Bab 2

“Gue jatuh cinta.”

Tiga kata itu mengawali pagi yang indah di kehidupan membosankan Rafandra, seorang pengusaha muda nan tampan yang belum juga memiliki pasangan. Bersama dengan Rakabumi yang kini berada di ruangannya, ia banyak bercerita tentang pertemuannya dengan seorang wanita cantik beberapa hari yang lalu.

Menjeda ucapannya, Rafandra kembali meneguk teh hangat yang ia pesan dari sekretarisnya tadi pagi, tak lupa dengan makanan kecil yang tersaji di sebelahnya. Sambil tertawa pelan, ia kembali berceloteh, “Gue harus dapetin dia.”

Rafandra terkekeh.

Rakabumi memutar bola matanya malas. Ia terbiasa mendengar keluhan Rafandra tentang pekerjaannya tapi yang didapatkannya pagi ini sangatlah berbeda. Sahabatnya tengah jatuh cinta, entah pada siapa.

“Bisa diam enggak?” Rakabumi membentak Rafandra yang malah kembali terkekeh. “Ini sudah ke sepuluh kalinya lo bicara tentang jatuh cinta. Siapa yang membuat lo jadi banyak bicara seperti ini?” tanya Rakabumi yang kesal dengan tingkah Rafandra.

“Seorang wanita yang memaki dan berdebat sama gue di sebuah bengkel.” Rafandra mulai membayangkan pertemuan tak menyenangkan itu.

“Siapa namanya?” Rakabumi menginterupsi lamunan Rafandra.

“Gue enggak sempat kenalan,” ujar Rafandra yang terlihat bersedih tapi kemudian tersenyum lagi entah karena apa.

“Lalu apa usaha lo setelah ini?” tanya Rakabumi.

“Mungkin mencarinya di seluruh Jakarta,” jawab Rafandra yang disambut dengan cekikikan dari bibir Rakabumi.

“Lo pikir gampang?” tanya Rakabumi disertai kekehan.

“Jangan remehkan gue.”

Tengah mereka berdebat, pintu ruangan terbuka lebar bertanda ada tamu yang datang. Keduanya menoleh bersamaan. Rakabumi terkejut tapi sesudahnya tersenyum lebar karena ternyata Wirautama yang datang bersama dengan asistennya.

“Selamat pagi, Om.” Rakabumi menyapa ramah Wirauatama. Ia berdiri membungkuk lalu mencium tangannya dengan sopan. “Apa kabar, Om?”

“Pagi, Raka,” sapa Wirautama yang dibalas senyuman oleh Rakabumi. “Bagaimana syutingnya? Sudah selesai?” tanya Wirautama. Ayah Rafandra itu mengajak kedua anak muda di hadapannya untuk duduk bersama di sofa yang terletak di tengah ruangan. Keduanya pun menuruti ajakan Wirautama.

“Sedikit lagi selesai, Om.” Rakabumi menjawab malu-malu.

“Ajak Rafa syuting. Siapa tahu dia terkenal terus bisa dapat pacar dan calon istri sekalian,” sindir Wirautama. Rafandra berpura tak mendengar, dirinya malah sibuk membuka ponsel hanya untuk sekedar mengalihkan pembicaraan.

“Jangan, Om. Nanti saya kalah saing sama dia.”

Tatapan Wirautama berpaling ke Rafandra, anak semata wayangnya itu tak sadar hingga sebuah cubitan keras dari Rakabumi berhasil membuatnya tersadar. Bibirnya mencebik lalu membanting ponselnya ke samping. “Ada apa, Pa?”

“Nanti ikut makan siang di kantor Papa,” ujar Wirautama yang dibalas cebikan lagi oleh Rafandra. “Kita harus bicarakan soal lelang tempo hari. Nak Raka kalau mau ikut bisa sekalian,” ajak Wirautama. Rakabumi menggelengkan kepalanya menolak ajakan ayah Rafandra.

“Terima kasih atas ajakannya. Kebetulan saya mau pergi ke tempat teman. Sudah ada janji,” tolak Rakabumi halus.

“Yah, sayang sekali. Ya sudah tidak masalah.” Wirautama berdiri lebih dulu lalu merapikan jasnya yang sedikit kusut. “Papa tunggu di kantor. Jangan lupa.”

“Iya, Pa.” Rafandra menjawabnya dengan malas. Setelah ayahnya pergi, ia baru bisa menghela nafas. “Pasti gue dijodohin lagi.”

Rakabumi terkekeh melihat wajah memelas sahabatnya. Ia ikut berdiri lalu menepuk bahunya sebelum pergi, “Semoga cepat dapat jodoh. Gue duluan ya.”

***

Sudah diduga oleh Rafandra sebelumnya, ternyata makan siang yang ayahnya bicarakan bukan makan siang biasa. Ini adalah acara ramah tamah sekaligus pesta yang cukup besar untuk ukuran sebuah makan siang. Tamu undangan yang hadir pun tidak main-main, ada banyak pengusaha terkenal yang hadir di dalamnya. Bahkan, ia sempat melihat mantan pejabat hadir di tengah acara.

Rafandra bergumam kesal dalam hati, “Seharusnya tadi tetap di kantor saja.”

Rafandra berjalan pelan memasuki ruangan besar yang terletak di lantai paling atas. Ada sebuah ballroom mini yang biasanya dipakai untuk pesta akhir tahun kantor atau saat perusahaan memenangkan penghargaan. Dilihatnya dari kejauhan ada ayahnya yang sedang menerima banyak tamu undangan. Tak lupa dengan ramah tamahnya sebagai tuan rumah.

Wirautama menoleh lalu melambaikan tangannya memanggil Rafandra yang masih berdiri di depan pintu. “Rafandra, sini nak.”

Semua mata tertuju padanya. Rafandra membalas tatapan itu dengan senyuman canggung di bibirnya. Ia pun berjalan menghampiri ayahnya.

“Rafa, kenalkan.” Wirautama menarik tangan Rafandra agar lebih dekat dengannya. “Ini teman Papa yang bernama Pak Wisnu. Dia yang akan ikut dalam proyek kita tahun depan.”

Rafandra mengulurkan tangan mengajak pria bernama Wisnu untuk berjabatan tangan. “Perkenalkan, saya Rafa.”

“Salam kenal Rafa.”

Pesta kecil siang ini berjalan sesuai yang diharapkan. Kolega Wirautama banyak yang datang dan mengucapkan selamat padanya atas pencapaian Rafandra merintis perusahaan. Wirautama tersenyum mendengarnya tapi tidak dengan Rafandra. Ia hanya menunduk, memainkan dasi dan ponselnya.

"Nak Rafa ini sudah menikah atau belum?" tanya seorang yang duduk di samping Wirautama. Pria berkepala plontos dengan senyum mengembang bagaikan bunga kamboja.

"Ah, Rafa belum menikah. Katanya, tunggu yang cocok." Wirautama yang membalas pertanyaan pria itu. Ia tahu betul anaknya sedang dalam kondisi mood yang buruk.

"Wah, kalau begitu jodohkan saja dengan anak saya. Dia lulusan S2 Stanford dengan nilai memuaskan dan salah satu founder di perusahaan retail yang baru buka bulan lalu. Bagaimana, mau dikenalkan dengan anak saya?" ucap pria itu tanpa basa-basi.

Rafandra mencubit lengan ayahnya. Wirautama paham dengan kode itu, anaknya menolak penawaran koleganya."Ah, biarkan saja anak saya pilih sesuai dengan kriteria yang dia inginkan. Saya tidak akan memaksanya," jawab Wirautama dengan tegas.

"Yah, sayang sekali. Padahal anak saya cukup cantik," ujar pria itu kecewa.

“Maaf sebelumnya, Pak. Tapi memang Rafa masih ingin sendiri sambil mencari yang pantas,” kilah Rafandra. Ia ingin kolega ayahnya paham dan tak kecewa dengan keputusannya.

Rafandra menunduk sebentar lalu berpamitan pada ayahnya. “Rafa kembali ke kantor ya, Pa. Ada pekerjaan yang tak bisa ditunda.”

“Ya sudah duluan saja. Ada mama kamu kok di sini.”

***

Di tempat berbeda masih di area gedung yang berdekatan, seorang wanita bernama Kayana tengah berdiri di depan gedung menunggu temannya keluar untuk makan siang bersama. Kayana berdecak kesal, ia berkali-kali melirik arlojinya. Hari ini ia mendapat jatah makan siang pukul satu dan sekarang sudah lewat lima menit dari waktu yang ditentukan. Ia harus segera turun ke lantai bawah atau mengambil resiko kehabisan makanan.

“Kayana,” teriak Abil yang berlari ke arah Kayana. “Makan siang di gedung sebelah yuk?” ajaknya sambil menarik tangan Kayana. Keduanya masuk ke dalam lift bersama rombongan departemen lain. Kayana terpaksa mengikutinya.

“Di sana apa menunya yang paling enak?” tanya Kayana sebelum kakinya melangkah keluar lift menuju pintu lobby. Tangan keduanya bergandengan melewati jalan samping dekat gedung dan masuk melalui pembatasnya. “Kata Ivon, steak tempe di sana rasanya mirip daging sapi.”

“Kurang tahu, Kay. Kalau aku sih mau makan udon rasa udang. Katanya mak nyus, enggak kalah rasanya seperti yang di restoran besar,” jawab Abil.

Keduanya pun sampai di lobby gedung sebelah. Suasana ramai dan banyak mobil berlalu lalang membuat mereka sedikit bingung. Bahkan, jalan menuju lantai bawah gedung juga ikut ramai.

“Kok ramai?” bisik Kayana.

“Sepertinya ada acara.” Abel ikut berbisik.

“Jalan pelan-pelan.”

Mereka pun berjalan pelan masuk ke dalam lobby menuju pintu samping dekat dengan tangga ke arah kantin. Mereka berdua jalan sambil cekikikan tak jelas hingga membuat seorang pria yang sedang duduk di sofa ruang tunggu berdecak kesal. Kayana sempat menoleh ke belakang tapi tetap melanjutkan langkahnya lalu berbisik di telinga Abel. “Mas-mas yang tadi sepertinya nyindir kita deh.”

Abel mengerutkan dahinya lalu ikut menoleh ke belakang, ia balas berbisik di telinga Kayana, “Dia ngomong apa?”

“Ck, gitu katanya.”

Abel menggedikkan bahu. “Biarin, mungkin dia lagi kesal.”

Bab 3

Rafandra kembali ke kantornya setelah mendapat izin dari ayahnya dengan alasan pekerjaannya masih cukup banyak dan harus diselesaikan hari ini juga. Sebenarnya, ia berbohong. Isi kepalanya akan meledak jika berada di satu ruangan yang sempit dengan aneka pembicaraan tak tentu arah. Terutama tentang basa-basi investasi perusahaan yang akan berujung pada perjodohan yang tak ia sukai.

Rafandra berjalan angkuh memasuki ruangannya. Udara dingin menyergapnya begitu ia duduk di singgasananya yang terbaik. Ia menghela nafas panjang lalu menghempaskannya perlahan. Matanya memejam sesaat lalu kedua tangannya bertepuk memanggil sekretarisnya yang duduk di ruangan paling ujung bersekat kaca bening.

Sekretaris andalannya itu tahu apa yang harus dikerjakannya. Ia berdiri dari tempat duduknya sambil membawa buku catatan beserta alat tulis.

“Selamat siang Pak Rafandra,” sapa sekretaris Rafandra yang bernama Mayang. Rafandra hanya mengangguk dan tangannya terulur meminta catatan yang digenggam oleh sekretarisnya.

“Hari ini saya mau evaluasi semua hasil kerja rapat koordinasi dengan vendor kita yang baru. Karena rapat hari ini ditiadakan, jadi kamu sekalian beritahu pada mereka untuk memberikan laporan kasarnya pada saya hari ini.” Rafandra menutup buku catatan dan mengembalikannya lagi pada Mayang.

“Baik, Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya Mayang menawarkan bantuan. Rafandra terdiam sesaat lalu teringat akan sesuatu.

“Panggilkan Andi.”

“Baik, Pak.”

Andi adalah anak buah Rafandra yang paling dipercaya. Dia bertugas untuk membantu menyiapkan bahan atau apa saja yang diperlukan olehnya. Kadang Rafandra menyuruh anak buahnya itu membeli makanan atau pakaian dalam jika ia lupa.

Andi pun datang. Setelah mengetuk pintu dan masuk, ia duduk berhadapan dengan Rafandra. Bosnya itu terdiam seperti sedang melamuni sesuatu yang akhirnya tersadar karena lambaian tangan Andi di depan wajahnya.

“Pak Rafa panggil saya?” tanyanya. Rafandra mengangguk. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Kamu bisa bantu carikan saya sebuah hadiah. Ehm, ini untuk Mama saya sih.”

“Pak Rafa ingin dicarikan hadiah apa? Sepertinya Bu Alissa sangat menyukai tas atau sepatu dengan merk tertentu,” usul Andi. Rafandra menggelengkan kepalanya, ia menolak usul dari anak buahnya.

“Bagaimana kalau kamu carikan saya tanaman mahal yang sedang digandrungi oleh ibu-ibu. Kamu pasti tahu dong.”

Andi menggaruk belakang lehernya. Ia juga sebenarnya tak tahu menahu tentang tanaman mahal apa yang Rafandra inginkan. “Ibu saya pernah bilang, di kompleks perumahan tempat saya tinggal sedang gandrung dengan bunga rose.”

“Bunga rose?” tanya Rafandra yang diangguki oleh Andi. “Bagus tidak?”

“Dijamin bagus Pak. Ibu saya lagi kumpulin uang buat beli karena harga bibitnya lumayan mahal.”

“Berapa harganya?” tanya Rafandra sambil membuka dompet miliknya yang ada di laci meja. Dompet yang sengaja ia tinggal karena khusus berisi uang kertas.

“Satu bibit yang belum berbunga ada yang mencapai dua ratus ribuan, kalau yang sudah jadi kurang lebih ada yang sampai lima ratusan tergantung ukurannya,” jawab Andi sambil melirik ke dalam isi dompet Rafandra yang berisi sejumlah uang.

“Oh, itu sih murah,” sombong Rafandra.

Tanpa ragu Rafandra mengambil dua puluh lembar uang seratus ribu dan memberikannya pada Andi. “Belikan satu yang sudah berbunga dan satu lagi yang masih bibit. Sisanya buat kamu.”

“Buat saya, Pak?” Rafandra mengangguk. “Terima kasih, Pak.”

Rafandra mengusir Andi keluar ruangan karena dirinya sedang ingin melamun sendiri. Andi pun pamit undur diri.

“Mama bakalan diam enggak ya kalau aku belikan bunga?” gumam Rafandra.

***

Cuaca di kota Jakarta berubah dengan cepat dalam hitungan menit. Satu jam yang lalu langit masih terang benderang dengan gumpalan awan putih berarak perlahan di atas kepala, detik berikutnya berubah kelam hingga berwarna hitam pekat seperti arang. Kayana mendesah kesal saat menengadah menatap langit. Impiannya pulang cepat kandas sudah. Kini ia berdiri termenung di depan lobby kantornya sambil menunggu taksi yang ia pesan datang.

Mata Kayana memandangi suasana di sekitar kantornya yang cukup ramai orang berlalu lalang. Tatapannya pun akhirnya jatuh pada satu bangunan di sebelah kantornya. Sebuah gedung cukup tinggi yang kabarnya hanya ditempati oleh satu perusahaan saja. Perusahaan yang katanya adalah saingan dari tempatnya bekerja sekarang.

Kayana melirik arlojinya, sudah lebih dari setengah jam ia berdiri dan hujan terlihat semakin deras.

“Kay, belum pulang?” Kayana menoleh ke belakang. Abil berdiri di belakangnya dengan tangan penuh membawa tas dan juga payung ukuran besar. Kayana menggeleng perlahan lalu menunduk. “Sama aku bagaimana? Kebetulan aku bawa mobil.” Abil menawarkan tumpangan.

“Tapi aku—” suara deringan telpon menginterupsi pembicaraan mereka. Ternyata itu suara ponselnya. Ia meminta izin Abil untuk menjawab telponnya lalu pergi menjauh.

Kayana mendengus pelan. Percakapannya dengan pengemudi taksi membuatnya kesal. “Oh, jalanannya macet ya, Pak? Ya sudah saya batalkan saja.” Kayana menutup panggilan dengan raut wajah cukup kesal.

“Bagaimana?” tanya Abil.

“Ikut deh. Daripada nunggu sampai malam.”

“Yuk, kita ke parkiran.”

Kayana pun mengikuti Abil hingga ke tempat parkir lantai bawah. Matanya menelusur ke setiap sudut tempat gelap tempat itu. Baru kali ini ia menginjakkan kakinya di sana. Biasanya ia hanya menunggu di lobby atau tempat parkir motor yang tak jauh dari pintu keluar.

“Masuk, Kay.”

“Kok banyak banget mobil di sana? Terus ada karangan bunga juga,” tunjuk Kayana ke arah sudut. Abil mengikuti arah telunjuk Kayana dan terdiam sejenak seperti sedang berpikir.

“Ah, kalau tidak salah itu milik gedung sebelah yang dititipkan ke sini,” jawab Abil yang masuk ke dalam mobil diikuti oleh Kayana.

“Kok dititipin ke sini?” Kayana terlihat penasaran. Karangan bunga itu menarik matanya sejak tadi. Warnanya yang cantik dan tak biasa menandakan harga dan kualitasnya yang di atas rata-rata.

“Kan ada kantor perwakilannya di gedung ini. Kebetulan, di gedung sebelah sudah penuh karangan bunga,” jawab Abil yang tak terasa telah melajukan kendaraannya menuju jalan besar.

“Yang punya konglomerat?”

“Katanya sih gitu. Tadi pas pembukaan saja ramai banget. Yang jadi pusat perhatian tuh anaknya pengusaha itu. Katanya tampan mirip model luar negeri.” Abil melirik Kayana yang terdiam tak menanggapi. Ia pun menggodanya, “Katanya masih single. Boleh tuh cocok sama kamu.”

“Bukan tipeku. Aku maunya laki-laki yang sederhana bukan yang kaya raya.”

“Ow, pantesan didekati anak bos selalu menghindar.”

***

Rafandra mengeluh. Pekerjaannya baru selesai menjelang pukul tujuh malam. Tangan dan bahunya pegal luar biasa. Mulutnya tak berhenti menguap, Rafandra mengantuk, tentu saja. Matanya memberat dan rasanya ingin segera terlelap. Samar-samar dari luar ruangan ada seseorang yang mengintip dari balik kaca lalu mengetuk pintu dengan cukup keras. Rafandra meliriknya dengan sebelah mata.

“Bos, mau pulang sekarang?” orang yang mengetuk itu masuk ke dalam ruangan sambil membawa dua cup minuman. Kalau dari aromanya, itu pasti cappucino kesukaan Rafandra.

“Nanti,” Rafandra menutup laptopnya. “Sudah selesai acaranya?” tanya Rafandra pada orang yang baru saja masuk yang ternyata adalah Rakabumi.

“Gue baru datang tapi orangnya enggak ada di tempat. Eh, Om Wira lagi ada acara ya di kantornya? Kayaknya seru tuh.”

“Kok tahu? Tadi mampir kesana?” Rafandra menyeruput minumannya yang baru saja diberikan oleh Rakabumi. Ia menyesapnya dan mengulum pelan di ujung lidah.

“Enggak sengaja mampir. Niatnya mau ke gedung sebelahnya, mau ketemu sama teman.”

“Teman apa teman?” sindir Rafandra. Rakabumi tersenyum malu, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Teman tapi menuju halal.”

“Belum pacaran atau bagaimana?” pertanyaan Rafandra rupanya membuat Rakabumi terdiam. Rafandra mengerutkan dahinya lalu bertanya lagi. “Kok diam?”

“Dia unik, Raf. Gue dekatin dia dari zaman sekolah sampai sekarang enggak pernah dianggap lebih dari teman.”

“Coba sekali lagi dekati, kalau masih enggak mau cari yang lain.”

Rakabumi menghela nafas sejenak. Ia hampir lupa dengan niat kedatangannya ke kantor Rafandra. Satu tangannya merogoh saku kemeja, mencari sesuatu di dalam sana. “Datang ya. Gue adain acara ulang tahun minggu depan. Nanti gue kenalin sama si dia di sana.”

“Serius?” Rafandra membuka surat undangan yang diberikan Rakabumi padanya lalu terkekeh setelah membacanya sekilas. “Ok, gue datang.”

“Tadi pagi gue lupa kasih.” Rakabumi berdiri setelahnya. “Jangan lupa bawa pasangan.” Ia menepuk bahu Rafandra dua kali. “Gue duluan ya.”

“Hati-hati,” teriak Rafandra. Rakabumi melambaikan tangannya hingga berlalu dari dalam ruangan. “Sama-sama jomblo, bagaimana mau bawa pasangan?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED