"Bagaimana?"
Tangan Valeria mengepal. Dia masih tak menyangka kepada pria yang duduk di hadapannya dengan balutan jas hitam tersenyum remeh memandangnya. Seorang mantan suami yang sudah menceraikannya selama tiga tahun kini menawarkan uang untuk menutupi kerugian yang menimpa perusahaannya.
"Apa maksudmu, Tuan Alan? Aku tidak sudi menerima uang yang kau berikan!" maki Vale sambil melemparkan amplop coklat berisi uang yang berada di atas meja ke wajah Alan.
Weni sang asisten yang sejak tadi duduk di sofa dengan tenang melihat Tuan Alan dihina seperti itu langsung buka suara. "Anda bisa saja menolaknya Nona Valeria, tapi bagaimana dengan ribuan karyawan yang bekerja di perusahaan orangtua anda yang sedang berada di ujung tanduk?"
"Itu urusanku bukan urusan kalian. Jangan sok tahu tentang masalah keluargaku. Sekarang pergilah, kalian tentu tahu pintu keluar di mana."
Baru saja Weni ingin menyahuti Valeria, Alan langsung mengisyaratkan tangannya agar jangan bicara. Alan memajukan punggungnya sedikit dekat ke meja yang membatasi mereka berdua.
" Kau jangan terburu-buru menolaknya mantan istri. Aku bisa mengerti dengan egomu yang tinggi itu. Tapi bagaimana dengan Ayahmu dan nasib perusahaan kalian yang sedang di demo hampir seluruh karyawan. Bagaimana? Kau pilih apa yang aku inginkan atau kau menumbalkan semua apa yang sudah Kakekmu perjuangkan?"
Alan mengambil amplop coklat tebal yang dilemparkan tadi oleh Valeri ke wajahnya. Dia meletakkan amplop berisi uang itu ke meja lalu dia geser tepat di depan Valeria sambil berkata.
"Kau akan membutuhkannya karena sebentar lagi kamu dan mantan Ayah mertua harus meninggalkan rumah ini. Jangan lupa Ayah Kamu berhutang banyak kepadaku."
Setelah mengatakan ucapan yang semakin membuat Valeria kesal Alan berdiri dari duduknya, tersenyum tipis menatap Vale kemudian pergi dengan langkah lebarnya sambil bersiul.
Weni menaruh paperbag yang berisi gaun indah dari merk brand ternama di atas meja. "Anda harus memakai ini nanti malam ke tempat yang sudah dipesan tuan Alan. Nanti akan ada sopir yang akan menjemput Anda. Nona, tolong turuti perintah tuan Alan kali ini saja semua demi keberlangsungan hidup anda dan tuan Satia kedepannya."
Wenipun pergi menyusul Tuannya yang sudah lebih dulu pergi keluar menunggunya di dalam mobil.
"Sialan! Turuti apanya dia pikir aku boneka yang gampang dia permainkan, dasar buaya laut. Oh, astaga kenapa nasibku seperti ini," keluh Valeria sambil menatap pias ke paperbag mewah yang berada didepannya.
*
*
Belum ada setengah jam Vale istirahat di kamarnya. Tiba-tiba pintunya diketuk dari luar oleh pelayan.
Tok!
Tok!
"Nona, ada orang yang mengaku dari Bank ingin menemui anda," ucap pelayan itu.
Vale yang mendengar kata Bank langsung bangun dari tempat tidurnya. "Ya! Aku akan turun tolong tunggu sebentar," sahut Vale yang sedang menarik nafas pelan lalu bersiap keluar.
Vale menuruni tangga dengan wajah datarnya menatap dua orang karyawan Bank yang sedang menunggunya.
"Selamat siang Pak, ada keperluan apa datang kerumahku?"
"Siang, Nona Valeria. Kami diperintahkan untuk menemui anda agar secepatnya keluar dari rumah ini karena rumah ini akan disita."
"APA?! Jangan bercanda kalian Ayahku tidak pernah menjaminkan rumah ini kepada pihak kreditur jangan sembarangan kalau bicara."
"Tuan Satia mempunyai tunggakan sebesar 10 triliun kepada Bank. Rumah ini dijaminkan dan beberapa mobil juga Nona. Ini bukti tanda tangan Tuan Satia yang meminjam kepada Bank Kami."
Vale mengambil surat perjanjian kredit pinjaman itu. Tapi tiba-tiba matanya melotot kaget melihat nama Bank yang tertulis. "Bank ALAN CC," gumam Vale. "Ini Bank ALAN, Alan mantan suamiku," ucapnya lagi dengan wajah terkejutnya.
"Benar sekali Nona, Bank ALAN milik mantan suami anda. Tuan Satia mempunyai hutang yang belum dibayarkan sudah terlalu lama. Dan saya ditugaskan untuk menyita rumah ini. Tapi ada pesan dari Tuan Alan agar memberi anda waktu selama tiga hari untuk keluar dari rumah ini."
Vale dibuat syok dengan perbuatan Ayahnya yang sekarang entah kemana sudah seminggu tidak bisa dihubungi. Sejak kepulangannya dari London dia belum bisa menemui Ayahnya.
"Kalian pergilah nanti aku sendiri yang akan menghubungi Tuan Alan," titah Vale.
"Baik Nona, kami permisi," pamit mereka.
Setelah kepergian dua orang dari Bank milik Alan. Vale menghubungi nomer Ayahnya. Sayangnya nomer telpon yang dia hubungi tidak aktif. Hatinya dibuat resah dengan kabar Ayahnya yang entah kemana seperti kabur dari masalah.
Sedangkan asisten Ayahnya juga sudah lelah dengan pekerjaan dan tuntutan karyawan yang berdemo hampir setiap hari diperusahaannya. Entah sebenarnya kenapa perusahannya tiba-tiba kacau seperti ini.
"Apa yang harus aku lakukan Kakek, di mana Ayah... Aku tidak sanggup kalau seperti ini. Apa harusku lepaskan saja semua yang sudah Kakek bangun," ucap Vale lirih sambil memegang figura kecil ditangannya.
*
*
Di atas balkon ada Alan yang sedang mendengarkan laporan dari Weni asistennya dengan serius.
"Tuan Satia berada di Rusia untuk menemui sahabatnya, Tuan Mario . Tapi sampai saat ini tuan Satia belum ada kabar lagi tuan. Menurut informasi terakhir yang saya terima tuan Satia tidak pernah terlihat keluar setelah masuk ke dalam kediaman mewah milik sahabatnya. Tak ada kabar dari beliau membuat perusahaan terguncang dan colap."
"Kebiasaannya bermain judi membuat dia lupa dengan nasib perusahaannya. Kalau sampai Vale tahu mantan istriku itu pasti sangat kecewa. Karena selama ini yang dia tahu Ayahnya itu seorang yang bersih tanpa cela."
"Lalu apa yang anda inginkan. Apa mereka masih harus mengikuti Tuan Satia?"
"Biarkan saja dia di sana, andai saja pria tua itu masih hidup jaga dia untukku. Tapi kalau sudah tidak bernyawa bawa mayatnya kerumahku."
"Baik Tuan... tapi bagaimana dengan Nona Violet apa anda mau menemuinya?"
"Ya tentu saja bilang aku akan menemuinya. Jangan sampai dia menunggu," ucap Alan yang masih memunggungi Weni.
"Baik, saya akan menyampaikannya."
Weni keluar dari kamar Alan untuk menemui Violet kekasih tuannya yang sedang menunggu. Sepanjang jalan menuju kamar Violet, Weni berpikir keras memikirkan tuannya. Sangat sudah jelas kalau tuannya itu masih mencintai mantan istrinya. Tapi karena kecintaannya dengan wanita Jerman itu membuat dia rela menceraikan Nona Valeria.
"Tuan Alan benar-benar payah apa matanya buta menceraikan wanita secantik itu. Lihat saja Violet itu benar-benar wanita matre dan manipulatif. Hanya modal membuka kaki lebar saja sudah bangga. Tapi dasar Tuan Alan juga aneh setelah mendengar mantan istrinya itu sedang dekat dengan pria lain langsung saja kepanasan," gerutunya sepanjang jalan menuju kamar Violet.
Alan masih menikmati rokok dan wine ditangannya. Tatapannya menarawang jauh memikirkan Vale. Selama dia bercerai dan lebih memilih Violet. Entah sadar atau tidak hanya satu kamar utamalah yang tidak boleh dibuka selain dirinya yang membuka kamar itu. Pernah Violet berusaha membukanya membuat Alan murka tak ingin berhubungan lagi dengannya.
'Kau tidak akan bisa menolakku kali ini. Maaf kalau aku harus membuatmu menderita,' monolognya.
***
Tiga hari kemudian...
"Kalau aku pergi menemuinya pria itu pasti besar kepala. Tapi kalau aku tidak menemuinya bagaimana dengan nasib perusahaanku. Apa aku harus menerima tawaran gilanya menjadi kekasih gelapnya? Akh!... Rasanya inginku tonjok saja wajahnya waktu itu," geram Vale mengingat pertemuannya dengan mantan suaminya setelah sekian lama tidak bertemu.
"Kau harus menuruti apa yang ku mau selama Violet tidak berada disisiku. Calon istriku itu sedang berada di Itali selama tiga bulan karena ada pekerjaan di sana. Kau tentu tahu kebutuhan biologisku selama kita masih menjadi suami istri dulu."
"Aku bukan pelacurmu simpan saja uangmu itu," ucap Valeri dengan tatapan tajam kepada Alan.
"Nona Valeria kenapa kau masih saja keras kepala. Aku menawarkan keuntungan untukmu. Kau akan bahagia dan perusahaan Kakekmu itu akan aman. Apa kau tahu hutang Ayahmu sangat menumpuk. Beberapa para investor menarik uangnya. Dan kau jangan lupa Ayahmu juga berhutang banyak kepadaku," urai Alan dengan tenang duduk di atas meja kerjanya sambil melipatkan kedua tangannya.
"Kau sudah gila! Aku tidak akan pernah mau menerima tawaranmu sudah cukup kita pernah mengenal. Jadi jangan sok baik untuk menolongku. Kalau kau ingin hartaku maka ambil saja. Aku tidak perduli lagi permisi," jawab Valeria dengan wajah datarnya lalu pergi dari ruangan itu tanpa memakai gaun yang diberikan Alan.
Alan melihat kepergian Vale dari ruangan kerjanya lewat cctv yang berada dilaptopnya sampai wanita itu benar-benar keluar dari perusahaannya. Melihat wajah Tuannya yang tiba-tiba keruh kaki Weni beringsut melangkah keluar ruangan itu. Tentu dia tahu apa yang tuannya rasakan.
'Kau sudah berubah menjadi wanita yang tegar dan cantik. Pesonamu membuat hatiku berdebar sejak melihatmu di London. Maafkan kalau aku membuatmu seperti ini,' batin Alan berkata.
Tiga bulan yang lalu...
Waktu perjalanan bisnis ke London Alan tak sengaja melihat Vale bersama seorang pria. Seorang pengusaha berdarah bangsawan. Hatinya panas melihat kedekatan mereka berdua. Mantan istri yang selama ini sudah dia lupakan kini menjelma seperti bidadari yang sangat cantik. Hingga timbullah konspirasi penjebakan kepada mantan mertuanya yang membuat perusahaan besar itu tumbang.
Alan yang tahu Vale sengaja menghindarinya otaknya langsung berpikir keras untuk mendapatkan kembali wanita itu. Apalagi di depan matanya tangan pria itu bertengger dipinggang ramping mantan istrinya selama bicara kepada rekan-rekan bisnis lainnya.
Sebagian tamu yang tahu mereka dulunya pernah menjalin hubungan spesial mencoba menebak bahwa akan ada kabar huru hara setelah ini karena mengingat Alan Chester Clark bukannya pria sembarangan. Wajahnya yang tampan usianya yang masih muda sudah merajai kerajaan bisnis yang sukses di bidang hotel, pariwisata, properti, bar dan rumah produksi film ternama. Tak heran kalau pernikahannya hanya bertahan satu tahun saja karena perangainya yang player membuatnya tak bisa setia dengan satu wanita saja.
Kedekatannya bersama artis yang sedang naik daun saat itu menjadi awal mula perceraiannya dengan Vale. Violet disebut-sebut sebagai wanita yang beruntung karena sampai sekarang wanita itu masih dipertahankan menjadi kekasih Alan.
Tanpa ada banyak yang tahu kalau sebenarnya Alan sudah mulai bosan kepada wanita itu. Violet memang cantik tapi wanita itu terlalu menguasai Alan.
Pertemuannya dengan Vale selama tiga tahun yang lama tidak bertemu membuat hatinya berdebar-debar dengan gejolak api cemburu melihat wanita itu bersama pria lain.
Dari kejauhan Alan melihat Vale ditinggalkan pria yang datang bersamanya. Tanpa ragu Alan mendekati Vale yang membelakanginya. Seorang pengawal yang menjaga Vale langsung ditahan oleh pengawal Alan agar menjauh. Alan membisikkan sesuatu kepada Vale yang membuat wanita itu langsung membeku.
"Apa kabar mantan istri kenapa selalu menghindar dariku, hem..."
Sontak saja Vale membalikkan tubuhnya. "Alan! Pergi kau, jangan mengacau!" ucapnya pelan tapi dengan wajah protesnya.
"Akh... Ku pikir kau tidak mengenaliku. Emm... Tentu saja kau tidak akan lupa denganku setelah banyak kenangan manis yang telah kita lalui."
"Dasar sinting! Enyahlah jangan merusak suasana hatiku, sudah tidak ada lagi urusan apa-apa di antara kita. Kau dengan kekasihmu aku dengan kekasihku."
Mendengar kata kekasih wajah Alan menjadi datar dan dingin. Alan menatap Vale dari atas sampai bawah membuat wanita itu risih olehnya.
"Kau sangat menantang Nona Vale, tentu... Kita berdua tak ada lagi urusan . Tapi ku pastikan sebentar lagi ke depannya akan ada urusan yang sangat mengikat di antara kita, cerita kita belum usai Vale," ucap Alan dengan seringai wajah menakutkan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Setelah pertemuan tak terduga dengan Alan membuat Vale merasa tak tenang. Sedangkan Alan diam-diam menjalankan rencana gilanya untuk menjerat Vale ke dalam hidupnya lagi.
***
Esok pagi ...
Valeri mengendarai mobilnya ke tempat temannya. yang sudah lama tidak bertemu. Temannya itu menawarkan solusi untuk masalahnya. Sampai di depan rumah dua lantai dengan banyak tanaman bunga mawar di depannya Valeria turun dari mobil. Wanita cantik itu berjalan dengan anggun menghampiri seorang wanita paruh baya.
"Permisi bisakah aku bertemu dengan Cathy," tanya Valeria kepada seorang wanita paruh baya yang sedang menyirami tanaman di depan rumahnya.
Wanita paruh baya itu mendongakkan kepalanya seketika dia terkejut melihat wanita muda yang berada di depannya.
"Nyonya Alan! Astaga suatu kehormatan bisa datang ke rumah sederhanaku ini."
"Ah i-iya tapi Aku Valeria bukan Nyonya Alan," jawab Vale kikuk.
"Tapi bagiku kau masih Nyonya Alan yang sering membantu keluarga kami. Ayo masuk Nyonya, Cathy sedang memasak di dalam," ucapnya lembut.
"Ya, terima kasih Nyonya Maria." Vale mengikuti Nyonya Maria masuk ke dalam rumah. Cathy tersenyum melihat temannya yang sudah lama tidak bertemu sejak wanita itu bercerai dengan Alan. Perceraian mereka menjadi topik hangat sepanjang hari bagi para penduduk dan ibu-ibu penggosip di kota itu.
"Kau tambah cantik saja bagaimana tinggal di London aku dengar kau sedang menjalin kasih dengan pria bangsawan di sana," tanya Cathy yang sudah duduk di sofa bersama mereka.
"Hanya teman bukan kekasih kebetulan kami memiliki proyek rumah sakit di sana. Tapi semua harus tertunda karena perusahaan Ayah sedang tidak baik-baik saja."
"Emm... Ya berita krisis perusahaanmu sudah menyebar kemana-mana. Aku juga bingung kenapa bisa Ayahmu terlilit hutang yang begitu besar padahal beliau sangat profesional dalam bekerja."
"Aku juga tidak tahu Ayahku hilang entah kemana. Aku sudah memerintahkan asisten Ayahku mencarinya tapi hasilnya nihil. Kebiasaan Ayahku bersama wanita-wanita mudanya membuatku sulit bertemu dengannya."
" Seperti yang kemarin aku bicarakan di telepon. Aku bisa membantumu berbicara dengan atasanku. Dia bilang bisa membantumu nanti malam kita ke sana menemuinya, bagaimana?"
"Baiklah terima kasih Cathy," ujar Valeria tersenyum yang diangguki Chaty dan Ibunya tanpa curiga sedikitpun ada niat terselubung yang sudah mereka rencanakan.
Sementara berita bangkrutnya Vale Group sudah ramai di media. Tembok kokoh perusahaan besar itu akhirnya roboh ditangan penerus generasi ke lima.
Alan mengambil alih semua aset perusahaan Vale Group Global. Asisten Vale pun diambil alih untuk bekerja dengannya. Vale yang sudah pusing akhirnya menyerah karena tak ada lagi jalan keluar.
Pukul 22.00...
Di dalam mobil ada Alan dan temannya sedang mengawasi rumah minimalis dua lantai berwarna putih. Alan terlihat serius berbicara kepada seorang di ponselnya.
'Aku akan menjemputnya kau tunggu saja perintah dariku jangan biarkan dia pergi. Wanitaku memang seperti kucing liar kalau dia sedang marah.'
'Baiklah tapi jangan libatkan aku dengan masalahmu lagi tak tega rasanya membohonginya.'
'Ya Kau tenang saja semua akan aman pergilah nanti bersama Ibumu temui Tuan Satia. Aku sudah menemukan pria tua itu ternyata di sana dia sedang asyik bercinta dengan wanita peliharaannya. oh astaga malang sekali nasib mantan istriku itu.'
'Baik ingat pesanku! Kau jangan membuatnya kecewa lagi. Kesempatan kedua tidak akan datang untuk kedua kalinya. Ku dengar mereka sedang menjalin kasih.'
'Cih! Pria itu tak akan bisa menjadi kekasihnya, Dia akan menyesal sudah berani mendekati wanitaku,' ucap Alan yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Kau habis dari mana Vale?" tanya Cathy yang sejak tadi menunggunya.
"Maaf... Aku tadi ada urusan sedikit, kenapa belum tidur?"
"Owh, aku belum mengantuk saja. Emm... Vale tadi Ibuku telpon memintaku pergi ke rumah Tante Nana. Tanteku sakit tak ada yang mengurusnya. Bisakah Aku pinjam mobilmu kesana?"
"Kau itu bagaimana pakai saja jangan sungkan. Apa aku boleh ikut?"
"Ah... tidak! Jangan. Aku hanya sebentar saja. Kamu di rumah saja tidak apa-apakan?"
"Ok baiklah, ini kunci mobilnya kamu hati-hati di jalan."
Tanpa curiga kepada Cathy, Vale mengantarnya keluar rumah sampai wanita itu pergi mengendarai mobilnya.
Vale masuk ke dalam rumah dia berjalan menaiki tangga menuju kamar. Sudah tiga hari wanita itu menginap di rumah temannya.
Vale mempunyai harta gono gini dari mantan suaminya tapi dia tidak pernah menghuni rumah mewah yang diberikan mantan suaminya. Beberapa mobil mewah pun berdebu digarasi rumah itu. Dan beberapa aset seperti properti dan restoran tidak pernah dia urus.
Meskipun begitu Alan tidak diam saja. Dia selalu memerintahkan orang kepercayaannya untuk mengawasi semua aset yang sudah dia berikan kepada mantan istrinya. Kekecewaan Vale kepada Alan begitu besar hingga dia sulit untuk memaafkannya.
Tak jauh dari rumah Cathy ada dua mobil yang sedang mengawasinya. Alan yang menunggu kepergian Cathy kini bersiap-siap keluar dari mobil menekan earphone lalu berbicara.
'Kalian berjaga di sini biar aku dan Abizar yang akan masuk ke dalam.'
'Baik Tuan!' ucap dua orang pengawal yang berada di depan kemudi dan satu mobil di belakangnya.
Alan turun bersama temannya tampak suasana di jalan begitu sepi karena memang sudah pukul 22.00 malam di sekitaran komplek itu sudah sangat sepi. Alan meminta Biza membuka pintu rumah yang terkunci dari dalam. Tanpa kesulitan pria itu membukanya. Mereka masuk dengan langkah pelan menelusuri setiap sudut ruangan. Pandangan Alan tertuju ke lantai atas tepatnya di kamar yang pintunya terbuka sedikit.
Wajahnya berpaling ke arah Abizar yang juga mendongakkan kepalanya ke lantai atas. Ditatap seperti itu membuat Abizar terkekeh geli melihat temannya yang melototinya. Abizar pun langsung menepuk bahu Alan kemudian berkata sambil mengejek.
"Kau pastikan di dalam sana mantan istrimu jangan kau ulangi kejadian tiga tahun yang lalu membuatmu menceraikannya," ejek Biza.
"Cih! Urus saja masalah percintaanmu itu yang tidak jelas," ujar Alan kesal melihat temannya yang sok menasihati.
Alan berjalan menaiki tangga ke lantai atas menuju pintu kamar yang sedikit terbuka. Setelah sampai di depan pintu kamar pelan-pelan Alan mendorong pintu tubuhnya masuk ke dalam kamar yang berwarna pink.
Sungguh hatinya sedikit geli ingin tertawa dengan nuansa kamar temannya yang serba pink. Mengingat temannya itu sangat tomboy yang tidak ada manis-manisnya. Cathy manager keuangan di perusahaannya yang dikenal Alan sejak dia bercerai dengan Vale pasca sebulan setelah bercerai. Tanpa sepengatahuan Vale, Alan mempekerjakan Cathy di perusahaannya.
Suara gemericik air terdengar begitu deras. Alan pastikan ada Vale yang belum selesai mandi. Karena dia melihat ada baju yang tadi siang bekas wanita itu pakai tergeletak di atas ranjang.
Alan berdiri di sudut ruangan sambil tangannya bersedekap di dada bidangnya menunggu Vale. Pandangannya tak lepas dari pintu kamar mandi.
Vale yang sudah selesai mandi keluar dengan memakai handuk yang hanya menutupi bagian dada sampai bokongnya saja. Terlihat begitu seksi di mata Alan. Sambil bernyanyi-nyanyi Vale membuka lemari pakaian mencari piyama dan pakaian dalam.
Dia membuka handuk lalu memakai pakaian dalam. Vale yang sibuk membuka kancing piyama dibuat terkejut dengan siulan seseorang di dalam kamar. Seketika dia terkejut histeris melihat Alan yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Aaa! Se... sedang apa kau di sini kenapa bisa masuk ke rumah ini!" ucap Vale yang sangat terkejut dengan sosok pria di dalam kamarnya.
"Mudah bagiku masuk ke sini Vale. Apa kau lupa dulu aku pernah diam-diam masuk ke kamarmu... Hem."
"Brengsek! Keluar kau! Dasar gila! Berani-beraninya masuk ke rumah orang lain. Pergi!" usirnya.
"Syuut... Tenang sayang, kau harus ikut bersamaku mulai sekarang jangan menumpang di rumah orang lain. Terima tawaranku atau kita akan melakukan apa yang dulu pernah kita lakukan sejak kita masih menjadi pasangan suami istri."
"No! Never!" sentak Vale yang berusaha kabur dari Alan. Tapi sayang gerakannya sudah terbaca oleh Alan. Pria tampan itu langsung menyeret Vale ke ranjang lalu menindih tubuhnya dan mengunci kedua tangan Vale yang berusaha melawan ke atas kepalanya.
"Ikut denganku atau aku akan meminta kau melayaniku di sini," ancam Alan dengan wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Vale.
"Minggir... Kau itu sudah keterlaluan! Hubungan kita sudah berakhir jangan ganggu hidupku lagi!"
"Jangan membuatku bertambah kesal. Apa kau tidak merasa malu dengan tuntutan hutang Ayahmu yang menggunung, Nona Vale. Bahkan tubuhmu saja tak cukup untuk membayarnya."
"Ambil semua apa yang aku miliki tapi tidak dengan tubuhku!"
"Ha ha ha... Lucu sekali kau pikir berapa banyak uang yang kau miliki hah!"
"Aku akan membayarmu tenang saja teman dekatku di London akan membantuku jadi lepaskan aku sialan!"
Mendengar kata teman dekat dari London dari mulut Vale langsung membuat hati Alan panas dan murka. Tanpa diduga Alan menggigit leher putih Vale dan memberikan banyak tanda hickey di lehernya.
"Aaa... Lepas! Jangan!" Vale berusaha berontak dalam cengkraman Alan. Dengan susah payah tangannya menarik rambut Alan sampai pria itu meringis. Tak mau kalah Alan mencium bibir berbentuk love itu dengan buas. Setelah puas mencium Vale pria itu berdiri tegap sambil menatap lapar tubuh Vale tangannya membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Stop! Baik! Aku akan ikut tolong jangan lakukan ini. Aku mohon... Please," mohon Vale sambil meneteskan air mata.
'Oh shit!' maki Alan kepada dirinya sendiri. Dari dulu dia begitu lemah dengan air mata mantan istrinya itu. Setelah menenangkan dirinya yang sudah menegang Alan menatap Vale lalu berkata.
"Pakailah pakaianmu ikut Aku. Ku tunggu dibawah kalau sampai kau berniat kabur dariku, ku pastikan kau tidak akan pernah lagi bertemu dengan Ayah dan temanmu itu," ancam Alan yang memutar tubuhnya lalu pergi meninggalkan Vale yang melipat bibir menahan tangisnya.
Alan menuruni tangga berjalan ke arah Abizar dengan kemeja bagian atas masih terbuka yang memperlihatkan tato naga terpampang jelas di dalamnya. Abizar yang menunggunya di sofa sambil menikmati rokok menatapnya remeh.
"Ck... Kenapa sebentar saja apa senjatamu itu sudah tidak berfungsi lagi, payah!"
"Shut up! Jangan membuatku ingin menghajarmu sekarang juga."
"Ha ha ha... Dasar playboy! Di mana dia kenapa belum turun juga, jangan sampai wanita itu berbuat nekat, Alan."
Belum sempat Alan menjawab dari atas tangga sudah terlihat Vale yang sedang menuruni tangga. Walaupun wajah wanita itu terlihat sedih tapi aura kecantikannya tetap memancar. Rambut brown indah bergelombang, alis tebal tanpa sulam, hidung mancung sempurna, wajah oval dengan lesung pipit dipipinya yang merona. Memakai dres jingga selutut membuat wanita berusia 26 tahun itu semakin cantik.
Hebatnya seorang Abiza4 yang tak gampang mengagumi wanita sampai bersiul sempat terpesona melihatnya.
"Jaga matamu kalau tak ingin ku colok," ancam Alan yang hanya dilirik malas oleh Abizar.
"Ku pastikan kali ini kau tak akan melepaskannya. Jangan sampai kau menyesalinya. Dan jangan sampai aku sendiri yang akan mendatangi kekasih manifulatifmu itu. Kau pergilah berdua biar aku pergi bersama pengawalmu," tukas Abizar yang beranjak dari duduknya menatap sekilas Vale tanpa menyapa lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kau akan membawaku kemana?" tanya Vale yang sudah berdiri di hadapan Alan.
Alan masih diam tak bergeming melihat Vale yang berdiri di hadapannya. Dengan gaya angkuhnya dia berkata yang terdengar ambigu di telinga Vale.
"Kerumahmu yang sudah begitu lama kau tinggalkan."