Embusan napas kasar mencelos melalui celah antara bingkai birai tipis milik Latasha Revalina Mahendra yang berjarak, begitu wanita cantik berusia dua puluh tahun itu memasuki kamar.
Menggeleng tak habis pikir, kedua lengan Reva spontan bersedekap di area dada, selagi manik mata hazel indahnya dibiarkan untuk menatap sesosok pria tampan yang terbaring di permukaan ranjang.
Mengayunkan tungkai yang terbalut slipper berwarna putih tulang, pribadi pemilik surai lurus dengan panjang sepinggang itu berjalan perlahan, menghampiri ranjang, lantas mendudukan diri di tepian benda persegi tersebut.
"Uncle!" Reva menyeru pelan.
Melepaskan sedakepan lengan, telapak tangan sebelah kiri wanita cantik itu melayang, hingga melabuhkan sebuah pukulan yang tak seberapa kencang ke permukaan lengan kekar milik pria tampan yang ada di hadapan.
Tidak mendapatkan respon maupun gubrisan, Reva membungkuk, mencondongkan dirinya ke arah pria tampan tersebut.
"Uncle!" Reva kembali menyeru seraya melabuhkan sentuhan di permukaan bahu sebelah kanan Sebastian Alvero Abraham, tak lupa memberi sedikit guncangan berarti juga di sana.
"Eummm?" Vero - begitu singkatnya pria berusia dua puluh delapan tahun itu biasa disapa, mengerang pelan tanpa membuka pelupuk mata yang sedari tadi memang sudah memejam.
Mendapati Vero memberi respon begitu acuh, Reva membuang napas kasar, lantas menegakan kembali tubuhnya, duduk dengan posisi sempurna.
"Kok udah tidur? Gak nungguin aku?"
"Saya capek, Rev. Ngantuk juga," tutur Vero bernada gumaman yang nyaris terdengar ayalnya sebuah rengekan.
Reva mendengkus, kemudian mengedarkan pandangannya, sekilas. "Ini malem pertama kita loh, Uncle."
Hening. Vero diam lagi, tidak merespon perkataan Reva, karena kesadarannya sudah benar-benar hampir terkikis habis oleh rasa lelah juga kantuk.
"Uncle ....!" Reva merengek sembari kembali mengguncang bahu Vero, berharap tindakan yang dilakukan bisa membuat suami tampannya itu terbangun, lantas bersedia berbincang dengannya, meskipun hanya sebentar.
Kenyataan bahwa ini adalah malam pertamanya bersama Vero sebagai sepasang suami istri, membuat Reva jadi tidak bisa tenang.
Terlebih, wanita cantik pemilik senyum manis berlesung pipi itu, kini tengah berada di kamar yang ada di unit apartemen milik Vero.
"Uncle! Bangun dulu bentar." Reva kembali merengek sambil terus mengguncang bahu Vero, mengganggu tidur pria tampan yang telah resmi mempersunting dirinya siang tadi itu.
Vero mendengkus kesal, lantas menolehkan kepala, jadi tidur dalam posisi memunggungi Reva seutuhnya.
Agaknya pribadi tampan pemilik surai lembut berwarna hitam legam itu memang tidak sedikit pun memiliki niatan untuk meladeni rengekan sang istri.
Melihat Vero tak kunjung mengindahkan rengekan yang telah dilakukan, Reva mulai merasa kesal sendiri.
"Uncle bangun dulu, bisa gak sih?!"
Vero melenguh pelan. "Apa sih, Rev?" tanyanya, sembari menolehkan kepala ke arah Reva, tapi masih tak kunjung membuka mata.
Mendengkus kesal, Reva mengatupkan bibirnya cukup rapat, sedang kedua pipinya menyembul, menekuk hidung kecilnya hingga terlihat sedikit mengernyit dan tenggelam.
Menggerakan manik matanya dengan bimbang, sejurus kemudian, senyum nakal tertoreh di permukaan bibir wanita cantik itu, saat sebuah ide cemerlang datang menghinggapi benak.
Melabuhkan sentuhan lembut, lebih pada menggoda secara berkala di area bahu hingga dada bidang Vero, Reva membungkuk, mencondongkan tubuhnya lagi ke arah Vero seperti sebelumnya.
"Uncle gak mau unboxing aku dulu, gitu?" Bisikan itu menguar, terdengar cukup sensual, membersamai embusan napas bersuhu agak hangat yang berhambur, menyentuh daun telinga sebelah kanan Vero.
Vero kaget, meski sempat ada jeda tiga detik, selanjutnya pribadi tampan itu serta merta membuka pelupuk mata dengan pergerakan cepat.
Reva tersenyum senang, penuh kemenangan, kemudian menegakan posisi duduk, tanpa mengalihkan sedikitpun atensi dari Vero.
"Bangun dulu, Uncle."
Vero memejam lagi sembari membuang napas kasar, merasa sangat terganggu atas tindakan Reva, ia beringsut, mendudukan diri dengan wajah suram penuh marah.
"Mau apa?" Vero bertanya dengan begitu dinginnya.
Bibir Reva refleks mencebik, membersamai hati yang agak perih seperti habis dicubit, sebab merasa mendapat bentakan untuk kali pertama dari Vero.
Menyadari ada perubahan suasana, Vero mengusap kasar permukaan wajahnya menggunakan telapak tangan sebelah kiri, lantas tersenyum lembut sembari menatap Reva, hangat. "Mau apa, hemmm?"
Pria tampan itu sengaja sekali merubah nada juga intonasi suara yang digunakan, berikut dengan tatapannya yang seketika meluruh, setelah menyadari Reva sempat terkejut, tadi.
Manik hazel indah Reva gemetar, menatap Vero, takut-takut. "Uncle gak boleh tidur duluan."
"Kenapa?"
"Ya soalnya, aku jadi bingung."
Vero mengernyitkan kening, sedang matanya agak memicing, menatap Reva, nanar. "Bingung kenapa?"
"Ya pokoknya bingung."
"Iya, bingung kenapa?"
"Bingung harus tidur di mana," cicit Reva, begitu pelan, nyaris saja tidak terdengar, sebab begitu bertutur, ia menundukan kepala, memutuskan kontak mata dengan Vero.
Vero sampai melongo, mulai merasa tidak habis pikir, mendapati alasan tidurnya diganggu oleh Reva, hanya karena sebuah alasan sederhana.
"Kan bisa tidur di sini. Gak harus berisik, Rev. Kamu ganggu tidur saya, kamu tahu?"
Vero kesal, jadinya sampai tidak sadar meninggikian intonasi pada kalimat kedua yang dilontarkan, memberi kesan seperti sedang membentak, membuat Reva sedikit terkesiap.
Menghela napas panjang dan mengembuskannya secara pelan, Vero berusaha untuk mensugestikan dirinya agar kembali tenang, kendati keadaan lelah juga mengantuk yang diganggu, membuatnya merasa cukup emosi.
"Ya udah." Reva menengadah secara perlahan, mencuri-curi pendang ke arah Vero, lantas menunjuk sisi lain dari tempat tidur yang kosong. "Uncle geser ke sana. Aku mau tidur sebelah sini."
Ada keinginan untuk setidaknya melabuhkan cubitan di kedua sisi pipi Reva, untuk sekadar melampiaskan kekesalan yang dirasa, tapi Vero memilih untuk menahannya.
Membuang napas kasar, pria tampan bersurai hitam legam itu lantas menuruti keinginan istri rewelnya, bergeser, menempati sisi kosong tempat tidur yang sebenarnya, sengaja ia sediakan untuk Reva, begitu wanitanya itu selesai membersihkan diri.
"Udah. Kamu puas sekarang?"
Reva melirik Vero. Bibirnya mencebik lagi, mengetahui jika dirinya sudah membuat suasana hati sang suami jadi tidak baik.
Memposisikan diri untuk bersiap berbaring, menarik selimut, Reva memunggungi Vero sembari meremat erat tepian selimut yang berlabuh di area dadanya.
Merasakan tempat tidur agak sedikit bergoyang, Reva memejam, sesaat.
"Uncle?"
"Hemmm?"
Tidak tahu mau bicara apa, toh sebenarnya Reva hanya ingin memastikan, jika suami tampannya itu belum kembali terlelap, hanya sudah memposisikan diri untuk berbaring, seperti dirinya.
Vero menunggu Reva kembali angkat suara, ketika mendapati sang istri hanya diam bergeming, ia menoleh. "Kamu mau ngomong apa?"
Mendengar Vero bertanya dengan nada lembut, tidak ada indikasi membentak atau kesal sama sekali, Reva lantas memberanikan diri untuk berbalik, menghadap ke arah Vero.
Saling bersitatap tanpa berucap selama beberapa detik, Reva menelan ludahnya dengan kepayahan. "Uncle."
"Hemmm?"
"Cerai yuk?"
"Ha?!"
Mengulurkan tangan, Reva menarik lengan Vero, mengguncangnya pelan beberapa kali. "Ayo, cerai!" rengeknya.
"Kamu sakit, ya?" Vero mengernyitkan kening, bertanya sembari melabuhkan telapak tangannya di permukaan kening Reva.
Reva berdesis pelan seraya menyingkirkan tangan Vero, lalu menggenggamnya agar tetap diam. "Aku gak sakit."
"Kalau gak lagi sakit, berarti kamu lagi ngelindur."
"Aku serius, Uncle. Ayok cerai."
Vero menatap Reva, tidak percaya. "Kita baru nikah hari ini, Rev."
"Maka dari itu. Mumpung baru sehari, jadinya belum banyak yang kita lakuin. Ayok cerai, hemm?"
Memejam, Vero memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri untuk beberapa saat. "Tidur. Ini udah malem. Kamu butuh banyak istirahat biar gak rewel."
Vero membenarkan selimut yang membalut tubuh Reva, lantas memberi tepukan pelan di permukaan bahu istri cantiknya itu secara berulang. Ia memejam, kemudian.
"Uncle, aku beneran serius. Ayo cera-"
Reva tidak diberi waktu untuk kembali merengek, meski sempat memberi guncangan lagi di lengan Vero, sebab suami tampannya itu kembali membuka mata, sembari menarik paksa tangannya sampai menubruk kepala ranjang pun Vero tahu-tahu sudah berada di atasnya, mengikat kuat kedua pergelangan tangannya.
"Bisa diem, gak?"
Manik mata jelaga indah Vero menyalang, menatap lekat pada tekstur wajah Reva.
Mata Reva membola. Suara tegukan ludahnya sampai terdengar, membersamai raut wajahnya yang memetakan kegugupan.
"Kamu tuh nganggep pernikahan itu semacem permainan atau apa, sih?" Vero bertutur dengan dingin, diiringi tatapan penuh intimidasi, sedang air mukanya merah padam, syarat akan keseriusan.
Reva menelengkan kepala ke kanan, tidak kuasa bersitatap dengan Vero dalam jarak sedekat ini, sebab membuat degup jantungnya berpacu cepat.
"Bersikap sedikit dewasa, bisa gak?"
Iris hitam itu masih menilik wajah cantik Reva, lekat. "Kenapa diem?"
"Kan Uncle tadi yang nyuruh aku diem," tukas Reva dengan begitu lugunya sembari mempertemukan pandangan dengan Vero.
Vero memejam sesaat. "Kamu kenapa tiba-tiba ngajak cerai?"
"Eummm. I-Itu-" Reva menjawab takut-takut, bahkan memutuskan kontak mata lagi dengan Vero untuk yang kesekian kali.
"Itu apa? Bukannya kamu bilang mau cepet-cepet nikah? Sekarang udah nikah, kok malah mau cerai?"
"Iya, emang. Emang iya, aku mau cepet nikah, tapi aku gak pernah bilang, kalau aku mau nikahnya sama Uncle!" Reva memberanikan diri menatap Vero dengan matanya yang melotot.
Alih-alih seram, tatapannya itu malah terlihat begitu menggemaskan, matanya yang besar, terlihat mirip seperti bola mata rusa.
Vero sampai harus menahan bingkai birainya agar tidak merenggang, karena tidak mau tersenyum tiba-tiba, saat situasinya seharusnya terasa menegangkan.
Menundukan pandangan, pribadi tampan itu mengatupkan bibir rapat-rapat, untuk sesaat, lantas mengangguk, gamang. "Tapi kan, kamu bilang nikahnya sama siapa aja. Asal secepetnya."
Reva berdehem canggung. "Eumm, iya sih. Tapi-"
"Tapi apa?"
Reva menelan ludahnya kasar dengan susah payah. "Aku jadi ngerasa gak nyaman, Uncle. Mungkin karena belum terbiasa, harus bobok berdua sama cowok."
Vero mengangguk paham. "Ok. Terus?"
Reva mengulum bibir bawahnya sesaat. "Jadi ... bisa gak, kita pisah kamar dulu?"
"Kamu ngusir saya?"
Reva buru-buru menggeleng. "Enggak."
"Terus?"
Diam memaku beberapa saat, Reva lantas berdehem singkat. "Pokoknya aku mau pisah kamar, kalau enggak ayok cerai!"
Mengatupkan bingkai birai setelah berucap, Reva tidak sadar saja, jika atensi Vero sudah terpikat dan terfokus hanya di permukaan bibirnya, selepas sempat ia kulum sebentar tadi.
Bergerak seperti menggunakan efek slow motion, terlihat merah merona, tipis juga manis, ingin sekali Vero terkam dengan segera, meski sempat dicoba seusai pengucapan janji suci pernikahan siang tadi.
"Bukannya tadi gangguin saya tidur itu, kamu nawarin diri, biar cepet-cepet saya unboxing?" Vero bertanya sembari mengalihkan pandangan, dari yang semula menatap bibir Reva, kini menatap wajah cantik sang istri.
Tatkala semburat merah itu menyembul, menandakan Reva sedang tersipu, Vero tersenyum miring, mendekati menyeringai.
Reva berdehem kikuk. "Aku kan cuman bercanda."
"Tapi saya nganggepnya serius."
Perkataan Vero sebenarnya sudah lebih cukup untuk membuat Reva terkejut, ditambah dengan tindakan yang dilakukan pribadi tampan itu, Reva jadi diam mematung dengan mata yang membola.
Betapa tidak, tanpa memberi sedikit pun waktu bagi Reva untuk melakukan paling tidak persiapan, Vero dengan cepat tiba-tiba mendekatkan wajah, lantas meraup bibir tipis Reva.
Reva terkesiap, membersamai persendian di sekujur tubuhnya yang menegang, sementara debaran jantungnya mengalami percepatan.
Pelupuk mata wanita cantik itu mengerjap cepat beberapa kali, sebelum kemudian berhenti bekerja.
Merasakan tidak ada sedikit pun pergerakan yang sang istri lakukan, selepas membiarkan permukaan bibirnya bertemu dengan bibir Reva, Vero lantas menarik diri.
Tersenyum senang, Vero mengecup singkat bibir sang istri sekali lagi. "Napas, Rev."
Mengerjap cepat, Reva mengembuskan napas yang sebelumnya sudah tanpa ia sadari ia tahan dengan satu kali hentakan kasar.
Manik mata wanita cantik itu gemetar, bersirobok dengan manik jelaga indah milik Vero yang menatapnya gemas. "U-Uncle abis ngapain?"
Tersenyum simpul, melepaskan cekalannya pada kedua pergelangan tangan Reva, Vero lantas beringsut, mendudukan diri tepat di samping tubuh istri cantiknya itu.
"Unboxingnya lain kali aja," tukas Vero dengan begitu santainya.
"U-Uncle barusan nyi-nyium aku?!" Reva memekik saat kenyataan itu akhirnya berhasil memukul keras benak, membuatnya menyadari, apa sebenanya yang baru saja dialami.
Vero terkekeh. "Iya. Kenapa? Gak boleh?"
Deru napas Reva memburu, tatkala wanita cantik itu ikut mendudukan diri, tanpa mengalihkan sedikit pun atensi, membiarkan manik mata hazel indahnya menyalang, menatap Vero dengan tatapan tajam, sedang wajahnya sudah begitu memerah, antara tersipu juga memendam marah dalam satu waktu.
Melihat reaksi yang Reva tunjukan, Vero terkekeh sinis, juga menatap istri cantiknya yang kini duduk saling berhadapan dengannya itu dengan tatapan mencibir. "Sok-sok'an minta diunboxing, dicium gitu doang aja langsung panik," ejeknya sembari membangkitkan diri.
"Uncle mau ke mana?" Reva buru-buru meraih pergelangan tangan sebelah kiri Vero, membuat pergerakan suami tampannya itu terhentikan seketika.
"Mau ke luar. Katanya kan tadi kamu gak nyaman tidur bareng saya."
"Abis nyium aku, Uncle mau pergi gitu aja gitu? Ninggalin aku?" Reva menatap garang wajah tampan Vero yang tampak begitu tenang, sedang dirinya tengah dilanda kekesalan.
Mendengkus sembari tersenyum menyeraingai, Vero menaikan alis sebelah kirinya, sedang matanya dibiarkan memicing, menatap Reva, penuh telisik. "Kenapa emang? Kamu mau saya ngelakuin hal lebih ke kamu?"
Rona merah yang sempat memudar di wajah Reva, kembali singgah, mendengar Vero bertanya dengan memberikan kesan sedikit menggoda.
Reva berdehem sembari mengalihkan pandangannya dari Vero, sekilas, kemudian menggeleng cepat. "Enggak, kok. E-enggak gitu."
"Terus kalau gak gitu, gimana? Kamu jangan bikin saya bingung, Rev."
Mendengkus kesal, Reva menepis tangan Vero dari genggamannya. Bibirnya mencebik lucu. "Ya udah, pergi sana."
Melihat Reva merajuk dengan kepala yang tertunduk, tidak mempertemukan pandangan dengannya, sedang bibir istri cantiknya itu masih mencebik, Vero tersenyum.
Lantas pribadi tampan itu mendudukan dirinya lagi, bahkan mencondongkan tubuhnya ke arah Reva, sebelum kemudian dengan pergerakan cepat, kembali mencuri kecupan di bibirnya.
Reva terkesiap, sontak menengadah dan menarik diri dari Vero.
Mendapati Vero tengah menatapnya sambil tersenyum senang, Reva mendaratkan pukulan di permukaan bahu sebelah kanan suami tampannya itu. "Uncle jadi aneh kalau udah nikah!"
Vero terkekeh. Menegakan posisi duduk, ia mengusap puncak kepala Reva lembut, penuh kasih. "Tidur sana. Ini udah malem."
Reva menepis kesal pergelangan tangan Vero. "Uncle aneh!"
Menatap Reva dengan tatapan lekat untuk beberapa saat, Vero lantas mengalihkan pandangan, membangkitkan diri lagi dari duduknya. "Kalau kamu butuh sesuatu, saya ada di ruang tamu."
Reva membiarkan manik mata hazel indahnya yang menyalang mengikuti setiap gerik yang Vero lakukan, menatap pribadi tampan itu berjalan menuju pintu utama dari kamar yang saat ini tengah ditempatinya.
Membuka pintu, sebelum mengayunkan tungkai untuk ke luar, Vero menghentikan langkah, lantas menoleh ke arah Reva. Ia tersenyum. "Selamat malam, Manis."
"Uncle aneh! Ih! Pokoknya nyebelin!"
Tidak menggubris ocehan Reva, Vero melenggang melewati ambang pintu, lantas kembali menutupnya.
Berdiri di depan pintu kamar, mendengar Reva tak henti-hentinya mengoceh di dalam sana, Vero tersenyum miring, lantas mengusap pelan permukaan bibirnya menggunakan bantalan ibu jari.
Terkekeh, pribadi tampan itu menggeleng tidak percaya. "Dia rewel, tapi gemesin."
Cukup lama diam memaku dan bergeming, selagi membiarkan manik mata hazel indahnya menatap permukaan pintu kamar yang saat ini ditempati - selepas Vero pergi, Reva membuang napas kasar sembari menundukan pandangannya, sebentar.
Perlahan membaringkan tubuh dalam posisi miring - masih menghadap ke arah pintu, Reva menggigit gugup bibir bawahnya.
Tatapan matanya terlihat begitu sendu, menyorotkan banyak arti yang tidak mampu dibaca dengan mudah.
Mengerjap pelan, pandangan Reva akhirnya teralihkan. Kini ia menatap permukaan tempat tidur kosong di sampingnya dengan tatapan nanar.
"Apa keputusan ini udah tepat?"
Membuang napas kasar, Reva sedikit menggulingkan tubuh, merubah posisi berbaringnya jadi terlentang.
Pandangan Reva menengadah. Ia membiarkan manik matanya menatap permukaan langit-langit kamar, lantas mengerjap pelan.
Berdiam diri cukup lama, mendadak permukaan bingkai birai Reva perlahan merenggang, hingga mematrikan senyun lirih.
Memejamkan pelupuk mata, Reva mengangkat lengan sebelah kirinya, menggunakannya untuk menutupi area mata.
Sebuah kekehan kecil yang terdengar begitu getir, menguar melalui mulut wanita cantik itu, membersamai tubuhnya yang agak sedikit gemetar, sebab terguncang.
Detik kemudian, kekehan itu tergantikan oleh suara isakan pelan yang sengaja ditahan, hingga terdengar lebih menyesakan.
Isakan itu membersamai air mata yang mengalir begitu saja dari kedua sudut pelupuk mata Reva, membentuk aliran anak sungai kecil, sebelum kemudian meniti, membasahi permukaan bantal yang dijadikan topangan kepala.
"Dengan adanya pe-pernikahan ini, seenggaknya a-aku bakal berenti ngebebanin hidup Papa sama Mama." Reva bergumam lirih di sela tangis dalam diamnya.
"Tapi a-aku baru sadar, ka-kalau kedepannya ... mungkin hidup Uncle Vero yang bakal jadi kacau, karena keputusan bo-bodoh yang a-aku ambil ini."
***
"Mas?"
Attala Gevanio Mahendra, sedikit terhenyak saat mendengar suara manis seorang wanita berhasil mengecai ke dalam rungu, membersamai tepukan pelan yang berlabuh di permukaan bahu sebelah kirinya.
Gevan - begitu biasanya kakak laki-laki satu-satunya dari Reva itu singkatnya disapa, menolehkan kepala dan pandangannya ke samping kiri.
Dirinya yang sedari tadi tengah duduk termenung sembari menyandarkan punggung di kepala tempat tidur, sedikit merubah posisi duduk begitu tatapannya beradu dengan netra teduh Sandra - sang istri.
Merenggangkan bingkai birai, Gevan menundukan pandangannya, sebentar.
"Kamu kenapa belum tidur?" Sandra bertanya dengan nada suara lembut dan manisnya, selagi memokuskan seluruh atensi yang dimiliki ke arah sosok sang suami.
"Gak kenapa-kenapa. Cuman belum bisa tidur aja."
Manik hazel indah Sandra gemetar, menatap Gevan, penuh telisik. "Kamu pasti kepikiran Reva, ya?"
Tersenyum getir, Gevan menunduk, sengaja sekali memutuskan kontak mata yang berlangsung dengan sang istri.
Sandra membuang napas kasar, mengetahui jika Gevan agaknya tidak ingin berbagi masalah yang saat ini sebenarnya sedang begitu berkecamuk dalam benak, hingga membuatnya kesulitan untuk beristirahat atau sekadar memejamkan pelupuk mata.
"Mas?" Sandra menyeru lembut sembari menundukan pandangan, meraih telapak tangan sebelah kanan sang suami, tak lupa memberi rematan penuh arti di sana.
Gevan menengadah, menoleh ke arah Sandra, membuat Sandra mengulas senyum manis di bibirnya.
"Apa yang lagi Mas cemasin, hemmm? Jangan dipendem sendiri. Cerita dong sama aku."
Gevan mendengkus seraya mendongakan kepala, membiarkan manik matanya menatap permukaan langit-langit kamar yang saat ini menaungi dirinya bersama sang istri.
Mengerjap, pribadi tampan berusia dua puluh tujuh tahun itu lantas meluruskan pandangan. "Mas cuman lagi nerka-nerka aja, apa sebenernya alesan di balik pernikahan Reva sama Bang Vero yang terkesan rada mendadak."
Sandra tersenyum lembut sambil menatap sang suami dengan tatapan hangat, memahami betul alasan di balik ketidak tenangannya. "Mau ngundang Reva sama Bang Vero buat makan malem bareng di sini gak, besok? Biar kita bisa tanya-tanya lebih jauh dan detail ke mereka secara langsung?"
Mendengar penuturan sang istri, Gevan pun langsung menoleh.
Sandra kembali tersenyum. "Siapa tahu, kalau lagi gak sama Mama atau Oma, mereka mau cerita sama kita. Iya kan?"
"Cerita soal pernikahan mereka?"
Sandra mengangguk. "Hemmm."
Bingkai birai Gevan perlahan merenggang, hingga mematrikan senyum senang, membersamai manik matanya yang berbinar, memancarkan rasa antusias. "Kalau gitu aku telpon Reva sekarang."
Sandra berdesis pelan sembari menarik tangan Gevan, saat melihat suami tampannya itu hendak meraih ponsel yang tergelatak di permukaan nakas samping tempat tidur.
Berhasil membuat pergerakan Gevan terhenti, bahkan kembali memokuskan atensi yang dimiliki ke arahnya, Sandra menggeleng. "Gak usah sekarang. Besok pagi aja. Takutnya ... kalau Mas telpon Reva sekarang, Mas malah ganggu malem pertama dia."
Permukaan kening Gevan mengernyit, menghasilkan kerutan cukup dalam, hingga membuat kedua alisnya yang bersebrangan, hampir saling bertautan.
Mata milik pribadi tampan itu agak memicing, menatap sang istri, nanar. "Malem pertama?"
Sandra mengangguk sambil mengatupkan bibir, cukup rapat. "Mereka kan abis nikah, hari ini."
Mata Gevan membola. Kepalanya perlahan tertolehkan ke arah depan. "Reva kan masih kecil."
Sandra terkekeh. "Reva bukan anak kecil lagi, Mas. Umur dia udah dua puluh tahun, sekarang. Ya ... meskipun kelakuannya gak jauh beda, kayak anak kecil."
Gevan menoleh lagi ke arah Sandra, manik mata jelaga indahnya memancarkan rasa tidak percaya, menggantikan rona antusias yang sempat hinggap di sana meski hanya sesaat, tadi. "Itu artinya ... Reva malem ini diunboxing?"
Mengatupkan bingkai birai cukup rapat, Sandra mengindikan bahu sambil menundukan pandangan, memutuskan kontak mata dengan Gevan. "Mungkin. Aku gak tau."
"Gak boleh!"
Sandra sedikit terkesiap saat mendengar Gevan berucap dengan intonasi yang agak sedikit meninggi.
Menenggerkan kedua telapak tangan di permukaan dada secara refleks, wanita cantik itu menoleh kaget ke arah sang suami. "Apanya yang gak boleh?"
"Reva."
"Reva?"
"Iya, Reva. Reva masih kecil, gak boleh diunboxing dulu. Ntar kalau bibit Bang Vero unggul gimana? Reva punya anak. Kan gak lucu. Masa bocil momong bocil?"
Mendengkus kasar, Sandra memutar bola matanya malas. "Itu jadi urusan Reva sama Bang Vero. Mas gak perlu ikut ambil pusing. Udah. Mending sekarang Mas bobok."
"Tapi Rev-"
Tidak membiarkan sang suami menuntaskan perkataan, Sandra berdesis sembari memberi Gevan tatapan tajam, syarat betul akan sebuah peringatan, ia lantas menggeleng begitu melihat Gevan seketika bungkam. "Bobok!"
Bergeming. Manik mata Gevan gemetar, menatap nanar wajah cantik sang istri. Ia lantas membuang napas kasar. "Ok."
"Gak usah mikirin apa-apa lagi, ya? Apa lagi ngebayangin Reva lagi diunboxing sama Bang Vero."
"Kamu kenapa ngomong gitu?" Mata Gevan sedikit melebar, menatap Sandra dengan tatapan tidak habis pikir.
Sandra mengindikan bahunya, kelewat acuh. "Ya ... takut aja gitu, Mas sampe ngebayangin itu."
"Tadinya enggak. Tapi gara-gara kamu ngomong gitu, bayangannya jadi muncul di otak aku, tahu?!" kerutuk Gevan, setengah merengek.
Sandra terkekeh. Menengkup wajah masam sang suami, ia lantas mendaratkan kecupan manis di permukaan bibirnya. "Jangan pikirin orang lain. Mas cukup pikirin aku aja."
Gevan terkekeh sinis sambil menatap Sandra dengan tatapan mencibir. "Kamu harus tanggung jawab," tukasnya, dingin.
Sandra mengerjap. Melepaskan tengkupan dari wajah Gevan, ia menjauhkan diri, sedikit membuat jarak dengan sang suami. "Tanggung jawab apa?"
"Kalau Bang Vero malem ini lagi unboxing adek aku, Reva. Biar aku juga ikutan, unboxing kamu."