Bab 2

Masih di hotel sama, tempat berbeda, Fayre berlari terbirit-birit meninggalkan kamar mengerikan itu. Dia sempat menabrak seorang lelaki saat membuka pintu, tanpa meminta maaf gadis itu berlalu. Sungguh tidak ingin dia berlama-lama terlibat bersama lelaki mesum menyebalkan tersebut. Fayre merasa sedikit lega walau tubuh masih gemetar. Ponsel berdering, dia berhenti berlari. Fayre merogoh ke dalam tas selempang kecil yang sedari dibawa, tertera nama Mariane di benda pipih yang dipegang. Dia menenangkan diri, mengatur napas yang terputus-putus, sebelum mengangkat panggilan.

“Darling, kau di mana? Kami sudah berada di depan kamar Bramasta?" berondong Ludwig dari saluran ponsel.

“Aku tersesat, aku lupa nomor kamar yang kalian beritahukan,” keluh Fayre.

“Oh, astaga maafkan kami meninggalkan dirimu sendiri." Suara berganti milik Mariane. "Tadi aku dan Ludwig pergi ke pos keamanan, berkatnya tadi kita memiliki bukti perselingkuhan saat Bram mengajak wanita ke kamar hotel dan yeah, kami juga mengantongi hasil CCTV dari sudut berbeda!” beber Mariane bangga.

“Baiklah, kamar berapa Bram membawa wanitanya?” Suara Fayre bergetar.

Mendadak emosi jiwa seketika, gadis itu menutup panggilan ponsel usai mendapat jawaban diinginkan. ‘Salahkah aku mencintaimu, Bramasta. Mengapa kau memilih memadu kasih dengan wanita lain daripada aku, istrimu,’ keluh Fayre menghapus buliran air mata yang sempat menetes di pipi.

Fayre masuk ke dalam lift kali ini keadaan sepi, beruntung tidak ada orang melihat, tubuhnya sempoyongan mengan sakit yang tidak nampak, sungguh nelangsa rasanya. Tangan kanan memukul-mukul dada menahan nyeri bak dirajam. Tring! Pintu lift terbuka, Fayre mengepalkan tangan, menahan emosi bercampur duka lara. Dia menghapus lelehan air bening menggunakan punggung tangan. Dihela napas panjang, langkah tegap menyusuri ruangan, di ujung lorong.

Terlihat Mariane yang langsung berlari menghambur ke pelukan Fayre. Sungguh Mariane paham benar sakit hati sahabatnya tersebut walau sang sahabat memperlihatkan diri pura-pura kuat. Dia tahu cinta Fayre tulus untuk Bramasta. Hanya saja perbuatan lelaki tersebut saat meninggalkan Fayre sendirian usai pernikahan, membuat Mariane benci.

‘Lelaki kejam, tega menyakiti gadis sebaik Fayre, kurang ajar!’ umpat Mariane. “Kau siap untuk memberi peringatan pada pasangan brengsek itu, Darling?” tanyanya.

“Yeah, ayo. Sudah sampai sini aku juga harus melihat wanita sialan itu, bukan?” sahut Fayre.

“Kau harus kuat ada kami, Sayang,” lontar Ludwig.

“Emm, kalian terbaik ayo kita lakukan.” Tatapan Fayre menajam, dalam kubangan amarah dia mendorong pintu dengan sangat keras. Brak! Suara pintu terkantuk dinding.

Terlihat ruangan nan luas, dinding bercat putih bersih. Di atas ranjang king size terdapat sepasang kekasih memadu cinta. Erangan keduanya terhenti, mereka terlihat terkejut menoleh arah pintu bersamaan Fayre masuk ke dalam. Netra Fayre memanas, jantung berdegup kencang, gadis itu mengepalkan tangan menguatkan hati.

'Tenangkan dirimu, Fayre.' Gadis itu menguatkan diri sendiri, bibirnya terkatup rapat.

Dengan mata kepala sendiri Fayre melihat Bramasta, tunangannya bergerak naik turun di atas tubuh wanita lain. Menjengkelkan lagi tanpa canggung Bramasta menyisih dari tubuh wanita yang ditindihnya. Lelaki tersebut meraih mantel tidur sedang sang wanita menutup tubuh telanjang dengan selimut. Fayre melirik sekilas tubuh mungil wanita itu.

“Jadi seleramu demikian?” Tanpa basa-basi Fayre berucap, ah hanya itu yang mampu terucap. Amarah tadi mendadak lebur saat dirinya bersua lelaki pujaan hati, sungguh lemah, bukan. “Kau meninggalkan acara pertunangan kita hanya untuk wanita itu Bramasta?” cicit Fayre, terlihat semakin bodoh.

“Memangnya kenapa?” Suara bariton Bramasta terdengar.

Fayre melangkah mendekati Bramasta, dia melihat tanda merah di bagian dada yang tidak tertutup mantel tidur warna putih itu. “Kau bilang kenapa? Tidakkah kau tahu, Ibu Natalie menangis menunggumu dari tadi, tidakkah kau tahu aku ….” Mendadak mulut Fayre kelu, sungguh dia terlihat mengemis cinta saat ini, sial memang.

Namun, itu kenyataan sedang terjadi. Fayre luluh begitu saja tanpa daya, melihat bola mata Bramasta saat keduanya bersitatap, seolah semua kebencian, amarah membuncah tadi lenyap seketika entah ke mana rimbanya. Cinta membumbung tinggi membuat Fayre kalah pada perasaan sendiri, memang tidak ada orang segila dirinya dalam mencintai.

Bramasta tertawa, menunjuk ke arah wajah Fayre, “Aku tidak menginginkan pernikahan ini, kau yang menjebakku. Jika bukan karena sokongan dana sialan ayahmu untuk perusahaan yang membuat ibu menekanku!" pekiknya. "Apa yang terjadi sekarang, semua salahmu, nikmati pertunangan yang kau inginkan!” Suara Bramasta semakin meninggi, dia menuding, menatap sang tunangan jijik seperti sampah kotor. “Pergilah, kau membuatku semakin membencimu,” cemoohnya.

Dada Fayre berdenyut mendengar, tidak pernah sekali pun gadis tersebut dihina sedemikian rupa. Dia menutup mata menahan gejolak bertumpuk dalam benak, dia mengaku salah menginginkan pernikahan. Beberapa tetes butir air mata meleleh. Oh, saat ini yang dapat Fayre lakukan hanya bersabar sejenak dalam waktu kurang sebulan mereka akan menikah.

“Pulanglah Bramasta, mari kita mulai hidup baru, ok. Aku tidak akan mengadukan apa yang kau lakukan pada keluarga kita,” mohon Fayre sekali lagi, mencoba mengorek hati nurani Bramasta.

Gadis itu merasa mungkin Bramasta membutuhkan waktu untuk berpikir sejenak, bermain sebentar lalu pulang. Dia menganggap Bramasta akan luruh hati akan ketulusan cinta yang Fayre beri.

"Kau benar-benar tidak tahu malu atau bagaimana? Bramasta menyuruh pergi." Wanita yang baru beberapa detik lalu mengerang di bawah kungkungan Bramasta turun dari ranjang, masih mengenakan selimut menutupi tubuh polosnya. 'Kau pikir dapat meluluhkan hati Bramasta dengan menyebut nama ibunya, huh! Tidak akan kubiarkan,' ucap wanita itu dalam hati. Dia tidak ingin Bramasta bersimpati pada sang istri.

"Ini urusanku dengan calon suamiku, jalang. Kau siapa berani ikut campur?" pekik Fayre meneriaki wanita itu.

"Kau, mengumpat diriku? Sungguh keterlaluan," cebik wanita tadi, "Sayang, kau dengar apa yang tunangan tidak tahu malumu itu katakan?" lapornya pada Bramasta, menambah amarah lelaki itu. "Atau mungkin memang seharusnya aku pergi saja jauh ketika mendapatkan kabar kau akan menikah," tambahnya dengan suara terisak. 'Kurang ajar sekali, siapa kau mengumpat diriku?' cebik dalam benak.

"Apa yang kau katakan, Sayang? Adinda, kau tahu, dirimu satu-satunya wanita yang aku cintai, percayalah," ujar Bramasta dengan suara lembut.

Lelaki tersebut membalikkan badan, mengelus wajah wanitanya dengan sayang. Dada Fayre naik turun menyaksikan Bramasta mesra pada wanita bernama Adinda tersebut. Dia memijat kening yang mendadak ikut berdenyut. Tidak pernah sekali pun Bramasta bertutur kata penuh kasih sayang seperti itu padanya.

"Bramasta, mari kita pulang, aku mohon." Suara Fayre lirih putus asa.

Sayang, itu hanya membuat Bramasta terprovokasi, amarahnya meledak. Masih ingat bagaimana sang ibu memohon agar dirinya mau menikahi Fayre. Satu hal yang menjadi pertimbangan Bramasta, bagaimana jika gadis itu melakukan hal sembrono, apa yang akan terjadi pada sang ibu kelak? Frustrasi, dia mengacak-acak rambut, perilaku Fayre justru dianggap menjijikkan, Bramasta beranggapan Fayre gadis tidak tahu malu.

“Kau mengganggu kesenangaku, jalang!” teriak Bramasta. Memutar tubuh menghadap Fayre.

Matanya memerah, melebar, tangan kanan Bramasta mencekal pipi Fayre. Gadis itu menahan napas saat tubuhnya dihempaskan ke tembok. Ingin berteriak tetapi tangan Bramasta sudah mencengkeram leher Fayre, mencekiknya.

“Sayang, apa yang kau lakukan, dia bisa mati?” teriak wanita Bramasta mulai panik.

Fayre memukul-mukul lengan Bramasta tanpa arti, lelaki itu bergeming, masih kokoh dan semakin mencekik kuat. Tubuh Fayre mulai lemas, sesak, sulit bernapas. ‘Apakah aku akan mati di tangan orang yang aku cintai?’ keluh Fayre kehabisan tenaga, kedua tangan yang melawan luruh.

Bersambung….

Bab 3

Sebelum kejadian naas tersebut, di kota Sun Flower, bunga mawar menghias indah tertata rapi di dinding juga ranjang sebuah kamar hotel. Kelopak bunga bertebaran di sprei, lilin aromaterapi dinyalakan untuk menambah harum. Semua fasilitas mewah disediakan keluarga Wicaksono peraduan makan malam romantis sebagai hadiah pertunangan. Bramasta Adijaya baru saja menyematkan cincin di jari manis Fayre Wicaksono. Pernikahan akan dilangsungkan kurang dari sebulan, acara yang bagi sebagian orang menjadi peristiwa bersejarah bahagia. Bertepatan akhir dari musim panas, gerimis pertama membasahi kota Sun Flower. Ah, seharusnya malam itu membahagiakan. Namun, tidak dengan Fayre, calon tunangan yang baru saja mengikatnya pergi entah ke mana. Meninggalkan Fayre seorang diri menyambut tamu, hanya ada keluarga mempelai putri dan Natalie, ibu dari Bramasta menangis sesengukan, meminta maaf atas tindakan sembrono Bramasta.

Meski demikian Fayre tetap bahagia, mengingat sudah dua tahun lebih memendam cinta pada Bramasta. Cinta yang membuat Fayre seperti orang gila, meski tahu benar Bramasta sudah memiliki pujaan hati, pastinya bukan dirinya. Fayre tidak peduli, dia tuli dan buta akan hal sekitar. Fokus hanya pada rasa membelenggu dalam atma. Berpikir jika suatu hari nanti Bramasta berpindah hati, menerima setelah menikah. Sayang dia tidak tahu bencana apa menghadang di hadapan. Mariane Zulfikar dan Ludwig sahabat karibnya mendatangi Fayre yang masih menunggu sang suami. Dia duduk mengulas senyum, tangan mulus itu menyentuh kelopak bunga mawar merah yang ada di kamar.

Suara pintu kamar terbuka, gadis itu beranjak bangun, mengedarkan pandang di sekitar melihat betapa megah kamar hotel yang disediakan kedua orang tuanya. Ruangan luas, bercat putih, kontras dengan ranjang juga gorden berwarna gold. Fayre melepas jubah lingerie, menyisakan dress bagian dalam dengan tali menggantung di lengan. Menampilkan lekuk tubuh tinggi semampai.

“Kalian,” sapa Fayre terkejut, senyumnya lenyap melihat kedua orang sahabatnya masuk ke dalam kamar. Awalnya dia mengira calon suami yang masuk. Fayre menundukkan kepala, menahan malu, menyembunyikan pipi merahnya.

“Kau kira siapa, hem? Calon suami brengsekmu yang datang?” cebik gadis berambut ikal panjang itu.

“Mariane,” panggil Fayre menatap sang sahabat yang baru saja mengumpat calonnya.

“Kau menunggu si brengsek itu? Dia sedang memadu kasih dengan jalangnya,” ejek Ludwig, lelaki berhidung mancung dan bertubuh tinggi itu nampak gagah dalam balutan kemeja warna putih yang sejak tadi dia kenakan.

“Apa maksud ….” Fayre mengerutkan kening hendak memarahi mulut pedas Ludwig.

Mariane menyodorkan ponsel miliknya, di sana berputar video Bramasta menggandeng mesra seorang wanita masuk ke dalam sebuah kamar hotel. Bahkan di depan kamar mereka tidak tahu malu berciuman panas. Dada Fayre bergemuruh, sesak seketika sulit bernapas menyaksikan adegan dalam tayangan ponsel tersebut. Mata berkunang membuat dia limbung, Ludwig cepat meraih Fayre agar tidak jatuh. Tubuh wanita itu bergetar hebat tidak percaya akan tindakan lelaki yang dia cinta.

"Apa semua ini?" lirih Fayre.

Dalam kesempitan, tidak sengaja Ludwig melihat belahan dada membusung Fayre. Sangat kenyal saat tidak sengaja tersentuh lengannya. ‘Tuhan, mengapa sahabatku ini sangat menggoda, kuatkan imanku,’ keluh Ludwig dalam hati. Susah payah dia menelan saliva, menetralisir pikiran agar tetap waras. “Oh, ayolah, Sayang jangan demikian. Bangkit aku mohon. Kita harus segera menangkap bajingan itu. Berhenti menangisi lelaki macam dirinya.” Ludwig menguatkan Fayre yang mulai terisak.

“Pakailah,” ucap Mariane menutup tubuh sahabatnya dengan mantel lingerie yang sempat dilepas Fayre tadi.

“Kau mau bersusah hati di sini, atau kita kejar si gila Bramasta itu ke kota Amarillys?” tanya Ludwig.

“Aku harus tahu kekasih Bramasta,” jawab Fayre pada akhirnya.

"Kami akan mendukung apa pun yang kau lakukan, Dear." Mariane menyemangati.

“Baiklah, aku tidak sabar untuk membuat perhitungan padanya,” cibir Ludwig.

Pada malam hari, saat hujan pertama turun pertanda berakhir musim panas. Mereka memutuskan pergi ke kota Amarillys menemui Bramasta dan wanitanya.

Baik Ludwig maupun Mariane sama sekali tidak berpikir akan ada insiden mengerikan. Tepat setelah mereka menemukan kamar hotel Bramasta, keduanya menyesal membiarkan Fayre masuk ke dalam sendiri. Terdengar kegaduhan juga teriakan membuat Ludwig, Mariane saling pandang, mereka gegas masuk melewati pintu yang sedikit terbuka. Marianae menutup mulut dengan kedua tangan, mata melotot ke arah sudut ruang di mana Bramasta mencekik sahabatnya. Ludwig bergerak cepat mendekati.

Bugh!

"Aaa!" teriak Adinda melihat Bramasta dipukul.

Pukulan Ludwig mengenai pipi Bramasta, cekalan tangan terlepas, Fayre luruh terduduk lemas. Mariane berlari mendekat lalu memeluk sang sahabat. Bramasta sendiri sempoyongan jatuh ke lantai.

“Kau iblis, Bramasta!” pekik Mariane menuding. “Oh Tuhan, Fayre kau ok?” tanya Mariane melihat gadis dalam pelukannya terbatuk-batuk. “Harusnya tadi kami tidak mengizinkan dirimu masuk sendirian,” sesalnya.

“Kau bajingan, Bramasta, apa yang kau pikirkan? Membunuh wanita yang mencintaimu?” pekik Ludwig masih mengepalkan tangan.

“Bajingan kau bilang, heh! Tahu apa kau hah?” cecar Bramasta, terhuyung dia bangkit berdiri dibantu Adinda yang masih berbalut selimut tebal.

Ludwig menatap nanar ke arah Bramasta dan pasangannya, terlihat jelas tanda merah di area dada juga leher wanita itu, bisa dibayangkan adegan panas berpeluh keduanya sebelum mereka datang. “Dasar pasangan mesum menjijikkan!” umpat Ludwig. Cuih! Dia membuang ludah ke samping. Bramasta mengepalkan tangan siap menyerang Ludwig, keduanya hampir adu tinju.

“Ludwig, kita pergi!” Suara Fayre terdengar lantang, dia sudah berdiri dengan dipapah Mariane. Gadis itu meraih jemari Ludwig, membuat lelaki tersebut menoleh, “Please,” lanjutnya.

Melihat tatapan menyedihkan sang sahabat rasanya Ludwig benar-benar ikut hancur, “Ok,” jawabnya lalu merangkul Fayre, membawa keluar.

Entah apa yang terjadi dari luar terdengar suara mirip kaca pecah, mereka tidak memperdulikan lagi hal tersebut.

Fayre tidak mampu lagi menahan tangis, dia tersedu-sedu. Mereka sekarang duduk di area lobi hotel. Baik Mariane mau pun Ludwig tidak ada yang mereka berbicara, mereka memberikan waktu untuk Fayre meluapkan rasa sedih. Paham benar saat ini Fayre hanya ingin ditemani juga didengar keluh kesah, bukan untuk dibantah apalagi disalahkan.

“Kalian berdua kembali dulu ke kota Sun Flower, aku ingin sendirian sebentar di kota ini,” keluh Fayre mulai tenang, air mata tidak lagi mengalir, tersisa sesengukan mengganggu kala berucap.

“Oh Sayang, ayolah jangan gila. Apa yang akan kau lakukan, menemui bajingan sialan itu?” cicit Ludwig.

“Kalian pikir setelah apa yang dia lakukan aku akan diam?” keluh Fayre menyodorkan ponsel ke arah kedua sahabatnya. Tertera di sana chat Fayre dengan orang diduga pengacara, isi chat tersebut membahas surat pembatalan pernikahan.

“Good.” Ludwig mengangkat ibu jari.

“Kau yakin, Dear?” tanya Mariane, tahu benar Fayre berada di posisi sulit.

Fayre menghapus air mata kemudian mengangguk, dia bangkit berdiri membuat kursi berderit. “Aku akan jalan-jalan sebentar di kota ini. Kalian pulang duluan, sopir sudah dalam perjalanan menjemputku,” ucap Fayre.

“Aku temani kau,” pinta Mariane.

“Please, aku mohon, biarkan aku sendiri untuk saat ini. Aku janji tidak akan menemui Bramasta. Kalian pulang dahulu!” mohon Fayre.

“Baiklah, kita pulang, ayo Mariane,” kata Ludwing menggandeng sahabatnya yang nampak meronta keberatan.

“Aku ….” Mariane tidak bisa melanjutkan kalimat lantaran Ludwig menutup mulutnya.

“Kau nikmati harimu, Darling. Kami pergi,” ucap Ludwig seraya menyeret Mariane.

“Kau gila Ludwig mau meninggalkan sahabat kita sendiri?”

Pekikan Mariane terdengar Fayre. Namun, dia tidak mempedulikan. Sakit hati atas pengkhianatan dan perlakuan tidak manusiawi Bramasta membayang di pikiran. Ingin rasanya dia pergi sejauh mungkin, menghilang.

Fayre mengelus lehernya masih terasa sakit bekas cekikan sang calon suami. "Kau sungguh bajingan, Bramasta. Akan aku balas semua perbuatanmu padaku berkali lipat!" geram Fayre.

Bersambung….

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED