Kurang lebih satu bulan yang lalu….
“Kami tahu kamu bisa melihat kami. Jangan sok gak liat kami dong!” Dua makhluk tak kasat mata sedang mengikuti seorang gadis indigo yang pura-pura tidak bisa melihat hantu. Mereka roh-roh yang masih penasaran dan bergentayangan di bumi, tujuan mereka mendekati gadis ini karena ingin mendapat bantuan dari manusia yang punya kelebihan. Sayang sungguh sayang banyak orang yang memiliki keistimewaan tapi tidak peduli pada mereka, cuek bebek saja seperti gadis ini, mengabaikan mereka dari tadi. Sepertinya mau sampe beberapa kali lebaran haji pun mereka tidak akan digubris sama sekali.
‘Apaan sih ini setan, ganggu deh,’ gumam gadis ini dalam hati sambil terus berjalan menuju kampus. Percuma saja dia menghindari para setan, sewaktu-waktu kan tidak sengaja bertatap mata dengan mereka dan dia bagaikan cahaya yang menarik makhluk gaib untuk mendekatinya. Kelebihan ini membuat sang gadis tidak bisa menikmati menjadi manusia sejati, dia tidak bisa hidup dengan tenang, sewaktu-waktu pasti akan dikagetkan oleh setan.
“Hei …. Tengok sini!” kata setan berambut panjang dan bergaun putih, wajahnya memang tidak seram, sepertinya setan gadis penasaran yang meninggal saat masih perawan, hanya ada luka lebam di bagian leher saja, mungkin korban dari pembunuhan.
“Tengok sini!” kata temannya yang berwajah agak seram bekas kecelakaan, entah habis kecelakaan apa, yang jelas dia berlumuran darah dan badannya kotor sekali. Usaha mereka hanya sia-sia saja, tidak ada respon karena si gadis tetap fokus jalan ke depan tanpa mau menoleh dan menjawab sama sekali.
“Kita halangi, yok!” ajak si wajah seram pada hantu gadis perawan. Ternyata semangat mereka begitu menggebu-gebu, tidak pantang menyerah begitu saja demi mendapat respon dan akan memohon bantuan berharap dibantu oleh manusia ini.
Hantu gadis perawan mengangguk, dia dan hantu korban kecelakaan kompak menghalangi jalan dengan membentangkan kedua tangan.
Gadis berambut hitam panjang sontak kaget melihat tangan setan-setan menghalangi jalannya, mau lurus dia nabrak tangan setan, mau belok susah karena dadakan. Alhasil dari pada nabrak setan, kata sang nenek bikin energi kita melemah, jadi dia pilih belok dadakan saja biar energinya tidak terkuras karena bersentuhan dengan mereka.
Tak disangka pilihan ini malah menjerumuskannya ke dalam lubang kemaslahatan, eh salah, maksudnya lubang jalan. Sepatu yang tadinya bersih nan kinclong mendadak jadi basah dan penuh lumpur, maklum becek habis hujan semalam. Sialnya lagi, tak cuma kotor dan berlumpur, kakinya tertelan lumpur tersebut dan hampir saja membuat dia terjatuh.
‘Ih sebel pada usil. Jadi sial, kan.’
Netra hitam berkilau dengan tatapan yang tajam kini tidak lagi mengarah ke bawah atau ke depan, sekarang menatap kedua setan dengan tajam seolah belati yang siap menebas tubuh korban.
“O … ouuu …. Sepertinya kita dalam bahaya!” kata setan korban kecelakaan pada rekan seperjuangannya. Dia takut melihat tatapan gadis yang dari tadi cuek bebek. Gadis itu membuktikan bahwa dia bisa melihat setan-setan itu, tapi sayangnya tatapannya penuh amarah. Jelas gadis cantik ini marah lah, sepatunya kotor dan dia mau berangkat kuliah lho. Ini setan-setan usil malah ganggu, bikin dia hampir jatuh dan sepatunya kotor saja. Mending kalau kasih duit, hasilnya enak, ini ngasih kesialan, kan kurang ajar.
“Kamu, sih.” Hantu perawan menyalahkan ajakan sesat dari rekannya.
“Kalian … kalian enyah dari hadapan gueeee …!” teriak manusia indigo ini begitu kencang. Tanpa sadar gadis ini jadi perhatian banyak orang lantaran berteriak entah pada siapa, orang di depannya tidak ada siapa-siapa. Semua mata yang tertuju pada sang gadis menatap gadis itu curiga, menganggap gadis ini aneh dan menakutkan saja, bahkan disangka gila.
Sekarang tatapan tajam itu berubah melebar, melotot bak Suzana. Dua setan itu pun ketakutan, mundur-mundur bak undur-undur. “Enyah kalian berdua, kalau tidak, kalian berdua akan lenyap sekarang juga!” Satu tangan gadis ini terangkat ke udara, dia seolah penyihir yang akan memberikan hukuman tanpa tongkat, hanya dengan tangan kosong saja bisa mengeluarkan sihir yang bisa membinasakan setan-setan.
“Ma- ma- maafkan kami!” Dua setan sekawan makin mundur, mereka takut dengan ancaman manusia yang dari tadi mereka anggap bisa membantunya tapi pura-pura cuek, ternyata sangar juga. Salah mereka sih cari gara-gara saja, ini orang jadi murka kan.
“Ayo pergi!” ajak hantu gadis perawan sambil memegang lengan hantu wajah menyeramkan. Daripada diam di sini, bikin mereka tak aman, lebih baik pergi saja.
“Pergiii ….” teriak gadis ini lagi lalu kedua hantu menghilang entah kemana, ditelan bumi mungkin. Kedua hantu melihat ada pedagang cermin, mereka berlari memasukkan diri ke dalam kaca, teleportasi ala makhluk gaib adalah dengan kaca.
Teriakan itu lagi-lagi membuat semua mata tertuju padanya. Orang-orang makin curiga jika gadis ini gila.
“Ih aneh!” kata orang yang mau lewat ke dekat gadis ini. Bulu kuduknya berdiri semua, takut si gadis aneh kembali menjadi dan lebih parah, tidak cuma berteriak saja
Sang gadis menoleh dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Astagfirullah, kelupaan!” Dia geleng-geleng kepala, tak habis pikir atas kejadian menjengkelkan ini. Dia jadi malu sendiri, kedua tangannya meraih buku yang ada di dalam tas lalu dia gunakan untuk menutupi wajahnya, malu kalau ada yang kenal.
Tujuh menit kemudian dia sampai di gedung kampus bagian dimana keberadaan kelasnya berada. Sebuah tangan berkulit putih melingkar ke lehernya, saat dia menoleh, dia bisa melihat pemilik tangan ini siapa, untung manusia.
“Pagi, Juita!” sapa gadis berambut ikal yang terlihat sekali memiliki sikap agak malu-malu ucing.
“Jelita heh!” sanggah gadis indigo yang ternyata bernama Jelita.
“Udah siap ikut kelas?” tanya sang sahabat sambil mengangkat buku yang dia pegang tinggi-tinggi, dia antusias sekali ikut kelas hari ini.
“Siap dong!” jawab Jelita tak kalah semangat. Mereka berdua berjalan bersamaan memasuki kelas.
Saat melangkahkan kaki hendak masuk, tiba-tiba Jelita ditarik oleh sahabatnya- Luna. “Eh kok sepatu lo kotor sih? Lo kayak kuda nil aja deh, kotor sama lumpur. Jangan-jangan emang bener lo mandi lumpur deh.”
Jelita mengerucutkan bibirnya. Masa dia disamakan dengan kuda nil, ya jelas cantikan Jelita lah. “Enak aja, gue gak mandi lumpur kaya kuda nil. Tadi gue hampir jatoh, salah langkah sampe sepatu gue jadi kotor begini.”
“Huh …. Masa? Ah kudanil gak mau ngaku!” Luna tetap mengejek jelita, dia suka jika Jelita marah, mukanya pasti merah bak tomat.
“Yee …. Udah dibilang gue mau jatoh. Tadi ada setan yang ngalangin jalan.” Jelita membela diri dan mengungkapkan alasannya apa. Luna adalah satu-satunya teman yang mengetahui jika Jelita seorang indigo.
“Masa?” Luna jadi penasaran, dia suka cerita horor, koleksi komiknya banyak dan rata-rata semua fantasi dan horor.
“Iya. Gue tadi abis dikejar-kejar setan tau. Lo mau juga, gak?” tawar Jelita, kali ini dia yang menakut-nakuti .
“Eh gak mau, gak minat.”
*** Di tempat lain :
BREAKING NEWS, Mobil Masuk Jurang Sedalam Ratusan Meter di Bandung, satu korban dinyatakan meninggal dan satu korban dinyatakan hilang.
Mata Daniel yang sebelumnya sibuk pada laptop, kini berpindah pada layar LED televisinya yang menempel di dinding. Informasi dari sebuah acara berita sore itu, menarik perhatiannya.
Satu unit mobil yang ditumpangi dua penumpang terjun ke jurang setelah mengalami kecelakaan tunggal di Kampung Pasir Pogor, RT 02/09, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (29/12/2022) siang ini.
Korban yang diketahui adalah wanita berusia dua puluh tujuh tahun ditemukan dalam keadaan meninggal sementara korban lain yang merupakan seorang bayi berusia 18 bulan, dinyatakan hilang. Sampai detik ini, polisi masih melakukan proses evakuasi karena medan yang dianggap cukup sulit untuk dilalui.
Perasaan Daniel yang sudah tidak enak sejak beberapa jam lalu pun segera beranjak dari meja kerjanya. Ia mengambil ponsel yang sedang dichargernya dalam keadaan off dan berusaha menyalakannya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari sang istri, Elizabeth pada aplikasi chat yang biasa mereka gunakan.
"Ada apa Eli telpon aku sampai banyak begini," gumam Daniel, lalu segera menghubungi istrinya kembali.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silakan coba beberapa saat lagi.
Daniel segera mematikan panggilan dan mencoba melakukan panggilan berikutnya ke nomor kedua sang istri, mengingat ponsel yang digunakan oleh istrinya memang memiliki dua kartu SIM.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silakan coba beberapa saat lagi.
Namun ternyata hasilnya sia-sia saja. Daniel yang sebelumnya masih bisa berpikir positif, kini mendadak menjadi cemas. Ia pun mencari nomor lain dalam kontaknya dan melakukan panggilan lagi.
"Halo, David? Aku mau tanya, apa Elizabeth ke tempat papah?"
[Enggak, Bang. Ada apa emangnya?]
Daniel menggigit bibir bawahnya dengan ragu. Ia lalu mendesah dan berkata, "Tadi Elizabeth pergi ke sana karena papah mau ketemu sama Eliezer. Aku enggak antar dia karena mau ada zoom class sama mahasiswa, jadi aku stay di rumah. Tapi sampai sekarang dia belum kabarin aku, apa dia ada ngabarin kamu atau papah?"
[Enggak deh kayaknya. Ini aku sama papah mau pergi jalan-jalan ke luar, Bang.]
"Hah, kok bisa?" Daniel mencebik, lalu memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. "Yaudah, aku telpon teman-temannya dulu. Tolong kabari aku kalau Elizabeth sama Eliezer ke sana."
[Iya, Bang.]
Panggilan pun terputus.
David adalah adik sambung Daniel yang dibawa oleh ibu tirinya. Pernikahan sang papah dan istri barunya baru berlangsung beberapa tahun belakangan, tapi hubungan David dan Daniel sudah terjalin baik. David adalah pribadi terbuka yang bisa mengimbangi sikap diamnya sang kakak sambung. Sehingga sejauh ini, tak ada masalah apapun yang melibatkan kedua kakak beradik tiri itu.
Daniel sangat memercayai David, sebagaimana David yang selalu menghormati Daniel.
Sebuah ketukan di pintu rumah membuat lamunan Daniel terpecah. Ia menoleh dan segera beranjak dari ruang kerja pribadinya dalam bangunan itu dan berlari menuju ke pintu. Sembari menarik napas, pria bertubuh proposional itupun menarik gagang pintu dan membukanya.
Bak disambar petir di siang bolong, ekspektasi Daniel tentang siapa tamu di balik pintu itu sungguh berbeda dari realita yang ada. Elizabeth tidak ada di sana, pula dengan anak mereka yang bernama Eliezer. Justru seorang polisilah yang berdiri tegak di sana.
"Ada ... yang bisa saya bantu, Pak?" Daniel membuka pembicaraan terlebih dahulu.
Polisi dengan tubuh tegap dan perut ratanya itu tampak masih muda, sepertinya pria itu masih angkatan baru. Terlihat dari wajahnya yang juga masih terlihat sangat muda jika dibandingkan dengan polisi-polisi lain yang pernah dikenal oleh Daniel.
"Permisi, apa benar ini kediaman ibu Elizabeth Wijaya?"
Jantung Daniel berdetak lebih cepat ketika polisi itu menyebut nama sang istri. Ia kemudian menelan saliva dengan susah payah, sebelum akhirnya membalas, "I-iya betul. Ini memang ... memang rumah Elizabeth. Saya Daniel, suaminya."
"Kalau begitu informasinya valid." Polisi itu mengatup bibirnya sejenak, lalu menurunkan topi yang ada di kepalanya. Dengan cepat Daniel bisa melihat bentuk rambut sang polisi yang bergaya cepak di depannya. "Begini Pak Daniel, saya datang ke sini untuk memberi kabar duka untuk Anda."
"Tunggu, tunggu!" sergah Daniel tak terima. "Kabar duka?"
"Betul, Pak Daniel."
Kedua alis hitam milik Daniel pun bertaut seketika. "Ada apa ya, Pak?"
Perasaan pria itu semakin tidak karuan ketika sang polisi terlihat ragu-ragu untuk menyampaikan berita yang sudah ada di ujung lidahnya. Namun Daniel masih tidak bergeming dan tetap berdiri sembari memandangi sang polisi dengan papan nama bertuliskan Sahrul dengan raut penasaran.
Kabar buruk apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh polisi itu?
"Sebelumnya kami minta Pak Daniel untuk tetap tenang dan bersabar. Begini, petugas patroli kami menemukan kendaraan yang digunakan oleh istri Anda telah mengalami kecelakaan tunggal di daerah Cililin," jelas Sahrul dengan sangat berhati-hati. "Proses evakuasi masih berlangsung tapi kami menemukan beberapa barang dari korban yang mungkin perlu Anda lihat."
Kedua mata Daniel membola, setelah mendengar kata-kata yang baru saja didengarnya. Apa katanya?
Sahrul kemudian menyodorkan beberapa barang yang sudah dibungkus dengan kantung plastik transparan kepada Daniel. "Ini adalah kartu identitas dan dompet istri Anda. Selain itu, kami juga menemukan syal berukuran pendek dan kartu identitas anak dalam mobil tersebut, Pak. Mungkin bapak bisa melihatnya untuk memast--" Ucapan Sahrul menggantung di udara karena gerakan Daniel yang meraih benda itu secara tiba-tiba.
Air mata tak lagi bisa ditahan oleh Daniel ketika semua barang itu ada di tangannya.
"Pak, sebaiknya Anda ikut kami ke TKP. Istri Anda dinyatakan meninggal dunia di tempat, sementara anak Anda ... masih dalam proses pencarian."
"Meninggal?" Daniel mendongak, melihat Sahrul dengan tatapan nanar. "Itu pasti kesalahan, 'kan? Dia masih hidup, 'kan? Eliz enggak mungkin pergi begitu saja."
Sahrul mengembuskan napas berat sebelum akhirnya menghampiri Daniel yang terisak di tempatnya. Ia memandangi wajah sedih Daniel dengan ekspresi penuh simpati. Meski sudah beberapa kali Sahrul melihat pemandangan ini, tapi tetap saja hatinya selalu tersentuh dan ikut teriris saat melihat keluarga korban yang mendengar kabar kematian. Pria itu menepuk-nepuk pelan bahu Daniel, lalu berkata, "Yang sabar, Pak. Hidup dan matinya seseorang sudah diatur sama Tuhan. Bapak harus ikhlas."
Namun kata-kata penyemangat itu hanyalah angin lalu bagi Daniel. Ia memeluk barang-barang sang istri dan anak yang ada dalam genggamannya dan menangis lebih keras.
Sementara Sahrul hanya bisa berdiri dengan pasrah tanpa ada niatan merusak ataupun mengganggu momen menyedihkan yang dialami oleh Daniel.
Pada hari itu, Daniel bukan hanya kehilangan istri dan anaknya. Namun pria itu juga kehilangan separuh hidupnya. Kehidupannya yang sebelumnya dipenuhi warna, kini telah berubah menjadi cerita abu-abu yang mengerikan.
"Kalau Anda sudah tenang, tolong ikut saya ke TKP ya, Pak. Kami perlu mendapatkan pernyataan Anda bahwa korban memang benar merupakan saudari Elizabeth Wijaya." Sahrul menepuk bahu Daniel. “Anda harus kuat, Pak. Putra Anda kemungkinan masih hidup dan butuh ketegaran Anda untuk ikut serta mencarinya.”
“Eliezer masih hidup ‘kan? Tolong temukan bayi saya.”
"Ah …. Lebih cepat Sayanghh!" kata seorang wanita yang berada di bawah kuasa tubuh seorang pria muda nan tampan. Netra gadis ini merem melek keenakan menikmati setiap hentakan dari pria yang sedang menggaulinya, dia bahkan meminta gerakannya lebih dipercepat.
Gerakan mereka awalnya lembut, lama kelamaan kelembutan itu tidak berarti lagi, lebih seru yang lebih aktif, cepat dan kasar.
Tubuh pria dengan kulit yang putih dada bidang dan perut dadu itu sungguh energic dan punya andil besar dalam permainan ini.
Mereka bermain bukan saat malam hari melainkan sore hari, saat di mana orang-orang sedang sibuk bekerja atau pulang kerja, sibuk membeli makanan untuk makan malam dan siap-siap beristirahat di rumah.
“Kamu begitu nikmat!” jawab si pria sambil mempercepat gerakan pinggulnya.
Kedua tubuh manusia ini berkeringat hingga membasahi sprei. Gerakan tubuh mereka semakin aktif hingga tidak terasa sudah dua puluh menit mereka melakukan kegiatan panas ini, dua puluh menit itu tidak termasuk dalam sesi foreplay.
Saat kenikmatan sudah di ubun-ubun, saat cacing berurat itu sudah siap menyemburkan lava hangat yang akan memenuhi rongga kenikmatan si gadis, ada suara dering telepon yang sangat mengganggu sekali. Tidak hanya sekali, benda pipih dengan logo apel digigit itu berbunyi beberapa kali, sungguh mengganggu, tau begitu tadi disilent saja agar tidak mengganggu.
“Sialan, siapa yang menelpon? Ganggu saja.” Kegiatan panas ini jadi terjeda gara-gara ada yang menelpon.
“Angkat dulu saja,” kata sang gadis sambil mengusap dada bidang pasangannya.
Pria ini menurut, dia raih ponsel pintarnya lalu melihat yang menghubunginya itu siapa. Alis hitam lebat itu mengkerut, dia membaca nama orang yang menghubunginya. Telepon ini sepertinya penting, dia segera mengangkat dan menjeda kegiatannya bersama sang gadis.
Rupanya yang menghubungi pria ini adalah abangnya sendiri, setelah disapa, ditanyakan tujuannya apa. Pria yang disapa David ini menjawab,
“Enggak deh kayaknya. Ini aku sama papah mau pergi jalan-jalan ke luar, Bang.” Padahal dia sedang tidak bersama dengan sang ayah, malah bersama dengan seorang gadis, membuat keringat bersama bukannya pergi jalan-jalan seperti yang disebutkan.
Setelah itu telepon terputus, kegiatan panas kembali berlangsung lagi hingga mereka mencapai klimaksnya masing-masing.
Bukan David jika cukup hanya sekali, pria ini menambah satu ronde lagi, dia benar-benar tidak ingin menyudahi kegiatan penuh kenikmatan ini, padahal David benar-benar memiliki janji dengan sang ayah.
Setelah ronde ke dua, mereka benar-benar menyudahinya. Sebatang rokok dan satu gelas vodka menjadi penutup kegiatan ini. Kepala sang gadis bersandar di paha David, satu tangannya bergerak meraih remote televisi, gadis ini pun tertarik untuk menonton berita.
"Astaga …. Kasihan sekali korban kecelakaannya seorang wanita." Dia melihat kantung jenazah yang sedang dibawa oleh tim sar. Kata pembawa acara berita tersebut, korbannya adalah seorang wanita dewasa.
"Lihat apa?" tanya David sambil melirik ke arah gadisnya. Rupanya televisi lebih menarik daripada tubuh David yang sixpack dan atletis ini.
"Itu!" Pandangannya tak lepas dari layar seluas lima puluh inci itu.
"Itu mobil Elizabeth," kata David setelah melihat tayangan mobil yang berusaha diangkat oleh alat-alat berat, ada plat nomor dan ciri-ciri mobil seperti yang sering dikendarai oleh Elizabeth- istri dari kakak laki-lakinya. Evakuasi korban dan kendaraan sungguh sulit karena masuk jurang.
"Kamu mengenalnya?" Gadis ini otomatis bertanya karena David menyebutkan nama korbannya.
"Sangat. Dia istri kakakku, orang yang menelpon tadi."
Mendengar kabar buruk ini, gadis bersurai hitam langsung bangun. "Kalau begitu, segeralah pulang." Dia menarik lengan David agak kencang.
"Kalau aku pulang, kau pulangnya bagaimana?" David mengkhawatirkan gadis pemuas napsunya, takut pulang kenapa-napa di jalan jika tidak diantar, masa datang ke sini dijemput, pulang tidak diantarkan.
"Nanti biar aku naik taksi saja. Tenanglah, jangan mengkhawatirkanku!" jawab gadis manis ini sambil mengusap lengan David.
David bergegas pulang, sampai di rumah dia melihat ayahnya sedang duduk lemas di ruang TV sambil mengusap dadanya yang terasa sesak.
Ayah David punya penyakit jantung, kata dokter umurnya sudah tidak lama lagi. Pria tua itu tidak bisa mendengar kabar buruk, nanti langsung syok dan biasanya pingsan.
David melirik tangan ayahnya yang sedang menunjuk televisi sambil melirik ke arahnya.
"El- Eli, Div! It- itu bukan Elizabeth, kan?"
*****
Beberapa hari kemudian….
Ah! Akh!
Eh, uww, ikh, ikh, aaaaaaaa, eung, ah, emmmm, hmmm.
Aih, aih, yaaaaah … iaaahhh iaaahhh wakai aaaah….
Getaran ponsel di atas nakas disertai suara nyaring desahan bintang film bokep Jepang membuat Jelita lompat dari tidurnya. Wanita muda yang masih menggunakan kaos oblong dan celana pendek khusus untuk tidur itu berguling, lalu menggapai-gapai handphone dengan satu tangannya.
“Sialan nih Luna!” gerutu Jelita karena temannya telah mengubah bunyi alarmnya dengan desahan syaiton yang membuatnya panas dingin. Tidak merinding bagaimana? Ini lebih menyeramkan dari pada setan. Jelita kira di sampingnya benar-benar ada sepasang orang yang tengah bercinta, syukurlah setelah melek tidak ada, cuma suaranya doang.
Jelita berhasil mematikan alarm yang sengaja dipasang Luna semalam untuk mencegah terjadinya keterlambatan. Pasalnya, mata kuliah mereka pagi ini mengharuskannya untuk datang tepat pada pukul delapan. Atau, nilai D lah yang akan diberikan dosen untuk Jelita. Luna tidak mau Jelita bahan ledekan atau sampai mengulang SKS, sehingga ia dengan usil memasang suara yang direkam dari salah satu adegan koleksi bokep Jepang miliknya. Suara desahan yang nyaring jelas akan membuat Jelita mau tidak mau, wanita itu bangun agar tak disalah pahami tetangga kosnya.
Wanita dengan rambut panjang itu pun bergegas untuk mandi, lalu mempersiapkan dirinya. Butuh sekitar lima belas menit sampai akhirnya Jelita benar-benar siap untuk berangkat ke kampusnya di daerah pusat kota Bandung. Menggunakan jasa ojek online langganan, wanita bernama lengkap Jelita Jeanette itu akhirnya tiba tepat waktu di kampus.
"Nih, Pak. Kembaliannya biarin aja," kata Jelita pada bapak-bapak tukang ojek.
Namun pria bertubuh gempal dengan kumisnya yang mirip dengan karakter Pak Raden itu justru mengernyitkan kening. Sembari mengibas-ngibaskan uang sepuluh ribuan yang baru saja diberikan oleh Jelita, pria itu berkata, "Apanya yang kembalian, Neng. Ini mah pas pisan atuh uangnya, eleuh."
Jelita menyengir, memamerkan deretan giginya yang rapih. "Hehe, yaudah, Pak. Diterima aja atuh ya. Nuhun."
Meski agak kesal, Jelita sama sekali tidak ambil hati soal sikap tukang ojek tersebut. Gadis dengan kaus polos berwarna putih yang melengkapi penampilannya dengan jaket denim dan ripped jeans semata kaki itu segera melangkah masuk ke dalam gerbang kampusnya. Bayang-bayang ancaman dosen killer masih menghantui, sehingga Jelita pun enggan berbasa-basi yang membuat waktunya tersita habis.
"Woy, Jenita janet!"
Suara tak asing di belakangnya, membuat Jelita menoleh. Ada Luna di sana, teman semasa SMA yang naik jabatan menjadi bestie di kampus. Luna dan Jelita kebetulan diterima di fakultas dan jurusan yang sama. Entah semua itu benar-benar kebetulan, atau orang tua Luna yang super kaya lah yang sengaja mengaturnya.
"Tumben nggak telat, Bestie?"
Jelita memutar kedua bola matanya malas, lalu melanjutkan langkah. "Semua berkat jasa ibu Luna yang sudah memasang alarm biadab itu di hape hamba.”
“Wuahahaha, bisa aja nih Jenita Janet.” Luna tertawa puas, tidak salah idenya kali ini emang mujarab.
“Jangan panggil aku Jenita Janet terus napa, Lun. Emang mau kalau aku beneran jadi penyanyi dangdut?" Wajahnya yang imut memang mirip Jenita Janet, tak heran jika nama Jelita diplesetkan menjadi Jenita oleh sang sahabat.
"Bah, jangan! Serius, jangan, Lit!" sergah Luna dengan wajah panik yang dibuat-buat. "Napasmu aja kedengarannya fals, apalagi nyanyi. Kasian telinga pemirsa, bisa penuh klinik THT ntar."
"Ih nyebelin banget sih," keluh Jelita.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju kelas yang sudah diumumkan oleh sang dosen melalui grup whatsapp. Orang-orang di kampus juga sudah tahu jika Jelita dan Luna adalah sahabat dekat, kemana-mana selalu bersama bagaikan upin dan ipin yang berbeda orang tua. Jika Jelita adalah mahasiswi super mager, maka Luna adalah kebalikannya. Namun semua orang nyatanya lebih mengenal Jelita daripada Luna.
"Eh tapi kamu tahu nggak sih, katanya ada dosen baru yang bakal gantiin Pak Tatang mulai lusa," kata Luna memberi tahu.
Jelita menoleh, lalu menaikkan satu alisnya penasaran. "Masa? Emang ada yang bisa ngegulingin tahtanya Pak Tatang di sini?"
"Anjir pakai tahta segala udah kaya lord Rangga," cibir Luna, wanita berambut pendek itu lantas tertawa. "Tapi katanya, Pak Tatang itu emang mau diganti sama dosen baru ini. Katanya sih dosen baru kita ini duren sawit."
"Hah? Buah-buahan bukan sejenis orang?" Otak Jelita masih loading, dikira duren beneran.
"Ish. Duren sawit tuh duda keren sarang duit, Janet." Lah si Luna pake sebutan asing saja, bikin otak Jelita jadi traveling mencerna lalu menelaah artinya apa.
"Jelita," koreksi Jelita.
Luna menarik salah satu kursi yang ada di dalam ruangan dan duduk begitu saja. "Ya pokoknya gitulah. Katanya dosen kita ini baru ditinggal meninggal sama istrinya."
Mengikuti gerakan sahabatnya, Jelita pun duduk dan menyimpan tote bag hitamnya. Ia menyilang kedua tangannya di depan dada dan menggumam panjang. "Tapi kok kamu tahu banget sih soal dosen baru kita? Kelihatan batang hidungnya aja belum, lho."
Wanita berambut pendek itu mengedikkan kedua bahunya, lalu dengan penuh percaya diri mengangkat dagunya ke atas. "Plis deh, Janet. Kalau gosip terbaru udah sampai ke ibu kantin, artinya gosip itu udah menyebar sampai ke penjuru kampus."
Satu alis hitam yang ditebalkan menggunakan pensil alis milik Jelita terangkat naik. Ia mulai menatap Luna penuh minat. "Bu kantin udah tahu juga?"
"Udahlah, malah ikutan ngincer juga, ck!" Tak habis pikir, ternyata ibu kantin kampus biang gosip dan genitnya sangat luar binasa.
"Dasar emak-emak ganjen."
"Ya gitu deh," timpal Luna, yang lalu diakhiri dengan tawa mereka berdua.
Tak lama setelah perbincangan itu selesai, mahasiswa yang ada di kelas mereka pun segera memenuhi ruangan. Selain itu, dosen yang dibicarakan oleh Luna turut muncul dari balik pintu.
Kebanyakan mahasiswi terkejut dengan sosok tampan milik pria bernama Daniel yang berjalan penuh percaya diri ke dalam ruangan. Sementara Jelita justru mengernyitkan kening karena sosok yang muncul di sana bukanlah dosen yang ditunggu olehnya.
"Yaampun, Ta. Ganteng banget, 'kan?" bisik Luna ketika Daniel mulai memperkenalkan dirinya di depan kelas. Sikapnya yang tegas dan tampak cool, berhasil menarik perhatian mahasiswi-mahasiswi, tapi tidak dengan Jelita. "Jangankan bu kantin, aku juga mau atuh sama dosen yang ini mah. Nggak apa-apa duda juga, yang pentingmah mantap euy."
Jelita ikut berbisik. "Ih, apaan sih. Ini kok malah dosen baru yang masuk kelas? Bukannya kita mau kuis ya pagi ini?"
Alih-alih setuju dengan perkataan Jelita, Luna justru memberengut dan menyenggol tangan wanita berambut panjang itu dengan lengannya. "Siapa yang peduli sama kuis kalau kita punya pemandangan bagus di sini?"
Luna memalingkan wajahnya dari Jelita. Sementara Jelita masih mengamati sosok Daniel di depan sana. Tidak, sebenarnya bukan Daniel yang mengusik perhatiannya, melainkan sosok wanita berambut panjang dengan gaun putih selutut di belakangnya. Sejak awal kedatangannya, sosok itu telah mencuri perhatian. Bukan hanya karena penampilannya yang sedikit 'gotik' tapi juga karena hanya Jelita lah yang bisa melihat wanita itu di sana. Dari aroma dan auranya, Jelita bisa menebak kalau hantu itu baru saja meninggal beberapa hari yang lalu.
Tanpa menggunakan alas kaki, wanita itu terus mengikuti Daniel ke sana dan kemari. Dari gesturnya, Jelita menebak bahwa wanita itu ingin Daniel melihatnya, meski pada akhirnya hasilnya tetap sia-sia.
Kedua mata hitam milik Jelita menyipit, diperhatikannya dengan baik sosok yang berdiri di sudut ruangan. Ekspresi wanita itu tampak sedih dan Jelita mulai menebak-nebak, alasan kesedihan yang dirasakan oleh wanita itu. Ia sama sekali tidak bergeming, sampai akhirnya wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan bertemu pandang dengan netra hitam milik Jelita. Jelita terkesiap, lalu buru-buru membuang wajah. Perasaan wanita itu pun berubah menjadi tidak nyaman. Kemudian, Jelita pun menoleh ke sisi kanannya secara perlahan.
"AHHHH!"
Semua orang di kelas kini menatapnya bingung, karena hanya Jelita lah yang bisa melihat sosok wanita yang muncul tiba-tiba di depan muka Jelita. Barulah beberapa saat kemudian mahasiswi muda itu menyadari bahwa kemampuan lamanya telah kembali; kemampuannya untuk melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus seperti wanita yang kini berdiri di hadapannya.
‘Sial, kenapa aku bisa lihat yang beginian lagi sih? Susah payah minta nenek nutup mata batinku biar nggak bisa lihat mereka, eh masih aja kebuka sendiri.’
“Dek, kamu bisa melihat dan mendengar suaraku kan?” tanya Elizabeth, si hantu bergaun putih sambil mengulas senyum tipis.
Bulu kuduk Jelita semuanya berdiri, atmosfer di sini semakin berubah. Jelita acuh, tak mau menoleh sama sekali.
"Dek jawab, jangan pura-pura!"