"Masuk," kata Bintang setelah merapikan kembali kemejanya.
Bintang meraih minuman di atas meja dan meminumnya sampai habis, ia terlihat berkeringat dan gugup. Aera juga merasakan hal yang sama. Jantungnya sejak tadi tak mau berhenti berdebar karena hampir kehilangan kesuciannya.
Mereka kembali menoleh ke arah pintu, tampaklah seorang gadis dengan penampilan yang memukau, memiliki kecantikan yang klasik dan elegan. Rambut hitamnya yang panjang mengalir lembut seperti sutra, membingkai wajahnya yang sempurna. Matanya yang besar dan kulitnya yang putih, menunjukkan kelembutan namun juga ketegasan.
Bintang memperhatikannya tanpa berkedip, membuat Aera terbakar api cemburu. Aera segera berdiri, dan menghampiri gadis itu yang masih berdiri di luar.
"Siapa kamu?" tanya Aera.
"Perkenalkan, saya Agatha. Apa benar ini rumah Mas Bintang?" tanya gadis itu.
"Apa katamu? Mas Bintang? Bisakah kamu memanggil dia lebih sopan, Pak Bintang!" kata Aera dengan keras.
"Baiklah, Pak Bintang, bisa kita mulai lesnya?" ucap Agatha sambil berjalan mendekati Bintang.
Bintang masih terdiam mengaguminya, penampilan Agatha benar-benar sempurna. Agatha yang terlihat anggun dan berkelas, memang selalu berhasil menjadi pusat perhatian di setiap ruangan yang ia masuki.
"Hm, bisa kita mulai kelasnya? Saya tidak punya banyak waktu," kata Agatha, menatap jam di tangannya.
"Ayo, mari kita mulai. Aera, duduklah."
Bintang segera merapikan tempat duduk dan menyingkirkan semua makanan yang ada di atas meja agar dia bisa lebih leluasa untuk mengajar.
"Oke, sekarang kalian isi semua soal ini dulu," kata Bintang, membagikan selembar kertas kepada Agatha dan Aera.
"Mas? Masa baru mulai kelas sudah di kasih soal, belajar juga belum!" protes Aera.
"Kalian isi soal itu supaya saya tahu kemampuan kalian sudah sampai mana, baru kita bahas bersama. Mengerti?" Bintang kembali menatap Agatha yang tampak tidak keberatan sama sekali.
Aera tahu, kekasihnya itu memang tampan, tapi sayangnya menyebalkan. Aera merobek kertas soal itu dan berdiri menatap Bintang. Dia berpindah tempat duduk ke sampingnya.
"Aku tidak ingin belajar. Lagi pula aku sudah pintar," kata Aera.
"Kalau begitu, saya tambah dua lembar, total tiga lembar. Kerjakan dalam waktu satu jam, selamat mengerjakan." Bintang memberikan Aera tugas lagi.
"Mas?" Aera tampak mengeluh.
Aera hendak merobek kembali kertas itu, tapi Bintang menahan tangannya. Aera akhirnya pasrah dan duduk kembali di samping Agatha, mengerjakan soal itu dengan terpaksa. Bintang tidak membantunya sama sekali.
"Tenang saja, aku sangat paham tentang soal ini. Kamu harus banyak belajar agar sedikit pintar, ya." Agatha menepuk bahu Aera, dan menyerahkan tugasnya yang sudah selesai kepada Bintang.
"Maksudmu, aku kurang pintar?" Aera menatap Agatha dengan tajam.
"Tidak, kamu harus bisa lulus tahun ini kan? Atau kamu ingin aku lulus lebih dulu darimu?" tanya Agatha, dengan sinis.
"Wah, kamu cukup berbakat, Agatha. Saya rasa kamu tidak memerlukan les tambahan, apa kamu akan melanjutkan?" tanya Bintang pada Agatha.
Agatha tersenyum tipis, matanya melirik sekilas ke arah Aera yang tampak semakin gelisah. "Terima kasih, Pak Bintang. Saya hanya ingin memastikan, saya siap untuk ujian nanti."
Aera mendengus kesal, tapi tetap berusaha fokus pada soal di depannya. Setelah pelajaran selesai, Agatha mengemas barang-barangnya dengan anggun dan berpamitan pada Bintang.
"Terima kasih, Pak Bintang. Kita akan sering bertemu mulai sekarang," katanya dengan senyum manis.
"Terima kasih kembali, Agatha. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya," jawab Bintang.
Setelah Agatha pergi, Aera menatap Bintang dengan tatapan tajam. "Apa maksud Mas dengan pujian itu? Kenapa Mas begitu terpesona dengan dia?"
Bintang menghela nafas panjang. "Aku hanya memberinya apresiasi yang pantas. Aera, kamu tahu betapa aku mencintaimu. Tidak ada yang bisa menggantikanmu."
"Aku akan mencoba mempercayaimu. Tapi tolong, jangan biarkan dia terlalu dekat denganmu." Aera menatap Bintang dengan penuh keraguan.
Bintang tersenyum dan memeluk Aera erat. "Aku berjanji, sayang. Aku hanya mencintaimu."
Namun, sebelum Aera bisa membalas pelukan itu, dia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di hidungnya. Ketika dia menyentuh hidungnya dan melihat tangannya, dia terkejut mendapati darah di sana.
"Aera, kamu mimisan!" seru Bintang panik, segera meraih tisu dan menekan hidung Aera.
Aera terdiam, merasa sedikit pusing, tapi kemudian dia tersenyum kecil. "Tenang saja, Mas. Ini hanya mimisan biasa," katanya, mencoba meredakan kekhawatiran Bintang. "Aku cuma butuh air minum."
Bintang tetap khawatir, tapi dia menurut dan segera mengambilkan segelas air. "Tapi, Aera, ini bisa jadi tanda sesuatu yang lebih serius. Kita harus ke rumah sakit."
Aera menggeleng sambil meminum air yang diberikan Bintang. "Tidak perlu, Mas. Aku sering mimisan kalau terlalu lelah atau stres. Ini bukan hal besar."
"Tapi kamu terlihat sangat pucat, Aera," kata Bintang, suaranya penuh kekhawatiran. "Aku tidak bisa tenang kalau belum memastikan kamu baik-baik saja."
Aera menyeka sisa darah dari hidungnya dan mencoba tersenyum. "Aku benar-benar baik-baik saja."
Aera menatap Bintang dengan tulus, pria di hadapannya selalu menunjukkan jika dia adalah pacar yang baik, Aera sangat bangga memilikinya. Tetapi, rasa bangganya itu membuatnya semakin takut kehilangan.
"Mas, di rumahmu tidak ada siapa-siapa kan?" tanya Aera.
"Tidak, memang kenapa?" jawabnya.
"Aku boleh lihat kamar, Mas?" tanya Aera.
Aera tersenyum, meraih tangan Bintang dan bergelayut manja di pundaknya. Hari ini Aera ingin sekali menghabiskan waktu bersama Bintang seolah akan berpisah. Bintang yang menerima perlakuan itu, seperti mengerti maksud dari pertanyaan Aera.
Bintang mengangguk dan mengajak Aera naik ke lantai dua. Sesampai di sana, Bintang membuka pintu dan mempersilahkan Aera untuk masuk. Meskipun seorang pria yang sibuk di luar, kamar Bintang terlihat bersih dan rapi. Tidak ada kotoran atau debu sama sekali.
Tiba-tiba saja, Bintang melepas kemejanya dan memeluk Aera dari belakang. Ini pertama kalinya Aera datang ke rumahnya, dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar yang merupakan privasi bagi Bintang.
"Mau lanjut yang tadi?" tanya Bintang, yang tampak nakal sekarang.
"Mau, sayang." Aera memutar tubuhnya, dan menarik tubuh Bintang ke atas tempat tidur.
"Mas sudah pulang?" seru seseorang dari luar, sebelum akhirnya pintu terbuka.
Bintang dengan cepat turun dari atas tubuh Aera dan menutup tubuh mereka dengan selimut.
"Iya, sejak kapan kamu di rumah?" jawab Bintang sembari meletakkan jari telunjuknya di bibir Aera, menandakan agar dia tidak boleh mengeluarkan suara.
"Baru kok, Mas kenapa sih pakai selimut siang-siang?" tanya Moona yang hampir saja menarik selimut kakaknya.
"Moon," dengan cepat Bintang menahannya. "Ini Mas lagi istirahat, baru pulang dari kampus. Mas mau mandi, enggak pakai baju. Kamu mau liat?" kata Bintang, membuka sebagian tubuhnya.
"Ih, malas!" Moona segera pergi meninggalkan Bintang sambil bergidik ngeri.
"Lain kali kalau mau masuk kamar orang itu, ketuk pintu dulu!" seru Bintang, memperhatikan adiknya pergi.
Bintang segera membuka selimutnya dengan nafas terengah-engah. Dia turun dari atas tempat tidur untuk mengunci pintu dan kembali kepada Aera.
Cup.. cup..
Bintang mencium kedua pipi Aera, dan memeluknya yang masih berbaring di atas tempat tidur.
"Haruskah kita melanjutkan?" tanya Aera menggoda.
"Tentu saja," ucap Bintang, lebih bersemangat dari sebelumnya.
Aera bangun dan menarik celana jeans Bintang, kali ini dia berhasil menanggalkannya perlahan. Dia membaringkan tubuhnya menghadap Bintang, pasrah dengan apa yang akan dilakukan pria itu.
Bintang menarik nafasnya, sepertinya ia ragu. Namun, area sensitifnya itu sudah terbangun. Meskipun masih tersembunyi, Aera bisa melihat dan merasakan keinginan Bintang. Tetapi, keduanya masih menutupnya dengan rapat.
Bintang mencium bibir Aera dengan lembut, mencoba menenangkan ketegangan di antara mereka. Perlahan, ciuman itu menjadi semakin dalam, menghapus keraguan yang mungkin masih ada di antara mereka. Tangan Bintang mulai menjelajahi tubuh Aera, membangkitkan sensasi yang tak terlupakan bagi dirinya.
"Mas, kamu tidak akan meninggalkanku kan?" tanya Aera, sebelum mereka melangkah lebih jauh.
"Tentu saja tidak, aku mencintaimu, Aera."
Mereka terjebak dalam momen yang semakin panas, saat ini hanya ada ruang untuk kesenangan dan kenikmatan bersama. Namun, sebelum permainan mencapai puncaknya, ponsel Aera tiba-tiba saja berdering, menunjukkan nama ayahnya di layar.
"Gawat, ayahku menelpon!" seru Aera dengan panik, dia segera bangun dan mengangkat panggilan dari ayahnya.
"AERA, PULANG KE RUMAH SEKARANG!" ucap Ayah Aera yang terdengar sangat marah.
"Tapi, Pa-"
"TIDAK ADA TAPI, TAPI. PULANG ATAU TIDAK USAH PULANG SEKALIAN! SEKALI SAJA KAU TIDAK PULANG KE RUMAH, JANGAN ANGGAP PAPA SEBAGAI ORANGTUAMU LAGI.." ancam ayahnya dengan nada yang lebih keras.
"Ah, tidak, Papa. Aku akan segera pulang. Aku ingin tetap menjadi putrimu!"
Aera segera memungut semua pakaiannya yang ada di lantai dan memakainya dengan cepat. Dia meminta maaf pada Bintang karena tidak bisa melanjutkan. Orang tuanya tiba-tiba saja pulang dari luar kota, dia pasti akan di hukum jika membantah.
"Mas Bintang, maafkan aku." Aera memeluk Bintang dengan erat.
"Tidak masalah, pulanglah dan kabari aku jika terjadi sesuatu." Bintang mencium bibir Aera sebelum dia pergi.
Aera segera keluar dari kamar Bintang dengan hati-hati agar tidak terlihat oleh adiknya, Moona. Sesampai di taksi, dia menerima pesan masuk dari Bintang.
"CD-mu ketinggalan!"
Aera tersenyum dan menepuk keningnya, kejadian tadi terasa lucu baginya. Meskipun tidak bisa melakukannya hari ini, tapi Aera tidak akan menyerah. Aera masih penasaran dan ingin merasakannya sekali seumur hidupnya.
Apa yang istimewa dari sebuah pernikahan, jika orang lain bisa mendapatkannya sebelum menikah?
Setelah selesai mandi, Bintang bersiap untuk turun ke bawah. Dia membuka jendela dan melihat mobil orang tuannya sudah terparkir rapi di garasi. Kedatangan Moona sebelumnya tidak membuatnya curiga, tapi kali ini dia merasakan ada sesuatu yang tak biasa.
Bintang keluar dari kamarnya dan melihat ke ruang tamu. Dia berdiri di depan tangga, langkahnya terhenti saat melihat Agatha berada di antara kedua orang tuanya. Dia menarik nafasnya dan menghempaskannya perlahan. Jantungnya kembali berdebar.
"Mas, kenapa berdiri di sini?" seseorang menepuk bahunya.
Bintang berteriak kaget, mengambil alih perhatian mereka yang sedang bicara di bawah. Dia menatap orang yang baru saja menyentuhnya dengan jengkel, dia adalah Moona. Adiknya itu selalu muncul secara tiba-tiba.
Semua mata kini menatap ke arah mereka berdua yang masih berdiri di atas tangga. Kedua orang tuanya sedang duduk di sofa bersama sepasang orang tua yang baru saja Bintang lihat wajahnya. Bintang tidak mengenal siapa mereka.
Bintang dan Moona segera turun ke bawah dan bergabung bersama mereka, Papa Bintang meminta putranya untuk duduk di samping Agatha. Kedua orang tua lainnya tersenyum ke arah Bintang, dia tidak mengenal siapa mereka. Bintang yang tidak tahu apa-apa, hanya diam menutup mulutnya.
"Ada acara apa ini?" tanya Bintang penasaran.
"Bintang, perkenalkan, ini Paman Jinwoo dan Bibi Shinta. Mereka berdua adalah sahabat lama papa. Dan ini putrinya, Agatha. Kalian sudah kenal kan?" jelas Mama Bintang.
"Ah, dia siswi yang aku ajar hari ini kan?" kata Bintang dengan santai.
"Bicara apa kamu ini, Agatha adalah calon istrimu," timpal papanya.
"Calon istri?" Bintang terkejut.
Bintang berdiri, dan menatap mereka semua dengan tidak yakin. Bagaimana mungkin, Bintang akan menikahi perempuan yang baru saja bertemu dengannya hari ini? Sementara dia sudah memiliki seseorang yang dia cintai.
"Bintang, ayo duduk yang sopan!" Mama Bintang menarik tangan putranya.
"Sebenarnya, perjodohan ini sudah kami rencanakan sejak jauh-jauh hari. Maaf, karena baru memberitahu kalian berdua," ucap pria yang disebut paman Jinwoo itu.
"Maaf, paman sebelumnya. Tapi, saya sudah punya-"
Bintang menghentikan ucapannya saat kakinya diinjak oleh Moona. Adiknya pasti ingin dia menutup mulut tentang Aera.
"Sepertinya, Mas Bintang butuh waktu untuk berpikir." Moona menyambung.
"Oh, tentu saja. Tidak perlu buru-buru. Kapan pun mereka berdua siap, kita akan atur tanggal pernikahannya." Bu Shinta tersenyum ke arah Bintang.
"Bintang, kamu kan sudah mapan, sudah siap untuk menikah. Pekerjaan juga sudah ada, apa lagi yang perlu di pikirkan? Kamu hanya butuh seorang istri untuk mengurusmu di rumah," kata papanya.
"Pa, bukan itu masalahnya," kata Bintang, berusaha menjelaskan dalam situasi yang sulit.
"Pa, sepertinya Mas Bintang dan Agatha harus lebih banyak mengobrol agar semakin dekat lagi." Moona menatap ke arah mereka, sepertinya dia sengaja agar Bintang tidak bicara lebih jauh.
"Oh, tentu. Silakan kalian mengobrol," kata Mama Bintang.
Agatha tiba-tiba saja berdiri dan berjalan ke arah Bintang, dia mengulurkan tangannya dengan sopan. Namun, Bintang tak segera meraih tangannya karena ragu. Ia menolak tangan Agatha dan berjalan sendiri ke luar rumah.
"Maaf Agatha, apa maksud dari semua ini? Kenapa kamu diam saja?" tanya Bintang dengan nada sedikit kesal.
"Ya, terus aku harus bagaimana, Mas?" tanyanya seperti tak ada beban.
"Kamu kan bisa bilang ke mereka kalau kamu tidak mau. Kamu juga terpaksa kan terima perjodohan ini?" ucap Bintang, dengan tegas.
"Aku suka!" seru Agatha.
"Maksud kamu?" tanya Bintang mulai frustrasi.
"Aku suka perjodohan ini, bukannya lebih menantang untuk di coba. Kayaknya seru juga," kata Agatha.
"Agatha, kamu pikir menikah itu buat main-main? Aku sudah punya pacar!" Bintang menurunkan nada bicaranya, khawatir akan terdengar ke dalam.
"Pacar yang mana? Yang tadi?" Agatha menertawakan Bintang.
"Agatha, tolong hentikan perjodohan ini," kata Bintang dengan tegas.
"Kamu kan bisa hentikan sendiri, kenapa meminta padaku?" tanya Agatha.
Mereka berdua terdiam sejenak, suasana tegang terasa di antara mereka. Bintang kemudian menatap Agatha dengan serius, ekspresinya menjadi lebih lembut. Agatha membalas tatapan itu dengan berani, tak ada rasa canggung dalam dirinya.
"Aku bisa jadi istri yang baik buat Mas, kok." Agatha menatap Bintang penuh percaya diri.
"Agatha, ini bukan tentang bisa atau tidaknya kamu menjadi istri yang baik. Ini tentang kenyataan bahwa aku sudah punya seseorang yang aku cintai," kata Bintang, terus berusaha membuatnya mengerti.
Agatha menghela napas, mengangkat bahu seolah tidak peduli. "Mas Bintang, kadang cinta yang direncanakan oleh orang tua bisa lebih kuat daripada cinta yang tumbuh begitu saja."
Bintang berusaha menghindari tatapannya, tapi ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Pertahanannya seketika melemah oleh kecantikan Agatha, belum lagi suaranya yang lembut itu pasti akan terdengar indah saat mendesah. Fantasi liarnya terus bermunculan setiap kali melihat Agatha, apalagi jarak mereka sekarang begitu dekat.
Saat Agatha semakin mendekatinya, Bintang merasakan kehangatan nafas Agatha di wajahnya. Rasanya sulit menolak pesona yang begitu kuat, tapi dia juga harus membentengi diriku sendiri. Sama seperti dia menahan keinginan selama tiga tahun ini kepada Aera.
"Agatha, hentikan," ujar Bintang dengan suara bergetar.
Agatha menatap Bintang sebentar, kemudian melangkah mundur dengan senyum penuh kemenangan. Bintang memandangnya dengan tatapan marah dan bingung, seolah mengatakan, "apa yang sebenarnya dia pikirkan? Apa dia benar-benar serius dengan perjodohan ini?"
"Agatha, menikah saja tidak cukup jika kita tidak saling mencintai." Bintang memutar tubuhnya menjauh.
"Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Ayo kita menikah minggu depan?" ucap Agatha, terdengar bercanda namun serius.
"Hah? Kamu gila!" Bintang memutar kembali tubuhnya dan menatap Agatha semakin emosi.
"Kenapa? Mas takut jatuh cinta sama aku, terus melupakan pacar Mas yang baik itu?" tanya Agatha, membuat Bintang semakin memanas.
Bintang meninggalkan Agatha di luar dan kembali masuk ke dalam rumah. Dia masih merasakan denyutan jantungnya yang berdegup kencang akibat insiden tadi. Kenapa ada perempuan seberani Agatha?
"Bintang, bagaimana perbincangan kalian di luar? tanya papanya.
"Pa, atur pernikahanku secepatnya!" kata Bintang sambil memandang Agatha yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Bintang melihat senyum tipis tersungging dari bibir Agatha, wajah kedua orang tua mereka juga berseri-seri. Setelah pembicaraan selesai, Bintang kembali ke kamarnya. Dengan langkah gugup, dia duduk di tepi tempat tidur. Pikirannya kacau dan bercampur menjadi satu.
"Ah, aku harus bagaimana sekarang? Kenapa aku menerima perjodohan ini begitu saja? Bagaimana jika aku benar-benar menikahi Agatha? Bagaimana dengan pacarku Aera, aku tidak bisa mengatakan padanya jika aku akan menikah dengan orang lain. Dia pasti akan sangat terluka," gumam Bintang dengan perasaan serba salah.
Belum lama dia memikirkan hal itu, ponselnya berdering di atas meja. Ia terkejut menerima panggilan dari Aera, sejak tadi Bintang tak membalas pesan darinya.
"Mas, kamu baik-baik saja? Aku sangat menyesal soal tadi," suaranya terdengar cemas.
"Tidak masalah. Bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Bintang, berusaha terdengar tenang.
"Oh itu, biasalah. Nilai ujianku sepertinya kembali buruk," kata Aera dengan lemah.
"Jangan khawatir, kamu pasti bisa mengatasinya. Aera, sepertinya untuk beberapa minggu ke depan kita tidak bisa bertemu dulu," ucap Bintang.
"Ah, kenapa? Apa terjadi sesuatu? Aku tidak bisa! Aku pasti akan sangat merindukanmu. Tolong bawa aku juga," kata Aera merajuk.
"Tidak, kali ini tidak bisa. Aku pasti akan segera menemuimu setelah pekerjaanku selesai, oke?" Bintang berusaha menenangkan Aera.
"Lakukan panggilan video, aku ingin memastikan kalau Mas baik-baik saja."
Bintang segera menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap layar, melihat wajah Aera yang saat ini sedang cemberut.
"Ah, Mas Bintang, aku merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu," jawab Bintang.
"Mas, kenapa kamu tidak seperti biasanya? Ada yang Mas sembunyikan?" tanya Aera curiga.
"Tidak, Mas harus segera mandi. Sebentar lagi hari akan gelap," ucap Bintang, berbohong.
"Kalau begitu, ayo mandi bersama."
Aera menunjukkan dirinya yang akan pergi mandi, ia menyampirkan handuk di pundaknya dan berjalan memasuki kamar mandi.
"Apa kamu sedang menggodaku, Aera?" Bintang segera beranjak dari tempat tidur.
"Ampun, aku hanya bercanda. Tapi, apa Mas menyukai yang tadi?" Aera terlihat malu.
"Kamu sudah dewasa sekarang, ya? Oh iya, sebentar lagi ulang tahunmu yang ke-23. Apa yang kamu inginkan dari Mas?" tanya Bintang.
"Menikahlah denganku, Mas," jawab Aera.
Bintang terkejut sampai ponsel yang berada di genggamannya terjatuh. Aera, di layar, masih menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
"Mas, apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu terkejut?" tanya Aera.
"Aku... aku baik-baik saja, Aera. Maaf, aku hanya terkejut dengan jawabanmu tadi," ucap Bintang dengan gugup.
Aera tampak bingung, "Jawabanku? Aku serius, Mas. Aku ingin menikah denganmu. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Jantung Bintang berdegup kencang. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada Aera. Dia ingin melepaskan diri dari perjodohannya, tetapi dia juga tidak ingin mengecewakan keluarganya. Dia juga tidak mau melibatkan Aera ke dalam masalahnya.
"Aera, aku... Aku akan berbicara denganmu nanti, mengerti?" ucap Bintang dengan nada ragu.
"Baiklah, Mas. Aku akan menunggumu. Jaga dirimu baik-baik selama kita berjauhan. Aku mencintaimu," kata Aera lembut sebelum memutuskan panggilan video tersebut.
Bintang duduk terdiam, merenungkan segala sesuatunya. Bagaimana dia bisa menyelesaikan semua ini tanpa melukai hati orang-orang terdekatnya?