Suara bising Bandara Soekarno-Hatta selalu punya cara sendiri untuk membuat kepala Liora Anindya terasa berdenyut. Aroma avtur, deru mesin turbin di kejauhan, dan langkah kaki ribuan orang yang terburu-buru adalah musik harian bagi perempuan itu. Sebagai pramugari senior, Liora sudah hafal mati setiap sudut terminal ini. Hari ini, jadwal terbangnya ke Denpasar baru saja mendarat, dan dia sedang berjalan menuju pintu keluar dengan seragam kebaya biru langitnya yang masih tampak licin tanpa kerutan sedikit pun.
Liora menarik koper kecilnya dengan anggun. Rambutnya disanggul rapi-"french twist" yang sempurna-dan senyum tipis masih terpatri di wajahnya, meski sebenarnya kakinya sudah mulai protes karena terlalu lama bertumpu di atas high heels lima sentimeter.
"Liora! Tunggu!"
Liora menoleh, melihat temannya, Siska, berlari kecil menyusul. "Kenapa, Sis? Ketinggalan sesuatu di galey?"
"Bukan, itu... ada titipan dari kru darat buat kamu. Berkas mutasi jadwal bulan depan," ucap Siska sambil menyodorkan map plastik. "Eh, tapi kamu nggak langsung pulang, kan? Makan dulu yuk di lounge depan."
Liora melihat jam tangan di pergelangan kirinya. "Aduh, kayaknya nggak bisa deh. Aku janji mau mampir ke toko buku bentar, ada titipan adikku. Duluan ya, Sis!"
Liora melambaikan tangan dan melanjutkan langkahnya. Dia melewati area kedatangan internasional yang padat. Saat itulah, segalanya seolah melambat. Di antara kerumunan orang yang menunggu jemputan, mata Liora menangkap sosok pria yang berdiri mematung di dekat pilar besar.
Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Jam tangan peraknya berkilau terkena lampu bandara. Wajahnya tegas, namun ada raut lelah yang dalam di sana. Liora mengerutkan kening. Rasanya akrab. Sangat akrab.
"Arlo?" gumam Liora pelan, hampir tak percaya.
Arlo Dirgantara. Teman masa kecilnya yang dulu sering memanjat pohon mangga bersamanya. Pria yang menghilang tanpa kabar setelah keluarganya pindah ke luar kota sepuluh tahun lalu. Liora mempercepat langkahnya, rasa antusias mengalahkan rasa lelahnya.
"Arlo! Arlo Dirgantara, ya?" seru Liora saat jarak mereka tinggal beberapa meter.
Pria itu menoleh. Awalnya matanya menyipit, mencoba mengenali siapa yang memanggilnya. Namun, begitu pandangannya jatuh pada Liora-atau lebih tepatnya, pada seragam pramugari yang dikenakan Liora-ekspresinya berubah drastis.
Bukan senyum hangat yang didapat Liora, melainkan sorot mata penuh ketakutan sekaligus kebencian.
Arlo tersentak mundur satu langkah. Napasnya tiba-tiba menjadi pendek dan berat. Tangannya yang memegang ponsel mulai gemetar hebat. Di matanya, sosok Liora yang cantik berseragam biru itu mendadak menjadi bayangan kabur yang menyeramkan. Memorinya terseret paksa ke sebuah malam beberapa tahun lalu, saat seorang perempuan dengan seragam serupa mencampakkannya dengan kata-kata paling kejam tepat di hari mereka seharusnya membicarakan pernikahan.
"Arlo? Kamu kenapa? Ini aku, Liora," ucap Liora panik melihat perubahan drastis pada pria itu. Liora mencoba mendekat, tangannya terulur ingin menyentuh lengan Arlo untuk menenangkannya.
"Jangan... jangan mendekat!" suara Arlo tercekat, parau dan penuh tekanan.
Liora terpaku. "Arlo, kamu sakit? Aku cuma mau-"
"Aku bilang menjauh!" bentak Arlo lebih keras, membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh. Wajah Arlo pucat pasi. Keringat dingin mulai muncul di keningnya. Dadanya sesak, seolah-olah oksigen di bandara itu mendadak habis.
Setiap detail pada diri Liora saat ini-syal yang melingkar di leher, pin sayap perak di dada kiri, hingga aroma parfum yang segar-adalah pemicu yang menghantam mental Arlo tanpa ampun. Baginya, Liora saat ini bukan teman masa kecil yang manis, melainkan simbol pengkhianatan yang paling nyata.
"Lo... lo pramugari?" tanya Arlo dengan nada jijik yang tak tertahankan, meski suaranya masih bergetar karena serangan panik yang menyerangnya.
Liora tertegun, tangannya yang menggantung di udara perlahan turun. "Iya, aku... aku baru kerja beberapa tahun ini. Arlo, kamu kenapa sih? Kita udah lama banget nggak ketemu, masa kamu malah begini?"
Arlo tidak menjawab. Dia memegang dadanya, berusaha mengatur napas yang kian tak beraturan. Matanya memerah. Tanpa sepatah kata pun lagi, Arlo berbalik dan setengah berlari meninggalkan area tersebut, menabrak beberapa orang di jalannya tanpa meminta maaf.
"Arlo! Tunggu!" Liora mencoba mengejar, namun langkahnya terhambat oleh koper beratnya dan kerumunan orang yang menghalangi jalan.
Dia hanya bisa berdiri mematung di tengah terminal, melihat punggung pria itu menghilang di balik pintu otomatis. Rasa senang yang tadi membuncah kini berganti menjadi rasa bingung dan sakit hati yang menyesak. Liora menunduk, menatap seragam yang sangat dia banggakan selama ini.
Kenapa Arlo menatapnya seolah-olah dia adalah monster? Apa yang terjadi pada pria itu selama sepuluh tahun ini?
Liora menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang tiba-tiba mendesak ingin keluar. Dia adalah Liora yang profesional, dia tidak boleh menangis di tempat umum dengan seragam ini. Tapi jauh di dalam hatinya, pertemuan kembali yang dia bayangkan akan indah itu justru berubah menjadi luka pertama yang tak ia sangka-sangka.
Bandara yang tadi terasa seperti rumah, mendadak terasa begitu asing dan dingin bagi Liora. Dia menyeret kopernya perlahan, meninggalkan keramaian dengan seribu pertanyaan yang tak punya jawaban. Di luar sana, langit mulai menggelap, seolah ikut merasakan kebingungan yang berkecamuk di dalam dada sang pramugari.
Ponsel di atas nakas bergetar hebat, menggeser posisinya perlahan hingga hampir jatuh ke lantai. Liora mengerang, menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi kepalanya. Matanya masih terasa berat, sisa dari tangisan singkat semalam dan jam tidur yang berantakan karena jadwal terbang yang tidak manusiawi. Namun, getaran itu tidak berhenti. Dengan malas, ia meraba-raba permukaan meja dan menyambar benda pipih itu.
Nama "Mama" tertera di layar. Liora berdehem, mencoba menormalkan suaranya agar tidak terdengar seperti orang yang baru bangun tidur atau habis patah hati.
"Halo, Ma?"
"Liora! Kamu sudah bangun? Duh, Mama lupa kamu baru mendarat kemarin sore ya? Maaf, maaf. Tapi ini penting banget, Sayang," suara mamanya di seberang sana terdengar penuh semangat, kontras dengan suasana hati Liora yang masih mendung.
Liora duduk bersandar di kepala ranjang, memijat pangkal hidungnya. "Penting kenapa, Ma? Ada apa?"
"Ingat Tante Ratna, kan? Sahabat Mama yang dulu rumahnya di sebelah kita pas di Bandung. Tadi pagi dia telepon Mama. Ternyata mereka sudah balik ke Jakarta! Dan kamu tahu apa yang lebih luar biasa? Anaknya, Arlo, sekarang jadi arsitek sukses di sini. Mama sudah janji sama Tante Ratna kalau kita bakal makan malam bareng besok malam."
Jantung Liora seakan berhenti berdetak sesaat. Nama itu lagi. Sosok yang kemarin lusa membuatnya merasa seperti orang asing di rumah sendiri.
"Ma... Liora nggak bisa. Jadwal terbang Liora padat banget," bohong Liora. Padahal, dia punya jatah libur dua hari.
"Jangan bohongin Mama, Liora Anindya. Mama sudah tanya Siska, katanya kamu libur dua hari ke depan. Pokoknya nggak ada alasan. Tante Ratna pengen banget ketemu kamu. Arlo juga pasti senang ketemu teman kecilnya, kan?"
Liora tersenyum getir. Senang? Arlo hampir pingsan karena ketakutan dan menghinanya di depan umum. Mana mungkin dia senang. Tapi, Liora tahu sifat mamanya. Sekali bilang harus, maka tidak ada jalan keluar. Dengan berat hati, ia menyanggupi meski perutnya terasa mulas memikirkan pertemuan itu.
Sisa hari itu dihabiskan Liora dengan rasa gelisah yang tidak menentu. Dia mencoba mencari tahu tentang Arlo melalui media sosial. Tidak sulit menemukannya. Arlo Dirgantara, pemilik firma arsitektur Lazuardi Design. Fotonya terpampang di sebuah majalah bisnis digital. Wajahnya masih sama, tapi sorot matanya yang dulu jenaka kini berubah menjadi sangat dingin dan waspada.
Liora memberanikan diri. Dia mencari nomor telepon Arlo melalui kontak lama yang mungkin masih aktif, atau setidaknya mencoba mengirim pesan lewat media sosial. Ia hanya ingin meluruskan kejadian di bandara. Ia tidak mau pertemuan besok malam menjadi bencana nasional.
"Arlo, ini Liora. Aku tahu kejadian kemarin mungkin bikin kamu nggak nyaman. Aku nggak tahu apa yang salah, tapi aku minta maaf kalau kehadiranku ganggu kamu. Besok mama kita mau ketemuan, aku harap kita bisa bersikap biasa saja."
Liora menekan tombol kirim. Lima menit, sepuluh menit, satu jam. Tidak ada balasan. Centang satu. Liora mencoba menelepon, namun yang terdengar hanyalah suara operator yang memberitahu bahwa nomor tersebut tidak dapat dihubungi.
"Dia beneran blokir aku?" gumam Liora tak percaya.
Rasa kesal mulai merayap di dadanya. Apa salahnya menjadi seorang pramugari? Pekerjaan ini halal, sulit didapatkan, dan dia bekerja keras untuk itu. Kenapa Arlo menatapnya seolah-olah dia adalah sampah masyarakat?
Malam harinya, Liora sulit memejamkan mata. Dia teringat masa kecil mereka. Arlo adalah orang yang selalu membelanya saat dia diejek karena terlalu kurus. Arlo yang mengajarinya cara tidak takut gelap. Sekarang, keadaan berbalik. Arlo yang tampak seperti orang yang hidup di dalam kegelapan yang ia buat sendiri.
Keesokan malamnya, dengan perasaan seperti tawanan yang menuju tiang gantungan, Liora bersiap-siap. Mamanya mewanti-wanti agar dia tampil cantik. Liora memilih terusan sederhana berwarna pastel, riasannya tipis, dan rambutnya dibiarkan tergerai-sangat berbeda dengan penampilannya saat bertugas. Dia berharap dengan tidak terlihat seperti "pramugari", Arlo tidak akan menyerangnya lagi.
Sesampainya di restoran, Tante Ratna sudah menunggu bersama seorang pria yang duduk membelakangi pintu masuk. Begitu Liora dan mamanya mendekat, pria itu berdiri. Itu Arlo. Dia tampak sangat rapi dengan kemeja putih yang pas di badannya.
"Liora! Ya ampun, cantik banget kamu sekarang!" Tante Ratna memeluk Liora erat.
Liora tersenyum ramah, lalu matanya beralih ke Arlo. Pria itu diam, wajahnya datar tanpa ekspresi. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum.
"Arlo, kok diem aja? Ini Liora, masa lupa?" tegur Tante Ratna sambil menyenggol lengan anaknya.
Arlo hanya mengangguk singkat. "Malam," ucapnya pendek, nyaris tidak terdengar.
Makan malam itu terasa seperti penyiksaan bagi Liora. Kedua ibu mereka sibuk mengenang masa lalu, tertawa-tawa tentang betapa lucunya Arlo dan Liora dulu yang sering dibilang jodoh. Setiap kali kata "jodoh" keluar, Liora bisa merasakan aura dingin yang memancar dari sisi meja Arlo.
Arlo sama sekali tidak menyentuh pembicaraan. Dia lebih banyak menunduk atau sesekali memainkan ponselnya. Saat pelayan datang membawa menu, tanpa sengaja Liora bergerak untuk membantu merapikan gelas yang menghalangi jalan pelayan tersebut-sebuah kebiasaan refleks seorang pramugari yang selalu ingin melayani.
Melihat gerakan itu, mata Arlo tiba-tiba menajam. "Bisa nggak, kebiasaan 'melayani' itu ditinggal di pesawat aja?" ucap Arlo tiba-tiba, suaranya dingin dan menusuk.
Meja mendadak sunyi. Mama Liora dan Tante Ratna saling pandang dengan bingung.
"Arlo! Apa-apaan kamu ngomong begitu?" bentak Tante Ratna malu.
Arlo meletakkan sendoknya dengan denting yang cukup keras di atas piring porselen. "Aku cuma kenyang sama kepura-puraan, Ma. Maaf, aku ada urusan mendadak."
Arlo berdiri, menarik jasnya yang tersampir di kursi, dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Liora terpaku, rasa malu dan marah bercampur jadi satu. Air matanya sudah di ujung mata, tapi dia sekuat tenaga menahannya.
"Liora, Maafkan Arlo ya... Tante nggak tahu kenapa dia jadi kasar begitu," Tante Ratna memegang tangan Liora dengan rasa bersalah yang mendalam.
Liora hanya bisa tersenyum paksa, meski hatinya hancur. Dia tahu ini bukan sekadar masalah benci profesi. Ada sesuatu yang jauh lebih rusak di dalam diri Arlo, dan sayangnya, kehadirannya justru menjadi garam di atas luka pria itu.
Setelah acara makan malam yang berantakan itu, Liora berdiri di parkiran restoran, menghirup udara malam yang dingin. Dia melihat mobil Arlo masih di sana, pria itu duduk di kursi kemudi dengan kepala bersandar pada setir. Liora mendekat, mengetuk kaca jendela dengan berani.
Arlo menurunkan kaca mobilnya sedikit. Matanya terlihat merah, entah karena marah atau menahan emosi lain.
"Kenapa kamu benci banget sama aku, Arlo? Apa salahku? Kalau soal seragam itu, aku kerja buat hidup, aku bukan orang jahat!" seru Liora, suaranya bergetar.
Arlo menatapnya lurus-lurus, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Kamu nggak salah, Liora. Profesi kamu yang salah. Kamu cuma versi lain dari orang yang pernah menghancurkan hidupku. Jadi tolong, jangan pernah muncul lagi di depanku, apalagi dengan wajah sok polos itu."
Kaca mobil kembali tertutup rapat. Arlo menginjak gas dan meninggalkan Liora yang berdiri terpaku di bawah lampu jalan yang temaram. Liora mengepalkan tinjunya. Dia tidak pernah menyangka, teman masa kecil yang paling dia rindukan justru menjadi orang yang paling ingin menghapus keberadaannya.
Malam itu, di dalam kamarnya, Liora tidak menangis. Dia justru merasa tertantang. Ada rasa penasaran yang besar bercampur dengan keinginan untuk membuktikan bahwa Arlo salah. Dia ingin tahu, siapa wanita yang sudah membuat Arlo menjadi "monster" dingin seperti itu, dan dia bersumpah, dia tidak akan membiarkan Arlo menghina profesinya lagi.
Pagi itu, suasana di meja makan rumah Liora terasa sangat canggung. Mamanya hanya mengaduk-aduk bubur ayam tanpa minat, sementara Liora sibuk mengikat rambutnya dengan gerakan kasar. Kejadian di restoran semalam masih membekas jelas, seperti luka bakar yang belum kering. Liora bisa merasakan tatapan penuh tanya dari mamanya, tapi dia sengaja mengalihkan pandangan ke layar ponsel yang menampilkan jadwal terbang cadangan atau standby.
"Liora," panggil mamanya pelan. "Tante Ratna tadi pagi telepon lagi. Dia nangis-nangis minta maaf soal kelakuan Arlo. Katanya, Arlo memang berubah drastis sejak balik dari luar negeri dua tahun lalu. Tapi Tante Ratna nggak pernah cerita detailnya kenapa."
Liora menghela napas panjang, meletakkan sendoknya. "Ma, Liora nggak apa-apa. Cuma ya kaget aja. Arlo yang dulu kan nggak kayak gitu. Dia yang paling sopan, paling kalem. Sekarang kok kayak orang yang punya dendam kesumat sama seluruh dunia."
"Apa karena pekerjaan kamu, ya? Mama bingung, kok dia bawa-bawa soal 'melayani' di pesawat segala. Memangnya apa yang salah dengan jadi pramugari? Itu kan pekerjaan mulia," lanjut mamanya dengan nada tidak terima.
Liora terdiam. Kalimat Arlo semalam-kamu cuma versi lain dari orang yang pernah menghancurkan hidupku-terus terngiang-ngiang. Siapa perempuan itu? Liora tahu dia tidak bisa membiarkan masalah ini menggantung. Bukan karena dia naksir Arlo, setidaknya itu yang dia katakan pada dirinya sendiri, tapi karena dia tidak suka dituduh tanpa alasan yang jelas.
Setelah mamanya berangkat ke pasar, Liora memutuskan untuk bertindak. Dia tahu di mana kantor Arlo dari hasil pencariannya kemarin. Lazuardi Design terletak di kawasan perkantoran elit di Jakarta Selatan. Dengan mengenakan celana jins gelap dan kaos putih santai yang dibalut jaket denim, Liora berangkat. Dia sengaja tampil seadanya, jauh dari kesan glamor seorang pramugari yang biasanya dilihat orang.
Gedung kantor itu tampak sangat modern, dengan banyak kaca besar dan aksen kayu minimalis. Sangat mencerminkan selera Arlo yang dulu senang menggambar garis-garis tegas di buku sketsanya. Liora masuk ke lobi dan langsung menuju meja resepsionis.
"Selamat siang, saya mau ketemu Pak Arlo Dirgantara. Saya teman lamanya, Liora," ucapnya dengan nada setenang mungkin.
Resepsionis itu tersenyum sopan namun ragu. "Maaf, Mbak Liora, Pak Arlo sedang ada rapat penting. Apa sudah ada janji sebelumnya?"
"Belum, tapi ini penting banget. Saya bakal tunggu di sini sampai dia selesai," sahut Liora sambil menunjuk deretan kursi di pojok ruangan.
Liora menunggu selama dua jam. Dia melihat orang-orang kantoran berlalu lalang, mendengar percakapan soal desain maket, hingga akhirnya pintu lift terbuka dan sosok Arlo muncul. Pria itu sedang bicara serius dengan seorang pria paruh baya yang tampak seperti klien besar. Arlo terlihat sangat berwibawa, namun saat matanya tak sengaja menangkap sosok Liora yang duduk di pojok, langkahnya sempat terhenti.
Wajahnya langsung mengeras. Setelah menyalami kliennya dan mengantarnya sampai pintu depan, Arlo berjalan lurus menuju Liora. Dia tidak menyapa, hanya berdiri di depan Liora dengan tangan masuk ke saku celana.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Arlo, suaranya rendah dan penuh penekanan. "Aku pikir kata-kataku semalam sudah cukup jelas."
Liora berdiri, mencoba mensejajarkan tinggi badannya, meski dia tetap harus sedikit mendongak. "Kata-katamu jelas, tapi nggak masuk akal. Arlo, kita ini teman masa kecil. Kamu nggak bisa seenaknya datang, marah-marah, lalu nyuruh aku hilang cuma karena profesiku. Aku butuh penjelasan. Siapa yang bikin kamu jadi pengecut begini?"
"Pengecut?" Arlo tertawa sinis, tawa yang terdengar hambar. "Kamu nggak tahu apa-apa, Liora. Keluar dari sini sebelum aku panggil keamanan."
"Panggil aja! Biar semua karyawan kamu tahu kalau bos mereka ini trauma sama seragam biru," tantang Liora. Suaranya mulai naik, memancing perhatian beberapa staf di sekitar sana.
Arlo tampak panik sesaat. Dia tidak ingin ada keributan di kantornya. Dengan kasar, dia menarik lengan Liora menuju ruang kerjanya yang berada di lantai atas. Dia membanting pintu ruangannya setelah mereka masuk.
Ruangan itu sangat rapi, tapi terasa dingin. Di salah satu sudut meja, Liora melihat sebuah kotak kayu kecil yang sangat dia kenali. Itu kotak musik yang dulu mereka beli bersama di pasar malam saat masih SMP. Ternyata Arlo masih menyimpannya.
"Kamu masih simpan itu?" tanya Liora, suaranya melembut.
Arlo mengikuti arah pandang Liora dan langsung menyambar kotak itu, menyembunyikannya di balik tumpukan dokumen. "Itu bukan urusanmu. Sekarang katakan mau kamu apa, lalu pergi."
"Aku cuma mau tanya, kenapa kamu benci banget sama pramugari? Apa yang dilakuin perempuan itu sampai kamu nganggep aku sama kayak dia?"
Arlo terdiam lama. Dia berjalan menuju jendela besar yang menghadap jalanan Jakarta yang macet. Punggungnya tampak tegang. "Namanya Sheila. Dia pramugari di maskapai yang sama denganmu sekarang. Kami tunangan tiga tahun lalu. Aku bangun karir ini dari nol buat dia, buat masa depan kami. Tapi ternyata, selama aku lembur mati-matian di kantor, dia asik bersenang-senang sama pilotnya di setiap kota tempat dia mendarat."
Suara Arlo bergetar saat melanjutkan. "Dia ninggalin aku lewat pesan singkat pas aku lagi nunggu dia di restoran buat ngerayain ulang tahun hubungan kami yang ke-5. Dia bilang, laki-laki yang cuma duduk di depan komputer nggak akan pernah bisa kasih dia kemewahan yang bisa dikasih oleh dunia penerbangan. Sejak hari itu, setiap kali aku lihat seragam itu, aku cuma lihat pengkhianatan."
Liora tertegun. Dia tidak menyangka lukanya sedalam itu. Dia merasa bersalah karena sudah marah-marah tadi, tapi di saat yang sama, dia merasa ini tidak adil bagi dirinya.
"Arlo... aku minta maaf soal Sheila. Tapi aku bukan Sheila. Aku kerja keras buat bantu Mama, buat sekolah adikku. Aku nggak pernah selingkuh, apalagi ngerendahin orang lain. Kamu nggak bisa pukul rata semua orang cuma karena satu orang jahat."
"Bagi kamu mungkin gampang ngomong gitu," Arlo berbalik, matanya berkaca-kaca namun penuh amarah. "Tapi buat aku, seragam itu adalah pengingat kalau aku nggak pernah cukup baik. Sekarang pergi, Liora. Kembalikan kotak musik itu kalau kamu ketemu di jalan, tapi jangan pernah datang ke kantor ini lagi."
Liora melihat kotak musik yang diletakkan Arlo kembali di meja. "Aku nggak akan ambil kotak itu. Itu punya kamu. Tapi aku juga nggak akan pergi cuma karena kamu takut. Kita teman, Arlo. Dan aku bakal buktiin kalau langit nggak selalu bawa kabar buruk."
Tanpa menunggu jawaban, Liora berbalik dan keluar dari ruangan itu. Di dalam lift, dia bersandar pada dinding kaca, napasnya terasa berat. Dia baru saja menyadari bahwa menghadapi Arlo bukan sekadar urusan meluruskan salah paham, tapi soal menyembuhkan jiwa yang sudah hancur berkeping-keping.
Sementara itu di ruangannya, Arlo kembali mengambil kotak musik itu. Dia memutarnya pelan, mendengarkan denting melodi yang sudah mulai tidak beraturan. Dia membenci Liora, atau setidaknya dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk membencinya. Namun, aroma parfum Liora yang tertinggal di ruangan itu entah kenapa justru membuatnya merasa sedikit lebih tenang daripada biasanya.
Liora berjalan keluar gedung dengan langkah mantap. Dia punya rencana. Dia tahu bahwa trauma Arlo tidak akan hilang dalam semalam, tapi dia juga tahu bahwa Arlo masih menyimpan kotak musik itu artinya masih ada bagian dari pria itu yang merindukan masa lalu mereka yang bahagia. Dan Liora bertekad untuk menarik Arlo kembali ke masa itu, meskipun dia harus melakukannya sambil tetap mengenakan seragam yang paling dibenci pria itu.