Dhafa bangkit dari pembaringan, kemudian menonaktifkan mode silent pada pengaturan ponselnya. Tubuhnya mulai terasa segar kembali setelah beristirahat seharian. Sejak pagi ia terus saja membenamkan tubuhnya di pembaringan. Ia bangun hanya untuk sholat dan makan. Perjalanan Jeddah-Jakarta-Lombok kemarin, benar-benar menguras energy-nya. Beruntung, sore ini jetleg-nya telah hilang tuntas.
Drrrt...drrtt... drrttt....
Ponsel Dhafa langsung bergetar beberapa kali, ia bergegas membuka pesan masuk.
Amar telah memasukkan anda ke dalam grup "Alumni SMA Negeri 1 Gondang 2018". Dhafa membaca sebuah notifikasi seraya tersenyum senang. 'Gercep benar sohibku yang satu ini. Hmm..., tolak atau terima?' Dhafa masih tertegun dalam keraguan.
'Gadis kejam itu sudah pasti ada di Grup, karena dia selalu haus popularitas.' Dhafa membatin. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas, belum menentukan pilihan apapun. Luka lama masih mengganjal di hatinya, membuatnya ragu untuk masuk Grup Alumni.
Dhafa bersandar resah di pembaringan. Sepertinya luka itu belum sembuh dan masih berdarah, menyisakan trauma yang mendalam di ruang batinnya. Ia sudah lama menghapus semua perasaan bodoh itu, iya bodoh! Bisa-bisanya Ia jatuh cinta pada si gadis pembully, gadis yang juga sangat ia benci di masa lalu. Seiring berjalannya waktu dan tumbuhnya kedewasaan, Dhafa telah memutuskan untuk membuang jauh-jauh perasaan yang bertentangan dengan akal pikirannya tersebut. Tapi kenapa ketakutannya pada sosok Salma Azzahra masih terpatri di sisi-sisi hatinya.
'Akh, kenangan itu terlalu buruk! Namun, bukankah aku telah berjanji untuk kembali sebagai sosok yang baru. Aku yang sekarang bukan lagi diriku yang dulu. Tak kan ada lagi Dhafa yang bisa ditindas semena-mena atau Dhafa yang mereka bilang cupu. Aku telah membuat perubahan besar pada diriku. Buktinya para gadis kini memandangku dengan terpana dan terkagum-kagum.'
Dhafa bangkit meraih ponselnya, lalu ia menekan tulisan "terima". Rasa percaya dirinya telah tumbuh lagi. Seketika ponselnya kembali bergetar berulang-ulang, notifikasi pesan masuk dari Grup Alumni mulai menyita perhatiannya.
Dhafa membaca pesan masuk itu satu persatu, ada secercah kerinduan di hatinya akan kebersamaan dengan beberapa teman yang cukup dekat dengannya di masa SMA dulu.
Selamat datang di Grup, Bro Dhafa. Teman-teman, ada Dhafa Akramul Dzauri kelas Dua Belas IPA-E baru masuk Grup, sambut yang meriah dong! (Amar)
Terimakasih, telah mengizinkan saya bergabung di sini. (Dhafa)
Wah, Dhafa ini yang langganan Juara Satu Umum Sekolah, kan? Bagaimana kabar kamu sekarang? (Intan)
Dhafa, masih ingat aku, kan? Kamu enggak amnesia kan? Wayan nih, teman sekelas kamu yang paling ganteng. Kapan kita ngumpul-ngumpul, bro?
Hai Dhafa, Selamat bergabung di Grup, ya. Aku ingat dong sama cowok paling pintar di sekolah. (Naya)
Hmmm..., ini Dhafa yang dulu pernah nembak Salma, tapi ditolak di depan kelas itu, kan? Kok baru nongol di Grup sih, selama ini kemana aja masbro? Eh, maaf jadi kepo, hehehehe.... (Chikka)
Deg! jantung Dhafa berpacu lebih cepat. Ada emosi yang meledak-ledak di kepalanya. Bahkan setelah bertahun-tahun, teman-temannya masih mengingat salah satu momen yang paling Dhafa benci dari masa SMA-nya. Momen dimana ia difitnah dan dipermalukan oleh seorang gadis pembully, Salma Azzahra, hanya sebagai bahan lelucon dan untuk memuaskan rasa iseng gadis bengal itu semata. Peristiwa itu masih begitu melekat dibenak Dhafa, tak pernah ia mampu untuk menghapusnya, begitu juga rasa sakitnya.
''Hi..., Class! Kalian mau tahu rahasia terbesar abad ini? Mau dong, ya!'' pekik Salma membuka pidato konyolnya di depan kelas. Salma Azzahra yang cantik dan kharismatik selalu bisa membuat semua orang tertarik dengan apapun yang dia katakan dan apapun yang dia kerjakan.
"Mau doooong...!'' seru hampir semua siswa yang ada di kelas Dua Belas IPA-E. Dhafa sendiri hanya melempar senyum dikulum melihat tingkah gadis bengal yang akhir-akhir ini semakin intens membully-nya. Semakin di bully, ia semakin sakit hati. Semakin ia sakit hati, wajah Salma semakin tak mau pergi dari ingatannya.
Dhafa sungguh tidak mengerti, dan entah apa lagi yang akan terjadi hari ini, batinnya.
''Gini, Guys. Ada cowok yang imejnya di mata kalian sok paling anti sama cewek, enggak sudi berdekatan sama cewek, tapi diam-diam cowok ini nembak aku kemarin, iya kan Dhafa? Ngaku saja, be gentleman dong! Tapi, maaf ya bocil, aku enggak bisa menerimanya karena kamu belum cukup umur,'' tukas Salma dengan gaya centil yang khas sehingga semua mata tertuju padanya.
''Gyaaahahahahahahahaahahaha....!!" Seisi kelas penuh dengan suara tawa para siswa yang merasa geli, mereka percaya begitu saja dengan semua cerita Salma. Bagi mereka ini adalah hal yang sangat janggal dan lucu, ketika seorang cowok cupu, anti cewek dan kutu buku, begitu beraninya menyukai Salma Azzahra yang sedang menjalin hubungan dengan siswa paling populer, paling ganteng, paling tajir di sekolah, Gading Putra Bagaskara.
Dhafa mematung bagai terhipnotis, tak ada sepatah katapun yang bisa keluar dari bibirnya. Wajahnya memerah, lebih merah dari biasanya. Ingin ia berkata ''tidak", tapi lidahnya seakan kelu. Ia justru merasa seperti sorang pencuri yang sedang tertangkap basah, ia menyerah kalah dan bertekuk lutut di bawah tekanan perasaannya sendiri. Bagaimanapun, memang benar ia telah menyukai gadis kejam di depan kelas itu diam-diam. Meski ia tak pernah mengungkapkannya dan ia tak akan pernah punya nyali untuk itu.
''Gila elo, Dhafa. Muka kaya' keset begitu, beraninya nembak Salma. Wow dah, Hahahaha!"
''Si bocil sudah baligh sekarang, guys!''
''Hahahahahhaha!''
''Kalau udah baligh berarti sudah tahu mimpi basah dong ya, hahahahhaha....!''
''Hahahahahhhaaa....!''
''Duh, kasiannya bagai pungguk merindukan bulan. Makanya kalau mimpi jangan ketinggian, cari cewek yang selevel kamu dong, hihihi.....''
Teriakan demi teriakan mengarah kepada Dhafa, menghina dan menertawakannya! Semua dilakukan oleh teman sekelasnya yang dipicu oleh kisah bohong dari Salma. Dimana Salma melakukannya hanya karena iseng dan demi lelucon semata. Salma tak pernah berfikir hal itu akan menjadi salah satu luka terdalam yang terus membayangi kehidupan seorang Dhafa Akramul Dzauri.
Dhafa menghentikan semua ingatannya akan masa SMA-nya yang kelam itu, ia tak ingin berdarah lagi. Sudah bagus ia sekarang lebih kuat dan berhasil menyembuhkan lukanya sendiri.
***
Sementara itu wajah Salma Azzahra cemberut berat, ia melempar bantalnya dengan keras ke pembaringan. "Kenapa mereka tak juga melupakan semua kelakuan burukku di masa lalu? Itu sudah lama sekali. Huuuh..., lagipula apa tidak ada hal lain yang bisa di bahas!?" Bibirnya mengerucut menahan kesal.
Salma mengetuk-ngetuk pipi kenyalnya dengan jari telunjuk, otaknya berpikir keras.
"Hmm..., sebaiknya aku keluar saja dari grup alumni ini, tapi...., Aaaargghh!!" Salma benar-benar kesal dan bingung. Ia mengacak-acak ramburnya sendiri, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
#Bersambung
Sang mentari kembali menyapa bumi, cahayanya begitu cerah menerangi kehidupan. Namun, kontras dengan suasana hati Salma, pagi ini ia masih resah dan gundah. Biasanya ia berangkat ke kantor dengan riang gembira, kali ini ia diliputi rasa khawatir, bahkan jantungnya berdebar sedikit kencang.
"Aduuh...! Haaaaahhh...!!!" Salma melempar ponselnya ke atas pembaringan, berkacak pinggang seraya menggigit-gigit bibir bawahnya, lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamar pribadinya yang tak begitu luas itu.
"Memalukan!!" pekiknya. Benar-benar memalukan jika ia mengingat kembali semua tingkah absurdnya di masa lalu. Terlebih lagi pada seorang Dhafa Akramul Dzauri yang tak punya secuilpun kesalahan kepadanya. Kini, Dhafa telah pulang kembali ke Indonesia, setelah hampir lima tahun menempuh Pendidikan di Universitas King Abdul Azis, Jeddah.
Yang membuat resah Salma, saat ini ia baru saja memperoleh pekerjaan yang bagus di 'Dzauri International Tour and Travel' milik orang tua Dhafa. Jika Dhafa masih menyimpan dendam padanya maka sudah pasti nanti ia akan mempengaruhi Pak Fachri papanya untuk memecat Salma. Beragam pikiran buruk berkecamuk di benak Salma.
'Oh, No! Aku butuh pekerjaan ini. Sangat sulit mendapatkan pekerjaan dan tempat kerja yang cocok bagi gadis berpakaian syar’i yang dilengkapi cadar seperti diriku.' Pekiknya dalam hati.
Pada masa SMA dulu, Dhafa adalah seorang bintang sekolah, selalu menduduki juara umum ke-satu. Namun, ia terkenal sangat pelit saat dimintai contekan jawaban oleh teman-temannya. Itulah yang membuat Salma mulai membuli dan mengerjai Dhafa. Ia tak akan berhenti sampai mendapatkan semua jawaban soal yang diinginkannya dan pada akhirnya Salma selalu sukses membuat Dhafa menyerahkan semua lembar jawabannya kepadanya. Sekilas peristiwa di Kelas dua belas itu berputar kembali di benak Salma.
‘’Dhafa ganteng..., kamu sudah selesai mengerjakan PR Mata Pelajaran Kimia, kan?’’ tanya Salma lirih. Suaranya dibuat seimut mungkin disertai sedikit desahan, tepat dibelakang telinga Dhafa. Sementara teman-teman sekelasnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Seperti biasa wajah Dhafa langsung memerah bagai udang rebus, tubuhnya bergetar dan bibirnya seakan tak mampu digerakkan, “Iya, sudah,’’ jawabnya pendek. Hembusan nafas Salma di telinganya terasa seperti merontokkan seluruh kekuatan otot dan persendiannya, hingga ia menjadi begitu lemah. Di bibir Dhafa sedikit tersungging senyum senang, walaupun ia tahu seorang Salma Azzahra pastilah sedang membual dengan kata 'ganteng' yang terlontar dari bibir indahnya.
‘’Mana dong jawabannya? Buku Kimianya mana sih?’’ tanya Salma sembari melingkarkan tangannya di sandaran kursi tempat Dhafa duduk, itu membuat posisi mereka semakin dekat. Dhafa kian menegang tak berkutik, ‘’Bisakah kamu tidak memperlakukan saya seperti ini setiap hari? Kenapa ada cewek begitu bandel seperti kamu?’’ Protes Dhafa dengan suaranya yang terlalu lembut bahkan nyaris berbisik. Salma hanya menyunggingkan senyum kecut.
‘’Hmm, beneran kamu tidak mau memberikan lembar jawaban itu padaku? Kalau begitu aku umumkan sekarang juga di kelas ini bahwa kita sudah jadian, kamu yang nembak aku ya sayang,’’ ancam Salma sambil meraih jemari Dhafa dan menggenggamnya tanpa canggung.
Hanya beberapa detik saja tangan mereka menyatu, karena Dhafa kemudian menariknya dengan segera. Bagaimana ia mampu bertahan..., jantungnya terasa meledak saja manakala jemarinya bersentuhan dengan kulit putih dan lembut jemari Salma.
Salma dapat merasakan debar jantung yang menggelegar, tubuh yang bergetar, bahkan garis nadi pada leher Dhafa yang menegang, sebab wajah Salma masih tak beranjak dari samping telinga kiri Dhafa.
‘’Pasti baru pertamakali disentuh cewek, ya?” ledek Salma lagi, nafasnya yang hangat berhembus menyapu telinga Dhafa, memberikan sensasi aneh yang tak pernah Dhafa alami sebelumnya, sangat memabukkan. Namun, Dhafa berupaya untuk tetap terlihat datar dan dingin.
‘’Ambil sendiri, bukunya ada di dalam tasku!’’ ketus Dhafa lemah, ia lelah menahan ledakan-ledakan dahsyat yang tercipta setiap kali gadis bengal ini mendekatinya. Salma tersenyum penuh kemenangan mendengar kalimat pasrah Dhafa, ia kemudian bergegas melakukan apa yang diperintahkan Dhafa.
Setelah buku ada di tangannya, tak lupa Salma mendekati Dhafa kembali dan berbisik, “thank you, adek bayi lucu, mmuah!” Itu hanya ucapan bibirnya saja. Ia sama sekali tak menyentuh pipi Dhafa. Dan kata-kata "adek bayi lucu'' benar-benar menghempas kesadaran Dhafa kembali ke tempat semula.
Ingatan Salma terputus, ia sangat malu mengingat kelakuan gilanya. Itu adalah bagian paling buruk dari semua yang pernah ia lakukan kepada Dhafa yang pada saat itu bisa dibilang masih sangat lugu.
"Kacau, kacau...! Hiiiisshhh....Memalukan!" Salma mengacak-acak rambut panjangnya sembari duduk berselonjor di atas pembaringan. Ia meraih kembali ponsel yang tadi sempat dihempaskannya. Membuka dan membaca ulang pesan-pesan yang masuk di Grup Alumni. Iya, dari grup Alumni-lah ia tahu kepulangan Dhafa. Meski Salma tak begitu aktif di grup, ia tetap memantau sesekali.
"Hmm, memang bukan gosip lagi. Si cupu itu sudah kembali. Eh, Astagfirullah! maksudku Dhafa sudah kembali," gumamnya meralat ucapannya sendiri. Begitulah, meskipun ia sudah mantap untuk berhijrah dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya di masa lalu, ada saja hal-hal yang masih sulit untuk ia rubah. Perubahan total tak bisa diperoleh dalam waktu yang singkat.
Perlahan-lahan Salma memperbaiki sifat-sifat buruknya, satu-persatu. Dulu saat peristiwa itu terjadi, saat ia setiap hari mempermalukan Dhafa dengan semena-mena di depan kelas, hatinya begitu bebas tanpa rasa bersalah sama sekali. Baginya itu adalah salah satu cara bersenang-senang dan menghibur diri yang paling murah.
'Lalu, mengapa sekarang ada ketakutan yang muncul di dalam diriiku? Be cool, calm and confident Salma, itu hanya pikiranmu saja.' pekiknya dalam hati untuk menyamankan diri. 'Ah, tak mungkin juga si Dhafa langsung menggantikan Papanya begitu pulang dari Arab Saudi, tentunya dia butuh istirahat.' Salma terus menenangkan diri.
Salma sudah siap untuk berangkat ke kantor sekarang. Abaya polos warna hitam bersanding dengan khimar (jilbab besar) warna hijau pupus nan lembut dan cantik, tak ketinggalan secarik kain kecil dengan warna senada bertengger menutupi sebagaian besar wajahnya, hingga yang tersisa hanya bagian mata saja yang terlihat.
Penampilannya begitu tertutup, tapi semua kain itu seolah-olah tak mampu memudarkan aura seorang Salma Azzahra yang kharismatik dan mempesona. "Papa, Kak Firman, aku berangkat kerja," pamitnya sembari mencium tangan kedua pria yang sangat disayangi dan dihormatinya. "Hati-hati di jalan ya," ucap mereka melepas kepergian Salma.
''Assalamualaykum,'' tutup Salma dengan salam.
''Waalaykumussalam warohmatullah.''
Salma menghilang bersama sepeda motor kesayangannya. Papa dan kakaknya tersenyum haru memandangi kepergiannya yang selalu membuat kedua pria itu merindukannya.
'' Alhamdulillah ya, adik bandelmu itu akhirnya mau hijrah dan istiqomah. Papa sangat bahagia sekali dengan perubahan besarnya. Semoga dia selalu istiqomah seperti ini, Aamiiin."
''Iya Pa, Aamiin. Sudah sepatutnya kita bersyukur, terlebih lagi mengingat bagaimana bandelnya dia dahulu. Oya Pa, sepertinya sudah saatnya Salma untuk ta'aruf dengan seorang pria yang bagus agamanya.'' tukas Firman.
''Hmmmm..., carikanlah pria baik-baik untuk adikmu. Papa percayakan semuanya padamu."
''Insyaa Allah, Pa. Aku sudah ada kandidat yang tepat."
#Bersambung
Tok, tok, tok!
Terdengar suara pintu kamar Dhafa diketuk. Dhafa masih bersimpuh di atas sajadah, baru saja menyelesaikan sholat sunnah ba'da Isya.
"Iya sebentar Ma," sahut Dhafa sambil merapikan sajadahnya.
"Waktunya makan malam, Nak. Papa sudah menunggu di meja makan." Suara sang Mama memanggil Dhafa.
Dhafa meletakkan sajadah yang sudah dilipatnya ke atas meja yang berada tepat di samping pembaringan, kemudian buru-buru membuka pintu kamarnya. Ia mendapatkan wajah lembut dengan sebaris senyum hangat menyambutnya.
"Papamu sudah menunggu di meja makan, Nak," ulang mamanya.
"Iya ma, Dhafa mau ganti baju sebentar saja, baru ke ruang makan."
"Ok. Oh iya Nak, Mama kok tidak melihat kamu berangkat sholat berjamaah ke masjid tadi, hmm...?" Mama Dhafa bertanya dengan kening mengkerut.
"Ke masjid kok Ma, tapi Mama tadi sedang sibuk sekali di dapur, sementara waktu Isya sudah mepet, jadi Dhafa tidak sempat pamitan. Untuk sholat Sunnahnya, Dhafa tunaikan di rumah saja tadi."
"Tidak apa-apa Nak, yang penting kamu selalu ingat kewajibanmu sebagai seorang muslim. Kalau begitu Mama turun duluan, Papa dan Mama tunggu di bawah."
"Iya, Ma." Dhafa memperhatikan wanita kesayangannya itu beranjak menjauh, wanita yang selalu ia rindukan selama berada di Universitas King Abdul Azis, Jeddah.
Setelah selesai mengganti pakaiannya dengan style yang lebih nyaman dan santai, Dhafa segera bergegas menuju ke ruang makan di lantai satu. Ia berlari kecil menuruni anak tangga karena tak ingin Papa dan Mamanya terlalu lama menunggu.
"Assalamualaykum, maaf kalau Dhafa sedikit lama Pa, Ma." tukas Dhafa sembari menarik kursi pada posisi yang berseberangan dengan kedua orang tuanya. Lalu Ia duduk perlahan dengan menyodorkan sebaris senyum dan wajah yang hangat.
"Waalaykumsalam warohmatullah," jawab Papa dan mamanya serentak.
"Wah, wah..., para tetangga bilang kamu sudah berbeda sekarang. Tubuhmu bagus dan wajahmu jauh lebih Ngguanteng, ternyata itu benar. Masyaa Allah anak papa," ucap Bapak Ahmad Fachri Dzauri, yang biasa dipanggil Pak Fachri dengan bangga.
"Papa bisa aja, Alhamdulillah di kampus ada gym center gratis, aku usahakan buat excercise rutin," sahut Dhafa dengan wajah sedikit tersipu malu.
"Nah, sekarang disantap dulu makanannya, ngobrolnya nanti dilanjut lagi," sela Nyonya Fachri.
Dhafa mulai menyantap hidangan favoritnya dengan lahap dan bersemangat, begitu juga Papa dan Mamanya makan dengan perasaan bahagia, sebab bisa berkumpul kembali dengan Putra mereka satu-satunya.
"Dhafa, mulai pekan depan kamu yang ambil alih tugas Papa di kantor. Papa ingin merasakan liburan yang santai dan lama," ujar Pak Fachri setelah acara makan usai.
"Hmm..., sebenarnya Dhafa ingin cari peluang kerja di tempat lain, Pa. Tapi, boleh juga usul Papa. Pekan depan mulai hari Senin, kan? Berarti tiga hari lagi," gumam Dhafa.
"Iya benar sekali, kamu tidak keberatan kan, Nak? Nanti ayah kirimkan data terbaru perusahaan dan karyawan ke alamat email-mu."
"Dhafa justru sangat berterima kasih sebab Papa berkenan memberikan kepercayaan yang besar, tapi Papa tahu sendiri kan kalau jurusanku Teknik Komputer. Pastinya Dhafa masih perlu bimbingan dari Papa, hehe.... "
"Aaah, itu hal gampang. Papa sesekali akan pantau perkembangan kamu nanti. Toh juga di kantor ada Bibi Halimah yang jadi sekretarismu, Pak Yusuf yang pegang Manajerial, dan Om Hibban di bagian Personalia," jelas Pak Fachri dengan sorot mata bahagia melihat antusiasme Sang putra.
"O ya, ada lagi pegawai baru di bagian Akuntansi, dia ahli Akuntansi yang jago Bahasa Inggris. Jadi, dia sesekali bisa menjadi pengganti penerjemah utama kita saat berhalangan, orangnya supel dan smart, Masyaa Allah. Dan ingat mereka semua yang Papa sebutkan tadi, akan jadi barisan penyokongmu di perusahaan."
"Baik, Pa. Insyaa Allah Dhafa siap masuk kantor hari Senin," tukas Dhafa menutup percakapan itu sembari menyempatkan diri mengelus ponselnya, membuka pesan dari Amar.
"Ok Nak, besok Papa akan beritahukan hal ini kepada jajaran petinggi perusahaan."
"Baik Pa, terima kasih. Pa, Ma, Dhafa pamit dulu. Assalamualaykum."
"Waalaykumussalam warohmatullah," jawab pasangan suami istri itu dengan sebaris senyum, mereka faham akan sikap terburu-buru Dhafa, pasti sudah banyak sahabat karibnya yang menghubungi Dhafa via ponsel di tangannya itu.
Sesampainya di kamar, Dhafa cukup terkejut melihat notifikasi dari Grup Alumni yang sudah mencapai dua ratusan lebih. Dhafa malas untuk membukanya, ia tak akan menghabiskan waktu untuk hal yang menurutnya tak penting. Ia hanya membuka pesan pribadi dari Amar, Wayan, dan Sahir, sahabat-sahabat dekatnya.
Dhafa mulai berbalas pesan dengan Amar.
Bro, ane jemput ente besok, okey? Kita datang samaan ke acara reuni SMAN 1 Gondang Alumni 2018. (Amar)
Belum tahu nih mau datang atau tidak. Besok ane kabari, Bro. (Dhafa)
Payah ente kalau absen besok, udah lama ngilang ke luar negeri, tidak sekalipun ente pernah ikut reuni! Pokoknya besok ane jemput. (Amar)
Ane males lihat muka tembok si Salma, ente tahu kan kelakuannya gimana. (Dhafa).
Iya sih, memang dia dulu keterlaluan sama ente, Fa. Tapi mana ada si Salma pernah hadir di acara reuni, ia menghilang bagai di telan bumi. Kita semua penasaran ingin tahu kabar dia, tapi jarang banget yang pernah ketemu langsung sama dia, kan aneh. (Amar)
Baguslah kalau begitu, dunia aman kalau tanpa nenek sihir..., ya udah ane tunggu besok. (Dhafa)
Ok, bro. jam sembilan udah siap! (Amar)
Siiip, bro. (Dhafa)
Dhafa mengakhiri percakapan online-nya dengan Amar. Dia baru mengerti mengapa begitu banyak notifikasi dari Grup Alumni , ternyata besok ada acara reuni.
Hmm..., beneran aneh sih kalau seorang gila popularitas, sok ngartis, sok cantik, dan narsis level tinggi seperti Salma Azzahra tiba-tiba menghilang dari peredaran, bahkan tidak pernah hadir di acara reuni sekolah. Pasti ada yang tidak beres atau ada sesuatu yang terjadi padanya.
'Akh, kenapa juga aku harus perduli dan memikirkannya. Yang penting besok aman dan nyaman tanpa kehadiran si biang kerok Salma Azzahra.' Dhafa terus saja berkutat dalam pikirannya sendiri setelah mendengar cerita Amar tentang Salma.
"Hissh, nggak penting!" desisnya, mengingatkan dirinya sendiri. Bagaimanapun ia akan selalu benci gadis itu.
***
Mariana Hotel, Senggigi Beach, Lombok.
Reuni Alumni SMA 1 Gondang Tahun 2018.
Dhafa, Amar, Wayan dan Sahir turun dari mobil Pajero Sport milik Amar. Mereka memang Sultan, tapi bukan sultan dari kalangan Sultan seperti Reino Barrack suami penyanyi Syahrini atau Harvey Moeis suami Sandra Dewi. Mereka, bisa dibilang Sultan untuk wilayah Lombok Utara, bahkan setara Sultan tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat, lumayanlah!
"Bro, ane yakin semua akan kaget lihat ente yang sekarang, Rafi Ahmad, Rizky Billar, Oppa-oppa korea, lewaaat...," celetuk Sahir karena melihat perubahan besar dalam diri Dhafa. Tak ada lagi Dhafa yang dulu cupu, wajah tak terawat dan bertubuh pendek. Sepertinya dulu Dhafa hanya mengalami keterlambatan pertumbuhan, bukan masalah genetis, pikir Sahir.
"Ente, jauh lebih keren bro. Dari dulu sampai sekarang ente paling keren," balas Dhafa. Ia sedikit tegang begitu memasuki pintu utama hotel.
"Bener, Fa. Ane juga kaget sama perubahan ente yang luar biasa," tukas Amar yang menjadi pemandu jalan.
"Nah, itu aulanya sebelah kanan," tukas Amar lagi sebelum Dhafa sempat menanggapi kalimat Amar sebelumnya.
Akhirnya mereka sampai di aula besar tempat acara reuni diselenggarakan. Seketika itu juga semua mata tertuju ke arah mereka.
"Dhafa..., itu kamu kan?"
"Siapa sih yang pakai kemeja soft blue, cakep bener."
"Itu kan si Dhafa."
"Ow em jie, masa sih?!"
Suasana jadi sedikit ribut oleh suara para gadis yang mengomentari kehadiran empat sekawan yang sejak SMA memang sudah sangat dikenal karena prestasi mereka. Berbanding terbalik dengan Salma dan kawan-kawannya, paling populer di sekoleh melebihi kepopuleran empat sekawan ini. Namun, Salma and The Gangs dikenal karena berbagai skandal dan keributan yang dibuatnya di sekolah.
Tanpa sadar, Dhafa terus mengedarkan pandangannya ke seluruh aula untuk memastikan ketidakhadiran Salma. Ia tak kan bisa bernafas lega jika gadis itu ternyata hadir di sini.
#Berambung