Episode 1/ malam valentine.
kisah cinta Aurora dengan seorang pria yang tak sengaja ia temui dimulai.
‘’Aurora, kamu tidak merayakan valentine lagi untuk tahun ini?’’
Ledek beberapa gadis kepada Aurora, mereka hanya terkekeh dan naik ke mobil lamborgini merah. Aurora hanya menghela nafas, ia memang tidak tertarik dengan drama percintaan yang membuatnya merasa seakan sesak bernafas.
Ia mampir ke toko buku untuk membeli beberapa buku, namun disana ia tak sengaja bertemu dengan seorang pria menggunakan jaket hitam serta wajah yang di tutupi oleh masker.
‘’Awhg! Kalo jalan tuh lihat-lihat kali!’’ kesal Aurora kepada pria tinggi dan bertubuh kekar yang menabraknya.
Pria itu tidak menjawab, namun ia langsung menarik tangan Aurora dan membawanya keluar dari toko buku.
Aurora ingin marah kepada pria tersebut, namun tak sempat karena ketika akan meledak marah, Aurora sudah terlanjur terpana dengan ketampanan dan wajah yang sangat old money sekali.
‘’Maaf,’’
Pria tersebut beranjak pergi meninggalkan Aurora yang masih tak berkedip menatap pria tampan tersebut, ‘’Apakah aku sedang ada di surga? Kenapa bisa ada pria se tampan dia yang terlahir ke dunia ini?’’
…..
Esok harinya, perayaan hari valentine pun akan dimulai, dimana para gadis-gadis akan memberikan kue istimewa kepada pria yang mereka sukai. Berbeda dengan Aurora, ia malah tertarik kepada buku-buku yang sudah ia beli dari hasil kerja paruh waktunya.
‘’Aurora,’’ sapa Gendis.
Aurora hanya menimpali dengan satu ucapan, ia kembali focus kepada semua buku-bukunya.
‘’Aurora, Aurora. Apakah kamu tidak bosan dengan tumpukan buku konyol ini? Sekarang valentine, apakah kamu tidak ingin memberikan coklat kepada pria manapun? Lupakan buku-buku yang tak akan membuat kamu kaya di masa depan, jika kamu ingin kaya, maka kamu harus mencari pria kaya anak konglomerat yang bisa merubah nasib kamu Aurora, bukan hanya gila dengan buku-buku ini saja!’’ saran Gendis.
Aurora hanya memberikan senyum tipis dan berkata, ‘’Gendis, mendapatkan pria kaya itu bukan segalanya, tapi menjadi kaya akan jerih payah sendiri jauh lebih baik. Kehidupan itu tak se indah drama drama, ini kenyataan. Mana mungkin ada seorang pria kaya yang akan tertarik kepada ku? Aku hanya gadis miskin yang beruntung dengan ilmu bisa berada di kampus elite seperti ini,’’
Ia menutup bukunya dan melirik kepada bungkusan coklat di tangan Gendis, ‘’Kamu sudah mempersiapkan coklat untuk seorang pria? Siapa pria itu?’’ tanya Aurora yang penasaran.
Gendis malah tersenyum-senyum sendiri, ia lantas menjatuhkan tubuhnya ke rerumputan dan memejamkan mata, ‘’Kamu tahu pria kaya yang bernama Roberto?’’
Aurora menggelengkan kepala.
‘’Cih, salah diriku yang bertanya kepada kamu, Aurora. Kamu mana mungkin akan tertarik kepada pembahasan ini, kamu kan lebih ingin menjadi kutu buku di bandingkan mendapatkan pria kaya!’’
Gendis pun bangkit duduk kembali dan menatap kepada Aurora, ia memegang kedua pipi Aurora dengan berkata, ‘’Roberto, anak tunggal dari keluarga konglomerat Gemini group. Dia mengadakan pesta besar-besaran di kediaman mewahnya dan acara itu mengundang kampus kita yang memang terkenal dengan gadis-gadis cantiknya,’’
‘’Terus, hubungan nya dengan aku apa? Jangan bilang jika kamu sedang memikirkan rencana lagi, aku tidak akan ikut acara seperti itu, kamu saja yang pergi!’’ ujar Aurora, ia seakan paham dengan maksud tatapan iba Gendis.
Gendis malah merengek meminta agar Aurora mau datang bersamanya ke pesta malam valentine itu, namun Aurora tetap kekeh dengan pendiriannya, ia tidak akan pergi.
‘’Ayolah, Aurora. Hanya kamu teman ku yang bisa ku andalkan, jika kamu tidak datang … maka nyawa ku di kampus ini pun akan ikut melayang, aku mohon Aurora … please …’’ rengek Gendis.
Aurora menghela nafasnya dan menatap lekat kepada Gendis yang memberikan wajah iba.
‘’Kamu taruhan lagi dengan mereka?’’ tebak Aurora.
Gendis hanya terkekeh dan membenarkan ucapan Aurora.
‘’Kamu kan tahu jika mereka itu terlahir dari keluarga kaya raya, sementara kita … kita hanya orang miskin yang terbantu oleh beasiswa untuk berada di tempat elite seperti ini,’’ ujar Aurora yang bangkit berdiri.
‘’Tapi Aurora, kamu tahu kan jika aku ini orangnya tidak bisa di tantang, mereka menantang aku dan kamu untuk menghadiri acara itu, jika kita tidak datang ….’’
Aurora hanya melangkah dan Gendis pun mengejar temannya untuk mau ikut ke acara malam valentine.
……
‘’Gendis! Gendis! Kamu mau bawa aku kemana, hah?!’’ kaget Aurora ketika tangannya di Tarik secara paksa.
‘’Memberikan sentuhan make up kepada kamu tentunya,’’ sahut Gendis.
Mereka berdua sudah berada di salon ternama di kota tersebut.
‘’Kamu ada uang dari mana untuk mengajak ku ke salon mahal ini?’’ bisik Aurora.
‘’Ini uang tabungan ku Aurora, makanya kamu harus membantu ku. Aku yakin jika kamu akan sangat cantik ketika di berikan sentuhan make up di wajah mulus kamu ini, kita harus memenangkan pertaruhan dengan gadis-gadis kaya itu!’’ sahut Gendis dengan berbisik.
Aurora hanya menghela nafasnya, ingin beranjak namun kasihan dengan mata iba yang di berikan oleh Gendis.
‘’Ini kali terakhirnya aku akan membantu kamu dengan taruhan konyol ini,’’
Ucapan Aurora sebelum ia di bawa masuk ke dalam ruangan dan akan di make over secantik mungkin.
……
Dua jam telah berlalu, Aurora pun sudah selesai di berikan sentuhan make up dan gaun yang sangat mewah. Bukan hanya Gendis yang tertarik dan takjub melihat betapa cantiknya Aurora dengan gaun putih, hampir semua pengunjung di salon khusus orang kaya mereka tak percaya jika ada gadis cantik seperti Cinderella di kehidupan nyata.
Aurora yang tidak terbiasa dengan sepatu tinggi, membuatnya kesusahan ketika melangkah.
‘’Kenapa semua orang menatap ku seperti itu? Apakah aku tidak cocok menggunakan gaun berat ini?’’
Gendis memegang kedua bahu Aurora, ia memberikan senyuman lebar.
‘’Kamu sangat cantik Aurora, tidak akan ada yang percaya jika kamu ini seorang Aurora, si kutu buku. Akan ku pastikan jika kita yang akan memenangi taruhan ini, semua mata akan tertuju kepada kamu di pesta valentine, aku yakin akan banyak pria kaya yang tertarik dan mengajak kamu berdansa, kamu Queen Aurora, Cinderella di kehidupan nyata!’’
"Akh, kamu terlalu berlebihan Gendis. Oh yah ngomong ngomong gaun ini sangat berat bagiku, aku tak yakin bisa memakai nya di acara malam valentine ini. Bagaimana jika kamu saja yang memakai gaun ini?" Ujar Aurora.
"Mana bisa Aurora, kamu yang Queen nya bukan aku!"
Huff.
"Tapi ... Aku tidak terbiasa dengan sepatu tinggi ini,"
Gendis tersenyum penuh makna, seakan ia sudah memiliki rencana untuk perayaan malam valentine
Bersambung.
Episode 2/ Dasar CEO mesum!
Malam harinya.
Perayaan besar-besaran valentine tengah di adakan di kediaman mewah Gemini group, gadis-gadis cantik sudah bersiap untuk mengambil dan memikat hati tokoh utama pada malam ini, Roberto pria tampan berusia 30 tahun.
‘’Lihatlah lautan gadis-gadis cantik dan seksi itu, Robert! Kamu hanya tinggal memilih salah satu di antara mereka untuk kamu ajak berdansa,’’ ucap Maxim yang berdiri di sebelah Robert.
Roberto tidak peduli dengan ucapan Maxim, ia hanya sibuk dengan anggurnya, dan menikmati alunan music di malam ini.
Di bawah sana suasana meriah dengan di hiasi oleh gadis-gadis cantik dan seksi yang sibuk menunggu kedatangan Robert, tepat pada pukul delapan dua gadis melangkah ke ruangan pesta.
Semua mata tertuju kepada gadis cantik yang menggunakan gaun putih, bahkan gelas di tangan Maxim pecah di lantai.
‘’Hei, anggur lo mengenai pakaian mahal gue!’’ kesal Roberto menatap tajam dan tidak suka kepada Maxim.
Maxim memegang kedua pipi Roberto dan mengarahkan pandangan matanya ke bawah, Roberto kaget dengan kehadiran gadis bergaun putih.
‘’Siapa gadis itu?’’ pikir Roberto.
‘’Lebih baik kita ke bawah sekarang, dari pada penasaran setengah mati di atas sini,’’ ajak Maxim yang menarik tangan Roberto.
…..
‘’Kenapa semua orang menatap kepada ku seperti itu? Apakah ada yang salah dengan penampilan ku Gendis?’’ bisik Aurora.
‘’Bukan Aurora, mereka semua pasti sedang terpana dengan kecantikan yang kamu miliki, kamu sangat cantik sekali Aurora!’’ balas Gendis dengan berbisik.
Kening Aurora berkerut, ia merasa sangat aneh dengan tatapan mata semua orang. Namun di saat yang bersamaan muncullah dua pria tampan menuruni tangga.
‘’Siapa mereka?’’ bisik Aurora.
Gendis berdecak kesal, temannya ini memang kutu buku sekali, padahal semua gadis di kampus mereka mengenal kedua pria yang begitu popular, kecuali Aurora.
‘’Di sebelah kanan itu namanya Maxim, anak pertama dari tiga bersaudara, ia merupakan CEO sukses, dan kabar-kabarnya sudah putus dengan pacar modelnya bernama Juliet. Dan yang di sebelahnya itu Roberto, CEO kaya dengan penuh pesona, anak tunggal dari keluarga konglomerat Gemini group, kabarnya ia begitu dingin kepada semua gadis-gadis cantik, belum ada yang berhasil meluluhkan Roberto,’’ jawab Gendis dengan berbisik.
‘’Dan tuan muda Roberto itu incaran ku, wajahnya yang tampan bagaikan pangeran, kekayaan, kepopuleran, semuanya melekat pada diri Roberto, pasti akan sangat beruntung jika bisa menjadi kekasih dari CEO dingin itu,’’ imbuh Gendis yang membuat Aurora rasanya ingin muntah saja.
…..
Kedua pria tampan itu sudah berdiri tepat di hadapan Aurora dan Gendis.
‘’Selamat malam gadis-gadis cantik,’’ sapa Maxim.
‘Pria ini?’ batin Aurora yang rasanya ia pernah bertemu dengan pria tampan bernama Roberto.
Maxim melihat kepada tatapan mata dari Aurora, gadis paling menarik di pesta perayaan valentine.
‘’Perkenalkan nama saya Maxim, , anak pertama dari tiga bersaudara, CEO sukses dan status saya pun single. Nama kamu berdua siapa?’’ tanya Maxim dengan mengedipkan satu matanya kepada Aurora.
‘’Saya Gendis dan ini Aurora,’’ ujar Gendis yang menarik paksa tangan Roberto untuk berjabat tangan.
‘’Aurora? Nama yang bagus seperti orangnya, maukah kamu berdansa dengan ku Aurora?’’ ajak Maxim.
Gendis malah memberikan anggukan, akhirnya Aurora berdansa dengan Maxim dan Gendis berdansa dengan Roberto, semua mata tertuju kepada Aurora yang menarik perhatian semua orang.
Di meja sana, terdapat para gadis-gadis dengan raut wajah kesal menatap tidak suka kepada Aurora dan Gendis.
‘’Siapa gadis bergaun putih itu? Apakah dia memang gadis dari kampus kita?’’
Pertanyaan demi pertanyaan terus terpikirkan oleh gadis-gadis kaya yang tidak pernah melihat gadis secantik Aurora di kampus.
…..
‘’Bagaimana? Apakah menurut kamu kedua gadis tadi sudah bisa membuat kamu tertarik kepadanya, Robert?’’ tanya Maxim dengan menuangkan anggur ke gelasnya.
Namun Robert malah terlihat sedang berpikir keras.
‘’Hei, kenapa kamu malah melamun begini? Seharusnya kamu bersenang-senang dengan perta valentine ini, ku tebak pasti sudah banyak gadis-gadis yang memberikan coklat kepada kamu, Robert. Hal apa yang sedang kamu pikirkan ini?’’ tanya Maxim.
Robert menghela nafas.
‘’Rasanya aku pernah bertemu dengan gadis yang berdansa dengan kamu, Maxim. Yah, aku pernah bertemu dengan gadis itu, namun dimana yah?’’ pikir Roberto.
Maxim malah tertawa terbahak-bahak.
‘’Haha hahah, jangan-jangan gadis itu yang sudah berhasil membuat seorang CEO dingin seperti kamu tertarik padanya,’’ ledek Maxim.
Roberto yang kesal dengan ejekan Maxim berlalu pergi.
…..
Petaka besar pun terjadi pada perayaan malam valentine itu, sebuah ledakan besar yang tak tahu asalnya dari mana berhasil membuat kekacauan serta kepanikan dari semua tamu undangan, mereka berlarian ke luar untuk menyelamatkan diri, tak terkecuali Gendis.
‘’Aurora! Dimana gadis itu?’’ pekik cemas Gendis.
Maxim dan Roberto melangkah mendekat.
‘’Kenapa?’’ tanya Maxim.
‘’Aurora, Aurora masih ada di dalam!’’
Jawaban dari Gendis membuat Roberto langsung melangkah masuk ke dalam untuk menyelamatkan Aurora.
‘’Roberto!’’ panggil Maxim ketika suasana semakin menegangkan, kobaran api pun semakin besar, namun Roberto tidak peduli dengan panggilan temannya.
Gendis malah menangis sejadi-jadinya, Maxim yang awalnya ingin masuk ke dalam untuk menyelamatkan Aurora, harus bisa menahan diri dan berusaha menenangkan Gendis.
‘’Tenanglah, Aurora pasti akan selamat.’’
…..
Di dalam sana Roberto sedang berusaha mencari keberadaaan Aurora, ia kesal sekali karena sudah hampir sepuluh menit mencari, namun belum juga di temukan, padahal kobaran api semakin besar.
‘Cih! Kemana perginya gadis itu!’ kesal Roberto.
Namun hingga sorot matanya berhasil menemukan gadis bergaun putih yang sedang terjebak di sebuah pintu.
‘’Hei! Semua orang sedang panik dengan keberadaan kamu, namun kamu malah tidak mau keluar dari tempat ini! Sekarang ayo pergi!’’ cerca Roberto yang menarik tangan Aurora, namun tidak bisa.
‘’Jika sudah bisa sedari tadi, maka sudah dari tadi saya menyelamatkan diri. Apakah Tuan tidak melihat jika saya terjebak dengan gaun menyebalkan ini!’’ kesal Aurora yang berusaha melepaskan diri dari gaun putih yang telah membuatnya terjebak di tengah kobaran api yang semakin membesar.
Roberto berusaha merobek gaun tersebut namun tidak bisa, ia melihat ke sekelilingnya untuk mencari benda yang bisa ia gunakan.
‘’Nah, dengan cara ini pasti bisa!’’ gumam Roberto yang mengambil sebuah pedang dari sarangnya.
Mata Aurora terbelalak tidak percaya, ‘’Bisa apanya! Bisa-bisa saya berpindah alam pastinya!’’
Roberto berdecak kesal, ‘’Sudahlah, jika kamu ingin selamat maka kamu harus tenang dan biarkan saya menggunakan pedang ini!’’
Aurora memejamkan mata, Roberto yang sangat ahli untuk bermain pedang dengan mudah ia membelah dua gaun putih yang telah membuat Aurora terjebak.
Namun mata Roberto malah tertuju kepada tubuh mulus Aurora yang begitu memikat, bahkan saking terpana nya ia sampai mimisan. Aurora membuka kembali matanya dan menatap heran kepada tatapan mata dari Roberto yang seakan sedang memindai tubuhnya.
‘’Dasar CEO mesum!’’ pekik Aurora yang berusaha menutupi tubuhnya dengan sisa-sisa gaun putih.
Bersambung.
Episode 3/ Pemalsuan kematian sang ceo.
Aurora masih sangat kesal dengan tingkah Roberto yang masih tidak mau mengaku jika dia memang mesum.
"Maling mana ada yang berani ngaku, jika para maling mengaku, maka penjara sudah pasti akan penuh!" Kesal Aurora.
‘’Kamu ini memang gadis keras kepala, padahal Saya sudah mengatakan jika saya bukan pria mesuk! bukan pria mesum!’ kamu paham kan dengan ucapan saya!’ sergah Roberto yang berusaha mengelak.
‘’Cih, mengaku saja! Tidak ada gunanya juga Tuan berbohong karena memang ada bukti jika CEO seperti Anda ini memang mesum!’’ kesal Aurora, setelah itu ia malah tersenyum sinis.
‘’Hei! Apa buktinya hah! Menuduh seseorang tanpa bukti bisa di kenakan pasal berlapis nantinya, kamu bisa saja saya tuntut di pengadilan bahkan kamu bisa saja saya masukkan ke dalam penjara!’’ elak Roberto.
‘’Tuan mimisan karena tidak bisa menahan diri ketika melihat tubuh saya!’’ jawab telak Aurora yang membuat Roberto terdiam seribu bahasa.
‘’Tapi ….’’
Namun ketika yang bersamaan turun beberapa orang dengan menggunakan pakaian anti api dari tangga, Roberto menarik kembali tubuh mungil Aurora untuk masuk ke dalam toilet. Tubuh kekar Roberto menghimpit tubuh Aurora di dinding toilet, posisi mereka sangat dekat. Ketika Aurora hendak berkata tangan Roberto menahannya, ia memberikan isyarat untuk tetap diam.
‘’Shtt, kamu lihat dua pria di luar sana!’’
Tatapan Aurora pun tertuju kepada kedua pria yang seakan tengah mencari sesuatu, namun mata Aurora terbelalak sempurna ketika bongkahan kayu besar hendak jatuh dan menghantam tubuh Roberto.
Dengan cekatan Aurora menginjak keras kaki kiri Roberto, ia menarik tubuh kekar itu agar tak terkena dengan bongkahan kayu yang bisa mencelakai CEO dingin ini.
‘’Kamu ingin membuat kita ketahuan apa!’’ kesal Roberto.
‘’Bukan, bukan begitu …’’
Belum sempat Aurora mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi, kedua pria itu langsung menghantam tubuh besar Roberto dengan menggunakan palang kayu.
‘’Awhg! Siapa kalian hah!’’ teriak Roberto yang berusaha bertahan.
Pertarungan pun tak bisa terelakkan lagi, Roberto berusaha melawan kedua pria tersebut, dan Aurora berusaha berpikir bagaimana caranya ia bisa meminta bantuan.
‘’Cih! Kenapa ponsel ini malah tidak bisa di gunakan ketika sedang dalam keadaan terdesak begini!’’ kesal Aurora, ponsel jadulnya mendadak mati karena kehabisan baterai.
…..
‘’Roberto!’’ pekik Aurora ketika ceo itu tersungkur di lantai.
Aurora melangkah mendekat untuk menahan kedua pria tersebut agar tidak menghabisi nyawa Roberto.
‘’Biarkan saja mereka berdua, bos. Tidak perlu kita mengotori tangan kita untuk membunuh dia, biarkan kobaran api ini saja yang membuat dia berpindah alam. Sebaiknya kita pergi sebelum polisi memeriksa ruangan ini, kita harus meninggalkan tempat ini dan menghilang tanpa jejak!’’ sarannya.
‘’Hmm, benar juga kamu. Sekarang nikmatilah pembalasan kami keponakan sialan!’’
Kedua pria itu langsung keluar dan meninggalkan Aurora yang berusaha membopong tubuh kekar Roberto.
‘’Cihh! Tubuh pria ini sangat berat sekali!’’ kesal Aurora.
Roberto sudah pingsan dan kobaran api pun semakin besar, untungnya Aurora masih bisa berpikir positif, ia mengambil kain dan membasahi kain itu.
‘’Sialan! Jalan depan sudah tidak bisa di lewati!’’ kesal Aurora.
Ia pun memutar kembali otaknya, dan teringat dengan kedua pria tersebut, Aurora berusaha menggendong tubuh kekar Roberto. Setelah berjuang sepuluh menit agar bisa selamat dari kobaran api, mereka berdua berhasil lolos.
Aurora menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Roberto yang sedang pingsan, ‘’Huff, kenapa kamu sangat berat sekali!’’
Aurora memperhatikan lebih dekat wajah Roberto, ‘’Rasanya aku pernah melihat wajah ini, tapi dimana yah?’’ pikirnya.
Ketika masih sibuk berpikir keras apakah mereka berdua memang pernah bertemu sebelum ini, kedua pria yang menyerang Roberto terlihat sedang berbincang dengan seseorang.
‘’Tenang saja Tuan besar, dia sudah pasti mati karena kobaran api di dalam sana, lagian polisi tidak akan menemukan jejak kita,’’
‘Siapa mereka? Dan kenapa hendak mencelakai pria ini?’ pikir Aurora, nasib baik ia dan Roberto di tutupi oleh rerumputan ilalang.
‘’Bagus, pastikan besok kalian berdua membuat berita kematian tentang dia dan pastikan juga tidak akan menimbulkan kecurigaan dari pihak kepolisian, paham!’’
Kedua pria tersebut memberikan anggukan, bos besar yang mereka sebut langsung masuk ke dalam mobil, kedua pria tersebut melepaskan pakaian anti apinya, dengan samar-samar Aurora bisa melihat wajah kedua pria tersebut.
Hachim!
‘’Suara apa itu?!’’
Aurora lantas menutup mulutnya, ‘Jangan sampai mereka berdua melihatku di semak-semak ini! Oh tuhan selamatkan lah hamba!’
‘’Sudah, kita harus pergi sekarang! Polisi akan datang untuk menginvestigasi tempat ini, kita tidak boleh berada di tempat ini,’’ cegah temannya.
Akhirnya kedua pria itu melangkah pergi dan Aurora pun bisa bernafas lega.
‘’Huff, hampir saja.’’
…..
Keesokan paginya, semua siaran di stasiun televisi di ambil alih oleh keluarga konglomerat gemini group, mereka akan memberikan pengumuman penting perihal kebakaran di malam valentine.
[Bagaimana dengan kabar Tuan muda? Rumornya Tuan muda masuk ke dalam kobaran api untuk menyelamatkan seorang gadis, apakah Tuan muda dan gadis itu berhasil selamat? Atau tidak? Mohon konfirmasinya,]
‘’Memang benar Tuan muda masuk kembali ke dalam ruangan yang sudah terbakar, namun setelah di selidiki oleh pihak kepolisian hanya di temukan satu nyawa pria yang sudah tidak bisa di investigasi siapa dia, dan kami semua menyimpulkan jika Tuan muda telah meninggal dunia,’’
Kericuhan pun terjadi di sela-sela rapat penting, banyak dari mereka yang tidak percaya jika Roberto, pewaris tunggal sudah meninggal dunia.
[Tapi … apakah sudah di pastikan jika mayat yang di temukan oleh pihak kepolisian memang mayat dari tuan muda? Dan bagaimana dengan gadis itu? Dimana keberadaannya sekarang?]
Pertanyaan dari wartawan pun di tutup, keluarga Roberto meninggalkan podium, sementara wartawan masih meminta kepastian apakah memang benar berita menggemparkan ini jika Tuan muda sudah meninggal dunia.
….
Di tempat yang berbeda, Aurora berada di rumah sederhananya, ia pun ikut menyaksikan berita penting di pagi ini.
Aurora menatap kepada Roberto yang masih belum sadarkan diri, ‘Apa sebaiknya ceo ini aku rahasiakan keberadaannya? Mungkin mereka orang-orang yang mengincar nyawa ceo ini, oleh sebab itu mereka semua membuat pengumuman pemalsuan kematian dia,’ pikir Aurora.
'Tapi tidak mungkin jika pria ini terus bersamaku, aku saja hidup pas-pasan di kota besar, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup ku saja, sudah kesulitan,"
‘’Awhg,’’
Aurora lantas melangkah mendekat, ‘’Kamu sudah bangun!’’ pekik bahagia Aurora.
Mata Roberto perlahan terbuka, ‘’Dimana ini? Dan siapa kamu?’’
‘Apa jangan-jangan dia hilang ingatan karena pukulan keras di bagian belakang kepalanya?’
~Bersambung.