman tersebut sebenarnya mengandung alkohol yang cukup tinggi. Hanya saja aromanya tersamarkan oleh buah stroberi. Orang yang tidak pernah minum seperti Aeris bisa dipastikan akan langsung mabuk.
***
Putus cinta sejak tiga tahun lalu belum bisa membuat Leon melupakan mantan kekasihnya. Alea Kristiana—cinta pertamanya. Leon tidak pernah tahu alasan apa yang membuat Alea tiba-tiba meminta putus. Padahal dia dan Alea mempunyai impian untuk menikah dan hidup bersama sampai maut memisahkan.
Apa cinta yang dia berikan untuk Alea belum cukup? Apa Alea sudah tidak tahan menghadapi sifat dinginnya? Entahlah, Leon tidak tahu.
Memikirkan Alea malah membuat dada Leon semakin terasa sesak. Gadis itu mendadak hilang seperti ditelan bumi setelah meminta putus darinya. Di mana Alea sekarang? Apa gadis itu baik-baik saja?
Leon kembali meneguk segelas wine yang di tangannya karena malam ini dia ingin berhenti sejenak memikirkan Alea.
"Gadis itu cantik sekali."
Leon pun mengikuti arah pandang sahabatnya yang bernama Brian, melihat seorang gadis yang memakai mini dress berwarna merah maroon yang memperlihatkan jelas lekuk tubuhnya. Kedua mata Leon sontak membulat saat menyadari siapa gadis itu.
"Tante?" gumamnya pelan.
"Kamu bilang apa?" tanya Brian karena tidak mendengar suara Leon dengan jelas.
"Bukan apa-apa." Kedua mata Leon terus memperhatikan Aeris. Untuk apa tantenya pergi ke tempat seperti ini? Apa lagi memakai mini dress seperti itu? Apa Aeris tidak sadar jika banyak lelaki yang menatapnya lapar?
Aeris terlihat seperti anak kelinci yang tersesat di kandang serigala.
"Aku tidak pernah melihat gadis itu di kelab ini. Sepertinya dia orang baru."
Leon hanya diam mendengar ucapan Brian barusan. Dia tidak pernah menyangka tante yang dikenal polos berani pergi ke tempat hiburan malam.
"Dia cantik, ya?"
"Biasa saja," jawab Leon malas. Baginya gadis paling cantik di dunia hanya Alea.
Brian terkekeh karena tahu jika Leon belum bisa melupakan Alea. "Siapa cowok bule itu? Apa dia pacarnya?"
Leon memperhatikan lelaki berwajah kebarat-baratan yang sedang minum bersama Aeris. Pacar? Tidak mungkin. Setahu Leon tantenya itu tidak pernah memiliki pacar.
"Sepertinya gadis itu mabuk." Brian kembali bersuara.
Leon menyipitkan kedua matanya agar penglihatannya jelas. Aeris terus saja minum minuman pemberian Daniel. Dasar bodoh! Sepertinya Aeris tidak tahu kalau minuman itu memabukkan.
"Cowok bule itu menang banyak. Lihatlah, Le, tangannya mulai berani membelai pipi gadis itu."
Leon kembali menuang wine ke gelas hingga penuh, berusaha tidak memedulikan apa yang Brian katakan. Jika Aeris mabuk dan ingin menghabiskan malam bersama Daniel itu bukan urusannya.
Brian berdecak. "Gadis itu polos banget. Kenapa dia diam saja pahanya dibelai-belai seperti itu?"
Brush ....
Leon tanpa sengaja menyemburkan wine yang diminumnya hingga mengenai wajah Brian.
Brian menarik napas panjang, berusaha meredam amarahnya agar tidak memaki Leon karena membuat wajahnya lengket.
"Mau pergi ke mana kamu?" tanya Brian karena Leon tiba-tiba berdiri.
Leon berjalan dengan cepat menghampiri Aeris dan Daniel mengabaikan pertanyaan Brian karena tantenya itu sudah sangat mabuk hingga tidak menyadari jika Daniel berbuat kurang ajar.
"Singkirkan tangan kotormu itu darinya." Leon menahan tangan Daniel yang ingin menyentuh Aeris, kedua matanya menatap Daniel tajam.
"Memangnya siapa kamu?"
"Aku keponakannya."
Daniel malah tertawa. "Kamu pikir aku percaya? Mana mungkin Aeris punya keponakan yang sudah besar seperti kamu. Sebaiknya kamu cari wanita lain karena malam ini dia milikku."
Daniel menarik tubuh Aeris ke dalam dekapan, lalu mengecup pipi gadis itu singkat.
Wajah Leon mengeras, rahangnya pun mengatup rapat. Leon sangat membenci lelaki hidung belang yang suka merendahkan wanita.
Bugh!
Leon melayangkan sebuah pukulan tepat di pipi Daniel hingga membuat lelaki itu jatuh tersungkur. Dia segera meraih tubuh Aeris dalam dekapan agar tidak ikut jatuh.
"Sudah aku bilang kalau dia tanteku," tandasnya terdengar dingin.
Daniel mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Pipi kanannya terasa nyeri karena pukulan Leon sangat keras. Keributan yang terjadi di antara mereka berhasil menarik perhatian pengunjung kelab hingga berkumpul mengelilingi mereka.
"Ada apa ini? Astaga, Aeris?!" pekik Anne saat melihat Aeris tidak sadarkan diri dalam gendongan Leon.
"Jadi kamu yang membawa tante Aeris ke sini?"
Anne melirik Leon dengan takut-takut karena keponakan Aeris itu terlihat sangat menyeramkan saat marah.
"Bilang ke Si Berengsek itu kalau aku memang keponakan tante Aeris."
Daniel sontak menatap Anne, meminta penjelasan.
"Di-dia memang keponakan Aeris," ucap Anne takut-takut.
Daniel tercengang mendengar ucapan Anne barusan. Ternyata Leon berkata jujur jika Aeris adalah tantenya.
Leon membetulkan posisi Aeris dalam gendongannya. "Minggir!" perintahnya agar pengunjung kelab memberi jalan. Dia akan mengantar gadis itu pulang.
"Tante ...?" gumam Brian saat punggung Leon sudah menjauh dari pandangannya. Dia baru tahu jika Leon memiliki tante yang terlihat lebih muda darinya.
"Dasar merepotkan," gumam Leon sambil mendudukkan Aeris di kursi samping kemudi. Tanpa sadar dia menelan ludah saat melihat penampilan Aeris. Pantas saja Daniel ingin sekali menyeret Aeris ke ranjang karena tantenya itu terlihat sangat seksi malam ini.
Leon berani bersumpah, Aeris pasti bisa membangkitkan gairah siapa pun lelaki yang melihatnya. Dia pun melepas jas yang dipakainya untuk menutupi tubuh Aeris.
"Papa jangan, Aeris takut. Jangan, Pa ...."
Leon menatap Aeris dengan lekat. Air mata menetes dari sudut mata gadis itu. Apa Aeris sedang mimpi buruk?
Entahlah, Leon tidak tahu. Lebih baik dia segera mengantar Aeris pulang.
"Berapa nomor kunci apartemen, Tante?" tanya Leon saat tiba di apartemen Aeris.
Aeris malah memejamkan kedua matanya erat-erat karena kepalanya terasa pusing. Pikiran gadis itu mendadak kosong. Aeris lupa berapa nomor kunci apartemennya.
"Berapa, Tante?" desah Leon tidak sabar karena Aeris tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Aku tidak tahu." Aeris menyingkirkan tangan Leon dari bahunya, lalu meringkuk di depan pintu seperti anak kucing.
Leon mengehela napas panjang. Akhirnya dia menekan sembarang angka karena tidak tega membiarkan Aeris tidur di luar. "Satu, empat, delapan, lima."
Klik.