Bab 2

Senyuman Nala sama sekali tak indah dipandang, karena ia memberikan senyuman kaku, sementara tangannya digenggam lembut oleh laki-laki yang Nala yakini bernama Pak Muh. Langkah kakinya mengayun pelan sesuai dengan irama musik yang mengiringi, di sana ada sosok laki-laki gagah nan tampan yang tengah menunggu kedatangannya.

"Iya sih masih kelihatan oke, ganteng juga. Tapi, Ya Lord, masak jodoh gue seumuran bapak-bapak gini sih, pasti nggak worth it buat diajak ngewe."

Nala ingin sekali muntah, melihat laki-laki itu tersenyum lembut kearahnya seolah menerimanya dengan sepenuh jiwa. Tangannya dilepas lembut oleh Pak Muh dan dialihkan pada pengantin laki-laki bernama Bastian Wilantara. Entah bagaimana latar belakang laki-laki itu, Nala sendiri tak tau sama sekali, karena satu-satunya hal yang dirinya ketahui adalah usia laki-laki itu yang sepantaran dengan mamanya.

Bastian dan Nala mengucapkan janji suci pernikahan dihadapan pendeta dan para saksi, sebelum akhirnya bibir keduanya dipertemukan untuk pertama kali. Bayangan mamanya memberi nasihat untuk berbakti pada suaminya, membuat Nala lekas mengalungkan kedua tangannya sebelum ciuman itu berakhir. Akhirnya, ciuman yang hendak terlepas itu dapat beratahan sedikit lebih lama saat Nala juga membalas ciuman suaminya.

Prok ... prok ... prokk

Piwittt

"Kebablasan ya, Bas. Awas jangan lama-lama, lanjut nanti malam ajaa!"

Entah suara lantang siapa itu, yang jelas setelahnya sorakan para undangan semakin riuh terdengar. "Bangsat! Congor siapa sih itu, nggak sopan banget." Nala memberikan tatapan yang ramai disebut Bombastic Side Eye pada laki-laki yang duduk dibangku paling depan dan kini tengah tertawa lebar tanpa beban.

"Akh!" Nala memekik pelan saat tiba-tiba saja pinggangnya dirangkul posesif. Saat ia menoleh, yang didapatinya adalah senyuman manis Bastian.

Mudah bagi Bastian untuk membaca raut wajah kesal Nala. Ia memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan telinga istrinya dan berbisik, "Udah, nggak usah diladenin."

Ah, kini Nala tau jika laki-laki yang baru saja resmi berstatus sebagai Suami yang sah dimata agama, negara, dan Tuhan ini adalah tipikal orang yang peka dengan keadaan sekitar. Nala membalas lembut senyuman itu sembari melepaskan dengan perlahan tangan yang masih melilit pinggangnya.

Pesta pun terus berlanjut hingga malam hari, kedua pengantin tampak sibuk memberikan senyuman hangat-- ralat, hanya berpura-pura memberikan senyuman hangat sebagai balasan dari do'a yang dilontarkan para tamu undangan. Menyalami satu per satu tamu yang datang benar-benar terasa menguras semua tenaga yang ada.

Sorot mata Nala langsung membola saat melihat kehadiran kawan-kawannya yang tampak tersenyum ke arahnya. Seketika saja rasa lelahnya hilang.

"Nala cantik banget sih hari ini, suaminya juga ganteng banget," ucap Vivi dengan senyuman lebar, garis senyum itu tercetak dengan jelas.

Diana yang berada tepat di belakang Vivi lekas mendorong pelan wanita itu, membuat langkah kakinya yang tadi sempat macet kembali berjalan mulus. "Maaf baru dateng, tadi kita musti nenangin orang yang mau bun--"

Hepppp

Tiba-tiba saja tangan besar Argi langsung membekap mulut Diana begitu saja, membuat Diana tak bisa melanjutkan ucapannya. Tangannya menepuk heboh lengan Argi, meminta untuk segera dilepaskan. Nafasnya terasa sesak.

Kening Nala berkerut melihat reaksi teman-temannya yang langsung memberikan tatapan heran untuk Diana yang sudah bebas dari bekapan tangan besar Argi. "Kenapa?" tanyanya dengan raut wajah penasaran. "Dewa mana? Kok nggak bareng kalian?" Temannya kurang satu, apakah yang dimaksud Diana tadi adalah Dewa?

"Oh--Dewa? Anu dia lagi mencret, Nal. Semalem abis ditraktir Teguh makan ceker mercon yang di perempatan jalan deket lampu merah itu loh," sahut Argi dengan cepat yang lekas mendapat anggukan kepala dari yang lainnya. "tenang aja, Nal. Si Dewa juga udah nitip amplop kok sama gue."

Teman-teman Nala bukan tak tau bagaimana latar belakang pernikahan sahabatnya itu. Meskipun sedih tapi juga tak bisa membantu apapun, selain do'a supaya Nala diberi ketabahan dalam menjalani pernikahan tak diharapkan tersebut. Setelah berfoto memasang wajah ria dengan teman-temannya dan melupakan sosok suaminya dalam waktu kurang lebih lima menit, kening Nala kembali dibuat berkerut melihat interaksi antara Argi dan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya tersebut.

"Tenang aja, Om. Ini obat ampuh banget biar nggak cepet loyo, bukannya mau ngeremehin Om nih ya, tapi umur emang nggak bisa dibohongin, Om." Tangan Argi bergerak pelan memasukkan sesuatu ke dalam kantung kemeja yang diguanakan Bastian. Bastian sendiri tampak menaikkan kedua alisnya dan membiarkan benda asing itu tersimpan masuk ke dalam sakunya, sebelum akhirnya Argi menepuk pelan pundaknya dua kali. "semoga sukses, Brother." Setelahnya Argi lekas berlalu pergi. Sok akrab memang.

Nala menghembuskan nafas kesal saat melihat gerombolan temannya itu malah asik memakan berbagai macam hidangan yang tersedia. Memang, soal makanan tidak akan dilewatkan oleh mereka. Otak teman-temannya itu bisa dibaca dengan mudah, kaum mendang mending dan tak mau rugi seperti dirinya sendiri.

Melihat arah pandang Nala, Bastian pun sedikit mencondongkan tubuhnya agar bisa menjangkau Nala. "Laper? Mau aku ambilin makan dulu?"

Bisikan itu begitu dekat di telinga Nala, membuatnya terkejut karena tiba-tiba ada angin berhembus. Buru-buru ia menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, nanti aja makannya."

"Yakin? Masih sekitar satu jam lagi acaranya."

Nala memutar bola matanya malas. Memangnya siapa lagi sih tamu yang belum datang? Kok banyak banget perasaan. Itu saja tidak ada yang dirinya kenal selain teman-temannya. "Iya, nanti aja. Tanggung. Udah deh, jangan bawel." Bastian menganggukkan kepalanya, tak berniat memaksa jika si pemilik tubuh tak mau.

Satu jam setelahnya acara yang teramat panjang itupun benar-benar berakhir. Orang pertama yang merasa lega tentu saja Nala, karena secepatnya ia bisa melepaskan gaun yang berat ini dari tubuhnya.

"Biar saya bantu."

Kening Nala langsung berkerut saat melihat laki-laki yang usianya lebih cocok sebagai papanya itu melangkah mendekat ke arahnya, tangannya terulur untuk membuka resleting gaun yang dikenakannya. Tentu saja Nala sendiri tak bisa menolaknya, sebab tangannya tak mampu menjangkau bagian belakang tubuhnya.

Huh--Memang gaun pernikahan di-design seperti ini kah? Dibuat sulit membuka resleting seorang diri agar pengantin wanita meminta bantuan pada suaminya untuk membukanya?

Nala menahan napas saat merasakan hembusan hangat itu menerpa punggungnya yang begitu polos. Bulu kuduknya merinding seketika, sebelum akhirnya ia memejamkan mata. Tiba-tiba saja otaknya malah membayangkan dirinya bersenggama dengan laki-laki tua membuatnya terasa ingin muntah, palingan rasanya cuma kaya digelitiki capung, nggak bakalan berasa.

"Om, kalau mau minta malam ini, mendingan obat dari temen gue diminum dulu deh, Om. Gue nggak mau ya Om kalau tiba-tiba Om loyo pas gue belum selesai. Nggak berharap Om bakalan puasin gue juga kok, gue sadar diri juga gimana kondisi partner-nya."

Bab 3

'Nggak tertarik sama body kamu." Ah, sial! Kata-kata itu terus terngiang di telinga Nala.

Nala menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kenapa sih susah sekali untuk menghilangkan memory itu dari otaknya. Ia menarik nafas panjang guna menormalkan kembali emosinya. Sama sekali nggak ngaruh ternyata.

"Brengsek! Dikiranya gue tertarik apa sama bentukan kek gitu, gue aja ragu itu titit masih bisa berdiri." Disibak dengan kasar selimut tebal yang menutupi tubuhnya saat ini. Setiap langkah kakinya begitu menghentak, menunjukkan betapa kesalnya saat ini.

"Kayak guguk lah!"

Gerakan kaki Nala terhenti setelah ia berdiri di depan meja rias, mendudukkan bokongnya di kursi kayu dengan ukiran seperti bunga-bunga batik. Kini, pandangannya tertuju sepenuhnya pada wajah kusutnya dari pantulan cermin. Menatap iba wajah yang terlihat jelas di sana, tak ada senyuman bahagia di hari pernikahan yang seharusnya menjadi satu momen paling berharga dan berkesan dalam hidup.

Huuff~

Hembusan nafas berat terdengar dengan jelas di rungunya, menatap manik matanya dari pantulan cermin yang kian lama mulai berair. Buru-buru Nala langsung mengusapnya, agaknya ia tak ingin menangis lagi sendirian. Pasalnya, ketika ia menangis, sudah dapat dipastikan setelah itu kepalanya akan pusing, tak ada Mama yang akan mengelus kepalanya nanti. "Nggak boleh nangis, Nala cantik nggak boleh nangis." Tepukan cukup keras diberikan pada kedua pipinya.

Ah, mengingat mamanya dan melihat tampilannya saat ini langsung membuatnya teringat sesuatu. Katanya seorang Ibu memiliki kepekaan yang tinggi terhadap suatu hal yang terjadi pada anaknya, kali ini Nala mengakui kebenaran itu. Jika dipikir-pikir lagi semua nasehat mamanya tentang bakti dan kewajiban seorang istri beberapa hari yang lalu dan sempat dianggapnya angin lalu, malah kini berubah menjadi bekal serta pengingat untuknya.

Ibu adalah seorang malaikat yang sengaja dikirim Tuhan untuk anaknya bahkan sejak masih dalam kandungan. Apakah saat mengatakan rentetan nasihat itu mamanya baru saja mendapatkan bisikan halus dari Tuhan bahwa ia akan segera menikah?

Sekali lagi Nala menatap lurus pantulan dirinya di cermin, menarik nafasnya dalam-dalam sebelum kemudian dihembuskan dengan perlahan. "Nala bakalan tepatin janji itu, Ma. Demi Mama, cuma Mama." Nala meraba pantulan dirinya dari kaca cermin. Dirinya baru saja dengan sadar kembali mengucap janji pada dirinya sendiri, meyakinkan hati bahwa apapun rintangan yang akan dilalui nanti, ia tak akan melepas tittle-nya sebagai seorang Istri Bastian Wilantara.

Kepalanya pusing, sebab itu ia kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sial! Nala sama sekali tak bisa memejamkan matanya, suasana ini terlalu asing untuknya, mungkin dirinya memang perlu waktu untuk membiasakan diri di tempat ini.

Ceklekk

Suara pintu yang terbuka langsung menyita perhatian Nala. Buru-buru ia bangkit dari posisi berbaringnya, menatap sebal pada laki-laki yang melangkahkan kaki dengan santai ke arahnya.

Tak mendapat sambutan yang baik, itulah yang dapat Bastian simpulkan dari raut wajah Nala. "Mau makan dulu? Tadi belum sempet makan, ayo."

Wah ... benar juga sih. Terlau fokus pada kekesalannya membuat Nala sendiri lupa jika perutnya harus segera diisi. Tentu saja ia tak mengambil tindakan bodoh, mengesampingkan semua gengsi dan kekesalannya sejenak. Nala menyibak pelan selimut yang menutupi tubuhnya sampai sebatas dagu tersebut, tentu saja masih dengan mempertahankan wajah ketusnya.

"Astaga ...." Bastian terkejut bukan main saat selimut tebal itu tak lagi menutupi tubuh Nala. Bagaimana tidak kaget, perempuan kecil itu tengah memakai gaun tidur berbahan satin selutut dengan meng-eskpos bagian atas tubuhnya karena gaun itu hanya bertali spaghetti. "kenapa pakai baju gitu sih?" Rahang Bastian mengeras, tentu saja ia tak nyaman dengan pemandangan semacam ini.

Nala yang sudah berada di depan Bastian dengan jarak kurang dari satu meter hanya menatap heran. Orang ini kenapa sih? Perasaan nggak ada yang aneh dengan dirinya. "Apasih? Gue nerima ajakan Om makan karena emang Gue laper ya, Om. Inget! Gue masih kesel dikatain soal body tadi. Nggak tau aja kalau ini body idaman Mas-mas Teknik di kampus.

Tanpa menghiraukan laki-laki di depannya lagi, Nala lekas melangkahkan kakinya keluar kamar. Keningnya berkerut karena tak tau lagi harus melangkahkan kakinya ke mana membuatnya langsung berhenti saat itu juga. "Ini kemana?" Tak ada jawaban, membuat Nala menoleh ke belakang dan mendapati laki-laki itu tengah sibuk mencari sesuatu di kamar. Pandangan mata Nala beralih memindai rumah ini.

Nala terkejut saat tiba-tiba ada sesuatu yang hangat menutupi tubuhnya. "Pake ini, biar nggak dingin. Lain kali jangan pake baju tidur kebuka gini, takutnya malah masuk angin. Nggak ada yang kerokin nanti."

Keduanya duduk berdampingan menikmati makanan yang dipesan melalui aplikasi dengan nikmat. Bukan di dapur, melainkan di ruang tengah. Ah, sup ayam terasa begitu nikmat dimakan malam hari untuk menetralisir hawa dingin. Tak ada percakapan yang terjadi selama sesi makan malam yang telat ini, sampai pada akhirnya keduanya memisahkan diri kembali.

Menu makan malam terlalu nikmat, membuat Nala kelepasan dan terus memaksakan sup ayam itu masuk ke dalam perut kecilnya. Alahasil, ia kekenyangan, tubuhnya sulit bergerak. Seperti ular. Sudah sejak lima menit yang lalu ia masih setia bersandar pada headboard sembari menunggu perutnya lebih nyaman. Tangannya terulur untuk mengelus pelan perutnya yang kini terasa buncit. "Tuh orang ilfeel nggak ya lihat gue makan kayak barongan tadi? Ini juga kenapa sih kelepasan nggak bisa nahan diri lihat makanan enak." Nala menepuk bibirnya cukup keras. Menyalahkannya karena terlalu beringas memasukkan makanan tanpa henti.

***

Sementara itu di sisi lain, seorang laki-laki yang mulai hari ini resmi menyandang status sebagai Suami sah Nala Gevania, tengah memandang lurus langit malam yang tampak cerah dengan hiasan bulan sabit dan jutaan bintang yang bertabur di sana, tentu saja dengan ditemani sebatang rokok yang terselip diantara jari telunjuk dan tengahnya.

Wuusshhh~

Kepulan asap rokok yang baru saja keluar dari mulutnya itu terkumpul tepat di depan wajahnya, membentuk gerumbulan sebelum kemudian tersapu oleh hembusan angin malam dan menghilang entah kemana.

"Maaf kalau ternyata keputusanku ini salah."

Tangan besar Bastian terulur untuk meraih sebotol minuman keras yang ada di meja, tanpa memperdulikan keberadaan gelas kecil di sana, Bastian langsung menenggaknya dari bibir botol begitu saja. Rasa panas dan pahit saat cairan itu membasahi kerongkongan, membuatnya memejamkan matanya, menikmati cita rasa itu dengan maksimal.

Tuuttt ... tttuuttt ... tttuuttt

Baru saja ia hendak menenggak minuman itu lagi, gerakannya terhenti lantaran terganggu oleh suara deringan ponsel. Layar benda pipih itu menyala dengan menampilkan nama kontak 'Sonya'. Bukannya langsung meraih benda pipih tersebut, Bastian malah melanjutkan kembali gerakannya yang sempat tertunda tanpa memperdulikan ponselnya yang terus berdering.

"Ah! Shit."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED