Awalnya, kehidupan sehari-hari Chayana berjalan dengan baik seperti biasanya. Namun, sejak kehadiran Ray di kampus, membuat wanita itu benar-benar muak.
Kemana pun ia pergi, telinganya selalu mendengar nama pria itu. Pelajar pindahan yang merenggut hati semua wanita di kampus. Chayana tak tertarik dengan hal semacam itu. Semuanya bermula sejak si playboy itu melakukan hal tak senonoh di kamar sebelahnya.
Setiap malam, Chayana tak bisa tidur karena suara Cantika sang permaisuri kampus selalu mengganggu telinganya. Suaranya yang tengah beradu dengan pria yang ia panggil Ray.
Selama seminggu, Chayana menahan semuanya. Titik kesabarannya serasa sudah berada di puncak teratas. Wanita itu akhirnya memilih menemui Ray dan mengajaknya mengobrol empat mata saja.
"Ngapain lo ajak gue ke sini? Mau bilang suka sama gue?"
Chayana memejamkan matanya sejenak mendengar perkataan Ray yang amat percaya diri. Tangannya gatal ingin memukul pria itu tetapi ia tahan.
"Bisa ngak lo jangan ke kamarnya Cantika? Risih gue dengar suara kalian."
"Kalau gue ngak mau, lo mau apa?" Ray berjalan lebih dekat dengan Chayana.
Biasanya perempuan yang ia dekati akan mundur dengan malu-malu dengan tatapan kagumnya. Namun, Chayana berbeda. Wanita itu bahkan tak bergeming. Kepalanya mendongak. Matanya tepat menatap Ray dengan tatapan kesal, marah serta jijik.
"Gue enggak ada pilihan berarti, selain laporin tindakan lo itu!" Jari wanita itu mendorong pelan dada Ray. Ia kemudian pergi dari sana meninggalkannya.
Ray berbalik menatap kepergian Chayana. Ia cukup tertarik pada wanita yang sama sekali tak menyukainya itu.
***
Laporan yang diberikan Chayana benar-benar berdampak buruk pada Ray dan Cantika. Walaupun sudah melakukan pembelaan bahwa ia tak pernah sekali pun ke kamar asrama wanita itu, Ray tetap saja harus dikembalikan ke kampusnya.
Ini karena seseorang melihatnya keluar pada malam hari. Ditambah dengan rekaman suara Cantika yang terus berteriak tak senonoh sembari memanggil namanya. Seakan mendukung itu, CCTV pun menampilkan seorang pria yang mengenakan jaket miliknya tengah memasuki kamar Cantika.
Ray sangat kesal. Pasti ada orang yang mencoba menjebaknya. Setelah dikeluarkan dari kampus itu, Ray mencari informasi tentang fitnah yang didapatkannya. Semuanya mengarah pada Chayana sebagai pelaku utamanya.
Wanita itu sengaja menjebak Ray agar bisa disingkirkan dari kampus. Chayana tak akan pernah tahu bahwa ia telah mengusik orang yang salah.
***
"Chayana! Woy!"
"Chayana?!"
"Iya, Maemun! Apaan, sih, teriak mulu!"
Chayana mendelik kesal menatap Mauren. Jika undang-undang memperbolehkan seseorang untuk mencekik, wanita itu pasti sudah mencekik.
"Lo tuh, yah! Kalau enggak ditegur pas melamun, ntar lo kesambet dedemit. Gue kan enggak sombong dan rajin menabung, makanya sadarin lo yang Astagfirullah!" Mauren melayangkan pukulan dengan menggunakan dokumen di tangannya ke kepala Chayana.
Wanita itu berusaha menghindari pukulannya. Namun, pada dasarnya tangan mungil Mauren yang gesit, Chayana terpaksa menerima pukulan itu.
Dering telepon yang berasal dari smartphone di atas meja kubikel milik Chayana terdengar nyaring. Wanita itu refleks melotot dan berdiri.
"Diii, bisa enggak sih, lo enggak usah melotot gitu?"
"Emang kenapa?" Chayana menatap Mauren.
"Lo kayak hantu Momo, sumpeek!"
Chayana yang tadinya melotot, kini menyipitkan mata. Ia kembali tersadar dengan panggilan telepon itu. "Gue balas lo nanti. Pulang lewat mana lo?" Ujung jari telunjuk dan jari tengah wanita itu menunjuk ke arah matanya kemudian beralih ke mata Mauren seakan memperlihatkan bahwa ia akan mengawasi Mauren.
Mauren hanya menatapnya jijik. Mimpi apa gue bisa akrab ama nih, orang?
"Ha--halo, Sayang? Gimana? Kamu bisa temenin aku ke pestanya, enggak?"
Tingkah laku Chayana berubah 180 derajat saat menjawab telepon. Mauren mangap-mangap tak percaya. Ia lalu memasang wajah terjeleknya sembari mengikuti ucapan Chayana.
"Maaf, Sayang. Aku ada kerjaan di jam segitu."
Senyum Chayana perlahan memudar. Ia menatap sepatunya. Bahu yang semula bersemangat, turun perlahan.
"Enggak bisa kamu luangin waktu sebentar buat aku? Kita udah enggak ketemu hampir tiga minggu, loh."
Hening sebentar, sebelum pria di seberang sana kembali menjawab. "Sorry, Honey. Waktu rapatku udah dekat. Aku tutup, yah. Love you."
"Dami, tunggu sebentar aku---"
Chayana menatap lesu layar smartphone-nya. Wanita itu mendesis dan menghela napas panjang.
"Kalau gue enggak cinta ama lo, lo udah gue mutilasi, Ka*pret!"
Gila! Beneran gila kekasihnya itu. Chayana meredam amarahnya. Jika saja bukan karena cinta, ia sudah menghajar habis Damian. Asal tahu saja, jiwa preman sekolahnya sudah lama tak ia lampiaskan. Pria itu sepertinya cocok dijadikan pelampiasan. Namun, lagi-lagi Chayana hanya mampu menyusun rencana itu tanpa mampu mempraktekkannya.
Ia terlalu cinta pada Damian. Pria yang dulunya mengejar Chayana. Tergila-gila padanya. Bahkan saat ditolak pun Damian tetap mengatakan cinta kepada Chayana.
"Hmmm, ini kali, yah, setelah manisnya diambil, sepetnya dibuang."
Chayana menghela napas dan menipiskan bibir. Sabar. (1)
"Dulu dia yang ngejar, sekarang lo yang ngejar. Miris, sih."
Abaikan! (2)
"Mana dighosting sampe menahun lagi. Itu pacar atau pajangan?"
Sialan! (3)
"Mauren!"
"Duh, Diii. Lepasin hidung gue. Lo bar-bar amat! Sakiit, B*go!"
"Ada apa ini?"
Chayana menghentikan gerakannya. Ia yang tengah menarik lubang hidung Mauren ke atas, seketika mematung seperti manekin.
Buuuk!
Satu pukulan buku tebal, tepat mendarat di kepalanya. Ringisan kesakitan refleks keluar saat Pak Damar---Manajer Produksi, memukulnya.
"Lepasin hidung istri saya. Kamu mau saya hukum?"
Chayana menggeram. Selalu saja pria itu menggunakan keuntungannya sebagai atasan. Di lain sisi, Mauren tersenyum senang dan beralih ke samping Damar. Menggandeng mesra lengan suaminya.
"Gue juga bisa ngancam kali. Untung di sini cuman kita bertiga aja. Jadi, gue masih punya kartu AS." Senyum devil Chayana perlahan muncul. Ia melirik sekitar mencari sasaran yang pas untuk memberitukan sebuah rahasia.
Siluet matanya menangkap Alyar. Ia tersenyum. Saat akan memanggil Alyar---tukang gosip di divisinya, mulut Chayana dibungkam.
"Lo jangan mulai, deh. Surat resign gue belum selesai. Kalau ketahuan gue sama Damar udah nikah, bisa berabe."
Yah, di perusahaan properti bombastis ini memang tidak diizinkan menjalin hubungan sesama karyawannya. Namun, si Kudet Mauren pasti tidak tahu jika sekarang peraturan itu ditiadakan.
Hal itu karena sang pemegang saham tertinggi dikabarkan akan menikah dengan salah satu karyawan di sini.
Chayana menganggukkan kepalanya. Tentu saja ia tak akan memberitahukan pengumuman terbaru itu pada Mauren.
"Pa ... gi? Kalian ngapain? Eh, ada Pak Damar juga." Rendra lantas membungkuk singkat sebagai tanda hormat pada Pak Damar.
Pria berkacamata itu melirik sekilas pada Chayana dan Mauren. Sadar akan itu, Mauren lantas melepaskan bekapannya dan berdiri tegak.
"Pak Damar sedang apa di sini?"
"Hanya ingin melihat-lihat. Saya permisi dulu." Setelah mengatakan itu, ia pergi dari sana. Rendra hanya mampu mengernyit bingung. Ia kemudian menatap Chayana dan Mauren yang kompak menggelengkan kepala.
***
"Oke, Doi. Saatnya lampiasin kekesalan lo lewat makanan pesta."
Mata Chayana menatap satu persatu gaun yang berada di dalam lemarinya. Mencari-cari pakaian mana yang akan ia pakai di pesta pernikahan CEO perusahannya.
Entah sekaya apa orang itu hingga mengundang seluruh karyawan di perusahaan pusat. Belum lagi dengan rekan bisnisnya. Chayana tidak mau memikirkan hal itu.
Gaun biru navy dengan punggung lebar terbuka dengan lengan berenda simple, serta kerah leher sebatas bahu, menjadi pilihannya kali ini. Ia lalu memadukannya dengan kalung dan anting silver yang mengkilat.
"Nice fashion," ungkap Chayana saat melihat tampilan dirinya di cermin kamar. Kulit kuning langsatnya sangat cocok dipadukan dengan pakaiannya saat ini.
Sembari menggumamkan sebuah lagu, Chayana meraih tas tangan simple lalu keluar dari kamar.
"Mas, liat anak kamu, nih." Mamah Jihan memperhatikan Chayana dari atas hingga bawah. Chayana mengerjabkan mata dan tersenyum singkat.
"Wajah? Cantik pake banget. Tinggi badan? 168 cm, enggak tinggi amat, enggak pendek juga. Body? Dada gede, pinggul ramping, yang di belakang juga montok. Karir? Beuhh! Apalagi. Tapi sayang banget, enggak bisa bawa calon suami ke depan mamahnya."
Tatapan Mamah Jihan berubah. Ia menggeleng miris. Senyum Chayana luntur sedetik setelah sang mamah mengatakan itu. "Udah turun berapa harga kamu?"
Astagfirullah, mulut mamahnya. Dikira Chayana cabe kali. Main minta turun harga!
"Mah, mulutnya bisa di-filter, enggak? Ini aku loh, Mah. Anak Mamah."
"Percuma anak mamah kalau kamu enggak bisa bawa calon suami kamu ke sini."
Chayana memutar matanya ke atas. Ia mendekat dan menyalami tangan Mamah Jihan. Wanita itu berjalan mendekati sang papa yang tengah duduk di ruang tamu sembari mengisi TTS. Chayana menyalami tangan pria itu.
"Jam berapa pulangnya?" tanyanya sambil melepaskan kacamata yang sedari tadi dipakainya.
"Emmm ... yang pasti habis makanlah, Pah," kata Chayana dengan cengiran khasnya. Papah Morgan tersenyum singkat.
"Jangan lama-lama di sana, yah. Kamu ditemani sama siapa ke sana?"
Pertanyaan ini membuat Chayana menelan ludah. Bingung harus menjawab apa. Namun, ia tidak mungkin berbohong pada sang papah.
"Sendiri, Pah." Morgan tampak tertegun. Ia lantas meraih telepon di atas meja dekat sofa. Chayana hanya mampu menghela napas pasrah.
Sudah ia duga hal ini akan terjadi. Papahnya mana bisa membiarkan dirinya pergi sendirian saja di malam hari?
"Iqbal, pulang cepat. Temani adik kamu ke pesta."
"Maaf, Pah. Untuk sekarang Iqbal musti tanganin sesuatu dulu. Iqbal pulang sekitaran jam 10 malam." Morgan melirik jam yang terpasang di dinding. Pria itu menyipitkan mata sebab penglihatan yang mulai mengabur.
Ia menganggukkan kepala. Sekarang sudah pukul delapan malam. "Ya sudah, saat pulang nanti kamu jemput Chayana di Hotel Bintang Lima Argo's."
"Baik, Pah."
Panggilan telepon terputus. Chayana mendadak lesu. Wanita itu cemberut tetapi tak mampu membantah. Menjadi putri satu-satunya di keluarganya, sangat sulit. Apalagi dengan kenyataan sang papah sangat menyayanginya.
"Ayo, papah antar ke sana." Chayana membulat.
"Pah, enggak usah, ih." Chayana menatap Morgan memohon. Pria itu menggeleng dan memilih meraih kunci mobil.
Ia memberikan satu kecupan sayang di bibir istrinya, dan berpamitan sebentar. Terkadang Chayana iri melihat keromantisan serta keharmonisan papah dan mamahnya.
Hal ini pula yang menjadikannya bertekad untuk menikah dengan sekali dalam hidup.
Morgan merangkul bahu sang putri dan menggiringnya keluar dari pekarangan rumah. Mau tak mau, ia harus diantarkan oleh sang papa.
***
Chayana tak menyangka. Saat menjejakkan kaki di depan pintu hotel, ia harus dibuat gelisah dengan layar yang menampilkan foto mesra kedua mempelai.
Dari nama pria yang tercantum di sana, Chayana tahu jika ia sudah salah datang ke pesta ini. Namun, ada yang berbeda dari itu. Nama memang sama, tetapi fisik hingga wajah berubah drastis dari terakhir kali mereka bertemu.
Chayana menggeleng. Mungkin saja bukan pria itu. Dengan tersenyum yakin, Chayana kembali melangkah masuk dan memberikan undangan ke salah satu penyambut tamu.
Langkah Chayana berhenti saat di depan sana, ia melihat Damian yang berdiri membelakanginya. Belum sempat wanita itu memanggil nama sang kekasih, Damian terlihat tersenyum dan memberikan satu kecupan pada bibir wanita yang tengah mengandung.
Mereka saling tersenyum dan melangkah masuk ke dalam ballroom. Chayana tak mampu menyangkal jika perhatian dan kemesraan yang mereka tunjukkan sudah mampu meruntuhkan hatinya. Bahkan kaki yang semula bersemangat melangkah, kini rasanya tak sanggup melangkah.
Wanita itu berusaha menyangkal sekuat tenaga dan memilih memperhatikan diam-diam kedua orang itu.
"Chaa? Yuk, masuk." Mauren yang baru saja datang menatap heran pada Chayana yang tak menunjukkan ekspresi senang.
"Lo kenapa?"
"Ren, tolong pegangin gue buat enggak melakukan kekerasan sama ibu hamil."
"Hah?"
Chayana menatap tajam ke dalam ballroom dan mengangkat dagunya. Rambutnya ia sampirkan ke belakang, kemudian berjalan anggun meninggalkan Mauren dengan kebingungannya di sana.
"Sialan!" Umpatan itu membuat Mauren mendelik ke arah Chayana . Sahabatnya tampak menutupi separuh wajah menggunakan tas tangan sambil menatap penuh amarah pada meja di depannya.
"Lo ngapain, sih?"
Chayana tak menjawab. Mauren mencoba menatap lebih jelas apa yang ditatap Chayana . Wanita itu langsung tersedak saat Chayana merangkul lehernya cepat.
"Huuust ... lo diam aja, deh."
Chayana menegakkan badan saat dilihatnya Damian tengah pergi. Pria itu berjalan ke luar ballroom. Dengan cepat, Chayana menyalip beberapa meja dan berdeham sejenak.
Ia tersenyum manis dan menyapa wanita yang bersama Damian itu. "Hai, boleh aku duduk di dekatmu?"
Wanita itu tersenyum manis dan mempersilakan Chayana duduk. Mereka berdua saling mengenalkan diri.
"Usia kandunganmu sudah berapa bulan?"
Reina---wanita itu tersenyum ramah dan memegang perutnya. "Sudah tujuh bulan."
"Wahh! Tidak lama lagi berarti. Ohiya, kamu datang bareng siapa? Aku lihat kamu sendirian di sini?"
Chayana memperhatikan sekitar. Takut jika Damian datang dan memergoki dirinya.
"Aku datang dengan suamiku," ujarnya diakhiri dengan senyuman.
Tatapan Chayana mengarah pada wanita itu. Jantungnya serasa berhenti memompa. Apa yang dikatakan oleh wanita ini? Suami? Damian?
"Kapan kalian menikah?"
"Sekitar dua tahun lalu."
Chayana mengerjap cepat. Jadi yang menjadi selingkuhan di sini adalah dia? Wah! Hebat! Pria itu yang mengemis cinta padanya, dan sekarang malah membalasnya seperti ini?
Suara pengisi acara mulai terdengar. Chayana berusaha sekuat mungkin menahan bulir bening yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Ia lantas tersenyum dan menatap wanita itu.
"Ah, sebentar. Sepertinya ada yang memanggil." Chayana sesegera mungkin mengambil smartphone di tas tangannya. Di sana sang kakak tengah meneleponnya.
"Assalamualaikum, Bang."
"Waalaikumsalam, Sayang. Abang pulang cepat dan lagi singgah di warung. Divaa nitip martabak. Kamu mau menitipkan sesuatu?"
"Emmm, aku nitip mie ayam. Lomboknya paling banyak, Bang. Kalau perlu sesendok nasi penuh."
"Sayang?"
"Abang bisa jemput ke sini, kok." Chayana tersenyum pada wanita yang tengah memperhatikannya itu. Ia kemudian menutup speaker dan izin untuk pergi dari sana pada Reina.
Chayana berjalan lesu menuju sudut ruangan. "Are you okey, Honey?"
Suara tangis Chayana perlahan mengalun. Ia beberapa kali menghapus air matanya. Hatinya sesak tak terkira. Pria itu menjadikannya sebagai selingkuhan?
"Abang akan ke sana." Sambungan telepon berakhir. Chayana menunduk dalam. Pandangannya mengabur dan saat itu pula lengannya ditarik. Ia dibawa menuju altar pernikahan.
Dari pandangannya yang mengabur, Chayana menatap punggung tegap pria itu. Kulit putih dengan lengan yang kokoh. Chayana pasrah saja saat ia didudukkan di samping pria itu. Tepat di depan penghulu.
Selendang putih ditaruh di atas kepalanya dan pria itu. Saat tangan pria itu menyalami tangan penghulu, tatapannya mengarah ke arah Chayana . Mereka saling tatap lama.
"Siapa nama mempelai wanita dan ayah wanitanya?"
"Chayana Sun Fobos dan Morgan D Lay," tegasnya dengan mata tajam menatap Chayana .
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Argo Ray Astron bin alm. Rekta Ariel Astron dengan wanita bernama Chayana Sun Fobos binti Morgan D Lay dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
"Saya terima ... nikah dan kawinnya ... Chayana Sun Fobos ... binti Morgan D Lay ... dengan mas kawinnya tersebut ... dibayar ... tunai." Ray mengucapkan kalimat itu dengan sesekali menyelipkan jeda demi memberikan Chayana kesempatan untuk membatalkan pernikahan ini. Namun, wanita itu tak bergeming sama sekali.
Saat teriakan sah menggema. Chayana tersentak dan menatap sekitar. Wanita itu baru sadar akan apa yang terjadi. Ia mengedarkan pandangannya hingga berhenti pada seorang pria yang terkejut menatapnya. Di sampingnya, Reina memegang tangannya sambil melirik ke arah altar dan suaminya.
Beberapa wartawan mulai mendekati mereka. Meminta kejelasan atas pengantin wanita yang diganti. Chayana berdiri diikuti oleh Ray. Dengan sigap bodyguard yang sedari tadi berdiri mendekat dan menghalau para wartawan.
Blits kamera mulai beradu. Memotret banyak momen tentang wanita yang dinikahi oleh CEO muda, Ray.
Bersamaan dengan itu, dua pria mendekati kedua mempelai. Iqbal mencengkeram kuat kerah kemeja Ray. Tangannya terkepal bersiap melayangkan satu pukulan pada pria itu.
Sebelum tinju Iqbal mendarat sempurna, suara tamparan menggema di ballroom. Iqbal dilanda kebingungan. Yang menikahi Chayana tiba-tiba siapa dan yang ditampar oleh adiknya itu siapa? Hadeuh! Iqbal tak paham.
Iqbal memperhatikan seorang pria yang masih memalingkan wajah sebab tamparan Chayana .
'Ini yang benar yang mana, sih?' batin Iqbal menjerit. Bibirnya meringis saat melihat setetes darah memenuhi pinggiran bibir pria itu.
"Sayang?"
"Abang bisa jemput ke sini, kok." Suara Chayana terdengar lirih dan tersendat-sendat.
"Are you okey, Honey?"
Iqbal mengernyit bingung. Tak lama suara adiknya yang sedang menangis terdengar. Tangan pria itu terkepal kuat. Apa yang terjadi pada adik kesayangannya itu?
"Abang akan ke sana." Sambungan telepon berakhir. Iqbal dengan segera mengambil pesanannya. Terburu-buru menuju mobil demi menjemput Chayana .
Sesampainya di sana, pria itu kembali dibuat tercengang saat menatap layar lebar yang menampilkan prosesi pernikahan.
"Chayana Ayna Prakusuma dan Morgan Ilyas Prakusuma."
What? Apa ia tak salah dengar? Itu nama adiknya?
Pikiran Iqbal seketika blank. Bukannya adiknya itu pergi untuk menghadiri pernikahan? Bukan untuk menikah, 'kan?
"Saya terima ... nikah dan kawinnya ... Chayana Ayna Prakusuma ... binti Morgan Ilyas Prakusuma--"
Mendengar itu, Iqbal langsung menuju pintu hotel. Beberapa penjaga menghadangnya. Meminta surat undangan untuk acara pernikahan itu.
Pria itu mencoba menjelaskan situasinya kali ini. Ia kemudian mengerang saat penjaga itu tak menerima apa pun yang dia katakan.
Iqbal seketika gelisah. Pria yang selalu sabar itu kini tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia pun mendorong keras para penjaga dan berlari memasuki ballroom.
"Sah!"
Napas Iqbal tercekat. Dia sudah terlambat. Pria itu mengepalkan tangan kuat dan berlari kecil menuju altar pernikahan.
Matanya menyorot tajam pada pria aneh yang menikahi adiknya. Saat sampai di sana pun ia dibuat terkejut atas tamparan Chayana pada pria lain.
Drrrt! Drrrt!
Iqbal merogoh smartphone di sakunya. Dial telepon menunjukkan panggilan dari sang ayah.
Pria itu menelan ludah dan menatap Chayana pelan. Chayana mendekat pada Iqbal dan menurunkan bahu pria itu. Smartphone itu diapit oleh telinga adik dan kakak itu.
"Pulang dan bawa adik dan iparmu itu."
Suara papa yang dingin membuat Iqbal dan Chayana menelan ludah takut. Papa pasti melihat pernikahan ini dari TV.
***
Kini Chayana berada di salah satu kamar di hotel itu. Lebih tepatnya kamar yang dipesan khusus untuk kedua mempelai.
"Chaa, jelaskan apa yang terjadi."
Chayana menatap takut pada Iqbal. Ia pun tak sadar kalau telah menikah dengan Ray.
"Maafkan saya." Ray tiba-tiba membungkuk dan meminta maaf pada Iqbal.
"Seharusnya Anda mengatakan itu sebelum tanpa izin menikahi adik saya." Iqbal menanggapi dingin permintaan maafnya.
"Saya meminta maaf karena menikahi Chayana tanpa lamaran."
"Apa?"
Ray menatap tenang pada Iqbal. "Dan terima kasih sudah menjadi saksi atas pernikahan kami."
Iqbal mangap-mangap tak percaya. Pria ini benar-benar gila. Dan sekarang dia menjadi adik iparnya? Tidak! Pernikahan ini tak sah!
"Siapa yang bilang pernikahan ini sah?"
"Memang sudah sah. Anda sudah melihat pernikahan kami. Itu artinya Chayana sudah memiliki wali dari pihak keluarganya. Hanya itu yang saya butuhkan sebagai pelengkap pernikahan, bukan?"
Iqbal maju selangkah tetapi lengannya ditahan oleh Chayana . Adiknya itu menunduk dalam sembari melirik pria yang baru saja datang bersama wanita yang berada di gandengannya.
Damian yang baru saja datang, langsung menggenggam tangan Chayana dan meminta penjelasan atas pernikahan tadi.
Reina mendelik dan melepaskan tautan tangan mereka. "Kamu apa-apaan, sih, Mas?"
"Diam dulu. Aku mau bicara sama Chayana." Damian berbalik menatap Chayana .
Sebelum pria itu sempat mengeluarkan kata lagi, Chayana lantas membuka suaranya.
"Seperti yang kamu liat. Aku udah nikah."
"Aku statusnya masih pacar kamu, Chaa. Ka---"
"Lebih tepatnya mantan pacar."
"Pacar?!"
Reina menaikkan suaranya. "Kamu berencana mau nikah lagi?"
Damian menatap Reina. "Iya. Memang kenapa?"
"Mas, kamu selingkuhin aku?"
Dengan santainya Damian menjawab, "Memang kenapa kalau aku selingkuh lagi? Sebelumnya kamu kan selingkuhanku sampai anak itu hadir."
Raut sedih Chayana seketika luntur. Ia pikir gosip tentang Damian seorang duda adalah candaan belaka. Ternyata benar-benar duda dan menikah kembali secara diam-diam dengan selingkuhannya.
"Mas, kamu enggak pikirin perasaan aku?"
"Bukannya seneng, yah? Kamu ada temen buat ngobrol nantinya."
Reina mengepalkan tangannya kuat. Perkataan itu mengingatkan dirinya tentang mantan istri Damian. Dulu, saat mereka bertemu, Reina juga mengatakan hal yang sama.
Iqbal dan Chayana menggeleng jijik. Sementara Ray sibuk dengan macbook di tangannya. Sejak kapan macbook itu ada di sana?
Damian beralih kembali menatap Chayana . Ia melangkah agar lebih dekat dengan wanita itu.
"Dii, kalau kamu bilang mau nikah pasti aku bakalan nikahin kamu. Kenapa kamu malah nikah sama dia?"
Chayana menghela napas lelah. Ia menatap Damian dengan nyalang. "Hubungan kita udah berakhir. Mendingan kamu pergi."
"Dii---"
"Dami! Liat sendiri, 'kan? Wanita murahan ini udah enggak mau sama kamu. Jadi stop bujukin dia! Kamu tuh udah punya aku! Enggak cukup apa?!"
"Aku lagi enggak bicara sama kamu. Tapi sama Chayana ."
Reina kesal bukan main. Ia langsung mendaratkan tamparan pada Chayana . Hal itu membuat Damian marah.
"Apa yang kamu lakukan, hah?!"
"Memberikan pelajaran pada pelakor ini!
Kamu---"
"Wah!"
Mendengar seruan itu, Iqbal bergidik ngeri. Wanita hamil itu telah mencari lawan yang salah.
Mood Chayana yang sudah ambyar kembali dihancurkan oleh wanita gila itu. Chayana kemudian menjambak rambut Reina dan mendorongnya di kasur. Chayana paham, wanita itu tengah hamil.
Jadi untuk memberikan pelajaran, ia membawa Reina ke atas kasur. "Gue udah nahan kesabaran karena perilaku lo. Tapi lo yang mancing! Rasain, nih!"
Suara rintihan Reina sudah tak tertolong. Iqbal dan Damian mencoba melepaskan mereka tetapi gagal. Sementara Ray hanya melirik sekilas pertengkaran itu.
'Chayana masih ganas seperti dulu.'
Perkelahian itu tak terelakkan. Ingin memanggil polisi? Jelas itu ide yang sangat gila. Mengingat mereka yang cukup terkenal. Namun, sampai kapan lengkingan suara Reina itu menghilang?
Iqbal gusar. Tak memiliki ide sama sekali untuk menghentikan kebrutalan adiknya. Matanya melirik Chayana yang sudah bangkit dari pergulatannya saat memberikan 'sedikit pelajaran' pada Reina.
Hal itu membuat Iqbal menghela napas lega. Kelegaannya tentu tak berlangsung lama sebab kebodohan Damian.
"Mari masuk, Pak."
Iqbal seketika terkena serangan jantung. Pria itu terlampau syok melihat kedatangan beberapa polisi. Ray yang tadinya sibuk bermain macbook lantas berdiri sembari membuka penutup telinga.
'Sialan! Dia pake penutup telinga. Pantes ngak peduli tadi!' Gerutuan itu hanya mampu Iqbal lontarkan di dalam pikirannya. Ia masih waras mengingat polisi sudah menginterogasi Reina dan Chayana .
***
Setelah melalui debat alot. Reina dinyatakan bersalah karena sudah memulai keributan. Namun, Chayana tetap mendapatkan sanksi karena menyerang wanita hamil tentunya.
Chayana kini berada di dalam mobil bersama Iqbal dan Ray. Hening yang menyelimuti membuat suasana kembali canggung.
"Bang, kenapa dia ikut?"
Iqbal melirik ke belakang, tepat di mana Ray tengah memainkan macbook-nya. "Lupa tadi? Apa yang dibilang sama papa di telepon?"
Chayana menelan ludah. Ia beralih menatap Ray.
"Ada apa?"
"Kasian."
Ray mengangkat sebelah alisnya. Kasihan? Mengapa Chayana kasihan padanya?
Saat sampai di rumah Chayana , Ray langsung tahu apa yang perlu dikasihani olehnya. Bukannya disambut atau diberikan kesempatan menjelaskan. Pria itu malah diberikan bogeman oleh sang papa mertua.
Tubuhnya bahkan harus tersungkur di lantai rumah sebab satu pukulan di pipinya. Ray meringis. Tangannya mengusap sudut bibir yang sudah mengeluarkan bercak darah. Kepalanya pun terasa pusing.
Chayana yang melihat itu meringis sakit. Kakinya ingin melangkah tetapi dicegah oleh Iqbal.
"Tanpa izin saya, berani sekali kamu menikahi putri saya! Bangun kamu!"
Morgan mencengkeram kuat kerah baju Ray sembari menatap marah padanya. Ray terdiam dan menunduk dalam.
"Maaf." Hanya kata itu yang mampu Ray lontarkan.
Buuugh!
Satu pukulan mendarat lagi pada wajah tampannya.