Seseorang adik ipar yang bernama Nur Naila Habibah yang akan menjadi istri suaminya sendiri seorang kakak yang memaksa adiknya untuk menjadi istri suaminya karena dia mandul dan tidak akan bisa memberikan suaminya keturunan maka dari itu istrinya menyuruh suaminya menikah lagi dengan adiknya
Mereka juga tidak tau jika mereka berdua bukan saudara kandung Naila bukan anak umi Aisyah tapi Naila anak Azizah dia adalah sahabat uminya Hanifah Menurut Naila dia tidak pantas menikah dengan kakak iparnya karena dia seorang bad girl yang bikin ulah dikampusnya dia beda dengan kakaknya dia masih pakai baju ketat dan belum berhijab sedangkan Raihan dia seorang dosen dia mengajar Agama di tempat kuliahnya Naila
Apakah Naila setuju permintaan kakaknya atau dia menolaknya?
Pagi hari Naila ingin pergi ke kampusnya kakaknya menyuruh dia agar berangkat bareng dengan suaminya tapi Raihan menolaknya karena bukan mahramnya
"Mas Naila berangkat bareng mas aja yah" kata Hanifah dia adalah istri Raihan yah Naila tinggal bersama kakaknya dan orang tuanya juga tapi orang tuanya lagi ke luar negeri mengurusi pekerjaannya
"Kenapa? Dia kan bisa naik taxi" ucap Raihan menduduki kursi makan disamping istrinya
"Kak yang dikatakan kak Raihan benar kok aku masih bisa naik taxi" ujar Naila
"Gak nanti kamu bisa telat nai" balas Hanifah
"Mas kasihan Naila nanti bisa telat mas ayolah mas" bujuk istrinya dengan memeluk tangan suaminya Hanifah ingin mendekatkan adiknya dengan suaminya agar mereka bisa bersatu dengan ikatan pernikahan
"Hadeehhh pake drama segala deh" batin Naila dengan tidak suka dengan keromantisan mereka
"Ok ini demi kamu ya sayang" mencubit hidungnya Hanifah
"Ihh sakit tau" rintihan Hanifah
"Kalo gak niat nganterin gak usah gw bisa naik taxi sendiri" meninggalkan mereka yang masih mesra
"Mas susul Naila sana" rayu Hanifah sebelum menyusul Naila Raihan mencium kening istrinya dan Hanifah pun mencium tangan suaminya lalu mengejar adik iparnya yang masih berada di depan pintu rumah
"Nai tunggu biar saya yang mengantarkan kamu" kata Raihan tidak ambil pusing Naila langsung masuk ke mobil Raihan dan Raihan pun melajukan mobilnya diperjalanan tidak ada suara pun kami saling diam Raihan pun mengajak Naila berbicara
"Hmm..." Deheman Raihan agar suasana tidak hening Naila langsung melihat Raihan yang berdehem
"Nanti pulangnya saya anter" dengan datar lalu Naila pun mengangguk dan menatap jendela menurut dia lebih baik menatap jendela dari pada harus berbicara dengan kakak iparnya itu dia begitu dingin, datar, cuek berbicara pun hanya singkat dan hanya keperluan saja berbeda jika Raihan bersama istrinya pasti manja, penyayang, bawel deh pokoknya
Sesampai di kampus semua menatap kami mungkin karena Naila berangkat bersama Raihan yah dia menganggap Naila itu pelakor karena selalu dekat dengan suami kakaknya walaupun Raihan datar dia banyak sekali fansnya menurut fansnya dia itu tampan, kaya, pintar ngaji, tapi datar menurut mereka dia itu suami idaman tapi menurut Naila sih biasa saja
Dasar pelakor
Suami kakaknya aja diembat
Cantik kagak jelek iya
Mendingan kakaknya cantik kemana-mana
Gak punya hati
Dasar bad girl
Naila hanya berdiam menurut Naila semua itu benar dia memang seperti pelakor merebut suami kakaknya tapi Raihan tidak menanggapi semua perkataan mereka dia cuek, datar, dingin dia beda jika bersama istrinya pasti lembut sekali Sampai di koridor gw berpisah dengan Raihan
"Gw duluan pak" pamit gw baru saja berjalan sedikit tapi Raihan memanggilnyaNaila pun berhenti dia mendengar Raihan memanggilnya
"Nanti pulang bareng saya" kemudian Naila melanjutkan perjalanannya di kelas dia bertemu dengan pacarnya yah dia sudah punya pacar yaitu Raka
"Selamat pagi Sayang" panggil Raka dengan mengucapkan kata sayang dia mencium pipinya Naila dan Naila pun tersenyum kemudian Raka duduk disamping Naila
"Nanti pulang bareng aku yah" kata Raka sambil mengusap paha Naila yang putih itu dengan tangan nakalnya itu yah dia memakai pakaian sexy dia tidak pernah protes jika Raka mengusapnya karena menurut Raina itu hanya biasa saja
"Maaf yah aku gak bisa soalnya aku bareng kakak ipar ku" ucap Naila
"Malam kita jalan yuk mau gak" tanya Raka
"Ok tapi jemput aku yah" rengek Naila dengan mengusap dada bidang Raka dia memang selalu membuat Raka tergoda
"Kamu udah nakal yah jangan bikin imanku lemah sayang" kata Raka yang memeluk pinggang Naila tanpa mereka sadari dosen sudah datang yaitu kakak iparnya sendiri "Kalo mau pacaran jangan disini" datar Raihan kami pun berpindah tempat duduknya masing-masing
"Buka bukunya halaman 87" Raihan pun memulai pelajarannya memulai pelajarannya
Setelah selesai pelajaran kami pun pulang Naila menunggu kakak iparnya itu di parkiran dari tadi kakak iparnya belum datang lama kelamaan Raihan pun datang
"Lama amat sih panas tau nanti gw gosong disini mulu" omel Naila dia tidak menanggapi ocehan adik iparnya Raihan langsung masuk ke mobilnya
"Dasar batu es dinginnya kebangetan ngalahin es batu" gerutu Naila
Diperjalanan Raihan mengajak ngobrol Naila menanyai persoalan tadi di kelasnya bersama pacarannya
"Tadi siapa kamu" tanya Raihan dengan dingin sambil menatap Naila
"Pacar gw emang kenapa" jawab Naila yang menatap ke arah sampingnya
"Mending kamu jauhin deh cowo itu kayanya dia bukan cowok baik-baik liat saja dia sudah berani menyentuh kamu segala" jelas Raihan masih fokus dnegja nyetir mobilnya
"Itu urusan gw seterah gw mau ninggalin dia atau gak itu bukan urusan bapak" omel gw setelah sampai dirumah Naila keluar dari mobilnya dan masuk ke rumahnya Raihan pun sama keluar dari mobilnya Hanifah yang berada di dalam aneh melihat tingkah Naila yang nyelonong aja biasanya dia tidak begitu
"Naila kenapa mas" tanya istrinya itu mendekati suaminya mencium tangannya
"Aku nyuruh dia buat jauhin lelaki gak benar itu tadi dikelas aku melihat cowok itu
mengusap pahanya dan memeluknya cowok itu gak benar Han" jawab Raihan dengan jelas apa yang dia lihat dikelas tadi
"Naila Sudah punya pacar mas" kata Hanifah
"Mungkin itu pacarnya dia kelihatan sudah akrab" jelas Raihan
"Mas jagain adikku yah kalo perlu kalo cowok itu ngituin Naila mas marahin dia aku gak suka adik ku diginiin sama cowok gak benar itu" kata Hanifah
"Aku akan selalu jaga adikmu dari cowok gak benar itu sekarang kamu gak usah sedih lagi yah senyum dong" menenangkan istrinya itu dengan mengusap pipinya itu
Malam hari kami makan bersama di ruang makan kami saling diam Setelah selesai makan Hanifah berbicara dengan adiknya itu permasalahan cowoknya
"Nai kakak minta putusin cowok itu" pinta kakaknya
"Kak aku cinta sama dia aku gak bisa memutuskan hubunganku" kata Naila
"Nai dia itu bukan cowok baik-baik sekarang kakak minta putuskan hubungan kamu sebelum terjadi apa-apa sama kamu" kata kakaknya
"Pasti bapak kan yang mengadu ke kakak saya mending bapak urusin aja kehidupan bapak gak usah ngurusin hidup orang" omel Naila
"Rai saya cuma gak mau adik ipar saya mendekati pergaulan yang tidak benar" kata Raihan kemudian mereka mendengar ada yang mengetuk rumahnya mungkin itu Raka pikir Naila yah mereka memang sudah janjian
"Siapa malam-malam begini datang ke rumah" kata Hanifah
"Aku aja kak yang buka pintunya" ucap Naila
"Gak usah kamu disini saja" kemudian Hanifah langsung membukakan pintu rumahnya "Maaf siapa yah" tanya Hanifah
"Kenalin kak saya pacarannya Naila" sambil ingin bersalaman dengan kakaknya tapi
Hanifah menangkupkan kedua tangannya didada
"Putuskan hubungan kalian" pinta kakaknya itu
"Loh kenapa kak kami saling mencintai" tanya Raka dengan heran
"Kalo kamu mencintai adik saya kamu tidak akan mengajak adik saya pacaran ngerti" omel kakaknya Naila pun menghampiri kakaknya Raihan mengikuti Naila dibelakang
"Kamu Raka" kata naila
"Hai sayang jadi kan malam ini kita main" ucap Raka dengan menggoda
"Lebih baik kamu masuk nai dan putuskan hubungan kalian" pinta kakaknya
"Kakak gak bisa gitu dong sampai kapan pun aku gak bakal putuskan hubungan kita" tolak Naila
"Kakak bilang masuk nai" marah Hanifah dengan membentaknya
"Lebih baik kamu turuti kakakmu" saran Raihan yang berada di samping Naila
"Bapak gak usah ikut campur" sindir Naila
"Naila jaga ucapan mu mending sekarang kamu masuk ke dalam atau kakak bakal bilang ke Abi dan umi kalo kamu pacaran" marah Hanifah dengan sedikit membentak
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah putus kan hubungan ini" kata Naila kemudian pergi ke kamarnya
"Sekarang kamu pulang saja" usir Hanifah kemudian Raka pun pergi meninggalkan rumah nya
Hanifah dengan suaminya menghampiri Naila ke kamarnya tapi pintu kamarnya dikunci
"Nai buka pintunya kakak mau bicara sama kamu" teriak kakaknya sambil menggedorgedor pintu kamarnya
"Kakak pasti mau bilang nyuruh aku pustusin Raka kan" jawab Naila yang masih berada di dalam kamarnya
"Kakak lakukan ini semua demi kamu nai kakak cuma gak mau kamu tersesat Naila kalo kamu pacaran sama aja kamu menjerumuskan Abi dan umi ke neraka memangnya kamu mau orang tua kita masuk ke Neraka cuma karena kamu nai pacaran" nasihat Hanifah Naila pun berpikir dia juga tidka tega jika orang tuanya masuk neraka kemudian Naila membukakan pintu kamarnya dan memeluk kakaknya dengan erat
"Maafkan aku kak aku gak mau Abi sama umi masuk neraka hiks...hiks... Maafkan aku kak" tangisan Naila yang memeluk kakaknya itu Raihan melihat itu pun ikut bersedih dia tahu jika Naila sebenarnya anak baik mungkin karena orang tuanya sibuk kerja jadi pergaulannya gak benar kaya gini deh
"Saya tau kok sebenernya kamu orang baik hanya saja kamu salah pergaulan" kata
Raihan dengan tersenyum
"Bapak gak usah ikut campur deh ini urusan perempuan" omel Naila hanifah pun ikut terkekeh melihat tingkah suaminya dengan adiknya
"Kamu mau kan pustuskan hubungan kamu dengan Raka" tanya Hanifah lalu Naila mengangguk dia harus rela pustuskan hubungan ini demi Abi dan uminya
"Terima kasih dek udah mau meringankan tanggung jawab abi" dengan memeluk adiknya itu
Esoknya Naila dan Raihan berangkat ke kampus bareng mereka sedang makan bersama berkumpul di ruang makan
"Mulai sekarang kamu harus berangkat bareng sama kak Raihan yah" kata Hanifah
"Aku gak mau kak aku bisa naik taxi kok" tolak Naila
"Gak ada bantahan" ucap Hanifah
"Udah sih ikutin aja apa susahnya" kata Raihan
"Bapak enak bicara begitu lah saya setiap hari di omongin sama fans-fans bapak" ucap
Naila smbil menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya
"Emang fanss mas Raihan bilang apa" tanya Hanifah dengan kepo jika ini masalah menyangkut suaminya
"Itu gak penting sayang udah gak usah dengerin Han" jawab Raihan
"Masa sih dia bilang..." Ucapan Naila terpotong dengan ucapan Raihan
"Naila jangan teruskan atau nilai kamu saya kurangi" tegas Raihan
"Apa sih pak main ancam aja" kata Naila
"Udah ngomong aja sama kakak gak usah takut sama mas Raihan" ucap Hanifah dengan penasaran
"Dia bilang..." Ucapan Naila terpotong oleh Raihan lagi
"Saya gak segan-segan memotong nilai kamu" ancam Raihan
"Apa sih mas gak usah ancam adik aku deh" omel Hanifah
"Udah terusin aja" lanjutnya degan masih penasaran
"Kalo fanss kak Raihan bilang aku ini pelakor kak ngerebut suami kakak katanya" kata Naila
"Udah kamu gak usah dengerkan apa kata mereka dia hanya iri sama kamu" ucap Hanifah
Kami berangkat bersama ke kampus di perjalanan tidak ada sahutan dari Raihan, Naila hanya menatap jendela saja sampai di kampus Naila berjalan menuju kelasnya dia menemui Raka yang menghampirinya dengan mencium pipi ku yah seperti biasa kami selalu begitu
"Hai sayang nanti pulang bareng aku kan" sapa Raka sambil mencium pipi Naila
"Nanti habis istirahat aku pengen bicara sama kamu" kata Naila
"Bicara apa" ucap Raka belum saja Naila bicara sudah ada dosen yang masuk kami memulai pelajarannya setelah selesai sebelum pulang kuliah kami mengobrol bareng di kantin
"Kamu mau bicara apa sih sayang" kata Raka dengan mengelus paha Naila dibawah meja kantin tanpa mereka sadari kakak iparnya melihat kelakuan mereka
"Ini gak bisa didiemin dia sudah keterlaluan dia gak menghargai seorang wanita"
Raihan pun menghampiri mereka dan memukul Raka sampai ke lantai
"Kamu bisa gak sih hormati seorang perempuan" kembali memukul Raka dengan bibirnya mengeluarkan darah kental Raka bangkit dan memukul Raihan terkapar Raihan pun membalasnya lagi
"Pak sudah berhenti dia bisa mati" memisahkan Raihan dengan memeluk tangannya kemudian berhenti memukul semua penghuni kantin melihat mereka bertengkar tidak ada yang memisahkannya
"Dia harus kasih pelajaran nai dia sudah seenaknya sama kamu" sahut Raihan
"Bapak gak usah ikut campur urusan saya dengan pacar saya" kata Naila
"Gimana saya gak ikut campur nai kamu itu adik ipar saya, saya gak mau kamu kenapanapa nai" jelas Raihan
"Ka kamu gapapa kan" tanya Naila yang mencoba membantu Raka tapi sebum membantu raka, Raihan langsung menarik tangan Naila dan membawanya ke mobil
"Pak turunin saya" Naila mencoba membuka pintu mobilnya tapi terkunci oleh Raihan
"Kamu bisa diam gak" bentak Raihan dan Naila pun langsung terdiam sesekali nangis sambil menghadap jendela
"Nai maaf saya gak bermaksud begitu sama kamu nai jangan nangis" permintaan maaf tidak ada sahutan dari Naila dia masih terdiam
"Nai" panggil Raihan sama saja tidak ada sahutan dari Naila dia berhenti di sebuah restoran
"Pasti kamu belum makan kan ayok kita makan" ajak Raihan dan Naila pun ikut turun dari mobil mereka masuk ke restoran itu dan duduk paling pojok karena hanya itu tersisa satu meja Raihan jelas melihat Naila dengan muka sembab nya
"Kamu cuci muka dulu nai biar lebih segar gitu" langsung saja Naila ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya setelah itu kembali lagi ke meja tadi
"bapak kok tau sih makanan kesukaan saya" tanya Naila yang kaget melihat sudah ada makanan di meja
"Saya tau dari istri saya" jawab Raihan lalu Naila mengangguk kemudian mereka makan bersama Raihan Melihat Naila makan belepotan di bibirnya Raihan pun mengelap sisa makanan di bibirnya dengan tangan kami saling tatap wajah, mata kami saling bertemu
"Kenapa deg-degan yah gak gak mungkin saya suka sama adik ipar saya sendiri" batin
Raihan kemudian mereka sadar apa yang mereka lakukan
"Maaf, ta..addi ada sisa makanan dibibir kamu" maaf Raihan yang tergugup Naila hanya mengangguk
"Habis ini kamu mau kemana lagi jalan-jalan atau pulang" tanya Raihan dengan lembut
"Tumben sekali dia bersikap baik sama gw biasanya datar cuek, mana dingin lagi gumam Naila
"Nai" panggil Raihan
"Eh eh" Raihan menyadarkan Naila dari lamunannya
"Kamu kok malah bengong sih ngelihatin saya sampai segitunya, saya tau kalo saya ganteng nai" kata Kevin dengan geernya
"Apa sih pak aneh aja saya melihat bapak biasanya datar dan kenapa sekarang malah lembut sama saya" tanya Naila dengan aneh
"Hmm... Kaa..arr..na" jawab Raihan dengan gugup
"Kenapa bapak gugup hayo" ledek Naila
"Udah mending kita pulang sekarang" ajak pulang Raihan setelah membayar makanannya langsung saja kami masuk ke mobil
"Pak" panggil Naila
"Hmm" Raihan hanya berdehem
"Pak" panggil sekali lagi Naila
"Iya kenapa" jawab dengan datar
"Tadi aja baik sekarang kembali lagi datarnya" sindir Naila membuang mukanya ke jendela
"Maaf jika sikap saya bikin kamu terganggu" maaf Raihan tapi Naila hanya diam saja tidak menanggapi perkataan Raihan
"Kita mau kemana lagi apa kita langsung pulang atau jalan-jalan dulu" tanya Raihan
"Pulang aja nanti dikira saya pelakor lagi" jawab gw
"Haha ada aja kamu, kamu kan adik ipar saya nai" kata Raihan dengan terkekeh
"Kakak ipar juga harus jaga jarak kali" sindir Naila Raihan pun hanya tertawa aneh saja dengan perkataan Adik iparnya ini sampai dirumah Hanifah sudah menunggu suaminya pulang di depan rumahnya dia khawatir dengan suaminya
"Mas kamu kok baru pulang sih aku khawatir tau gak" tanya Hanifah mencium tangan suaminya dan Raihan pun mencium kening istrinya Naila yang melihat itu kenapa tibatiba cemburu yah seperti ada sedikit perasaan dengan kakak iparnya
"Maaf yah tadi kita makan dulu sayang" maaf Raihan dengan memegang pipi istrinya dengan lembut
"Iya kak maaf yah tadi kita makan dulu" kata Naila
"Kamu udah makan mas yah padahal aku masakin kesukaan kamu mas" dengan memasang wajah cemberutnya Naila hanya terdiam disitu
"coba jangan romantisan disini" sindir Naila mereka hanya terkekeh
"Kamu cemburu nai" goda Raihan Naila tidak menanggapinya dia langsung masuk ke dalam rumahnya
"Adik kamu kenapa sih aneh" kata Raihan sembari tertawa
"Udah yuk kita masuk" ajak istrinya kemudian mereka masuk ke dalam rumahnya
Naila keluar dari kamarnya dia melihat kemesraan Raihan dengan istrinya kenapa tibatiba dia cemburu gitu Sama kakaknya apa mungkin dia punya perasaan suka dengan kakak iparnya itu dia menghampiri mereka berdua dan terduduk di sofa sambil menonton tv
"Nai kamu sudah putuskan hubungan dengan raka" tanya Hanifah
"Belum kak kenapa?" Jawab Naila sambil memakan cemilan dimeja
"Nai kakak kan sudah bilang sama kamu putuskan hubungan kalian apa kamu gak kasihan sama Abi" kata Hanifah
"Abi aja gak kasihan sama Naila" dia tidak perduli dengan ucapan kakaknya
"Jaga omongan kamu nai Abi itu sayang sama kamu kalo dia gak sayang dia gak akan nitip kamu ke kakak"
"Kalo dia sayang sama nai dia gak akan ninggalin nai" sindir Naila yang masih makan cemilan
"Kakak gak mau pokoknya pustuskan hubungan kamu sekarang" marah Hanifah dnegan sedikit membentak
"Nanti nai pustuskan" Naila pun pasrah dia tidka mau berdebat dengan kakaknya dia ingin hidup tenang
"Kakak maunya sekarang bukan nanti" kata Hanifah
"Kalo sekarang gimana mau ngomongnya coba" ucap Naila
"Kamu bisa kan telpon dia atau chat dia" ujar Hanifah
"Ok aku mau ambil handphonenya dulu" kemudian Naila pun mengambil handphonenya di kamar lalu kembali lagi ke tempat tadi
Naila
Raka
Raka
Iya ada apa sayang
Naila
Aku mau putuskan hubungan ini ka
Sayang
Loh kenapa nai memang salah ku apa nai
Naila
Kamu gak salah aku cuma mau kita putus
Sayang
Pasti karna disuruh kakak kamu kan nai
Nai jawab?
Nai?
Sayang?
Nai aku cinta sama kamu nai
Nai aku mohon?
Nai kalo memang kamu gak mau kita pacaran kita bisa menikah nai aku akan melamar mu nai?
Nai jawab!
Nai
Sayang
Nai?
"Aku udah putusin pacarku" kata Naila
"Syukurlah makasih nai udah mau nurutin kakak" ucap Hanifah
"Kak kalo aku gak pacaran dengan Raka kita bisa kan kak nikah Raka mengajakku nikah" bujuk Naila
"Naila" kaget Raihan kenapa dia merasa cemburu jika Naila menikah dengan orang lain apa mungkin dia ada perasaan suka sama Naila
"Kenapa kamu kaget gitu mas" tanya istrinya
"Eng...ggakk...paa..paa sih kaget aja gitu kenapa dia tiba-tiba ngajak nikah, menurutku Naila jangan mau nikah sama dia Raka itu bukan cowok baik-baik mana ada sih cowok baik memegang paha perempuan" jawab Raihan dengan gugup
"Bapak gak usah deh ikut campur masalah gw dengan kakak gw" marah Naila
"Hah? Nai apa benar yang dikatakan suami kakak kamu di pegang sama dia kenapa kamu diam aja nai jawab kakak" marah Hanifah
"Itu udah biasa kak gak perlu khawatir" jawab dengan santainya
"Menurut kamu biasa saja nai dia itu sudah melecehkan kamu" emosi Hanifah
"Itu beda kak kalo aku dilecehkan itu aku sudah diperkosa sama dia kak sama sekali aku belum memberikan mahkota ku ke dia" kata Naila
"Sama aja nai" ucap Hanifah
"Seterah kakak aku pusing nurutin kemauan kakak terus" Naila pun langsung pergi ke kamarnya
"Ya Allah kapan adik hamba berubah" kata Hanifah
"Sabar Han aku yakin kok dia pasti berubah" Raihan menenangkan istrinya dengan mengusap bahunya
Pagi hari kepala Hanifah pusing dan mual hari ini lalu dia mengecek dengan tes pack apakah dia hamil atau tidak dikamar mandi Hanifah menangis karena hasilnya negatif sampai hari ini dia belum hamil sudah 7 tahun Pernikahan mereka tapi belum dikaruniai anak sekarang umur Raihan sudah 29 tahun sedangkan Hanifah sudah 28 tahun
Dia ingin sekali memberikan suaminya keturunan tapi dia gak bisa Raihan yang sedang dikamar dia mendengar tangisan istrinya di kamar mandi dia mengetuk pintu kamar mandi
"Sayang kamu kenapa nangis" mengetuk pintu kamar mandi Hanifah membukakan pintu kamar mandinya dengan mata sembab dan menyembunyikan sesuatu dibelakangnya
"Yang dibelakang apa itu" tanya Raihan yang melihat sesuatu di belakang Hanifah
"Bukan apa-apa kok mas" jawab dengan bohong
"Jangan bohong Han" kata Raihan dia langsung mengambil sesuatu dari tangan istrinya dan dia kaget melihat tes pack yang dipegang Hanifah
"Negatif" lanjutnya
"Maaf mas aku belum bisa hamil" maaf Hanifah dengan menundukkan kepalanya
"Udah Gak usah pikirin itu aku cuma mau kita bersama-sama Han kita bisa kok adopsi anak" kata Raihan sambil memeluk istrinya dan mengusap kepalanya
"Mas aku cuma mau anak dari kamu mas aku gak mau adopsi" kata Hanifah
"Mau gimana lagi han kita belum bisa sayang mungkin kita belum dikasih anak oleh Allah" ucap Raihan
"Apa mas mau turuti permintaanku" tanya Hanifah dengan ragu
"Kamu mau apa sayang pasti aku akan turuti" Raihan mengusap pipi istrinya
"Aku ingin kamu menikah dnegan adikku mas" kata Hanifah
"Apa? kamu gila Han Jangan aneh-aneh sampai kapan pun aku gak akan nuruti permintaan mu yang gila itu" marah Raihan dengan memalingkan wajahnya ke istrinya "Mas aku mohon ini demi kita mas" bujuk Hanifah dengan memeluk lengannya tapi Raihan malah menghempaskannya dan meninggalkan istrinya itu Raihan pergi dari rumah dia heran dengan istrinya kenapa sampai bicara begitu sih?
"Bapak mau kemana" tanya Naila yang melihat Raihan keluar dari kamarnya dan melewati Naila tidak ada sahutan dari Raihan dia langsung pergi dari rumahnya
"Ada apa dengan mereka" batin Naila kemudian dia langsung ke kamar kakaknya untuk mengecek ada apa sebenarnya dia melihat kakaknya menangis di lantai dengan terduduk
"Kakak kenapa" tanya Naila
"Hiks...hiks..." Hanifah memekikk adiknya itu sembari menangis
"Kakak kenapa cerita sama aku" kata Naila sembari mengusap punggung kakaknya kemudian melepaskan pelukannya dan Hanifah pun memberi tes pack itu ke Naila
"Negatif? Mungkin kakak belum dikaruniai anak kakak yang sabar yah pasti Allah berikan anak untuk kalian" nasihat Naila
"Nai apa kakak boleh minta sesuatu dari kamu" kata Hanifah dengan menggenggam kedua tangan Naila
"Kakak mau apa pasti aku berikan" tanya Naila
"Kakak minta kamu menikah dengan suami kakak" jawab Hanifah
"Kakak gila? Mana mungkin suami kakak mau menikahi adik iparnya sendiri kak jangan aneh-aneh deh" kata Naila
"Nai kakak mohon sama kamu nai bantu kakak" ucap Hanifah dengan memohon
"Ok tapi ini demi kakak" ujar Naila
"Makasih nai" balas Hanifah dengan memeluk adiknya
Raihan pergi ke rumah bundanya dia langsung masuk ke rumah bundanya orang tuanya heran kenapa anaknya pergi dari rumah
"Han kamu kenapa pergi dari rumah" tanya ayahnya
"Hani yah dia minta aku buat nikah dengan adiknya" jawab Raihan
"Memangnya kenapa Hani menyuruh kamu menikah lagi" kata bunda
"Karena Hani belum bisa kasih aku anak Bun" ucap Raihan
"Han bunda sama ayah sudah tua kami juga ingin menggendong bayi dari kamu Han" ujar bundanya
"Tapi Bun Raihan gak bisa menikahi adiknya dia itu adik iparku bun" balas Raihan
"Apa salahnya sah-sah aja kok ayah ingin kalian menikah Naila itu cantik kok baik lagi" kata ayahnya
"Kenapa kalian malah menyetujui permintaan Hanifah sih" ucap Raihan
"Karna kami juga ingin menggendong anak Han sah-sah aja kalian menikah kalian bukan adik kakak kandung kan" bela ayahnya
"Bunda mohon Sama kamu tolong nikah lagi yah" mohon bundanya Raihan pun pasrah dia mengikuti permintaan mereka
"Ok aku bakal nikah lagi dengan Naila" jawab Raihan dengan pasrah
"Cepat kamu pulang ke rumah kasihan istri kamu seharusnya kamu jangan lari dalam masalah" nasihat ayah kemudian Raihan pergi ke rumahnya dia masuk ke rumahnya sudah ada Naila yang sedang memenangi kakaknya
"Aku menyetujui permintaan kamu untuk nikah lagi" kata Raihan
"Yang benar mas makasih mas" dia berhenti dari tangisannya dan memeluk suaminya itu
"Nai apa kamu mau menikah dengan ku" ujar Raihan duduk di sofa depan Naila
"Yah demi kakakku Hanifah" balas Naila dengan tersenyum tipis Raihan pun membalasnya dengan tersenyum
"Kak bagaimana dengan orang tua kita kak" tanya Naila dnegan bingung
"Tadi kakak sudah bicara sama mereka kok kata mereka seterah kalian saja" jawab
Hanifah dengan senyum
"Semoga kakak bahagia jika aku menikah dengan kak Raihan" kata Naila
"Kakak akan bahagia kok" dengan memeluk adiknya itu dengan erat
"Nanti besok kita fitting baju pengantin yah kakak bakal persiapin pernikahan kalian" kata Hanifah
"Mas seterah Naila saja" Raihan aja nurut dengan permintaan istrinya dia ingin membahagiakan istrinya itu
"Kenapa saya merasa bahagia ingin menikah lagi dengan Naila apa ada perasaan suka dengan Naila apa lagi dia tersenyum bikin saya tersenyum astagfirullah maaf kan hambamu ini ya Rabb" istigfar Raihan
"Kenapa sih Raihan melihat gw segitunya sih gw gak boleh suka sama dia ingat ini demi kakak lu nai" gumam Naila
Malam ini Naila tinggal dirumah orang tuanya karena orang tuanya tadi malam dia datang menjemput Naila di rumah calon suaminya karena besok malam Naila akan dilamar oleh Raihan di rumah orang tuanya
"Akhirnya aku senang deh tinggal bareng Abi dan umi lagi" dengan bahagianya Naila bisa berkumpul dengan keluarganya lagi
"Nai nanti kamu pakai hijab besok malam kamu harus berubah penampilannya nai jangan pakai pakaian ketat lagi kamu gak kasihan sama Abi kamu harus menanggung dosa kamu nai" nasihat umi dengan mengusap kepal Naila yang terbaring di pangkuan uminya sambil menonton tv
"Naila belum bisa umi karena akhlak aku belum bisa berubah umi" kata Naila
"Nai masalah akhlak nanti juga bisa kok berubah dengan perlahan-lahan Kao kita gak berubah dan menunggu hidayah kapan hidayah itu datang nai masa kita harus tunggu sih Kao misanya kita mati disaat hidayah itu belum datang gimana kita mau bawa bekal di akhirat nanti, yang penting kamu berubah dulu dengan pakaian sopan nanti juga perlahan-lahan kamu berubah nai" nasihat umi yang paling dirindukan oleh Naila dia rindu dengan suasana ini
Pagi hari Hanifah pergi ke rumah orang tuanya untuk memberikan baju Naila yah dia memang kakak terbaik dan perhatian dengan adiknya
"Assalamu'alaikum umi" ucap salam Hanifah kemudian mencium tangan uminya
"Wa'alaikumussalam" jawab salam uminya yang membukakan pintu rumahnya
"Hani ke sini mau kasih Naila baju" kata Hanifah
"Naila lagi dikamar nya han kamu ke atas aja yah oh ya umi titip pesan sama kamu tolong rubah tuh anak umi seperti kamu Han" nasihat umi lalu Hani mengangguk sambil tertawa lalu dia ke atas menemui adiknya itu
"Assalamu'alaikum" ucap salam Hanifah yang mengetuk pintu kamar dan dibukakan oleh adiknya
"Wa'alaikumussalam kakak sama siapa ke sini" tanya Naila yang sedang mengurus tugas kuliahnya
"Tadi kakak sendiri ke sininya, kamu lagi ngerjain tugas yah maaf ganggu yah" jawab Hanifah
"Enggak kok gak cuma lagu ngerjain tugas pak Raihan aja" kata Naila yang masih mengetik laptopnya
"Ciee lagi ngerjain tugas dari calon suaminya" goda Hanifah
"Apaan sih kak ini kan tugas seorang mahasiswi yang mengerjakan tugas dari dosennya" tegas Naila sembari mengetik laptopnya
"Mas Raihan kalo di kampus gimana nai" tanya Hanifah
"Dia kalo di kampus mukanya datar kak mana dingin lagi mukanya bicara aja sedikit doang" jawab Naila
"Dia memang begitu tapi Kalo udah kenal huuu perhatian banget tau terus cerewet dan suka manjain istrinya loh" kata Hanifah
"Tapi aku gak suka sama dia kak kaya es batu sikapnya pokoknya gak suka deh" ucap Naila yang sedang menjelekkan calon suaminya tiba-tiba calon suaminya datang yang berada di depan pintu kamarnya
"Terus kenapa kamu nerima kak Raihan" tanya lelaki itu yang baru datang Naila masih fokus dengan tugasnya
"Ya karena..." Belum saja menjawab dia melihat sudah ada calon suaminya di depan pintu kamarnya
"Loh kok bapak ada disini sih katanya Kakak ke sini sendiri" kata Naila
"Kakak juga gak tau loh nai tadi kakak ke sini sendiri kok" ucap Hanifah
"Saya ke sini mau menjemput istri saya" ujar Raihan menghampiri mereka berdua "oh" jawab Naila dengan singkat
"Oh yah nai ini kakak bawain baju buat kamu nanti pas malam dipake yah buat lamaran kamu" kata Hanifah sambil memberikan plastik yang didalamnya baju kepada Naila
"Makasih loh kak ngerepotin segala" ucap terima kasih Naila
"Gak ngerepotin kok ini hanya sebagai terima kasih kakak ke kamu" Hanifah tersenyum Naila pun ikut tersenyum
"Kamu lagi ngerjain tugas apa nai" tanya Raihan yang melihat tugasnya berserakan dimana-mana
"Masih aja gak nyadar orang lagi ngerjain tugas dia juga" gumam Naila
"Tugas bapak numpuk nih" jawab Naila
"Oh lain kali tugasnya jangan ditumpuk jadi kerepotan kan" nasihat Raihan dengan dingin
"Ini kan tugas dari bapak kemarin mana banyak lagi" sinis Naila
"Mas kira-kira dong ngasih tugas ke calon istri mas" omel Hanifah
"Omel aja kak kebiasaan kalo ngasih tugas tuh banyak biar tau rasa nanti aku anggurin dia kak" kata Naila
"Benar tuh kalo mas udha nikah Naila pasti mas dianggurin Sama Naila Karena sibuk ngurusin tugas dari mas" bela Hanifah
"Syukuri emang enak di omelin" ledek Naila dengan mengeluarkan lidahnya
"Ya maaf" permintaan maaf Raihan
"Udah deh pak mending pergi deh gw mau ngurusin tugas dulu" usir Naila
"Kamu gak boleh gitu nai gak baik ngusir calon suami" nasihat Hanifah
"Udah yah mending sekarang kakak sama bapak pergi deh aku lagu pusing nih ngerjain tugas kuliahku" kata Naila
"Yaudah kakak tunggu dibawah yah" pamit Hanifah kemudian meninggalkan kamar
Naila sedangkan Raihan masih berada dikamar Naila
"Maaf yah gara-gara saya kamu jadi banyak tuga" maaf Raihan dengan wajah sedihnya
"Hmm" Naila hanya berdehem dia tidka perduli dengan ucapan suaminya dia masih sibuk dengan tugasnya
"Ehmm... Mau saya bantuin gak" tawaran Raihan tidak ada sahutan dari Naila dia masih berkutik dengan laptopnya
"Nai" panggil Raihan
"Hmm" deheman Naila yang fokus dnegan laptopnya
"Nai aku bicara sama kamu loh ada yang bisa saya bantu gak" tanya Raihan yang melihat Naila menghadapn ke arahnya
"Saya minta kurangi tugas saya" jawab Naila dengan sinis
"Gak bisa gitu nai kamu kan mahasiswi saya" ujar Raihan
"Yaudah kalo gak bisa lebih baik bapak keluar jangan ganggu saya" usir Naila
"Tapi nai??" Kata Raihan
"Udah pergi sana ganggu aja deh" mencoba mendorong Raihan sampai keluar kamar lalu menutup pintu kamarnya dengan keras kemudian Raihan pun ke bawah untuk menemui istrinya
"Naila kenapa" Hanifah mendengar suara bantingan pintu dari kamar Naila
"Gak tadi aku mau bantuin Naila eh malah dia marah-marah" kata Raihan
"Dia kalo lagi banyak tugas emang gitu suka pusing dan gak mau pikirin yang lain" ucap umi yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga di ruang makan
"Naila udah makan belum umi" tanya Raihan
"Dia belum makan dari tadi tuh dia sibuk dengan tugasnya dari malam tuh" jawab uminya
"Belum makan!" Kaget Raihan mendengar perkataan uminya
"Kenapa mas kok khawatir gitu sih" tanya Hanifah
"Hmm... Gimana gak khawatir sih deh melihat adik iparnya belum makan loh" jawab
Raihan dnegan berbohong
"Oh kirain aku kamu suka sama adik aku awas yah jangan sampai suka kamu menikah dengan dia cuma karena ingin anak yah" ujar Hanifah
"Untung aja dia percaya jangan sampai Hani tau kalo saya sudah mulai suka dengan Naila" batin Raihan dengan lega
"emang kenapa Han gak salah kan kalo suami kamu suka dengan calon istrinya sendiri" tanya uminya
"Aku gak mau umi sampai mas Raihan berpaling dariku nanti kasih sayangnya ke aku hilang lagi" jawab Hanifah dengan takut
"Jangan suudzon sama adikmu dan suamimu loh" nasihat umi
"Siapa yang suudzon aku nyuruh Naila buat nikah sama mas Raihan cuma karena anak kok terus kalo Naila lahir suamiku bakal talak Naila" kata Hanifah
"Han nikah itu bukan main-main aku gak yah Sama kamu kaya gitu nikah itu hanya sekali nanti gak ada kata cerai aku masih bisa adil kok untuk kalian" ucap Raihan
"Benar kata suamimu Han nikah itu gak main-main emang kamu mau adikmu nanti jadi janda kamu itu jangan mikirin perasaan kamu aja dong pikirin adik kamu juga" ujar umi
"Aku gak mau tau setelah Naila melahirkan mas Raihan harus cerain Naila" Hanifah langsung pergi dari rumah uminya
"Aku ngejar Hani dulu Bu assalamu'alaikum" ucap salam Raihan kemudian menyusul istrinya
"Wa'alaikumussalam" jawab salam uminya
"Han tunggu" panggil Raihan yang sudah di depan rumahnya
"Ada apa lagi jangan-jangan mas suka sama naila Iyah jawab mas" kata Hanifah
"Han aku itu cuma cinta sama kamu, aku bakal turutin perintah kamu ok tapi tolong jangan ngambek lagi yah" sambil menggenggam tangan Hanifah kemudian mencium kening istrinya