Melly baru saja merebahkan tubuhnya di kasur berukuran 180x200 sentimeter. Tulang-tulang punggungnya serasa mau patah setelah setengah hari tanpa henti melakukan pekerjaan rumah. Seisi kamarnya pun semua hanya terlihat seperti bayangan karena penglihatannya yang lelah dan mengabur.
"Melly! Kamu jangan tiduran aja, itu setrikaan masih numpuk!" teriak Lian, kakak iparnya.
"Iya, Mbak, aku lagi enggak enak badan," jawab Melly Lirih.
"Tadi pagi kamu baik-baik aja!"
"Tadi pagi udah meriang, cuma aku gak dirasa aja, Mbak. Tapi, sekarang aku udah ngerasa mau demam. Aku nyetrikanya besok aja, ya?"
"Kalau besok kamu masih alasan sakit gimana? Gak jadi lagi nyetrikanya? Terus Alan mau kerja pake baju apa?" hardiknya lagi sambil berlalu meninggalkan kamar.
Melly mengambil ponsel jadulnya yang masih dengan kamera beresolusi rendah, mencari sebuah kontak untuk dikirimi pesan singkat.
[Yank, aku gak enak badan. Aku boleh minta uang untuk bayar orang buat setrikain baju yang udah numpuk?]
[Emang kamu gak bisa ngerjain sendiri?]
[Kan, tadi aku bilang lagi gak enak badan, Yang]
[Ya, udah pake uang yang tadi pagi aku kasih aja.]
Melly lantas memutuskan telepon sepihak serta melempar ponsel ke ranjangnya karena percuma saja tak akan ada hasilnya berbicara dengan Alan, suaminya.
"Uang yang mana! Dia kasih aku cuma lima puluh ribu sehari, mana cukup!" ujarnya kesal. "Sekarang tinggal sepuluh ribu lagi, itu pun buat jajan Alea. Gimana mau bayar orang! Dasar Gak Peka!"
Melly memutuskan untuk istirahat beberapa waktu supaya meriangnya berkurang. Rencananya, ia akan menyetrika pakaian kerja Alan nanti malam.
Selama menikah, Melly bagai dikurung dalam sangkar, tetapi bukan sangkar emas. Ia tidak bisa bergaul sebagaimana mama muda di usianya yang hangout bersama teman-temannya.
Ia juga tidak memiliki uang lebih untuk membeli kebutuhan pribadinya. Jangankan untuk itu semua, untuk kebutuhan harian saja ia harus pandai-pandai mengatur menu makan setiap harinya.
Keseharian Melly hanya habis untuk mengurus pekerjaan rumah tangga dan mengasuh putri kecilnya yang berusia tiga tahun. Keinginannya untuk bersenang-senang tak pernah terealisasi barang sekali pun: tidak dengan suaminya maupun teman-temannya.
Alan adalah suami yang sangat tidak peka. Melly hanya diberi uang belanja setiap harinya lima puluh ribu: untuk makan keluarganya dan juga keluarga kakak iparnya yang tinggal satu rumah. Kebutuhan pokok sudah tersedia karena semuanya Alan yang mengatur.
Lian dan keluarganya tinggal di rumah Melly karena belum mempunyai rumah tetap. Oleh karena itu, mertuanya Melly memberi saran untuk tinggal di rumah Melly saja untuk sementara waktu.
"Melly! Masih tiduran aja kamu! Itu liat Alea berantakin rumah!"
"Alea, kan, main sama Rachel, Mbak. Biar aja mereka yang beresin sama-sama.
"Enak aja, itu kan mainan Alea! Lagian juga Rachel mau aku mandikan!"
"Iya, Mbak. Sebentar aku bereskan." Melly mencoba mengalah dengan ucapan lirih.
"Cepat! Aku gak suka liat rumah berantakan!" bentaknya sembari menggendong Rachel ke kamar mandi.
'Aah, udah tinggal numpang, makan numpang, main mainan punya anakku, gak tau diri lagi! Dia pikir siapa tuan rumahnya? Seenak jidat nyuruh-nyuruh!' Melly membatin.
Ia bergegas ke ruangan di mana Alea mengeluarkan semua mainannya dengan langkah sempoyongan. Walaupun kepalanya merasa berkunang-kunang, mata perih, dan seakan mau pingsan, ia memaksakan untuk membereskan mainan yang berserakan di seluruh penjuru ruang tamu.
"Alea Sayang, bantu Bunda masukkin mainannya ke kotak, yuk?"
"Iya, Bunda. Alea, kan, anak baik," jawab putrinya yang menggemaskan itu.
Setelah itu Melly memasak untuk makan malam karena sebentar lagi Alan akan sampai di rumah.
Ia hanya sempat membuat nasi goreng dan telur dadar dikarenakan tidak banyak tenaga yang dimilikinya saat itu. Menu makan siangnya pun sudah tak bersisa. Padahal, ia ingat betul kalau belum makan sejak pagi karena tak ada selera sama sekali untuk makan. Seharusnya, lauk jatah Melly masih ada, tetapi kenyataanya hanya tinggal piring kosong yang tersisa di meja.
"Assalamu'alaikum." Alan dan Roby pulang bersamaan ketika Melly sedang mencuci piring ditemani Alea yang sedang bermain di sampingnya.
"Wa'alaikumussalam." Melly menjawab salam mereka.
"Pah, capek, ya? Makan dulu, yuk?" sahut Lian sambil membuka tudung saji. "Apa ini? Cuma nasi goreng sama telur?" Emang gak ada sayuran apa, Mel?"
"Besok Mbak kasih aku uang belanja buat beli sayuran, ya? Karena uang dari Mas Alan gak cukup buat makan dua keluarga. Itu pun aku sama sekali gak kebagian jatah makan hari ini loh!"
Sontak Lian bergeming karena tak bisa menjawab permintaan Melly. Ia tak mengacuhkan Melly dan mengambilkan makan untuk Roby dan Rachel dengan porsi yang sangat penuh, sedangkan Melly mengambilkan untuk Alan dan menyisihkan sedikit untuk Alea.
"Kamu gak makan?" tanya Alan.
"Emangnya ada yang bisa kumakan?" jawab Melly ketus diiringi Alan, Lian, dan Roby yang menatap mangkuk nasi goreng yang sudah bersih tak tersisa. Lian dan keluarganya makan dengan santai tanpa memedulikan Melly yang sudah memasak untuk mereka.
"Kamu masak nasi lagi aja, lauknya masih ada, kan?" ujar Alan kepada istrinya yang terlihat dongkol.
"Gak usah, aku gak lapar!" jawab Melly ketus. "Aku ke kamar dulu mau salat," lanjutnya sambil menuntun Alea.
"Jangan lupa nyetrika, Mel! Alan udah gak ada baju, kan, untuk besok!" hardik Lian seketika.
"Gak apa-apa, Kak. Alan bisa nyetrika sendiri," Alan pun menanggapi.
"Jangan dibiasain, Lan. Nanti dia manja!"
Alan tak menjawab. Sementara itu, Melly merasa sedikit lega karena mendengar Alan membelanya.
Selesai salat, Melly pergi ke ruang belakang menyempatkan untuk menyetrika baju kerja suaminya. Tiba-tiba dari depan pintu, Lian melontarkan beberapa helai baju di atas tumpukan setrikaan Melly dengan tak acuh. Sikapnya itu membuat Melly geram. Ia mendelik tajam pada ipar wanitanya itu, lalu kembali fokus menyetrika. Padahal, hatinya sedang berkecamuk.
"Sekalian baju Roby, ya?!" ujarnya tanpa dosa sambil meninggalkan Melly.
Melly menghela napas dalam-dalam, "Sabar Mel, ini cuma dua pasang baju. Kalau sepuluh kusetrika sampe gosong semua ini baju!" Melly berusaha menghibur diri.
Malam hari, demamnya semakin tinggi. Melly menggigil kedinginan dengan dahi dipenuhi keringat. Alan yang sudah tertidur lelap di sisinya tidak merasakan jika istrinya sedang menahan sakit hingga pagi harinya demam semakin tinggi.
Pagi itu Melly bangun terlambat dan tidak sempat menyiapkan sarapan. Untung saja dirinya sudah membelikan roti sore sebelumnya untuk sarapan Alan karena khawatir jika ia tidak sempat menyiapkan sarapan ... dan benar saja firasatnya.
"Alaan? Mana Melly? Kenapa dia enggak buat sarapan!"
"Dia lagi kurang sehat, Kak."
"Alaaah, sakit dibuat-buat biar dia gak ngerjain kerjaan rumah, tuh! Terus kita sarapan apa?"
"Alan udah sarapan, Kakak bikin sendiri aja buat Mas Roby. Alan pamit, Kak. Assalamu'alaikum!"
"Arrrgghh, ngeselin banget si Melly. Pake acara sakit segala, sih! Sial!"
Lian adalah anak perempuan pertama dan satu-satunya di keluarga Alan, ia sangat dimanja oleh keluarganya. Karena itu, ia tidak bisa melakukan pekerjaan rumah apa pun selain melayani suami dan anaknya, tentunya dengan segala hal yang sudah disiapkan Melly.
Melly sudah berpakain rapi dengan celana jeans serta tunik berwarna biru dongker dan bersiap-siap pergi.
"Mau ke mana kamu!" tanya Lian dengan menghardik.
"Mau ke dokter."
"Ke dokter aja rapi banget, mo hengot (hang out) kali!"
"Astagfirullahaladzhiim, pikiranmu itu, Mbak. Terserah Mbak ajalah mau ngomong apa!"
"Ya, terserah aku lah. Terus si Alea gimana?"
"Ya, di sinilah. Alea itu masih kecil, jadi rawan kalau dibawa ke rumah sakit, Mbak."
"Alea Sayang, Alea main dulu sama Rachel dan jadi anak baik, ya?" ucap Melly yang berjongkok supaya sejajar dengan Alea.
"Iya, Ma." Alea menarik lekukan senyum di bibirnya.
"Udah sana, jangan lama-lama! Aku lagi sibuk gak bisa jaga Alea!"
Melly lantas pergi ke rumah sakit seorang diri. Sampai di sana ia melakukan pemeriksaan dan menjalani beberapa tes yang disarankan dokter.
Selama tiga jam lamanya, ia menanti hasil di ruang tunggu. Rasa suntuk melanda sampai akhirnya seorang perawat memanggil namanya. Betapa terkejutnya saat ia melihat hasil tes yang diberikan perawat itu. Matanya sampai tak berkedip selama beberapa detik untuk memastikan apa yang dilihatnya itu tidak salah.
Melly sangat terkejut mendapati hasil tes. Ternyata ia positif mengandung calon adik Alea.
"I-ini serius, Dok?" tanya Melly tak percaya.
"Iya, Bu. Ini hasil USG-nya dan usia kandungan Ibu sudah masuk minggu ketujuh."
"Terus kenapa saya demam, Dok?"
"Sepertinya, karena kurang asupan atau kelelahan. Karena sekarang Bu Melly sudah berbadan dua, sebaiknya Ibu banyak istirahat di trimester pertama ini, ya." Dokter memberikan nasehat.
'Benar, akhir-akhir ini pekerjaanku terlalu berat, ditambah sejak kemarin pagi aku tidak berselera makan,' ucapnya dalam hati.
"Terima kasih, Dok, saya permisi."
Melly melamun dan memikirkan bagaimana ia akan menjaga asupan sehatnya? Sementara, ia harus bekerja ekstra, ditambah uang yang diberi Alan tidak cukup untuk membeli makanan bergizi untuk dua keluarga sekaligus.
Selama perjalan pulang, kepalanya dipenuhi banyak pikiran, entah harus merasa senang atau sebaliknya. Ia seperti memiliki beban yang sulit dipikul.
"Assalamu'alaikum."
Tak ada jawaban dari siapa pun saat ia mengucap salam dari depan pintu. Kemudian, samar-samar ia mendengar suara tangisan putrinya. Firasatnya tidak enak. Segera Melly membuka pintu dan menghampiri Alea di ruang tengah yang sedang menangis sesenggukan.
"Alea, kenapa nangis, Sayang?"
"Kuping Alea sakit, Ma. Ma-mainan Alea diambil Ahel," ucapnya sambil menunjuk mainan yang dipegang Rachel.
"Rachel Sayang, Tante pinjam mainannya sebentar boleh?"
Tanpa menjawab, Rachel malah menangis dan berlari menghampiri Lian yang sedang berjalan menghampiri mereka.
"Kamu apakan anakku!" sentak Lian tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku yang harusnya nanya kenapa Alea bisa nangis begini, Mbak?!"
"Oh, itu. Anak kamu itu pelit gak mau berbagi, jadi aku jewer sedikit. Makanya didik anak kamu yang benar, Mel!" hardiknya.
Gemuruh di dadanya mulai bersahutan. Pikiran yang satu belum selesai sudah timbul masalah baru. "Bukannya pelit, Mbak, tapi Alea gak pernah dapat giliran main. Kenapa Rachel gak dibelikan mainan aja, sih, Mbak? Jadinya gak perlu rebutan, kan, dan Mbak gak harus nyakitin Alea kaya gitu! Dia masih anak-anak, loh!"
"Sayang! Buang-buang duit aja!" decaknya tanpa rasa bersalah
Lantas, Melly mengusap dan meniupi telinga Alea yang merah setelah dijewer iparnya itu. Dalam pelukan sang ibu, tangisan Alea berkurang. Melly pun menyapu linangan air mata di pipi Alea.
"Ya, kalo gitu jangan bilang Alea pelit, tapi Mbak yang pelit gak sayang anak sendiri! Sekarang gini, deh, apa Mbak rela kalo Rachel aku jewer juga!" ujar Melly yang mulai geram.
Tamparan mendarat tepat di pipi kiri Melly. Wajahnya terlihat memerah penuh emosi, ubun-ubunnya serasa terbakar. Ia mengepalkan tangan dan berniat membalas tamparan iparnya tadi, tetapi ia mencoba menahannya walaupun hatinya merasa berat. Ia lantas menghampiri Lian dan sigap mengambil mainan yang dipegang Rachel.
Merasa mainannya direbut, Rachel pun berteriak dengan menangis kencang.
"Melly!" suara teguran dari ruang tamu.
Melly tersentak kaget melihat siapa yang datang dari belakangnya.
"Apa-apaan kamu!" Lina menghampiri Melly, "Kenapa kamu bikin cucuku nangis!"
"Mbak Lian yang bikin Alea nangis duluan, Mi." sanggah Melly pada mami mertuanya.
"Bohong! Alea yang gak mau berbagi mainannya sama Rachel, Mi. Terus Melly rebut mainan dari tangan Rachel gitu aja, makanya Rachel nangis gini." Lian berkelit coba membela diri dan menyalahkan Melly.
"Kamu, tuh, gak boleh pelit sama saudara, Mel. Masa soal mainan anak-anak aja itung-itungan!" tuduh Rosa yang hanya mendengar sepihak dari Lian.
"Gimana gak itung-itungan, Mi? Mbak Lian udahnumpang di rumah aku, makan tinggal makan gak modal, main mainan punya Rachel, terus Melly harus ngerjain semua kerjaan dia juga!" Emosi Melly memuncak sehingga dia meluapkan semua kekesalan yang telah lama dipendamnya.
"Apa? Rumah kamu? Ha-ha-ha ...." Lian terbahak. "Gak salah dengar? Ini rumah Alan kali!" Lian mengejek sambil melipat tangan di depan dada.
"Iya, rumah Alan rumah aku juga. Kenapa Mbak gak minta rumah sama Mas Roby yang jadi kebanggaan itu, hah!"
"Kurang ajar kamu, ya! Gak ada sopan-sopannya sama kakak ipar, hah!" Lian sudah mengangkat tangan hendak menampar Melly lagi.
"Apa! Mbak mau tampar? Tampar aja, nih! Aku bisa usir Mbak dari rumah ini sekarang juga!"
Rosa menahan tangan putrinya yang hampir mengenai sasaran, "Melly jangan kurang ajar, ya! Nanti Mami suruh Alan ceraikan kamu, mau!"
"Benar, Mih! Ceraikan aja! Udah kumel, miskin, belagu lagi, pake ngaku-ngaku ini rumahnya segala!"
Melly yang sudah naik pitam, merasa tidak berguna berbicara dengan mereka karena pada akhirnya harus mengalah juga. Melly yang sudah tidak kuat membendung air matanya, lantas menggendong Alea masuk ke kamar seraya membanting daun pintu dan menguncinya.
"Hei, mainannya bereskan dulu!" teriak Lian dari luar kamar.
Melly tak menggubris, "Dasar Anak Manja!" Ia mencebik kesal.
Pertahanan air matanya tak terbendung lagi. Ia pun mengalirkan air mata dengan deras di kamarnya sambil menepuk-nepuk dada yang terasa sesak setelah berdebat dengan mertua dan iparnya.
***
Area sekitar mata Melly membengkak setelah menangis selama beberapa jam di kamarnya sampai tak terasa bahwa hari sudah menunjukkan pukul lima sore. Tubuhnya begitu lemas untuk menjalani aktivitas memasak, tetapi ia menghargai keberadaan Rosa dan mencoba menjadi menantu yang baik di matanya.
"Kalau gak ada Mami, aku gak rela masak buat Lian si manja itu!" keluhnya sambil berjalan jinjit ke luar kamar karena khawatir membangunkan Alea yang sedang tertidur.
Di dapur ia menyiapkan segala kebutuhan memasak: mencuci sayuran segar dan lauk yang baru diambilnya dari lemari pendingin. Selama mengupas bumbu, Melly terus menerus terpikirkan ucapan mertuanya saat beradu mulut.
'Gimana kalau mas Alan setuju untuk menceraikan aku? Apa yang akan terjadi denganku dan Alea? Aku tidak berani bilang pada Ibu dan Bapak karena kondisi Bapak yang sedang sakit-sakitan. Aku gak mau sampe terjadi hal yang buruk sama bapak.' Ia menangis tanpa suara, hanya suara isakannya yang terdengar karena ia tidak mau terlihat lemah di hadapan keluarga Alan.
Keadaan di luar rumah masih mendung setelah siang harinya diguyur hujan deras. Roby sampai di rumah lebih dulu daripada Alan. Sementara itu, Melly belum selesai menyiapkan makanan.
"Kamu lama banget, dari tadi ngapain aja bukannya masak? Roby jadi telat makan, deh!"
Melly bergeming tak menghiraukan cibiran Lian. Ia yang memakai daster merah favoritnya dengan hijab instan rumahan itu kembali fokus memasak dan tak menganggap kehadiran ipar julidnya itu.
Rosa, Lian, dan Roby sudah bersiap di meja makan. Namun, Melly sengaja melambatkan aktivitas memasaknya sembari menunggu Alan pulang. Ia tidak mau sampai Alan mendapatkan makanan sisa mereka kalau dihidangkan lebih cepat, itu pun kalau mereka ingat.
"Assalamu'alaikum." Suara Alan yang membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam." Jawaban salam yang hanya dijawab oleh Melly dan Rosa. Lian, wanita berwajah bulat itu tak pernah sekali pun memberi atau membalas salam dari orang lain: termasuk salam maminya.
"Cuci tangan dulu, Mas, terus ganti baju, ya.”
"Aku mau langsung makan aja, ganti bajunya nanti, Yang."
Tanpa menunggu lagi, Melly segera menghidangkan masakan di meja makan. Ketika Lian memulai mengambil makan lebih dulu, Melly secepat kilat menyanggah tangannya. Lalu, Ia mengambilkan nasi dan lauk untuk Alan dulu. Baru kemudian, bergiliran Rosa dan Alea yang mengambil lauk, terakhir Melly.
Lian hanya menatap Melly dengan sinis ketika ia melihat piring Melly yang penuh dengan lauk tidak seperti biasanya. Semua itu Melly lakukan demi janin di rahimnya.
Melly terkekeh ketika melihat Lian berbagi makan dengan Rachel karena kehabisan lauk. Iparnya itu tidak melawan dan sepertinya masih memikirkan ucapan Melly saat berdebat.
'Emang enak! Rasain apa yang gue rasain kemarin!' ucap Melly dalam hati.
"Sore ...." Suara seorang lelaki yang memasuki rumah. "Wah, lagi pada ngumpul, nih? Padahal, aku bawa Pizza buat Mbak Mel sama Alea," ujar lelaki itu sambil menunjukkan dua dus pizza ukuran Large.
Sore ...." Suara seorang lelaki yang memasuki rumah. "Wah, lagi pada ngumpul ni. Padahal, aku bawa Pizza buat Mbak Mel sama Alea," sahut Dilan, adik dari Alan, sambil menunjukkan dua dus pizza berukuran Large.
"Sini bagi Kakak, Lan! Kakak gak kebagian makan, tau!" Lian berdecak sembari berdiri dan melirik dengan tajam ke arah Melly.
"Ini yang satu buat Kakak sama Mami, satu dus lagi buat kakak iparku yang cantiiik."
"Melly gak usah, Lan. Dia udah makan banyak tadi. Ya, kan, Mel?" Rosa, mertuanya, menunggu jawaban "ya" dari Melly.
Melly hanya mengangguk segan. Pasalnya, selama berumah tangga dengan Alan, belum pernah sekali pun diajaknya makan di luar atau sesekali membelikan makanan enak. Baru saja ada yang membawakan makanan enak, ia malah harus mengalah dan menahannya. Melly pun hanya bisa meneguk air liurnya dalam-dalam.
Belum habis makanan di piring, Melly merasa mual. Ia mencoba menahannya, tetapi dorongan yang sudah di ujung kerongkongan itu tak dapat ditahan lagi. Ia segera berlari kecil ke kamar mandi dan memuntahkan semua yang sudah masuk.
Setelah kembali dari kamar mandi, Alan dengan penasaran bertanya, "Kamu masih kurang sehat?"
"Iya. Mas. Aku disuruh banyak istirahat sama dokter."
"Ya, udah. Setelah makan kamu langsung tidur. Piring kotornya dibersihkan besok aja, ya," ucap Alan.
'Padahal, aku berharap dia akan membantu mencuci piring. Dasar suami gak peka!' Melly mencibir dalam hati.
***
"Melly, kamu belum bayar listrik? Ini, kok, bisa ada tagihan terlambat?"
"Aku gak ada uang, Mbak. Tolong dibayarkan dulu, ya? Nanti aku bilang Mas Alan supaya gantiin uang Mbak."
"Masa gak ada uang! Emang uang dari Alan kamu kemanain? Jangan-jangan kamu pake foya-foya? Kamu pake shopping, ya? Ngaku kamu!"
"Astaghfirullah, Mbak. Aku, tuh, dikasih uang gak banyak sama mas Alan. Mbak, kan, tau aku masak buat dua keluarga. Boro-boro ada buat kebutuhan aku, buat keperluan dapur juga aku ngutang sama Bu Minah."
"Alaaah … alesan aja kamu!" sanggah Lian yang tidak mempercayainya.
"Terserah Mbak aja! Kalo Mbak gak mau talangin juga gak apa-apa, paling nanti aliran listriknya dicabut!" pekik Melly mengancam Lian.
Lian diam selama beberapa detik, lantas berjalan ke kamarnya untuk mengambil ponsel baru yang tergeletak di meja kecil. Tak lama terdengar suara sambungan telepon.
"Halo, Mi. Mami, ini masa Melly gak bayar tagihan listrik sampe ada teguran dari pihak PLN, kalo listrik dicabut gimana, Mi?"
Bergantian suara maminya yang berbicara, Melly pun tak dapat mendengarnya. Kemudian, terdengar jawaban dari Lian. "Mi, suruh si Alan ceraikan wanita itu aja, Mi. Aku kesel lama-lama kalau dia di sini."
"Loh, gak kebalik? Ini sebenernya Lian itu kakak atau madunya Alan, sih? Kok, aku jadi ngerasa kaya istri tua yang mau ditendang mertua, ck" gumamnya.
'Kalo aku beneran ditendang, gimana dengan Alea? Aku gak punya tabungan untuk menetap di tempat lain. Aku harus cari kerja! Tapi siapa yang mau ngasih kerjaan ke ibu rumah tangga tanpa pengalaman kerja?' batinnya dengan bingung.
Segera Melly pergi ke kamarnya dan tak lupa menutup pintu. Ia mengambil ponsel dan mencari-cari referensi atau sesuatu yang bisa menjadi nilai jual.
Ia coba men-download aplikasi belanja online di ponsel android miliknya keluaran tahun 2012. "Duuh, memorinya gak cukup."
Ia terpaksa menghapus beberapa aplikasi permainan yang biasa dimainkan putrinya. "Maaf, ya, Nak. Bunda hapus dulu, semoga secepatnya bunda bisa sukses dan beli hp baru."
Selama satu menit setelah menghapus beberapa games, akhirnya Melly bisa men-download aplikasi online shop yang dipilihnya.
Setelah berhasil memverifikasi pendaftaran dirinya. Ia terus menggerakkan jemarinya menggeser layar ke atas, ke bawah, dan matanya langsung tertuju pada salah satu produk perawatan kecantikan.
"Sepertinya, ini cocok. Banyak sekali jumlah pembelinya, rating-nya juga sangat bagus. Tapi, aku gak punya modal. Hmmm …?"
Tak lama bunyi pesan masuk terdengar. Ternyata sebuah pesan dari aplikasi menawarkan pembelanjaan dengan sistem bayar setiap akhir bulan. Matanya seketika memancarkan binar melihat kesempatan emas itu.
Teknologi saat ini canggih, ya? Aku mau coba sistem dropship sambil ngumpulin modal sedikit demi sedikit. "Bismillah," ucapnya dengan perasaan penuh harap.
Ia meminta izin pada penjual untuk menjadi seorang reseller supaya diberi harga miring. Setelah disetujui seller, ia menyalin gambar produk serta meng-copy paste deskripsi produk.
Ia masukkan beberapa jenis produk di galeri tokonya, "Semoga ada yang beli."
“Melly ...!" Teriakan wanita yang membencinya terdengar sangat nyaring. Baru saja Melly berharap pada jualan pertamanya itu, tetapi semangatnya kembali melonggar.
Ia pun bergegas keluar kamar supaya tidak membangunkan Alea yang sudah terlelap selama satu jam.
"Kamu belum masak makan siang?! Kita udah pada kelaparan tau, gak!"
Tanpa membalas semburan iparnya, Melly segera pergi ke dapur membersihkan lauk, menanak nasi, dan memasak. Hatinya sedang tak ingin berdebat. Ia hanya sedang berdoa sambil berharap semoga ada pesanan masuk dari produk yang baru di unggahnya itu.
Tiga puluh menit sudah ia selesai memasak menu yang simpel karena hati tak sabar ingin cepat-cepat melihat notifikasi di ponselnya.
"Cepet banget masaknya, kamu mau pergi?!"
"Cepet salah, lambat juga salah! Serba salah, kan, jadi aku, Mbak?!" Melly menghardik tanpa menoleh pada Lian.
"Kamu ada di sini aja udah salah, Melly! Jangan-jangan kamu kasih racun makanannya!"
"Ya, udah, gak usah dimakan kalo gak mau mati, Mbak!" tantangannya membuat Lian tercengang dan membelalak.
Melly lantas menarik langkah ke kamarnya sambil terkekeh setelah menyerang Lian seperti itu. Baru kali ini Melly merasa senang bisa merisak iparnya itu.
Ia memasuki kamarnya yang berukuran empat kali empat meter dan segera menggaet ponsel jadulnya. Satu pesan dari aplikasi belanja online memberitahu ada pesanan masuk. Raut wajahnya berubah girang sekali meskipun hanya mendapat satu pesanan. Pasalnya, hal itu baru pertama kali dilakukannya.
Orderan diterima, ia memesan kembali produknya dengan sistem dropship ke distributor yang sudah ia hubungi sebelumnya.
"Oke, estimasi barang diterima dua sampai tiga hari!" pungkasnya sambil mengangkat ponsel ke atas dan menaikkan kedua sudut bibirnya. Melly bahagia bukan kepalang sambil berjoget meliukk-liukkan badannya.
Setelah lama memainkan ponselnya, Melly pun tampak memejamkan mata di samping putrinya yang masih terlelap sampai Alea tergugah dan membangunkan bundanya.
"Alea udah bangun, Sayang?"
"Alea ... mau maakaaan, Buun?" Alea merajuk seraya mengucek kedua matanya.
"Ayo, Sayang," ajak wanita berdaster panjang itu sambil merapikan kerudungnya. Ia menggendong Alea ke luar kamar menuju meja tempat semua masakannya tersaji.
Melly membuka tudung saji dan tiba-tiba membelalak. Betapa kagetnya Melly mendapati lauknya hanya tersisa untuk satu porsi. Ia menghela napas sambil menggeleng tidak percaya, perasaan bahagianya langsung turun seketika itu juga.
"Dasar! Ususnya sebesar apa, sih, sampe ngabisin jatah orang, ck ...! Yang penting cukup untuk Alea makan, deh."
Lian keluar dari kamarnya untuk memandikan Rachel.
"Mbak masih hidup?" Melly menyindir kepada iparnya itu.
Lian sontak melirik dan mengerlingkan matanya sambil terus berjalan ke kamar mandi tak menghiraukan sindiran Melly.
Melly lantas menyipitkan mata melihat tingkah iparnya dan terbahak tanpa suara. Ia merasa puas karena berhasil merisak iparnya itu.
Sepiring nasi beserta lauknya dibawa Melly sambil menuntun Alea ke teras rumah, menyuapi Alea sambil bercerita, dan menemaninya bermain sepeda di teras yang cukup luas.
Tiba-tiba Rachel yang sudah rapi setelah mandi, menghampiri Alea dan ingin mengambil paksa sepedanya. Alea mencoba mengalah. Ia hendak turun dari sepedanya, tetapi kalah cepat saat Rachel sudah memegang kendali sepeda, lalu membuat Alea tersungkur ke lantai yang berpori kasar dan menangis.
"Innalillahi!" teriak Melly. Tak disangka, Alea langsung mendepak ban depan sepedanya sebelum Melly datang menghampiri. Ia merasa kesal atas perlakuan sepupunya itu. Tindakannya spontan putri kecil itu membuat sepeda yang ditumpangi Rachel tergelincir meluncur di terasnya yang miring dan ….
Rachel pun menabrak pagar, kemudian terjungkal bersama sepedanya. Melly yang melihat hal itu sontak terbahak dan lekas menolong Rachel sambil menggendong Alea.
"Kamu apain Rachel, Mellyyyy!" terdengar suara wanita yang dikenalnya sedang mengeraskan pita suara. Cepat-cepat Melly menolong Rachel sebelum kakak iparnya datang.
"Aku gak ngapa-ngapain, Mbak. Rachel tahu-tahu merebut sepeda waktu lagi dimainkan Alea," pungkasnya sambil menahan tawa.
"Kamu diapain sama mereka, Rachel?! Kamu gak apa-apa? Mana yang luka? Mana yang sakit?"
"Kaki Ahel saakiit, Maa, Ahel didorong sama Alea!" Anak itu mengeluh pada mamanya yang sudah mengatur napas kencang dan memelototi Alea.
"Alea, kamu gak sopan, ya, sama Rachel yang lebih tua dari kamu. Dasar Anak Bego!" Tangannya sudah siap menjewer telinga Alea. Namun, Melly menangkisnya dengan cepat.
"Didik anak kamu yang benar, Mel, supaya gak nyelakain orang! Paham!”