Bab 1

Terminal bising, penuh dengan teriakan para kenek, yang memberi tahu tujuan bus mereka. Beberapa pedagang asongan gak mau kalah juga, suaranya bersahut-sahut riuh rendah.

Aku menuruni bus sambil menggendong tas ransel. Rencana selanjutnya mencari pangkalan ojek di sekitar sini. Jarak rumah dari terminal sebenarnya gak terlalu jauh. Tapi, jika pulang berjalan kaki di siang bolong begini, sungguh bukanlah ide yang bagus.

"Cangcimen ..., cangcimen." salah satu pedagang asongan mendekat dan menawarkan dagangannya padaku.

Kebetulan kerongkonganku sedang kering kerontang. Kuambil sebotol air mineral dari keranjangnya. Kemudian menyerahkan uang pas dengan nominal yang ia sebutkan.

Sebelum menemukan tukang ojek yang mengantarkanku pulang. Tiba-tiba seseorang menarik salah satu tali tas dari belakang pundak. Saking terkejutnya, aku hampir terjengkang. Tapi untungnya, sebuah lengan kokoh dengan sigap menangkap pinggangku.

Air mineral dalam botol yang hampir menyentuh bibir malah tumpah. Wajah kami basah. Aku dan orang asing yang kini seakan beradegan drama romantis. Saling tatap dalam gerakan yang lambat. Ah, memalukan.

Tunggu, benar. Memang sudah bukan rahasia lagi, terminal merupakan tempat rawan penjambretan dan copet. Tapi, apa adegan begini tidak berlebihan ia lakukan? Tapi, bisa jadi ini trik baru agar korban terpesona? Masa bodoh. Harusnya aku segera melepaskan diri.

Kuentakkan kaki sekuat tenaga tepat mengenai kakinya. Ia mengaduh. Aku bersiap berteriak.

"Tol ...." belum lengkap kata yang ingin kuucapkan, Pria tersebut langsung membekap mulutku.

Anehnya orang yang ramai berlalu lalang sama sekali tak memedulikan hal ini.

Seseorang tolong....

"Kamu ngapain mau teriak sih Lan? Abang cuma mau bawakan tas kamu." Dengan santainya lelaki itu berucap setelah menyeka wajahnya yang basah menggunakan sapu tangan.

Aku tercengang. Hah! Abang? Ia bahkan juga tahu namaku?

Kuputar leher agar tangannya terlepas dari mulutku.

"Abang? maksud Anda? Saya anak tunggal," terangku.

"Ya ampun Wulan." Ia menepuk jidat. "Sama suami sendiri ini, lupa?" Keningnya bertaut.

Aku mundur beberapa langkah mendengar pernyataannya. Jangan-jangan dia penipu, yang ujung-ujungnya pasti duit. Atau bahkan penculik. Mendadak aku teringat tentang berita sepekan ini, ramai selebaran beredar tentang wanita yang hilang. Aku bergidik. Bagaimana ini?

Bagaimana jika orang di hadapanku ini komplotan dari penculik? Dan aku adalah calon korbannya. Matilah aku.

"Udah Lan, jangan banyak tingkah dong. Abang udah kepanasan ini nunggu dari tadi. Yuk pulang." Ia mengamit lenganku.

Tentu saja dengan cekatan aku menepisnya. Ia malah memandangku heran.

Pulang? Iya, memang aku mau pulang. Tapi bukan denganmu! Eh, tapi, dilihat dari ujung kaki sampai rambutnya. Si Abang lumayan ganteng juga. Suami? Tapi aku kan masih perawan? Kapan nikah? Gak salah lagi ini. Dia pasti memang penipu. Maaf ya Ferguso, tidak semudah itu!

"Ayo Lan, jangan bengong aja." Lagi-lagi dia menarik lenganku.

Aku mengentakkannya dengan keras. "Stop! Anda jangan coba-coba menipu saya." Aki mencoba menggertak. Ini satu-satunya caraku bertahan.

"Astaga Wulan... Nipu gimana?" ia juga bersikeras.

"Mana buktinya kalau memang Anda suami saya? KTP. Buku Nikah. Mana?" Aku menjulurkan tangan sambil melotot.

Pria dengan kemeja putih bergaris itu mengeluarkan dompet dari saku, sekilas kulirik berjejer tebal uang merah di sana. Masa iya yang berduit begini penipu? Atau jangan-jangan aku memang benar istrinya. Ah, ngaco!

Lalu, ia menyodorkan KTP. Hal pertama yang kulihat adalah status pernikahannya. KAWIN. Eh, benar ia sudah menikah ternyata. Eits! tunggu, aku gak boleh semudah ini percaya.

"Buku nikahnya mana?" todongku lagi.

"Kesambet apa sih Lan? Buku nikah ya di rumah. Mana mungkin abang bawa-bawa." Telapak tangannya menyentuh dahiku sekarang.

Sontak aku mundur beberapa langkah dengan cepat. Benarkan? Ini pasti cuma alasannya.

"Apa jangan-jangan kepalamu habis terbentur kah? Hilang ingatan ceritanya ini?"

Eh. Si Abang malah ngelantur. Waras gak sih ini orang? Aku membatin.

"Cukup ya, kalau Anda mau menipu, saya bukan target yang layak! Saya bukan orang beruang. Jadi tolong hentikan!" Aku mengultimatum tegas.

"Astaga Wulaaan. Kamu habis kebentur beneran ini?" kini ia yang tampak mulai kesal. Atau bisa juga pura-pura bingung. Siapa tahu?

Aku mengerutkan kening. Mulai terpengaruh dengan kalimatnya. Apa benar aku amnesia? Kuketuki dahi dengan telunjuk. Oh! Gak! Kayaknya pria ini juga memiliki ilmu hipnotis.

"Jangan terpengaruh Wulan. Jangan terpengaruh," bisikku berulang kali.

"Ya udah. Gini deh, kalo emang kamu gak percaya, gak papa. Capek juga Abang jelasin dari tadi, kamunya malah berbelit-belit. Kamu bingung, Abang semakin bingung. Kita pulang masing-masing. Abang tunggu di rumah." Dia menyerah juga.

Benar kan? Tipe yang begini pasti penipu. Untungnya aku gak semudah itu percaya dengan wajah tampannya. Kalau gadis lain nih, pasti bakalan iya iya saja di tipu sama model yang begini. Mana bisa nolak jadi istrinya. Dompet tebal, wajah rupawan. Eh. Ampun Wulan. Cukup. Kali ini aku berusaha menentang otakku sendiri.

Perasaanku mulai lega, tapi, loh itu, si Abang tadi malah balik lagi. Kenapa lagi tuh? Mau coba lagi dia? Belum nyerah?

Aku menyingsingkan lengan baju. Sepertinya kali ini aku harus mengerahkan ototku untuk mempertegas segalanya.

Namun, Ia malah menyerahkan sebuah kartu padaku.

"Kunci Apartemen. Abang mau ke kantor dulu." Tuturnya.

Dengan wajah bego, aku menerimanya begitu saja.

***

Gak ada yang aneh saat aku tiba di rumah. Normal. Jadi benar, kejadian di terminal tadi sepertinya modus penipuan baru. Aku bergidik sendiri saat mengingatnya kembali.

"Gimana seminarnya? Lancar?" sapa Bunda masih dengan celemeknya. Beliau mungkin belum selesai memasak.

"Lancar dong." Aku mengacungkan jempol.

Sejak dua tahun lalu, aku memutuskan berhenti menjadi karyawan dan mulai mengejar mimpiku menjadi penulis. Selain belajar dari buku dan media online, sesekali aku mengikuti seminar kepenulisan untuk menambah ilmu. Bunda juga memberiku kebebasan tentang ini. Meski acara seminar kadang diadakan di kota lain, beliau memberiku kepercayaan lebih. Beruntungnya memiliki orang tua pengertian seperti dirinya.

"Mana Inu? Dia gak jemput kamu di terminal?" pertanyaan Bunda membuatku terlonjak.

"Inu? Inu yang mana Nda?" Kusenderkan punggung di kursi.

"Loh kamu ini gimana sih Lan, suami sendiri lupa." Bunda juga ikut duduk di sofa bersamaku.

Dengan kesadaran penuh aku memegangi dahi. Memeriksa normal atau tidaknya suhu tubuh saat ini. Mungkin saja aku sudah tak waras? Seorang lelaki mendatangiku dan menyatakan bahwa ia adalah suamiku. Di rumah, Bunda juga menyebutkan nama orang yang gak kukenal serta mengatakan dia suamiku. Ya Tuhan .... Aku benar-benar frustrasi. Situasi macam apa ini.

"Gak. Gak. Aku masih lajang!" teriakku menggema sejagat raya.

"Udah, jangan kebanyakan drama. Kamu pulang sekarang gih. Kasihan Inu, nungguin." Bunda berujar sambil berdiri dan melepas celemeknya.

Aku mengerutkan kening. Mengobok-ngobok isi kepalaku mencari tahu kebenarannya. Ah, yang benar saja. Ini bukan sebuah prank kan?

"Jangan becanda deh Nda. Nikah juga belum, malah Bunda suruh pulang ke tempat suami," balasku sambil tergelak. Tawaku sengaja kukeraskan untuk Menetralkan degup gak keruan di dada.

Bukannya mendengarkanku, Bunda malah membuka laci di samping TV. Mengambil selembar kertas, kembali duduk dan menulis sesuatu dengan serius.

"Alamat apartemenmu. Kamu sering kali nyasar di daerah sana. Pulang sekarang," paksanya sambil meyodorkan kertas tadi.

“Nda ....” Mataku berkedip berkali-kalo memohon padanya. Aku sudah seperti anak kucing yang meminta potongan daging sekarang.

Bunda malah menarikku dari tempat duduk dan mendorong tubuh mungilku ke arah pintu. Tega.

Ah, mau gak mau, aku pergi juga, meninggalkan rumah dengan mengela napas keras. Jujur, aku merasa terusir dari kehidupan normalku sekarang.

Sudahlah. Aku juga gak bisa terus-terusan masa bodoh dengan permasalahan saat ini bukan? Andai saja, Bunda gak ikut-ikutan membuatku jadi setengah gila begini, aku akan lebih memilih membiarkan kekonyolan ini saja dan berusaha melupakannya seperti mimpi buruk saat tidur sore hari.

Sejak beliau mengatakan suamiku bernama Inu dan ngotot menyuruh pulang, akhirnya aku mencari tahu. Ini kenyataan atau hanya manipulasi. Dan bahkan bisa jadi aku sedang mengalami halusinasi setelah mabuk perjalanan. Apa pun itu, harus kubuktikan dulu sebelum percaya semuanya begitu saja.

Kutatap gedung tinggi di hadapanku, menyibak rambut panjangku sebentar, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah gontai ke dalam. Malas sebenarnya, tapi mau apa lagi? Aku gak punya opsi lain.

Sekarang, aku berada di lobi apartemen. Menatap sekitar seperti anak ayam yang tersesat. Gak tahu jalan pulang. Ah, cukup. Meja resepsionis harusnya menjadi tujuan utama kini.

"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Wanita dengan rambut bergelung di hadapanku menyapa ramah dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada.

"Jangan panggil Bu. Saya belum setua itu!" ketusku. Enak saja. Kerutan wajahku belum cukup banyak untuk mendapat gelar itu.

Wanita tersebut tersenyum, ia salah tingkah. "Baik. Maaf. Ada yang Bisa saya Bantu Kak?" ulangnya.

"Unit atas nama Inu ada di lantai berapa?" tanyaku sambil mengetuk-ngetuk meja dengan kartu apartemen.

"Maaf Kak, jika ingin berkunjung silakan langsung menghubungi yang bersangkutan. Sebab kami tidak diperbolehkan memberi informasi ke sembarang orang," jelasnya.

Kuangkat kartu di tangan ke hadapannya. "Saya Istrinya." Aku terpaksa berbohong.

Jujur saja, ini kebohongan yang memalukan. Seandainya saja aku bisa menyembunyikan wajah ke dalam saku, pasti sudah kulakukan. Dan sekarang, bisa jadi si resepsionis ini mencibirku dalam hati. Mana ada istri yang gak tahu unit milik suami sendiri. Ah, terserahlah. Yang penting aku berhasil membuktikan kegilaan ini nanti.

"Oh. Maaf. Unit Atas nama Pak Inu tidak ada Kak," tuturnya setelah beberapa menit mengecek data di komputer.

Perkiraanku benar! Sekarang semakin benar-benar memalukan. kan? Kan? Kan? Argh! Tanpa berkata apa pun aku meninggalkan Meja resepsionis. Malu. Sungguh malu.

Namun, dalam sekian detik berikutnya saat aku berbalik, tampak sebingkai wajah yang dari awal membuatku kesal. Kesal yang bertumpuk, hingga aku bisa merutuk seharian. Dan muka menyebalkan itu, kini malah tersenyum ke arahku.

"Loh Lan? Pulang kok gak ngabari Abang? Kan bisa di jemput dari rumah Bunda."

Benar, dia Lelaki tadi. Yang di terminal. Aku menahan napas, mengumpulkan rasa dongkolku. Lalu, melepaskannya menjadi kalimat.

"Jangan sok kenal ya! Nih makan sendiri kebohonganmu." Aku melempar kartu yang diberikannya tadi siang.

Dia kelabakan dan dengan sigap berusaha menangkap kartu yang tadi kulempar.

Dibuat bingung. Dibohongi. Lalu dipermalukan adalah tiga hal yang sangat aku benci. Dan hal tersebut dilakukan oleh orang asing yang menyebalkan. Telingaku sudah cukup panas dan saat ini pasti mulai memerah menahan amarah. Aku gak mau emosi malah membuatku semakin malu lagi. Kutinggalkan saja dia yang masih berdiri seperti orang tak bersalah itu.

"Selamat sore. Maaf, benar dengan Pak Wisnu. Ini ada paket atas nama Wulan, apa benar ini nama istri Bapak? Pihak ekspedisi yang menitipkannya tadi siang." Sepertinya resepsionis tadi menghampiri lelaki penipu itu.

Entah apa penyebabnya, Kakiku seketika terasa kaku. Niat ingin segera pergi dari sini kuurungkan dan malah membatu di tempat, mungkin karena mendengar pernyataan dari resepsionis bodoh tadi. Tanpa aba-aba pula, tubuhku langsung berpaling. Menatap bingung pada dua orang yang kini berhadapan.

"Benar. Itu istri saya." orang yang dipanggil Wisnu tadi menunjukku.

"Oh, maaf Kak. Saya tidak mengenali Kakak tadi." Ia membungkukkan tubuh. "saya resepsionis baru soalnya." Ia beralasan, "lagi pula, Kakak tadi menyebutkan nama Inu bukan Wisnu."

Resepsionis itu mendekatiku, menyerahkan paket lalu kembali ke balik mejanya. Namun, sesekali tampak matanya mengerling pada lelaki yang tersenyum kepadaku. Dia genit. Entah mengapa aku gak menyukai hal itu.

Kini, Wisnu semakin mendekat padaku. Kepalanya menunduk kemudian, di selipkannya rambutku ke belakang telinga. Bibirnya mendekat, hingga napas hangatnya begitu terasa.

"Inu itu panggilan sayang kamu untukku Lan. Kamu sudah ingat sekarang?" bisiknya.

Bulu kudukku mendadak meremang mendengarnya. Ada desir dingin yang juga tiba-tiba merayap di tengkuk. Paket yang tadi di tangan kini kudekap erat-erat untuk membunuh rasa gugupku.

Sial! Situasi macam apa ini? Umpatku dalam hati.

Bab 2

Sungguh, hal seperti ini sudah membuatku kalah telak. Jadi, sudah gak ada gunanya untuk mendebat. Kini aku bagai kerbau yang telah dicocok hidungnya. Mendadak jadi penurut dan sekarang aku terpaksa mengekor di belakang Wisnu menaiki Lift.

Sampai di lantai empat belas, ia menempelkan kartu pada gagang pintu dengan nomor 338. Melihat angka yang tertera di sana, tiba-tiba berkelebat di pikiranku angka yang sama, dengan cepat kutepis saat bayangan dan teriakan wanita juga ikut menyelusup. Kepalaku pusing.

Dan rasa sakit ini semakin menggerogoti saat pintu terbuka. Hal yang pertama kali menarik perhatianku saat masuk, adalah bingkai foto besar di ruang utama.

Sebuah foto pernikahan. Dengan sepasang mempelai tersenyum bahagia terpajang di sana. Aku sungguh terbelalak menyaksikan itu. Kapan foto tersebut di ambil? Aku benar-benar tak pernah merasa melakukannya. Benarkah sekarang aku amnesia?

"Kapan kita menikah?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

"Dua tahun lalu, tepat saat kamu berhenti dari perusahaan." Dia juga tahu rupanya, aku resign bekerja.

"Mau Abang masakkan mie instan sekarang? Kita belum belanja, jadi bahan makanan di kulkas kosong." Wisnu membuka salah satu kabinet di atas kompor.

Aku menggeleng. Seharusnya gak begitu saja mempercayai semua ini. Namun, perut yang keroncongan menciptakan sebuah ide di kepalaku.

"Aku mau soto yang di warung makan seberang apartemen. Abang mau belikan untukku?" Ah, aku harus membiasakan lidah ini menyebutnya Abang. Meski menjijikkan rasanya.

Dan saat lelaki berwajah oriental itu keluar. Ini kesempatanku untuk menggeledah lemari, mencari satu-satunya bukti yang akurat. Gak perlu membuang-buang waktu, kamar yang paling besar ini, bisa dipastikan kamar kami. Ih, aku bergidik sendiri saat memasukinya. Otakku mendadak melanglang buana entah ke mana. cukup Wulan. Kau harus fokus sekarang! Teriak batinku.

Hanya ada satu lemari di sudut ruangan kamar ini. Sudah bisa dipastikan, dia menyimpan benda itu di sana.

Beruntungnya lemari tersebut gak di kunci. Setelah menarik gagang dan pintunya terbuka, mataku membulat saat melihat isinya untuk pertama kali. Sebagian besar didominasi oleh pakaian perempuan. Apa ini bajuku? Ah, masa bodoh. Bukan ini yang kucari sekarang.

Kini mataku tertuju pada laci yang berada di rak kedua. Dengan cepat kubuka. Ini dia! Ada dua buah buku kecil berwarna merah dan hijau di sana. Aku harus memastikan nama siapa yang tertulis di sana.

Kuambil satu yang berwarna merah. Membukanya setiap lembarnya dengan gak sabar. Seketika tanganku bergetar saat mengeja satu-persatu huruf yang tertera. Dan, lagi-lagi mataku membulat saat memastikan dengan yakin, nama yang tertulis di dalamnya adalah Wulan Sasmita dan Wisnu Anggara.

Lalu, detik berikutnya tubuhku luruh ke lantai. Pandangan mendadak berkunang-kunang. Bagaimana ini? Semua ini bukan kenyataan kan? Bukankah tahun depan aku akan menikah dengan Rayyan, tunanganku? Jika sekarang aku amnesia, ingatan macam apa yang di otakku sekarang? Seluruh pertanyaan dan kebingungan itu berkelebat, aku benar-benar pusing sekarang.

Siapa sebenarnya lelaki yang menikahiku? Aku bahkan gak mengenalnya sama sekali. Semua pertanyaan tersebut terus berputar-putar berulang. Aku sebaiknya pulang sekarang. Dan menanyakan semua kegilaan ini pada Bunda.

Sekuat tenaga aku mencoba bangkit. Berjalan sambil berpegangan pada dinding. Namun, saat keluar dari kamar tubuhku limbung, hilang keseimbangan. Kemudian gelap.

***

"Lan? Kamu baik-baik saja?" Suara asing terdengar samar menyapaku saat aroma minyak kayu putih yang menusuk hidung memaksa mataku terbuka.

Aku tetap diam saja meski sudah sadarkan diri. Wisnu. Aku ingat. Dia lelaki yang di terminal dan namanya yang tertera dalam buku nikah. Ia duduk di tepi ranjang tempatku berbaring sekarang.

"Mau makan dulu? Abang suapin?" ia mengambil semangkuk soto dari atas nakas, menyendok isinya dan mendekatkan ke mulutku.

Aku mundur lalu menggeleng. "Aku mau pulang," tuturku lemah.

Tentu saja aku gak mau tinggal seatap dengan orang asing ini.

"Kenapa? Ini kan tempat tinggalmu. Bunda akan mengira kita bertengkar jika pulang malam-malam mendadak begini." Diletakkan Wisnu kembali sendok ke dalam mangkok.

Ada benarnya juga perkataan Wisnu. Bunda pasti khawatir, aku gak mau beliau jadi terbebani. Napas berat kuhembuskan keras. Gak pernah sebelumnya ada beban seberat ini di dadaku.

"Kalau begitu, aku gak mau tidur sama Abang, tanpa mengingat apa pun," ujarku tegas.

Wisnu tersenyum. "Iya. Gak papa, biar Abang tidur di kamar sebelah."

Kemudian ia keluar dan menutup pintu. Meninggalkan semangkuk soto yang masih menguarkan asap dan aroma gurih. Tapi aku sama sekali gak berselera meski hanya mencicipi.

Setengah jam kemudian. Terdengar pintu kamar diketuk.

"Abang masuk ya."

Astaga! Badanku mendadak panas dingin. Mengingat lelaki yang seatap denganku sekarang berstatus suami. Mau apa lagi si Wisnu itu ke sini? Jangan-jangan ia menagih jatah batinnya. Bukankah sudah kukatakan tadi, aku gak bersedia tidur dengannya dalam keadaan seperti ini.

Aargh! Ini sungguh membuatku frustrasi. Seharusnya pintu kamarku kunci lebih dulu tadi. Dan berpura-pura tuli saat ia mengetuk begini.

Engsel pintu berderit. Saat Wisnu membuka pintu. Mungkin cukup lama gak dilumasi, kering atau bahkan berkarat. Aku yang terlanjur gugup, memutuskan untuk meringkuk di balik selimut. Pura-pura tidur saja dulu, mungkin ini lebih baik.

"Sudah tidur Lan?" Wisnu langsung duduk di tepi ranjang. Aku tahu sebab merasa ada pergerakan di sampingku.

"Iya." Tanganku sontak menutup mulut. Bodohnya aku malah menyahut.

Wisnu terkekeh. Apa yang lucu! Dasar lelaki mesum. Bisa-bisanya setuju untuk tidur di kamar lain. Tapi, sekarang malah kembali lagi.

"Sudah gak usah pura-pura. Abang cuma mau ngasih paket yang kamu tinggal di ruang utama tadi. Mungkin isinya penting," ujar Wisnu menjelaskan.

Fiuh! Aku menarik napas lega. Kemudian dengan cepat menyingkap selimut. Gerah.

"Ngapain sih Lan, pake selimut sampe kepala begitu?"

"Dingin," sahutku.

Wisnu malah mendekat. Mencondongkan wajahnya ke hadapanku. Ya Tuhan .... Kenapa harus sedekat ini. Aku memejamkan mataku erat-erat seraya memundurkan badan sedikit demi sedikit.

Tapi, detik berikutnya kurasakan hangat tangan Wisnu menyentuh keningku.

"Ini keringat loh Lan. Masa kamu kedinginan?" ia menunjukkan jarinya yang basah.

Mampus aku! Kusembunyikan wajah di balik dua tangan. Pipiku bisa saja sekarang memerah, ada desir hangat di rongga dada. Malu. Aku sudah terlanjur berpikir yang bukan-bukan tadi.

"Kamu beli apa itu, kemarin?"

"Hah? Apa?" Aku gak bisa mencerna pertanyaannya. Masih kikuk. Sial!

"Itu, isi paketnya." Wisnu memonyongkan bibir mengarah pada paket di sampingku.

"Oh itu?" Aku menggaruk kepala yang sama sekali tak gatal. Sejujurnya aku juga penasaran. Kapan aku belanja online? Dan lebih membingungkan lagi, dikirim ke alamat apartemen. Yang baru kutinggali hari ini.

Bergegas aku membuka bungkusan paket, sekalian membunuh malu.

Isinya buku. Ini memang buku yang ingin kubeli. Tapi rencananya akan kubayar setelah pulang seminar. Ah, ini sungguh aneh dan membingungkan. Aku bahkan belum mengeluarkan uang untuk membelinya.

"Kenapa Lan? Salah beli?" Wisnu sepertinya membaca ekspresi wajahku.

"Oh, gak. Sudah betul. Ini punyaku.” Kosakataku berlepotan.

"Sotonya sudah dingin. Mau beli yang baru lagi?"

Aku mengangguk. Wisnu beranjak. Tapi, aku mengekor.

"Ke mana?" tanyanya heran.

"Ikut," sahutku.

"Oke." ia berhenti dan berkacak pinggang sambil menaik turunkan kedua alisnya, memberi isyarat agar aku mau bergandeng tangan padanya.

Jangan ngarep ya Bang! Aku memilih berjalan mendahuluinya.

Sampai di depan warung makan. Aku hanya berdiri mematung. Sepertinya cacing di perutku menginginkan nasi goreng dari pada soto.

Kuusulkan pada Wisnu untuk pindah tempat. Di ujung jalan, saat melewatinya tadi sore, aku melihat ada warung tenda yang menjual nasi goreng. Ia langsung setuju begitu saja tanpa menyangkal atau menolak. Dasar gak punya pendirian!

***

Sambil menunggu pesanan dibuat, Wisnu tampak sibuk dengan ponselnya. Berkali-kali benda pipih di tangannya itu berdenting, ia dengan cepat pula memijat layar mengetik balasan. Entah dengan siapa lelaki itu berbalas pesan.

Pelayan warung tenda datang. Ia menyuguhkan dua piring nasi goreng sambil menyunggingkan senyum ramah pada kami.

Setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, Wisnu langsung memotong telur ceplok miliknya, memisahkan bagian kuning dan putih. Lalu, memberikan bagian putih kepunyaannya padaku dan mengambil bagian kuning milikku. Dengan menautkan kedua kening aku terheran-heran.

"Dari mana Abang tau aku gak suka kuning telur?"

"Aku suamimu Lan, aku tahu segalanya tentang kamu. Udah makan gih, keburu dingin." sahutnya sambil mulai menyuap makanannya.

Kupijat kening di antara dua mata yang sebenarnya hanya sedikit pening. Ayolah Lan. Aku berusaha Menelusuri setiap ingatan. Mungkin saja terselip di suatu tempat, di salah satu sudut otak misalnya. Tapi sungguh. Aku gak bisa mengingat apa pun tentang Wisnu.

"Kenapa Lan? Pusing? Sudah. Jangan memaksakan diri untuk mengingatnya." Wisnu seakan tahu isi kepalaku.

"Besok mau periksa dulu ke dokter?" ia memberi saran.

Aku ragu. Namun, untuk membuktikan kebenaran serta kondisiku sekarang ini, akhirnya saran kuangguki saran Wisnu. Dan kami melanjutkan ritual beradu sendok garpu di piring masing-masing.

Bab 3

Seperti janjinya semalam, pagi ini Wisnu membawaku menemui seorang dokter. Anehnya dokter yang menanganiku gak mendapati kejanggalan apa pun dari pemeriksaan fisik. Selain itu, dia juga mengajukan banyak pertanyaan.

Benturan keras di kepala? Kejang? Dan berbagai macam lagi yang kusahuti semua dengan satu kata, 'gak ada'.

Dokter menyimpulkan aku hanya stres atau trauma berat yang menjadi penyebab amnesia disosiatif. Jenis amnesia ini tentu berbeda dari Amnesia biasa yang bisa disebabkan penyakit atau benturan di kepala.

"Bisa jadi, memori tentang pernikahan ini masih ada, hanya tersimpan di bagian terdalam, butuh pemicu untuk membuat ingatan ini kembali, jadi Pak Wisnu, sebagai suami perlu bersabar. Dan cobalah lakukan hal-hal yang sering kalian lakukan bersama dulu. Mungkin salah satunya bisa menjadi pemicu kembalinya ingatan istri Anda," Terang dokter dengan name tag Ratna itu.

Dokter Ratna juga menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan ke psikolog jika aku mengalami keluhan lain.

***

Bunda mangut-mangut saja saat kujelaskan tentang kondisiku. Sedangkan Wisnu, setelah mengantarku ke rumah langsung kembali ke kantor dengan meninggalkan kartu apartemen padaku.

"Barangkali kamu mau pulang duluan setelah dari rumah Bunda." Begitu tuturnya tadi.

Sambil menunggu Bunda menyiapkan makan siang, aku berniat membuat draft untuk bab baru cerbungku di sebuah aplikasi. Dan satu hal lagi yang baru saja kusadari. Setelah membaca beberapa bab sebelumnya, aku kebingungan sendiri. Tema macam apa yang kutulis ini?

Tulisan-tulisanku sebelumnya gak pernah menyongsong Tema perpelakoran atau perselingkuhan seperti ini. Dari pada semakin kebingungan sendiri, cacat alur dan jalan cerita jadi ambigu. aku mengurungkan niat untuk melanjutkannya. Masih ada cerbung dengan judul lain. Bertema horor, yang gak kalah ramai pembacanya dari pada cerbung pelakor tadi.

Laptop lupa kubawa, jadi aku menulis di ponsel. Hampir satu jam bergelut dengan layar 7 inc tersebut. Hingga tanpa sadar baterainya hanya tersisa dua persen.

"Nda, ces hape mana? Aku gak bawa." Teriakku dari ruang tengah yang hanya bersekat dinding dengan dapur.

"Di kamar Bunda, ambil sendiri. Di rak kedua nakas, dekat colokan," balasnya yang juga berteriak.

Belum sempat kuraih gagang pintu, bunda sudah terbirit-birit dari dapur.

Beliau tampak mengatur napas sebentar. "Tunggu!" ia menahan tanganku. "biar Bunda ambilin, kamu tunggu sana." ditunjuknya kursi ruang tengah. Lalu ia masuk kamar dengan buru-buru dan kembali menutup rapat pintu.

Ada apa dengan Bunda? Biasanya aku di bebaskan keluar masuk kamarnya. Kenapa kali ini aneh begitu? Seperti ada yang beliau tutup-tutupi.

Lalu, saat beliau keluar, pintu kembali dikuncinya. Heran. Apa yang dia sembunyikan di sana?"

"Lain kali, apa-apa bawa sendiri, jadi Bunda gak repot urusin barang remeh untukmu begini,” gerutunya dengan wajah tertekuk.

Nah, kan? Hal sepele begini bisa panjang kali lebar omelan Bunda jika gak segera diangguki.

"Gimana dengan Wisnu? Kamu gak galak-galak kan sama dia?" Bunda malah ikutan duduk sekarang.

"Gak Nda, mau galak juga gak kenal," selorohku.

Bunda terkekeh.

"Sabar ya Lan. Nanti, Lama-lama juga ingat lagi."

“Hmm.” Kukerutkan kening, sungguh aku gak mengerti keanehan sikap Bunda hari ini.

"Kamu ces hape sambil di pake itu Lan?"

"Iya Nda. Kenapa?"

"Cepet rusak itu nanti batrenya."

Aku ber-o panjang. "Gak papa, cuma sekali ini kok, Nda."

Kami berdua saling diam. Aku tengah membalas chat di sebuah grup literasi. Sesekali kulirik Bunda yang duduk dengan gelisah. Beliau berulang kali menggeser posisinya.

"Eh, Lan. Kalo di apartemen kamu ganti bajunya juga di kamar mandi kan?" ini satu lagi pertanyaan aneh menurutku.

Bukannya Bunda sudah hafal dengan kebiasaanku satu ini. Di rumah juga begitu dari dulu kan? Malu juga kali ganti baju sembarangan tempat.

"Iya Nda. Kenapa?"

"Eh, itu .... Loh ini bau gosong apa ya Lan?" beliau mengendus-endus.

Aku juga ikut-ikatan. “Gak ada yang bau kok Nda.”

"Ini beneran bau hangus Lan. Ya ampun! Bunda lupa, ikan masih dalam wajan. Kompornya belum mati," tuturnya panik. Lalu dengan segera beliau meninggalkanku yang masih diliputi perasaan bingung.

Langit sudah temaram dan matahari cukup rendah di bagian barat saat aku kembali ke apartemen. Sepi. Saat sendirian begini, kutatapi setiap sudut ruangan ini. Berharap ada kenangan yang bisa kembali kuingat. Tapi, Percuma. Sungguh. Sekuat apa pun usahaku, aku tetap gak berhasil menemukan Wisnu dalam ingatanku.

Atau bisa jadi ia memang gak pernah di memoriku sebelumnya. Aku jadi semakin yakin, pasti ada yang memanipulasi jalan pikiranku. Dokter tadi pagi, mungkin ia juga bukan dokter sungguhan. Dibayar untuk jadi penguat agar aku percaya sedang mengalami amnesia sekarang. Bisa saja begitu bukan? Amnesia tanpa penyebab yang jadi diagnosanya tadi, sungguh bagiku tak masuk akal.

Tapi, jika dipikir lagi, untuk apa mereka melakukan hal yang sulit begini? Apa tujuan sebenarnya? Argh! Entahlah. Aku meremas kuat rambutku. Merasa putus asa dengan semua ini.

***

Pukul 18.30 Wisnu baru pulang. Ia langsung memintaku bersiap-siap.

"Mau ke mana sih Bang?" tanyaku.

"Udah, ikut aja. Kita jalan-jalan sebentar.” Ia mendorongku masuk kamar.

Lagi. Aku menurut saja. Mau bagaimana? Meski gak percaya, ia merupakan suamiku sekarang.

Aku tersenyum saat tiba di tempat tujuan. Wisnu membawaku ke pasar malam. Dulu, kami sering melakukan hal ini katanya. Mungkin akan ada sedikit detail yang bisa membuatku mengingat tentang dirinya. Masa bodoh! Apa pun itu menurut Wisnu. Aku akan menikmatinya.

"Kamu suka bianglala kan? Ayo kita naik wahana itu." Wisnu menggenggam tanganku, kami setengah berlari menuju wahana yang ia maksud.

Benar. Tampaknya ia tahu segalanya tentangku. Meski aku tak mengingatnya. Tapi, aku mengakui ada perasaan bahagia saat. bersama Wisnu.

"Pemandangan langit dari atas sini semakin indah. Dulu, saat bianglala ini berhenti dan kita berada di bagian puncak, kamu akan menyukai ini. Benar kan?" Wisnu mencoba mengingatkan saat bianglala yang kami naiki mulai berputar.

"Langit gak akan pernah terlihat dekat, meski kita semakin tinggi sekarang." Aku dan Wisnu mengucapkan kalimat yang sama.

Lalu, kami berdua tersenyum simpul. Wisnu bahkan tahu betul kalimatku. Aku terharu. Jika benar sekarang aku amnesia, Wisnu adalah suami tersabar yang patut kukagumi.

Turun dari bianglala, lelaki yang gak hentinya menggenggam tanganku itu, mengajak membeli gulali. Lagi-lagi ia tahu makanan yang kusukai. Mataku mulai berbinar memandanginya, ia kini tengah berbincang dengan penjual camilan manis tersebut sambil tersenyum.

"Gulalinya satu ya Kang. Yang masih anget."

"Gelo si Aa mah, mana ada atuh gulali anget," tanggap si penjual sambil tertawa.

Terang saja aku ikut cekikikan mendengar jawaban si penjual.

"Maksudnya itu Kang. Yang baru jadi, istri saya gak mau yang udah di bungkus." Wisnu mengoreksi.

Lihat kan? Wisnu memang mengagumkan. Ia tahu sampai detail begitu. Haruskah aku percaya padanya sekarang?

"Kenapa Lan? Jatuh cinta lagi kan sama Abang?" ia mengangkat sebelah alisnya saat ia mendapatiku tengah menatapnya.

"Ge er!" seruku sambil memalingkan muka menyembunyikan semu merah yang menghangat di pipi.

Namun, sesingkat itu ekspresiku berubah jadi tegang saat melihat sosok yang begitu kukenal. Rayyan. Dia tunanganku.

"Eh, Lan ke mana?"

Kuabaikan saja teriakan Wisnu. Setengah berlari aku menghampiri Rayyan. Aku harus memastikan sesuatu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED